Nama Lengkap : Clarin Sabita Hanin

Nama Pena : Shika-chan

Twitter : @CSH_HANIN

Main Cast : Han Cheonsa, Lee Donghae

Other Cast : Cho Kyuhyun, Kim Sooyeon

Cameo : Han Yeonsa, Lee Shika

Title : Destiny

 

***

-Author’s side-

 

Chestnut Ridge Senior High School (CRSHS), New Paris, France.

Seorang  gadis melangkah dengan santai. Menyusuri koridor sekolah, ditemani gadis lain di sampingnya. Tak sedikit pasang mata yang menaruh perhatian pada keduanya. Namun tak sekalipun gadis dengan raut wajah datar itu menunjukkan ketertarikannya. Berbeda dengan gadis di sampingnya, ia tersenyum sumringah merespon tatapan para murid yang memerhatikannya.

Bertepatan dengan ditemukannya letak kelas masing-masing, bel berbunyi. Raut wajah sumringah yang sempat ditunjukannya, berubah menjadi sendu. Mereka tak berada dalam kelas yang sama. Itulah yang membuat ekspresinya berubah. Gadis yang notabene sepupu terdekat si gadis ‘tanpa ekspresi’ itu, dengan berat hati meninggalkan sepupunya lalu masuk ke dalam kelasnya. Begitupula dengan si gadis ‘tanpa ekspresi’, ia melengos masuk ke dalam kelas barunya.

Seluruh murid menatapnya heran. Begitu banyak pertanyaan yang ingin mereka lontarkan mengenai identitas gadis itu. Tanpa peduli, gadis itu hanya mendongakkan kepalanya, mencari sebuah kursi kosong yang bersedia menampungnya.

Belum sempat ia dapatkan, seorang guru muda yang cantik dengan wajah ‘france’ yang khas, masuk ke dalam kelasnya. Tentu saja guru yang mengenakan nametag ‘Barbara’ itu telah mengetahui keberadaan gadis yang notabene murid baru di CRSHS itu lebih dulu. Ms.Barbara melempar senyum pada gadis itu, yang hanya ditanggapi dengan tatapan datarnya.

Ms.Barbara merangkul pundak sang gadis dan memapahnya ke depan kelas. Sangat tahu, gadis itu tahu betul apa yang diinginkan guru barunya ini. Perkenalan. Tradisi murid baru, bukankah memang selalu seperti itu?

“My Students, today we have a new friend. She come from England,” terang Ms.Barbara.

Lalu, ia melangkah mundur. Gadis itu menoleh sekilas ke arahnya. Kemudian, matanya kembali menatap seluruh murid yang ada di kelas barunya ini. Dengan malas, ia menghela napas sebelum memperkenalkan diri.

“Han Cheonsa is my name. I’m from England,” tuturnya datar dan dingin .

Seluruh murid terperangah mendengar nada bicaranya. Tak terkecuali sang guru, ia justru lebih terperangah dengan nada bicara yang disampaikan gadis itu. Selain datar, terkesan dingin pula. Gadis bernama ‘Han Cheonsa’ itu justru tak menunjukkan ekspresi peduli sama sekali.

Terdiam sesaat. Seluruh pasang mata tertuju hanya pada satu titik. Han Cheonsa. Sedangkan seseorang yang tengah menjadi pusat perhatian, hanya memandang satu persatu wajah teman sekelasnya tanpa ekspresi yang berarti.

“Oke, kau boleh duduk di sebelah sana, Ms.Han.” Akhirnya, suara Ms.Barbara menginterupsi keheningan yang sempat mencekam suasana kelas. Kaki Cheonsa melangkah menuju kursi yang ditunjukkan oleh Ms.Barbara tadi.

Cheonsa menghempaskan tubuhnya pada kursi tersebut. Seseorang di sebelahnya, hanya bisa mengerutkan dahi keheranan. Pria itu, sama dinginnya dengan Han Cheonsa. Tidak, bukan hanya satu, tapi dua. Han Cheonsa diapit oleh dua pria dingin. Namun, Han Cheonsa tetaplah Han Cheonsa. Tak peduli keadaan sekitarnya, ia tetap memfokuskan pandangannya ke arah papan tulis. Tanpa ia sadari, begitu banyak tatapan iri maupun tidak suka yang dilemparkan padanya, terutama oleh para siswi.

Meski terkenal dengan sikap dinginnya, dua pria itu juga terkenal akan ketampanan dan status mereka sebagai anak tunggal dari dua keluarga terpandang di Perancis. Tak ayal bila banyak pasang mata yang menatap iri pada Han Cheonsa, karena ia bisa diapit oleh dua pria yang menjadi incaran utama para siswi di sekolah ini.

Ms.Barbara mulai membuka buku matematikanya. Guru yang sangat textbook itu beranjak dari duduknya. Tangan lentiknya mulai menari-nari di atas papan tulis. Berbagai angka indah yang ia ciptakan, malah membuat para murid jengah melihatnya.

***

Backyard, CRSHS.

Cheonsa menatap lurus pada pemadangan taman dihadapannya. Tak ada seorang pun disana. Beruntung, hal seperti inilah yang dicari Cheonsa. Sepi. Tanpa ada siapapun yang akan menginterupsi kehadirannya disini.

Ia asik dengan pemikiran rumitnya yang menggelantung diotaknya 3 bulan terakhir ini. Setiap memikirkan ‘kejadian itu’, raut wajah Cheonsa yang datar akan terkontaminasi dengan raut sedihnya. Walaubegitu, tak pernah sekalipun air mata Cheonsa keluar dari tempat persembunyiannya.

“Han Cheonsa!” panggil seseorang.

Tanpa menoleh pun, Cheonsa tahu betul si pemilik suara. Hanya saja, ia malas untuk sekedar menoleh. Derap langkah orang itu terdengar semakin dekat. Sesaat kemudian, kursi taman itu berdecit, menandakan beban seseorang yang tertampung disana bertambah.

“Aku mencarimu kemana-mana. Rupanya kau disini. Cheonsa-ya, kenapa tidak ke kantin? Memangnya kau tak lapar? Bukankah tadi pagi kita tak sempat sarapan?” hanya suara berisik milik sepupu terdekatnya itulah yang diterima baik oleh telinga Cheonsa. Meskipun Cheonsa tak menyukai seseorang yang terlalu banyak bicara. Namun, kalau hal itu ada pada sepupu terdekatnya, ia tak bisa melakukan apapun. Yang bisa ia lakukan, hanya menerima dan menanggapi setiap penuturan sepupunya itu.

“Aku tak lapar,” singkat. Namun, jawaban itu sudah cukup baginya. Dengan begitu, ia tahu walaupun Cheonsa bersikap dingin, setidaknya ia masih mau menjawab setiap pertanyaannya. Terlebih, ia bersyukur karena penyakit ‘whatever you want’ milik sepupunya itu tak separah yang ia bayangkan.

“Baiklah. Cheonsa, bagaimana teman sekelasmu? Apa mereka menerimamu dengan baik?” tanyanya.

Cheonsa menoleh ke arahnya. Tatapannya masih sama, datar.”Entahlah,”.

Mencoba sabar. Selalu saja begitu. Ia sangat paham segala sifat buruk Cheonsa 3 bulan belakangan ini. Ya, kejadian itu merubah segalanya. Merubah sikap Cheonsa, kebahagiaan sempurna yang dulu dimiliki Cheonsa, dan masih banyak lagi.

“Han Cheonsa,”

“Kim Sooyeon,”

Mereka saling menyebutkan nama. Gadis bernama ‘Sooyeon’ itu menghela napas panjang. Cheonsa memang tak pernah menyukai kritik. Sekalipun kritikan itu keluar dari mulut sepupu mencakup sahabatnya itu. Hal yang paling Cheonsa benci di dunia ini adalah perdebatan dan kritikan.

“Baiklah. Aku takkan menanyaimu yang macam-macam lagi. Tapi, bisakah kau menunjukkan ekspresi berbeda selain wajah datarmu itu? Kau tahu, kau tak perlu mengubah sikapmu ini Cheonsa-ya. Kejadian 3 bulan lalu, bukan salahmu. Itu takdir,” tutur Sooyeon, berusaha keras untuk merubah persepsi negative milik Cheonsa.

Bagai angin lalu, pernyataan itu tak ditanggapi Cheonsa sama sekali. Ia justru mengeluarkan sebuah ipod lengkap dengan earphone-nya. Tangannya yang lihai, memasukkan earphone tersebut ke kedua lubang telinganya.

Pasrah. Sooyeon tak tahu lagi harus berbuat apa untuk merubah persepsi Cheonsa. Berkali-kali ia merangkai kata untuk menjelaskan dengan benar, bahwa kecelakaan itu murni bukan kesalahannya. Itu takdir. Tak ada takdir yang dapat dipungkiri. Namun Cheonsa tak sekalipun mendengarkan. Ia justru menghukum dirinya sendiri atas kecelakaan yang sama sekali bukan salahnya.

“Kuharap, suatu saat nanti, kau akan merubah gagasanmu, Cheonsa-ya!” gumam Sooyeon. Tentu saja tanpa sepengetahuan Cheonsa, mengingat telinganya tersumbat earphone yang menyalurkan lagu-lagu pop dan R&B, favoritnya.

***

Canteen of CRSHS.

Brakk!!

Dua manusia itu terjatuh. Kejadian itu memancing banyak perhatian dari para murid. Desas-desus dan gumaman kekhawatiran menggema seisi kantin. Dibantu masing-masing temannya, mereka berdiri.

Cheonsa mengibas rok, juga jasnya. Tak sudi bila ada debu yang menempel pada seragamnya. Tak jauh berbeda dengan Cheonsa, seorang pria yang menabraknya juga melakukan hal yang sama. Mereka sibuk membersihkan diri dari debu. Tanpa peduli berapa banyak orang yang memusatkan perhatiannya pada mereka.

“Hey, kau! Berani sekali menabrakku. Kau kira, kau siapa heh?” sungut pria tersebut.

Aktivitas Cheonsa terhenti. Ia memandang pria yang ada dihadapannya dengan malas.”Kau, berbicara denganku?” tanyanya santai.

“Tentu saja. Siapa lagi yang berani menabrakku selain kau?” bukan dengan nada tinggi. Meski nada bicaranya terdengar normal, namun sarat akan emosi juga dinginnya sikap si pemilik suara.

“Apa kau merasa bermasalah dengan itu?”

Seluruh pasang mata, menatapnya tak percaya. Untuk pertama kalinya, ada seorang murid yang berani menentang pria itu. Sebelumnya, tak pernah ada yang mampu melawannya. Bahkan, kesalahan yang seharusnya terletak pada dirinya akan jatuh kepada orang yang dirasa mencari masalah dengannya. Pada akhirnya, orang itulah yang akan meminta maaf pada si pria. Bukan sebaliknya.

“Tak pernah ada yang berani menentang kami sebelumnya,” seorang pria lain di sampingnya, angkat bicara. Tak kalah dingin. Ya, dua sejoli dengan karakter sama persis.

Cheonsa tak peduli dengan apapun yang dikatakan dua sejoli itu. Bola matanya berputar. Dengan langkah ringan, Cheonsa berjalan mendahului dua pria angkuh itu diikuti Sooyeon di belakangnya. Sang sepupu merasa ada suatu hal besar yang akan terjadi setelah ini. Dia sangat takut, bila sesuatu terjadi pada sepupu yang amat disayanginya itu.

Seisi kantin menatapnya takjub. Hey! Dia itu anak baru. Kenapa sudah bersikap seenaknya? Apa di sekolah sebelumnya, ia juga melakukan hal yang sama sehingga berniat untuk pindah kemari?

Tatapan benci beterbaran dimana-mana. Tak satupun yang menyukai sikap Cheonsa, terutama para gadis yang sangat memuja dua sejoli tadi. Rasanya, ingin mencabik-cabik siapapun yang berani merendahkan harga diri pria pujaan mereka.

“Berhenti,” suara itu menginterupsi langkah Cheonsa, juga Sooyeon.

Kini, seluruh pasang mata beralih menatap pria yang bertabrakan dengan Cheonsa. Dahi mereka mengernyit. Takut-takut, suatu hal yang diluar batas akan dilakukan oleh pria tersebut.

Langkah tegasnya menggiringnya menuju tempat Cheonsa berdiri. Dibalikkan tubuh Cheonsa dengan kasar.”Kau berani menantangku?” kata pria itu.

“Memangnya, kau siapa?” penuturan Cheonsa membuat beberapa murid menutup mulut dan memekik histeris. Begitupula Sooyeon yang tengah menggelengkan kepalanya pada Cheonsa, berharap sepupunya itu tak menimbulkan masalah dengan orang lain yang belum dikenalnya. Sedangkan pria dihadapannya menyeringai sinis.

“Kau bodoh? Tidak tahu siapa aku? Aku, Lee Donghae, anak salah satu pemilik sekolah ini. Dan pewaris tunggal Lee Company, perusahaan paling berpengaruh di Paris. Well, setelah kau mengetahui identitasku, apa kau masih akan berdiam diri seperti itu tanpa sepatah kata maaf yang keluar dari mulutmu?” tuturnya angkuh.

“Aku..tak peduli,” balas Cheonsa datar.

Kemudian, ia membalikkan tubuhnya kembali. Berjalan meninggalkan kantin dan orang-orang angkuh yang berada di dalamnya. Tak peduli respon apa yang akan diterimanya kelak. Yang ia butuhkan hanyalah ketenangan dan menghindari perdebatan panjang itu.

Sooyeon menatap Cheonsa khawatir. Untuk kedua kalinya, ia menghela napas gelisah. Matanya tak lepas dari gerak-gerik Cheonsa yang ada di sampingnya. Ia merasa bersalah karena telah memaksa Cheonsa untuk menemaninya ke kantin. Andai saja Sooyeon tak pernah memaksa sepupunya itu, pasti kejadian tadi takkan pernah berlangsung. Sooyeon menyesal, sangat menyesal. Tanpa disadarinya, kepalanya tertunduk.

“Tak usah merasa bersalah begitu. Tenang saja, takkan terjadi sesuatu yang buruk padaku,” seolah mendengar suara hati Sooyeon, Cheonsa berkata seperti itu. Meski tak ada nada keceriaan atau menenangkan dalam perkataannya, tapi Sooyeon tahu bahwa Cheonsa berusaha untuk menghilangkan rasa bersalahnya.

“Kalau saja aku tak memaksamu menemaniku pergi ke kantin, kau pasti-“

“Tidak apa. Kurasa, kejadian tadi sudah direncanakan oleh tuhan,”

Seketika, kepala Sooyeon mendongak. Tak percaya dengan ucapan Cheonsa. Bukankah kata-kata itu adalah perkataannya yang kerap kali ia lontarkan untuk Cheonsa? Ya, tentu saja karena ingin menghapus persepsi Cheonsa yang salah mengenai kejadian 3 bulan yang lalu.

“Begitupula dengan kejadian itu,”

Langkah Cheonsa terhenti. Sontak, langkah Sooyeon ikut terhenti. Selalu saja seperti ini. Bila diungkit sedikit mengenai ‘rencana tuhan’, Sooyeon selalu bisa merangkai kata dan menyangkut pautkan dengan ‘kejadian itu’. Tanpa menoleh ke arah Sooyeon, Cheonsa menghela napas. Lalu, kakinya kembali melangkah tanpa mengucapkan balasan apapun atas pernyataan Sooyeon.

***

Classroom. XII.A.

Matanya memandang lurus pada objek dihadapannya. Melalui jendela kelas, ia dapat melihat sosok gadis yang telah berani menentangnya. Bukan dendam. Pria itu sama sekali tak berniat menyimpan dendam terhadap gadis yang dirasa sedikit aneh itu. Ia hanya tertarik, karena sebelumnya tak pernah ada gadis seberani itu.

Sang sahabat yang menyadari seringai sinis milik pria itu, hanya bisa menatapnya heran. Cukup lama memerhatikan raut wajah si pria, sang sahabat akhirnya memutuskan untuk menepuk pundak pria tersebut.

“Rencana apa yang kau rangkai untuk gadis itu, oh?” tanyanya.

Pria itu menoleh. “Tidak ada. Aku hanya sedikit tertarik dengan kepribadian anehnya, Kyu,” jawab pria itu santai.

Pria bernama ‘Kyu’ itu menatap datar sahabatnya. Ia menghela napas panjang.”Terserah kau saja. Tapi, Donghae-ya, jangan sampai kejadian setahun lalu terulang kembali,” ia mengingatkan.

Kepala Donghae dengan cepat menoleh ke arah Kyuhyun. Seringaiannya lenyap. Kilatan amarah terpancar dari matanya. Ia tak pernah menyukai topik ini. Setahun masih belum cukup untuk melupakan-nya. Namun Donghae berusaha untuk melenyapkan pikiran itu dari otaknya. Dan sekarang, Kyuhyun malah mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Tentu saja hal itu membuatnya marah.

“Hentikan pembicaraan konyol ini, Kyu,” pintanya yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.

“Bingo! Aku tahu, hae. Kau tak perlu emosi begitu. Dan hey! Aku hanya mengingatkanmu. Aku hanya tidak ingin sahabatku patah hati untuk yang kedua kalinya,” terang Kyuhyun santai.

Perlahan, sudut bibir Donghae tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Tak disangka, ternyata sahabatnya itu sangat memerdulikannya. Donghae mengalihkan perhatiannya dari jendela. Ia menepuk pundak Kyuhyun, sedikit meremasnya, seolah mengucapkan ‘terima kasih karena sudah peduli padaku’ melalui ekspresi wajahnya.

Lalu, Kyuhyun pun ikut tersenyum.

***

CRSHS.

Semenjak kejadian tempo hari di kantin, Cheonsa seringkali dijadikan bahan olok-olok oleh murid satu sekolah. Hampir seluruh siswi yang tak terima akan sifat ‘seenaknya’ milik Cheonsa, merencanakan berbagai hal untuk mencelakakan Cheonsa. Mulai dari menaruhkan kakinya di depan Cheonsa ketika gadis itu tengah berjalan, lalu mengakibatkan Cheonsa yang tersungkur ke lantai. Dan masih banyak lagi perbuatan keji lainnya. Seperti hari-hari biasanya, mereka mengejek Cheonsa sepanjang perjalanan gadis itu menuju kelasnya.

“Dasar gadis aneh!”

“Ck. Beraninya ia menantang pria pujaanku,”

“Dasar! Anak baru saja sudah sombong,”

“Kalau aku jadi kau, kupastikan bahwa aku takkan pernah menginjakkan kakiku lagi di sekolah ini,”

“Dasar tak tahu malu!”

Berbagai cacian menusuk yang diterima Cheonsa, tidaklah membuat gadis itu urung melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah. Meski berbagai hujatan tak henti-hentinya menerpa Cheonsa, gadis itu tetap dengan gaya khasnya –santai dan datar- berjalan menuju kelas. Bukankah sudah ditegaskan, Han Cheonsa bukanlah sosok gadis yang peduli terhadap lingkungan sekitar, semenjak ‘kejadian yang sukses merenggut kebahagiannya’ tersebut.

Setelah melewati rintangan di sepanjang koridor, Cheonsa akhirnya masuk ke dalam kelas. Seluruh murid tampak berkumpul, membentuk sebuah lingkaran yang sempit. Suara diskusi mereka sangat rendah, sehingga Cheonsa tak dapat mendengarnya. Lagipula, Cheonsa tak terlalu ambil pusing dengan ‘kegiatan’ siswa di kelasnya pagi itu. Ia bahkan tak peduli, seperti biasanya.

Cheonsa duduk di kursinya. Sontak, seluruh murid yang ikut serta dalam diskusi tersebut, menolehkan pandangannya ke sumber suara. Kursi yang berdecit, ternyata sosok Cheonsalah yang menempatinya. Raut wajah mereka seketika berubah. Tertera jelas sarat akan kebencian disana. Lagi-lagi, Cheonsa tak peduli. Dianggapnya tatapan yang menusuk ke arahnya hanyalah angin lalu. Dengan cepat, tangannya meraih ipod silver miliknya. Lalu, memasangkan earphone-nya ke dalam telinganya.

“Hey, kau!” sahut seseorang. Terdengar dari nada bicaranya, ia tampak seperti menggeram.

Bodoh bila orang itu hanya memanggil Cheonsa dari jarak kejauhan. Cheonsa tengah menyumbat telinganya dengan earphone. Tidakkah dia sadar akan hal itu? Atau karena dia tak memerhatikan gerak-gerik Cheonsa sedari tadi, maka dari itu ia tak tahu bahwa Cheonsa tak dapat mendengarnya?

“Hey! Kau tuli, hah?” pekiknya.

Tentu saja Cheonsa masih tak dapat mendengarnya. Perasaan kesal menyelimuti seseorang yang berusaha memanggil Cheonsa tersebut. Akhirnya, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Cheonsa.

Sadar akan sesuatu yang menyumbat telinga Cheonsa, secara paksa gadis itu melepas earphone dari telinga Cheonsa. Cheonsa meringis sembari mengusap telinganya. Kepalanya mendongak, ingin mencari tahu siapa yang telah berani mengusik kesenangannya.

“Apa ada masalah?” tanya Cheonsa dingin.

Emosi gadis itu semakin meluap. Matanya menatap mata Cheonsa dengan penuh kebencian. “Hey, anak baru! Kau pikir, kau siapa bisa berbuat seenaknya di sekolah ini, huh?” geramnya.

“Aku? Bukankah aku sudah memperkenalkan diriku, kemarin? Namaku Han Cheonsa. Lalu, kenapa kau masih bertanya? Lagipula, perbuatan apa yang telah kulakukan?” kata Cheonsa.

Mulut gadis itu menganga lebar. Bukan hanya dirinya, tapi semua murid yang tadi ikut berdiskusi memandang Cheonsa takjub. Perkataannya begitu ringan dan gamblang. Tak sekalipun tersirat nada main-main di dalamnya. Sungguh, Cheonsa adalah sosok yang misterius bagi mereka.

“Kau..”

“Cheonsa-ya!” panggilan itu menginterupsi perdebatan kecil di antara Cheonsa dan gadis berambut emas tersebut.

Seluruh kepala menoleh ke sumber suara. Sooyeon, langkahnya perlahan mendekati Cheonsa. Gadis itu memang tak memiliki keberanian sebesar Cheonsa. Hanya saja, ia tak sanggup melihat sepupu kesayangannya itu terlibat dalam sebuah perdebatan. Bukankah Cheonsa membenci perdebatan? Ya, itulah yang membuat Sooyeon mempertimbangkan tindakannya untuk melerai perdebatan kecil itu.

“Siapa kau?” tanya gadis berambut pirang itu ketus.

“Namaku, Kim Sooyeon. Aku-“

“Kami tak menanyakan namamu. Yang ingin kami tahu, kau siapanya gadis aneh ini, huh?” sambar seorang murid lainnya.

Mendengar kata ‘gadis aneh’ yang tentunya ditujukan untuk Cheonsa, Sooyeon merasakan hatinya beapi-api sekaligus sesak. Bagaimana tidak? Seseorang menghina sepupu kesayanganmu persis dihadapanmu. Sooyeon memang bukan sosok gadis dengan keberanian tingkat tinggi. Namun, bila seseorang telah menghina keluarganya, Sooyeon tak akan pernah tinggal diam.

“Kau pikir, kau siapa bisa seenaknya menjuluki sepupuku dengan julukan ‘gadis aneh’, huh?” geram Sooyeon.

Seisi kelas sibuk mengomentari apa yang baru saja Sooyeon lontarkan. Cukup membuat mereka terperangah ketika mendengar pernyataan Sooyeon, bahwa ia adalah sepupu Cheonsa. Desas-desus yang para murid kelas itu timbulkan, menggema ke seluruh penjuru kelas.

“Apa? Memangnya, kenapa kalau aku adalah sepupu Cheonsa? Dia gadis yang baik. Tak seperti kalian! Bahkan, kalian jauh lebih buruk daripada sepupuku,” tegas Sooyeon. Entah keberanian darimana, Sooyeon mampu mengeluarkan kata-kata itu.

Cheonsa yang tak tahan dengan keadaan ini, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Sooyeon. Tanpa berbasa-basi, ia menarik lengan Sooyeon untuk menjauh dari para murid yang hanya bisa bergosip itu. Bukannya takut, tetapi Cheonsa tidak ingin Sooyeon ikut terasingkan hanya karena membelanya.

Di depan pintu kelas, dua pria yang terkenal tampan seantero sekolah menghadang mereka. Bukan, bukan menghadang. Hanya saja, dua sejoli itu baru datang bertepatan dengan Cheonsa dan Sooyeon yang berniat untuk keluar kelas. Tanpa disengaja, mata Cheonsa dan Donghae saling beradu. Mereka bertatapan cukup intens. Tersirat tatapan sinis dalam mata Donghae, namun hanya ditanggapi tatapan datar oleh Cheonsa.

Lama mereka saling menatap tak suka. Kyuhyun dan Sooyeon yang menyadari hal ini, segera menginterupsi kegiatan tatap-menatap tersebut. Kyuhyun mengajak Donghae untuk masuk ke dalam kelas. Sedangkan Sooyeon segera menarik Cheonsa keluar kelas, begitu dua sejoli tadi masuk terlebih dahulu.

***

Backyard, CRSHS.

“Apa yang terjadi antara kau dan Donghae?”

Kepala Cheonsa menoleh ke arah Sooyeon, yang duduk di sisi kanannya. Wajahnya datar, namun hatinya bertanya-tanya mengenai perihal Sooyeon menanyakan hal itu. Dia tak mengerti. Memangnya, apa yang terjadi dengannya dan Donghae? Bukankah tak terjadi apapun kecuali kejadian di kantin tempo hari?

“Bukankah masalah kami hanya pada kejadian di kantin waktu itu? Selebihnya, aku tak tahu. Terserah dia ingin merencanakan suatu hal untuk mencelakakanku atau tidak. Aku tak peduli,” tanggap Cheonsa.

Ia kembali memfokuskan pandangannya pada objek dihadapnya. Kini Sooyeon yang beralih menatap wajah Cheonsa dari samping. Helaan napas berat keluar begitu saja dari mulut Sooyeon. Tak habis pikir, kenapa sepupunya satu ini bisa berubah total dan memiliki sikap ‘ketidakpedulian’ seperti ini.

“Bagaimana bila ia merencanakan sesuatu yang lebih besar dari yang kau kira? Bagaimana bila ia ingin mencelakakanmu?” papar Sooyeon khawatir.

“Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja,” kata Cheonsa.

“Kau, berjanji?”

Cheonsa menoleh. Sooyeon tersenyum, namun wajahnya sarat akan kekhawatiran yang mendalam. Sedetik, Cheonsa menatap Sooyeon intens, membiarkan kelingking Sooyeon menunggu kelingkingnya untuk dipautkan. Detik berikutnya, perlahan kelingking Cheonsa terangkat. Lalu ia mengaitkannya pada kelingking Sooyeon.

Kini, senyum Sooyeon merekah lebih tulus dari sebelumnya. Meski hanya ditanggapi ekspresi datar milik Cheonsa, namun tak dapat dipungkiri bahwa hati Sooyeon sedikit lega karena Cheonsa telah berjanji, dirinya akan baik-baik saja.

“Kau harus tahu Cheonsa, apapun yang mereka katakan padamu, aku akan tetap berada di sampingmu. Sampai kapanpun. Jangan anggap aku sebagai malaikat pelindungmu. Aku seperti ini karena aku sangat menyayangi sepupuku yang bernama Han Cheonsa,” tutur Sooyeon. Senyumnya masih mengembang dengan sempurna.

“Terima kasih,” ucap Cheonsa pelan, namun tetap sampai ke telinga Sooyeon.

“Sama-sama,” ujarnya ceria.

Dari kejauhan, Donghae mendengar percakapan antara Cheonsa dan Sooyeon. Dahinya mengkerut. Memangnya, apa yang ingin ia lakukan pada Cheonsa? Donghae bahkan tak berencana untuk menyakiti Cheonsa, seperti gadis lain yang pernah mencari masalah dengannya. Ia hanya tertarik dengan kepribadian Cheonsa. Untuk pertama kalinya, Donghae menemukan gadis sedingin, berwajah datar, dan memiliki sifat ketidakpedulian seperti Cheonsa. Tiba-tiba, setengah dari kepribadian Cheonsa mengingatkannya pada seseorang. Meski berusaha untuk melupakannya, namun tetap saja orang itu masih memenuhi sebagian pikiran Donghae.

-Flashback Two years later-

“Kau, menyukainya? Kau menyukai Shika? Apa benar begitu? Hey! Kau benar-benar Lee Donghae, kan?” Kyuhyun menatap Donghae tak percaya. Bagaimana tidak? Sahabatnya itu baru saja berterus terang mengenai perasaannya terhadap seorang gadis yang Kyuhyun rasa sangat tak mungkin bisa menaklukkan hati Donghae.

“Yes, I am. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah bila aku menyukai Shika? Dan perlu kau perhatikan nama kami. Kami memiliki marga yang sama. Bukankah itu tandanya kami berjodoh? Haha,” Gelak tawanya terdengar lepas di telinga Kyuhyun. Disaat seperti ini, Donghae masih bisa melontarkan lelucon yang dianggap konyol olehnya.

Kyuhyun menghela napas. Tak habis pikir, bagaimana bisa Donghae menyukai gadis bernama Lee Shika. Gadis yang semasa mereka menjadi junior, selalu mencari masalah dengan Donghae. Gadis tomboy, memiliki sikap ketidakpedulian yang akut, juga suka bertindak seenaknya. Sangat jauh dari gadis impian semua pria. Terutama Donghae, dengan status terhormat miliknya, semua orang pasti takkan percaya bahwa Donghae menyukai gadis itu. Lee Shika, namanya.

“Donghae-ya, bukankah ia musuh bebuyutanmu? Bagaimana bisa-“

“Entahlah. Awalnya aku ragu dengan perasaanku sendiri. Namun, kejadian kemarin menguatkan adanya perasaan itu. Ketika aku tak sengaja menabrak Shika, tiba-tiba saja jantungku berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Meski raut wajahnya sarat akan emosi, tapi entah mengapa aku justru terhanyut akan hal itu. Baru kusadari, bahwa Shika sangat cantik,” ungkap Donghae.

Mata Kyuhyun tak lepas dari gerak-gerik Donghae. Sungguh, untuk pertama kalinya Kyuhyun mendengar ungkapan tentang percintaan dari sang sahabat. Sebelum ini, Donghae bukanlah sosok yang suka tebar pesona, juga tak peduli dengan kaum wanita. Dan baru Kyuhyun sadari, bahwa selama ini hanya satu sosok wanita yang Donghae perbolehkan masuk ke dalam hidupnya, meskipun hanya sebagai musuh. Ya, dialah Shika.

Brakk!!

“Aku tahu, kau yang mengambil bola basketku, kan?”

Seseorang datang, memukul meja, dan berbicara to the point pada Donghae. Tidak, lebih tepatnya gadis itu menuduh Donghae-lah yang telah mengambil bola basketnya. Raut wajah gadis itu tampak sangat kesal. Namun, Donghae hanya menanggapinya dengan tatapan meremehkan. Sedangkan Kyuhyun menatap keduanya bingung.

“Kau mau bola basketmu kembali?” kata Donghae.

“Tentu saja. Karena itu milikku. Jadi, cepat kembalikan!” jerit Shika. Ya, dialah gadis itu.

Donghae beranjak dari duduknya. Langkah kakinya membawanya mendekat ke arah Shika. Tepat dihadapan gadis itu, Donghae mengatakan sesuatu.”Datanglah ke lapangan indoor basket pada jam istirahat nanti. Aku berjanji akan mengembalikan bolamu,”

Ia kembali berjalan, meninggalkan Shika yang berusaha mencerna kata-katanya. Setelah kesadarannya terkumpul, Shika membalikkan tubuhnya menghadap Donghae yang berjalan membelakanginya.

“Hey! Rencana busuk apalagi yang akan kau mainkan?!!!” Pekik Shika. Namun, tak sekalipun Donghae berniat membalikkan tubuhnya kembali menghadap Shika. Tanpa sepengetahuan gadis itu, senyum simpul terukir di wajah tampan Donghae.

***

“Hey! Keluar kau ikan busuk! Aku telah memenuhi permintaanmu untuk datang kesini. Jadi, kembalikan bolaku!!” teriak Shika lantang.

Ya, dia memang telah memenuhi permintaan Donghae untuk datang ke lapangan indoor sekolah. Namun, sepuluh menit berada disana, tak sekalipun ia melihat tanda-tanda kehadiran Donghae. Jangan-jangan, Donghae hanya berniat untuk mempermainkannya?

Jreng!!

Tiba-tiba, lampu lapangan indoor tersebut mati. Shika mulai gelisah. Berkali-kali ia memutar badannya, memastikan tak ada siapapun yang berniat mengejutkannya. Meskipun tomboy, ada satu hal yang paling Shika takuti, yaitu kegelapan. Dia sangat benci gelap. Semua orang tahu akan hal itu. Termasuk, Donghae.

“Donghae!! Keluar kau! Ini tidak lucu!!” jeritnya histeris.

Tak ada jawaban. Nyatanya, memang tak ada siapapun di lapangan itu kecuali Shika. Tak lama kemudian, air mata mengalir di sudut matanya. Shika mulai terisak. Ia benar-benar ketakutan.

“Donghae.. Donghae.. Ini tidak lucu..” suara Shika melemah, diiringi isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

Ceklek…

Pintu terbuka. Dengan wajah paniknya, pria itu segera mendekati tubuh Shika yang telah meringkuk ketakutan. Bodoh, ia merasa bodoh karena terlalu lama meninggalkan gadis itu sendirian di lapangan. Ditambah, lampu ruangan yang mati secara tiba-tiba. Semua ini diluar rencananya.

Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.“Shika, apa kau mendengarku? Hey! Bangun, Shika!” Donghae semakin panic, ketika tak mendengar jawaban apapun dari Shika.

“Kau, jahat! Kau tahu aku takut gelap. Tapi kenapa? Kenapa kau malah melakukan ini? Kau, kau jahat, Donghae! Aku membenci..mu..” setelahnya Shika tak sadarkan diri.

“Shika!! Shika-ya!! Bangun!!”

Hati Donghae bergejolak. Dua hal yang menyakitkan, menggores hatinya. Pertama karena Shika mengatakan bahwa ia membenci Donghae. Kedua, tiba-tiba tubuh Shika melemas. Gadis itu pingsan. Kekhawatiran menyelimuti raganya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Sejak tadi, yang bisa ia lakukan hanya merutuki dirinya sendiri karena telah ceroboh meninggalkan Shika di ruangan itu tanpa memeriksa ruangan tersebut dalam keadaan hidup atau mati. Dan yang paling menyesakkan, semua rencananya gagal.

Rencana untuk menyatakan cintanya pada Shika, gagal.

***

The Hospital

Menunggu memang sangat membosankan. Tapi itu takkan pernah terjadi, bila kau diselimuti oleh rasa kekhawatiran. Setelah menghubungi keluarga Shika, Donghae memutuskan untuk tetap menunggu gadisnya di depan ruangannya. Pihak keluarga juga melakukan hal yang sama dengan Donghae. Mereka menunggu hasil dengan gelisah. Ditemani Kyuhyun, Donghae duduk di sebuah bangku yang terletak tak jauh dari ruang ICU, tempat Shika berada.

Begitu mendengar kenyataan yang ada, hati Donghae semakin sakit. Ternyata, selain mengidap phobia kegelapan, Shika juga mengidap penyakit jantung akut sejak umurnya yang masih menginjak 10 tahun. Penyakit yang diturunkan oleh kakeknya.

Perasaan Donghae sangat kalut. Kyuhyun yang mengetahui hal itu, hanya bisa menatap Donghae prihatin. Ia yakin, setelah ini Donghae pasti akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi pada Shika. Padahal, kejadian ini tak seutuhnya salah Donghae. Mungkin, ini hanya kebetulan yang menyakitkan. Kalau takdir yang berbicara, apalagi yang bisa manusia perbuat kecuali menjalaninya?

Ceklek..

Pintu ruang ICU terbuka. Sontak seluruh keluarga Shika, termasuk Kyuhyun dan Donghae berdiri dari duduknya. Tak sabar ingin mendengar kabar mengenai keadaan Shika dari sang dokter.

“Bagaimana keadaan anak saya, dok?” tanya seorang pria paruh baya, yang diyakini adalah ayah dari Shika.

Sang dokter melepas kacamatanya. Ia menghela napas panjang. Matanya belum tertuju pada pihak keluarga. Ia masih berusaha untuk mencari kata-kata terbaik mengenai keadaan pasien. Sedetik kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada pihak keluarga Shika.

“Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain,”

Duarr!! Bagai tersambar petir di siang hari yang cerah. Pihak keluarga Shika menatap nanar ke arah sang dokter. Seakan tak percaya dengan berita yang mereka dengar. Tak mungkin. Shika masih muda. Tak selayaknya ia diambil secepat ini.

Kaki Donghae melemas. Pada akhirnya, ia terjatuh dan berlutut dilantai. Kyuhyun yang melihat hal itu, membantu Donghae untuk berdiri. Namun, percuma saja. Donghae masih dalam keadaan kalut. Apapun yang akan dilakukan Kyuhyun untuk membujuknya berdiri, takkan ia dengarkan. Donghae sibuk meratapi kepergian Shika yang terlalu cepat.

Ia sangat menyesal. Seandainya ia tak pernah menyuruh Shika untuk datang ke lapangan indoor yang gelap itu, pasti sekarang Shika masih hidup. Masih bertengkar seperti biasanya dengannya.

Air mata Donghae mengalir tanpa perintah. Isak tangisnya mulai terdengar ke telinga Kyuhyun. Sesak melanda relung hatinya. Ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Shika. Bahkan, Donghae belum sempat menyatakan perasaaannya pada Shika. Terakhir kali mereka bertemu, Shika justru mengatakan bahwa ia sangat membenci Donghae. Mengingat hal itu, isak tangis Donghae semakin menjadi-jadi.

-End Flashback-

“Donghae? Apa yang kau lakukan disini?” suara itu menginterupsi nostalgia menyedihkan yang Donghae ciptakan. Tanpa ia sadari, setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Segera dihapusnya air mata itu dengan kasar.

Kepalanya mendongak. Dilihatnya dua orang gadis dengan tatapan berbeda. Sooyeon, gadis itu menatap Donghae curiga. Sedangkan Cheonsa masih bertahan dengan tatapan datarnya. Ah, sial. Dia bahkan tak menyadari bahwa dua gadis itu telah berada dihadapannya sejak tadi. Ia terkejut bukan main.

“Hmm..apa kau mendengar-“

“Apa? Memangnya, apa yang kalian bicarakan? Apa kalian sedang membicarakanku?” kilah Donghae. Ia berpura-pura tidak tahu. Faktanya, Donghae bahkan mendengar semua percakapan antara Sooyeon dengan Cheonsa, dari awal.

“Ah, tidak. Bukan apa-apa,” Sooyeong menghela napas lega.

Tatapan Cheonsa tak sedikit pun beralih pada objek lain. Pusatnya hanya satu, yaitu mata Donghae. Ketika menyadari tatapan intens dari Cheonsa, Donghae terhenyak. Mata coklat milik Cheonsa terasa sangat familiar. Ia merasa mengenali mata coklat itu.

“Kau mendengar semua pembicaraan kami. Benarkan?” tebak Cheonsa.

Seketika, Donghae tersadar. Ah, apa yang dia pikirkan? Mata coklat seperti itu, bukan hanya Cheonsa yang memilikinya. Di dunia ini, pasti ada banyak orang yang memiliki mata coklat seindah milik Cheonsa.

“Memangnya apa yang kalian bicarakan?” Donghae merespon dengan tatapan yang sama. Datar dan dingin.

Sooyeon mulai merasakan atmosfer tak menyenangkan dari keadaan ini. Tatapan dua orang itu semakin tak bersahabat. Meskipun hanya tersirat tatapan datar dan dingin, namun ia tahu, kalau tak segera dipisahkan keduanya akan terlibat dalam perdebatan yang cukup serius.

“Hmm..baiklah. Kalau begitu, kami permisi dulu, Donghae-ya. Cheonsa, ayo!” kata Sooyeon. Cheonsa mengalihkan perhatiannya pada Sooyeon, lalu ia mengikuti langkah Sooyeon meninggalkan Backyard CRSHS.

***

Kali ini, Cheonsa berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah tanpa ditemani Sooyeon. Biasanya, mereka akan pergi ke kantin bersama. Namun, mendadak Sooyeon memiliki urusan yang sangat penting. Maka dari itu, Cheonsa terpaksa pergi ke kantin sendirian. Sebenarnya, Cheonsa tak keberatan akan hal itu. Toh, meskipun ada Sooyeon disisinya, ia tetap merasa kesepian. Ya, bedanya bila bersama Sooyeon, setidaknya rasa sepinya dapat terobati sedikit.

Plakk!!

Sesuatu yang tak Cheonsa ketahui telah menyerang belakang kepalanya. Sakit, memang. Namun, Cheonsa berusaha tak memerdulikan itu dan tetap melangkahkan kakinya menuju kantin.

Plakk!!

Lagi, lagi, sesuatu menyerang belakang kepalanya. Langkahnya berhenti. Di koridor ini, tak ada siapapun. Cheonsa menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tetap saja nihil. Sepanjang koridor, tak ada seorangpun disana kecuali dirinya.

Tiba-tiba, Cheonsa merasakan bau yang menyengat indra penciumannya. Asalnya tidak jauh dari tempat Cheonsa berdiri. Dia memutar badan, berusaha mencari sumber bau tersebut. Tetapi tetap tak mendapat hasil. Ia terus saja membalikkan badannya.

Sedetik kemudian, aktivitas anehnya terhenti. Beberapa murid keluar dari tepat persembunyiannya. Mereka melemparkan tatapan sinis pada Cheonsa. Sedangkan gadis itu hanya menatap datar ke arah pasukan itu. Detik berikutnya, para murid telah membuat ancang-ancang untuk melemparkan sesuatu ke arah Cheonsa. Sontak, mata Cheonsa membulat. Ia baru menyadari, apa yang sedang para murid genggam dan akan ditujukan padanya.

“Cheonsa-ya! Awass!!!!” teriak Sooyeon.

Ia segera berlari ke hadapan Cheonsa. Dan bertepatan dengan hal itu, seluruh murid melemparkan sesuatu pada Cheonsa. Telur busuk. Mereka sengaja melemparkan telur busuk itu pada Cheonsa. Rasa ketidak senangan yang semakin menjadi-jadi, membuat mereka melakukan hal gila seperti itu.

Beruntung, Sooyeon selalu menjadi malaikat pelindung Cheonsa. Gadis itu rela membalikkan tubuhnya dan melindungi Cheonsa dibalik jasnya. Tak sudi membiarkan Cheonsa tersakiti oleh telur busuk itu. Biarlah ia yang mengorbankan dirinya untuk sepupu tercintanya.

“Dasar pengecut!”

“Hey! Berhentilah menjadi malaikat pelindungnya! Kami tak ada urusannya denganmu. Minggirlah!!”

“Sejak awal aku tahu, kau itu hanya berpura-pura angkuh. Tetapi kenyataannya, kau tak bisa melakukan apapun tanpa sepupumu itu, Han Cheonsa!!”

Hujatan-hujatan itu lagi. Cheonsa tak memerdulikan hujatan itu. Yang ia pedulikan hanyalah keadaan Sooyeon yang semakin melemah memeluknya. Sampai akhirnya, kepala Sooyeon terjatuh di pundak Cheonsa. Seluruh murid yang menyaksikan hal itu, terdiam. Beberapa dari mereka, menutup mulut karena panic.

“Sooyeon! Sooyeon-ah! Kim Sooyeon!” teriak Cheonsa.

Diam ditempat masing-masing, itulah yang dilakukan para murid. Mereka takut disalahkan atas keadaan Sooyeon yang tak sadarkan diri. Untuk pertama kalinya, tatapan datar Cheonsa berubah menjadi benci. Ditatapnya satu persatu murid yang ikut serta dalam kegiatan ‘lempar-melempar telur’ tersebut.

Melihat tatapan menyeramkan dari Cheonsa, semuanya menunduk takut. Nyali mereka ciut seketika. Tanpa banyak berbasa-basi, Cheonsa segera memapah Sooyeon menuju ruang UKS. Sekarang, tak ada yang lebih penting, selain membuat Sooyeon siuman.

***

Classroom. XII.A

“Well, apa yang dimaksud dengan konfigurasi?” seorang guru melontarkan sebuah pertanyaan kepada para murid yang tengah diajarnya.

Seluruh murid focus dengan materi yang tengah ia sampaikan. Namun tidak dengan Donghae. Sejak tadi, tatapannya hanya focus pada satu titik. Yaitu, bangku milik Cheonsa. Sekelibat bayangan tentang ‘mata coklat’ milik Cheonsa, melayang-layang dipikiran Donghae. Merasa terganggu akan hal itu, ia tak dapat berhenti memikirkannya. Menyadari ketidak fokusan Donghae dengan materi yang sedang Miss Janneth sampaikan, Kyuhyun pun menyikut sikut Donghae.

“Hey! What’s wrong, hae? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” sambar Kyuhyun.

“Apa kau menyadari sesuatu tentang Cheonsa, Kyu?”

“What? Cheonsa? Hae, jangan bilang, kau-“

“No. Bukan itu maksudku. Perhatikanlah matanya. Sepertinya, aku sedikit familiar dengan mata itu,”

“Mata?”

“Yeah, apa kau menyadarinya?”

Kyuhyun tampak berpikir. Seminggu sudah Cheonsa resmi menjadi siswi di CRSHS. Namun, tak sekalipun Kyuhyun memerhatikan fisik Cheonsa. Dalam arti lain, Kyuhyun tak pernah memerhatikan Cheonsa kecuali gadis itu tengah terlibat pertengkaran dengan seorang murid lainnya.

“Tidak. Memangnya, ada apa dengan mata Cheonsa?”

“Benarkah? Apa kau yakin?”

“Of course, yeah. Memangnya kenapa?”

Donghae menghela napas. Jari telunjuk dan ibu jarinya mengusap-usap pelipisnya. Begitu banyak yang ia pikirkan.

“Dimana dia sekarang?”

“Kudengar, Cheonsa sedang menemani sepupunya di UKS,”

“Sooyeon? Ada apa dengannya?”

“Menurut informasi yang beredar, Sooyeon pingsan karena menyelamatkan Cheonsa dari lemparan telur yang dilakukan oleh para murid,”

“Apa? Lemparan telur busuk?”

“Ya, begitulah. Kau tahu kan, mereka tak menyukai sikap Cheonsa. Dan hari ini, aksi nekat mereka adalah melempari Cheonsa dengan telur busuk. Hanya saja, tiba-tiba Sooyeon datang dan melindungi Cheonsa. Akhirnya, ia pingsan dan semua murid ketakutan setengah mati atas apa yang telah mereka perbuat,”

“Mereka sudah gila,”

“Memang. Hey! Donghae-ya, kau belum menjawab pertanyaanku. Memangnyanya ada apa dengan mata Cheonsa?”

“Aishh..baiklah. Aku hanya merasa..mata coklat Cheonsa sangat familiar. Seperti milik…”

“Milik siapa?”

“Milik..Shika,”

***

Pusing benar-benar melandanya saat ini. Padahal sejak tadi ia baik-baik saja. Entah mengapa, tiba-tiba perutnya sakit dan kepalanya berdenyut. Kyuhyun menyarankan agar Donghae memperbanyak istirahatnya di ruang UKS. Awalnya ia menolak saran Kyuhyun dan bersikeras untuk menetap di dalam kelas. Namun, ia terus memaksanya. Dan pada akhirnya, Donghae terpaksa pergi ke UKS, untuk beristirahat sejenak. Mungkin, sedikit istirahat akan mengembalikan kebugaran fisiknya.

Di tengah perjalanan, Donghae mendengar suara isak tangis dua orang gadis yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Merasa penasaran, Donghae pun menghampiri sebuah bilik yang merupakan sumber suara tersebut. Perlahan tapi pasti, ia menyibakkan sedikit tirai dari bilik tersebut.

Rupanya, dua gadis yang tak lagi asing dimatanya. Cheonsa dan Sooyeon. Tapi tunggu dulu. Donghae mengernyitkan dahinya. Ia baru menyadari, bahwa gadis yang selama ini terkenal ‘tanpa ekspresi’ itu menangis. Suatu pemandangan langka bagi Donghae dapat melihat gadis berwajah datar itu menangis.

“Maaf,” satu kata itulah yang sukses keluar dari mulut Cheonsa, disertai isak tangis yang pelan namun tetap terdengar sampai ke telinga Donghae.

“Tidak. Kau tak memiliki kesalahan apapun. Lagipula aku yang berinisiatif untuk melindungimu. Jangan selalu menyalahkan dirimu atas kejadian yang sama sekali bukan salahmu, Cheonsa-ya!” papar Sooyeon. Diusapnya sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening tersebut.

Tak ada lagi respon dari Cheonsa. Ia hanya diam dan terhanyut dengan isak tangisnya. Meski sangat pelan, namun tangisannya terdengar sangat menyakitkan. Seolah menumpahkan segala kesedihan yang ia pendam, Cheonsa terisak parah walau isak tangisnya tak sekencang yang dibayangkan.

Sooyeon tersenyum. Dilihatnya wajah Cheonsa yang masih menunduk, sembari menyembunyikan air matanya. Perlahan, tangan Sooyeon terangkat. Ditaruhnya tangan itu pada pipi Cheonsa.

“Aku senang melihatmu menangis. Semenjak kejadian 3 bulan lalu, kau merubah sikap dan raut wajahmu menjadi tak seceria dulu. Kau terlalu datar dan dingin. Sekarang, aku bahagia melihat ekspresi lain dari wajahmu. Yah, meskipun aku tak mengharapkan ekspresi seperti ini darimu. Tapi setidaknya, kau menunjukkan ekspresi yang lebih hidup dari biasanya. Itu sudah cukup membuat hatiku sedikit lega,” terang Sooyeon.

“Hikss…bodoh! Kenapa kau masih sempat tersenyum dengan keadaan seperti ini? Seharusnya, kau sudah membenciku karena telah membiarkanmu melindungiku hingga kau pingsan begini,” jerit Cheonsa tertahan. Tangannya meremas rok-nya kuat-kuat. Begitu banyak tetes air mata yang keluar dari sudut matanya. Kali ini, ekspresi Cheonsa jauh lebih normal dari biasanya, begitupula dengan nada bicara gadis itu.

“Mengapa aku harus membencimu? Kau tidak memiliki kesalahan apapun padaku. Jadi, aku tak memiliki alasan apapun untuk membencimu,”

“Seperti yang dikatakan mom. Aku hanya pembawa sial. Sudah cukup kejadian 3 bulan lalu yang membuktikannya. Dan sekarang, kaulah korbannya. Korban dari kesialanku. Kau pingsan hanya karena melindungiku. Tidakkah kau sadar akan hal itu? Sekarang, kau punya alasan yang kuat untuk membenciku, Sooyeon-ah,”

“No way! Selamanya, aku takkan pernah membencimu. Aunty Rachel, bahkan tak pernah membencimu. Ia hanya terbawa suasana ketika mengatakan hal itu padamu, Cheonsa-ya. Percayalah padaku. Lupakan kejadian tiga bulan lalu. Kutegaskan sekali lagi, kejadian itu bukan salahmu. Itu takdir. Kau mengerti takdir, kan? Begitupula dengan insiden pingsannya aku. Ini hanya kecelakaan yang tak terduga. Jadi kumohon, berhenti menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian itu dan juga berhenti menyuruhku untuk membencimu,” tegas Sooyeon.

Donghae mengernyitkan dahinya tak mengerti. Ia semakin bingung. Sungguh, percakapan dua gadis itu sama sekali tak masuk dalam logikanya. Ia sama sekali tak paham dengan arah pembicaraan mereka. Namun, ada satu kalimat yang membuatnya penasaran. Mereka selalu menyebutkan ‘kejadian tiga bulan lalu’. Sebenarnya, ada apa dengan tiga bulan yang lalu? Pertanyaan itu terus-menerus berputar diotaknya. Berkali-kali Donghae berusaha berpikir keras mengenai makna dibalik kalimat itu, namun tetap saja ia tak menemukan jawabannya.

Tiba-tiba saja, kepalanya kembali berdenyut. Perutnya bagaikan diperas. Sangat sakit. Seluruh sistem sarafnya menegang. Sedetik kemudian, Donghae terjatuh dan tak sadarkan diri.

***

Matanya terbuka. Seberkas sinar matahari menyusup ke dalam bilik yang ditempati Donghae. Pria itu mengerjapkan matanya bingung. Terakhir kali yang ia ingat, ia tak berada di tempat ini. Meskipun pingsan, Donghae ingat betul tempat terakhir kali yang ia kunjungi. Bilik yang ditempati Sooyeon. Bukankah waktu itu ia tengah mendengar pembicaraan antara Sooyeon dengan Cheonsa?

Berusaha keras untuk mengubah posisinya menjadi duduk. Lagi-lagi, Donghae merasakan pusing melanda kepalanya. Ia mengerang kesakitan. Sedetik kemudian, datanglah Kyuhyun. Diikuti Cheonsa dengan langkah tenangnya, yang berada di belakang Kyuhyun.

“Kau sudah sadar, Hae?” tanya Kyu.

Donghae masih meringis kesakitan. Ia memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Penglihatannya sedikit kabur. Samar-samar, ia dapat melihat sosok Cheonsa yang tengah berjalan mendekatinya.

“Kau, apa yang kau lakukan disini?” ujar Donghae.

Kepala Kyuhyun segera menoleh ke belakang, tempat dimana pandangan Donghae terfokuskan. Cheonsa. Seharusnya ia menyadari kedatangan gadis itu. Bodohnya, ia melupakan ‘masalah kecil’ yang pernah terjadi di antara Cheonsa dan Donghae.

“Umm..Hae-ya, dia yang memberitahuku kalau kau pingsan di depan bilik Sooyeon,” terang Kyuhyun ragu.

Pandangan Donghae beralih pada Kyuhyun. Matanya membulat. Ia benar-benar malu dengan pernyataan Kyuhyun. Ia merasa sudah tertangkap basah mendengar pembicaraan sepasang saudara sepupu itu. Lidahnya seketika menjadi kelu.

“Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena telah menemukanmu tergeletak di depan bilik Sooyeon. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padamu,” ucap Cheonsa dingin.

Ekspresinya kembali lagi, pikir Donghae. Tak sampai lima menit Cheonsa menjajakan kakinya di dalam bilik Donghae. Ia tak mau berbasa-basi atau malah menimbulkan perselisihan yang lebih tajam lagi antara dia dengan Donghae. Akhirnya, Cheonsa memutuskan untuk pergi dari bilik tersebut.

“Kenapa kau biarkan dia pergi?” sahut Donghae.

“Apa? Bukankah kau sendiri yang secara tidak langsung memintanya untuk pergi?” tanggap Kyuhyun.

Donghae menghela napas panjang. Merasa bersalah atas sikapnya terhadap Cheonsa. Tak selayaknya ia mengatakan hal seperti itu.

***

“Kudengar, Donghae pingsan. Dan gadis aneh itu berada di tempat kejadian. Apa jangan-jangan, dialah yang menyebabkan Donghae pingsan?”

“Cih, tidak tahu malu!”

“Ya, dia memang gadis aneh yang menyebalkan. Sudah berani menantang Donghae, sekarang ia membuatnya pingsan segala,”

Desas-desus itu lagi. Cheonsa hanya bisa menghela napas, atas segala tuduhan yang mereka berikan pada Cheonsa. Setiap manusia memiliki batas kesabarannya. Meski lelah dengan semua ini, namun Cheonsa tak ambil pusing akan hal tersebut. Yang terpenting, ia masih memiliki Sooyeon yang setia menemaninya. Itu lebih dari cukup untuknya.

“Hey gadis tidak tahu diri! Berhenti kau!”

Seorang gadis berambut pirang, mendekati Cheonsa yang tengah berjalan melewatinya. Diikuti dua teman lainnya di belakangnya. Secara paksa, ia membalikkan tubuh Cheonsa ke hadapannya. Sedikit mendorongnya, hingga Cheonsa hampir saja terhuyung ke lantai kalau bukan tangan kekar seseorang yang menahan bobot tubuhnya.

Mata Cheonsa bertaut dengan mata Kyuhyun. Ya, pria yang menolongnya adalah Kyuhyun. Cukup lama mereka saling memandang. Sampai akhirnya, Cheonsa mengalihkan perhatiannya dan membenahi posisinya untuk berdiri tegak. Kyuhyun melemparkan tatapan sinis kepada seorang gadis berambut pirang yang telah mendorong Cheonsa.

Tentu saja gadis itu bungkam seketika. Tubuhnya menegang, mendapat tatapan mematikan dari seorang yang selama ini sangat dipujanya. Ia tertegun. Semakin lama, tatapan Kyuhyun semakin menusuk. Tanpa aba-aba yang pasti, gadis berambut pirang juga dua temannya pergi dari hadapan Kyuhyun.

“Terima kasih,” ucap Cheonsa. Ekspresinya telah kembali seperti semula. Dingin.

Kyuhyun menoleh. Entah mengapa, ia justru menyunggingkan senyum terbaiknya pada Cheonsa. Sedikit tersentak akan kelakuan Kyuhyun yang tak biasanya. Cheonsa sadar bahwa Kyuhyun tengah tersenyum padanya. Namun tak sedikit pun bibirnya ikut menyunggingkan senyum.

“Sama-sama. Lain kali, kalau gadis itu bertindak yang macam-macam terhadapmu, kau cukup panggil aku saja. Aku akan menanganinya,” terang Kyuhyun.

***

Backyard, CRSHS.

Sedikit tersentak karena merasakan beban seseorang yang bertambah pada kursi taman ini. Sooyeon menolehkan kepalanya, ke sisi kirinya. Sontak, matanya membulat. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Donghae? Kau disini?”

Donghae menoleh.”Ya,” jawabnya singkat.

Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Sooyeon kembali bungkam. Ia menatap objek dihadapannya sembari memikirkan hal rumit yang menggelantungi otaknya. Sesekali, helaan napas berat lolos dari mulutnya.

“Sooyeon, bolehkah aku tanya sesuatu?”

“Tanyakan saja,”

“Mengenai Cheonsa..umm…”

“Kau pasti ingin menanyakan kejadian 3 bulan lalu itu kan?”

“Bagaimana kau-“

“Aku tak tahu apa maksudmu menanyakan hal ini. Tapi, perlu kau ketahui. Dulunya, Cheonsa adalah gadis yang ceria. Dia baik dan sangat memerdulikan orang-orang disekitarnya. Namun semenjak kejadian 3 bulan- maksudku, semenjak kepergian Yeonsa, dia merubah sikapnya menjadi dingin sedingin es,”

“Yeonsa? Siapa dia?”

“Dia..kembaran Cheonsa,”

“Apa?”

-Flashback 3 months later-

Cheonsa dan Sooyeon berjalan beriringan menuju sebuah kamar di rumah sakit ini. Cheonsa menjinjing bucket bunga mawar. Sedangkan Sooyeon membawa parsel buah-buahan ditangannya. Keduanya tersenyum sumringah, ketika masuk ke dalam ruangan itu.

“Bagaimana keadaanmu, Yeonsa-ya?” tanya Cheonsa, sembari menaruhkan bucket bunga mawar tersebut ke atas meja.

Melihat dua saudaranya tersenyum tulus, Yeonsa pun ikut tersenyum. Sejenak, ia dapat melupakan penyakit parah yang dideritanya. Meski hari-harinya berat, namun ketika melihat senyum tulus yang kedua saudaranya berikan, entah mengapa semangat Yeonsa kembali membara. Keinginannya untuk hidup sangatlah besar.

“Baik. Bisakah kalian membuka masker oksigenku? Aku mulai bosan memakainya,” pinta Yeonsa.

Cheonsa dan Sooyeon saling bertatapan.”Tidak boleh. Tanpa masker itu, bagaimana kau bisa-“

“Kumohon, aku baik-baik saja,” Yeonsa memelas.

Ia mengeluarkan puppy eyes andalannya untuk membujuk Cheonsa dan Sooyeon agar memenuhi perintahnya. Dengan berat hati, keduanya memenuhi permintaan Yeonsa. Tangan Cheonsa dengan sigap melepaskan masker oksigen yang menutupi mulut beserta hidung Yeonsa.

Setelah masker tersebut, Yeonsa merasa lebih bebas. Ia tak lagi merasakan hawa panas akibat desahan nafasnya sendiri, ketika memakai masker oksigen tersebut. Senyum menawan yang selalu menghiasi wajah pucat Yeonsa membuat Cheonsa dan Sooyeon ikut tersenyum. Mereka bertiga berbagi cerita dan tawa bersama.

“Bagaimana rasanya bersekolah di Senior High School? Menyenangkankah?” tanya Yeonsa antusias.

Keduanya mengangguk bersamaan. Mereka menceritakan pengalaman mereka selama bersekolah disana. Mulai dari mendapatkan teman baru, memperkenalkan diri, dan mengikuti segala kegiatan menyenangkan lainnya. Terbersit rasa iri dalam hati Yeonsa. Namun, tak sedikit pun Yeonsa menyesali keadaannya. Bukankah tuhan memiliki rencana indah dibalik kesusahan yang kau terima?

Di tengah percakapan seru itu, tiba-tiba saja Yeonsa terserang sesak napas. Cheonsa dan Sooyeon semakin panic karena tubuh Yeonsa mengejang. Ditekannya tombol yang berfungsi untuk memanggil dokter ataupun suster.

Kedatangan mereka yang terlambat, membuat Cheonsa dan Sooyeon semakin kehilangan akal sehat mereka. Suster dan dokter yang terdapat disana, tentunya menerima amukan dan jeritan histeris dari Cheonsa. Setelah menghubungi kedua orang tuanya, Cheonsa dan Sooyeon digiring oleh seorang suster untuk keluar dari ruangan. Mereka mengatakan, bahwa Yeonsa harus diperiksa dan dialurkan tegangan.

Setengah jam kemudian, sang dokter beserta suster yang menemaninya keluar dari ruangan. Dokter itu berjalan perlahan menuju keluarga Cheonsa. Pihak keluarga Cheonsa menanti-nantikan jawaban sang dokter atas keadaan Yeonsa. Namun, yang ia lakukan hanya gelengan kepala. Sontak, Mrs.Rachel –ibu dari Cheonsa dan Yeonsa- membulatkan matanya. Derai air mata mengalir tanpa henti. Mrs.Rachel menangis disertai suara histerisnya yang menggema ke seluruh penjuru ruang tunggu. Ia terjatuh dan berlutut di lantai. Mr.Han berusaha menenangkan sang istri, tetapi semua itu percuma.

“Kami menduga, pasien melepas masker oksigennya sehingga menyebabkan pernapasannya terganggung dan berakibat fatal,” terang sang dokter. Setelah itu, ia berjalan meninggalkan keluarga Han yang masih meratapi kepergian Yeonsa.

“Maafkan aku. Aku yang telah melepaskan masker oksigen milik Yeonsa. Karena dia bilang-“

“Apa? Jadi kau yang melepas maskernya?”

Takut. Itulah hal yang dirasakan Cheonsa. Mrs.Rachel berusaha menegakkan tubuhnya dengan limbung. Mr.Han menatap Cheonsa tak percaya. Sedangkan Sooyeon menggenggam erat tangan Cheonsa.

“Itu karena Yeonsa bilang, Yeonsa ingin lebih bebas menghirup-“

“Diam kau, Sooyeon!” bentak Mrs.Rachel.

Mereka terkesiap. Tak ada yang berani membuka suara.

“Kau, kau telah membunuh Yeonsa! Kau membunuh saudara kembarmu sendiri, Han Cheonsa! Kau benar-benar pembawa sial!” emosi Mrs.Rachel meledak.

Sontak, kepala Cheonsa terangkat dan menatap wajah sang ibu. Tak terasa, air matanya mengalir dengan deras. Mr.Han yang mendengar perkataan itu meluncur dari mulur Mrs.Rachel, segera mencengkram tangan istrinya.

“Cukup!” bentak Mr.Han.

“Apa? Dia memang pembunu. Pembawa sial!”

Tak tahan dengan semua ini, Cheonsa berlari meninggalkan ruang tunggu. Menyadari kepergian Cheonsa, Sooyeon segera menyusul sepupunya itu. Entah kemana, yang jelas Cheonsa ingin lari dari hadapan Mrs.Rachel. Selama ini, ibunya memang sanagt menyayangi Yeonsa lebih dari apapun. Hatinya sakit. Benar-benar sakit sekarang.

-End Flashback-

“Jadi, itu yang menyebabkannya berubah secara drastis? Ia menganggap diirnya pembawa sial. Maka dari itu, ia bersikap dingin agar tak seorangpun mendekatinya dan berbalik memusuhinya?” tutur Donghae.

Sooyeon mengangguk lemah. Mengingat kejadian itu, sama saja menyayat kembali luka dihatinya. Tanpa ia sadari, air matanya kembali mengalir untuk ke sekian kalinya.

“Aku mengerti sekarang. Sooyeon, terima kasih karena bersedia menjelaskannya padaku,”

***

Tap..tap..

“Kau disini rupanya,” sahutan seseorang menginterupsi ketenangan yang Cheonsa ciptakan. Merasa tak asing lagi dengan suara itu. Akhirnya, Cheonsa memutuskan untuk menoleh.

“Kau?”

Donghae duduk di samping Cheonsa yang tengah memandang hamparan luas yang lebih mirip seperti padang rumput dibandingkan lapangan sepak bola.

“Terima kasih,”

Cheonsa mengernyitkan dahinya tak mengerti. Matanya kini tertuju pada wajah Donghae. Entah mengapa, tiba-tiba saja jantung berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Baru ia sadari, betapa tampannya wajah Donghae. Tak ayal bila banyak yang memujanya.

Merasa diperhatikan, Donghae menoleh kea rah Cheonsa. Matanya terkunci oleh mata indah Cheonsa yang selalu mengingatkannya dengan mata milik Shika, gadis yang dulu dicintainya. Sama halnya dengan Cheonsa, tiba-tiba saja jantung Donghae berdegup dua kali lebih cepat. Ada apa dengan jantungku? Mungkinkah aku menyukainya? Pikir Donghae.

Baik Cheonsa maupun Donghae sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing. Mereka berpikir sembari menatap satu sama lain. Entah hasrat apa yang merasuki jiwa Donghae. Ia terlalu terhanyut oleh mata coklat milik Cheonsa. Sedetik kemudian, Donghae mendekatkan wajahnya ke telinga Cheonsa.

“Terima kasih karena telah menolongku waktu itu. Tanpamu, entahlah mungkin saja aku takkan dibawa ke UKS oleh siapapun,” kata Donghae.

Seolah memberi kesadaran sepenuhnya atas kata-kata yang Donghae lontarkan, Cheonsa menjauhkan dirinya dari Donghae. Sadar, bahwa pria itu tengah mempermainkannya. Degup jantungnya yang semakin aneh, membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih.

Cheonsa bangkit dari duduknya. Tanpa sepatah katapun, ia pergi meninggalkan Donghae yang masih mematung. Heran akan kepergian Cheonsa secara mendadak.

***

Lee’s Mansion.

Entah sudah berapa kali Donghae merasakan hal ini. Kepalanya berdenyut secara mendadak, juga perutnya yang sakit bagai diperas. Tak kuasa menahan sakit ini, akhirnya tubuh Donghae yang lemah tersungkur ke lantai.

Bertepatan dengan itu, Mrs.Lee memasuki kamar anaknya. Ia menjerit tertahan, begitu menyaksikan tubuh anaknya yang terkapar di atas lantai. Sesegera mungkin ia menyuruh para pelayan untuk membawanya ke atas ranjang. Beberapa dari pelaya tersebut diperintahkkan untuk memanggil dokter.

Untungnya keluarga Lee memiliki dokter pribadi yang siap sedia 24 jam melayani keluarga tersebut. Tak sampai sepuluh menit, dokter itu sampai di Lee’s Mansion. Kakinya dengan kilat melesat menuju kamar Donghae.

Baik Mrs.Lee maupun Mr.Lee menatap cemas sang anak. Begitu khawatir dengan anak tunggal mereka yang tampak memucat itu. Selesai memeriksakan keadaannya, dokter tersebut mengajak kedua orang tua Donghae untuk membicarakan keadaannya di luar kamar.

Beberapa menit setelah kepergian orang tua dan dokter itu, Donghae siuman. Paman Steve –kepala pelayan di rumah itu- lah yang pertama kali mengumumkan bahwa Donghae telah siuman dari pingsannya.

Dengan cepat Mrs.Lee dan Mr.Lee masuk ke dalam kamar Donghae. Dokter tadi telah tiada. Ia lebih dulu pamit untuk pulang, setelah memberikan resep obat dan anjuran berobat untuk Donghae.

“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?” tanya Mr.Lee.

Donghae hanya mengangguk. Mulutnya terlalu lelah untuk sekedar berbicara. Mr.Lee menghela napas khawatir. Ditatapnya wajah sang anak. Berbagai ekspresi yang tidak dapat Donghae artikan justru membuatnya keheranan.

“Ada apa?” tanya Donghae pelan.

“Besok, kita harus pergi ke New York,” tegas Mr.Lee.

“Apa?” Donghae membelalakkan matanya. Bagai angin topan yang melandanya di ruangan seaman ini. Donghae masih tak mengerti dengan maksud Mr.Lee.

“Kau harus menjalani pengobatan disana,”

***

Classroom. XII.A.

Sepi. Meskipun hari-hari sebelumnya Cheonsa selalu merasakan hal yang sama, namun saat ini terasa begitu berbeda. Sejak tadi, tatapan mata Cheonsa tak henti-hentinya terfokus pada sebuah bangku yang ditempati oleh sosok pria yang kemarin baru saja mengucapkan ‘terima kasih’ padanya.

Donghae. Hari ini, dia tidak masuk sekolah. Entah apa penyebabnya, Cheonsa bahkan terus bertanya-tanya akan hal itu.

Menyadari kegelisahan Cheonsa, Kyuhyun pun memberikan secarik surat padanya. Raut wajah  bingung tertera jelas pada wajah Cheonsa. Tanpa basa-basi, Kyuhyun meraih tangan Cheonsa, lalu menaruhkan kertas tersebut ke atas tangannya.

Sesegera mungkin Cheonsa membuka kertas tersebut. Dibacanya setiap kalimat yang berada dalam kertas. Matanya membelalak ketika membaca surat yang berasal dari Donghae. Seketika, ia berlari keluar kelas. Tak peduli dengan teriakan Miss Vennely yang memanggilnya berkali-kali dan memerintahkannya untuk kembali, Cheonsa tetap berlari menuju luar sekolah.

Rasa khawatir menyelusup hati Kyuhyun. Ia tak tega membiarkan Cheonsa pergi sendirian. Maka dari itu, ia berinisiatif untuk menyusul Cheonsa.

***

Cheonsa, mungkin ini akan jadi surat terakhir dariku. Entah mengapa, aku merasa seperti itu. Cheonsa, aku telah mengetahui segala yang terjadi padamu mengenai kejadian tiga bulan lalu. Aku turut prihatin. Tapi satu pesanku, kau tak perlu menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan yang sama sekali bukan salahmu. Itu murni kecelakaan. Kau percaya takdirkan? Mungkin, itu bagian dari takdir hidupmu.

Gadis itu terus melangkah. Entah kemana, yang pasti ia ingin menemukan seseorang yang dicarinya sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Jangan pernah menganggap dirimu sebagai pembawa sial. Pada dasarnya,tak ada manusia yang dilahirkan sebagai seorang pembawa sial. Maka dari itu, jangan mengubah sifat ceriamu. Tetaplah tersenyum, sebagaimana mestinya. Aku yakin, senyumanmu sangat manis. Kau akan terlihat lebih cantik bila tersenyum, dibandingkan terus-menerus menunjukkan ekspresi datar dan dinginmu yang menyebalkan itu.

“Cheonsa-ya!” panggilan Kyuhyun tak urung membuat langkah Cheonsa terhenti. Ia terus menyisir bandara untuk menemukan sosok yang harus ditemuinya.

Cheonsa, saranghaeyo. Mungkin kau akan menolakku bila aku menyatakannya langsung padamu. Tapi percayalah, aku tulus mencintaimu. Entah sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh. Namun itu benar adanya. Bila kau menanyakan alasan, mengapa aku mencintaimu? Mungkin jawabannya karena, kau sangat sempurna dimataku. Apakah kedengerannya sedikit gombal? Yah, kuharap begitu. Ha-ha.

Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Pandangannya seidkit kabur akibat cairan bening yang memenuhi matanya. Namun, kaki Cheonsa tetap melangkah. Tak peduli tatapan orang-orang yang menganggapnya aneh. Yang ia mau, hanyalah bertemu dengan Donghae, meski kesempatannya hanya sedetik.

Cheonsa, aku minta maaf. Sepertinya, kita takkan pernah bisa bertemu lagi. Aku mengidap penyakit Botulism. Penyakit itu bertambah parah setiap harinya. Mom dan Dad berniat membawaku pergi ke New York untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Mereka berharap, aku masih dapat terselamatkan. Ya, kuharap doa mereka terkabul. Selama aku pergi, jaga baik-baik dirimu. Terimalah Kyuhyun sebagai penggantiku. Aku tahu dia juga menyukaimu. Terlihat dari caranya memandangmu, menolongmu, bahkan tersenyum padamu. Aku tahu, dia juga memendam perasaan yang sama terhadapmu.

Langkah kaki Cheonsa terhenti seketika. Matanya tertuju pada ruang check-in. Samar-samar, ia dapat melihat siluet tubuh Donghae yang berjalan gontai menuju escalator. Ia berlari secepat yang ia bisa. Sebelum semuanya terlambat, ia harus mendengar penjelasan langsung dari Donghae.

Kuharap, kalian dapat bahagia tanpaku.

Pertanda, pria yang akan selalu mencintai Han Cheonsa,

Lee Donghae.

“Donghae-ya!!!” pekik Cheonsa dengan sekuat tenaga.

Beruntung! Dengan sekali teriakan, Donghae dapat mendengar suara Cheonsa. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berlari menghampiri Cheonsa. Lalu, mereka berpelukan erat sekali. Dari kejauhan, Kyuhyun yang menyaksikan hal itu hanya bisa meremas ujung jasnya.

“Kenapa kau baru bilang kalau kau mencintaiku? Kenapa disaat kau akan pergi, kau baru mengatakannya padaku?” jerit Cheonsa disela tangisnya.

“Maaf. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Aku harus menjalani pengobatan di New York,” jelas Donghae.

Donghae melepaskan pelukan itu. Kedua tangannya meremas bahu Cheonsa pelan. Air mata yang mendesak keluar, dihiraukannya begitu saja. Donghae berusaha menguatkan dirinya. Ia mendongak, berharap air matanya tak menetes disaat-saat seperti ini.

“Maaf,” ulang Donghae.

Kepala Cheonsa menggeleng dengan gusar. Tangisnya pecah sudah. Donghae tak kuasa menyaksikan pemandangan dihadapannya. Tak berlangsung lama karena setelah itu, mata Donghae menangkap sosok Kyuhyun yang menatap mereka dari kejauhan.

“Kyuhyun-ah!!” panggil Donghae.

Sontak, Kyuhyun tersadar dari lamunan panjangnya. Ia mengerjapkan mata perlahan. Donghae mengisyaratkan Kyuhyun agar menghampiri dirinya. Kyuhyun mengangguk. Dengan gontai, kakinya melangkah menuju tempat Donghae berada.

Ketika Kyuhyun sampai disana, Donghae segera meraih tangan Kyuhyun dan Cheonsa. Dikaitkannya dua tangan tersebut. Baik Cheonsa maupun Kyuhyun, menatap tangan mereka yang saling bertautan dengan bingung.

Donghae tersenyum.”Aku tahu, kau juga menyukai Cheonsa. Jadi, jagalah dia untukku, Kyu. Aku harus pergi ke New York untuk melakukan pengobatan. Kuharap, kalian dapat berbahagia tanpaku,” kata Donghae.

Cheonsa menangis tersedu-sedu. Isaknya semakin keras. Dan untuk terakhir kalinya, ia memeluk Donghae sangat erat.

“Berjanjilah bahwa kau akan sembuh demi kami,” ucap Cheonsa.

“Aku..entahlah, Cheonsa-ya. Aku tak bisa berjanji. Tapi aku yakin, Kyuhyun dapat menjagamu, menggantikanku. Dia..juga sangat mencintaimu,”

Cheonsa melepaskan pelukannya dari Donghae. Matanya beralih menatap Kyuhyun yang tengah menundukkan kepalanya. Tanpa melepas pandang dari wajah Kyuhyun, Cheonsa berkata,”Baiklah, aku percaya bahwa Kyu mampu menjagaku,”

Seketika, wajah Kyuhyun terangkat. Kali ini wajahnya lebih berseri. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Cheonsa katakan. Refleks, pria jangkung itu memeluk tubuh Cheonsa erat sekali. Perlahan tapi pasti, Cheonsa membalas pelukan Kyuhyun. Donghae yang menyaksikan hal itu hanya bisa tersenyum. Meski berat melepas orang yang kau cintai untuk kedua kalinya, namun percayalah dengan takdir. Bila takdir telah mengatakan bahwa kau tak bisa hidup bersamanya, maka jalanilah. Karena takdir merupakan kuasa Tuhan yang tak dapat diganggu gugat.

 

-SOMEONE JUST CALLING ME ONNIE! I’M GOING TO EXPIRED AND IT SCARED ME TO DEATH! HELP!-

 

 

ha-ha, mian kalo gaje ya Sonia eonnie :p (i’m 97 lines.)

 

IJaggys go on speech: that’s the end of this contest, i hope i never getting any ‘onnie’ called again LOL Kidding thankyou so much for all readers who’ve been followed this post every 5days and lets hope the world canceled dooms because it was too early for me for face the end of the world i even haven’t got married yet why so hust in hurry? yeah lets hope in chops! LOL xoxo

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

7 responses »

  1. han gi says:

    wuah…ini donghaenya miris pisan😦

  2. siwon's wife says:

    endingnya ga ketebak, padahal berharap banget Cheonsa sama Donghae eh taunya malah sama Kyu. tapi keren kok ceritanya, pas baca yg akhirnya aja aku sampe nangisTT_TT oiya aku 98 line berarti lebih mudaan aku dong :p #proud *eh
    pokoknya oenni daebak lah ^^

  3. Annyeong i’m new readers🙂

    Wuaaahhhh endingnya bener-bener cetaarrr… Huaaaaa T___T Donghae Oppa…
    Walaupun endingnya gak sama Hae Oppa hiksss…hiksss T_T
    Tapi aku sukaaaaaaa kereeeennnnn chinguuu daebaakkk🙂

  4. it3uky says:

    nangis q baca’y….

  5. Mrs Choi says:

    mian ceritanya ko familiar banget y mirip sama ff i feel in love with trouble maker girls yg versi kyuhyun tpi awal-awalnya aja seh hehehe terakhirnya enggak cuma aga mirip aja gitu kisahnya😛

  6. mei says:

    Bagus banget ceritanya,… :’)

  7. sparEvil says:

    shit knpa ending kek gini –” kga ad sequel lagi
    gue berharap cheonsa cma ama donghae -_- what ever lah
    ini cma ff tpi ngefeel bget ><
    shrusny han ama hae mana knpa ff ny moment mreka cma secuin tpi long ff ini
    but, ini ff sempurna mnrut gue🙂
    nice ff ~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s