WITHOUT YOU

Nama pena: tikabs/@tikabs

***

 

Langit seolah hendak menangis. Abu-abu kelam kerap kali mencuri pandangku. Bagai hatiku, bumi ini tak jenuhnya menangis. Tanahnya belum becek. Batunya masih kering. Namun sedetik kemudian?

Dingin sekali. Kunobatkan langit ini sebagai sang empu awan paling kelabu. Kusematkan penghargaan pada hawa dingin ini atas suhunya yang begitu menyiksa. Memaksa jantungku bekerja keras memompa berliter-liter darah untuk menghangatkan tubuhku. Mungkin inilah malam terdingin yang telah aku lalui hampir selama dua tahun ini, tanpamu. Perih. Jauh lebih ngilu dari yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Sering kali aku menutup kelopak mataku. Menghitung dalam hati satu-dua-tiga. Kubuka mataku, berharap kau ada disana, di depanku. Namun, apa yang terjadi? Kala kubuka mataku, hanya bayangan senyummu yang berputar-putar acak di benakku.

Andai ada kata yang dapat mengungkapkan rasaku ini, selain kata-kata sepopuler ‘galau’ ataupun yang lain. Andai ada rasa yang dapat mengungkapkan kataku ini, selain perasaan berdosa saat ‘berdusta’ ataupun yang lain. Lengkung senyum bibirku bagai tak merasa ber-khilaf, mengembang di hadapan mereka, membohongi mereka. Mengibaratkan bahwa tidak ada satupun hal buruk yang telah terjadi padaku.

Aku kuat. Meski hanya fisik. Aku tegar. Meski hanya raut wajah. Aku bangkit. Meski hanya kata-kata. Miris, kan? Namun inilah kenyataannya. Kecerobohanku yang dengan lantangnya meruntuhkan beton cinta kita yang telah terjalin selama satu tahun. Aku tak paham, siapa yang salah? Kau-kah? Aku-kah? Entahlah, aku tak begitu yakin. Semuanya kini tampak semu-samar di benakku.

Persis seperti drama remaja favorit. Aku membencimu – kita semakin dekat – kita jatuh cinta – dan kita membangun hubungan sebagai sepasang kekasih. Sungguh. Kisah cintaku ini bermula dengan awalan yang begitu renyahnya. Namun akhirannya?

Membuka lembar kelam waktu lalu memang begitu berat. Tapi ini hanya seonggok naskah yang mencatat betapa perihnya kisahku. Kau, siapapun kau yang membaca ini. Kumohon nikmati romansa ini. Tersenyumlah dan jangan meratapinya, sepertiku.

**

“Malam ini?” kutautkan kedua sisi alisku, cemas. “Aku takut, aku tak bisa.” tambahku. Donghae memicingkan matanya kecewa.

“Tapi kau sudah berjanji padaku, cheonsa.” Eh?

Janji? Sebentar. Janji apa? Kapan aku mengucapkannya? Aku pun berkerut bingung. Donghae menghembuskan nafasnya berat, mungkin karna sudah menduga semu yang berkelebat di dalam kepalaku. Mungkin juga, ia jengah melihat ekspresi bingung yang kerap kali ia temui di parasku. “Kau lupa? Seminggu yang lalu aku mengajakmu dinner. Dan kau bilang, kau bisa,” tambahnya.

Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa melupakannya? Aku baru ingat, seminggu yang lalu, ia memohon-mohon padaku untuk bisa meluangkan waktu makan malamku bersamanya, dan aku menyanggupinya.

Hening. Aku hanya diam, tak berani menjawab apa-apa. Babo! Kenapa aku harus lupa dengan janji itu?

“Sudah kuduga…” singkatnya.

“Mian, mungkin besok… Malam ini aku harus menemani eomma pergi ke bandara.” sesalku, dalam sekali. Semoga dia merasakan penyesalanku ini, sehingga ia tak berpikir yang aneh-aneh tentangku. Jeongmal, malam ini eomma akan berangkat ke paris dan dia memintaku untuk mengantarnya ke bandara, tepat pukul tujuh.

Donghae kembali menghembuskan nafasnya berat. Untuk yang kesekian kalinya, ia bergumam tak jelas. Aku tau dia kesal. Sangat kesal. Tapi aku juga tak dapat serta merta membatalkan janjiku pada eomma. Terhitung 2tahun dari malam ini, eomma harus stay di kota romantis itu untuk mengurus bisnis produksi tasnya. Jadi, seharusnya ia memakluminya, kan?

“Kau sibuk sekali…” dengusnya, sembari melempar pandang ke arah lain.

“Jeongmal, mianhaeyo…” aku merengkuh kedua telapak tangannya ke genggamanku. Tapi segera ia lepaskan, bagai menolak hangat dekapan telapakku. Ah, apakah ia se-marah itu?

Ia menatap mataku dalam. Seakan bertualang mencari kebenaran dalam ucapanku. Mungkin ia sedang mempertimbangkan, akan memaafkanku atau tidak. Entahlah, aku juga tak berharap untuk dimaafkan. Aku hanya berharap untuknya agar bisa memahamiku.

“Kurasa, kau sudah tidak menyayangiku lagi. Sekarang kau sudah punya dunia sendiri, dan enggan membaginya denganku. Ya, kan? My beloved Han Cheonsa?”

Deg!

“Mwo? Teganya kau… aku sangat menyayangimu.” sesuatu memanas dan berlomba-lomba mencapai pelupuk mataku. Rasa panas itu lantas menimbulkan sungai kecil disana. Hangat. Aku ingin segera meluapkan ini. Tidak-kah ia tau? Aku sangat mencintainya. Sebukit kata-kata baku pun rasanya tak akan cukup untuk mengungkapkan ini. Aku hanya butuh toleransi darinya. Aku cuma butuh beberapa jam dalam seminggu untuk berburu waktu, bersaing dengan my grandma’s crowded business, untuk sekedar menghabiskan detik demi detikku dengannya. Hanya itu. Apakah itu terlalu berat?

“Mian. Tapi aku tak yakin kau juga mencintaiku.”

Plakk~

Tamparan itu mendarat begitu saja di pipinya. Telapakku melayang, bahkan tak sempat tercerna dulu oleh otakku. Bagai tak terima akan rasa sakit yang mendera batinku.

“We’re done.” kataku. Lirih, namun dalam.

Donghae menatapku tak percaya, sebelum akhirnya pergi meninggalkanku.

**

Sekarang aku disini. Sendiri. Terisolasi oleh ruang pucat bercat putih yang tak begitu besar. Tanpa handphone, tanpa televisi. Hanya ada aku, tempat tidur, dan beberapa tumpuk majalah usang, yang sama sekali tak pernah kubaca. Aku bosan disini. Sungguh. Terlebih, aku disini tanpanya… tanpa Donghae. Belakangan kusadari, aku hanya cukup kuat kala bersamanya. Namun sekarang? Aku tak lebih dari seonggok daging tak berguna.

Selang tiga hari semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu itu, aku mendapatkan kabar bahwa Donghae telah melaksanakan pertunangan dengan gadis lain. Yoona. Nama gadis itu. Dan yang perlu kau tau, Yoona itu –dulunya- adalah tempat aku sering berkeluh kesah. Apalagi tentang Donghae. Dia adalah sahabatku… yang ternyata juga menyimpan perasaan terhadap –mantan- kekasihku.

Tess…

Kugoreskan lagi ujung mata pisau itu ke lenganku. Cairan kental pun mengucur deras dari garis berwarna merah itu. Entah mengapa, tak secercahpun rasa sakit yang kurasa. Inilah keseharianku. Caraku menghabiskan waktu. Caraku meratapi kebodohanku.

“Ommo! Cheonsa! Kau dapat dari mana pisau ini?” seorang suster berperawakan langsing segera merebut pisau itu dari genggamanku. Aku hanya menatapnya kosong. Tak ada sedikitpun penolakan dariku. “Cheonsa jangan mainan pisau lagi, ya? Suster janji, kalau Cheonsa menuruti apa kata suster, Cheonsa akan pulang dari rumah sakit ini. Sesegera mungkin.” Ikrarnya.

Aku terdiam sejenak menatapi paras ayu-nya. “Ani… Aku tidak gila.” desisku lirih. “Aku hanya ingin Donghae…”

 

 

-WHAT HAPPENED TO THE OLD YOU HAN CHEONSA? YOU BEING DROWNED OF LEE DONGHAE-

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

3 responses »

  1. han gi says:

    galau nya to the max . huhu

  2. Dian karlina trisnawati says:

    critanya bkin mewek tapi daebak..
    bisa d.buat part”/sequel.nya gak?
    #hehe❤

  3. (Echa) Siti Aminah says:

    Yaah… cerita yg rumit…disini gakbisa bilang donghae yang salah karena kan cheonsa-nya emang yg mutusin ;_;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s