.

.

“Everything gets boring eventually, even you.”

.

.
.
.

Kurang dari dua hari setelah kejadian Elle Lee mengamuk di Water Park, karena tidak diizinkan ikut ke dalam kencan spesial Lee Tayeong dan Jennie Kim, ada kejadian yang lebih seru terjadi.

Han Cheonsa, pujaan hatinya kembali dari New York, satu minggu lebih cepat dari yang dijadwalkan. Cheonsa sempat berkata bahwa New York terlalu membosankan, atau dia juga sempat menyinggung kalau koleksi Macy’s dan Saks Fifth Avenue terlalu kuno untuk seleranya.

Intinya pujaan hati Lee Tayeong pulang lebih cepat. Seharusnya itu adalah hal yang menyenangkan untuknya. Apalagi belum ada tanda-tanda Lee Donghae kembali dari Berlin.

Begini, Taeyong tidak ingin menempatkan dirinya sebagai seorang pria muda yang merusak hubungan rumah tangga seseorang. Dia jauh lebih paham bahwa wanita kalangan atas seperti Cheonsa, tidak akan puas dengan pria yang hanya bekerja sebagai guru les online, yang digaji per jam oleh suaminya sendiri.

Jadi dia lebih suka menempatkan dirinya sebagai penggemar nomor satu Cheonsa. Karena dia benar-benar mengagumi wanita berambut cokelat nilon tersebut. Meskipun sampai sekarang Cheonsa belum berhasil menghafal namanya dengan sempurna.

Kadang wanita itu memanggilnya ‘Yoyong’, atau terkadang dia memanggilnya dengan sebutan aneh seperti ‘Calvin Klein’. Hanya karena Cheonsa merasa bahwa Taeyong tampak seperti model perfume Calvin Klein, di salah satu papan billboard yang dilihatnya di Shanghai.

“Jadi apa yang akan kau masak hari ini?” Taeyong mendorong satu troli belanja, di salah satu supermarket mewah asal Italia di wilayah Cheongdam.

“Bukan aku yang memasak tapi Lin. Hari ini Elle bilang bahwa dia ingin kita makan malam bersama di rumah, dan menolak ajakanku untuk makan malam di Pierre Gagnaire. Ada apa dengan dirinya? Mengapa dia lebih suka Sinigang buatan Lin? Apa sekarang dia ingin pindah ke Filipina dan berjualan daging telur bebek di sana?”

Tentu Cheonsa memiliki pandangan yang vokal tentang masa depan putrinya. Si cantik dari Gangnam. Si cantik yang akan mewariskan seluruh kekayaan Lee Donghae, karena Jun tampaknya masih terobsesi memakan crayon.

Lin merupakan asisten rumah tangga keluarga Lee, yang sudah bekerja sejak Donghae dan Cheonsa baru saja menikah. Lin memang berasal dari Pampanga, satu provinsi di Filipina yang terkenal dengan banyak makanan enak. Seperti Sinigang, sup daging sederhana kesukaan Elle.

Cheonsa tidak berhenti hingga di sana, ia melirik catatan belanja yang dikirimkan Lin ke ponselnya. Lalu mengambil beberapa potong daging ayam di rak frozen dengan asal.

“Kau tahu, aku sebenarnya sangat suka dengan Lin. Dia pintar memasak, juga mahir mengajari Jun bahasa Tagalog. Hanya saja aku sedikit khawatir dengan makanan yang ia sajikan untuk keluargaku. Terlalu banyak lemak dan kalori, aku takut Elle terobsesi dengan hal itu,” lanjut Cheonsa.

Jika sedang tidak mengajari Elle atau menjadi babysitternya, Taeyong biasanya akan beralih profesi menjadi asisten Cheonsa yang manis. Jika asisten terlalu baku, dia sering menyebut dirinya sendiri sebagai pesuruh wanita sempurna itu.

Mulai dari menemaninya belanja, membawakan tas belanjanya, memesankan minuman Starbucksnya, sampai mengantarkannya ke salon langganannya. Taeyong melakukan itu dengan senang hati.

Selain dapat memandangi wajah idolanya dengan seksama, dia juga tetap dibayar 500 dollar per jam. Jika dia beruntung, Cheonsa akan menghadiahkannya baju atau sepatu Air Jordan setelah sesi belanjanya.

Cheonsa mengambil beberapa karton susu dan jus jeruk kesukaan Elle dan Jun, kemudian meminta Taeyong untuk mengambilkannya satu kardus yogurt plain untuk dirinya. Tipikal Cheonsa.

“Atau kau bisa mengganti Lin, dengan asisten rumah tangga yang kau mau,” Taeyong memberikan sarannya. Dia sudah akrab dengan idolanya ini, mereka mirip seperti teman dengan rentang umur yang sama.

Cheonsa terlalu muda jika disebut sebagai ibu dari dua orang anak. Ia menikah muda, alasannya karena Donghae tidak mau kehilangannya.

Cheonsa menarik nafasnya dengan panjang, ia memutuskan duduk di satu kursi di area Fresh Deli yang menyediakan makanan cepat saji gaya Italia di tengah supermarket itu.

“Everything gets boring eventually, even you.” Jawab Cheonsa asal, tapi beberapa detik kemudian ia kembali semangat membahas tentang pergantian Lin, setelah melihat Taeyong memesan fruit cocktail di sana.

“Aku bisa saja membawa Everett, pelayanku dari Kensington kemari. Tapi Donghae, dia terlalu kuno. Dia bilang Lin jauh lebih baik dari Everett karena Lin berasal dari Asia. Astaga, apa dia tahu bahwa Everett pernah mengambil kelas Mandarin di Chinese School London?”

Cheonsa masih sibuk mencurahkan hatinya tentang menu makanan yang disajikan Lin. Taeyong sebenarnya tidak bosan sama sekali mendengar celoteh penuh dari wanita pujaannya, tapi matanya jadi tidak fokus setelah melihat siapa yang tengah menghampiri meja mereka.

Ong Seungwoo.

“Hai Taeyong, belanja ayam potong di siang bolong?” Seungwoo menatap troli besar yang sudah berisi yogurt hingga ayam potong. Matanya belum menyadari kehadiran Cheonsa di sana.

Mati sudah riwatanya sebagai pria muda disukai Cheonsa. Selama tiga tahun ini ia mempertahankan status itu dengan bersolek setampan mungkin untuk terus mendapatkan pujian dari wanita pujaannya.

Tapi semenjak setahun yang lalu Elle mengatakan bahwa dia jatuh cinta dengan guru pengganti di tempat bimbingan belajarnya. Serta Elle meminta Taeyong untuk merahasiakan Seungwoo dari sang ibu.

Taeyong tahu bahwa posisi guru les sekaligus asisten Cheonsa miliknya sedang berada di ujung tanduk.

Elle dengan jelas mengatakan bahwa Ong Seungwoo adalah tipe pria yang disukai ibunya. Dilihat dari mana pun, Ong Seungwoo memang terlihat lebih keren darinya.

Seungwoo tidak butuh jaket dari Vetements, sepatu dari Air Jordan atau kacamata dari Cartier untuk membuat wanita terpesona dengannya.

Mendengar suara Seungwoo, Cheonsa meletakan ponselnya lalu menoleh ke arah belakang. Matanya menatap Seungwoo dengan terpesona, dalam hitungan detik senyuman manis terpatri di wajah Cheonsa.

Benar bukan? Semua ramalan Elle tepat sasaran, begitu juga dengan ketakutan terbesarnya. Di dalam pikirannya, Taeyong mengutuk Seungwoo karena bersikap sok akrab dan menyapanya sekarang.

“Ya–apa yang sedang kau lakukan–” jawaban Taeyong terputus, setelah Cheonsa memotongnya dengan suara ramahanya.

“Hi, I don’t think we’ve met before, but I’m Han Cheonsa,” idolanya itu menjulurkan tangannya ke arah Seungwoo, tentu saja Seungwoo langsung menjabat tangannya dan memberikan senyuman di wajah tampannya.

Taktik sial.

Jika Johnny tahu bahwa Seungwoo sudah bertemu dengan Cheonsa, maka tinggal hitungan waktu Cheonsa memecat Taeyong. Tentu saja ibu Sein juga akan memecatnya dan memperkerjakan Seungwoo.

“Ong Seungwoo, but you can call me Ong or Seungwoo. Anyway you prefer,” Seungwoo membalas perkenalan itu dengan kata-kata sopannya.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Taeyong kin balik bertanya. Di sisi lain, Cheonsa malah menyuruh Seungwoo untuk duduk bergabung di meja mereka. Bahkan idolanya itu sempat menyuruh Taeyong untuk membeli Gelato di konter terdekat untuk dirinya dan Seungwoo.

“Aku? Hanya membeli beberapa kebutuhan seperti susu pisang, cokelat, permen, mungkin kue tart. Salah satu muridku hari ini berulang tahun, kami akan memberikannya kejutan di kelas,” Seungwoo menjawab santai.

Jika memang si sok keren ini tengan sibuk menyiapkan pesta ulang tahun, mengapa dia malah menerima ajakan Cheonsa untuk bergabung bersama mereka.

Awalnya Cheonsa hanya menatap Seungwoo dengan senyuman semangatnya. Namun keningnya berkerut setelah Seungwoo menyebut pesta ulang tahun.

“Murid? Apa kau juga seorang guru?”

Nah, kondisinya semakin rumit. Taeyong berkali-kali berharap bahwa akan ada badai atau angin topan yang menyambar Seungwoo, sehingga ia tidak perlu takut diusir atau dipecat dari jabatannya sebagai guru les Elle.

“Bukan guru. Aku hanya guru les biasa, di salah satu bimbingan belajar Stars,” jawab Seungwoo.

Stars? Putriku belajar di sana–dulu. Sekarang sudah keluar karena dia bertengkar dengan putri pemilik perusahaan elektronik. Tapi apa kau mengenal Elle Lee? Dia paling cantik, hobinya menjambak dan mendorong teman sekelasnya,” Cheonsa menjelaskan semua keburukan Elle seperti sebuah pencapaian prestasi.

Johnny benar, semua orang-orang yang terlalu kaya memang tidak waras.

Seungwoo berpikir sebentar, lalu dia mengangguk ketika mengingat sosok gadis kecil mirip seperti model cilik dengan rambut cokelatnya. Elle yang dulu pernah diajarnya sekali, dan juga murid kesayangan Taeyong.

Taeyong dan Johnny awalnya memang tidak mengenal Seungwoo. Mereka berkuliah di tempat yang berbeda. Tapi setelah menjadi guru les privat untuk anak-anak orang kaya, lingkaran mereka jadi semakin kecil.

Akhirnya mereka mau tak mau kenal dengan Seungwoo, guru les bimbingan belajar sekaligus guru les privat anak-anak kaya di Gangnam.

“Tentu aku mengingatnya. Elle adalah murid yang paling menonjol di kelas, dia bercita-cita menjadi atlet gulat. Apakah cita-citanya masih sama?” Tanya Seungwoo dengan senyuman bercandanya.

Cheonsa tertawa lepas, wanita pujaannya itu benar-benar sudah jatuh hati ke Seungwoo. Mungkin setelah ini dia harus menjual semua baju-baju mahalnya yang dia beli di Dover Street Market Ginza untuk menutupi kebutuhan hidupnya setelah dipecat Cheonsa.

Pupus sudah cita-citanya mengajak Jennie, cintanya sesungguhnya untuk makan malam mewah di Votre Maison.

Untungnya pembicaraan basa-basi ini terputus dengan dering telepon di ponsel Seungwoo. Setelah mengangkatnya, ia pamit ke Cheonsa dan Taeyong karena semua murid-muridnya sudah menunggu.

Selama di perjalanan pulang, Cheonsa tak berhenti bertanya tentang Seungwoo. Ia bahkan terkesima ketika tahu bahwa Seungwoo mahir berbahasa Mandarin.

Ketika mereka sampai di rumah, Taeyong dengan suka rela membawa semua belanjaan dan langsung menaruhnya di dapur. Sementara Cheonsa sudah melenggang masuk mencari Jun dan menghujani ratusan ciuman untuk putra kesayangannya itu.

Baru ketika dia akan pamit undur diri, satu mobil Porsche Cayenne berwarna hitam masuk ke dalam pelataran rumah. Donghae turun dari sana dengan membawa tas karton berisi puluhan cokelat dan permen, dari Rausch Schokoladenhaus di Berlin.

“Hei Taeyong, apa kabarmu? Bagaimana, Elle tidak membuat kepalamu pusing bukan?” Donghae menyapanya dengan ramah. Si Big Boss yang membayarnya ratusan dollar per jam.

Taeyong hanya menyunggingkan senyumannya, lalu bergerak pamit ke arah Donghae. Meski pengusaha tampan itu memaksa Taeyong untuk ikut makan malam dengan mereka.

Lihat? Orang dengan kekayaan yang melimpah biasanya jauh lebih baik hati dibandingkan orang kaya yang masih setengah.

Ketika ia akan masuk ke dalam mobilnya, dari jauh ia melihat Cheonsa memeluk Donghae dengan erat. Memberikan beberapa ciuman kecil untuk menyambut suaminya itu. Tapi itu semua tidak berlangsung lama ketika Cheonsa sadar bahwa Taeyong tidak ada di sana.

Dengan cepat ia keluar dari rumah mewahnya, lalu menata Taeyong dengan aneh.

“Siapa bilang kau boleh pulang?” tanya Cheonsa dengan intonasi penuh intimidasinya.

Well, aku harus menjemput Elle dari rumah Sein,” jawab Taeyong. Apa mungkin malam ini juga Cheonsa akan memecatnya?

“Aku sudah menyuruh supir suamiku untuk menjemput Elle. Kita tidak bisa memulai acara makan malam tanpamu Taeyong,” kini nada Cheonsa lebih tidak sabar, mungkin dia masih terlalu rindu untuk melepaskan pelukannya dari Donghae.

Taeyong masih berdiri di depan mobilnya. Di pikirannya ia sudah yakin bahwa Cheonsa akan memecatnya di depan Donghae malam ini.

Tapi kata-kata yang keluar dari Cheonsa justru sebaliknya.

“Kita tidak bisa memulai makan malam tanpamu, karena kau sudah menjadi anggota keluarga di sini, duh?” jelas Cheonsa sambil menarik tangan Taeyong untuk masuk kembali ke dalam rumah.

Di dalam rumah, sudah ada Donghae yang masih sibuk memberikan cokelat untuk Jun dan membawa boneka Teddy Bear dari Steiff Bears untuk Elle.

“Benar kan? Cheonsa tidak akan tinggal diam jika melihatmu lari dari acara makan malam keluarga ini,” bisik Donghae dengan senyuman khasnya.

Samar-samar bisa mendengar jeritan hatinya yang merasa lega, sekaligus terharu mengetahui bahwa keluarga kaya ini menganggapnya sebagai anggota keluarga mereka.

Dan kini Taeyong tak perlu lagi cemas menghubungi Johnny untuk membatalkan penerbangan liburan mereka ke Macleod Island di Myanmar, karena mereka tidak jadi dipecat dan masih dibayar dengan dollar Amerika.

Dari kejauhan ia bisa mendengar teriakan senang Elle ketika melihat ayahnya. Di dalam pelukan ayahnya, Elle melambaikan tangannya ke arah Taeyong dengan semangat.

Benar, dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Keluarga yang dengan semua keanehannya, menganggapnya sebagai bagian dari mereka.

Macleod Island, here I come.

.

.

-fin-

.

.

Hi! Harusnya ini tayang Sabtu lalu, cuma aku lupa posting. So here we are. If you are somehow still here and reading this, comments are greatly appreciated! 

.

xo

the soft tuna

.

.

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

2 responses »

  1. Sun says:

    Hahaha sweet! Taeyong terharu banget lah disayang gitu ama Cheonsa terus masih dibayar pake dollar. Jangan macem-macem lagi ya haha.

  2. Ganef says:

    Back here after 7 years 😂 dengan akun baru
    Gatau kenapa liat burn the floor jadi kangen sama semuanya tentang super junior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s