wheel of ends

.

.

.

Have you ever met someone so beautifully broken that you didn’t wished to fixed them at all?”

.

.

.

***

Sebuah kabar menyebar luas. Ini bukanlah kabar dimana seseorang datang ke dalam kelas dengan berlumuran darah, atau seseorang yang memiliki masalah lebih rumit dalam kehidupan pribadi mereka di luar sekolah.

Kabar ini sebenarnya tidak sepenting itu. Tapi menurut beberapa orang, kabar ini sungguh luar biasa. Semua siswa sibuk membicarakan hal itu di penjuru sekolah, dinding-dinding loker tempat biasa mereka bertukar sapa—kini menjadi ajang mereka untuk mempertanyakan hal yang sama.

‘Apakah benar Han Cheonsa berselingkuh dengan Kim Hanbin?’

Itu adalah permasalahan yang sebenarnya. Beberapa siswa menyebutkan bahwa mereka melihat Hanbin mencium Cheonsa di perpustakaan, kemudian beberapa diantaranya mengaku bahwa mereka melihat Cheonsa memeluk Hanbin saat pesta homecoming berlangsung.

Sebenarnya kabar perselingkuhan itu telah tercium sejak lama, namun tidak ada satupun yang tahu kebenarannya. Hanbin maupun Cheonsa seperti tidak memperdulikan kabar burung tersebut. Bahkan mereka terlihat beberapa kali menikmati makan siang bersama, ketika Bobby tengah menjalani serangkaian turnamen di luar sekolah.

Han Cheonsa si cantik yang menjalin hubungan dengan Bobby, kapten basket yang populer—dikabarkan berselingkuh dengan Kim Hanbin, ketua organisasi siswa yang sempurna.

Namun yang benar-benar menggelitik dari semua ini adalah, Kim Hanbin adalah sahabat terbaik Bobby. Dan Han Cheonsa adalah gadis yang dia suarakan akan menjadi pendampingnya di atas altar.

“Hey, aku berharap kabar itu tidak menganggumu. Bagaimanapun juga, Hanbin adalah sahabatmu—dia tidak mungkin melakukan hal—seburuk itu.”

Bobby mengangkat wajahnya dari majalah sport yang tidak pernah dibacanya, ketika mendengar suara Jinhwan di hadapannya. Dia membawa majalah itu sebagai alasan agar orang-orang tidak mengajaknya berbicara mengenai hal yang di hindarinya.

“Untuk masalah foto yang beredar. Mungkin itu hanya rekayasa, kau tahu—banyak yang tidak suka dengan Hanbin karena dia arogan, lalu—sudahkah kau membicarakan permasalahan ini dengan Cheonsa?”

Jika Jinhwan bukanlah salah satu teman yang dihormatinya, Bobby tidak akan mungkin membiarkan dia berbicara lebih dari lima kata tentang Hanbin dan Cheonsa.

Siapa yang ingin mendengar kabar tentang perselingkuhan kekasih dan sahabat terbaiknya?

Dia merasa seperti orang yang benar-benar suci, karena hingga detik ini dia belum melayangkan pukulannya ke wajah Hanbin sejak fotonya mencium Cheonsa menyebar dengan luas.

“Aku belum bertemu dengan Cheonsa sejak pagi,” dia menarik nafasnya, matanya menoleh ke arah jendela hanya untuk menemukan kekasihnya itu berdiri di tengah lapangan dengan raut wajah gelisah.

“Aku akan menemuinya setelah pertandingan softball-nya selesai. Tidak ingin menganggu konsentrasinya dengan kehadiranku, kau tahu dia sangat mencintaiku.”

Mesikpun Bobby kini tersenyum, Jinhwan tahu seberapa hancur dirinya detik ini.

***

Kim Hanbin tidak bisa melepaskan pandangannya dari Han Cheonsa. Dia berdiri di pinggir lapangan, seperti orang bodoh yang tidak mengetahui rasa bersalah. Dia tahu kabar itu telah menyebar luas, dan entah siapa yang memulainya—dia bahkan tidak berminat mencari tahu siapa yang menyebar foto-foto tersebut.

Semua mata tertuju kepadanya. Beragam reaksi yang mereka tunjukan ketika menemukan Hanbin berdiri disana dengan mata yang menatap lurus ke arah Cheonsa. Dia yang dulu mungkin tidak akan perduli dengan apa yang dikabarkan tentangnya, dia bahkan tidak ambil pusing dengan sederetan orang-orang yang membenci masa kepemimpinannya yang keras sebagai ketua organisasi siswa.

Selama dia melakukan hal yang benar, dia tidak akan memperdulikan semua itu. Kecuali detik ini. Dia merasa terintimidasi dengan tatapan-tatapan itu. Ketika foto itu beredar, dia bisa mendengar ruam kebencian untuknya dan Cheonsa. Terlebih kepada Cheonsa.

Dia telah melihat bagaimana orang-orang di sekolah ini bereaksi dengan keras terhadap kabar itu. Mereka mulai menyudutkan Cheonsa, beberapa bahkan dengan sengaja menyikut Cheonsa ketika gadis cantik itu melintas di depan mereka.

Karena Bobby adalah pria terbaik di sekolah ini, dan ketika seseorang menyakiti Bobby—maka orang itu menyakiti mereka semua.

Mungkin kehadiran Hanbin disini hanya untuk membuat Cheonsa merasa lebih tenang.

Have you ever met someone so beautifully broken that you didn’t wished to fixed them at all?” Bobby berdiri di sampingnya, matanya menatap Cheonsa dengan dalam. Pertandingan itu baru saja dimulai, dan semua orang justru lebih tertarik dengan kehadiran Bobby dan Hanbin.

“I look for her in the shards of a broken mirror. Each one I break I see her just a little clearer.” Bobby bisa saja meninjunya, membuatnya berdarah hingga mati. Dia tahu Bobby bisa membunuhnya kapanpun, tapi sahabatnya itu tidak pernah melakukannya.

Bobby hanya berdiri di sebelahnya, memandang gadis yang sangat dia cintai.

“Well, let’s talk more about love. Say the things we should have said. Maybe even the things we knew we shouldn’t have,” Bobby memberikan jeda di kalimatnya, ketika dia melihat Cheonsa terjatuh setelah seseorang mendorongnya dengan kasar.

“My parents have been together for 30 years, and I don’t even like seeing the same cashier twice in a row at the grocery store. But with her—it’s different. She makes me ache, in the bad way and the good.” Kali ini untuk pertama kalinya, Bobby mengalihkan pandangannya dari Cheonsa dan menatap sahabatnya, Kim Hanbin.

Hanbin tidak menjawab, hati terkecilnya berkata bahwa dia adalah pria yang begitu brengsek karena telah merebut kekasih sahabatnya sendiri, tapi ego tertingginya berkata bahwa dia berhak merasakan apa yang dia inginkan. Dan dia menginginkan Han Cheonsa.

“I wish I knew how undo what I have become. But I can’t, and I’m sorry for all that I’ve wrought. Even more so for all still to come.” Berbohong pun tidak ada gunanya. Kini semua orang telah mengetahui kebenaran yang telanjang.

Semua orang telah mengetahui bahwa dia mencintai kekasih sahabatnya sendiri, dan jika Bobby memintanya untuk menghilang dari kehidupannya dan Cheonsa—dia akan melakukannya, jika itu cukup membuat Bobby memaafkannya.

Sometimes you try to grow unattached to some people. Sometimes it works, sometimes it doesn’t work.” Bobby tersenyum, dan itu membuatnya semakin merasa buruk.

“I’m sorry I loved her the wrong way.” 

Mendengar jawaban Hanbin, tidak lantas membuatnya melayangkan pukulannya. Dia berbohong jika dia tidak membenci Hanbin detik ini, tapi ketika dia melihat Han Cheonsa menatap Hanbin di balik iris birunya—dia tahu dia telah menghilang dalam samudra itu.

Dia telah kehilangan Han Cheonsa, jauh sebelum dia menyadarinya.

Bunyi peluit berkumandang menandakan terhentinya pertandingan. Orang-orang mulai berlari ke tengah lapangan, beberapa di antaranya meneriakan nama Cheonsa.

Pandangan samar itu secara perlahan mulai terlihat dengan jelas. Han Cheonsa terbaring dengan luka membiru di sekujur tubuhnya, dan lemparan bola yang terakhir tepat merobek pelipis matanya. Mereka menyuarakan kekecewaannya kepada Cheonsa melalui pertandingan itu.

“Do you still love her?” pertanyaan itu terpecah di udara, meninggalkan keheningan di antara mereka berdua.

Hanbin mengangkat wajahnya, dia menatap Han Cheonsa yang masih terbaring disana—berusaha sekuat mungkin agar tidak berlari dan menghabisi siapapun yang menyakiti gadis itu.

I love her in ways I didn’t know I knew how.” 

Ketika kata-kata itu terhenti. Bobby tahu bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Akhir dari kisahnya dengan Han Cheonsa.

“Aku akan memberikanmu tiga puluh detik untuk membawa Cheonsa dari sana. Dan jika kau tidak berhasil membawanya—kau tahu, aku tidak akan pernah berhenti lagi untuk mengejarnya kembali.”

Hanbin menatap Bobby dengan tidak percaya, dia mencari sebuah kebohongan di dalam sana tapi dia tidak bisa menemukannya.

“Why?” 

Itu adalah pertanyaan sama yang dia tanyakan kepada dirinya detik ini. Kenapa? Kenapa dia memutuskan untuk menyerah, dan membiarkan Hanbin mendapatkan gadis yang di cintainya.

“Because she fell in love with you–you become the book living in her head. Maybe this is how the story is supposed to go. Bobby menarik nafasnya, lalu kembali menatap Cheonsa untuk yang terakhir kalinya.

Dulu dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah bisa melepaskan seseorang yang sangat di cintainya ke dalam pelukan orang lain.

Tetapi dia tersadar setelah mengenal Han Cheonsa. Dia tahu bahwa jika dia benar-benar mencintai seseorang—semua rasa sakit itu akan hilang setelah melihat senyuman bahagia darinya. Karena terkadang, seseorang hanya menjadi sebuah penggalan kisah dari perjalanan hidupnya.

“And I believe everyone has the right to be happy, even yours.” Bisiknya diiringi senyumannya, sebelum dia berjalan menjauh dari sana. Dan berharap bahwa suatu saat nanti dia akan kembali menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Because everyone has the right to be happy, even the one who hurts you most.

.

.

-FIN-

.

.

.

Because Kim Hanbin is a bias wrecker, and we’re switching lanes. Comment and review are greatly appreciated! xo 

Originally posted in ikonfanfict_id. Plus gapapa ya sekali-kali post iKON disini :’)

Oh, and I have a new blog contains iKON and related things I love: catshires

 

Hanbin

tumblr_nwhi3zoWkH1uqjsgso4_250

.

Bobby

vv

 

 

 

xo

IJaggys

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

10 responses »

  1. babygamekyu says:

    knp ya aq ngersa klo ngeliat hanbin tuh kyak liat eunhyuk…tpi versi lebih cakep hehe…
    mngkin krna rahangnya yg sma2 tegas kali ya..
    btw aq juga lgi suka IKON..tpi biasku jinhwan.

  2. insan nurmala says:

    Wohuuu my bias kim hanbin akhirnya bisa nongol juga di wp nya kak son.😀
    aduhh bahagia banget ada fanfic tentang ikon apalagi tentang hanbin si carisma leader of ikon.😀
    pada kenyataan juga hanbin memang terlihat arogan,tapi kenyataannya dia penyayang dan pekerja keras juga.🙂
    Somoga lebih sering ada fanfic tentang hanbin ya kak son.🙂

  3. mychococho says:

    dunia hcs emang penuh skandal perselingkuhan.. ntah itu di Suju ntah itu di ikon.

    Hcs minta di-hap sama om ipul ihh😂

  4. soofiatj says:

    Nyesek anjir😭😭

  5. Esaa says:

    Aku 100% mendukungmu untuk post iKON..
    Ciuuuussss!
    Karena apa? Aku belum nemu author iKON yang ngena di hati, eaaaa….
    Di sini Mbob gentle banget,,,,
    Ditunggu story berchapternya iKON yaa…
    Selain Hanbin, Si Jinan udah nongol, tinggal nunggu member lainnya, kekeke… Yoyo, Donghyuk, Chanu, dan si jutek Junetttt 🙌🙌🙌🙌

  6. Esaa says:

    Ya alloh, aku gabaca poin penting kamu, kali kamu punya blog lain, haha… aku baca ya baca…. 😀😀😀😀

  7. fsshy says:

    Kak, ini bagus ceritany. Bobby disini dewasa banget. Suka sama karakter dia disini

  8. applepuu says:

    “I love her in ways I didn’t know I knew how.” sonia ini Bikin bingung ngartiinnya ……

  9. Min's says:

    Kimbabbbb kenapa kau jadi seperti ini. Padahal kamu cinta mati sama cheonsa. ㅠㅠ

  10. lalice says:

    kenapa harus bobby hanbin 😰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s