OHUNIVERSE .

.

In Related Story With: Trash Cans

.

The thing is—I never wanted anyone to settle down with.

.

Mengapa seorang wanita enggan berhubungan dengan pria yang lebih muda darinya?

Pertanyaan itu selalu melintas di kepala Vernon, setiap kali kakaknya membawa seorang pria ke rumah mereka—dan tidak ada satupun dari mereka yang berusia lebih muda dari kakaknya.

Vernon selalu menyukai kegiatanya mengamati orang-orang di sekitarnya, dia bukanlah orang yang pandai merangkai kata—dia sangat berbanding terbalik dengan kakak perempuanya yang sangat populer. Han Cheonsa sangat populer di kalangan pria, kakaknya memiliki rambut coklat yang mengingatkanya pada benang nilon, lalu garis wajah sempurna, dan matanya yang indah.

Siapa yang tidak mau bersama dengan wanita seperti Cheonsa?

Bahkan walaupun Cheonsa adalah kakak tirinya, semua orang percaya bahwa Vernon dan Cheonsa memang terlahir ke dunia ini sebagai pahatan-pahatan terindah dari surga. Semua orang memang melebih-lebihkanya.

Ketika pertama kali bertemu Cheonsa di malam pertunangan Ayah dan Ibunya, Vernon bisa melihat bahwa Cheonsa adalah sosok kakak tiri yang kejam—dia akan menjadi upik abu, atau mungkin dia akan berakhir menjadi budaknya dengan melengkapi pesanan kopinya ke Starbucks sebanyak sepuluh kali, hingga Cheonsa merasa bahwa cangkir kopinya telah sempurna.

Tapi tidak ada satupun yang terbukti.

Saat pertama kali Vernon dan Ibunya pindah ke rumah Cheonsa yang sangat mewah, dia membantu Vernon menempelkan poster Eminem di kamarnya. Lalu dia membawa Vernon ke setiap acara sosialnya, dan mengenalkan kepada teman-temanya bahwa Vernon adalah adiknya.

Kini kembali lagi kepada pertanyaan pertama, mengapa wanita enggan berhubungan dengan pria yang lebih muda denganya?

Cheonsa adalah objek penelitiannya, kakaknya itu selalu membawa pria yang berbeda setiap harinya—dia bahkan tidak bisa mengingat nama mereka. Cheonsa akan datang dengan pria baru yang terlihat lebih dewasa darinya, dan mereka akan menikmati sepotong lasagna yang dibuat oleh Ibunya sebelum Cheonsa menendangnya keluar dengan senyuman manisnya.

Dia pernah menanyakan hal ini pada Cheonsa, tapi kakaknya selalu berkata bahwa berhubungan dengan pria muda itu sangat merepotkan—dia tidak ingin menjadi babysitter mereka, hanya karena dia jauh lebih dewasa di dalam hubungan mereka.

Tapi malam ini adalah pengecualian.

Pengecualian.

Han Cheonsa membuka pintu rumah mereka lalu mengecup pipi Vernon dengan singkat, dan membawa seorang pria yang terlihat lebih muda darinya. Dia yakin pria itu mungkin hanya berkisar satu tahun lebih tua darinya, dan mengencani remaja belasan tahun bukanlah hal yang akan di lakukan oleh kakaknya.

“Hai, aku Mingyu—kau pasti Vernon. Cheonsa bercerita banyak tentangmu.”

Sekilas dia menatap wajah Cheonsa dengan tidak percaya, tapi matanya kembali menelusuri sosok Mingyu yang berada di hadapanya. Tinggi, memiliki garis wajah yang tegas, dan tatapan yang tajam. Dia memang tipe Cheonsa.

“Mingyu adalah tetanggaku. Dia partner setiaku saat membuang sampah.”

Oh, dia lupa. Cheonsa memang tidak tinggal dengan mereka. Cheonsa hanya menggunakan rumah ini untuk berkencan dengan kekasih-kekasihnya. Kakak tirinya itu jauh lebih memilih hidup sendiri, dengan alasan dia tidak ingin menganggu hubungan Ayahnya dan Ibunya. Walaupun Pearl bersumpah bahwa kehadiran Cheonsa benar-benar tidak menganggunya.

“So where’s my biggest stars, Pearl?” Cheonsa memanggil Ibu tirinya dengan kasual, dia mendaratkan kecupan di wajah Pearl, dan tersenyum senang saat Pearl membawa satu piring berisi cookies hangat.

Hubungan Ibunya dan Cheonsa memang sangat baik. Jadi, ketika Pearl menemukan pria asing dibelakang Cheonsa—hal itu tidak lagi membuatnya terkejut.

“Aku mendengar banyak tentangmu.” Pearl tersenyum ramah, dan menjabatkan tangannya pada Mingyu. Sementara Vernon hanya memutarkan bola matanya dengan bosan.

Itu adalah kata-kata yang selalu diucapkan oleh Ibunya setiap kali Cheonsa membawa pria baru, walaupun Pearl benar-benar tidak pernah mendengar Cheonsa membicarakan seorang pria yang spesifik di hadapan mereka.

“So, is it trash bag or trash can?”

Cheonsa tersenyum mendengar pertanyaan penuh arti dari Vernon. Cheonsa tahu pertanyaan sebenarnya, apakah Mingyu hanya mainan atau cinta sejatinya. Dia tersenyum sugestif, membuat wajah Mingyu bersemu merah.

“Kinda—both.” Cheonsa tidak bersungguh-sungguh dengan Mingyu, membuat dia sedikit merasa iba pada pria itu. Karena darimanapun juga, step sister-nya itu tidak akan mungkin berakhir dengan pria yang lebih muda.

Dad sedang berada di Kensington. Dia bilang kau tidak boleh membawa kekasih-kekasihmu lagi kesini.” Mendengar penuturan dari Vernon, membuat Cheonsa dengan sigap menutup telinga Mingyu dengan kedua tangannya.

“Oh my Givenchy Vernon! Mingyu is here, you can’t hurt his feelings.” Ekspresi wajah Cheonsa terlalu palsu untuk menjadi nyata. Membuat Pearl harus menahan tawanya, dan memutuskan untuk kembali ke konter dapur dan menunggu panggangan cookies yang selanjutnya.

Mingyu disisi lain, hanya tersenyum manis. Pria itu bahkan tidak merasa terganggu dengan fakta bahwa Cheonsa bisa menendangnya kapan saja. Oh, dia benar-benar berharap bahwa Cheonsa menendangnya—dengan cara yang lebih romantic dari bayangannya.

“Aku bukan kekasihnya. Aku hanya orang yang kebetulan beruntung untuk bisa berbicara dengannya.” Dari nada bicaranya saja, Vernon sudah bisa menebak bagaimana Mingyu selalu membayangkan kakak tirinya setiap malam. Dibandingkan dengan kekasih-kekasih Cheonsa yang lainnya, Mingyu hanyalah injakan kaki mereka.

Bukan berarti dia berpikir bahwa Mingyu buruk rupa. Only God knows, how marble perfect he was. Tapi dia telah mengenal Cheonsa lebih baik, dia tahu bahwa Mingyu bukanlah pria yang kakak tirinya itu cari.

“Hey Cheonsa, can you help me here? I’m having some trouble placing the icing.” Suara Pearl menyela pembicaraan mereka. Cheonsa dengan senang hati berjalan menuju konter dapur, tidak lupa menyapukan kecupan singkat di kening Mingyu, dan lagi-lagi berhasil membuat wajah pria itu bersemu merah.

Oh Vernon mengerti sekarang. Cheonsa hanya memperlakukan Mingyu seperti dirinya, sebagai seorang adik, dan itu sedikit mengganggunya. Kini ruangan itu hanya diisi oleh keheningan mereka berdua.

Mingyu lebih tertarik dengan bantal sofa, dan Vernon lebih tertarik mempelajari apa yang membuat kakaknya memilih Mingyu.

“Kau tahu bukan, bahwa dia tidak serius denganmu?” Menjadi seorang yang sarkastik dan terlalu mencampuri urusan orang lain, jelas bukanlah hal yang biasa Vernon lakukan—tapi melihat Mingyu berada disana—dia harus mencari tahu.

“Ya, tapi itu bukanlah hal yang menjadi konsenku untuk sekarang.” Mingyu terlihat begitu menyenangkan, dia menjawab dengan santai tanpa terkesan terburu-buru.

“Apa kau tahu bahwa dia tidak akan mengencani pria yang lebih muda darinya?” Pertanyaan keduanya terdengar begitu personal. Mingyu tetap tersenyum, dia mengacak rambutnya untuk beberapa detik, membuat sesi tanya jawab itu menjadi seperti sesi pemotretan sebuah majalah High-End.

“Aku adalah pengecualian, dia berkata bahwa aku bisa membawa kemana hubungan ini akan berjalan. Tapi aku tidak mau terburu-buru, dia adalah wanita yang rumit.” Mingyu memiliki kepercayaan diri, diluar ekspetasi Vernon—dan itu menarik untuk diungkap.

“Kau mungkin berpikir bahwa aku tertarik dengan kakakmu, karena dia adalah wanita sempurna. Sebenarnya, aku begitu menyukainya karena dia adalah orang yang paling sederhana yang pernah aku kenal. Bukan dalam gaya hidup atau kepribadiannya, semua orang tahu dia bisa menghabiskan semua barang mewah yang berada di Harrods, dan dia tidak akan merasa cukup.” Mingyu menatap kearah dapur, dimana Cheonsa masih sibuk berdiskusi dengan Pearl tentang makan malam mereka. Memastikan bahwa wanita itu tidak akan menginterupsi pembicaraan mereka.

Vernon tetap menunggu, dia memikirkan cara terbaik untuk memberi tahu Mingyu agar segera meninggalkan kakaknya karena dia merasa bahwa Mingyu adalah pria yang baik dan menyenangkan—tapi dia lebih memilih membungkam bibirnya, dan membiarkan Mingyu melanjutkan perkatannya.

“Dia memiliki cara berpikir yang sangat sederhana. Cheonsa bukanlah tipe wanita yang akan membuat kepalamu pecah karena dia terlalu menuntut. Dia adalah jenis wanita yang diam-diam selalu kau doakan agar berakhir bersamamu untuk selamanya, dan karena Cheonsa adalah Han Cheonsa—bagiku itu sudah cukup.”

Vernon terdiam saat Mingyu menyelesaikan kata-katanya. Dia cukup terhenyak, tentang bagaimana Mingyu begitu mencintai kakaknya. Ini memang bukan pertama kalinya dia mendengar pengakuan cinta dari pria-pria lain kepada kakaknya—tapi Mingyu, dia memiliki alasannya sendiri. Alasan yang belum pernah Vernon dengar.

Her mind is the biggest, most imaginative, I have ever met. I could live in, It’s growing countries forever.” Mingyu kembali menyimpulkan senyumannya, matanya terus menatap Cheonsa dari kejauhan dengan penuh kasih sayang.

Ya, mungkin Mingyu berbeda. Mungkin kakaknya memang memilih Mingyu, karena pria itu berbeda dari yang lainnya. Jadi yang Vernon lakukan adalah tersenyum lebar, dan menjabat tangan Mingyu.

“Yeah, maybe your not so bad yourself. Maybe Cheonsa is in love with you. Good luck for whatever’s up with you.”

Mingyu menjabat tangan Vernon dengan semangat. Dibelakangnya, samar-samar dia bisa mendengar suara Pearl memanggil mereka ke ruang makan bahwa makan malam telah siap.

Pearl tersenyum tak percaya saat Vernon dengan cepat menarik kursi disebelahnya untuk Mingyu. Dia memang tidak pernah melakukan itu kepada kekasih-kekasih Cheonsa yang lainnya.

“Cheonsa sedang menerima telepon di taman belakang, mungkin dia sebentar lagi akan kembali.” Pearl menjelaskan seakan bisa menjawab pertanyaan yang tak terucap dari tatapan Mingyu yang mencari wanita pujaannya ke sekitar ruangan.

“Easy. I will get your Princess back.” Vernon menepuk bahu Mingyu, sebelum dia berjalan keluar menelusuri rumah mewah itu, hanya untuk menemukan kakak tirinya tengah berbicara mesra dengan seseorang melalui ponselnya.

Perlu sekiranya lima belas detik untuk Cheonsa menyadari kehadiran Vernon disana, dengan cepat dia memutuskan sambungan teleponnya dan melambaikan tangannya kepada Vernon.

“Thanks Givenchy, you’re here.”

Vernon tahu bahwa Cheonsa akan kembali berulah seperti biasanya. Tapi untuk malam ini terlalu cepat. Dia tidak pernah menendang pria saat acara makan malam, selalu setelahnya.

“Kau tidak bermaksud untuk menendang Mingyu sekarang, bukan?” dia sedikit was-was, dia tidak ingin mengecewakan Mingyu. Pria itu bisa menjadi temannya.

“Oh, kau sungguh Adiku yang terbaik—itu memang yang harus kau lakukan.” Cheonsa mencubit pipi Vernon dengan gemas, seakan Vernon masih berusia tujuh tahun ketika mereka pertama kali bertemu.

“Kekasihku yang lain, baru saja kembali dari New York. Aku sangat merindukannya, dia hanya memiliki waktu tiga jam untuk bersamaku sebelum pesawatnya terbang ke Maldives. Aku harap kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Cheonsa menatapnya dengan mata memohon, normalnya dia selalu menyetujui apapun yang kakaknya itu inginkan tapi untuk kali ini—tidak.

“Aku tidak bisa melakukannya. Kau bisa bisa memberitahukannya kepada Mingyu secara langsung, dan menjadi orang yang benar-benar kejam dimatanya.”

Mendengar jawaban defensive dari Vernon membuat Cheonsa menatapnya tidak percaya. Adiknya benar-benar telah terhipnotis dengan kejujuran Mingyu—hal yang sama, yang membuatnya mencium bibir pria itu di depan tempat sampah.

“Baiklah, aku akan mengirimkan pesan kepada Pearl bahwa aku harus menjemput Dad di Airport secara mendadak—lalu dia bisa menungguku di rumah, atau di tempat pembuangan sampah. Dia selalu tahu dimana harus menemukanku.” Cheonsa mengucapkannya dengan terburu-buru, dia memasukan kunci mobil ke dalam saku jeansnya dan berlari kecil menuju gerbang belakang rumah mereka.

“Apa kau tahu, bahwa kau benar-benar wanita yang sangat jahat?” Pertanyaan Vernon berhasi menghentikan langkah Cheonsa. Kini jarak mereka telah dipisahkan oleh kolam renang yang terhampar luas. Cheonsa berdiri disana dengan satu tangannya diletakan pada pinggang. Dia seakan tengah menimbang-nimbang haruskah dia pergi meninggalkan Mingyu, atau tetap berada disana dan melewatkan kesempatan untuk bertemu pria lain simpanannya.

“Vernon, the thing is—I never wanted anyone to settle down with. I kept going, until I found someone who loves me enough for who I am—not for what I’ve become. I hope a tiniest part of you would understand that.” Cheonsa tersenyum simpul sebelum membuka pintu gerbang itu, dan membiarkan Vernon berdiri disana dengan ratusan pertanyaan untuk dirinya.

Dia tahu, dia tidak seharusnya menilai Cheonsa sebagai wanita jahat. Itu bukan urusannya, atau pilihan hidupnya.

“She’s leaving, right?” Suara Mingyu memecah keheningan disana. Vernon menatap Mingyu dengan pucat, memikirkan alasan apa yang harus diucapkannya tentang kepergian kakaknya.

“Kau tidak perlu menjelaskan apapun, Vernon. Itu diluar kemampuanmu. Aku mengerti apa yang kakakmu lakukan.”

Dia tidak mengerti bagaimana Mingyu masih bisa mempertahankan senyuman High-End-nya tersebut. Umumnya setiap pria yang ditendang Cheonsa, akan mengumpat dalam bahasa kasar atau menangis hingga berdarah—tapi sekali lagi Mingyu berbeda.

“Aku akan pulang. Terimakasih telah menerimaku dengan sangat baik, juga sampaikan salamku untuk Pearl dan Ayahmu—atau jangan. Ayahmu tidak boleh tahu bahwa kakakmu membawa pria lain ke rumah ini lagi.”

Vernon menatap Mingyu yang mulai berjalan menjauh, dia bisa merasakan rasa bersalah atas nama kakak tirinya.

“Hey, on behalf of my sister’s name—I’m so sorry.”

Mingyu menolehkan wajahnya ke arah Vernon, dan pria itu justru tertawa kecil. Seakan semua kejahatan Cheonsa bukanlah hal yang besar untuk diperbincangkan.

It’s allright. I’m still into your sister. Dia mungkin akan kembali dalam beberapa jam, aku akan menunggu di depan rumahnya—aku tidak ingin dia yang menungguku.” Mingyu memutarkan bola matanya seakan menggambarkan bagaimana bencinya Han Cheonsa jika dia harus menunggu seseorang, sebelum dia kembali melangkahkan kakinya dari rumah mewah itu.

“When would you stop chasing her?”

Minggyu kembali menghentikan langkahnya, selama beberapa detik keheningan kembali mengisi disana. Tapi kemudian dia menatap Vernon, dan kembali tersenyum.

“In love there’s no such thing as competition. If you’re good enough, you’ll get her—and if you’re not, then you never deserved her.”

Itu adalah kata-kata terakhir yang dia dengar dari Mingyu, sebelum pria itu menghilang dari pandangannya. Dan untuk beberapa saat, dia mengerti mengapa Han Cheonsa memilih Mingyu.

Karena Mingyu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dalam hidupnya.

Han Cheonsa hanya belum mengetahuinya.

.

.

-FIN-

.

.

.

Left: Mingyu | Right: Vernon

 

 

I FINALLY MADE A DIAMOND LIFE. lol this fic was so last year, because I found this old files on email #happy. Again, I know some of you are not very fond of me posting another story outside SJ. But please, give things a try. I hope one of you are Carats [correct me if I’m wrong about their fandom’s name] [i am forever ikon bbys] [forever donghaes author]

Comments are greatly appreciated! You can tell me who should I write about [what’s 411 in kpop world today lol]

Visit this blog for reading my stories outside SJ’s cast: Catshires

xo

IJaggys

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

5 responses »

  1. deendran says:

    ahirnya request gue about my svt :””. I love you.

  2. Mueezachann says:

    Love vernon so much. . . And mingyu too but actually I like S. Coup. . Wkwkkwk
    Selalu ringan dan enak dibaca!!!! Love it!!!

  3. insan nurmala says:

    Mingyu yaampun dia bener bener luar biasa,pemikirannya itu loh bikin orang tercengang.😀
    dan yahh cheonsa belum sadar kalau mingyu lah yang terbaiknya.😀

  4. Min's says:

    Well good luck for you minggyu. Aku harap cheonsa cepat sadar dengan perlakuannya. Well maybe author-nim bisa tulis fanfic dengan cast member bts🙂

  5. comment-2595 says:

    Besides insecurity and violence which are thought-about
    2 major problems piracy has been a long illness that Mexico has been facing and has not be capable of defeat properly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s