Nama Pena         : Justneno

Twitter                 : @Justnenoo

Blog                       : nastitiwidoretno.wordpress.com

 

***

 

Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi KST saat seorang gadis dengan nada menggerutu terjun melakukan pekerjaan yang masih terlalu pagi untuk dilakukan, menurutnya. Memasak. Meskipun ia sangat suka memasak, ia nyaris tidak pernah menyentuh dapur kurang dari jam tujuh hanya untuk membuat sarapan. Hampir setiap hari gadis itu hanya akan membuka matanya di atas pukul delapan pagi. Selain kuliahnya yang dimulai pukul  sembilan lebih lima belas menit, ia juga sangat gemar tidur sampai larut malam hanya untuk menonton drama-drama favoritnya. Yah, meskipun penampilan gadis itu tidak bisa dikatakan feminine dengan hobi berlatih Taekwondo dan gaya andalan celana Jins, kaos santai kebesaran, dan sepatu kets, genre Romantis adalah genre Drama favoritnya, meskipun dia menyukai semua jenis Drama Korea.

Namun, mulai hari ini hingga entah sampai kapan, ia akan bernasib sama. Bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang, bukan hanya untuk dirinya, namun dia membuat satu porsi lagi untuk seseorang yang akan menjadi tanggung jawabnya yang entah juga akan sampai kapan. Begitu juga ketika waktu makan malam.

Sejenak ia menghentikan aktivitasnya menaburkan bubuk cabai untuk membuat Kimchi yang merupakan makanan favoritnya dan mengingat percakapannya di telfon dengan Appanya dua hari yang lalu.

Flashback

“MWO??! Appa tidak sedang bercanda khan? Aku saja tak begitu memperdulikan hidupku selama aku masih merasa bahagia, kenapa aku harus mengabdikan hidupku untuk mengurus orang yang tak kukenal? Aishhh, Appa membuat mood ku turun.”

“Ya! Maka dari itu Appa melakuka ini. Agar kau bisa melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat lagi. Lagipula, kau khan hanya tersita oleh waktu kuliah, belajar, dan mengerjakan tugas. Selebihnya kau khan hanya bermain kesana-kemari dan ah.. menonton drama sampai larut malam. Apa kau tidak bosan?” Tanya Tuan Han, ayah gadis itu.

“Hah, aku tak pernah bosan Appa. Nan Jeongmalyo!”

“Ayolah Cheonie, lagipula tugasmu hanya mengatur kembali jadwal makannya yang berantakan karena Appa dan Eommanya sangat khawatir dengan sifat anaknya yang terlalu fokus bekerja sehingga melupakan hal-hal lain yang menjadi kebutuhannya. Ah, kau beberapa hari yang lalu menghubungi Eommamu untuk dibelikan Ipad baru khan? Appa akan mengabulkannya, asal kau menuruti permintaan Appa yang satu ini.”

“Jeongmal? Baiklah. Akan aku lakukan. Tapi kalau aku sudah merasa bosan, aku akan berhenti mengurusinya.”

Meskipun sangat terpaksa, ia tetap melakukannya karena iming-iming Ipad terbaru dari Appanya dan pada dasarnya ia memang bukanlah gadis pembangkang.

“Ne, Arasseo Cheonie. Gomawoyo anak Appa yang tercantik.”

“Rayuan Appa tidak mempan.”

“Hahaha. Baiklah, Appa akan mematikan telfonnya. Kau, tidurlah. Jaga kesehatanmu, jangan terus-terusan tidur larut malam. Aishh, Appa dan Eomma tidak pernah mengerti mengapa kau terlalu keras kepala dan tidak mau tinggal dengan kami.”

“Aku hanya ingin mandiri Appa. Baiklah, aku akan tidur. Jaljayo Appa, sampaikan salam pada Eomma.”

Tut. Bunyi itu menandakan sambungan telah terputus. Dan ia dengan senyum liciknya beranjak kembali duduk tegap di sofa dan mulai menonton drama favoritnya. Tidak tidur seperti yang dikatakan pada Appanya barusan.

Flashback End

“Hah, aku saja baru tahu namanya lima belas menit yang lalu, bagaimana bisa aku yang akan mengurusnya mulai dari hari ini. Ahh, dimana tadi alamat Perusahaannya ya?” Gumam gadis itu yang kemudian meletakkan Kimchi yang telah selesai dibuatnya dan membuka pesan dari Appanya yang member tahu alamat yang akan segera ditujunya sebentar lagi.

***

HAN CHEONSA’S POV

‘Aishh, dimana sih ruangannya? Kata satpam tadi ruangannya ada di lantai 3. Tidak tahu apa aku akan pergi Kuliah sebentar lagi. Dan mengapa gedung ini punya banyak sekali lantai?’ gerutuku dalam hati. Aku pun memutuskan untuk bertanya pada seorang wanita yang tampaknya beberapa tahun lebih tua dibanding diriku. Dia menggunakan setelan kerja berwarna hitam. Cukup ketat yang membuatnya tampak err.. seksi. Aishh, aku jadi minder dengan yang aku kenakan hari ini. Hanya jelana Jins, Kaos yang tidak selonggar biasanya, sepatu kets dan tambahan kemeja yang kubiarkan kancingnya tidak terpasang. Setidaknya ada sisi resmi sedikit dengan kemeja itu. Aku juga tahu sopan santun, meskipun tidak sepenuhnya. Hah, apa yang kupikirkan. Segera kuhampiri wanita tadi yang tampaknya seorang sekretaris dan bertanya padanya.

“A-annyeong Haseyo. Ma’af menggangu, bolehkah aku bertanya?”

“Ya?” Jawab wanita tadi dengan ramah. Untunglah dia tidak galak.

“Ehm , apa kau tahu dimana ruangan Direktur Lee.. Aishh, Mian aku lupa. Aku cek dulu di ponsel.” Memalukan sekali, mengapa aku sampai lupa namanya.

“Apa maksudmu Lee Donghae Sajangnim?” Tanyanya.

“Ah, iya! Itu maksudku. Err, apa kau tahu dimana ruangannya?”

“Tentu saja. Aku sekretarisnya.” Jawabnya dengan tersenyum.

“Ah, jeongmal? Untunglah aku tidak perlu mencari lebih lama lagi. Ah, apa yang di dalam ini ruangannya? Bolehkah aku masuk sekarang?” tanyaku langsung.

“Tunggu sebentar Agasshi. Aku harus bertanya dulu pada Direktur.”

“Ah, tidak usah. Dia mungkin sudah tahu dan aku hanya mengantar sarapannya saja.”

“Ta-tapi Agasshi…”

Setelah berkata seperti tadi aku langsung menerobos masuk ke dalam ruangan yang hanya diabatasi oleh sebuah pintu kayu mewah ini tanpa mempedulikan lanjutan kata sekretaris tadi. Aku tahu ini sangat tidak sopan. Tapi, yang ada di benakku saat ini adalah aku tidak mau terlambat masuk kelas untuk yang kedua kalinya dalam minggu ini.

Namun, sedetik setelah aku berada di dalam ruangan Direktur Lee itu aku langsung tertegun karena dua hal. Yang pertama, aku tidak menyangka Direktur Perusahaan Lee ternyata semuda ini dan… harus kuakui, meskipun selama 20 tahun hidupku tidak pernah merasakan yang namanya pacaran, aku juga masih bisa menilai kadar ketampanan seorang pria. Dan makhluk di depanku ini.. salah satu makhluk dengan wajah paling tampan yang pernah aku lihat dalam kehidupan nyata. Kedua, beberapa detik setelah mengagumi pahatan indah berwujud manusia itu, aku tertegun karena baru pertama kalinya aku mendapat tatapan yang sangat tajam dari seorang laki-laki. Tatapan terkejut dan marah.

“Apa kau tidak punya sopan santun? Kau tidak pernah diajarkan mengetok pintu dulu sebelum masuk ke ruangan yang bukan milikmu pribadi? Beraninya kau masuk tanpa seijinku!”

Aku tersentak mendengar nada dingin dan bentakan di akhir kalimatnya.  Aishh, kadar ketampanannya berkurang drastis di mataku. Aku sangat tidak suka ada orang yang menatapku tajam, apalagi membentakku. Appa dan Eomma saja nyaris tidak pernah melakukannya. Beraninya dia. Belum tau siapa Han Cheonsa.

“Yak! Aku baru tahu ternyata kau segalak ini. Aku tidak peduli kau menganggapku sopan atau tidak. Aku hanya sebentar. Tujuanku adalah menjalankan amanat orang tuamu untuk mengatur jadwal makanmu. Oleh karena itu aku datang untuk menyerahkan sarapanmu pagi ini. Kau tidak perlu tahu siapa namaku dan bagaimana rasa makanan ini nanti Direktur Lee yang terhormat.” Balasku. Aku tidak peduli ini gertakan atau tidak. Yang penting aku tidak akan mau dianggap remeh dengan orang ini.

“Cih, siapa juga yang ingin tahu namamu. Dan untuk tugasmu mengatur jadwal makanku, aku lebih tidak peduli lagi. Bawa saja pergi dan jangan kembali lagi.”

‘MWO??!!!’ dasar kurang ajar, sudah untung aku mau menerima tawaran Appa yang merepotkan ini. Sekarang usahaku ditolak mentah-mentah oleh Direktur galak ini.

“Yak! Kau kurang ajar sekali. Aku juga sebenarnya tidak sudi melakukannya!! Tapi, aku menahannya karena Appa akan memberikanku Ipad baru jika aku menurutinya. Sudahlah, urusanmu mau kau apakan kotak bekal ini. Aku masih ada urusan lain yang seribu kali lebih penting daripada mengurusi makhluk menyebalkan seperti kau!”

BRAKKK.

***

AUTHOR’S POV

BRAKKK.

Suara pintu dibanting dengan keras terdengar sedetik setelah Cheonsa dengan sebalnya keluar dari ruangan itu. Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan sekretaris yang tersenyum kepadanya. Sepanjang jalan keluar dan dalam taxi menuju kampus ia hanya menggerutu kesal dengan ekspresi merengut yang kentara. Membuat wajah cantik alami dengan poni yang menutupi dahinya memerah menahan amarah.

“Aishh, ini hari perdanaku menjalankan tugas yang menurutku sangat mulia. Namun, hari ini juga aku mendapatkan pengalaman menyebalkan dari seorang direktur muda yang galak dan dingin setengah mati. Cih, aku akan segera meminta Appa untuk menghentikan pekerjaan konyol ini.” Gerutu Cheonsa pelan sembari mengeluarkan handphonenya dan mulai mengetik sms kepada Appanya. Ia memohon untuk tidak menginjakkan kaki lagi di gedung yang baru saja ia kutuk karena keberadaan seseorang yang sangat menyebalkan itu.

***

Sejak tadi sore gadis itu selalu gusar di dalam apartemennya. Terbukti dari mimik wajahnya yang tidak pernah berubah sejak kejadian tadi pagi. Appanya belum juga membalas pesannya. Meskipun demikian, ia juga tidak akan sudi lagi untuk kembali mengantarkan makan siang dan malam Lee Donghae untuk hari itu.

“Hah, sudahlah Cheonsa. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Appa tidak akan marah. Lebih baik aku menonton TV saja. Memikirkan hal ini hanya akan membuat wajah cantikmu cepat keriput.” Ujarnya pada dirinya sendiri. Ia beranjak dari kasur King Sizenya yang tampak mencolok dengan seprei dan bed cover berwarna kuning lalu segera beranjak menuju ruang tengah apartemennya untuk menonton drama favoritnya.

Namun, baru saja ia hendak menyentuh remote TVnya, getaran Handphone di kantung celana baby dollnya membuat ia menunda kegiatan rutinnya itu dan segera mengangkat telefonnya ketika nama Appanya terpampang jelas di layar IPhone5 miliknya.

“Appa..”

“Cheonie, ma’afkan Appa baru menghubungimu. Appa baru saja sampai di Seoul setelah dari Beijing kemarin. Ah, masalah Lee Donghae Appa akan membicarakannya dulu dengan Tuan dan Nyonya Lee. Mereka memberikan pekerjaan ini padamu karena sudah tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa lagi. Sudah lima orang sebelummu yang mencoba menjadi ‘pengasuhnya’ itu. Dalam artian mengatur jadwal makannya. Karena Lee Donghae adalah penderita maag akut yang akan sangat parah jika dibiarkan. Bahkan, Appa dan Eommanya berkata bahwa ketika di rumah ia sering merintih kesakitan karena penyakitnya itu. Ia sudah menderita penyakit ini sejak usia 16 tahun, dan semakin diperparah dengan sifatnya yang workaholic sejak menjadi direktur perusahaan Appanya tiga tahun lalu. Ia semakin tidak teratur makan dan selalu mengabaikan penyakitnya itu.”

“Ya, mengapa Appa jadi bercerita panjang lebar padaku? Aishh, Appa tak tau khan? Lee Donghae itu sangat galak dan dingin. Dan aku sangat tidak suka sifatnya yang menyebalkan itu.”

“Tahanlah sedikit. Lagipula kau hanya perlu bekerja dari Senin sampai Jum’at saja.”

“Appa, kau tidak tahu bagaimana rasanya. Di..”

Tut.. tut.. tut.. terdengar nada putus dari telefon yang digenggamnya. Cheonsa berkenyit heran mendengarnya.

“Ah, apa Appa yang mematikannya? Aku khan belum selesai bicara. Aishh.”

***

Cheonsa melangkahkan kakinya dengan berat untuk masuk ke dalam perusahaan elit di daerah Gangnam tersebut. Ia sangat merutuki nasibnya saat ini. Appanya semalam menghubunginya kembali dan mengatakan padanya untuk tidak berhenti melakukannya. Dan karena pada dasarnya ia memang tidak pernah menolak perintah Appa dan Eommanya, tadi pagi ia kembali memasak untuk Lee Donghae.

Ia menghembuskan nafas pelan sebelum masuk ke ruangan di balik pintu kayu tersebut bahkan sekretarisnya saja belum datang.

‘Aigoo, apa aku terlalu pagi? Ah, itu lebih baik. Semoga Lee Donghae bodoh itu belum datang.’ Harapnya.

Namun harapan hanya tinggal harapan, karena saat ia berhasil masuk selangkah ke dalam ruangan mewah itu, ia menemukan sosok yang paling ingin dihindarinya saat ini. Ia sudah menyiapkan mentalnya sejak semalam dan tidak akan takut pada sosok di hadapannya saat ini.

“Direktur yang terhormat, aku tidak peduli kau akan mengusirku lagi atau tidak. Aku hanya akan mengantarkan sarapanmu. Ah ya, dan aku akan melakukan ini seterusnya lima hari dalam seminggu. Karena itu perintah yang kuterima. Dan masalah kau akan memakan masakanku atau tidak aku sama sekali tidak akan peduli.”

“Cih, masakanmu? Gadis berantakan sepertimu bisa memasak juga? Untung saja aku tak memakannya kemarin. Bisa-bisa aku langsung muntah-muntah karena keracunan.”

Dengan sekuat tenaga Cheonsa menahan keinginannya untuk melemparkan kotak bekal yang masih digenggamnya ke wajah tampan di depannya itu.

“Terserah kau saja Lee Donghae-ssi. Buang saja bila kau tak mau. Aku hanya akan menjalankan amanah untuk mengatur jadwal makan seorang pria penyakitan. Nanti aku akan kembali mengantarkan makan siang dan malammu.”

“YAK!!”

Cheonsa keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru sebelum telinganya memanas mendengarkan luapan emosi Lee Donghae.

‘Kekeke, kau belum tau siapa aku Lee Donghae.’ Ujarnya dalam hati dengan menyunggingkan evil smirknya. Ia segera merapikan pakaiannya sebentar dan bergegas menuju Mall dekat kampusnya. Ia baru saja berjanji pada sahabatnya, Park Eunji untuk menemaninya berbelanja sebelum masuk kelas.

***

Sudah hampir lima bulan ini Cheonsa melakukan pekerjaannya sebagai ‘koki’ Lee Donghae. Dan ia sudah sangat terbiasa dengan sifat Lee Donghae yang dingin dan galak itu. Hubungan mereka sudah cukup mencair walaupun Cheonsa masih sering kesal dengan sifat Donghae yang dingin itu. Donghae terkadang mengantarkan Cheonsa pulang selesai ia makan malam masakan gadis itu. Meskipun pada awalnya Donghae merasa enggan karena itu adalah suruhan dari tuan Lee yang merasa khawatir akan keselamatan anak tuan Han, namun kini ia sudah tidak pernah lagi menggerutu jika disuruh mengantar Cheonsa pulang. Bahkan, Donghae password apartemen Cheonsa ketika ia dengan sengaja mengintipnya ketika Cheonsa akan membuka pintu apartemennya. Dan tentu saja itu membuat Cheonsa kesal setengah mati karena mendapati Donghae yang tiba-tiba saja datang ke apartemen miliknya dan meminta untuk dimasakkan Kimbab dan Sup Kimchi. Padahal itu adalah hari Sabtu yang notabene bukan waktu Cheonsa bekerja padanya. Anehnya, ia selalu saja menuruti permintaan ‘majikannya’ itu meskipun ia sudah sangat kesal padanya.

Malam ini Cheonsa sudah berada dalam ruangan Lee Donghae, namun pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya setelah hampir setengah jam Cheonsa menunggunya. Kali ini, ia memasakkan Donghae Jjangmyeon karena pria itu yang memintanya. Karena merasa bosan, ia segera mengeluarkan hapenya dan memutuskan untuk membuka akun twitternya. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka dengan keras. Namun, Cheonsa masih saja berkutat dengan Handphonenya. Ia tengah asyik membalas mention Eunji. Oleh karena itu, ia hanya berkata sekadarnya pada Donghae..

“Ah, kau sudah kembali..” gumam Cheonsa.

Karena merasa tak ada sahutan, ia memutuskan untuk mendongak sebentar dan sedikit tersentak karena Donghae sudah berdiri di depannya. Namun, ia lebih tersentak lagi ketika Donghae menarik lengannya dan tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir Cheonsa. Melumatnya pelan dan beberapa detik kemudian memiringkan wajahnya dan menekan tengkuk Cheonsa untuk memperdalam ciumannya. Hal itu tentu saja membuat Cheonsa terbelalak dan ia merasakan sekujur tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Yang bisa ia lakukan hanya menggenggam erat Handphonenya agar tidak terjatuh, menutup bibirnya serapat mungkin dan.. menetralkan detak jantungnya yang seakan berhenti berdetak karena terpacu terlalu cepat.

Beberapa detik kemudian Donghae melepaskan ciuman itu dan berkata pada seseorang..

“Sudah lihat khan? Dia tunanganku, dan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi, berhentilah mengejarku lagi karena aku sudah muak denganmu.” Ujar Donghae dengan nada yang cukup mengerikan.

Cheonsa mengerjapkan matanya perlahan pertanda ia baru sadar dari keterjutan yang menyerangnya secara tiba-tiba ketika ia melihat sesosok gadis cantik dengan tubuh bak model dan Heels yang menurutnya sangat tinggi menyentakkan kakinya keluar dari ruangan Donghae dan menutup pintu dengan kasar.

BRAKKKK.

Cheonsa secepat kilat melayangkan tatapan marahnya pada Donghae yang juga tengan menatapnya. Matanya berkilat-kilat menandakan bahwa ia sangat marah dan tiba-tiba saja air mata meluncur dengan mulus dari sudut-sudut matanya tanpa ia sadari.

“K-KAU!!! YAK, APA YANG KAU LAKUKAN HAH? KAU BARU SAJA MEN.. AISHHH!! KAU SANGAT SANGAT MENYEBALKAN!!!”

Setelah mengatakan itu, ia segera berlari keluar dan pulang menuju apartemennya dengan air mata yang terus saja mengalir. Ia hanya terkejut, karena itu merupakan.. ciuman pertamanya.

***

LEE DONGHAE’S POV

Aku mengacak rambutku gusar. Sangat terkejut sekaligus menyesal ketika melihat air mata turun dari matanya. Tampaknya ia akan sangat marah padaku. Dan lebih buruknya mungkin ia akan berhenti memberiku makan.

“Ini semua gara-gara gadis itu. Apa ia tak punya harga diri hingga terus mengejarku yang jelas-jelas sangat tertarik untuk kembali padanya?”

Aku memutuskan untuk berlari keluar mengejar Cheonsa sebelum ia pergi lebih jauh. Namun, ketika sampai di depan gedung aku sama sekali tak menemukan sosok dirinya dan segera berlari ke parkiran menuju apartemennya. Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, aku sampai di parkiran gedung apartemennya dan segera memasuki lift menuju lantai tiga dimana apartemennya berada.

Sial… desisku dalam hati. Ia sudah mengganti password dan aku tak bisa lagi leluasa masuk ke apartemennya. Mungkin ia baru saja menggantinya karena tahu aku akan menyusulnya kesini. Dengan berat aku menarik kakiku untuk pulang dan memutuskan untuk menjelaskan padanya besok.

Sampai di rumah aku langsung menuju kamarku dan memutuskan segera tidur setelah mengganti suitku dengan celana kain dan kaos oblong putih. Namun, selama lima belas menit aku tidak bisa memejamkan mata karena terus-terusan memikirkannya. Aku mengingat pertemuan pertama kami yang terjadi hampir lima bulan yang lalu. Aku yang kaget karena tiba-tiba ada orang yang berani masuk ke ruangan ku tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Sangat tidak sopan. Dan ketika aku memarahinya dengan nada dinginku, aku terkejut melihat responnya. Kukira ia akan menangis dan langsung pergi. Namun, ia malah membuatku terlibat dalam percekcokan singkat dengannya dan dengan polosnya ia sempat mengutarakan bahwa ia melakukan ini hanya untuk sebuah Ipad baru. Cih, kekanakan. Dan malam harinya aku bahwa ia adalah anak bungsu dari Han Ahjussi, salah satu rekan kerja Appaku. Selama hampir lima bulan ini dia banyak membawa perubahan dalam diriku. Dia yang sejak kapan membuat  aku jadi lebih banyak berbicara dibanding sebelumnya karena kami terlalu sering adu mulut. Entah itu karena sikapnya yang sama sekali tak takut padaku, ataupun masalah sepeleh seperti rasa masakannya yang sangat pedas, karena selain aku memang kurang suka rasa pedas lambungku sepertinya tidak akan kuat. Ia juga membuat aku lebih bisa mengekspresikan perasaanku. Dulu, aku lebih sering memasang muka dingin tanpa ekspresi. Namun, sejak dia datang, rasanya aku menjadi lebih ‘manusiawi’ dibanding sebelumnya. Ah ya, dia juga ‘koki’ terlamaku. Selama ini, orang yang bertugas membawakan aku makanan pagi, siang, dan malam hanya bisa bertahan kurang dari dua bulan. Karena aku memang selalu menolak mereka mentah-mentah. Mereka bertahan karena bayaran tinggi dari Appa dan Eomma yang selalu mengkhawatirkan jadwal makanku yang memang kuakui sangat berantakan.

Dan entahlah.. aku merasa sejak ada Cheonsa perlahan-lahan aku merasa selalu sehat-sehat saja. Karena, ia memang mengatur jadwal makanku dengan baik. Bahkan, meskipun setiap pagi ia akan langsung pergi setelah mengantarkan makananku untuk pergi kuliah, bisa dipastikan ketika makan siang dan malam tiba ia akan pergi hanya setelah aku menghabiskan makananku. Dan yang terakhir, ia bisa membuat pikiranku kacau ketika mulai dua bulan yang lalu ia sering menceritakan tentang namja yang dikaguminya di kampus. Ah, kalau tidak salah namanya Lee Gikwang. Baru pertama kali, aku betah untuk mendengarkan ocehan orang lain tentang asmara mereka. Aku hanya suka melihat ekspresinya yang seringkali berubah-ubah.

Aku kembali mencoba memejamkan mata setelah hampir dua puluh menit waktuku terbuang untuk memikirkannya. Dan sepertinya, aku harus benar-benar meminta ma’af padanya besok.

***

Suara gagang pintu yang diputar membuat aku mengalihkan perhatian dari berkas-berkas proyek baru di Genewa, Swiss yang akan aku tangani dan menahan nafas sebentar mengingat bahwa kemungkinan yang membukanya adalah Han Cheonsa.

“Hai Direktur Lee!” benar saja. Tapi, tunggu dulu. Aku mengernyit heran melihat tingkahnya pagi ini. Ia sama sekali tidak menunjukkan muka merah dengan raut penuh amarah seperti biasanya ketika ia sedang kesal padaku. Ia malah tersenyum sangat lebar seperti orang yang sedang berbunga-bunga.

“Apa kau ti…”

“Ah, hari ini aku membawakanmu Gyudon karena beberapa hari yang lalu kau mengatakan sedang ingin memakannya di Restoran Jepang. Tenang saja, aku tidak terlalu banyak menambahkan wasabi ke dalamnya karena itu rasanya tidak akan terlalu pedas. Ottokhae? Kau suka?” ia menginterupsi ucapannku dan berkata dengan riangnya seolah semalam sama sekali tak terjadi apa-apa. Aku menatap tajam matanya mencari tahu apa sebenarnya yang ada di pikiran gadis ini.

“Yak! Lee Donghae-ssi! Aku sedang berbicara padamu. Kau mengapa malah menatapku tajam sepertiku? Ah, apa aku bertambah cantik hari ini? Baiklah, kau orang kedua yang memikirkan hal itu.”

Aku melihat penampilannya. Aku baru menyadari, bahwa selain ekspresinya yang begitu bahagia, dia juga tidak memakai jins dan kaos kebesaran kebangsaanya. Yang saat ini melekat di tubuhnya adalah gaun selutut dengan hiasan bunga kecil berwarna-warni di hampir seluruh permukaannya, flat shoes berwarna pastel, dan bando tipis berwarna senada dengan sepatunya tepat di belakang poninya yang membuatnya terlihat… sangat bersinar di mataku. Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku dengan pelan untuk menghapus pikiran itu dan menanggapi ucapannya.

“Siapa yang pertama?”

“Park Ahjussi. Satpam di lantai satu perusahaanmu ini. Kau mengenalnya khan?”

“Cih, dia hanya berusaha untuk menghiburmu.”

“Aishh, terserah kau lah. Satu lagi, kau jangan merusak moodku pagi ini. Karena aku menginginkan hari ini berjalan seperti apa yang aku impikan.”

“Memangnya ada apa? Apa hari ini kau berulang tahun?”

“Aniya. Tapi aku sangat senang. apa kau tidak melihat kebahagiaan yang terpancar di wajahku?”

“Ani. Aku hanya melihat ekspresimu yang menjijikkan hari ini.”

“MWO? YAK!! Terserah. Aku pergi dulu. Ah, untuk makan siang dan malam hari ini aku tidak bisa memasakkannya. Mian. Aku ada janji dengan seseorang yang sangat spesial hari ini.”

“Yak! Nuguya? Hari ini aku tidak akan makan jika tidak kau yang memasakkannya.”

“Lee Gikwang.”

Setelah berkata seperti itu ia langsung keluar ruanganku dengan sedikit berlari dan ekspresi riang yang sangat kentara. Meninggalkan aku yang menatapnya nanar dan sedikit.. murka setelah mendengarnya mengucapkan nama itu. Mengapa aku jadi seperti ini? Bukankah ia sudah beberapa kali mengucapkan nama itu di hadapannya. Namun, aku hanya merasa tak rela setiap ia menyebutkan nama pria itu dengan nada riangnya.

Aku kembali memusatkan perhatian pada berkas yang harus aku tanda tangani dan mengusir pikiranku yang masih tertuju pada gadis itu.

***

Dengan senyum penuh kemenangan aku kembali melirik gadis yang masih saja mengerecutkan bibirnya di sampingku. Ia sudah memasang wajah seperti itu sejak tadi sore ketika aku menariknya paksa dari seorang namja bernama Lee Gikwang itu.

Flashback

Aku memasuki kafe yang cukup mewah itu dengan langkah tergesa-gesa. Mengedarkan pandangan ke seluruh kafe untuk mencari sosok itu. Aku langsung memacu mobilku kesini ketika ia membalas pesanku dengan menyebutkan nama kafe ini dan mengultimatumku agar tidak merusak suasana romantis antara dirinya dan pria itu. Dan yang lebih membuanya gusar adalah kalimat terakhir dalam pesan gadis itu.

From     : Gadis Ipad

Yak, untuk apa kau menanyakannya? Aku sedang ada di Kona Beans bersama Lee Gikwang. Kau tidak usah kemari!! Awas kau jika berani merusak kencan romantis kami.

Sepertinya ia akan memintaku untuk menjadi Yeojachingunya hari ini. Kekeke.

Aku memang menanyakan dia sedang ada dimana karena aku akan menghadiri pesta perayaan atas dibukanya cabang baru di Swiss yang diadakan oleh Appa di sebuah Ballroom Hotel bintang lima di Seoul. Dan aku berencana untuk mengajaknya karena Appa menyuruhku untuk membawa pasangan yang akan diperkenalkannya kepada rekan-rekan bisnisnya. Karena aku tidak punya gadis yang cukup dekat denganku selain Cheonsa, maka dari itu aku akan mengajaknya. Aku tidak mungkin mengajak Shim Yeonsa, sekretarisku karena ia sudah memiliki seorang kekasih.

Mataku terus berkeliaran mencari keberadaan mereka. Awas saja sampai ia berani menerima Lee Gikwang. Aku akan menyeretnya keluar dari kafe ini secara paksa. Ah, itu mereka. Aku menemukannya di sudut dekat jendela kafe ini. Sepertinya mereka sedang berbicara serius. Kulangkahkan kakiku mendekati meja mereka dan tersentak ketika mendengar perkataan pria itu yang dapat kutangkap dengan telingaku.

“Jadi bagaimana? Apa kau mau?”

“Aku…” Sebelum Cheonsa menjawabnya secara lengkap aku sudah menarik tangannya kasar dan tetap seperti yang kukatakan tadi, aku menggeretnya keluar secara paksa.

“YAK!!! APA YANG KAU LAKUKAN HAH? LEPASKAN BODOH. AKU BELUM SELESAI BERBICARA DENGANNYA!!”

“KAU TIDAK AKAN PERNAH MENJADI PACARNYA OLEH KARENA ITU JANGAN SEKALI-KALI KAU PERGI BERDUA LAGI DENGANNYA. MENGERTI??”

“APA MAKSUDMU HAH? AKU BAHKAN SUDAH MENGATAKAN UNTUK TIDAK MENYUSULKU. AKU MENYESAL MEMBERITAHUMU TADI.”

“Sudahlah. aku tidak ingin melanjutkan perdebatan denganmu. Sekarang kuantar kau pulang dan mandilah tidak lebih dari sepuluh menit. Kalau tidak aku akan kembali menarikmu paksa seperti barusan.” Aku mengucapkannya dengan nada tegas tanpa ingin adanya penolakan.

“Apa hakmu hah? Kau selalu saja seenaknya sendiri. Menyebalkan!” Meskipun nadanya sudah tak setinggi tadi, aku tahu ia masih amat kesal padaku. Aku segera menariknya dan mendudukkannya di mobilku. Setelah itu bergegas menuju apartemennya.

***

Setelah sekitar tujuh menit menunggunya mandi, ia keluar dari kamarnya dengan jins dan kaos santainya seperti biasa serta muka yang masih ditekuk.

“Kau mandi atau tidak? Mana ada gadis yang mandinya seperti bebek sepertimu. Aku bahkan yakin, kau mandi kurang dari lima menit.”

“Kau jangan membuatku kembali emosi. Aku sudah menuruti perintahmu walaupun aku tak tahu kau akan mengajakku kemana.”

“Ini hukuman karena kau tidak memasak untuk makan siang dan malamku. Kau harus menemaniku ke pesta perayaan cabang baru perusahaanku yang ada di Swiss malam ini.”

“Mwo? Kau tak salah orang? Kenapa kau mengajakku?”

“Aku juga sangat terpaksa mengajakmu. Sudahlah.”

“Cih, memangnya aku juga tidak terpaksa? Aku bahkan 1000x lebih terpaksa menerima ajakanmu ini.” Gerutunya lalu mendahuluiku berjalan keluar apartemennya membiarkanku menutup pintunya dan dia sendiri langsung menuju parkiran tanpa menungguku.

Setelah setengah jam berada di tengah-tengah keramaian Seoul sore ini, aku memberhentikan mobilku tepat di depan sebuah gedung yang pasti akan membuat mata seorang gadis berbinar-binar dengan hanya memandangnya. Tapi mungkin itu tidak akan berlaku pada gadis di sampingku ini. Mandi saja kurang dari lima menit, mana mungkin ia betah berlama-lama di sini. Baiklah, sekali lagi hari ini aku harus memaksanya untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku akan memaksanya untuk memasuki sebuah Boutique dan Salon mewah milik salah satu temanku ketika di High School.

Kulirik dia yang melihat gedung di depannya dengan malas. Sama sekali tak berminat. Cih, gadis ini.

Kuseret tangannya masuk dan beberapa saat setelah kami memasuki Boutique sekaligus salon tersebut seorang pria bertubuh gempal dengan gerak-gerik yang bisa membuat orang bergidik jari dengan melihatnya menghampiri kami. Namanya Jung Hanji. Sejak di High School ia memang terlihat sangat feminine untuk seorang laki-laki. Oleh karena itu, aku tidak terlalu kaget melihat profesinya seakrang. Hebatnya, dia adalah salah satu designer paling terkenal di Seoul.

“Ah, Hae-ya. Kau sudah datang. Kau semakin hari semakin terlihat tampan saja.”

Aku menyuruh Cheonsa untuk memperkenalkan dirinya pada pria itu.

“A-anyeong haseyo. Han Cheonsa Imnida.”

“Omo.. apa ini kekasihmu? Cantik sekali. Bibirnya sangat lucu dan indah. Kalau aku masih cukup jantan akan kurebut dia darimu. Hahaha.”

“Aishh, kau ini ada-ada saja. Tolong buat dia sedikit lebih anggun Ji-yaa. Terserah mau kau apakan dia, asal masih sesuai dengan kemauannya. Ah ya, waktuku tidak banyak.”

“Baiklah, itu masalah gampang. Suruh ia untuk ikut denganku, okey?” dia mengibaskan kipasnya lalu berbalik.

“Kau! Mengapa tidak menyangkal bahwa aku pacarmu? Dan kau tega sekali memperkenalkanku pada orang yang dengan santainya mengomentari bibir seseorang yang baru dikenalnya saat itu juga. Kau sangat menguras emosiku hari ini.”

Aku hanya terkekeh pelan mendengar ocehannya dan mendorong punggungnya untuk segera mengikuti Hanji. Setelah itu aku bergegas keluar. Masuk ke dalam mobilku dan menjalankannya menuju rumah untuk mandi dan berganti pakaian.

***

Aku sudah tidak tahu berapa lama aku mematung dan menahan nafas di samping mobilku sejak melihatnya keluar dari Boutique dan Salon milik Hanji beberapa saat yang lalu. Dia benar-benar sukses membuatku seperti orang linglung dengan gaun merah yang membuatnya sedikit.. ehm seksi. Gaun itu sukses memamerkan bahunya yang sangat indah. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dengan dibuat ikal di bagian bawahnya. Aishh, apa aku perlu mendeskripsikan wajahnya? Mata hitam besar dan indah itu semakin tegas dengan bantuan eyeliner tipis di sekitar matanya. Ia tidak memakai riasan yang terlalu tebal karena aku yang memintanya tadi pada Hanji dengan mengiriminya pesan sebelum aku benar-benar pulang. Aku takut make-up tebal akan menutupi kecantikan alaminya. Ah, sepertinya Hanji benar. Bibirnya benar-benar lucu. Terlihat semakin indah dengan lipglossnya. Tampaknya ia tak memerlukan lipstick, karena bibirnya sudah merah alami seperti buah Cherry segar. Aishh, aku sampai memikirkan hal sejauh ini. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke kakinya..

“MWO? KAU MEMAKAI HIGH HEELS?? HAHAHAHAHA.” Aku tidak bisa menahan tawa melihatnya yang terlihat sangat kaku berjalan mendekatiku.

“Diamlah Lee Donghae. Atau aku akan menyetop taxi dan pulang ke apartemenku.”

“Arasseo. Hahaha.” Aku masih tidak bisa berhenti ketawa setelah melihat wajah kesalnya yang rupanya tanpa kusadari menjadi… ekspresi favoritku.

Ia mengumpat pelan dan dengan cepat masuk ke dalam mobilku dengan membanting pintunya keras.

Flashback End.

Aku tersenyum samar sambil tetap memperhatikan Cheonsa yang tampaknya tak sadar kalau aku tengah menatapnya.

“Ngomong-ngomong, kau terlihat seksi mala mini. Hmphtt.” Aku menahan tawaku bersiap untuk mendengarkan omelannya setelah menggodanya barusan.

“Lebih baik kau diam kalau kau tidak ingin wajahmu yang sering mendapat pujian itu rusak karena lemparah High Heels sialan ini.” Ujarnya ketus. Nyaliku ciut seketika mendengar ucapannya

***

HAN CHEONSA’S POV

Aishh, telingaku sudah panas sejak tadi mendengar pujian dari orang-orang di pesta ini yang mengatakan bahwa aku sangat serasi bersanding dengan Lee Donghae. Tuan dan Nyonya Lee mengaggap aku adalah kekasih putra mereka dan mereka mengenalkanku kepada hampir seluruh para undangan yang hadir di pesta ini. Betapa malunya aku saat ini.Bahkan, Appa dan Eoomaku-yang tidak kusangka kedatangannya- sejak tadi menggodaku karena menyangka aku dan Donghae adalah sepasang kekasih.

“Appa, Eomma, kami tidak ada hubungan apa-apa. Jeongmal.” Ucapku entah untuk yang keberapa kalinya sambil menatap Donghae yang tengah berbincang-bincang dengan orang-orang yang tampaknya merupakan rekan bisnisnya. Dia seakan tak terusik sama sekali dengan omongan para undangan tentangku dan dirinya.

“Bailah, Appa dan Eomma akan berhenti menggodamu. Appa hanya akan menunggu waktu ketika kau dan Lee Donghae meminta ijin untuk menikah.” Ujar Eomma yang membuatku kesal setengah mati.

Cih, menikah? Aku masih muda Eomma. Aishh.

***

Sejak pagi, aku hanya berguling-guling di kasur tanpa berniat untuk beranjak sedikitpun. Mungkin wajahku sudah sangat mengerikan mengingat aku sama sekali belum makan sejak semalam hingga sore ini. Menyebalkan. Aku sangat kesal dengan diriku sendiri yang tiba-tiba saja kehilangan semangat sejak ia pergi lima seminggu yang lalu. Aishh, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae. Ia pergi ke Swiss untuk meninjau cabang barunya disana selama tiga minggu. Aku tidak tahu kalau kepergiannya akan membuat diriku menjadi bodoh seperti ini. Baiklah, tiga hari pertama mungkin aku masih baik-baik saja. Namun, sepertinya tidak sepenuhnya baik. Karena pada dua pagi pertama dengan tololnya aku tetap mengantarkan sarapan ke kantornya. Berharap menemukan wajah seriusnya ketika melihat berkas-berkas kerjanya. Bodoh khan? Dan kemarin ketika di kampus, Eunji mengatakan wajahku seperti penghuni rumah sakit jiwa. Tampaknya, pria itu perlahan-lahan telah menanamkan pengaruhnya kepada seluruh bagian tubuhku. Sehingga, ketika ia menghilang, tubuhku tanpa sadar akan terus terpaku untuk mencari keberadaannya tanpa bisa kukontrol. Aku bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membuat tubuhku segar -setidaknya- meskipun otak dan hatiku tidak akan segar sebelum menemukan sumber tenaganya. Sejenak aku mengingat percakapan terakhirku dengannya selama dalam perjalanan menuju apartemenku sepulang dari pesta.

Flashback

“Yak, kau jangan merasa besar kepala setelah orang-orang tadi mengatakan bahwa kau sangat cocok menjadi kekasihku.” Ujarnya ketika baru saja keluar dari parkiran hotel mewah itu.

“Aku sama sekali tidak bersalah dan tidak mengharapkannya.”

“Cih, jangan bilang kau masih mengharapkan namja yang bernama Lee Gikwang itu. Aku pastikan kau tidak akan pernah menjadi kekasihnya.”

“Apa masalahmu? Kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Lagipula.. ia tidak akan pernah menjadi kekasihku.”

“Mwo? Mengapa begitu?” Ujarnya sambil menolehkan kepalanya sekilas kepadaku.

“Dia.. ternyata hanya mendekatiku untuk mengenal Eunji lebih dekat. Ia menyukai Eunji. Oleh karena itu ia memintaku bertemu tadi untuk memintaku membantunya menyatakan perasaannya kepada Eunji. Dan! Aku belum menjawabnya ketika kau tiba-tiba menarik tanganku seperti orang gila!!”

“Hah? Jeongmal? Hahahaha!!” Ia langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan ceritaku.

“Kau kurang ajar sekali! Aku ini sedang patah hati! Aishh.” Seketika ia langsung menghentikan tawanya dan menatapku serius.

“Kau tidak perlu merasa patah hati atau terpuruk hanya karena namja itu. Kau belajarlah untuk melihat lebih peka orang-orang di sekelilingmu.” Donghae berkata dengan nada dingin ketika aku baru pertama kali bertemu dengannya dan dia mengatakannya sambil menatap tajam ke dalam mataku. Membuat aku menjadi sedikit taku.

“Nde? A-arasseo. Ta-tapi kenapa kau berkata seperti itu?” Dan tadi adalah kata-kata yang terakhir yang dia ucapkan karena dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku bahkan saat aku turun dari mobilnya.

Flashback End

Aku mengacak rambutku gemas yang masih bingung akan ucapannya saat itu dan mulai masuk ke kamar mandi.

***

Aku menatap mataku yang bengkak karena menangis sejak semalam. Ini sudah tiga minggu lebih tiga hari sejak kepergiannya. Setelah berusaha bertahan hidup dengan semangat hidup sekadarnya selama dua minggu setelah selama seminggu sebelumnya aku tampak seperti orang dengan slogan ‘hidup segan mati tak mau’, kemarin hari yang lalu Appa memberitahuku bahwa ia akan menunda hari kepulangannya selama tiga hari dan itu membuat aku yang saat itu berada di rumah orang tuaku untuk menginap selama tiga hari sisa rencana kepulangannya mendadak histeris dan berlari keluar rumah mencari taxi dan pulang ke apartemenku. Dan setelah sampai aku langsung menangis histeris di kasurku semalaman.

Aku bahkan tidak membawa handphoneku yang masih tertinggal di rumah Appa dan Eomma. Aku memang memutuskan menginap disana untuk mengusir kebosananku. Setidaknya jika aku berada disana, meskipun Appa sibuk tetap ada Eomma dan Onnieku, Han Joosa yang akan memanjakanku. Namun, semuanya sia-sia ketika aku mendengar berita itu dari Appa. Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa beraksi seperti ini.

Keesokan paginya aku memutuskan untuk kuliah setelah kemarin aku membolos karena menangisinya terus-menerus. Dia akan pulang hari ini dan aku baru bisa bertemu dengannya besok. Namun, aku sudah tidak mau berharap lagi dia akan pulang hari ini karena takut dia akan menundanya kembali.

Setelah menghabiskan waktu sampai sore bersama Eunji dan Gikwang yang sudah resmi menjadi pacarnya seminggu yang lalu, aku memutuskan untuk pulan. Entahlah, aku tidak merasakan sakit sedikitpun ketika mendengar mereka resmi berpacaran. Aku malah mengucapkan selamat dengan riang. Apa karena Lee Donghae.. aishh, mengingat namanya saja sudah ingin membuatku menangis lagi. Karena mataku masih bengkak, aku memutuskan untuk kembali tidur dengan tujuan agar mataku kembali segar ketika bangun.

***

AUTHOR’S POV

Dengan tergesa-gesa Donghae menekan tombol lift menuju lantai tiga tepat dimana apartemen gadis itu berada. Ia juga tidak tahu apa yang membawanya kemari. Seharusnya setibanya di bandara setengah jam yang lalu ia sudah berada di rumah sekarang. Namun, ia malah menyuruh sopirnya mengantarkannya kesini dan membawa koper dan barang-barangnya yang lain pulang. Sehingga, saat ini ini ia hanya menggendong sebuah ransel berwarna silver yang dipadu padankan dengan jins hitam, kaos polos hitam, kemeja kotak-kotak dengan warna merah, biru, dan putih, topi hitam, dan kacamata hitam yang membuat kadar ketampanannya meningkat tajam.

Ia membuka kacamatanya dan menghela nafas sebelum akhirnya memasukkan password apartemen gadis itu yang sudah ia curi kembali sewaktu mengantarkan gadis itu mandi sebelum ke pesta. Setelah berhasil masuk, ia langsung menuju kamar gadis itu. Berharap menemukan wajah Cheonsa yang sudah berhasil membuatnya nyaris gila karena ingin melihatnya. Dan ia bernafas lega ketika menemukan gadis itu tengah tertidur pulas meringkuk di dalam selimut tebalnya. Donghae meletakkan kacamatanya di meja lampu kecil dekat ranjang gadis itu dan duduk di sisi gadis itu sepelan mungkin. Berusaha untuk tidak membangunkan Cheonsa. Ia memperhatikan wajah gadis itu dengan sangat teliti. Mengisi kembali hatinya yang seakan mendadak kosong karena terlalu merindukannya. Akhirnya ia tertegun sebelum akhirnya tersenyum melihat mata yang terlihat bengkak dan menghitam di sekelilingnya. Ia menyentuh mata itu sebelum memutuskan untuk mengecup kedua mata itu perlahan. Dan hal itu membuat Cheonsa menggeliat dan mulai membuka matanya beberapa saat kemudian. Gadis itu terlonjak kaget dan langsung bangun ketika mendapati sosok yang dirindukannya akhir-akhir ini kini sudah berada di hadapannya sambil tersenyum.

“Aku lapar. Masakkan aku sesuatu.” Ujar Donghae.

“K-kau mengapa bisa di sini? Ini bukan halusinasiku khan?”

“Menurutmu?” Tanya Donghae dengan nada datar seperti biasanya. Dan itu membuat Cheonsa yakin dia benar-benar Lee Donghaenya. Kerinduannya yang membuncah membuat ia tidak dapat menahan emosinya dan matanya lagi-lagi ingin mengeluarkan air matanya.

“YAK!! UNTUK APA KAU KESINI HAH? DAN SEENAKNYA MEMINTA MAKAN KEPADAKU!! SHIREO, LEBIH BAIK KAU PULANG SAJA!” bentaknya sambil menghapus tetes-tetes air matanya sebelum keluar lebih banyak.

“Cih, tak usah berpura-pura tidak senang karena aku di sini. Aku sudah mendengar cerita Appamu yang mengatakan bahwa kau sangat frustasi karena kepergianku.”

“M-mwo? YAK!! Appa hanya membohongimu saja.”

“Ah, benarkah? Lalu mengapa matamu bengkak begini? Eommamu juga berkata bahwa kau selalu menagisiku.”

“Aishh, mengapa semua orang jadi sekongkol menceritakan padamu? KAU!! Jangan terlalu percaya diri dulu.”

“Tidak, aku tidak akan percaya diri. Karena aku memang sudah tahu.”

“Tahu apa hah?”

“Kau. Sangat. Merindukanku. Titik.”

“Tidak.”

“Kau jujur saja kenapa?”

“Tidak akan.”

“Baiklah. Aku sudah membuat keputusan. Kau jangan kaget jika aku mengatakannya!”

“Apa yang kau putuskan? Aku punya firasat buruk.”

Alih-alih menjawab, Donghae tiba-tiba saja menyambar bibir Cheonsa kasar dan melumatnya cepat hingga kepala Cheonsa terdorong sampai kepala tempat tidur. Tangan Donghae bergerak melindungi kepala belakang Cheonsa yang berbatasan langsung dengan besi itu agar tidak menyakitkan gadis itu. Sedangkan tangan lainnyayang bebas menekan tengkuk Cheonsa dan memperdalam ciumannya. Ciuman ini jauh lebih intens dibanding ciuman pertama mereka dulu. Setelah hampir kehabisan nafas, Donghae melepaskan ciumannya dan menatap Cheonsa..

“Besok kita tunangan, dan kita menikah.. Minggu depan. Titik.”

“IGE MWOYA??”

          -I’LL GIVE EVERYTHING IF COULD BE DONGHAE’S MASTERCHEF LOL-

 

 

Terima kasih banyak kepada @IJaggys yang sdh mengadakan ff contest ini dan Saengil Chukkae *telat*. Ma’af mungkin ffku kurang menarik dan judulnya agak gak nyambung. Hahaha😀

KAMSAHAMNIDA! *bow* *kekeke*

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

5 responses »

  1. dj_funkxkull says:

    Cheonsa bisa masak? Wah bentar lagi dunia akan kiamat…
    Hahaha…just kidding…
    Tp Cheonsa disini benar2 bertolak belakang sama Cheonsa yg biasanya…

  2. meymochi says:

    uaaaaaaaaaaa jinja ini bner2 kerennnn😀
    seorag han cheonsa bisa masak, ini bner2 sebuah keajaiban kkkk
    aigooo hae sosweet dhhh, kisseu cheonsa langsung ngjakin tunangan sama nikah kkkk daebakkk

    kudu wajib sekuel ini mah hhehe

  3. yazelf says:

    Cheonsa?? Masak?? Sesuatu yaah😀 *syahrini mode on*

  4. LJK~ says:

    aw sweet
    Simple tp endingnya aku sukaaaa

  5. yuki says:

    sugoi ~ ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s