Processed with VSCO with a6 preset

.

.

Don’t kill her—or stab her with your cultery’s knife.

.

.

.

“You look tense?” Lee Donghae menutup pintu mobilnya, dan membiarkan petugas valet mengambil kunci dari tangannya dengan beberapa bell-boy yang tengah memindahkan koper serta tas milik kekasihnya.

“No, I’m not.” Han Cheonsa membuka kaca mata hitamnya, dan menatap resort mewah itu selama beberapa detik sebelum pandangannya kembali kepada kekasihnya, dan dia mulai mengela nafas dengan kasar.

Dinilai dari raut wajahnya, Cheonsa terlihat tidak senang dengan fakta bahwa dia harus menghabiskan akhir pekan bersama keluarga besarnya—terutama dengan kehadiran dirinya.

Dirinya yang sejak tujuh bulan lalu berhubungan intens dengan salah satu wanita paling rumit di dunia, Han Cheonsa.

“Ingat dengan apa yang aku bicarakan sebelum ketika kita mendarat di Malibu dalam perjalanan bisnismu minggu lalu?”

Donghae memutar ingatannya, secara samar dia mengingat pembicaraan Cheonsa tentang liburan bersama keluarga besarnya—tentang mereka akan berada di Laguna selama akhir pekan ini, dan bagaimana Cheonsa berkata bahwa dia sungguh tidak menyukai keluarganya—adiknya terutama.

“Jika Ayah tidak mengancamku bahwa dia akan mencoretku dari dalam daftar keluarga karena aku sudah tidak menemui mereka selama lebih dari dua tahun, aku tidak akan mungkin berada disini. Bersama orang-orang yang ingin membuatku menusuk mereka menggunakan gunting kertas.”

Mendengar rencana kekasihnya berhasil membuat Donghae bergidik seram, normalnya mungkin dia akan menganggap bahwa semua itu hanya lelucuan semata—tapi setelah mengenal Cheonsa selama tujuh bulan kebelakang ini, dia percaya bahwa Cheonsa akan melakukan semua yang dia rencanakan ketika dia mendapatkan kesempatan.

“Ayolah, kedua adikmu—mereka pasti sangat merindukanmu, dan ini semua akan menyenangkan.” Donghae memeluk tubuh kekasihnya dari belakang dan mengecup bahu Cheonsa dengan lembut sebelum wanita itu bersiap mengeluarkan larva panjang tentang bagaimana jahatnya kedua adiknya, sebenarnya hanya satu.

Bagi Lee Donghae ini akan menjadi akhir pekan yang tak terlupakan.

.

***

.

Jenny Willy Han menegak segelas champagne dari pelayan yang bertugas menyambutnya di dalam ruangan private yang telah disewa keluarganya selama akhir pekan ini, dalam jarak pandangannya dia bisa melihat kakak nya yang sempurna tengah berpelukan dengan pria yang tak kalah sempurnanya—kekasih barunya mungkin, karena dia tidak pernah mendengar kakaknya itu bisa bertahan dengan pria yang sama lebih dari satu bulan.

“Uhm, Shiori memintaku untuk menyampaikan kepadamu bahwa makan malam akan dimulai pukul tujuh, setelah kakak kalian datang.”

Jen mengalihkan pandangannya dari rambut coklat nilon kakaknya, dan menemukan pria bertubuh tinggi dengan tatapan polosnya berdiri di hadapannya. Oh Sehun, jika dia tidak salah mengingat nama kekasih dari Shiori, adik terkecilnya.

“Kau lihat wanita yang berdiri disana? Disamping mobil Aston Martin, berambut coklat dengan seorang pria? Bagaimana menurutmu?” ini adalah pertama kalinya Jen membuka pembicaraan dengan orang lain setelah mendarat dari New York. Mungkin hanya Ibu dan Ayahnya yang membuka pembicaraan dengannya bahwa dia harus menjaga sikapnya selama akhir pekan ini—dan terutama di hadapan kakak besarnya.

“Uhm—ya, tidak buruk.” Sehun mengerutkan keningnya dengan bingung, cukup terkejut ketika wanita berparas antagonis ini memutuskan untuk berbicara lebih dari dua kata kepadanya, sejak yang wanita itu lakukan hanyalah memaki pelayan yang melintas di hadapannya karena tidak bisa menyajikan sepuluh gelas champagne untuk dirinya.

“Bukan respon yang seperti itu. Apa yang kau pikirkan pertama kali ketika melihat wanita seperti dia? Tenang saja, aku tidak akan membicarakan ini kepada Shiori.”

Cheonsa masih berdiri disana dengan senyuman dari wajah sempurnanya ketika kekasihnya membisikan sesuatu dengan kecupan lembut di telinganya.

“Jenis wanita idaman pria. Maksudku—wanita seperti dia, selalu berada di dalam mimpi remaja belasan awal. Mungkin itu karena penampilannya, seperti rambut panjang, tubuh indah, dan kaki yang jenjang—tapi itu hanya penilaianku saja.” Sehun menjawab dengan wajah cukup gugup, jika boleh berkata lebih, wanita yang tengah mereka bicarakan benar-benar seperti wanita yang berada di mimpinya ketika dia pertama kali mengalami mimpi basah.

“Sudah kuduga. Dia adalah calon kakak iparmu, jika kau berhasil menikahi Shiori. Dia adalah kakak yang selalu dibicarakan sejak kau sampai kesini, Han Cheonsa—panggil dia Cheonsa, dia tidak suka jika seseorang memanggilnya Han—dia bilang itu terlalu personal. Juga, dia tidak suka jika orang membicarakan sesuatu yang tidak dia ketahui, jika kau berbicara dengannya kau harus terus memuji dia. Itu memang kelemahannya, dia butuh sebuah pengakuan.”

Jen menaruh gelas champagne yang sejak tadi digenggamnya ke meja bar yang tak jauh berada disana, membiarkan Sehun menatapnya dengan tidak percaya. Oh, yang benar saja—mengapa semua pria selalu menunjukan ekspresi terpesona yang sama jika sedang membicarakan kakaknya. Kakaknya yang sempurna dan memuakan.

“Dengar, selama kau berada disini kau harus menjauhi dia. Dia adalah jenis wanita yang akan membuatmu kepalamu berputar, jika kau pikir bahwa Shiori adalah wanita jahat—sebenarnya Cheonsa jauh lebih jahat dari siapapun yang pernah kau kenal. Hanya bersikaplah sewajarnya kepadanya, semenjak dia adalah mahkota kesayangan dalam keluarga ini dan—suaranya berperan besar ketika keluarga ini menentukan sesuatu.”

Jen menutup pembicaraan ringan mereka di sore hari dengan senyuman simpulnya, sebelum melangkah meninggalkan lounge privat itu ketika dia melihat kakaknya tengah menuju kemari dan meninggalkan Sehun yang masih berusaha memproses apapun yang akan terjadi dalam akhir pekannya kali ini.

.

***

.

“You two invited Cheonsa? This gonna be a hell weekend for us.” Shiori Jean Han menatap kedua orangtuanya dengan tidak percaya. Memasuki ruangan suite mewah itu sudah cukup membuat perutnya terasa mulas, ditambah dengan fakta bahwa Ayah dan Ibunya mengundang kakak tertuanya untuk ikut dalam liburan akhir pekan ini.

“Hey, she is your big sister. And you should be nice to her, or else—your Dad will give you an earful about that.” Alexa Han, wanita berparas anggun yang entah bagaimana berhasil membuatnya selalu terlihat sempurna di dalam statusnya sebagai Ibu dari tiga putri perempuan, selalu mengingatkan Shiori akan sosok Kakak tertuanya yang tidak jauh berbeda dari Ibunya.

“Aku bukannya tidak suka dengan kehadiran Cheonsa, hanya saja—Jen berada disini. Apa kalian tidak ingat ketika terakhir kali mereka berdua bertemu? Ayah harus mengganti kerugian di Waldorf karena mereka berdua bertengkar dengan hebat, dan memecahkan setidaknya ratusan keramik yang dibuat khusus dari Prague.”

Philip Han tertawa lepas ketika mengingat pertengkaran kedua putrinya beberapa tahun yang lalu, hanya karena Jen mengucapkan bahwa Cheonsa terlihat jauh lebih tua dari sebelumnya.

“Itu sebabnya Ayah memaksa mereka berdua untuk hadir, mereka berdua tidak mungkin terus bertengkar. Dulu, sebelum masa remaja dan pubertas datang—Cheonsa dan Jen adalah dua manusia yang tidak bisa terpisahkan. Kami tahu apa yang kami lakukan—Oh ya, malam ini aku akan tidur di kamar Cheonsa—aku ingin membacakan putriku dongeng Red Riding Hood sebelum dia tertidur, seperti dulu.”

Rasanya kehadiran dirinya memang tidak terlalu diharapkan, bagaimanapun juga Ayahnya hanya akan perduli dengan kakak tertuanya. Jen? Mungkin Jen berada disini, karena Ayahnya tidak ingin Jen merasa tertinggal. Atau mengapa dia berada disini? Mungkin karena Ayahnya tidak ingin begitu terlihat bahwa dia hanya menyayangi kakaknya.

“Pernah kalian berpikir mengapa Jen sangat membenci Cheonsa?”

Suara dirinya menghentikan kegiatan Ayah dan Ibunya dari pembicaraan mereka tentang jam berapa pesawat pribadi Cheonsa akan mendarat di Laguna. Seakan kehadiran dirinya hanya sebagai pelengkap saja.

“Jen membenci Cheonsa karena Jen hanya mengharapkan yang terbaik untuk Cheonsa. Dan aku yakin, bahwa kau juga menginginkan yang terbaik untuk kakak tersayangmu.” Alexa menepuk pipi Shiori dengan lembut, sebelum Philip berkata dengan raut bahagianya bahwa putri tercinta mereka telah tiba disini.

Ini akan menjadi akhir pekan yang penuh dengan kebencian.

.

***

.

Han Cheonsa melepaskan pelukan erat Ayahnya, kecupan lembut di wajah dan kening Cheonsa cukup membuat Jen dan Shiori menatapnya dengan tidak nyaman. Sementara itu Lee Donghae berdiri dibelakang Cheonsa dengan canggung, tidak tahu harus berbicara apa.

Menghancurkan momen pertemuan kembali antara Ayah dan putrinya jelas bukanlah hal yang sopan untuk dilakukan, jadi yang dia lakukan adalah berdiri dibelakang kekasihnya dengan satu tangan mengenggam dua botol wine dari tahun 1950 yang dia dapatkan dari perjalanan bisinisnya ke Napa Valley.

“Ini Lee Donghae—dia—adalah—uhm—“ ketika dihadapkan dengan pandangan Ayahnya yang selalu menyelidik setiap kali dia mengenalkan pria, membuatnya kehilangan kata-kata untuk memperkenalkan Donghae dengan sebutan yang tepat.

Jika dia mengatakan bahwa Donghae adalah kekasihnya, dia bisa membayangkan apa yang akan dilalui Donghae selama akhir pekan ini. Pertanyaan, penyelidikan, pengesahan—semua itu akan dilakukan oleh Ayahnya, tanpa merusak liburan keluarga yang telah dia rancang dari jauh hari.

Namun jika dia berkata bahwa Donghae hanya sebatas temannya, dia juga bisa membayangkan apa yang akan dilaluinya selama akhir pekan ini dengan tatapan terluka, prilaku dingin, dan hujaman sindirian yang akan dilancarkan Donghae selama mereka berada disini.

Donghae adalah pria sensitive, dia suka dengan gagasan bahwa Cheonsa adalah miliknya seutuhnya dan seluruh dunia harus mengetahuinya. Sementara Philip adalah pria protektif yang akan bertindak diluar batas jika dia merasa seseorang merebut hal yang dicintainya, putrinya sendiri, Han Cheonsa.

Bagai dilemma yang tak berujung, dan mengerti bahwa ini adalah kesempatan pertama Jen untuk menghancurkan suasana—dia memulainya dengan suaranya yang ringan.

“Jadi Lee Donghae adalah kekasihmu yang baru?”

Philip menatap Donghae dengan tajam, dan Cheonsa, kakaknya itu kini menghujamkan pandangan penuh intimidasinya. Sementara Shiori lebih memilih menekuni menu makan malamnya, tanpa memperdulikan tatapan kekasihnya, Sehun yang canggung.

“Sebenarnya lebih dari itu, kami akan bertunangan.” Cheonsa adalah Cheonsa. Dia tidak akan mungkin membiarkan Jen, adiknya, menang dengan gampang. Mendengar itu, berhasil membuat Donghae dan Philip tersedak serta terbatuk-batuk dalam waktu yang sama.

“Kedatanganku kemari memang untuk mengumumkan hal ini, tapi kita masih memiliki banyak waktu untuk membicarakan semua ini. Bagaimana jika sekarang kita menikmati makan malam bersama, dan membicarakan apa saja yang telah aku lewatkan dalam kehidupan kedua adiku tersayang.”

Cheonsa mengulaskan senyuman dinginnya kepada Jen, dan membawa Donghae duduk disampingnya tanpa memberikan waktu untuk Ayahnya mencecar Donghae dengan cara yang memusingkan.

.

***

.

“You know my favorite family holiday is me alone on a tropical island, while my family gets kidnapped and sold into a sweat shop for cheap labour.”

Oh Sehun menghentikan kegiatannya memandang ikan-ikan hias yang berada di dalam satu aquarium di ruangan privat itu ketika mendengar suara seorang wanita, Han Cheonsa—impian remaja belasan awal kini berdiri dihadapannya dengan tatapannya yang tenang.

“Oh, anyway I’m Han Cheonsa—Shiori oldest sister. You’re her boyfriend right?”

Sehun menyambut uluran tangan Cheonsa, seperti yang dia bayangkan, wanita ini memiliki tangan yang sangat lembut dengan aroma bunga Corporel yang melingkar di tubuhnya, dan mungkin usia mereka hanya terpaut sekitar lima tahun, atau mungkin empat tahun karena Cheonsa terlihat jauh lebih muda dibandingkan yang dia bayangkan sebelumnya.

Dia dan Shiori memang baru berhubungan selama kurang dari satu minggu, mereka mengambil jurusan seni—berada di dalam satu kelas yang sama. Sejak dulu Sehun memang telah mengagumi Shiori, bagaimana gadis dengan tatapan dingin dan wajah cantiknya selalu berhasil membuatnya terpesona dengan semua keahliannya. Melukis, ballet, dan bermain biola.

Sehingga ketika delapan hari yang lalu dengan tiba-tiba Shiori membalas sapaannya setelah sesi kelas mereka berakhir, dan mengajaknya dengan suara kasual untuk pergi menemaninya dalam liburan akhir pekan bersama keluarga besarnya di Laguna—Sehun tidak bisa mempercayainya, sebelum dia menyetujuinya tanpa mengetahui apa yang tengah dia lakukan.

Bahkan jika dia menilik lebih dalam, mereka belum memiliki status hubungan yang resmi. Apa Shiori menganggapnya lebih dari teman? Atau Shiori menganggapnya hanya sebagai pendamping dalam akhir pekan ini? Atau mungkin Shiori memang hanya ingin membuatnya menderita berada didalam konflik keluarga yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.

“Not yet.” Akhirnya dia menyimpulkan jawabannya sendiri, berdiri berdekatan dengan wanita yang dicap jahat dengan Jen, justru membuatnya semakin canggung. Dia takut salah berkata, takut menyinggung Cheonsa, dan takut merusak suasana hati wanita jahat tersebut. Panggilan wanita jahat itu dari Jen, bukan kemauannya sendiri.

“Oh, aku tahu. Shiori memang seperti itu. Dia membawamu kesini hanya agar dia tidak merasakan semua penderitaan ini sendirian. Aku juga seperti itu, membawa kekasihku kemari—hanya untuk melampiaskan amarahku jika selama akhir pekan ini aku ingin melakukan sesuatu yang tidak wajar, seperti membakar koper Jen atau merusak rangkaian spa-nya.”

Kini suara Cheonsa terdengar lebih ringan, tatapan penuh intimidasi selama makan malam tadi telah sirna dengan pandangan yang lebih bersahabat. Dia menatap Donghae tengah berbicara serius dengan Ayahnya di sudut ruangan. Philip tentu tidak akan membiarkan Donghae bernafas dengan mudah, dan dia sedikit merasa iba karena telah menyeret kekasihnya untuk merasakan penderitaan ini.

“Tentang Shiori, jika kau mengenalnya. Kau pasti tahu bahwa dia sedikit dingin dan tidak banyak berbicara, dia sulit untuk menerima orang baru—dia tidak terlalu perduli dengan apapun, jadi kau harus lebih banyak bersabar dan menaruh perhatian kepadanya. Dia adalah gadis yang baik, juga dia bisa membuatmu kaya raya. Dengan semua keahlian dan kepintarannya, sulit rasanya untuk membayangkan bahwa dia akan berdiam dirumah sebagai ibu rumah tangga.”

Sehun tersenyum kecil, untuk pertama harinya di hari ini setelah melalui serangkaian kecanggungan dan rasa tidak nyaman bersama orang-orang yang masih asing ini, dia berhasil mengeluarkan senyumannya—ketika berbicara dengan wanita yang dianggap paling jahat.

“Kau hanya perlu bertahan dan terus mencoba, aku yakin Shiori akan menerimamu. Dia tidak mungkin membawa seorang pria ke acara keluarga tanpa menaruh rasa sedikitpun. You’ll be okay.”

Cheonsa tersenyum lalu menepuk bahu Sehun dengan pelan sebelum meninggalkannya dan memeluk Ayahnya dari belakang, membuat Philip menghentikan tatapan dinginnya kepada Donghae dan memeluk putrinya dengan senang.

.

***

.

“Lihat dia, berbicara dengan kekasihmu. Kau harus berhati-hati, kakakmu itu bisa mendapatkan pria manapun yang dia mau. Dan mengencani pria kuliahan mungkin berada di dalam list pencapaiannya tahun ini.”

Shiori mengangkat bahunya dengan tatapan tidak perduli ketika mendengar ucapan kakaknya, Jenny.

“Jika dia mengingikan Sehun, dia bisa mengambilnya. Aku tidak terlalu perduli akan hal itu.”

Jen tidak akan pernah mengerti adiknya, Shiori. Mereka dilahirkan dalam keluarga yang sama, namun rasanya mereka terasa sangat berbeda. Dengan Cheonsa, Jen masih memiliki sedikit kesamaan walau berkali-kali dia membantahnya.

Cheonsa adalah wanita yang datang dengan pemikiran terbuka, dia suka terhadap hal-hal baru, dan menerima adanya perubahan. Dirinya, mungkin tidak berbeda jauh dengan Cheonsa hanya saja, dia tidak terlalu senang dengan adanya perubahan.

Namun Shiori, adiknya itu memiliki pemikirannya sendiri. Dia terlihat jauh lebih dewasa dari gadis sepantarannya. Dia telah merencanakan apa yang akan dia lakukan di masa depan, dimana dia akan memulai karirnya, kapan dia akan meninggalkan keluarga ini, dan kapan dia mulai menghapuskan mereka semua dari masa depannya.

“Ya, aku berharap kau tidak tumbuh menjadi wanita seperti kakakmu di masa depan. Kau berpotensial, kau bisa menjadi jauh lebih baik darinya. Mungkin kau bisa tumbuh seperti diriku—“

Kata-kata Jen terpotong ketika Shiori menatapnya dengan dingin selama beberapa saat, sebelum tersenyum kecut.

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau jauh lebih baik dari Cheonsa? Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa aku menjadikan kalian berdua sebagai panutan hidupku? Kau bahkan tidak lebih baik dari siapapun, dan walaupun kau benci untuk mengakuinya—kau tahu bahwa Cheonsa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik darimu.”

Shiori mengakhiri kata-katanya dengan tatapan dinginnya, meninggalkan Jen disana dengan tangan yang mengepal dengan keras sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi seseorang melalui ponselnya—dan berharap bahwa ini akan menghancurkan apapun yang Han Cheonsa miliki.

.

***

.

Melihat kekasihnya kini tengah melepas pakaiannya dengan menarik nafas dengan kesal, dia membiarkan matanya menjelajah tubuh indah Cheonsa yang kini hanya dibalut oleh underwear berwarna senada. Donghae menikmati liburan keluarga ini lebih dari yang dia bayangkan.

Walaupun Philip sepertinya tidak akan membiarkannya mendekat ke putrinya dengan mudah, setidaknya lebih dari seratus pertanyaan Philip layangkan kepadanya selama makan malam dan setelahnya. Mulai dari latar belakangnya hingga pekerjaan apa yang dia miliki, seakan memastikan bahwa putri tercintanya tidak harus menderita jika saja hubungan mereka berakhir diatas altar.

“Tentang kabar pertunangan kita, aku tahu ini memang tak adil untukmu. Kau berhak untuk menyalahkanku karena telah membuat kabar palsu untuk mengalahkan Jen, tapi Jen—dia adalah wanita jahat, dia selalu mengharapkan yang terburuk untuku. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

Cheonsa mengeluarkan gaun tidurnya, dan membiarkan Donghae terus menatap setiap lekuk tubuhnya dengan senyuman menggoda dari sofa yang berada pojok suite mewah itu.

“Kita bisa berbicara kepada semuanya bahwa kita bertengkar hebat dan kita memutuskan untuk menunda pertunangan kita, lalu kita tidak perlu lagi mendengar kabar dari mereka semua—kecuali Ayahku, karena dia tidak akan tinggal diam setelah mengetahui bahwa kau telah berhbungan denganku selama tujuh bulan tanpa sepengetahuannya.”

Dalam saat-saat seperti ini, Cheonsa selalu berubah menjadi wanita yang datang dengan penuh kekhawatiran. Dia cendrung memikirkan sesuatu dengan berat. Hubungannya dengan Cheonsa memang tidak pernah mudah.

Mereka bertemu dalam sebuah perjalanan bisnis, Cheonsa adalah seorang arsitek utama di sebuah perusahaan kontraktor terkemuka dan Donghae adalah eksekutif muda yang memiliki perusahaan industrinya sendiri.

Meski sulit membayangkan Cheonsa yang selalu berpenampilan sempurna dengan semua pakaian dan tas dari designer ternama yang melekat ditubuhnya, melakukan sebuah pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu dibawah terik matahari, dengan debu, dan bunyi alat berat yang mengeruk tanah. Nyatanya, Cheonsa membuat pekerjaan rumit itu terlihat sangat mudah dan menyenangkan.

Baginya Han Cheonsa terlihat sangat sempurna ketika kekasihnya itu mengenakan sepatu boots, dan helm berwarna kuning cerah yang melindunginya dari sengatan matahari dan serpihan debu pembangunan. Bagi Lee Donghae, Han Cheonsa lebih dari seorang wanita yang bisa menentukan dirinya sendiri—dia lebih dari semua itu.

Can you say anything? Selain menatap tubuhku seolah-olah kau akan menyentuhnya.” Cheonsa berkacak pinggang dengan wajah kesalnya, ini adalah hari buruk untuknya—dan buruknya Ayahnya tidak membiarkan Cheonsa untuk menyentuh Donghae selama mereka berada diluar.

“You’re so beautiful.” Donghae melepaskan jas tuxedo yang sejak tadi dikenakannya, dia melangkahkan kakinya dengan perlahan membiarkan kekasihnya itu menatapnya dengan tenang. Bola mata samudra itu, tidak pernah gagal untuk membuatnya merasa menghilang di dalam lautan itu.

“Just kiss me.” Harga diri atau bukan, Cheonsa sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia tahu bahwa Donghae lebih dari sekedar pelampiasannya ketika amarahnya memuncak, namun pria itu bisa membuatnya melupakan apapun yang berada di dunia ini dengan sentuhan lembutnya.

Kelemahannya.

Pria itu tersenyum puas menyadari bahwa dia mengakui kekalahannya, pria itu adalah kelemahannya. Bagaimana bisa dia melawan pesona dari tatapan teduh itu dengan senyuman hangat serta sentuhan bibirnya yang memabukan?

“Tentang pertunangan itu kita bisa membicarakannya nanti—mungkin setelah semua ini. Setelah aku memuaskanmu dengan tubuhku.”

Cheonsa mengerutkan keningnya dengan tidak setuju, kata-kata Donghae yang terakhir konotasinya terdengar negatif.

“Kau terdengar seperti pria panggilan yang aku pesan secara online, aku jauh—“ Cheonsa merasakan Donghae menyentuh bibirnya dengan lembut, dia mendorong tubuh Cheonsa ke atas tempat tidur, dan membiarkan Cheonsa membalas ciumannya—kali ini jauh lebih bergairah dari biasanya.

Jari-jari Cheonsa kini sudah berada dibalik kemeja Donghae, dan bibir ranum itu mengeluarkan erangan kecil ketika Donghae memutuskan untuk menggigit leher jenjangnya, meninggalkan warna membiru disana.

“Fuck.” Umpat Donghae ketika dia merasakan Cheonsa dengan agresif mulai meraba tubuhnya, jika sudah begini—Cheonsa memutar permainan dengan memegang kendali utama. Donghae memejamkan matanya membiarkan Cheonsa memanjakan dirinya dengan sentuhannya, sebelum dia mendengar suara seorang pria berdiri disana.

“How about fuck yourself off?”

Donghae membuka matanya dan menemukan Cheonsa yang telah berada diatas tubuhnya, menatapnya dengan panik—menemukan Philip Han berdiri di ambang pintu dengan buku Red Riding Hood pada satu tangannya.

“Dad what the fuck?”

Dia merasa beruntung bahwa dia masih mengenakan underwear, dan Donghae masih berpakaian lengkap walau kancing kemejanya sudah terbuka secara tidak beraturan.

“Jen berkata kepada Ayah bahwa kau dan Donghae tengah melakukan sesuatu yang tidak aku suka, dan lihat dimana kau berada sekarang.” Philip menunjuk Cheonsa yang masih berada diatas tubuh Donghae, dimana pria itu sudah menutup kedua matanya dengan putus asa.

Jenny si brengsek itu. Seharusnya dia tahu bahwa Jen tidak akan mungkin membiarkannya menikmati waktunya sedetikpun.

“Malam ini aku akan tidur disini, seraya membacakan dongeng Red Riding Hood kepada putri kecil kesayanganku.” Donghae menarik jas tuxedonya dari sofa dengan tatapan tak percayanya, dan Philip kini tengah sibuk memakaikan Cheonsa baju seperti anak kecil tanpa memperdulikan bahwa Cheonsa sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang dia inginkan dan memulai sebuah keluarga.

You sleep on the floor. Aku tidak ingin kau menyewa kamar lain, dan menyuruh putriku mengendap keluar untuk memuaskanmu ketika aku tertidur seperti yang Jen katakan kepadaku.”

Cheonsa dan Donghae menatap Philip dengan tidak percaya, sebelum Cheonsa bisa mendengar suara Jen tertawa dengan lepas di depan pintu.

Oh, Jenny Willy Han melambaikan bendera perang pada orang yang salah.

.

***

.

Kejadian semalam cukup membuat Jen memiliki bahan lelucuan selama sarapan pagi. Jen tidak henti-hentinya menceritakan bagaimana Cheonsa berada diatas tubuh Donghae, dengan sang Ayah yang membuka pintu kamar itu dengan kartu akses cadangan yang Jen minta dari meja resepsionis.

“Don’t kill her—or stab her with your cultery’s knife.” Donghae berbisik dengan suara rendah ketika dia menyaksikan kekasihnya sudah bersiap melempar pisau roti yang berada ditangan kanannya kearah wajah adiknya, Jenny.

“Jenny cukup dengan lelucuannya, setidaknya Cheonsa memiliki seseorang yang mencintainya. Bahkan Shiori, dia memiliki Sehun. Hanya kau yang datang tanpa seseorang.” Alexa menegak jus apelnya dengan senyuman anggunnya, selalu membela putri tercintanya.

“Tentu itu akan menjadi hal yang sulit untuk Jen. Mungkin tidak ada pria yang bisa bertahan dengannya, karena di sepanjang hidupnya dia selalu mengharapkan yang terburuk dalam kehidupan semua orang—atau merebut hal-hal berharga dari seseorang. Bukankah itu memang kemampuanmu?”

Jika orang lain yang mengucapkannya mungkin dia hanya akan tertawa dan mengatakan bagaimana sampahnya opini mereka. Namun melihat kata-kata itu keluar dari sosok yang sangat sempurna, dan tidak memiliki kekurangan apapun—dia merasa bahwa apa yang diucapkan Shiori benar.

Bahwa dia tidak akan mungkin bisa bersanding dengan kesempurnaan kakaknya itu.

Dia tidak akan pernah bisa menandingi apapun yang Han Cheonsa miliki.

Kakaknya itu kini tersenyum merendahkan, mengetahui bahwa dia tidak memiliki apapun lagi untuk membalas semua kebenaran dari perkataan itu. Dia melihat Ayahnya menatap Cheonsa dengan penuh kasih sayang, diiringi oleh senyuman lembut dari Donghae—dan bagaimana Shiori serta Ibunya lebih memilih tersenyum simpul seakan membenarkan kata-kata Cheonsa.

Untuk orang-orang yang berada disini dia tidak lebih dari hama penganggu yang merusak kesempurnaan di keluarga ini.

Baru ketika dia akan meninggalkan meja makan itu, dia menyadari senyuman Cheonsa menghilang dari wajah sempurnanya—dan rengkuhan lembut terasa di bahunya sebelum dia mendengar suara seorang pria yang sangat familiar memecah keheningan disana.

“I sincerely apologize for being late.”

Ucap pria itu dengan tatapan dinginnya, yang membuat senyuman di wajah sempurna Han Cheonsa menghilang seketika.

Bagi Jenny Willy Han permainan ini baru saja dimulai.

.

.

-TOBECONTINUED-

.

.

.

.

All Cast.

.

.

Han Cheonsa

tumblr_ol2abcm7ks1v2l6d5o1_400

Putri pertama dari keluarga Han. Seorang arsitek handal yang menjadi putri kebanggaan keluarga Han. Sulit untuk menemukan kekurangannya, sehingga apapun yang dia suarakan  akan menjadi penentu utama dalam kehidupan adik-adiknya. Dia sangat tidak akur dengan adik pertamanya, Jenny.

.

.

.

Jenny Willy Han

screen-shot-2017-02-21-at-2-20-25-pm

Selalu disandingkan dengan nama Han Cheonsa, membuat Jenny tidak bisa terlepas dari bayang-bayang kakaknya. Selama hidupnya Jenny selalu bersaing untuk menjadi lebih baik dari Cheonsa, tapi dia tidak pernah bisa menandingi apapun yang Cheonsa miliki sehingga menjadikannya sebagai seseorang yang membenci keluarganya terutama Cheonsa.

.

.

.

Shiori Jean Han

shiori-han

Putri terakhir dari keluarga Han, memiliki sifat dan pandangan yang jauh berbeda dengan Cheonsa dan Jen. Shiori memiliki pemikirannya sendiri. Dia terlihat jauh lebih dewasa dari gadis sepantarannya. Dia telah merencanakan apa yang akan dia lakukan di masa depan, dimana dia akan memulai karirnya, kapan dia akan meninggalkan keluarga ini, dan kapan dia mulai menghapuskan mereka semua dari masa depannya.

.

.

.

Alexa Han & Philip Han

parents

.

.

.

Lee Donghae & Oh Sehun

donghae-tile

.

.

***

.

.

lmao I love family holidays [with feud-of course] Anyway, kalo responnya bagus dilanjutinnya mungkin cepet soalnya ini cuma short series aja, jadi kalo kalian penasaran siapa yang dateng di bagian terakhir, leave some comment’s to support author’s work.

[lmao HCS sekalinya punya ade, gakalah jahat :p]

xo

IJaggys

 

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

15 responses »

  1. Minseokhoon says:

    Aaaw, HCS tambah kelihatan dewasa♡♡♡

  2. ditaaa says:

    sosok Cheonsa dicerita ini lebih dewasa yaa dari sebelum2nya 🙂
    and really love the part kalo Donghae adalah kelemahan terbesarnya Cheonsa ^^
    kenapa gue ngerasa kalo laki2 yang dateng terlambat itu adalah Kyuhyun. eyyy~

  3. mokpofish86 says:

    Ini tuh lucu lucu campur nyesek 😂😭
    Iya emang, cheonsa sekalinya punya sodara nggak kalah bringasnya 😂😂 tapi itu ya Allah padahal kagok banget cheonsa sama siongej udah hampir mau tapii ehh philip malah.. .😂😂
    Ntah kenapa feeling aku kayaknya yang terakhir datang itu siembul cuyun kek nyaaa….. Tapi oh siapapun itu pliss jangan ngeganggu LDHCS. Cheonsa punya Donghae, Donghae punya cheonsa. Nggak bisa diganggu gugat! 😂😂

  4. kim_yeon says:

    Woooowwww LUV IT
    Ya ampun LDHCS pasti malu banget kepergok sama Philip… Arghhh Philip datang pada waktu yang tidal tepat. Keccciann Donghae tidur di atas lantai….Malah gagal total rencana mereka
    Jenny suka cari gara² mulu

    Ayyyoo siapa yang datang nihhh… Aku harap bukan Kyuhyun -_- Mantannya Cheonsa kahh ?? Cheonsa ingat Donghae. Nggak boleh binggalin dia

  5. shfly3424Arista says:

    Ada cewek jg dia
    Eh busettttt

    Pusing itu philip bini ama anak cantik2 n sexy semuaaaaaaa

    Waaahhhh gyu kah yg dtg
    Mantan cheonsa atau penh pdkt

    Penasaran psti tmbah seru

  6. Zii says:

    .ini seru !! juga Menyenangkan … 😀 adudu , penasaran sm itu sosok yg terlambat, pliss jgn Kyuhyun ya >< XD yg lain aja.. Haha. ..
    .ijaggys tetep semangat ya !!
    .Fighting !! Dtnggu lho utk part selanjutnya ^^

  7. shinshin says:

    kekuarga yg rumit..agaknya akan timbul banyak konflik…..siapa yg datang terlambat ya..

  8. JihaeviLee says:

    Sebenernya kasian juga sih sama Jen, ngga ada yang memihak dia. Tapi bukannya Jen kaya gitu karna dia punya alasan jadi sikap dia kaya gitu. Bagian terakhir nebaknya sih Cho Kyuhyun, kalau beneran dia, Donghae dalam bahaya 😂

  9. Fanny_Park says:

    Sexy couple han lee :*

    Keren jjangggg (y)

  10. T A T A says:

    Sukaak banget, tulisan kakak selalu paling keren, gk usah dibahas lagi, apalagi gaya bahasa aduh, gue jd berasa pinter hanya karna bisa paham doang. Cheonsa, i love you much muachh, you deserve for the whole this world’s love Haha.
    ini penasaraaan siapa yang dateng aduhh, bad feeling jgn jgn kyuhyun, ampun, racun lagi ini mah gabisa milih donghae apa kyuhyun.. ayoo kakak, ditunggu next part nya 💕

  11. queenofspring says:

    neeext😍😍 btw finally ada juga yang bisa menandingi kejahatannya hcs:’) dan kyknya yang baru dateng dan ngebela jen ada hubungannya sama cheonsa, and i think thats kyuhyun🤔

  12. maru9 says:

    amazing…
    ternyata gen iblis yg da di HCS sm kyk saudara2 ny….hihihi
    dan si cowok yg telat dtg tu kyak ny sih CKH, wow…wow…bakal ada PD- III nih kayakny
    keren deh 🙂
    ditunggu next ny

  13. Ini seru banget, walopun banyak oc nya tapi ceritanya ga bikin bingung. Luv it💕

  14. Snowcho says:

    Sepertinya yang datang terlambat itu Kyuhyun. Dan melihat senyum cheinsa yg langsung hilang sepertinya kyuhyun punya masa lalu dengan cheonsa.

  15. fsshy says:

    Oh tidaaaakk. Jgn bilang itu cwo yg trakhir Kyuhyun.
    Itu jen sama Cheonsa knp bisa gitu. Penasaran sama yg trjadi di masa lalu mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s