REAPERS2

“…If heaven and hell were neverwhere, would you still call ‘his’ name?…”—Han Cheonsa

 

***

 .

.

Cheongdam

Seoul

.

.

Kim Ryeweook dan Zhou Mi berusaha untuk menarik seorang wanita dari tegukan gelas wine-nya, atasan mereka itu telah kehilangan kesadaranya dan rasanya jika mereka membiarkan Bos-nya terus berada disini, mereka yakin keesokan paginya mereka akan menerima kabar pemakaman Bos-nya yang meninggal karena overdosis minuman keras.

Dan mereka yakin bahwa Bos-nya tidak akan senang ketika mengetahui keesokan paginya dia sudah tidak berada di dalam Night Club paling exclusive di daerah yang termasuk di daerah khusus untuk orang-orang kalangan atas yaitu, Cheondangdom.

“Ugh, aku bisa mengurus diriku sendiri!” wanita itu mendorong kedua asistenya lalu berjalan dengan mata setengah sadarnya, dia berjalan sempoyongan membuka pintu emergency-exit di bar itu dan tertawa bangga ke arah dua asisten-nya bahwa dia baru saja berhasil membuka sebuah pintu dengan benar.

“Bos, Zhoumi memarkirkan mobilnya di ujung sana. Biar kita mengantarmu pulang, aku rasa kau sudah tidak sanggup menyetir lagi bos!” Seru Ryeweook ketika melihat wanita itu hampir saja terjerembab ke dalam tong-sampah besar berwarna hijau tua yang berada di halam belakang Night Club tersebut.

Wanita itu mengarahkan matanya yang tidak fokus ke arah mereka berdua dengan tatapan tidak senang, dia berusaha membenarkan posisi berdiri-nya dengan berpegangan ke ujung-ujung tong sampah.

“Dengar, yang berdiri di hadapan kalian ini adalah Han Cheonsa seseorang yang tidak akan pernah kalah dalam apapun. Jadi, mengapa sekarang aku harus membiarkan dua asisten ku beranggapan bahwa aku sudah benar-benar payah dalam mengemudikan Aston Martin ku di parkiran sana?” Ryeweook dan Zhoumi terdiam mendengar kata-kata Bos mereka.

Wanita itu bernama Han Cheonsa, selama di hidupnya dia tidak pernah membutuhkan siapapun. Dia memiliki seorang Ayah yang sangat mencintainya. Dia memiliki seorang suami yang ditemuinya lima tahun yang lalu di sebuah kota kecil di utara Seoul. Dia memiliki karir pekerjaan yang sangat baik, sehingga di umurnya yang baru menginjak 26 tahun dia sudah bisa menduduki kursi Vice President di sebuah perusahaan manufaktur termahal di Seoul. Dia memiliki sosok sempurna yang mengingatkan semua orang dengan kekejaman-kekejaman yang indah melewati mata samudra-nya.

Kehidupanya begitu sempurna sehingga semua orang berharap bahwa dia seharusnya pergi dari dunia ini, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk meraih kesempurnaan itu.

Jadi ketika dua asistenya meremehkanya dalam hal mengemudi, dia merasa sangat marah. “Ayolah Bos, terakhir kali kami meninggalkanmu disini dalam kondisi mabuk, kita menemukanmu tertidur di kursi stasiun kereta api keesokan paginya.” Kali ini Zhoumi yang berbicara hingga dia bisa melihat bahwa wanita-besi itu akan menendang tong sampah yang berada di hadapanya sebentar lagi.

“Dengar! Aku akan membutikan bahwa aku akan pulang dengan selamat menggunakan kereta dan malam ini aku akan menginap di hotel Riviera! Bagaimana bisa kalian berpikir bahwa aku sangat payah sehingga tidak bisa bertahan di dalam kereta?!” Suara amukan Cheonsa menggema memenuhi angin-angin malam yang bertiup kencang dari arah timur.

Dia menendang kedua kaki sekertaris yang lebih suka dia anggap sebagai asisten pribadinya dengan kencang ketika melewati mereka berdua, membuat Zhoumi dan Ryeweook mengaduh kesakitan dan mengumpat bahwa jika saja Cheonsa tidak membayar mereka dengan gaji yang sangat tinggi, mereka sudah pasti akan memutilasi dan membuang tubuh nenek sihir ke dalam sungai Han sejak pertama kali mereka berkerja untuknya.

***

 

Cheongdam Metropolitan Subway

Seoul Subway Line 7

02:36 A.M

Han Cheonsa menarik tiket kereta ke dalam genggamanya dengan cepat, setelah dia mengeluarkan beberapa lembar uang 100 Won dari clucth Aigner-nya dan menyadari bahwa jarak pandangnya semakin berkurang setelah dia bisa melihat bintang dan bulan menari-nari di atas kepalanya. Dia sudah benar-benar mabuk.

“Aku berada di line 7, dan aku harus turun di Line 13 jika aku ingin menginap di Riviera Hotel. Jadi aku akan memilih gerbong 13 agar atau 7? Mengapa jariku hanya tinggal 3?” racaunya tak jelas saat mengingat penjaga ticket di loket tadi berkata bahwa dia harus keluar di Line 13 agar dia bisa menginap di Riviera Hotel, tanpa mengenyahkan pertanyaan penjaga itu apa dia baik-baik saja dengan kondisi yang membuatnya terlihat seperti om-om hidung belang yang berkeliaran dengan wajah mabuk mereka untuk menggoda gadis-gadis.

Cheonsa mengambil tempat duduk urutan ke tiga dari pintu dengan penuh perjuangan setelah kakinya berkali-kali tersandung platform di kereta itu, di depanya seorang pria berkulit putih pucat dengan tatapan dinginya duduk berhadapan di kursi yang berada di depan Cheonsa.

Cheonsa menundukan kepalanya ke arah bawah, dia benar-benar merasa sangat pusing seakan-akan ribuan ton baja menghantam kepalanya berkali-kali. Samar-samar dia bisa melihat jari-jari indah dari pria itu, “Whoah, kau pasti mengurus kuku-kuku itu dengan sangat baik.” Gumanya dengan senyuman khas orang-orang mabuk.

Dia menutup matanya yang terasa sangat berat, besok dia akan terbangun dengan wajah sempurnanya lalu menelfon Zhoumi untuk membawakanya hot-chocolate tanpa gula dan bagel hangat dari Starbucks ke kamar hotelnya.

Kemudian dia akan menyuruh Ryewook untuk mengambil baju pesananya di Givenchy sebelum jam delapan pagi, setelah itu dia akan masuk ke dalam ruang rapat untuk memenangkan tender besar dengan pakaian yang dibuat khusus oleh Givenchy dan membiarkan Jang Yunho, Presiden Direktur-nya bertepuk tangan dengan bangga dan memberikanya bonus untuk menikmati akhir minggunya untuk menikmati matahari California di Cabo San Lucas.

Sempurna.

Cheonsa menyukai itu.

Perlahan dia mulai tenggelam ke dalam alam mimpinya hingga sebuah suara hentakan keras memenuhi pendengaranya, dan setelah itu dia bisa merasakan tulang-tulang ditubuhnya menggertak hancur setelah terpental ke lantai dengan kasar, dia membuka matanya perlahan, darah mengalir dari pelipisnya dengan deras. Serpihan beling dari kaca-kaca yang hancur itu terus menancap di kulit lembutnya seakan duri yang tidak mau terlepas.

Dia mengerjapkan matanya berkali-kali, lampu kereta itu kini berkedip dengan cepat, suara dentuman rel kereta berbising dengan begitu kerasnya membuat Cheonsa merasakan rasa sakit yang lebih parah. Gerbong 13 itu kini terputus dari bagian utamanya dan terlempar ke arah rel yang berlawanan, Cheonsa kini bisa melihat dengan jelas apa yang berada di hadapanya.

Sebuah sinar lampu yang sangat terang hingga membutakan kedua matanya, sebuah kereta dari arah berlawanan yang akan menghantamnya sebentar lagi. Dia tidak mungkin berakhir disini.

Dia ingin berteriak tapi yang terdengar hanyalah suara rintihan dan darah yang keluar dari mulutnya, satu tangan kirinya yang sudah patah dipaksanya untuk merangkak keluar dari gerbong itu. Dia tidak akan membiarkan dirinya mati disini.

Tapi kereta itu bergerak semakin cepat, dan—

‘BRAAAAAAAAAAAK!’

Kereta itu menabrak potongan gerbong bernomor 13 tersebut dengan sangat kencang sehingga tubuh Cheonsa terlempar keluar dan menghantam besi yang berada di rel kereta api itu. Han Cheonsa masih bisa merasakan darah segar yang terus mengalir membasahi seluruh wajahnya, dia  masih bisa melihat tulang yang menonjol dengan sempurna dari tangan kirinya yang patah sebelum semuanya menjadi gelap dan dia tidak bisa merasakan rasa sakit itu lagi.

Tapi pandanganya kini mulai berkerja dengan buram, di depanya dia bisa melihat sesosok wanita terbaring tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Pandanganya semakin tajam hingga, — “MENGAPA AKU BISA MELIHAT TUBUHKU SENDIRI?!” Cheonsa menjerit dengan panik, apa yang berada dihadapanya ini nyata, bahwa dia melihat tubuhnya terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan. Ini tidak mungkin.

Cheonsa mencoba menarik tubuhnya, tapi dia tidak bisa, dia seperti menyentuh sebuah angin. Ini gila pikirnya, dia tidak mungkin—dia tidak mungkin berakhir disini.—

“Hai Han Cheonsa, pertujukan yang hebat bukan?” ucap seseorang sambil berjalan santai ke arah Cheonsa dengan tatapan tenangnya, “Kau bisa melihatku? Aku kira aku sudah mati.” tanyanya heran.

Half dead,” jawabnya santai sambil memerhatikan jari-jarinya yang indah, dan tidak berniat lebih dalam untuk menjelaskanya secara detail. “Maksudmu?” tanya Cheonsa tidak mengerti, dia kini mengingatnya sekarang pria ini adalah pria pemilik jari-jari indah yang berada di hadapanya tadi. “Kau adalah pria yang berada di depanku bukan? Mengapa kau tidak terluka?! Atau mungkin kau juga sudah mati hingga kau bisa melihatku sekarang?!” tanya Cheonsa dengan suara yang bisa menggambarkan, seberapa takutnya dia dengan semua hal ini.

Pria di sampingnya ini justru terlihat lebih asik memperhatikan tim medis dengan tandu darurat mereka untuk membawa tubuh tak bernyawa Cheonsa. “Kau sedang berada di perbatasan sebenarnya kau bisa memilih untuk hidup kembali, tapi khusus untuk orang sepertimu, —hanya ada satu pilihan yaitu, mati.” lanjutnya, di ikuti dengan sebuah seringai seram yang terpatri di wajah pucatnya.

Cheonsa menatapnya dengan tidak percaya, seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat.  “Si—siapa dirimu?—“ tanyanya terbata-bata, mencoba merelaksasikan bahwa ini semua hanyalah ilusi gilanya saja karena tertidur dalam kondisi terlalu mabuk tadi.

“Who am I?” tanyanya dengan wajah berpikir dan setengahnya seperti tengah mengejek Cheonsa.

“Well, I am Your Death Reaper.” jawabnya diikuti seringai di ujung bibirnya dan sepasang  sayap besar berwarna hitam muncul di belakang punggungnya.

.

.

.

-SEE FULL VERSION ON BOOK!-

.

.

.

Hai ini adalah teaser untuk buku REAPER yang bentar lagi keluar, di buku REAPER nanti sudah termasuk sama season 1 yang di lanjut langsung sama season 2 yang lebih fast furious alias meneggangkan. Pre-order is coming up! Untuk harga, tenang aja gamungkin semahal Voldyinterworld karena buku ini paling top 200 halaman /havent write the ending lol/

untuk tanya-tanya di komen bawah aja ya, nanti dibalez.

Cao!

LOVE IT. MEAN IT.

ijaggys

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

7 responses »

  1. Ardani R says:

    udah pernah kan ya ini di pos waktu playing god masih on going? tapi aku masih exited sama cheonsa yg half dead kyk gitu, pengen liat lagi sisi angel and demon-nya cheonsa pas diambang kematian hahaha
    okedeh, semangat yaw IJaggys utk bikin endingnyaa!!

    P.s berharap ada donghae, meskipun cuma jadi selirnya cheonsa lol

    • IJaggys says:

      Iya teaser ini udah launching dari jaman Playing God lol dan akhirnya sekarang baru bisa di kelarin~

      p.s: there is of course something in between :p

  2. inggarkichulsung says:

    Iya ingat sama cerita ini the reaper, Cheonsa berada di tengah2 antara mati atau hidup, Kyu oppa the death reaper awalnya aku kira ada kelanjutannya ternyata akan ada full story di buku nya, ditunggu pengumuman rilis buku nya Sonia

  3. AFF says:

    Woow genre baru nih..
    penasaran Ijaggys bakalan bawa kemana alur critanya..
    Pngen liat sisi cheonsa pas lagi d ambang kematian kyak gini😀

  4. desy4ss says:

    gak sabar pingin beli bukunyaaaa..

  5. kapan open po nya son? >_<

  6. wulanec says:

    Dulu Reaper pertama ada Siwon-Donghae ya kak aku lupa-lupa inget ngeliat covernya cuma sekilas aja waktu itu. Hihihi kayanya bakal seru juga ada tambahan Ryeowook-Zhoumi di sini. Dua buku siap open PO deket-deket ini mungkin ya kak, tinggal TMC nih rilis teaser hehe. Lumayan untuk menghabisi waktu libur panjang, semoga POnya bulan-bulan ini ya kakson aku tunggu selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s