Brigitta Leslie

siwonbaby? HAHAHA.

@brigittaleslie/i don’t have nomor togel ;A;

ah, happy belated birthday donghae’s jaggy! wish you all the best & may god bless you foooorever. and may you got more branded things from your mom & dad(?) hmm, i can’t say anything more. i’m not that good on talking, doing presentation i’m not s0ekarn0’s daughter hahahaha what am i talking about. anyway, happy birthday once again miss branded. fyi my capslock won’t work that’s why no capital alphabet here #sharing hahahaha!

warning: this story may not be as good, better, best, great & wonderful as yours so… i’m so sorry ><

****

CHO KYUHYUN– mahasiswa dari KyungHeeUniversity jurusan Art yang memiliki seorang adik angkat bernama Han Cheonsa. Terkesan dingin kepada setiap wanita yang berusaha mendekatinya. Perasaan sayangnya sebagai kakak laki-laki terhadap Cheonsa perlahan berubah menjadi perasaan sayang sebagai pria terhadap wanita yang disebut orang sebagai cinta.

HAN CHEONSA– mahasiswi dari KyungHee University jurusan Music & Act, seorang yatim piatu dan ditemukan oleh kedua orang tua Kyuhyun pada saat ia berumur 7 tahun tepat setelah ayah dan ibunya pergi. Ia percaya pada apapun yang Kyuhyun katakan, termasuk kalimat yang selalu Kyuhyun ucapkan sejak mereka masih kecil: “perasaanmu terhadapku adalah perasaan sayang dan cinta seorang adik terhadap kakaknya, begitu juga sebaliknya.”

 

LEE DONGHAE– mahasiswa jurusan Music & Act di KyungHee University. Kekasih dari seorang Han Cheonsa. Ia cenderung diacuhkan oleh Cheonsa ketika sedang bersama Kyuhyun, bahkan ia tahu tentang perasaan Cheonsa kepada Kyuhyun tapi ia tidak pernah mengambil pusing hal itu dan selalu mencoba untuk sabar hanya karena satu hal: ia tidak ingin kehilangan Cheonsa.

 

CHOI HAN JI– mahasiswi di KyungHeeUniversity yang mengambil jurusan Design. Kekasih dari Kyuhyun yang terkenal dengan ketampanan serta ke’dingin’nannya terhadap setiap wanita yang mendekatinya. Bertemu pertama kali dengan Kyuhyun saat kampus mereka mengadakan pameran Art & Design. Awalnya ia tidak peduli dengan apa yang orang-orang simpulkan tentang kedekatan hubungan Kyuhyun dan Cheonsa. Tapi semakin lama, ia merasa semakin ragu terhadap perasaan Kyuhyun kepadanya.

 

 

 

 

 

 

 

CHO KYUHYUN.

 

Senyum sumringahku perlahan memudar mendengarnya diseberang sana yang tak kunjung merespon omonganku. Aku tahu pada akhirnya pasti akan seperti ini. Apa aku telah salah mengambil keputusan…? Apa aku menyakitinya?

“Cheonsa-ya!” kataku sedikit berteriak. Kudengar dirinya menghela napas yang terdengar berat sebelum akhirnya meresponku.

ChukkaeOppa…” jawabnya tercekat, terdengar seperti sedang menahan tangis.

“Cheonsa-ya? Kau tidak senang ya mendengar aku akan menikah?” tanyaku, terdengar bodoh. Sangat bodoh. Jelas saja dia tidak senang.

“A.. Aniyo oppa. Bukannya begitu. Aku sedang… Sedang tidak enak badan! Ya, aku sedang tidak enak badan. Sudah dulu ya oppa. Aku ingin istirahat. Sampai jumpa! Oh ya, aku tunggu undangan pernikahanmu. Jaljayo!” ujarnya terdengar ‘riang’ lalu tanpa menunggu jawabanku, ia segera memutuskan hubungan telepon kami.

Perkenalkan, aku adalah Kyuhyun. Cho Kyuhyun lebih tepatnya. Seseorang yang menganggap Cheonsa sebagai adik kandungnya sejak kami masih kecil. Seseorang yang menjaga Cheonsa sejak kami masih kecil hingga akhirnya Cheonsa tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Bohong kalau aku, seorang Kyuhyun tidak tahu perasaan khusus Cheonsa terhadapnya. Bohong kalau seorang Kyuhyun tidak memiliki perasaan khusus seperti yang Cheonsa rasakan. Bohong kalau seorang Kyuhyun ingin berhenti menjaga Cheonsa setelah Cheonsa menjadi wanita dewasa. Bohong kalau seorang Kyuhyun rela melihat Cheonsa bersama pria lain. Bohong kalau seorang Kyuhyun… Tidak mencintai Cheonsa.

Tapi aku, Kyuhyun, terus menepis perasaan cintaku terhadap Cheonsa. Aku tidak ingin suatu saat hubungan kami renggang hanya karena masalah percintaan. Aku tidak ingin suatu saat Cheonsa menjauhiku hanya karena masalah percintaan. Aku tidak ingin… Tidak ingin kehilangan Cheonsa. Sampai akhirnya aku berhasil menemukan seseorang yang bisa membuat hatiku berdetak dengan kecepatan diatas rata-rata seperti saat Cheonsa berada di dekatku. Dan sampai akhirnya, aku memutuskan untuk mempersunting gadis itu. Gadis yang sudah mengisi hari-hariku selama satu setengah tahun belakangan ini. Dialah Choi Han Ji.

***

HAN CHEONSA.

 

Hatiku sesak mendengar suara riang dari Kyuhyun yang berkata bahwa ia akan melamar gadis itu. Kenapa rasanya sangat sesak? Kenapa rasanya aku tidak rela? Bukankah cepat ataupun lambat semua ini pasti terjadi? Kyuhyun kan punya hak untuk mencintai seseorang selain aku. Aku kan hanya adiknya. Tapi kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali?

“Aku sedang menyukai seseorang, Cheonsa! Namanya.. Choi Han Ji. Kau tahu kan?”

                “Hari ini aku dan Han Ji pergi ke Lotte World dan menghabiskan waktu bersama hingga larut malam!”

“Besok aku akan menemuinya dan memintanya untuk menjadi kekasihku, Cheonsa-ah!”

“Kau tahu Cheonsa, sekarang aku dan Han Ji adalah sepasang kekasih! Dia menerimaku!”

                “Aku akan melamar Han Ji minggu depan, Cheonsa!”

 

Apa Kyuhyun tahu betapa sakitnya aku saat mendengar kalimat-kalimat itu? Apa Kyuhyun sadar ia telah berhasil membuatku kehilangan tiga perempat jiwaku saat ia mengatakan kalimat-kalimat itu dengan entengnya? Apa Kyuhyun tahu sekarang aku merasa sangat hancur? Tapi kenapa aku merasa seperti ini?

Namaku Han Cheonsa. Aku ditemukan oleh keluarga Kyuhyun saat ia masih berusia 7 tahun. Kedua orang tuaku sudah pergi jauh. Aku merasa bahwa sangat beruntung karena bisa merasakan kasih sayang dari orang tua lagi, dan juga seorang kakak. Kyuhyun selalu berkata bahwa rasa sayangku terhadapnya tidak pernah lebih dari rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, begitu juga sebaliknya. Aku percaya karena Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membohongiku dalam hal sekecil apapun.

Aku senang karena Kyuhyun selalu berada disampingku. Tapi lama-lama waktu Kyuhyun untukku semakin menipis bahkan sekarang, kami sudah jarang bepergian bersama. Dan itu semua karena gadis itu, Choi Han Ji. Kalau kalian berpikir aku membencinya, kalian salah besar. Sebaliknya, aku salut kepada gadis itu karena dia berhasil menaklukan hati seorang Cho Kyuhyun yang sudah sangat terkenal dengan sikap dinginnya terhadap gadis-gadis. Tapi tidak bisa kupungkiri, aku iri pada gadis itu.

***

LEE DONGHAE.

 

Aku melihat perubahan drastis ekspresi Han Cheonsa yang sedang duduk tepat dihadapanku dengan jelas. Aku tahu kenapa. Aku sangat tahu. Ini semua pasti karena orang yang baru saja menelponnya. Cho Kyuhyun. Kakak angkatnya yang sangat menyayanginya begitu juga sebaliknya. Bahkan semua orang pun tahu kalau mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka terlalu takut untuk mengetahuinya. Entah atas alasan apa.

“Han, apa kau menyukai Kyuhyun?”

                “Kyuhyun?! Menyukainya?! Hahahaha.. Jelas saja tidak, Donghae-ah. Tidak mungkin kan aku menyukai kakakku sendiri?”

                “Tapi kalian bukan saudara kandung, Han. Jadi wajar saja kan kalau perasaan itu ada?”

                “Tapi Kyuhyun selalu berkata padaku bahwa perasaanku terhadapnya adalah perasaan seorang adik kepada kakaknya. Begitu juga sebaliknya!”

 

Han Cheonsa.. Kau terlalu polos sampai-sampai kau tidak pernah menyadari perasaan itu. Kau mencintainya, Han.

Hai, namaku Lee Donghae. Aku adalah teman dari Han Cheonsa dan Kyuhyun. Kami sudah berteman sejak masih duduk di bangku SD. Jadi, tidak mungkin kan kalau aku tidak bisa melihat perasaan mereka terhadap satu sama lain? Lagipula, bukan hanya aku. Bahkan semua orang di kampus juga tahu. Kalau boleh jujur, aku menyukai– ah, bukan. Aku mencintai Han Cheonsa. Kami adalah sepasang kekasih. Tidak jarang dan juga tidak sedikit orang-orang yang mengasihaniku karena kedekatan Han Cheonsa dan Kyuhyun yang setiap kemana-mana selalu bersama. Kalian benar, aku cenderung diacuhkan oleh Han Cheonsa.

Bohong sekali kalau aku tidak cemburu. Kadang aku merasa sangat ingin marah. Tapi apa daya, aku tidak ingin ditinggalkan oleh Hanni. Aku tidak ingin kehilangannya karena aku sangat mencintainya. Entahlah, kalian tahu kan pepatah ‘cinta itu buta’? Mungkin itu adalah kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan perasaanku saat ini.

***

CHOI HAN JI.

 

Aku menatap Kyuhyun yang hanya mengaduk-aduk makanannya dengan tidak bergairah. Apa yang sedang terjadi? Apa ini berkaitan lagi dengan Han Cheonsa? Sebenarnya apa sih perasaan Kyuhyun terhadapnya? Banyak orang di kampus ini mengatakan bahwa Kyuhyun dan Cheonsa saling mencintai, hanya saja mereka tidak berani untuk mengakui hal itu. Tapi ketika aku bertanya pada Kyuhyun, jawabannya adalah tidak. Ia berkata bahwa ia hanya mencintaiku. Aku percaya padanya. Tapi, kenapa akhir-akhir ini rasa percaya itu semakin memudar?

“Kyunnie, apa kau ada waktu untukku besok?”

                “Besok? Aku harus pergi mengantar Cheonsa pergi ke suatu tempat, Ji-ya. Maafkan aku..”

                “Ah, tidak apa-apa kok. Aku pikir kau tidak sibuk. Kyu-ah…”

                “Hm?”

                “Apa… Kau mencintai Cheonsa?”

                “A-apa?! Mencintai Cheonsa? Apa kau gila, Ji-ya?  Tentu saja tidak! Sampai kapanpun aku… Akan terus menganggap Cheonsa sebagai… Sebagai adikku! Ya, adikku!”

 

Aku kembali mengingat dimana saat aku menanyakan tentang perasaannya terhadap Cheonsa. Dan aku baru sadar sekarang. Kenapa jawabanmu saat itu terdengar ragu, Kyu? Dan kenapa aku baru sadar sekarang, disaat hubungan kita sudah melangkah ke jenjang yang lebih serius? Kau bahkan sudah menyisipkan sebuah cincin perak di jari manisku–tanda bahwa aku adalah milikmu, walaupun belum secara resmi. Apa kau peduli terhadap perasaanku, Kyu? Aku sangat takut kalau kau benar-benar mencintainya. Aku takut kehilanganmu, Kyu…

Rasanya aku ingin sekali marah pada gadis bernama Cheonsa itu. Tapi kenapa? Kenapa aku tidak pernah bisa marah setiap kali aku berada di dekatnya? Matanya… Ya. Matanya yang berwarna coklat dan terlihat bening persis seperti anak bayi yang baru lahir dan tidak memiliki dosa apapun.. Mata yang sangat mirip dengan mata milik ibuku. Mata yang terlihat suci dan innocent. Siapa sebenarnya seorang Han Cheonsa itu?

***

AUTHOR.

 

Cheonsa berjalan dengan kaki yang diseret-seret. Badannya menjadi lemas dan tidak berdaya sejak menerima telepon dan mendengar kabar yang menyakitkan dari Kyuhyun kemarin. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Cheonsa mendongak kaget dan menghentikan langkahnya.

“Donghae? Ada apa?” tanyanya pelan, terdengar seperti bisikan. Donghae tersenyum lalu mengacak rambut halus gadis itu.

“Kutemani pulang, yah. Aku sedang tidak ada kerjaan.” tawar Donghae. Buru-buru Cheonsa menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau Donghae melihatnya yang sedang tidak ada gairah hidup.

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri kok. Kau pulang saja. Istirahat.” tolak Cheonsa sambil tersenyum. Donghae mendengus lalu memutar bola matanya.

“Berhenti berpura-pura menjadi gadis yang kuat, Han. Kau tahu kenapa akhir-akhir ini dadamu selalu terasa sesak? Kau tahu kenapa dadamu terasa sakit saat mendengar bahwa Kyuhyun akan melamar Han Ji?” tanya Donghae tidak sabar. Sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya di tanah. Cheonsa menggelengkan kepalanya dan menatap Donghae polos.

“Kau mencintainya, Han. Kau men-cin-ta-i-nya. Masih tidak mengerti juga? Masih ingin berkata bahwa perasaanmu kepadanya hanya perasaan cemburu seorang adik terhadap kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dan kasih sayangnya terhadapmu akan berkurang? Iya?” cecar Donghae membuat Cheonsa terdiam, terpojok. Donghae bahkan sudah hafal kalimat yang akan ia ucapkan.

“Mencintainya? Apa benar itu, Donghae? Lalu apa yang aku rasakan terhadapmu?” tanya Cheonsa polos. Donghae memejamkan matanya, berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata yang sudah mendesak keluar.

“Kau tidak pernah mencintaiku, Han. Kau bahkan tidak pernah menganggapku sebagai kekasihmu. Sekarang aku tanya, apa kau merasakan ‘sesuatu’ yang cenderung sering kau rasakan terhadap Kyuhyun? Misalnya berdebar-debar saat aku sedang berada di dekatmu?” tanya Donghae dengan sabar.

“…” Hening. Cheonsa tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasakannya. Ia selalu merasakannya ketika Donghae sedang berada di dekatnya. Hanya saja… Rasa itu berbeda ketika sedang berada di dekat Kyuhyun. Jantungnya berdetak dengan sangat keras, apalagi kalau Kyuhyun sudah mengajaknya berbicara dengan sangat serius.

“Sudahlah, aku pulang dulu. Hati-hati di jalan, Han. Sampai jumpa!” pamit Donghae tanpa menunggu jawaban keluar dari bibir mungil Cheonsa. Cheonsa menekan dadanya yang terasa sempit. Ia butuh udara. Ia butuh oksigen. Sekarang juga.

Donghae menendang-nendang dedaunan yang berada di depannya. Musim gugur sudah datang, dedaunan yang kering sudah mulai jatuh meninggalkan ranting pohon yang semakin lama semakin membotak. Donghae ingin, sangat ingin marah saat ini. Tapi entah kepada siapa ia harus melampiaskan kekesalannya. Ia tidak bisa memarahi Cheonsa walaupun hatinya sangat ingin. Ia terlalu sayang, terlalu mencintai Cheonsa. Ia takut ditinggal oleh Cheonsa.

“Han, sampai kapan kau akan bertahan dengan perasaanmu yang tidak akan pernah dibalas oleh Kyuhyun? Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas, bahwa ada aku dihadapanmu? Aku yang selalu ada untukmu, Han. Aku yang selalu menemanimu. Aku mencintaimu. Apa kau tidak bisa merasakan itu?” tanya Donghae lebih kepada dirinya sendiri. Tanpa ia sadari air mata sudah membasahi wajah tampannya…

***

Kyuhyun menatap gadis dihadapannya yang sedang membolak-balik buku menu sembari menunggu pesanan mereka datang dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti tatapan… Merasa bersalah, dicampur dengan tatapan bahagia dan juga nanar. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran pria itu. Han Ji, gadis yang sedang ditatap oleh Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun bingung.

“Kyuhyun? Ada apa?” tanyanya dengan tangan yang dilambai-lambaikan tepat di depan wajah Kyuhyun. Kyuhyun mengerjapkan matanya kemudian menggeleng lalu mengelus kepala Han Ji. Membuat gadis itu tersenyum manis.

“Han Ji, bagaimana kalau pertunangan kita diadakan minggu depan?” tanya Kyuhyun tiba-tiba yang membuat Han Ji terdiam.

“Kau… Serius?” tanya Han Ji lalu menggigit bibirnya keras. Hatinya berdegup sangat kencang. Bukan, bukan karena ia senang atau deg-degan. Tapi karena ia merasa takut.

“Kenapa? Kau meragukanku? Atau kau lebih percaya pada gossip-gossip murahan itu yang mengatakan bahwa aku memiliki perasaan khusus terhadap Cheonsa?” tanya Kyuhyun lirih. Buru-buru Han Ji menggelengkan kepalanya, walau sebenarnya hatinya berkata ‘iya’.

“Kalau begitu, baiklah. Minggu depan kita akan melaksanakan pertunangan kita. Kapan bertemu… Dengan orang tuaku?” tanya Han Ji sedikit ragu. Kyuhyun tersenyum penuh arti lalu mengecup punggung tangan Han Ji.

“Setelah makan siang ini, aku akan mengantarmu pulang sekaligus berbicara dengan orang tuamu.” jawab Kyuhyun yakin. Han Ji menyunggingkan senyum… terpaksanya. Ia terlalu takut untuk berbicara semakin jauh. Ia terlalu takut untuk ditinggal oleh Kyuhyun. Ia terlalu mencintai pria yang ada dihapannya ini.

Kyuhyun berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak. Apa keputusan yang ia ambil benar? Jujur saja, ia mencintai Cheonsa. Tapi disisi lain, ia juga mencintai Han Ji. Dan ia memilih Han Ji, terlebih karena ia tidak ingin mengecewakan kepercayaan Cheonsa terhadapnya. Bahwa rasa sayangnya terhadap Kyuhyun hanyalah rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, begitu juga sebaliknya.

***

Cheonsa memutar kepalanya kesana kemari, mencari sosok Lee Donghae yang sudah lebih dari 2 hari tidak ia lihat. Kemana pria itu? Bahkan Donghae sama sekali tidak menghubunginya sejak terakhir kali mereka bertemu saat itu. Sedikit perasaan bersalah menghinggapi hati Cheonsa. Cheonsa berjalan menuju mobilnya dan menyetir dengan kecepatan sedikit tinggi ke rumah Donghae.

Cheonsa memencet bel rumah Donghae dan tidak lama kemudian pintu rumah dibuka oleh seorang pelayan berpakaian serba putih. Hanni membungkukkan tubuhnya lalu tersenyum kepada pelayan itu, yang lebih sering ia panggil sebagai Jung Ahjumma. Pelayan itu, seakan sudah tahu maksud kedatangan Cheonsa, dengan cepat melangkahkan kakinya mendahului Cheonsa, bermaksud untuk mengantarkan Cheonsa ke kamar Donghae. Tapi buru-buru Cheonsa menahan tangan wanita yang sudah berumur itu.

“Aku bisa naik sendiri ke atas, ahjumma. Ahjumma lanjutkan pekerjaan ahjumma saja.” tolak Cheonsa halus. Jung Ahjumma mengangguk lalu meninggalkan Cheonsa yang mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Donghae.

Donghae mendelik saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Tadi ia sudah mengatakan kepada Jung Ahjumma untuk segera masuk tanpa harus mengetuk pintu kamarnya jika ada keperluan sesuatu. ‘Kenapa sekarang ia mengetuk pintunya lagi? Apa Jung Ahjumma sudah pikun?’ tanya Donghae dalam hati. Susah payah ia mengumpulkan suaranya.

“Masuk.” ucapnya susah payah serta serak.

Cheonsa membelalakan matanya saat mendapati Donghae yang terkulai lemas diatas ranjang dengan wajah pucat dan datar. Ia melemparkan tasnya ke sembarang arah dan menghampiri Donghae yang terlihat benar-benar tidak berdaya. Cheonsa menempelkan punggung tangannya ke kening Donghae dengan hati-hati.

“Astaga, Donghae! Kenapa bisa panas seperti ini? Kau… Kau hujan-hujanan ya?!” pekik Cheonsa saat merasakan panasnya tubuh Donghae. Donghae tersenyum lemah.

I’m okay. You must go back to your home now. Kakakmu pasti sangat cemas karena kau tak kunjung pulang ke rumah.” kata Donghae sambil menyingkirkan tangan Cheonsa dari keningnya. Cheonsa langsung menatapnya garang.

“Sudah sakit, masih bisa menyindir! Tunggu disini, aku akan mengambilkan kompres untukmu!” kata Cheonsa kesal lalu sudah akan pergi menuju pintu kamar Donghae kalau saja tangannya tidak ditahan Donghae.

“Pulanglah. Ini sudah sore, Han. Jangan membuat Kyuhyun cem–“ belum selesai Donghae berbicara, Cheonsa menepis tangan Donghae lalu keluar dari kamar kekasihnya itu. Membuat Donghae tersenyum kecil, mendapati Cheonsa yang masih peduli padanya.

Cheonsa tersenyum penuh arti saat kembali ke atas dengan baskom kecil berwarna biru di tangannya dan mendapati Donghae sedang tertidur. Cheonsa berjalan mendekati Donghae dan mulai mengompres kekasihnya. Setelahnya, ia memperhatikan wajah damai Donghae yang sedang tidur. Dan tanpa ia sadari, jari telunjuknya bergerak mengelus pipi mulus Donghae dan berhenti tepat di bibir pria itu. Cheonsa menatapnya sedikit lama kemudian mencondongkan tubuhnya dan mencium kilat bibir Donghae, lalu ia terkikik sendiri.

***

Kyuhyun menatap tajam saat melihat mobil sport berwarna kuning milik gadis itu masuk ke halaman rumah. Tidak lama kemudian Cheonsa turun dengan tas yang juga berwarna senada dengan mobilnya. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang lelah. Kyuhyun menghampirinya dengan tidak sabaran.

“Darimana saja?” tanya Kyuhyun tajam, membuat Cheonsa mengernyit.

“Rumah Donghae. Dia sakit jadi aku–“

“Sudah berapa kali aku katakan jangan pulang lebih dari jam lima sore? Kalau sampai terja–“

“Berhenti memberi perhatian yang berlebihan kepadaku, Kyuhyun. Cukup! Semua perhatian yang kau berikan itu sama saja dengan kau memberiku harapan!!!!” pekik Cheonsa histeris, membuat Kyuhyun melebarkan matanya tidak percaya.

“Maksudmu… Apa, Cheonsa?” tanya Kyuhyun sedikit tercekat.

“Aku mencintaimu, Kyuhyun! Aku men-cin-ta-i-mu!!! Perasaan sayangku kepadamu telah berubah menjadi perasaan cinta seorang wanita kepada seorang pria!!” jawab Cheonsa histeris, lagi. Kali ini dengan wajahnya yang basah oleh air mata. Kyuhyun berusaha menghirup napas sebanyak-banyaknya, berusaha mengisi paru-parunya dengan oksigen yang terasa semakin menipis.

“Aku sudah pernah bilang padamu bahwa pera–“ belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kata-katanya, Cheonsa sudah melesat masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya yang terdiam, entah harus berbuat apa.

Kyuhyun mengangkat kepalanya, berusaha menahan air mata yang sudah akan keluar. Ia tidak pernah menyangka bahwa Cheonsa akan mengatakan secara terus terang tentang perasaannya. Kyuhyun meremas kedua tangannya dan berdoa, berharap Cheonsa akan lupa dengan kejadian malam ini dan kembali seperti biasanya, seakan tidak pernah terjadi apapun diantara mereka berdua.

Cheonsa menyeka air matanya yang tidak kunjung berhenti keluar. Ia sendiri tidak menyangka berani mengatakan hal yang selama ini ia pendam kepada Kyuhyun. Tapi entah kenapa, sekarang hatinya terasa lebih ringan. Cheonsa menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya keras. Berhasil! Sekarang air matanya sudah tidak keluar lagi. Cheonsa menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lalu memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap.

***

Han Ji semakin hari semakin resah mendapati Kyuhyun yang lebih sering melamun. Han Ji tahu betul apa yang sedang berkeliaran di pikiran Kyuhyun. Kalau dulu ia berusaha untuk tidak terlalu ambil pusing, kali ini ia benar-benar tidak tahan. Ia tidak mau hari pertunangannya yang akan diadakannya besok hancur hanya karena gadis itu. Han Ji memutar bola matanya ketika mendapati Kyuhyun yang sedang melamun lagi di cafeteria kampus.

“Kyu!” kaget Han Ji dari belakang. Kyuhyun membalikkan kepalanya dan menatap Han Ji lalu tersenyum.

“Hey, nanti siang jadi fitting untuk pertunangan kita nanti kan?” Han Ji terdiam mendengar pertanyaan Kyuhyun. ‘Kenapa kau harus selalu membohongi perasaanmu, Kyu? Kenapa? Hatiku sakit.. Sangat sakit mendengarmu berkata seperti itu. Kau bahkan tidak pernah mencintaiku, tapi kau selalu berusaha untuk terlihat bahwa kau mencintaiku didepanku. Itu menyakitkan, Kyu..’ batin Han Ji yang sekarang sangat ingin menangis.

“Ji?” panggil Kyuhyun yang membuat Han Ji tersentak lalu mengangguk mengiyakan.

“Oke, sekarang aku harus masuk kelas. Nanti siang kutunggu di parkiran ya. Jangan terlambat!” ancam Kyuhyun dengan nada bercanda lalu memeluk dan mencium kening Han Ji sekilas lalu berlalu meninggalkan Han Ji yang terpaku.

Cheonsa terpaku melihat adegan mesra yang terjadi di depannya. Terasa sesak memang. Tapi Cheonsa mencoba untuk menepis perasaan itu. Ia ingin melupakan Kyuhyun. Ia ingin memulai hidup barunya bersama dengan Donghae. Ya, Donghae.

“Donghae! Kau sudah makan? Kalau belum, mau makan apa?” tanya Cheonsa dengan wajah sumringahnya. Donghae terdiam sesaat dan menatap Hanni dalam.

“Donghae?” panggil Cheonsa membuyarkan lamunan Donghae. Pria itu mengerjapkan matanya sebelum akhirnya menjawab.

“Ah? Aku… Tidak lapar.” jawabnya jujur atau… mungkin bohong. Sejak tadi pagi ia belum makan, sebelum sampai kantin perutnya memang sudah berteriak-teriak ingin makan. Tapi melihat tatapan Hanni yang menatap nanar kejadian di belakang tubuhnya –ia sudah tahu pasti apa dan siapa yang ditatapnya–, mendadak rasa laparnya hilang.

“Benarkah? Tapi aku lapar, Donghae. Dan aku akan makan kalau kau juga makan. Aku tahu kau belum makan sejak pagi.” kata Cheonsa menuntut. Donghae tersenyum sekilas. ‘Sejak kapan Han berubah menjadi perhatian seperti ini? Ah, pasti ini hanya karena kejadian tadi.’ batinnya miris.

“Kalau begitu aku ingin makan ramyun. Kau?”

“Aku juga!” jawab Cheonsa ceria lalu berjalan mendahului Donghae.

***

Siwon menatap Han Ji yang sedang makan dalam diam dihadapannya. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh membasahi pipinya. Han Ji yang merasa diperhatikan segera mendongakkan kepalanya dan kaget saat menatap Siwon yang terlihat sedang menangis.

Appa…” panggil Han Ji hati-hati. Siwon tersadar dari lamunannya dan tersenyum penuh kasih sayang.

“Ada apa?”

Appa menangis?” tanya Han Ji dan berhasil membuat Siwon salah tingkah. Siwon memegang pipinya dan kaget saat merasakan tangannya basah.

“Ah, tidak, tidak. Lanjutkan makanmu, sayang. Appa lelah. Appa tinggal ya? Tidak apa-apa kan?” Han Ji mengangguk lalu Siwon pergi meninggalkannya yang terheran-heran.

Siwon merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar berukuran king size miliknya. Tangannya membuka laci meja yang terletak di sebelah ranjangnya dan mengambil frame photo berukuran sedang. Siwon menatap ketiga insan yang ada di dalam foto itu sambil sesekali mengusapnya. Air matanya menetes, lagi.

“Jung Ri-ah.. Apa kabarmu disana? Aku harap kau baik-baik saja. Jung Ri-ah, maafkan aku karena belum bisa menemukan anak kembar kita yang satu lagi hingga sekarang. Aku mohon, Jung Ri-ah, berikan aku petunjuk. Aku sangat ingin bertemu dengannya…” kata Siwon sambil terisak.

“Kau tahu Jung Ri-ah, sebentar lagi, Han Ji akan bertunangan dengan seorang pria yang bernama Kyuhyun. Aku sudah pernah bertemu dengan Kyuhyun, dia anak yang baik. Kuharap kau juga merestui hubungan mereka berdua, JungRi…” lanjutnya, kali ini dengan senyuman.

Siwon mencium frame photo itu lalu meletakannya dengan hati-hati ke dalam tempatnya semula lalu ia berdoa, berharap bisa menemukan anaknya yang hilang saat masih bayi. Setelahnya ia merebahkan lagi tubuhnya dan memejamkan matanya.

***

Cheonsa menatap Kyuhyun yang sedang merapikan tuxedo-nya dengan nanar. Hari ini adalah hari pertunangan Kyuhyun, yang artinya sebentar lagi Kyuhyun akan menjadi milik orang lain dan waktunya untuk Cheonsa akan sangat berkurang. Perlahan Cheonsa mendekati Kyuhyun yang masih sibuk dengan tuxedo-nya.

“Kyuhyun…” panggil Cheonsa pelan. Kyuhyun menghentikan aktivitasnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Cheonsa.

“Cheonsa? Sedang apa dis–“

“Aku minta maaf atas apa yang telah aku katakan kemarin. Aku mohon, lupakan semuanya. Maybe I was drunk when I’m saying that words. Kyuhyun, kuharap kau bahagia bersama Han Ji. Ah, tidak, kau memang harus membahagiakannya! Chukkae, oppa!” potong Cheonsa panjang lebar lalu tersenyum dan menghambur ke pelukan Kyuhyun.

“Cheonsa, aku mohon jangan seper–“

“Aku sudah harus kembali ke depan, Kyu. Donghae sudah menungguku. Jangan terlalu lama berada disini kalau kau tidak mau dikira kabur oleh orang-orang.” potong Cheonsa lagi, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi Kyuhyun. Diam-diam ia meneteskan air matanya.

Donghae menatap Cheonsa yang berjalan keluar dari ruang rias Kyuhyun. Gadis itu terlihat sedang menundukkan kepalanya, dengan tangan berada tepat di depan wajahnya. Donghae tahu, gadis itu pasti habis menangis. Semakin lama Cheonsa berjalan semakin mendekat lalu tanpa Donghae duga, Cheonsa memeluk Donghae dengan sangat erat. Menyembunyikan kepalanya di dada bidang Donghae.

“Donghae…” panggil Cheonsa lirih. Donghae melingkarkan tangannya di pinggang Cheonsa dan balas memeluk gadis itu erat.

“Hm?”

“Bagaimana kalau kita menikah?” tanya Cheonsa tiba-tiba dan berhasil membuat Donghae tersedak oleh air liurnya sendiri.

“A-apa kau bilang?” tanya Donghae sekali lagi. Berharap ia salah dengar.

“Kita menikah. Besok, atau lusa atau minggu depan. Terserah padamu. Bagaimana?” tanya Cheonsa, masih bersandar pada dada bidang Donghae. Donghae menggigit bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa.

“Han, aku tahu kau sedang hancur saat ini karena pertunangan Kyu–“

“Tidak, Donghae-ah!!! Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku tidak mencintai Kyuhyun?! Bisa tidak untuk mengerti aku?! Aku tidak mencintai Kyuhyun!! Aku hanya…” Cheonsa terdiam, tidak tahu harus melanjutkan apa.

“Hanya apa? Apa?” Donghae melepaskan pelukannya dan mendorong Cheonsa menjauh.

Tiba-tiba Cheonsa terduduk di lantai sambil terisak hebat. Donghae panik melihat Cheonsa yang masih terus menangis. Donghae melihat sekitar dan untungnya tidak ada orang. Kalau tidak pasti Donghae sudah dituduh yang macam-macam. Perlahan Donghae berjongkok di hadapan Cheonsa dan menarik tangan gadis itu, lalu memeluknya erat.

“Jangan menangis. Baiklah kalau itu maumu. Kita menikah, minggu depan.” kata Donghae pasrah, membuat Cheonsa semakin terisak hebat karena merasa bersalah.

“Donghae…” panggil Cheonsa lirih, masih terisak.

“Ayo, acara sebentar lagi akan dimulai.” Donghae menarik tangan Cheonsa berdiri tanpa memperdulikan panggilan gadis itu.

***

Siwon menatap Han Ji yang tersenyum bahagia dari kursi para tamu. Ia tidak menyangka Han Ji kecilnya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dan bahkan sebentar lagi ia harus rela melepaskan Han Ji sepenuhnya. Siwon kemudian memutar kepalanya, melihat tamu-tamu undangan yang juga sedang tersenyum melihat Han Ji dan Kyuhyun yang sedang menukar cincinnya. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada satu sosok gadis yang sedang menatap Han Ji dan Kyuhyun dengan tatapan kosong. Matanya sembab dan bengkak. Tapi itu semua tidak bisa menutupi bola matanya yang berwarna coklat dan terlihat bening seperti anak bayi yang baru lahir. Mulut Siwon menganga melihat mata itu. Mata yang sangat mirip dengan mata milik istrinya. Tanpa Siwon sadari, kakinya bergerak melangkah menuju gadis itu.

Agasshi..” panggil Siwon, menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Ada apa, ahjussi?” tanya gadis itu dan berhasil membuat Siwon terhenyak. Suara itu… Mirip dengan suara istrinya.

“Siapa namamu?” tanya Siwon yang membuat gadis itu bingung.

“Cheonsa, Han Cheonsa.” jawabnya, masih penuh kebingungan.

“Han, aku– Oh.. Sedang ada tamu. Annyeonghaseyo, ahjussi.” Donghae membungkuk saat melihat Siwon yang sedang berbicara dengan Cheonsa. “Han, aku harus pergi keluar sebentar. Tidak lama. Permisi ahjussi.” lanjutnya lagi kemudian pergi menjauh.

“Dia… Siapa?” tanya Siwon kepada Cheonsa. Cheonsa tersenyum kemudian menjawab.

“Lee Donghae. Dia kekasihku, ahjussi. Ngomong-ngomong, apa kita saling mengenal?” tanya Cheonsa. Akhirnya pertanyaan yang daritadi berputar diotaknya terlontarkan juga. Siwon terlihat salah tingkah kemudian tersenyum.

“Aku Siwon. Choi Siwon. Boleh aku tahu siapa nama kedua orang tuamu?” tanya Siwon hati-hati. Han Cheonsa terlihat bingung tapi seketika ia mengangguk.

“Han Chae Ri dan Park Jung Soo.” jawab Cheonsa dan berhasil membuat Siwon terkejut dengan hebat.

“H-Han Chae Ri…?” tanya Siwon lebih kepada dirinya sendiri.

“Habis ini… Apa kau ada acara, Cheonsa?” tanya Siwon, berharap gadis itu mengatakan tidak.

“Tidak ada, ahjussi. Memang kenapa?” tanya Cheonsa polos. Siwon tersenyum kemudian mengusap lembut kepala Cheonsa.

“Aku mau kau ikut denganku setelah ini, ya?” Cheonsa terlihat sedikit ragu tapi akhirnya ia mengangguk mengiyakan.

Cheonsa menatap Siwon yang sekarang sudah menetapkan pandangannya lurus. Ia merasa ada sesuatu dalam diri pria ini. Hatinya terasa hangat saat berbicara dengan Siwon, seakan-akan mereka sudah mengenal satu sama lain dengan lama. Seakan-akan… Siwon adalah ayah kandungnya.

***

Cheonsa memegang erat tangan milik Donghae saat memasuki rumah mewah milik Siwon. Ia meninggalkan Kyuhyun dan Han Ji yang tadi ia lihat masih berada di gereja karena Siwon menyuruhnya untuk mengikutinya ke rumah Siwon.

“Kalian mau minum apa?” tanya Siwon ramah.

“Terserah ahjussi saja.” jawab Donghae sopan sekaligus mewakili jawaban Cheonsa.

Setelah tiga gelas minuman yang berisi sama dibawa oleh pelayan rumah Siwon, lalu kembali pergi meninggalkan mereka. Siwon menghela napasnya dulu, berusaha menenangkan jantungnya yang sedaritadi tidak berhenti  berdetak dengan kencangnya.

“Cheonsa-ya…” panggil Siwon dan membuat hati Cheonsa mencelos seketika. Panggilan dari Siwon barusan membuat hati Hanni terasa sangat hangat, entah kenapa.

“Ya?”

“Aku… Entah aku harus memulai darimana.” jawab Siwon terlihat bingung. Donghae yang mengerti keadaan langsung bangkit dari duduknya tapi dengan sigap Cheonsa menahan tangannya dengan erat.

“Kurasa kau dan Siwon ahjussi perlu waktu untuk berbicara empat mata. Aku akan menunggu di depan, Han.” kata Donghae sambil tersenyum hangat kepada Cheonsa lalu melepaskan pegangan erat Cheonsa pada tangannya dan meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.

“Dia anak yang baik..” kata Siwon memecahkan keheningan. Cheonsa mengangguk mengiyakan.

“Hanya saja aku terlalu sering mengacuhkannya…” jawab Cheonsa lirih. Siwon hanya tersenyum menanggapi kata-kata Cheonsa barusan.

Hening.

“Han Cheonsa… Aku ini… Aku ini ayahmu…” ucap Siwon tiba-tiba yang membuat Cheonsa tersentak, menatapnya bingung seakan meminta penjelasan.

“Aku… Maksudku, kami–aku dan istriku– kehilanganmu saat kau belum genap dua minggu. Saat perawat sedang akan mengambilmu dan Han Ji untuk diberi ASI oleh ibu kalian.” jelas Siwon lirih.

“Han Ji?” tanya Hanni kaget. ‘Han Ji? Mengambilmu dan Han Ji? Apa maksudnya?’ tanya Cheonsa dalam hati.

“Kau dan Han Ji… Adalah kembar.” jawab Siwon dengan sangat pelan tapi telinga Cheonsa dapat menangkapnya dengan jelas.

“Lalu… Siapa Han Chae Ri eomma dan Park Jung Soo appa?” tanya Cheonsa bingung.

“Mereka adalah pelayan di rumah kami. Mereka adalah sepasang suami istri. Tanpa aku ketahui, Han Chae Ri… Dia memiliki perasaan khusus terhadapku. Tapi aku tidak pernah menanggapinya karena aku sudah memiliki ibumu. Dia marah. Sangat marah. Dan mungkin saat kalian baru lahir, dia mengambil salah satu dari kalian.” jelas Siwon panjang lebar, membuat Cheonsa meneteskan air matanya tidak percaya. Siwon lalu berdiri dari duduknya dan duduk disamping Cheonsa, memeluknya.

“Apa kau dirawat dengan baik oleh mereka? Apa mereka menyayangimu? Apa mereka–“

“Mereka tidak pernah jahat terhadapku… Appa…” jawab Cheonsa memotong omongan Siwon. Siwon terdiam mendengar Cheonsa memanggilnya ‘Appa’.

Appa… Appa sudah lama mencarimu, Cheonsa-ah. Appa sangat merindukan bayi kecil appa.” kata Siwon sambil terisak dan masih memeluk Cheonsa yang juga menangis.

Appa Eo-eomma…?” tanya Cheonsa setelah melepaskan pelukannya. Siwon menundukkan kepalanya.

Eomma-mu… Dia meninggal saat kalian berumur 4 tahun karena kanker.” Cheonsa menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa menyesal telah menanyakan tentang ibunya.

“Maaf, maafkan aku karena–“

“Tidak apa-apa, Cheonsa.” Siwon tersenyum tulus kemudian mengelus kepala Cheonsa.

Cheonsa membalas pelukan Siwon dengan erat. Ia tidak pernah menyangka bahwa Siwon adalah ayah kandungnya, bukan Park Jung Soo. Juga ia tidak menyangka bahwa ia dan Han Ji adalah sepasang anak kembar. Kalau kalian bertanya ia marah atau tidak kepada Park Jung Soo, ia sama sekali tidak marah. Ia bersyukur telah di didik dan di perlakukan dengan baik oleh Park Jung Soo dan Han Chae Ri.

Donghae tanpa sengaja mendengar percakapan mereka saat ia akan kembali untuk mengambil ponselnya. Donghae berjalan mendekati keduanya dan berhenti, menatap mereka sambil tersenyum. Lalu ia memberanikan dirinya untuk berbicara.

Abeonim…” panggilnya sambil tersenyum jahil. Siwon dan Cheonsa saling melepas pelukan mereka dan menatap Donghae. Siwon menatap Donghae sambil tersenyum sedangkan Cheonsa menatapnya dengan death glare-nya.

“Jadi, kapan kau akan menikahi Cheonsa?” tanya Siwon sambil menahan tawa, membuat Cheonsa membeku di tempatnya.

“Emm, kemarin Han memintaku untuk menikahinya minggu depan, Abeonim.” jawab Donghae polos dan berhasil membuat pipi Cheonsa memanas.

“Apa?!! Cheonsa yang memintamu untuk–“

Appa!!!” protes Cheonsa sambil memasang tampang cemberut. Siwon tertawa kemudian berdiri dan menatap Donghae dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian menatap Cheonsa yang terlihat bingung.

“Baiklah, kalau begitu kalian menikah minggu depan.” kata Siwon yang membuat Donghae tersenyum lebar kemudian menghampiri Cheonsa dan memeluknya erat.

I love you..” bisik Donghae tepat di telinga Cheonsa.

 

 

-HAHAHAHA I’M TITLED THIS FF BY MYSELF LOL SWEETS TRIANGLE-

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

4 responses »

  1. Jalan ceritanya diluar darii yang saya duga..
    Keren thor..
    Siwon jadi duren😀
    baru pertama nemu ff yang jadiin Siwon sebagai pemeran orangtua..
    Meskipun uudah tua tapi pasti gantengnya gak berkurang..
    Hhahahaha…

  2. EvitaKipson says:

    Siwon jadi mertua Donghae Kyuhyun? wkwkwk aura bapak2nya dapet sih emang._. *eh haha–v
    Duh Cheonsa suka sama Donghae kan.nanti ya? :”””) /pray/

  3. inggarkichulsung says:

    kyeopta banget story nya, akhirnya Cheonsa bertemu ayah kandung nya dan merelakan Kyu oppa bersama han Ji.. Aigoo jadi dua saudara kembar ini dua2nya akan menikah sebentar lagi.. Lucu nya

  4. ani gaje says:

    hallo.. reder baru ne.. aku suka ff”a.. cheonsa ma donghae ja ya..
    aku tunggu lanjutannya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s