DONGHAEPRESIDENT

.

.

.

“Ever wanted to hug someone’s voice?”

.

.

.

Han Cheonsa berjalan dengan langkah panjangnya menyusuri lorong yang beralaskan karpet dari beludru berwarna merah tua, beberapa pelayan yang tidak sengaja melewati lorong itu membungkuk dengan hormat setelah melihat sosok sempurna itu berjalan dengan tatapan datarnya melewati mereka.

Pewaris tunggal hotel itu baru saja melangkahkan kakinya di sana tanpa pemberitahuan sebelumnya, untuk para pelayan baru mungkin sosok wanita itu hanya terlihat seperti tamu dari kalangan atas yang akan memanggil layanan kamar setiap lima menit sekali hanya untuk memastikan bahwa pesananya di kerjakan dengan sempurna.

Tapi bagi para petinggi disana, sosok wanita itu bagaikan sebuah lambang atutentik tentang kepemilikan hotel termegah dan termewah di London tersebut. “Dia baru datang dari Vietnam, kini berada di Royal President’s Suite dan memesan layanan kamar untuk makan malam beberapa menit yang lalu.” Jelas seorang Manager On Duty ketika Cheonsa menanyakan kedatangan tamu istimewa itu.

“Maaf tapi Tuan Presiden, tidak bisa di ganggu oleh siapapun tanpa perintah resmi dari pemerintahan,” Cheonsa mendengar tolakan samar dari seorang kepala pengawal berjas hitam dengan lambang Alpha di bahu jas hitamnya.

“Tapi yang ingin menemuinya detik ini, adalah pemilik hotel ini. Kami memiliki kebijakan bahwa pemilik hotel bisa bertemu dengan semua tamu untuk mengetahui tingkat pelayanan dari hotel ini.” Jelas Manager On Duty tersebut dengan wajah sedikit khawatirnya, jika dia tidak berhasil mendobrak tim keamanan ini, dia yakin Nona Besar Han tidak akan menyukai kejadian ini.

Alpha? Kalian adalah tim keamanan yang di pilih oleh Badan Pertahanan Internasional Seoul bukan?” Mereka bisa mendengar suara rendah dengan intonasi berkelas itu memecah keheningan disana,

“Segera hubungi Menteri Pertahanan bahwa tim Alpha yang dipilihnya baru saja menolak putri dari ketua parlementer Britain untuk bertemu dengan tamu di hotelnya sendiri.” Lanjutnya dengan tatapan dingin, sebelum akhirnya seluruh pengawal itu menundukan kepalanya dan membiarkan wanita itu menemui atasan mereka.

Travis? Aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin bertemu siapa—” pembicaraan itu terhenti ketika dia menatap sosok sempurna dengan tatapan samudranya menatap dari ujung ruangan. Travis adalah nama samaran salah satu pengawalnya, dan apa yang di lihatnya detik ini bukanlah Travis.

“Mr. President,” suara rendah Cheonsa kembali terdengar memenuhi udara yang kosong, di dalam suite mewah khusus untuk para Presiden yang mengunjungi London.

“Aku tidak percaya kau berani untuk menginjakan kakimu di sini, setelah membuat perjanjian pemberdayaan nuklir dengan Amerika.” Lanjut Cheonsa sambil memutar globe yang berada di meja kerja Tuan Presiden itu dengan satu jarinya.

“Mungkin sama gilanya ketika aku menunjukan senyumanku di pesta afternoon-tea di hadapan Philip dan anggota kerajaan, setelah membawa kabur putri semata wayangnya ke utara Mayfair.” Balas pria itu dengan senyuman lembutnya yang selalu membuat Cheonsa menyesal dipertemukan dengan senyuman seindah itu.

“Bagaimana dengan Ibu Negara?” Kali ini Cheonsa bertanya dengan suara lebih bersahabat tapi tetap menyelidik, dilahirkan di dalam keluarga Political British Party yang kuat membuat Han Cheonsa tumbuh menjadi sosok yang menganut sistem liberal sekaligus demokrat di dalam pandanganya.

Dia? Well, Ibu Negara sedang menikmati peranya untuk membantu korban-korban konflik di daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Dia mendapatkan banyak sorotan dan ulasan nomor satu di setiap surat kabar, dan aku rasa dia memang menyukai segala jenis sorotan utama itu.” Tukas pria yang paling berpengaruh di Korea Selatan tersebut.

Cheonsa menjawabnya dengan tatapan bahwa -Wanita Yang Di Pilih untuk menjadi First Lady mu ternyata sangat payah-.

“Aku tidak ingin mendengar sudut pandangmu tentang keputusanku membiarkan birokrasiku melakukan pemilihan acak untuk siapa yang menjadi Mrs. President-ku, Han Cheonsa.” Cheonsa memutar bola matanya, sedikit mengejek ke arah Presiden yang sudah dikenalnya delapan tahun yang lalu.

Dia menatap pria itu yang kini kembali tenggelam dengan laporan telegraph udara dari perbatasan Pyongyang, Korea Utara.

“Mereka bilang kau lembut,” pria itu menatap Cheonsa sekilas sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabaikan tugasnya malam ini dan mendengarkan boneka porselen dengan mata samudranya yang kini sudah duduk di atas meja kerjanya.

Boneka porselen itu selalu melakukan apapun yang dia inginkan.

“Byungshin, ketua pelayan khusus Presiden berbicara kepada seorang reporter dari harian New York Times tentang dirimu. Dia bilang kau adalah presiden termuda dalam sejarah Korea Selatan, ketika kau pertama kali masuk ke dalam istana negara kau menyapa semua pelayan dan pegawai disana dengan mengubar janji bahwa kau akan berusaha dengan keras untuk mengingat nama mereka satu per-satu. Dia bilang kau menjalani masa kepimpinanmu dengan lembut.”

Lee Donghae, pria itu, kini tersenyum kecil mendengar cerita itu. Dia hanya tidak menyangka bahwa seorang Han Cheonsa, mau meluangkan waktunya untuk membaca kabar di surat harian tentangnya.

“Menyenangkan mengingat sesuatu hal yang tidak berhubungan dengan negara dan nuklir di setiap titik kordinat di bawah lautan.”  Serunya dengan sedikit semangat yang tergambar di wajah lelahnya.

Cheonsa menatap raut wajah Donghae selama beberapa detik—mungkin satu layanan kamar lagi adalah hal yang bagus, dan dia akan memastikan bahwa semua pelayan itu akan kepayahan dengan pesanan Caviar diatas quiche-nya yang membutuhkan setidaknya 10 kali perbaikan hingga makanan itu layak untuk di nikmati Donghae dan dirinya.

“Bagaimana keadaanmu, Han?” Kali ini Donghae yang bertanya, memberikan beberapa detik untuk Cheonsa berpikir.

“Sama buruknya seperti ketika krisis misil di Cuba tidak jadi menghancurkan Amerika pada saat pemerintahan Kennedy.” Cheonsa adalah orang yang sangat patriotik, dia menyukai politik lebih dari dia menyukai koleksi terbaru Chanel yang keluar setiap tanggal lima di setiap bulanya.

Donghae masih teringat dengan pertemuan pertama mereka, mereka adalah mahasiswa tingkat akhir di Oxford. Donghae tidak pernah mengenalnya, Han Cheonsa selalu berjalan dengan tatapan angkuh, dan empat pengawal yang mengekor seperti anjing Rotweiller di sekitarnya.

Delapan tahun yang lalu, Cheonsa  duduk dengan tatapan angkuhnya di meja yang berada di sudut ruangan, satu tanganya memegang buku besar berwarna coklat gelap dengan kulit buku yang mulai mengelupas termakan rayap.

Oxford memiliki perpustakaan yang luas, tapi dia tidak pernah bisa mengalihkan pandanganya dari sosok gadis yang seharusnya lebih cocok berjalan di dalam etalase Harrords dibandingkan tenggelam di antara buku berdebu yang akan membuat mantel halus Bvlgari coklat mudanya terlihat sedikit usang.

Baru ketika di penghujung musim panas, Donghae memberanikan diri untuk menawarkan satu gelas karton berlambang hijau khas Starbucks ke arahnya.

Mereka memiliki hubungan yang fantastis setelah itu. Dia tidak akan pernah mempercayai bahwa hal itu akan terjadi pada hubunganya dengan Cheonsa. Mereka adalah orang-orang yang tahu bagaimana caranya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.

Donghae selalu berhasil memompa adrenalinya setiap kali menyusup ke dalam kamar Cheonsa melewati lorong bawa tanah di dalam rumah megah Cheonsa.

Dia akan memulai gerakanya dengan lembut, satu tanganya akan menarik tubuh mungil Cheonsa ke dalam pelukanya, lalu satu tanganya lagi akan terjatuh merengkuh wajah Cheonsa ke dalam ciumanya. Dia akan bergerak dengan halus, membiarkan Cheonsa mengerang dengan kencang dan membisikan namanya dengan indah diantara desahan mereka berdua.

Setelah itu dia akan membiarkan Cheonsa berjalan mengelilingi kamarnya tanpa menggunakan sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Cheonsa akan duduk di kursi merah mudanya yang menghadap ke perapian, bercerita tentang Gus–pelayan pribadinya, yang salah mengartikan pesanan makan siangnya di Harrods. Dia akan bercerita tentang apapun yang terjadi kepadanya hari itu ke Donghae.

Setelah itu dia akan berjalan ke arah Cheonsa, mengajaknya kembali ke atas tempat tidur. Mereka tidak melakukan apapun di atas sana, Donghae bersumpah walaupun hasrat bajinganya sebagai seorang pria normal ingin terus melakukanya dengan Cheonsa, tapi dia tidak mengikuti nafsu binatangnya, dia tidak ingin menjadikan wanita sempurna seperti Cheonsa sebagai alat seks.

Han Cheonsa jauh lebih berharga dari semua itu.

Dia hanya akan melakukanya satu kali di setiap kunjungan adrenalinya menyusup ke rumah ketua parlementer Great Britain. Donghae akan mengecup kening Cheonsa, dan membiarkanya tertidur di dalam pelukanya sebelum dia menghilang di balik jendela kamar itu.

Tapi itu semua tidak berlangsung lama, perlahan hubungan mereka mulai merenggang saat Donghae memenangkan posisi pertamanya sebagai seorang Senator muda dari Seoul. Lalu semuanya berjalan dengan sangat cepat, dan secara perlahan mereka mulai melupakan semua kisah itu di belakang sana.

“Lalu pindahlah ke Seoul, dan aku akan menjadikanmu Ibu Negara disana.” Walau terdengar seperti sebuah gurauan di malam hari, Cheonsa tahu bahwa Donghae bersungguh-sungguh dengan tawaranya. Oh, dia lebih tahu dari siapapun bahwa Presiden Korea Selatan ini sangat serius dengan tawaranya.

“Aku tidak melakukan hal yang seperti itu denganmu.” Cheonsa menekankan kata-katanya dengan intonasi bahwa jika dia memang menginginkan hubungan yang serius dengan Donghae, kini dia sudah menjadi Ibu Negara Korea Selatan tanpa harus di minta.

“Ayolah, itu adalah hal yang menyenangkan. Kau menjadi wanita pertama di sebuah negara, kau akan selalu menjadi sorotan utama, dan semua orang akan mencintaimu. Apa buruknya menjadi seorang Mrs. President?” Suara Donghae terdengar lebih ringan kini dia bahkan berjalan mendekat ke arah Cheonsa.

“Buruknya menjadi Mrs. President? Aku akan menjadi boneka hiasan pemerintah untuk selamanya.”

Donghae tersenyum samar mendengar ucapan wanita itu, dia kembali berjalan mendekat ke arah Cheonsa yang masih berbicara tentang betapa buruknya istri Donghae saat menjalani peranya sebagai The First Lady.

“Kau hanya akan terbangun setiap paginya, untuk mencarikan warna dasi yang pas untuku, kemudian kau akan tenggelam dalam berbagai acara sosial yang membosankan, lalu kau akan memastikan bahwa jamuan makan malam di Istana Negara akan berjalan sempurna. Sebenarnya kau tak lebih dari pelayan pribadiku, tapi kau terhormat, kau adalah First Lady untuk negaraku dan itu adalah hal yang sangat bagus.”

Donghae telah kembali memiliki sense of humour-nya, gurauanya memang tidak terdengar lucu—tapi dia pandai berkelakar, sehingga hal itu mampu mengantarkanya sebagai presiden termuda dalam sejarah South Korea.

“Aku tidak ingin merasa terkekang.”

Donghae tahu Cheonsa akan menjawabnya seperti itu. Cheonsa selalu memiliki seribu alasan mengapa dia lebih memilih meninggalkan Donghae, dan melepaskan apa yang sangat di inginkanya di dunia ini—berada di sisi Lee Donghae.

“Kau selalu merasa terkekang.”

Ini bukan pembahasan yang dia harapkan ketika bertemu dengan wanita ini setelah sekian lamanya. Dia juga tidak mengerti mengapa Han Cheonsa berada disini—

“Aku akan menikah dengan Putra Perdana Menteri Jepang.”

Hening.

Lee Donghae tidak menjawabnya, kini dia tahu mengapa alasan wanita itu berada disini. Sekilas memori tentang masa-masa indah mereka terus berputar di dalam kepalanya, menyerupai putaran film berwarna putih abu-abu di setiap kedipan matanya.

“Aku tidak ingin membuatmu terkejut, Lee.”

Kau selalu membuatku terkejut, Han.

“Aku harap kau bisa menghadiri upacara pernikahanku besok.”

Aku tidak ingin datang.

“Lee?” Cheonsa mengulang pertanyaanya, menyadari raut wajah Donghae yang telah berubah. Dengan cepat Donghae sudah merubah raut wajahnya, dan memulaskan senyumanya untuk Cheonsa—jenis senyuman otomatis yang dia umbar selama menjadi seorang Presiden bukan senyuman hangatnya yang selalu dia tunjukan pada Cheonsa.

Ever wanted to hug someone’s voice? I am, Han.

I want to hug your voice.

Jika saja Han Cheonsa bisa mendengar suara hatinya, mungkin kini dia tidak akan pernah kehilangan wanita itu dari pelukanya. Tapi dia lebih memilih ego-nya dan menatap Cheonsa sebagai bagian masa lalu yang tidak akan pernah berpijar lagi di dalam hidupnya.

“Maaf, aku tidak bisa hadir. Besok pagi aku harus terbang ke Korea Utara untuk melakukan beberapa perjanjian.” Dia bersyukur karena dia tidak harus berbohong kepada Cheonsa—dia memang di jadwalkan untuk bertemu dengan kepala pemerintahan North Korea besok pagi.

“Aku mengerti.” Cheonsa bangkit dari atas meja dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu utama.

“Kau tidak marah, bukan?”

Cheonsa menatap Donghae untuk beberapa detik sebelum wanita itu tertawa. Tawa yang sangat disukai Donghae setiap kali dia berkata bahwa dia sangat mencintai wanita itu. Tapi semua itu telah berada di masa lalu, apa yang mereka miliki hanyalah detik ini dan masa depan yang tidak pernah berpihak pada mereka.

“Tidak ada yang bisa memarahi Mr. President.”

Tapi kau adalah pengecualian, Han Cheonsa.

“Semua orang menginginkanmu, mereka tidak akan pernah merasa kecewa kepadamu.”

Tapi kau tidak menginginkanku, Han.

“Good luck for whatever’s up with you, Mr. President.” Cheonsa mengecup wajah Donghae dengan singkat sebelum langkahnya kembali menjauh dari sosok yang masih menatapnya.

“Han,”

Cheonsa kembali menghentikan langkahnya disana saat mendengar suara Donghae bergema di ruangan itu. Dia menatap Donghae yang berdiri di ambang pintu, tanpa memperdulikan penampilanya yang berantakan dan kemejanya yang kusut.

“Kau tahu apa yang aku inginkan di dunia ini?”

Pertanyaan itu terlepas di udara, dengan gampang Cheonsa bisa menebaknya. Dia telah mengenal Donghae lebih dari dirinya sendiri, dia tahu apa yang pria itu inginkan—dan Donghae telah mendapatkanya. Menjadi seseorang yang sangat berkuasa.

“Aku menginginkanmu sebagai orang terakhir yang aku tatap sebelum aku menutup mataku untuk selamanya, Han. Aku ingin kau menjadi kenangan terindah yang berada di dalam mataku saat aku meninggalkan dunia ini.”

“Dan setelah perpisahan kita, aku tidak pernah bisa berhenti dihantui oleh rasa takut—bahwa aku tidak akan pernah bisa menatap matamu sebelum aku meninggalkan dunia ini.”

Donghae tersenyum kecil, membiarkan kata-katanya menggantung di udara sebelum matanya kembali bertemu dengan mata terindah yang pernah mengisi hidupnya.

“Tapi kini, kau berada disini—Aku telah bertemu denganmu, dan rasa takut itu tidak bisa menghantuiku lagi, Han.”

Donghae mendekatkan tubuhnya ke arah Cheonsa, sebelum dia mengecup kening Cheonsa dengan lembut dan membisikan sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan untuk selamanya.

“Aku sangat mencintaimu, Han Cheonsa.”

Menutup sebuah malam dimana takdir mempermainkan mereka dengan begitu kejam.

***

.

-EPILOG-

.

.

.

Breaking News

Presiden Korea Selatan, Lee Donghae, di nyatakan tewas terbunuh dalam kecelakaan pesawat menuju Korea Utara dari London—waktu dini hari tadi. Penyebab kecelakaan telah di konfirmasi sebagai tindak pembunuhan dari gerakan Komunis di Tiongkok dan Korea Utara yang menolak misi perdamaian dari Korea Selatan.

.

.

.

 

“…..Aku ingin kau menjadi kenangan terindah yang berada di dalam mataku saat aku meninggalkan dunia ini, Han Cheonsa…..”

.

.

.

-THE END-

.

.

.

 

Because, this is my biggest breaking moment and the worst present birthday ever from Lee Donghae for me. Ugh, nearly, crying in corner.

xo

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

31 responses »

  1. shiana says:

    God. Why. I. Read. This.
    GILA YA KAKSON. MAKIN KE BAWAH MAKIN GAKUAT DEH AKU BACANYA BUKAN KARENA GA PAHAM TAPI EMANG AKU BACANYA HARUS NGULANG2 SOALNYA DALEM BANGET DAN OTAKKU CETEK BGT. YA AMPUN DONGHAE NO. CHEONSA NO.

    DONGEEEEEEK😦

    emang ada feeling g enak sih mendekati akhir dan ternyata beneran deh dongek…..begitu.
    why. why. why.

  2. namgichan says:

    Dan…
    Happy birthday Mr President..
    See you 2 years later ..

    😭😭😭😭😭😭😭😭

  3. applepuu says:

    Skip part politik di awal, baru mulai baca pas ad nama LEE DONGHAE..
    serius sumpah ini ceritanya.
    Apalagi pas “besok aku mau nikah sama anaknya PM jepang”.. Berasa bgt JLEBnya di hati. Emang sakit kalo ditinggal gebetan/crush/someone~you~still~in~love untuk nikah. #curhat
    ehhhhh malah dongeknya mati. Makanya kata2 terahirnya ngena bgt. Itu kira2 cheonsa pingsan di acara pernikahannya ato malah marah meraung2 ya?!?!
    Alhamdulillahnya dongek selamat karna dy lg wamil.. Anak SD pergi wamil ㅠㅠ ga tega

  4. Strawjewels says:

    Yah endingnya kenapa kau buat Donghae…… Yah Pertemuan setelah sekian lama menjadi pertemuan pertama dan terakhir akkkkk… Cheonsa Donghae takdir kalian kenapa harus berakhir seperti ini… .

  5. FitriHarumSari says:

    Part awal gak dibaca ditambahbitu masalah politik kkkk baru baca pas partnya donghae dan see dia jadi presiden oh my asdfghjkl sempurna bgt dongekk kkkk pas baca makin kebawah kok makin gak enak hawanya eh bener donghae nya meninggal hufftttt takdir cheonsa sama dongek kenapa kudu gittu hihihi kenapa gak dipersatukan lg aja mereka ka hihi suka bgt pas donghae manggil cheonsa ‘Han’ dan cheonsa manggil donghae ‘Lee’ hihihi see you 2 years Mr. Presiden Lee 😪

  6. wikyuhae says:

    Lee Donghae jadi president

    Han Cheonsa kagak mau jadi First Ladynya korsel TT TT

    Btw dia mau nikah sama putra perdana menteri Jepang, siapa? Kyuhyun? #ngawur

    “Aku menginginkanmu sebagai orang terakhir yang akutatap sebelum aku menutup mataku untuk selamanya,Han. Aku ingin kau menjadi kenangan terindah yangberada di dalam mataku saat aku meninggalkan dunia ini.

    Aduh sebenernya Donghae udah punya firasat ya. SEDIH DAHH TT TT

  7. Dian zahra sonelf says:

    kenapa harus mewek sih baca’y….admin jahat bngt setiap ff pasti donghae. sama cheonsa ga prnah bersatu

  8. tartar says:

    donghae kog mati…
    hiks…
    endingnya kog gitu thor…

  9. hyuggie says:

    Aku nyesel bacanya. Nyesel baca disekolah. Pas pelajaran sejarah. Yaampun kak aku nangis. Ini dalem bgt asli aku harus baca berulang2 dan tertusuk berulang ulang. Donghae…. Ah aku gatau lg harus blg apa.. The best😭

  10. hilma nugraheny says:

    Oh my god…. . Mr.president 😭😭😭
    Gk kebayang alur ceritanya kayak gini… aku kira berhubungan sama enlist nya donghae… yaa at least ini sma2 meninggalkan kita…
    Sedih bgt sma cerita cinta mereka… unik ,kejam,dan romantis… kasihan bgt hrs berpisah… apalagi perasaan nya cheonsa setelah dibisikkan kata2 cinta dan gataunya bsk donghae meninggal… uggh what a sad love story ㅠㅠ

  11. Fajarina Fitria says:

    Kenapa mati? Kenapa??

    Setelah jadi business man,polisi,guru sekarang melejit jd pak presiden, hebat nih donghae,,
    So sweet bgt dia disini, jd ga bisa move on dr perginya donghae wamil, hikss,,😭😭😭
    Trus kik disini kok mati sih donghaenyaa?

  12. AnaSophie says:

    “dinyatakan tewas”

    “dinyatakan”

    “tewas”

    ((( tewas )))

    sip. sonia galau nih pasti. kemaren ultah donghae, ultah doi juga. hari ini gue kasi kado, sonia juga kasi kado ke donghae. well……………sonia lagi suka banget bikin cerita tragis ya:)

  13. Ryn says:

    Meskipun ceritanya singkat tapi berhasil nyangkut di hati.. bikin baper berkelanjutan T.T
    Abis denger lagu baru Kyuhyun terus baca FF sonia yg ini, mampuslah diriku tenggelam dalam lautan mokpo (bukan lautan airmata ya)😀
    Endingnya bikin nyesek.. Donge pergi dengan tenang setelah dia ketemu utk yg terakhir kalinya sama Han. :”)
    Yaampun padahal mereka dua masih saling cinta yah. Sonia tega sekali dirimu menyiksa dua manusia ini. Hihihihhii
    Dan tetiba kangen sama donge eunhyuk 😭😭😭 pakabar ya mereka? 😢

  14. Choi Rinna says:

    Kenapa ini endnya mereka pisah?😦
    Yg dimksd donghae lady firstnya yg sedang menikmati kegiatan sosial itu siapa kak?
    Gw bingung -_-
    Jd mr. President ini udah nikah atau blm?

  15. Waktu baca ff ini gw jadi teringat Ff The President, tapi kata-kata yg terakhir tentang ucapan Donghae mengingatkan gw sama ff horrornya Ijaggys, yg castnya yesung, kalo gasalah kata2nya “aku akan menemui cinta pertamaku, dan aku akan jatuh cinta bersamanya” yg endingnya juga Yesung mati, wktu Donghae bilang gitu gw mikir, jangan2 mati nih nanti, ternyata bener :”) walaupun gw ngiranya diabakalan bunuh diri dengan cara Siwon di The President, tapi Ijaggys selalu memiliki penyelesaian ending yg berbeda di setiap storynya, dan si anak PM Jepang Rui, long time no see😀
    Kayanya Sonia buat ff ini dalam keadaan galau ditinggal bang Toyib wamil, 2tahun bakal berlalu dengan cepat kok Son :”)

  16. PrintaNur says:

    Huhuhuhu….#nangisbatuakik..

    Knpa abang donghae q harus mati…
    Rasanya ngena di hati banget,pas donghae bilang klo cheonsa adalah hal terakhir yg ingin dilihatnya sebelum dia mati,tapi knpa harus mati beneran sih????????????

    Padahal mereka udah g bsa bersatu,donghae udah punya istri.cheonsa juga mau nikah,duh kejamnya takdir…:(

    btw keren bgt abang LDH jadi presiden :*

  17. yekyuhae says:

    Selalu tampak begitu dramatis percintaan mereka. Donghae akhirnya meninggal, dan keinginannya hanya ingin melihat wajah Cheonsa. Oh my entah kenapa itu terasa sweet banget sekaligus ngena bgt.
    ini udah Son? ga ada lanjutannya? aaah mau lanjutan hahaha

  18. - says:

    Aku kira kak son ga ngasih sesuatu di hari spesial sekaligus hari keberangkatan wamilnya, ternyata ngasih. Di penghujung menit sebelum 15 oktober nya berakhir lagi..

    Dari hari ulang tahunnya, wamil, ampe album kedua kyuhyun rilis.. Ini sebenernya apaan, SM wth:( bulan2 terakhir 2015 nguras emosi yah:((

    Hadiahmu bikin sedih kak:( tapi 2 th nanti pasti gabakalan lama pasti ehe

    Btw, happy birthday Mr. President.. See you very soon!

  19. acyi2512 says:

    Pembesan gegara donghae brgjt wamilnya pas waktu dy ultah nihhh..
    Tapi sumpah nyeseknya waktu donghae ngutarain prsaannya k cheonsa *ambil tisu, nangis di pojokan*

  20. Echa says:

    My god apa ini…
    Segitu cintanya kah donghae m cheonsa?
    Huft takdir emang kejam

  21. flo says:

    Sakit hati adek bang T.T
    Yaaah endingnya cudih cudih meleleh

  22. Hanraegun says:

    huwaaaaa gag nyangka endingnya bikin (?) bener2 gag terduga ternyata kata2 terakhirnya bener kesampean. Jadi sedihhh baca epilognya dan pas bgt si cheonsanya mau nikah😥
    Cinta yg gag kesampeann emang bikin nyesek..

  23. soofiatj says:

    Lah anjir! Si Ikan kurus itu kok tau kalo dia mau ‘pergi’? Nyesek Giles 😭😭

  24. Lulu says:

    Gilak.. ga bs bayangin kalo SAIS beneran kaya gitu -_-.. aku rela bayar mahal demi ngliat wajah2 yg ‘wow’2 tiap harinya..
    Btw, prolognya bener2 sangat menarik..

  25. ji says:

    dan kenapa ada part politiknya?
    berasa baca slide sma diktat kuliah 😭😭😭
    ditinggal polisi ikan..

  26. Erlin says:

    Berasa jadi mahasiswa perpolitikan disini sumpah wkwkwk. Dan kalimat terakhir dari donghae untuk cheonsa…gue terpukaau, itu indah banget.

  27. kim_yeon says:

    It’s really hurt inside…I’m crying thooo. Donghae patah hati lalu meninggal T.T

  28. Min's says:

    Wow. Shock. Sad. Wahh ff nya keren.

  29. FisHaeGyu says:

    Kenapa harus mati T.T kata katanya dalem banget sumpah kakT.T
    Itu perasaan cheonsa gimana yah, kalo aku mungkin ngikut mati #lebay
    Sumpah hayati nggak kuat bacanya… mata aku udah burem gara gara cai panon yeuh kak:v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s