frommi

.

.

It’s a private hell when you have thoughts that you can’t share with anyone. 

.

.

From: New York

.

.

Penerbangan terakhir ke Michigan, berangkat tiga puluh menit lagi.

Aku masih memiliki waktu tiga puluh menit untuk sedikit bersantai sebelum penerbangan ke Michigan. Memasukan boarding pass ke dalam saku ketika memasuki lounge executive itu, aku mengambil tempat duduk di samping seorang wanita yang tengah sibuk dengan lookbook Bvlgari-nya. Aku tidak benar-benar duduk di sampingnya, kami berjarakan satu kursi karena wanita itu menaruh satchel bag Céline miliknya untuk memberi spasi antara kursiku dan kursinya.

Tipikal wanita kalangan atas yang tidak terlalu menyukai rangkaian interaksi basa-basi dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Aku mengenal dengan baik spesies wanita jenis ini. Mereka di lahirkan dari keluarga yang mempunyai beberapa perusahaan, dengan berbagai fasilitas kemewahan dalam semua akses. Mereka memiliki summer house di Interlaken, dan jika mereka bosan dengan keindahan Eropa mereka akan memutarkan private jet mereka ke arah Outerbanks di Hampton.

Aku melirik sekilas ke arah jarum jam Armani yang telah menunjukan pukul sembilan malam, jika saja akses penerbangan pesawat pribadi sedang tidak mengalami masalah, mungkin kini aku telah berada di Michigan menikmati semilir angin utara yang menusuk dengan gigitan cookies bertabur rum dari Elizabeth Street di teras belakang rumah Steve—Ayah tiriku yang di nikahi Ibu ketika aku berusia 10 tahun.

Dan mungkin alasan mengapa wanita berkelas ini mau repot-repot menunggu penerbangan komersial umum sekarang—karena private jet-nya juga sedang bermasalah. Sadar tengah di perhatikan, wanita itu mengangkat wajahnya dari lookbook Bvlgari-nya lalu menatapku sekilas, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dari kursi itu dan menarik satchel bag-nya ke tanganya.

Aku tersenyum kecil menatap wanita itu yang berjalan keluar dan memutar arah ke Starbucks yang berada di samping lounge ini. Wanita itu memiliki mata berwarna biru laut, rambutnya sedikit bergelombang di bagian bawah dengan warna rambut seperti benang nilon berwarna coklat pekat.

Normalnya, semua orang akan berasumsi bahwa wanita itu memiliki warna rambut yang sangat indah dan alami walaupun sebenarnya dia menghabiskan waktunya berjam-jam di dalam Bergdorf hingga mendapatkan hasil sempurna seperti sekarang.

Dengan tubuh yang cukup tinggi, dan polesan mahal dari Chanel dan Dior untuk pakaianya, wanita itu terlihat seperti salah satu model kesayangan Karl Lagerfeld yang akan membuat frienemy-nya—Anna Wintour, menatap Karl dengan iri karena memiliki seorang mannequin sempurna berkelopak mata biru laut.

Matt—sahabatku semasa di Harvard, berpendapat bahwa spesies wanita berkelas seperti ini adalah spesies tersulit dimana jika kau cukup beruntung mereka akan menerimamu dengan kebudayaan diskriminasi yang keras—apalagi jika kau berasal dari kalangan yang biasa-biasa saja. Mungkin kalian akan mati sakit hati karena selalu di diskriminasi oleh mereka.

Aku sendiri bukanlah dari kalangan yang biasa-biasa saja, aku dan Ibu meninggalkan Seoul ketika Ibu dan Ayah resmi berpisah karena—budaya diskriminasi yang keras, dimana Ibu berasal dari kalangan atas dan Ayah berasal dari kalangan menengah.

Sudah kubilang bukan, bahwa budaya diskriminasi antar status sosial ini sangat keras di kehidupan nyata. Kini Ayah tinggal di Narita, Tokyo bersama istri barunya. Hubunganku dengan Ayah memang tidak terlalu dekat karena sekali lagi, diskriminasi Ibu yang memandang menikah dengan Ayah sebagai kesalahan terbesarnya di dunia.

Aku dengar terakhir kali dari Hyukjae—sahabat kecilku, bahwa Ayah kini telah memiliki perusahaan sendiri yang bergerak dalam bidang Cargo. Jangan kalian pikir bahwa aku membenci Ibu karena mendiskriminasi Ayah, aku bahkan cendrung lebih senang dengan situasi seperti ini.

Steve, Ayah tiriku itu jauh lebih baik dari Ayah kandungku, berkatnya saat umurku yang baru menginjak sebelas tahun aku sudah bisa mengendarai Harley Davidson-nya saat perayaan Hanukkah Day di Manhattan.

“Tuan Donghai Lee?” suara pramugari dengan aksen Yooper-nya menyadarkanku dari lamunanku, dia terlihat sedikit kesulitan mengeja namaku yang tertera di boarding pass. Pesawat sebentar lagi akan lepas landas, dan pramugari itu mengantarku menembus ramainya kelas bisnis menuju executive class. Di sampingku duduk seorang wanita setengah baya, berusia mungkin di pertengahan 40-an, dia memakai syal tebal dengan kacamata dan buku Political Economic yang di bacanya dengan serius. Tidak menarik sama sekali.

Sial, padahal aku sedikit berharap bahwa wanita berkelas itu yang akan menemaniku dalam penerbangan malam ini.

Tidak berapa lama, wanita itu berjalan dengan tatapan tenangnya menuju kursi yang berada tidak jauh dari kursiku, tidak bisa di pungkiri bahwa hampir seluruh pria yang berada di kelas utama ini sempat mencuri pandang ke arahnya, ketika dia berjalan dengan dagu yang terangkat tinggi disertai wangi Opium dari Yves Saint Laurent yang tertempel di blouse putih Chanel-nya.

Aku harus mendapatkanya—maksudku, aku harus duduk disampingnya. Aku berjalan ke arah kabin pesawat, menarik salah satu pramugari yang tadi mengeja namaku dengan salah, di bumbui dengan flirting singkat dan beberapa lembar uang seratus dollar ke dalam tanganya, aku berhasil menukar tempat duduku di samping wanita itu.

Aku mengulamkan senyuman terbaiku saat detik pertama aku menjatuhkan tubuhku di kursi yang berada di sampingnya, dia menatapku dengan tidak tertarik sebelum kembali melanjutkan kegiatannya menulis kartu ucapan dari kertas note yang di sediakan di penerbangan ini.

“Kau akan memberikan kekasihmu sebuah hadiah?” tanyaku dengan suara seramah mungkin, kapan lagi aku mempunyai kesempatan untuk mencoba peruntunganku mendapatkan perhatian dari wanita berkelas dan sombong seperti dia?

“Kau akan membelikannya jam tangan Calvin Klein dari katalog majalah pesawat ini?” tanyaku lagi, setelah tidak mendapatkan respon di pertanyaan pertama. Dia menatapku dengan pandangan tidak bersahabat.

“Well, aku juga bisa membayar pramugari disini untuk mengganti tempat duduku, sepertimu. Dan tidak, aku memberikan hadiah ini untuk calon tunanganku.” Sindirnya dengan ketus, seakan-akan trik menukar kursi pesawat ini sudah dia kuasai sejak awal. Juga, menekankan bahwa dia sudah memiliki seorang tunangan yang telah menunggunya di Michigan. Siapa yang perduli? Selama sebuah cincin belum menghiasi jemari indahnya.

“Aku tidak membayar. Aku hanya tertarik untuk menemanimu di sepanjang perjalanan ini.” Menjadi seorang pria yang flirtatious adalah keahlianku. Aku bisa membuat diriku terlihat seperti seorang pria yang benar-benar lugu, kemudian berubah menjadi pria yang datang dari samping meja bar dengan satu sloki kosong di tangannya. Aku selalu menarik.

“Sudahkah ada yang berbicara kepadamu bahwa kau terlihat seperti, Alexa Ahn?” Aku menunjuk ke sebuah majalah yang terdapat di belakang kursi, mempertontonkan super model—Alexa Ahn, dengan pose yang sangat menyegarkan mata.

“She’s my mother—I get that a lot.” Entah wanita nilon ini berusaha menebar lelucuan, atau memang dia bertujuan untuk memutus pembicaraan dengan asal. Tapi dilihat dari raut wajahnya, wanita itu bisa membunuh sekiranya satu hingga dua belas pria yang menganggunya—aku mungkin berada dalam salah satu daftarnya.

“I hope you’re joking. Because Alexa Ahn, was and will remain my wildest fantasy.” Tidak berbohong, aku memang menggilai super model itu. Dia adalah cinta pertamaku. Bukan jenis cinta yang seperti itu, tapi jenis cinta kepada idola. Aku tumbuh dan besar di New York, dikelilingi dengan majalah fashion high-end milik Mom. Lalu, Alexa Ahn selalu berada di rumah menemaniku dengan kecantikannya.

“I’m developing a huge crush for MILF. I heard she got married to one of successor, bet life is always easy for the beautiful ones.” Wanita nilon itu tidak menghiraukanku, dia masih sibuk menulis kartu ucapan untuk tunangannya.

“Jadi jenis wanita cantik seperti apa dirimu?” ketika mendengar pertanyaanku, dia berhasil menaruh kartu ucapan dan menatapku dengan tidak terima. Apa kemungkinan buruk yang akan terjadi? Dia akan menamparku, atau dia akan menendangku keluar dari penerbangan ini.

“Jenis wanita yang akan menendang bokongmu dengan heels Loboutin. Aku harap kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Ucapnya dengan sinis, lalu membiarkan salah seorang pramugari memberikan jam tangan Calvin Klein pesanannya.

Aku hanya tersenyum. Berbicara dengan wanita sepertinya selalu menarik. Wanita itu terlihat menyenangkan, mungkin dia akan menjadi teman yang baik. Mungkin aku dan dirinya bisa bertukar sapa seraya membicarakan lapisan sandwhich di sepanjang jalan fifth avenue.

Mungkin setelah semua rangkaian persahabatan yang fantastis, aku akan berakhir di apartemennya saat minggu pagi—tidak melakukan apapun, hanya berbaring dan memeluknya untuk waktu yang sangat lama. Mengetahui bahwa aku telah menemukan apa yang aku inginkan selama ini, dan rasanya semua itu telah cukup.

Tapi nyatanya kehidupan tidak sesederhana yang aku bayangkan. Aku tidak akan mungkin berakhir dengannya—atau dengan siapapun yang benar-benar aku inginkan. Wanita nilon itu mungkin akan berakhir di tangan seorang pengusaha yang berusia berapa tahun diatasnya. Lalu aku akan berakhir dengan seorang wanita yang tidak aku cintai, hanya karena keluarga wanita itu memiliki jumlah saham yang bisa mempertahankan angka saham keluargaku.

“Maaf jika aku menganggumu. Aku hanya sedikit pusing. Ketika pesawat ini tiba di Michigan, aku tidak akan mungkin menggoda wanita lain lagi. Semuanya tentang prespektif.” Aku tidak bermaksud membuka pembicaraan personal ke wanita nilon, yang mungkin sebentar lagi akan menukar kursiku dengan orang lain.

Tapi wanita nilon itu terlihat lebih bersahabat dari sebelumnya. Dia tidak menjawab, tapi aku tahu dia mendengarkan dengan baik.

“Aku benar-benar tidak ingin tiba di Michigan. Saat mendengar jalur pesawat pribadi bermasalah, aku sangat senang—karena aku memiliki kesempatan untuk mengejar kehidupan yang aku inginkan. Tapi justru aku berada disini, bersamamu—wanita terindah yang pernah aku lihat duduk di bangku pesawat komersial.”

Aku bisa melihat bibir wanita itu sedikit terangkat membuat sebuah senyuman singkat, ketika mendengar kata pesawat komersial. Aku memutuskan untuk menyenderkan tubuhku, berusaha mendapatkan sudut terbaik untuk menatap mata biru wanita itu.

“Aku ke Michigan karena aku harus bertemu dengan wanita yang akan menjadi pendamping hidupku dalam waktu satu bulan lagi. Aku tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah melihat wajahnya, atau fotonya—aku hanya mendengar dari Ibuku bahwa dia adalah wanita yang menyenangkan. Mungkin tidak semenyenangkan dirimu.”

Kini pesawat itu telah menembus awan gelap. Satu per satu lampu dalam kabin mulai diredupkan, meninggalkan kursiku dan kursinya yang masih menyala. Sebenarnya, dia bisa saja mematikan lampu dan berpura-pura tertidur untuk menghindari pembicaraan dengan pria asing yang menyebalkan sepertiku. Tapi wanita nilon itu hanya menatap lurus kursi didepannya, seakan menunggu kelanjutan kisahku.

“Di dalam pikiranku, aku selalu membayangkan menikah dengan wanita yang aku cintai. Wanita dengan tampilan seperti Alexa Ahn, atau dirimu mungkin—karena kau terlihat seperti dia, dan kau mengaku sebagai putrinya.”

Wanita nilon itu menarik satu alisnya dengan tidak perduli. Prefensinya terlihat jelas bahwa dia tidak terlalu suka orang-orang menyamakannya dengan Alexa Ahn. Sekarang aku jadi benar-benar memikirkan ucapannya, apa dia adalah putri dari Alexa? Jika betul, mungkin berakhir dengannya selama di penerbangan ini, tidak ada salahnya.

“Omong-omong, satu-satunya yang aku ketahui dari calon istriku adalah namanya. Dia juga hanya mengetahui namaku. Dia bernama Han Cheonsa. Namanya cukup bagus, tapi tidak menjamin bahwa aku akan bahagia dengannya.”

Wanita nilon itu menarik nafasnya, dia sedikit terkejut dan dia seakan memikirkan sesuatu—sesuatu yang mungkin lebih berat dari sekedar menghiraukan keluhan hati pria asing seperti diriku.

“Jika kau berada didalam posisiku, apa yang akan kau lakukan?” aku melihat kening wanita nilon itu berkerut. Benar, dia sedang berpikir. Berpikir dengan keras. Dia hanya terdiam.

“Maaf, memposisikanmu dalam kisahku. Kau terlihat menyenangkan, mungkin jika kita bertemu lebih awal—kita bisa memulainya. Menjadi seorang teman, atau apapun yang kita inginkan.” Kata-kata itu terdengar begitu menjanjikan di pendengaranku. Ya, aku dan dirinya bisa menjadi apapun yang kita inginkan.

“Aku selalu bermimpi untuk menjalani hidupku dengan apa yang benar-benar kuinginkan, melakukannya dengan wanita yang aku cintai. Mungkin jenis wanita sepertimu yang aku inginkan, tapi itu hanya prefensiku. Apa kau tahu, bahwa kau luar biasa sempurna?” Aku menolehkan wajahku ke arahnya, hanya untuk menemukan dia tengah menatap wajahku sejak tadi.

“It’s a private hell when you have thoughts that you can’t share with anyone. Don’t we all know that place?” Aku berusaha untuk mencairkan suasana, tapi dia tetap menjelajahi wajahku dengan sangat serius.

Juga, aku mengharapkan jawabannya. Tidak masalah jika dia bersungguh-sungguh atau tidak, namun yang dia katakan selanjutnya membuatku mengerti bahwa dia tidak memiliki ketertarikan apapun denganku.

“Aku ingin tidur.” Dia menjawab dengan singkat, dan memunggungiku dengan sebuah selimut yang diberikan oleh seorang pramugari saat peswat lepas landas. Aku menatap punggungnya, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak akan pernah terjadi.

Aku memutuskan untuk ikut memejamkan mataku, berusaha menenangkan rasa gugup bahwa ketika pesawat ini mendarat—aku bukan lagi Lee Donghae yang sebenarnya. Lee Donghae yang bebas, dan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Mungkin setelah pesawat ini tiba, aku hanya akan menjadi Lee Donghae yang tidak memiliki apa-apa lagi.

Baru ketika aku akan terlelap, aku mendengar suara wanita nilon itu berbisik dengan lembut.

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan berlari dan mengejar apa yang benar-benar aku inginkan di dunia ini.”

Lalu setelah itu, semuanya menjadi terasa sangat jelas. Aku akan berlari meninggalkan semua ini untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.

***

.

.

To: Michigan

.

.

Aku mendorong koper kecil melewati besarnya bandar udara di Michigan. Dibelakangku, aku bisa melihat wanita nilon itu tengah sibuk dengan ponselnya—berbicara dengan seseorang, raut wajahnya begitu serius. Dia terlihat marah, mungkin membicarakan sesuatu yang begitu penting.

Di ujung sana, aku bisa melihat Mom dan Steve telah menungguku dengan wajah bahagia mereka. Mungkin ini pertama kalinya mereka menjemputku, atau ini hanya bagian dalam penyogokan agar aku tidak menolak rangkaian perjodohan yang mereka akan laksanakan

Aku tetap berdiri disana, menunggu wanita nilon itu hingga dia menyelesaikan pembicaraan di ponselnya. Sebenarnya, wanita nilon itu tidak perduli dengan kehadiran diriku. Tapi atas nama pertemenan satu sisi, aku menunggunya untuk mengucapkan salam perpisahan dan mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita.

Aku menghampirinya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang berbeda dari pertama, senyuman tulus tanpa bermaksud mengakhirinya di atas ranjang.

“Jadi—perjalanan tadi cukup menyenangkan. Aku tidak pernah menyangka bahwa duduk di kursi pesawat komersial jauh lebih menyenangkan dari kursi private jet-ku.”

Untuk pertama kalinya wanita nilon itu tersenyum secara langsung kepadaku. Selama beberapa detik aku berusaha untuk tidak melakukan sesuatu hal yang konyol, seperti mencium bibirnya, atau mengajaknya ke hotel terdekat untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan sejak pertama kali bertemu dengannya beberapa jam yang lalu.

“Ya, mungkin kau terlalu berlebihan. Tapi kau cukup menyenangkan, setidaknya untuk beberapa menit.”

Setelah itu hening. Aku dan dirinya sama-sama mengunci bibir. Walaupun di dalam pikiran kami, aku bersumpah seribu kata telah terpatri untuk diucapkan. Tapi tidak ada satupun dari kami, yang berhasil mengeluarkannya.

“Kemana setelah ini kau akan pergi?” aku berharap pertanyaan itu tidak terlalu terdengar menuntut, atau telah mencapai titik intimasi yang lebih.

“Mungkin kembali ke New York.”

Aku tidak bertanya mengapa dia kembali ke New York. Aku tidak ingin menyebrang lebih jauh lagi untuk mengetahuinya. Tapi melihat raut wajahnya yang berubah, aku tahu pembicaraan melalui ponselnya tadi telah membatalkan apapun yang akan dia lakukan di Michigan.

“Well, goodluck for whatever’s up with you.” Dia menepuk pundakku, dan tersenyum sebelum punggungnya berjalan menjauh menunggu satu pesawat terakhir yang akan mengantarkannya kembali ke New York.

Untuk beberapa saat rasanya aku ingin berlari, mengerjarnya dan berkata bahwa kita bisa memulai segalanya dan melupakan apa yang kita miliki dibelakang sana. Tapi aku tidak pernah melakukannya, aku membiarkannya berjalan menjauh dan menerima bahwa mungkin ini adalah guratan yang harus aku jalani.

“Donghae, I’m sorry.” Steve adalah orang pertama yang memeluku, sementara Mom hanya berdiri dibelakangnya dengan wajah menunduk. Kemudian Mom memelukku dengan erat.

“Kami baru saja mendapatkan kabar bahwa, Han Cheonsa membatalkan perjodohan ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Han Cheonsa menolak semuanya. Aku harap kau mengerti, Donghae.” Mom melepaskan pelukannya, dan aku berusaha menyembunyikan rasa bahagiaku.

Aku menolehkan kepalaku, berusaha mencari sosok yang sejak beberapa jam yang lalu telah menyita seluruh pikiranku—dan aku menemukannya, wanita nilon itu tengah berjalan melalui metal detector.

“Aku harus kembali ke New York.”

Steve dan Mom menatapku dengan bingung. Aku tidak memiliki waktu banyak, jadi yang aku lakukan adalah berlari menuju konter penjualan tiket terdekat, membeli tiket menuju New York dan berteriak ke arah Steve dan Mom bahwa aku akan mengabarkan mereka secepatnya.

“Hey!”

Nafasku terengah-engah, dan wanita nilon itu menghentikan langkahnya—menatapku dengan tidak percaya.

“Apa yang kau lakukan?” dia bertanya dengan tatapan bingungnya. Setengahnya lagi aku bisa menemukan sebercak rasa senang disana.

“Aku melakukan apa yang kau katakan, mengejar apa yang benar-benar inginkan di dunia ini.”

Wanita nilon itu tidak menjawab, dia seakan menunggu apa yang akan kukatakan selanjutnya. Aku tersenyum, untuk beberapa saat aku tahu bahwa semua yang telah aku pikirkan akan menjadi nyata—setidaknya untuk beberapa detik.

“Dan untuk saat ini, aku menginginkan dirimu.”

Persetan dengan harga diri, tunangannya, dan segalanya. Wanita nilon itu kini menatapku dengan puas, tentu saja—wanita sombong seperti dia, selalu terpuaskan egonya melihat pria bertekuk lutut tak berdaya di hadapannya.

Wanita nilon itu kini tersenyum bangga, dia tidak mengatakan apapun, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju boarding pass—seakan-akan dia tahu bahwa aku dengan sukarela akan mengikutinya tanpa banyak bicara. Sial, aku bahkan belum mengetahui namanya.

“Jadi, siapa namamu?”

Wanita nilon itu kembali menatapku untuk beberapa saat, kemudian dia melemparkan kotak jam Calvin Klein yang tadi dia beli untuk tunangannya ke arahku, membuat keningku kembali berkerut. Sebelum akhirnya menyadari sesuatu yang salah ketika aku membuka kartu ucapan itu, dan namaku tetera disana.

‘Lee Donghae’

Lalu dengan satu tarikan nafas dia menjawab dengan suara rendah bersama senyuman sempurnanya—membuat duniaku terasa berguncang dan senyum membuncah mewarnai sudut bibirku.

“Han Cheonsa.”

Detik itu aku tahu, bahwa terkadang hidup memberikan sesuatu yang lebih indah dari yang kita harapkan ditempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Untuku, dia adalah Han Cheonsa.

.

.

.

 I believe miracles happen. Maybe not the ones we hope for, but sometimes the ones we need. And sometimes we don’t even realize one occurred.–Lee Donghae

\.

-FIN-

.

.

.

Hi, so I just found this story on my email and through the replacement I’ve made–I love this story more than I originally planned. I haven’t written such high-end sweet story like this for ages. Hope you guys enjoying as much as I do, plus comments are greatly appreciated #fudgeoffsiders

xo

IJaggys

Summer Sale Ebooks: Shop Now!

 

 

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

18 responses »

  1. shfly3424Arista says:

    Ahhhhh sweet bngettt

    Seru bngetttt
    EnaK bnnget bisa nemu jodoh dgn cara ini

    Boleh mnnta side story atau sequel

  2. ratihds says:

    my fav so far :’)

  3. kim_yeon says:

    So sweet❤ Donghae & Cheonsa udah berjodoh dari dulu tanpa mereka sadari ^_^

    Beeharap mereka segera menikah…Suka banget ceritanya karna Donghae nggak tersskiti

  4. - says:

    Kok sweet gini ya ehe udah ngira kalo yg dimaksud Donghae itu ya si Cheonsa pas mereka lagi nomong di pesawat.. Dan Donghae baru nyadar pas akhir akhir:’)

    Yaampun ini beneran manis deh. Aku suka banget lol

  5. yyyrrr says:

    Keren banget.

    Love how cheonsa cancelled their engagement just like that… to let everything naturally happens the way it should? How sweet.

    Dear voldemort queen, pls be good to him :”)

  6. ji says:

    duh..cerewet taunya sebelahankann
    mereka memang berjodoh mungkin?/

  7. insan nurmala says:

    Mereka membatalkan perjodohan mereka masing masing dan mengejar keinginan mereka.
    Meskipun pada akhirnya mereka ttap bersama,dan mereka memulai hubungan tanpa ada embel embel perjodohan.😀

  8. AnaSophie says:

    one word to describe the whole plot, amazing.

  9. isfifath says:

    so I decided that this is my fav one so far :”

  10. fsshy says:

    Keren ya. So sweet. Sukaakk

  11. Lee says:

    Manis.. manis… sampai diabetes ㅋㅋㅋ ga kebayang kalo satu penerbangan sama seorang lee donghae

  12. pitongtong says:

    Dan untuk saat ini aku menginginkan dirimu . 🍃🍃🍃🌿🌿

  13. Yuki says:

    demi apapun ff ini manis bangett.. bikin senyum-senyum aneh dan pastinya yuki suka sama gaya penulisannya.🙂

  14. Min's says:

    Sweet. Yaa mungkin sepanjang perjalanan cheonsa mikir kenapa dia dijodohin sama manusia ikan yang imut tapi dia baru ketemu itupun secara nggak sengaja. Hahaha

  15. Yoo says:

    aaaaa ini manissssss🙂

    di awal udah mikir yg kaya “lah Cheonsa udah punya pacar, trus Donghae-nya mau tunangan. lah gimana dong terusan.”
    dan seperti biasa, selalu ada kejutan di tiap ff-nya kakakkk (meskipun aku baru baca Gangnam Love Story, blm sempet baca yg lain)

    suka deh Cheonsanya di sini misterius gitu ya, dan as usual Donghaenya cerewet sekali pdhl baru kenal haha :p

    suka pokoknyaaaa, manis banget inimah♡

  16. FisHaeGyu says:

    Ehcieeeee yang udah jodoh mah kan :v
    Sosweet banget:v Dan aku bahagia warbyazah karena ongek bahagia dan nggak dinyenyeuri… Alhamdulillah diantara mereka ngga ada ‘semut’….. Cepet nikah we lah:v

  17. Fira says:

    You cant predicted wht will happen in the future~

    Andai gw juga kayak gini, rela ding

  18. Fanny_Park says:

    jodoh pasti bertemuu dengan jalannya masingg2,
    yuhuuuuu kisah mereka selaluuu saja manissss,,
    sukaaaa :* :* :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s