HER

.

.

When was the last time you did something for the first time?

.

.

 

When was the last time you did something for the first time?

Pertanyaan itu selalu terputar di kepala Lee Donghae. Kapan terakhir kali dia melakukan sesuatu untuk yang pertama kalinya? Kehidupannya berjalan begitu bersih dan jelas. Impian dan realita, selalu berjalan beriringan disetiap derap langkahnya.

Dia adalah seorang pialang muda tersukses dalam masanya. Keluarganya memiliki kekayaan yang fantastis, juga wanita—kekasihnya, atau mungkin tunangannya. Dia tidak yakin bagaimana dia harus mengklsifikasikan wanita itu. Wanita yang kini tengah berputar di hadapan cermin, dengan gaun indah yang melekat di tubuh rampingnya.

Semua pria mungkin rela melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia miliki detik ini.

Harta, tahta, dan wanita.

“You’re so beautiful—you’d make a great wife for our Donghae.” Hye, istri dari kakak pertama Donghae, memecah keheningan di ruangan mewah tersebut. Wanita yang sejak tadi menatap pantulan dirinya, tersenyum sempurna dan memberikan pelukan singkat kepada Hye.

“Bagaimana liburan kalian di Bahama?” Hye duduk disebuah sofa yang berada tidak jauh dari tempat Donghae berdiri. Mendengar pertanyaan yang terucap dari kakak iparnya, Donghae mengulaskan senyuman hangatnya dan membiarkan wanita itu yang menjawab. Itu memang tugasnya.

“Bahama sangat menyenangkan. Walaupun, Bahama terlihat seperti sebuah perjalanan bisnis untuk Donghae. Karena yang dia lakukan hanyalah berkutat dengan pekerjaannya.” Wanita itu melemparkan senyuman lembut ke arah Donghae. Iris samudranya menatap Donghae dengan penuh kasih sayang.

“Donghae, kau telah memiliki seorang kekasih yang begitu sempurna. Melihatmu menduakan dia dengan pekerjaan, sungguh membuatku kecewa. Kakakmu juga seperti itu—aku rasa, kita berdua memiliki nasib yang sama.” Hye adalah wanita yang sangat baik. Dia begitu menyukai hubungan Donghae dengan wanita ini, seluruh dunia memang menyetujui hubungan mereka.

“Ya, tapi di malam terakhir—Donghae memberikanku kejutan dengan menyiapkan sebuah dinner romantis di tepi pantai. Itu sangat menyenangkan.”

Donghae menegak champagne di gelas tingginya hingga habis. Mendengar wanita itu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, terkadang membuat tenggorokannya terasa bergemuruh.

“Aku sungguh ingin berbicara banyak denganmu, namun waktu kita tidak banyak. Karena Gramps telah menunggu kita, dia tidak suka jika kita datang terlambat ke acara ulang tahun perusahaannya. Apa kalian ingin pergi bersama?” Hye menatap ke arah mereka, tapi dengan sigap Donghae memeluk tubuh kekasihnya dari belakang—dan membuat Hye tersenyum penuh arti.

“Kalian bisa menghabiskan waktu sebanyak apapun, aku akan menangani semuanya.” Bisik Hye dengan satu kedipan di matanya.

“Kita bisa membicarakan apa yang akan kita bicarakan nanti di hadapan media.” Bisik Donghae tepat di telinga kekasihnya, sebelum pintu itu tertutup meninggalkan mereka berdua di dalamnya.

 

***

“Apa kau sudah dengar tentang kabar dari Perusahaan Namhae Chemical Corporation?” Suara Cho Ahra menghentikan kegiatan Cho Kyuhyun menatap layar televise yang sejak tadi di gelutinya. Adiknya itu tetap menatap layar televise dengan serius, walaupun dia bukanlah orang yang mau membuang waktu berharganya untuk menyaksikan siaran televise.

“Oh, kau sudah menontonnya lebih dulu.” Ahra menaruh beberapa karton susu ke dalam lemari pendingin, membuang sisa-sisa makanan yang berada disana dan menggantinya dengan yang baru. Hanya dia yang perduli pada apa yang di konsumsi Adik semata wayangnya di dalam penthouse mewah, yang ditinggali oleh Adiknya sejak satu tahun lalu.

“Mereka menaikan index saham hingga menembus angka pasar saham. Menjual beberapa anak perusahaan, kemudian menggabungkan sebuah perusahaan yang bergerak dalam produk besi dan baja.” Ahra mengambil satu buah apel dari tas belanjanya, dan memotongnya menjadi beberapa bagian.

“Kabarnya saham mereka hari ini ditutup dengan angka memuaskan setelah Lee Yuhan mengumumkan pertunangan ahli warisnya.”

Kyuhyun masih tidak bergeming, bahkan ketika Ahra menyodorkan potongan apel ke depan bibirnya. Matanya masih memperhatikan rangkaian acara ulang tahun perusahaan Namhae yang di liput bebas oleh berbagai saluran televise. Wanita sempurna dengan senyuman indahnya tersebut, selalu memenuhi layar kaca—seakan semua juru kamera tahu bahwa dia adalah bagian terbaik dalam pesta itu.

“That woman—seems full of luck.” Ahra menggigit potongan apel, menatap Adiknya yang tak berkedip ketika wanita sempurna itu berada di layar tv.

“Sebentar lagi wanita itu akan menjadi istri dari salah satu orang yang berpengaruh dalam Industri Korea. Bisa kau bayangkan, bagaimana bahagianya dia ketika Lee Donghae melamarnya—bahkan jika sebenarnya dia tidak mencintai Donghae—tapi siapa yang akan menolak tawaran esensial seperti itu?”

Ahra memikirkan situasi terbaik yang akan di dapatkan oleh wanita itu. Lebih dari ribuan wanita siap mengemban status sebagai istri Lee Donghae, pewaris dari kerajaan Namhae Corporation. Ditambah dengan fakta bahwa Lee Donghae memiliki kharisma dan wajah yang tak diragukan lagi, membuat Donghae terlihat seperti karya marmer dari mitologi Yunani.

“Bukan berarti ribuan wanita lain kehilangan harapan. Mereka masih memilikimu. Jika kau melamar seorang wanita, pastikan wanita itu terlihat seperti dia. Aku tidak ingin melihatmu melamar wanita di bawah standard Namhae Corporation.”

Kali ini sorot mata Ahra telihat lebih serius dari yang sebelumnya. Seakan satu dinding kokoh, membatasi antara Taegu Group dan Namhae Corporation. Cho Kyuhyun, Adiknya, memiliki segalanya. Garis kehidupannya jauh lebih menjanjikan dari Lee Donghae.

Ayahnya telah memberikan tahta tertinggi di perusahaannya untuk Kyuhyun—dan melihat bagaimana Taegu Group berkembang pesat di tangan Cho Kyuhyun, membuat Namhae Corporation segera melakukan tindakan yang sama dengan menurunkan Lee Donghae.

Persaingan tak terucap itu akan selalu menjadi hal abadi diantara Taegu Group dan Namhae Corporation.

“Apa kau telah memiliki seorang wanita dihatimu? Kau harus segera mencari wanita untuk mendampingimu, dengan pernikahan Lee Donghae—Namhae Group akan meraup keuntungan yang besar dari semua pemberitaan fantastis ini. Aku tidak ingin kau tertinggal.”

Bagi Ahra, pernikahan bukanlah masalah yang berat. Baginya pernikahan tidak lebih dari hubungan diplomatis yang akan memberikan keuntungan untuk kedua belah pihak. Rasa cinta bukanlah hal yang utama, semuanya berada dalam pilihan.

“Aku akan memikirkannya.” Cho Kyuhyun akhirnya membuka mulutnya, setelah layar televise tidak lagi menyorot wanita sempurna dengan iris samudranya tersebut. Dia bangkit dari sana menuju mini bar, tempat dimana dia menyimpan seluruh koleksi wine-nya.

Samar-samar dia bisa mendengar suara Ahra berbicara tentang wanita yang pantas mendampinginya, sebelum akhirnya dia kembali tenggelam di dalam pikirannya saat cairan anggur itu melesat lurus ke dalam tenggorokannya.

***

“Aku selalu ingin menjadi seperti dirinya.” Hwang menutup pintu lokernya, dengan mata yang masih terpatri di layar tv yang berada di ruangan loker karyawan itu.

“Whenever I see healthy, beautiful, successful woman like her, I’m always dying to know what it’s like to walk in their shoes.”

Reina menatap sahabatnya, Hwang, yang masih mengagumi kecantikan dari wanita yang berada di pelukan Lee Donghae malam ini. Bagi dirinya dan Hwang, menjadi seorang wanita sempurna seperti itu adalah sebuah angan-angan yang tak mungkin tercapai.

Mereka hanyalah kalangan sub-urban, yang tinggal di pinggiran kota dengan penghasilan kecil. Bahkan penghasilan mereka selama satu tahun penuh, rasanya tidak akan bisa membeli satu potong gaun mahal milik wanita itu.

“Jangan terlalu berharap. Mereka sama menderitanya dengan kita. Mereka menyiksa diri mereka sendiri. Wanita sempurna seperti dia, adalah wanita dari rekontruksi media. Rasanya, hidup tidak jauh lebih mudah untuk mereka.” Reina menarik nafasnya, membayangkan apa yang harus wanita itu lalui untuk bisa berdiri dan bersanding dengan Lee Donghae.

“Bagaimana kau bisa tahu tentang penderitaannya?” Hwang menatap Reina dengan penasaran. Setahunya, Reina bukanlah wanita yang mengikuti perkembangan berita dari kalangan atas—jadi ketika mendengar Reina berbicara lebih dari dua kata tentang tunangan Lee Donghae, itu adalah hal menarik.

“Bukankah sudah jelas? Dia pasti memuntahkan semua makanan yang berada di perutnya untuk menjaga tubuh indahnya, dia menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam dengan Psikolognya—karena tuntutan untuk selalu menjadi yang sempurna. Apa kau pikir hidupnya bahagia? Mata samudranya, menyorot rasa takut bahwa semua yang dimilikinya akan menghilang sebentar lagi.”

Untuk beberapa saat Hwang menatap Reina dengan tidak percaya. Rasanya sahabatnya itu mengenal tunangan Lee Donghae dengan begitu dalam.

“Apapun yang terjadi kepadanya di balik layar. Dia tetaplah wanita sempurna yang akan menikah dengan seorang pewaris utama sebuah perusahaan industri termahal di negeri ini.”

Hwang mengulaskan senyuman singkatnya, kemudian matanya kembali menatap layar tv yang tengah mempertunjukan tawa bahagia Lee Donghae ketika wanita itu mengecup sudut bibirnya.

Tanpa menyadari bahwa kini Kim Reina menatap semua itu dengan tatapan dinginnya.

***

Lee Donghae membuka pintu penthouse itu dalam satu gerakan. Beberapa pengawal berdiri di depan pintu seperti yang Lee Yuhan perintahkan. Donghae menarik nafasnya untuk beberapa saat, sebelum menatap pengawal-pengawal itu dengan tatapan yang menusuk.

“Aku akan bermalam disini, dan akan lebih baik jika kalian mau memberikanku dan tunanganku sedikit ruang privasi.”

Pengawal-pengawal itu membungkukan badan mereka dengan hormat sebelum meninggalkan mereka berdua. Kini hanya ada dirinya dan tunangannya. Wanita itu masih mengamati setiap sudut penthouse mewah yang mulai malam ini akan menjadi tempat tinggal barunya.

“Apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku baru satu hari menjadi tunanganmu, tapi kau telah memindahkanku kesini.” Nada bicaranya terdengar ringan.

“Disini tingkat keamanannya lebih terjamin, dan semua yang kau butuhkan telah aku siapkan. Aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik.” Dia bisa merasakan wanita itu tersenyum samar ketika mendengar penjelasannya. Sebuah penthouse mewah di atas gedung pencakar langit, dengan interior menajubkan—semua wanita menginginkannya.

“Han Cheonsa,” untuk pertama kalinya di hari ini, Donghae akhirnya berhasil memanggil nama wanita itu dengan sempurna. Rasa bergemuruh dalam dirinya masih ada setiap kali rongga-rongganya menyebut nama wanita itu. Kini si iris samudra membalikan tubuhnya, dan menatap Donghae dengan lembut. Seperti butiran salju dalam musim panas.

“Apa yang akan kita lakukan malam ini?” pertanyaan itu terdengar sangat menjanjikan. Pertanyaan sama yang dilayangkan Cheonsa ketika mereka berada di Bahama. Dengan Cheonsa semuanya terasa begitu menarik. Dia bisa memainkan seluruh karakter yang dimintanya.

“Mungkin sama seperti apa yang kita lakukan di Bahama.” Donghae mencium bibir merah Cheonsa dengan lembut, wanita itu tersenyum puas—kemudian membalas ciuman Donghae. Dengan perlahan, Donghae membawa Cheonsa ke atas ranjang dan menutup pintu kamar dengan satu kakinya.

Donghae mulai melucuti gaun mahal di tubuh ramping tunangannya, meninggalkan beberapa kissmark di leher jenjangnya. Sementara jari-jari lentik Cheonsa telah menjelajah di balik kemeja putih pria itu. Donghae tidak akan pernah bisa berhenti jika dengannya, seberapapun salahnya itu—dan ketika melihat wajah Cheonsa yang menatapnya dengan tenang—dia tahu bahwa itu adalah waktu saat dia harus berhenti, dan membiarkan Han Cheonsa melanjutkan permainan mereka.

“Aku akan mandi, jika kau berubah pikiran—kau tahu harus mencariku dimana.” Cheonsa tersenyum sugestif, dengan satu tangan membuka resleting gaunnya. Donghae menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup, bunyi gemiricik air mulai terdengar dari dalam sana.

Dia selalu memikirkan apa yang akan terjadi, dengannya dan Cheonsa setiap kali mereka melakukan hal ini. Ada begitu banyak kata yang tak pernah terucap dari bibir mereka berdua, begitu banyak ungkapan yang tenggelam begitu saja di dalam kepala mereka. Donghae menatap langit-langit yang tinggi, pilar mewah nan kokoh dibalut secara halus dengan sorot lampu klasik yang meninggalkan strata kelas tertinggi.

Dia akhirnya menemukan dua alat penyadap yang terpasang rapih diantara pilar-pilar itu. Kakeknya tidak akan pernah berhenti menaruh rasa curiga kepadanya, bahkan ketika dia telah melamar Cheonsa di hadapannya langsung. Lee Yuhan seakan tidak pernah mempercayai hubungannya dengan wanita sempurna itu.

Butuh sekiranya enam menit untuk Cheonsa mendengar pintu kamar mandi itu terbuka. Bunyi gemericik air dari shower masih menghujam, membasahi seluruh tubuhnya. Guratan embun menutupi kaca pembatas di dalam sana, sehingga yang tertinggal hanyalah siluet tubuh Cheonsa.

Derap langkah Donghae semakin mendekat, kemeja putih dan jas mahalnya telah berada di atas meja marmer yang terdapat tidak jauh dari pembatas kaca. Uap hangat yang berhembus dari shower, membuatnya sedikit lebih tenang. Dengan perlahan dia membuka pintu kaca itu, dimana samudra itu telah menunggunya dengan tatapannya yang tenang.

Untuk beberapa saat dia terdiam melihat pemandangan di hadapannya. Han Cheonsa—wanita itu, berdiri dengan gamang di bawah shower tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh indahnya. Ini bukanlah pertama kalinya dia melihat tubuh indah itu, mereka selalu melakukannya—karena hanya ditempat seperti inilah mereka bisa bebas berbicara, tanpa harus takut bahwa Lee Yuhan menyusupkan mata-mata atau alat penyadap untuk mengikuti mereka.

“Come here.” Dinginnya tangan wanita itu, menyentuh permukaan kulitnya. Dia membuka kran shower yang satunya, agar alat-alat penyadap itu tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.

Donghae kini berdiri tepat di bawah shower, membiarkan derasnya kucuran air membasahi seluruh tubuhnya. Selama beberapa saat, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara—mereka telah tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga akhirnya Donghae mengangkat wajahnya dan menemukan tubuh Cheonsa yang mulai bergetar menahan rasa dingin.

“Come here.” Kali ini hangatnya tangan Donghae menyentuh permukaan kulitnya. Dengan perlahan, Donghae merengkuh tubuh polos Cheonsa ke dalam pelukannya dan membiarkan Cheonsa menyandarkan kepalanya di dadanya.

“Aku tahu ini cukup merepotkan. Tapi kita tidak bisa berbicara dengan bebas di tempat lain, sebelum Ibumu membersihkan tempat ini dari semua alat penyadap yang dipasang oleh Kakekmu.” Suara wanita itu terdengar bergetar, menahan rasa dingin yang mulai menusuk ke dalam tulang-tulangnya.

“Aku akan membersihkan penthouse ini secepatnya. Aku telah menyiapkan beberapa asset dan akun bank dunia atas namamu. Juga, aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ini.—hingga waktu itu tiba, bertahanlah.” Donghae mengakhiri ucapannya, bunyi gemiricik air perlahan mulai mengecil seiring dengan tangannya yang mematikan shower.

Cheonsa masih berada di dalam pelukannya, wanita itu memejamkan matanya—jatuh tertidur dalam hitungan detik. Bibirnya mulai membiru, dan kulitnya bersinar pucat di bawah terpaan lampu klasik. Dengan sangat hati-hati, Donghae mengangkat Cheonsa dengan kedua tangannya, keluar dari sana—dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Dia menyelimuti tubuh tunangannya, dan menyalakan perapian yang berada di dalam kamar itu, untuk membantu menghangatkan suhu tubuh Cheonsa. Dia mengambil pakaiannya, dan mulai memakainya kembali. Satu tetesan air jatuh dari helai rambutnya yang masih basah, mengingatkannya kembali bahwa tidak seharusnya dia berada disini.

Dia menarik jas mahalnya dari atas sofa, menatap Cheonsa yang sudah tertidur pulas untuk beberapa saat. Leher jenjangnya mulai membiru, sehingga kissmark yang ditorehkannya tadi terlihat semakin jelas.

Melihat wajah dengan pahatan indah itu tertidur dengan pulas, dia kembali memikirkan apa yang akan terjadi pada mereka berdua. Rencana yang telah dirancang sejak awal, terasa begitu rumit untuk dijalani.

Layar ponselnya berkedip dengan cahaya rendah, membuatnya kembali ke alam sadarnya. Dia membaca beberapa baris tulisan singkat yang baru saja dikirimkan seseorang untuknya. Lalu semua masalah yang selalu menghantuinya seakan menguap begitu saja selama beberapa saat, ketika membaca nama pengirimnya.

Dia tidak tahu apa yang akan terjadi antara dirinya dan Han Cheonsa, tapi dia tahu kemana dia harus melangkah saat ini.

Dan untuk Lee Donghae, itu adalah Kim Reina.

 

***

Bunyi denting bel memaksa Cho Kyuhyun untuk membuka matanya. Berulang kali dia mengumpat, mengutuk siapapun yang datang dan menganggu tidurnya yang nyenyak.

Jika Ahra yang berada di balik pintu itu, dan mulai membicarakan tentang perjodohan dengan wanita-wanita kalangan atas—dia akan membanting pintu itu dengan keras, dan kembali tidur. Itu adalah rencananya.

Dia membuka pintunya dengan perlahan, dan seorang wanita berambut coklat nilon dengan wajah familiarnya menatapnya dengan tenang.

“Hai, aku rasa anjingmu melompat ke balkonku. Dan dog-tagnya menunjuk ke nomor pintu ini.” Dia membiarkan Anjing itu berlari ke arah kaki Kyuhyun.

Wajahnya yang selalu berada di layar kaca kini hanya berjarak beberapa langkah darinya, kulitnya bersinar pucat di bawah terpaan sinar matahari pagi. Wajah yang selalu Kyuhyun saksikan, wajah yang membuat dia rela membuang waktu berharganya untuk melihat senyuman diwajahnya. Dan wajah yang diam-diam selalu berada di dalam kepalanya akhir-akhir ini.

“I’m Han Cheonsa, I just moved in. I’m living next door.” Wanita itu tidak mengulurkan tangannya, dia hanya mengulaskan senyuman singkatnya sebelum kembali berjalan menuju pintunya tanpa menunggu respon dari Kyuhyun.

Kyuhyun menatap pintu itu untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya bunyi dering telfon membawanya kembali ke realita. Dia mengangkat telfon itu dengan cepat, dan membiarkan pintunya tetap terbuka. Di ujung sana dia bisa mendengar suara Ahra tengah menjelaskan latar belakang wanita-wanita kalangan atas yang akan dikenalkan kepadanya.

“Aku telah memiliki seseorang wanita didalam pikiranku.”

Hening.

Ahra tidak menjawab, terlalu terkejut mendengar pengakuan Adiknya. Tapi belum sempat dia menjawab, Kyuhyun kembali melanjutkan perkataannya—dengan nama yang membuatnya semakin terkejut.

“Dia adalah Han Cheonsa.”

Oh, God. .

 

.

.

-TOBECONTINUED-

.

.

I know.
I know.
I know.
This one sucks, but if you guys love this chapter one and want to see the next episode, you can leave some comment so I know—you guys want to read this series. Most likely, the story will take on love fourthangle, secrets, and “her.” The more comments on this chapter, the sooner next chapter will launch.

xo

IJaggys

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

20 responses »

  1. FisHaeGyu says:

    Rumit_._…Aku penasaran tapi aku takut ujung ujung nya donghae nggak sama cheonsa #LDHCSHardshipper……
    Kyuhyun baru ketemu aja udah maen nyosor aje lu ndut#dicekek
    HCS punya Donghae pliss deh ya,,,,, Nyari yang laen aja bep jangan cheonsa mulu…:v
    Dan kenapa si beke bantet ke sireina itu lagi… pokoknya HCS Harus sama LDH #maksapokoknya

  2. hyo1000601 says:

    it’s been a long time since i visit this blog last time, complicated ya…
    kyuhyun kayaknya memang tertarik sama HCS kayaknya ya, raena juga kayaknya mantannya LDH..
    jujur sama dengan comment yang diatas, sedikit takut kalau HCS pada akhirnya ga sama donghae .-.
    tapi ceritanya keren kok #twothumbsup

  3. Betesda Tarigan says:

    Beberapa misteri masih belum terpecahkan. Lee Donghae dan HCS dijodohkan?
    Atau HCS disini bukan anak dari kalangan jetset? Tampaknya Kyuhyun udah ketemu HCS sebelumnya

  4. selly says:

    yes i love this story and i want to see the next episode
    rumit dan bikin kepo, cheonsa disini kok polos gimanaaa gitu
    keren deh , ga sabar nunggunya

  5. Zii says:

    Omona, apa yg kan terjadi ?? Cheonsa ? Rheina ? Mrka tukeran kah pasangannya ? Pliiss maunya Hae sma Cheonsa😀 plis dlanjt jg ya🙂

  6. Yuki says:

    ini complicated banget yaa?? part satu udah di bikin penasaran gini lah, wkwk… eumm, disaat yang lain pada pengen hae sama cheonsa,, kok yuki pengennya cheonsa sama kyuhyun wkwkwk😄 hmm.. suka banget ih ceritanya, ini pertama kalinya yuki baca ff chapter di blog kak sonia.. lanjut yaa, yuki tunggu cerita ini.. banyak hal yang masih bikin penasaran tentang hub hcs sama ldh dan hadirnya reina dan kyuhyun.. aaaaa nggak sabar ><

  7. jia kim says:

    Rencana yg dirancang sebelumnya itu apa kira2? Perjodohan?
    Jadi , apa sblmnya kyu udah kenal HCS & LDH mantannya Reina ? Menarik😀
    Dilanjut yah ka😀

  8. shfly3424Arista says:

    Duhhhh
    Runyam bin complicated nie kayaknya
    Orang2 kkkaya n nyaris smpurna ngeebutin ccheoonsAaa

    Cheonsa udh. Prnah telajang depann gyu
    Lah dia mshh gadis kan ?

  9. kim_yeon says:

    Arghhh !!! Donghae is BACK !!! Love It >< I'm so glad & happy ^_^

    Donghae & Cheonsa <

    Ughhh~ Kyuhyun !!! Please get lost from their life.I'm begging you. Leave Donghae & Cheonsa alone okay.

  10. fsshy says:

    Bikin penasaran ini. Semoga dilanjutin ya gimna ini ff.
    Bikin penasaran, bikin deg deg an. Ga ketebak sprti biasa ffnya

  11. Jadi…… perasaan mereka masing2 itu sebenernya gimana? Donghae sama Cheon-Sa aslinya nggak saling mencintai kah? Ada kisah masa lalu antara Donghae dan Reina kah?
    Donghae and Kyuhyun. Keliatannya–mungkin– bakal ada ‘perang sengit’ dapetin hatinya Cheon-Sa?
    Okelah, daripada banyak nanya, lebih baik dilanjut aja deh ya kak ceritanya. I’m curious 😂😂

  12. Choi Rinna says:

    Sepertinya ini crita yg complicated,, masih agak bingung dgn hubungan donghae dan cheonsa juga raena, trus kyuhyun jg muncul disini,, tp ceritanya menarik buat penasaran >,<

  13. yazlee says:

    Selalu kalau sonia mah ga pernah bisa ketebak ini cerita bakal jadi kaya apa
    Ditunggu nih kejutan apa yg bakal muncul🙂

  14. ditaaa says:

    oh gosh!!! kenapa kisah percintaan 3 orang ini gada abis-abisnyaaaaaa >< kayanya tuh ga rela kalo donghae sama kyuhyun berebutan cheonsa mulu, atau cheonsa yang selalu berada di tengah2 mereka…

    mungkin karakter cheonsa di cerita ini akan jadi yang menderita ataauuuu tetap menjadi si setan belang????

    tapi banyak orang2 baru dicerita ini jadi makin seru yaaaaa :)))

  15. AnaSophie says:

    Another continue drama using IJaggys’ style. Ribet, tapi jalan ceritanya sedikit bisa ditebak? Dari awal udah duga sih pasti kyuhyun mikirin han cheonsa, entah itu karena obsesi rasa saing antara dia sama donghae atau dia bener bener jatuh cinta. Antara donghae sama cheonsa ada apa? Kenapa cheonsa? Satu jawaban yang pasti sih, kenapa bukan raina? Karena raina datang dari kelas bawah. Mungkin? Heheheheheheheheh idk too…

  16. kate203xvg says:

    This story is gonna be complicated. Udah jelas pasti bakalan ada scene yang bikin baper but thats okayy penasaran banget sama lanjutannyaa

  17. cutebabyhae says:

    Akhirnya akhirnya kisah rumit hcs muncul lagi aaa…. kangen banget! Berasa flashback voldy series. Apalagi si dongek kembali dengan rumit juga hahaha….. wait the next chap.

  18. raissagyu says:

    Ciattt oh plis dah aku kangen kisah cinta segitiga mereka. Oh cho kyuhyun, segera bawa wanitake yg ada didalam pikiranmu itu ke sisimu sebelum dia dipatenkan sama si donghae. Aku padamu hyung! Wkwkwk #TeamCKH
    Ahhh udah lama bgt gak main ke sini aku nya

  19. ika putri says:

    Another ckh-hcs-ldh’s story. 😍😍😍😍

  20. nathalie says:

    Wow…ini cerita baru s’org dongahe g punya perasaan apapun bwt cheonsa..tes raena itu siapa’y hae???semakin penasaran sm part slnjt’y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s