casket-2

.

.

I wanted him to watch me kill myself.

.

.

.

Dunia sudah banyak berubah dari sejak terakhir kali kita mengenalnya. Ada banyak hukum dan peraturan yang berlaku, diantaranya dalam menegakan keadilan. Hal ini tidak pernah terlintas di kepalaku, peraturan hukum yang dulu sempat membuatku tertawa dengan keras—serta berkata bahwa siapapun yang membuatnya adalah orang dengan kelainan mental.

Kini aku menggunakan peraturan hukum itu.

Peraturan dimana kita diperbolehkan untuk membunuh satu orang selama hidup kita, dengan alasan dan pertimbangan yang nantinya akan diputuskan oleh penegak hukum yang berlaku. Apakah orang itu pantas dibunuh, atau tidak.

Memang terdengar tidak masuk akal, tapi kenyataannya peraturan ini telah berhasil menumpas semua angka kejahatan selama beberapa bulan terakhir secara signifikan. Hukum ini masih terbilang segar, baru berjalan enam bulan—dan tidak banyak permintaan yang dikabulkan.

Beberapa diantaranya bersifat sangat sepele, membunuh untuk membalaskan dendam atau amarah semata. Tapi itu semua tidak membuatku merasa cemas.

Aku memasuki ruangan sidang dengan tenang, ada lima orang berjubah hitam duduk di kursi hakim. Tiga orang pria, dan dua perempuan. Salah satu dari mereka tampaknya tidak lebih tua dariku, sekitar dua puluh lima tahun. Sisanya jauh lebih tua, mulai dari empat puluhan awal hingga akhir enam puluh tahun.

“Selamat datang—Han Cheonsa,” salah satu hakim perempuan yang berusia sepantar denganku, memanggil namaku dengan sempurna setelah dia melirik sekilas kearah formulir dan dokumen yang telah aku ajukan sejak satu bulan yang lalu.

“Kami telah mendengar banyak tentang kasus anda. Kami mempersilahkan anda untuk menjelaskan alasan anda secara pribadi tentang apa yang anda ajukann. Anda memiliki waktu sepuluh menit untuk bebericara, dengan periode pertanyaan yang akan kami ajukan di sepuluh menit selanjutnya. Setelah itu, kami akan berdiskusi dan membicarakan perihal alasan anda selama tiga puluh menit sebelum memutuskan apakah permintaan anda akan disetujui atau ditolak.”

Aku tidak peduli siapa hakim yang berbicara, siapa yang akan menilai, dan siapa yang akan memutuskan semuanya. Aku mengeluarkan selembar kertas yang sejak tadi aku genggam dengan erat, sehingga menimbulkan guratan kusut dan hampir sobek.

“Aku ingin membunuh diriku sendiri.”

Aku membiarkan keheningan menelusup ke udara selama beberapa detik sebelum melanjutkannya.

“Aku ingin membunuh diriku sendiri. Aku ingin menghabisi nyawa ini dengan kedua tanganku sendiri.”

Aku mengangkat pandanganku kepada majelis hakim. Mereka semua memasang ekspresi ingin tahu, namun tidak ada satupun dari mereka yang menunjukan pemikiran mereka yang sebenarnya.

“Aku telah menghancurkan kehidupan diriku sendiri. Aku telah menyakiti pria yang sangat aku cintai di dunia ini secara mental dan emosional. Menyakiti satu-satunya orang yang membuat diriku merasa utuh. Dia terlalu baik untuk mengajukan permintaan untuk membunuhku.”

Lee Donghae.

Ketika nama itu berputar di kepalaku, aku merasakan kedua tanganku bergetar. Bayangan ketika dirinya menatapku dengan tatapan teduhnya, dan tersenyum kepadaku dengan tulus walau dia tahu bahwa aku baru saja melepaskan pelukan pria lain—akan selalu menghantuiku di sepanjang hidupku.

“Aku berpikir bahwa mungkin dia hanya ingin menghapus semua kenangan tentang diriku, atau semua kenangan ketika bersama. Namun, itu bukan satu-satunya alasan. Aku telah berbohong, mengancam, menghancurkan kehidupan orang lain, dan menjadi seseorang yang benar-benar jahat.”

Aku melihat beberapa hakim mulai menuliskan sesuatu, mencoret beberapa bagian dari formulir penilaian—seakan mempertimbangkan alasan mereka tentang ajuan bunuh diri ini.

“Aku tidak berusaha menebus semua kesalahanku, atau pengampunan dosa dari mereka. Aku hanya ingin menghindari mereka, orang-orang yang telah aku hancurkan. Aku pengecut, terlalu bodoh—aku menyia-nyiakan kehidupanku sendiri, dan hal ini menyebabkan rasa sakit dan penderitaan yang tak berujung. Setiap harinya, aku selalu dihantui oleh rasa bersalah, rasa takut, dan kekosongan. Aku merasa menyesal untuk pertama kalinya dalam hidupku.”

Aku tetap melanjutkan apa yang aku tulis, kisah yang tidak pernah aku ungkapkan selama aku berada di dunia ini. Kisah-kisah dimana aku sangat mencintai pria yang aku hancurkan, Lee Donghae, kisah tentang kedua orang tuaku dan kisah tentang siapa saja orang dengan kehidupan yang telah aku hancurkan atau aku buang begitu saja.

Aku membicarakan tentang teman-temanku, sekumpulan orang yang aku gunakan untuk mencari keuntungan materi dan popularitas sosial.

Aku membicarakan tentang musuh-musuhku, orang-orang yang telah aku hancurkan dengan kedua tanganku. Orang-orang yang memiliki pandangan berbeda tentang apa yang tengah aku jalani.

Lalu, aku akhirnya berbicara tentang diriku sendiri. Han Cheonsa. Seorang wanita yang telah ditakdirkan berada di jalan yang salah, tidak peduli seberapa besar dia berusaha untuk merubah guratan takdir yang bergerak begitu kejam untuknya.

Dan aku merasakan setetes air mata jatuh dari bola mata berwarna biru samdura, dimana Donghae selalu menyebutnya sebagai hal terindah yang pernah disaksikannya di dunia ini.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis di hadapan orang lain dengan kata-kata permohonanku yang terulang untuk terakhir kalinya.

“Aku ingin membunuh diriku sendiri.”

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada satupun dari mereka yang mengajukan pertanyaan kepadaku, seperti yang mereka katakan sebelumnya. Mereka hanya terpaku menatapku selama beberapa saat sebelum menyuruhku untuk menunggu di ruang tunggu.

Tiga puluh menit telah datang dan pergi. Aku beridiri di depan pintu keluar gedung itu dengan mengenggam sebuah surat berlapis amplop putih berlafal namaku, ditutup oleh emblem lambang yuridis berwarna merah tebal.

Aku merasa hampa.

Aku merasakan kekosongan yang berada di dalam relung jantungku semakin mendalam, seakan mereka bersiap menghabisiku kapan saja.

Dalam surat permohonan itu, aku menulis bahwa aku ingin mengakhiri hidupku di dalam bathub berisi air hangat dengan pisau berwarna putih yang memotong arteri pada pergelangan tangan kiriku.

Dalam detik-detik terakhirku, aku ingin mencium aroma bunga Lilac, aku ingin tubuhku beraroma bunga Lilac ketika berada di dalam casket, aku ingin mendengarkan alunan musik piano yang bergema lembut disana dan yang terakhir—

Aku ingin dia berada disana menyaksikan semuanya ketika aku mengakhiri hidupku.

Aku ingin Lee Donghae berada disisiku ketika aku meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

Dan semua permintaan itu dikabulkan.

My request was granted.

.

.

-fin-

.

.

Warm your weekend up with my angsty shorts. Anyway, this originally written in English—but since some of readers are complaining, I guess I’ll just make it both. The English version will air on next week!

To support author’s work please leave some comment 🙂

xo

IJaggys

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

10 responses »

  1. herissheea says:

    setuju kah donghae, ngeliat cheonsa bunuh diri didepan mata kepala dia sendiri?
    donghae kan lemah, cengeng pasti gak bakal kuat ngeliatnya yg ada tar pingsan atau gak malah serangan jantung yg ada 😂😂😂

  2. shfly3424Arista says:

    Ha ????
    Mau bunuh diri nya
    Fantasy kah

    Hehehe
    Jgn dong syg bunuh diri
    Ntar prianya diambil org lain

  3. mokpofish86 says:

    Yang Ada siongek mewek sampe jantungan mungkin kalo liat cheonsa bunuh diri depan dia Atau malah ikutan bunuh diri mungkin 😂😂. Tapi itu cheonsa sadis bin serem banget cara bunuhdirinya… Tapi beneran deh kalo cheonsa bunuh diri mungki. Siongek juga bakal ngikut bunuh diri….. Tapi pliss yaa jangan, jangan pisahkan mereka 😭😭😭

  4. Minseokhoon says:

    Serem tapi sediiiih sangat😭

  5. kim_yeon says:

    iiihhh nanti si Donghae mewekkk. Maklum Donghae kan orangnya cengeng banget. Selalunya dia rela mengorbankan nyawanya buat orang yg dia sayangi tapi nggak pernah peka terhadap diri sendiri. Selalu mengutamakan orang lain .

    IT’S SO DIFFERENT ❤

    Selalunya kan Donghae yang mati. Tapi kalau sekarang malah Cheonsa

  6. - says:

    Udah lama ga baca di sini tapi kok ceritanya kayak gini ya:((( jamin deh si Donge ga bakalan tega liat Cheonsa kayak gitu

  7. Fanny_Park says:

    Nangis sndri baca nya 😥

  8. […] In related story with: cœur […]

  9. fsshy says:

    Apa yg trjdi dgn Donghae sampe Cheonsa ngerasa kyak gitu? Bagus ffnya. Tapi kok akhir akhir ini genrenya angst trus ya. Hehehhe. Aku suka kok

  10. […] In related story with: cœur […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s