Tittle :My Tulip

Author : Chocola

Twitter : @Choihyesun134

Fb : Citra IU Cassielf

WP : choihyesun930413.wp.com

Genre : AU, Romance

Ratings  : PG-15

Length : One Shoot

Main cast        : 1. Lee Donghae

                          2. Han Cheonsa

Sub cast          : 1. Lee Donghwa

                         2. Donghae’s mom

                         3. Cheonsa’s parents

***

“Han? Kau sedang bergurau ‘kan?” kening Donghae dipenuhi kerutan-kerutan dalam akibat ide gila yang baru saja keluar dari mulut gadis Voldemort-nya. Beberapa saat kemudian dengan cepat keringat menjalari tubuhnya, ia merasa tiba-tiba atmosfer bumi dipenuhi karbon dioksida hingga global warming bertanggung jawab penuh atas meningkatnya suhu sekitar yang mendadak terasa sangat panas baginya.

“Tidak, tidak sama sekali.” berbeda seratus delapan puluh derajad dengan ekspresi wajah Donghae yang sedari tadi tegang Cheonsa terlihat sangat tenang, dia bahkan menyesap hot chocolate nya santai seakan kata-kata yang tadi dia ucapkan bukanlah akhir dari dunia. Memang bukan.

Donghae menarik napas sebentar, “Han, kata-katamu barusan sangat konyol. Aku menolak ide gilamu itu!” Donghae memberikan penekanan disetiap kata-katanya. Gadis Voldemort-nya benar-benar sudah gila!

“Aku tidak butuh persetujuanmu sebenarnya, sebab aku akan berangkat sendiri. Dad dan Mom juga setuju jadi tidak ada masalah …” Donghae merasakan napasnya tercekat, demi tuhan gadis di hadapannya ini kenapa tidak pernah berhenti membuatnya naik darah?

Donghae menggebrak meja dengan keras, “HAN CHEONSA! PERGI KE BELANDA TEPAT SEMINGGU SEBELUM HARI PERNIKAHAN KITA APA ITU TERDENGAR MENYENANGKAN BAGIMU???” Donghae tidak dapat menahan amarahnya lagi, dia tidak peduli pelayan café yang melonjak dibalik meja kasir ataupun puluhan pasang mata pengunjung café yang memperhatikannya. Sama sekali tak peduli, yang dia pedulikan saat ini hanyalah membuat malaikat nya sadar bahwa idenya benar-benar gila!

Seminggu lagi mereka akan menikah sedangkan Cheonsa malah mengatakan besok dia akan terbang ke Belanda. Dan perlu digaris bawahi, persiapan pernikahan mereka belum selesai seratus persen. Atau lebih tepatnya mereka belum menyiapkan apapun; cincin, gedung, baju, makanan, bahkan undangan. Mereka baru sepakat mengenai konsep pernikahannya saja, tentu saja ini semua akibat sifat keras kepala Cheonsa yang selalu bersebrangan dengannya.

“Ikan bodoh! Kenapa berteriak? kau membuatku malu!” Cheonsa buru-buru menyembunyikan wajahnya dengan daftar menu yang ada di meja mereka, menghindari orang-orang yang terus menatapnya. Dia bersumpah dalam hati, lain kali dia akan membuat Lee Dong Hae merasakan rasa malu yang lebih besar ketimbang yang dirasakannya malam ini.

“Aku berhak berteriak pada calon istriku dengan semua ide gilanya! Han, kita belum menyiapkan apapun untuk pernikahan kita jadi lupakan soal berlibur ke Belanda. Kau bisa melakukannya lain waktu atau kalau kau mau kita bisa menambahkan Belanda ke honey moon list kita!” benar, setelah New York, Venice dan Paris. Donghae tak keberatan menambah Dutch sebagai tujuan honey moon mereka selanjutnya, ia berencana akan cuti sebulan penuh untuk merealisasikan semuanya. Lagi pula jika dia ingin berlama-lama honey moon pun tidak akan ada yang keberatan, direktur utama bisa melakukan apapun yang dia mau bukan?

“Aku ini belum resmi berstatus istrimu jadi kau tidak berhak mengaturku! Aku sepenuhnya milik diriku sendiri, aku punya kebebasan penuh sebelum aku resmi berkomitmen denganmu!” jiwa iblis ditubuh Cheonsa mulai bangkit, dia mengabaikan semua hal. Dan dia merasa sangat benar, Lee Dong Hae bukanlah orang yang berhak mengaturnya. Setidaknya untuk seminggu ini. Dia kemudian berpikir lagi, mungkin juga dia tidak akan benar-benar mau diatur Lee Dong Hae setelah mereka menikah nanti. Hidupnya adalah miliknya, tidak ada satu orangpun yang berhak atas hidupnya kecuali dirinya sendiri.

God, aku sudah benar-benar kewalahan menghadapimu! Bertahanlah seminggu lagi Han, aku janji setelah itu kau bebas berlibur kemanapun. Tapi sampai pernikahan kita nanti tolong fokuslah hanya pada pernikahan saja, selebihnya pikirkan nanti setelah pernikahan.” Donghae melonggarkan simpul dasi yang menggantung di lehernya, negosiasi yang tidak mudah. Bahkan meeting dengan para pemegang saham perusahaannya bisa lebih terkendali dari pada ini.

“Berlibur? Aku tidak pergi untuk itu makhluk amis, aku pergi ke Belanda karena aku ingin menemui seseorang.” Cheonsa menjauhkan cangkir berisi hot chocolate dari hadapannya. Ikan bodoh dihadapannya ini sudah menghancurkan mood nya untuk meminum hot chocolate dengan penuh penghayatan, saran untuk menimati hidup yang dia dapat dari seseorang.

“Siapa dia? Seberapa pentingnya dia hingga kita harus mempertaruhkan pernikahan kita yang tinggal seminggu lagi akan digelar? Apa dia lebih penting dari pada aku? Lebih tampan dariku?” Cheonsa menyipitkan matanya, Lee Dong Hae dia masih sempat membanggakan dirinya sekarang. Perfect!

“Ya, aku rasa dia memang lebih penting darimu. Ah tidak, dia memang lebih penting darimu!” Cheonsa tersenyum samar, dia merasa sudah menang sekarang melihat ekspresi pucat yang Donghae tampakkan akibat kata-katanya tadi.

“Bukankah aku punya waktu untuk seminggu ini, sebelum aku benar-benar membuka lembaran baru dalam hidupku? Maka seminggu ini aku ingin kembali ke masa laluku, aku ingin menuntaskan apa yang belum tertuntaskan. Aku harap kau mengerti.” tambah Cheonsa kemudian.

***

Bulan yang terlihat cemerlang dengan bentuk bulat sempurna beberapa jam lalu kini tertutup awan hitam, malam menjadi lebih pekat dari pada sebelumnya. Kebanyakan orang-orang sudah menyelami alam tidur mereka untuk merileksasikan tubuh mereka yang berkutat dengan rutinitas sehari-hari, meringkuk dibalik selimut mereka menjaga tubuh tetap hangat dari suhu udara yang menurun akibat matahari sudah lama tenggelam.

Donghae nampak gelisah di balik bed cover yang menyelimuti tubuhnya, sesekali ia memiringkan tubuhnya ke kiri. Sesekali ia memiringkan tubuhnya ke kanan, tapi kantuk yang ia harapkan tak kunjung datang padahal dia sudah berusaha tidur sejak dua jam yang lalu.

Shiit~” Donghae menyibak bed cover nya sambil mengubah posisinya yang tadi terbaring menjadi duduk. Dia menyerah, dia akui bahwa kata-kata Cheonsa sudah membuatnya uring-uringan sejak tadi.

Bukankah aku punya waktu untuk seminggu ini, sebelum aku benar-benar membuka lembaran baru dalam hidupku? Maka seminggu ini aku ingin kembali ke masa laluku, aku ingin menuntaskan apa yang belum tertuntaskan. Aku harap kau mengerti.

Kata-kata itu terus menghantui pikirannya, apa maksud Cheonsa dengan kembali ke masa lalunya?

Itu yang sejak tadi menjadi pertanyaan besar bagi dirinya sendiri, apa gadis-iblis itu bermaksud menemui mantan kekasihnya atau cinta pertamanya begitu?

Atau ia ingin menemui selingkuhannya yang ada di Belanda sana dan menuntaskan apa yang mereka mulai di belakang Donghae. Donghae hafal betul siapa itu Cheonsa, dia seakan tidak pernah jera untuk berselingkuh dengan laki-laki di luar sana. Meski Donghae tidak pernah merasa menyesal untuk menerima kembali Cheonsa atas pengkhianatan-pengkhianatan yang pernah gadis itu lakukan, tapi kali ini Donghae tidak bisa membiarkan kejadian seperti dulu terulang kembali. Pernikahan mereka menjadi taruhan disini, bagaimana jika Cheonsa lebih memilih tak kembali untuk menikah dengannya? Bagaimana jika Cheonsa lebih memilih laki-laki itu dibanding dirinya?

Donghae tiba-tiba melonjak turun dari ranjangnya, ia ingat kata-kata yang Cheonsa ucapkan sebelumnya.

Ya, aku rasa dia memang lebih penting darimu. Ah tidak, dia memang lebih penting darimu!

Jika memang orang itu lebih penting darinya, maka habislah dia. Cheonsa mungkin tak akan  pernah kembali lagi padanya, Cheonsa akan lebih memilih bersama laki-laki itu.

‘kau harus melakukan sesuatu Lee Dong Hae’ batin Donghae.

Donghae buru-buru meraih telepon wireless nya dan menekan tombol-tombol telepon itu dengan heboh. Ia buru-buru menempelkan telepon itu ke telinganya, lama ia menunggu seseorang mengangkat teleponnya sambil mondar-mandir gelisah di depan ranjang. Ia menengok kearah jam yang terpasang di dinding kamar sebentar, pukul dua pagi. Mungkin saja sekretarisnya sudah tidur.

“Halo…” suara lemah yang dominan serak itu hampir tak terdengar, tapi Donghae tersenyum sumringah mendengarnya.

“Sekretaris Kim, aku minta kau siapkan tiket penerbangan ke Belanda besok. Oh iya, aku ingin berada dipenerbangan yang sama dengan Cheonsa, aku harus duduk disebelahnya!” Donghae mendengar suara lengkingan dari gadis muda yang baru saja sadar sepenuhnya dari tidurnya itu, sekretarisnya yang malang pasti tidak akan bisa tidur hingga besok. Mengingat permintaan bos-nya yang begitu mendadak dan mustahil.

“Selamat malam sekretaris Kim, aku benar-benar mengandalkanmu. Aku akan memberikanmu bonus setelah aku kembali dari Belanda nanti, aku janji.” kata Donghae sebelum ia menutup teleponnya. Donghae tersenyum simpul, kekhawatirannya mulai berkurang sekarang. Dengan ikut pergi ke Belanda dia tidak akan membiarkan perselingkuhan itu terjadi. Dia akan sekuat tenaga mencegah hal itu terjadi.

Donghae meletakkan telepon wireless itu ketempatnya semula, sekarang tubuhnya begitu lemah dan menuntut untuk segera beristirahat. Sambil berjalan menuju kearah ranjangnya Donghae menguap kecil, kali ini ia yakin dia bisa tidur.

Donghae merebahkan tubuhnya ke ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan bed cover warna biru kesayangannya. Perlahan-lahan matanya terasa berat, hingga kelopak matanya menutup sempurna. Tidak perlu menunggu lama, pemuda itu tidur dengan lelapnya.

***

Cheonsa melempar pandangan nya ke arah jendela di sisi kirinya, larut dalam sekelebat masa lalu yang melintas seperti sebuah film hitam-putih yang tiba-tiba memenuhi pikirannya. Mungkin efek setelah sekian lama dia tidak mengunjungi negeri kincir angin itu dalam beberapa waktu terakhir, namun pemandangan kota Amsterdam tidak jauh berbeda dengan terakhir kali terekam dalam ingatannya. Bangunan bergaya klasik berderet dengan rapi, itu yang dia tangkap dari dalam taxi yang membawa dia dan Donghae menuju Amsterdam Central Station, menuju salah satu hotel di kawasan itu.

Donghae menatap lekat I-phone dalam genggaman nya yang membuatnya sibuk dengan MMS dari orang tua Cheonsa maupun ibunya yang sudah pasti kewalahan di Seoulsana menyiapkan acara pernikahan mereka. Orang tua Cheonsa sibuk dengan masalah cincin, gaun, undangan sedangkan ibu dan kakak nya Donghwa sibuk dengan gedung, makanan dan yang paling penting menyiapkan mental mereka untuk menerima anggota keluarga baru yang luar biasa seperti Cheonsa. Jika gadis lain antusias dengan  pernikahannya, gadis di sebelahnya malah antusias bepergian ke luar negeri seminggu sebelum pernikahannya.Sungguh luar biasa.

“Kau lebih suka cincin yang tadi atau yang ini?” Donghae mengarahkan I-phone screen nya pada Cheonsa, meminta pertimbangan gadis itu tentang cincin pernikahan mereka.

Cheonsa enggan untuk sekedar memalingkan wajah dari jendela, dia hanya menghela napas kemudian berkata. “Kau tahu seleraku, pilih yang kau anggap memenuhi seleraku.”

“Ck…” donghae berdecak kesal, jiwa Voldemort Cheonsa memang tidak bisa di pisahkan dari dirinya bahkan barang sebentar demi keperluan pernikahan mereka.

“Kau memperlakukanku seperti ini sejak kemarin Han…” Donghae kini memasukkan I-phone nya ke dalam saku, ia ingin memusatkan perhatiannya pada Cheonsa. Sejak di pesawat tadi bahkan Cheonsa tidak mau menatapnya.

“…kau marah padaku atau kau sedang menghindariku?” sambung Donghae lagi.

“Entahlah.” jawab Cheonsa singkat, masih terpaku pada pemandangan di jendela.

You drive me crazy!” pekik Donghae, supir taxi yang tak siap mendengar suara semacam itu tiba-tiba mengerem mendadak. Membuat Cheonsa dan Donghae terhempas dari tempat duduknya.

Sorry…” kata supir taxi itu sambil perlahan-lahan kembali menjalankan taxi-nya. Sementara dua orang penumpang yang ada dibelakang masih shock merasakan bahwa tadi hampir saja nyawa mereka melayang.

***

Goede middag!”  sapa resepsionis Fusion Suites hotel itu dengan ramah saat Donghae dan Cheonsa menghampirinya.

Goede middag!” balas Cheonsa. “Apa katanya?” Tanya Donghae penasaran.

“Dia bilang selamat sore.” Donghae hanya ber-Oh ria.

Cheonsa kemudian sibuk mengisi formulir untuk memesan kamar di hotel itu sedangkan Donghae hanya menatap berkeliling, dia menatap kagum interior hotel nomer satu di Amsterdam itu. Pemenang Travellers’ Choice 2012. Dia banyak mendengar nama hotel ini dari koleganya yang gemar traveling. Dia yakin Cheonsa akan menyukainya karena boutique hotel ini terkenal comfort dan luxury .

“Kuncimu!” Cheonsa menyodorkan selembar card key pada Donghae. Donghae menautkan alisnya.

“Kita tidur di kamar terpisah?”

Cheonsa menyipitkan matanya dia sudah tau, Donghae pasti akan protes. “Tentu saja, aku tak mau saat aku tidur tiba-tiba obsesimu untuk menanamkan benih di rahimku itu muncul!”

Donghae menghembuskan napas kecewa, Cheonsa sudah tau rencananya. Sial!

Donghae dan Cheonsa ternyata memiliki kamar yang saling bersebelahan, Donghae di room 17 sedangkan Cheonsa room 18. Donghae memasuki kamarnya buru-buru, Cheonsa sedikit heran, bukankah tadi Donghae sebegitu lemasnya karena mereka berada di kamar yang berbeda. Kenapa sekarang Donghae jadi begitu menggebu-gebu?

Bruuuk!

Bruuuk!

Cheonsa mendengar suara jatuh yang sangat kencang, oke. Sekarang dia cukup khawatir dengan keadaan Donghae.

Gwenchana…” sebelum Cheonsa mendekati pintu kamar Donghae. Pemuda itu tiba-tiba membuka pintu.

“Aku sudah selesai mengepak barang.” Donghae kemudian tersenyum polos dengan kedua mata sipitnya yang terpejam.

“Oh…” kening Cheonsa berkerut. Mengepak barang dalam hitungan detik, tak heran jika terdengar suara-suara aneh tadi.

“Ayo, akan aku bantu mengepak barangmu!” Donghae mengambil koper Cheonsa yang ada ditangan petugas hotel, kemudian memberinya tip. Setelah itu Donghae memperlihatkan senyum termanisnya pada Cheonsa.

***

            Donghae mengusap kepalanya sambil merintih kecil sementara Cheonsa sibuk memotret Amsterdam dari boat yang merka naiki, membelah kanal kota berjuluk The Venice from the North itu. Donghae beruntung dia masih hidup setelah insiden pemukulan Cheonsa ketika dia berniat menjalankan misinya memproduksi little nemo bersama gadis itu tadi -saat membantu mengepak barang-  Cheonsa sepertinya sudah hapal semua rencana-rencana mesumnya itu, gadis itu dapat meloloskan diri dengan mudah, ditambah pukulan-pukulan telak gadis itu yang membuatnya tak berdaya.

“Kalau kau berani macam-macam lagi, aku tak segan-segan membuat harta berhargamu sebagai seorang pria musnah untuk selama-lamanya!” celetuk Cheonsa sambil membidik objek fotonya, bangunan-bangunan tua berumur tiga atau empat ratusan tahun yang masih terawat.

Donghae mendadak pucat mendengar ancaman Cheonsa. Oke, setidaknya dia bisa melakukannya setelah pernikahan.

“Selanjutnya kita ke Madame Tussaud Museum dan Van Gogh Museumyah, setelah itu baru kita belanja.”

 

Donghae menatap Cheonsa pasrah, terserahlah. Yang penting dia harus selalu menempel Cheonsa selama di Belanda ini, dia tidak mau tiba-tiba laki-laki itu muncul lalu membawa lari pengantin wanitanya.

 

***

            Donghae merebahkan tubuhnya ke ranjang, mengurut sedikit kepalanya yang terasa berat. Baru tengah malam begini mereka sampai di hotel, mengingat seberapa parahnya hobby belanja Cheonsa sebenarnya hal ini tidak begitu mengherankan. Mereka bahkan hanya berkunjung tak lebih dari satu jam di Van Gogh Museum. Malahan saat mengunjungi Madame Tussaud Museum yang penuh dengan patung lilin tokoh-tokoh dunia itu, mereka segera pergi setelah berfoto dengan patung lilin pasangan Brad pitt dan Angelina Jolie, agar Cheonsa bisa menikmati hobby nya berburu barang branded.

Donghae meraih ponsel dari saku lalu menekan nomor panggilan cepat untuk Cheonsa. Dia ingin mendengar suara gadis itu sebelum dia menyelami alam mimpi. Berharap biarpun berada di alam mimpi mereka bisa tetap bersama, kalau bisa biarpun di alam mimpi dia tidak akan membiarkan laki-laki itu muncul.

“Halo…”

“Han, kau belum tidur?”

Ck, kau menggangguku bagaimana aku bisa tidur?”

“Hehe…maafkan aku, aku hanya ingin mendengar suaramu sebelum aku tidur. Bolehkan?”

“Sekarang sudahkan?”

“Ya, selamat tidur. Datanglah ke mimpiku ya. Saranghae!” kata Donghae sebelum Cheonsa memutuskan sambungan teleponnya. Donghae menatap kamarnya sebentar, terlalu sepi. Dia sangat ingin menarik Cheonsa ke dalam pelukannya, menghabiskan malam itu berdua. Tapi rasanya itu sedikit mustahil saat ini.

***

            Sinar matahari menembus jendela kamar, membuat Donghae mengerjapkan matanya merasa terusik. Ia lalu terkesiap, ini sudah siang!

Donghae buru-buru berlari ke arah kamar mandi, ia harus bersiap-siap. Dia harus segera mengawal Cheonsa, hari inipun dia tidak akan membiarkan Cheonsa menemui laki-laki itu.

Donghae sedang memilah antara V-neck t-shirt abu-abu atau U-neck t-shirt putih saat ada MMS masuk. Dia menunda acara memakai bajunya, hingga dengan half naked dia berkeliaran mencari I-phone hitamnya yang lupa dia taruh dimana semalam.

Donghae tersenyum kecil, Donghwa. Kakaknya mengiriminya foto gedung tempat resepsi pernikahannya yang beberapa hari lagi akan digelar.

Setelah dia membalas MMS kakaknya, Donghae menemukan pesan yang lain. Kali ini dari Cheonsa. Baru saja masuk setengah jam yang lalu, mungkin saat dia mandi tadi.

Donghae membelalakan matanya lebar, “DIMANA ITU  KEUKENHOF ???” Pekik Donghae setelah membaca pesan Cheonsa. Gadis itu, katanya akan pergi sebentar ke Keukenhof.

“Sial! Aku lengah!”

***

            Donghae menaiki bus menuju Keukenhof, dari hotel tempatnya menginap rupanya dia harus kembali ke bandara lalu melanjutkan perjalanan dengan bus khusus menuju Keunkenhof. Dia sengaja tidak menggunakan taxi, dia ingin membiarkan Cheonsa dan laki-laki itu bertemu dulu. Beramah-tamah sebentar lalu setelah itu dia akan menangkap basah mereka!

Sebenarnya dia sedikit takut, Donghae takut jika dia tiba di Keukenhof nanti dia akan menemui kenyataan bahwa memang laki-laki itu lebih penting darinya, lalu bisa saja hari ini menjadi akhir dari semuanya. Mungkin Cheonsa akan memilih laki-laki itu dibanding dirinya, maka saat ini dia ingin menyiapkan mental agar nanti dia bisa melepas Cheonsa dengan senyuman meski hatinya menangis.

Bus berhenti, semua turun dari bus. Donghae terpaku sesaat, tempat ini begitu indah. Inikah Keukenhof?

Dia berjalan cukup lama di hamparan padang Tulip yang tersusun rapi itu, di tengah-tengahnya terdapat jalan setapak yang membawa pengunjung menelusuri lebih jauh keindahan tempat itu. Pink, putih, kuning, tulip-tulip itu berjejer rapi membentuk sederetan warna senada.

“Sial! Apa yang mereka lakukan di tempat seromantis ini?” Donghae yang tadi seakan terhipnotis oleh keindahan tulip-tulip itu kini kembali tersadar, bahwa tujuannya di sini adalah mencari Cheonsa.

***

            Donghae mulai lelah mencari, dia sudah setengah jam berkeliling tapi Cheonsa tidak bisa di temukan. Apa gadis itu berbohong bahwa dia akan ke Keukenhof padahal dia pergi ke tempat lain?

“Han!” Donghae kembali berlari saat dia menemukan sosok yang dia cari, Cheonsa!

“Kau…” Cheonsa membalikkan tubuhnya saat dia mendengar Donghae memanggilnya. Donghae berlari kearahnya, meraih tubuhnya lalu memeluknya seakan dia fatamorgana yang telah mengelabui mata Donghae.

“Han, jangan pilih laki-laki itu! Kau tahukan aku tidak bisa hidup tanpamu,” Donghae semakin merapatkan pelukannya, sedang Cheonsa hampir kehabisan napas karena Donghae memeluknya terlalu erat. “Di dunia ini tidak ada satupun pria yang lebih tampan dari aku, tidak ada yang lebih keren dari aku dan percayalah, tidak ada yang lebih mencintaimu kecuali aku!” Donghae hampir menangis, dia harus meyakinkan Cheonsa. Semuanya belum terlambat.

“Yak! lepaskan aku!” Cheonsa mendorong tubuh Donghae menjauh, dia bisa mati sesak jika terus dipeluk seperti itu.

“Han, jangan pergi aku mohon! Pernikahan kita tinggal tiga hari lagi…” Donghae menumpu tubuhnya dengan kedua lututnya, memohon agar Cheonsa tidak meninggalkannya.

Sementara itu Cheonsa masih terdiam.

“Pergi kemana? laki-laki yang mana yang kau maksud?” tanya Cheonsa kemudian.

Donghae menatap Cheonsa dalam, gadis ini sangat pintar bersandiwara.Harusnya dia dapat penghargaan aktris terbaik.  “Pergi bersama laki-laki cinta pertamamu atau selingkuhanmu yang tinggal di Belanda!”

“Hah?” Cheonsa tercengang. Cheonsa mulai menatap Donghae galak “Jadi kau pikir aku kemari karena mau menemui seorang laki-laki?” Donghae mengangguk sambil berdiri tegap kembali.

“Pikiran pendekmu itu lucu sekali!” Cheonsa yang semenjak seminggu lalu tidak memberinya senyum, kini malah tertawa di hadapannya.

“Maksudmu?” tanya Donghae tak mengerti.

“Aku kemari untuk menemui mereka!” Cheonsa memegang erat bahu Donghae, mendorongnya pelan untuk mundur. Lalu setelah dirasa cukup, dia menyingkir dari hadapan Donghae. Membiarkan mata Donghae melihat semua itu dengan jelas.

“Aku ingin melihat bunga tulip merah yang berderet cantik di festival tulip Keunkenhof!” kata Cheonsa pada Donghae yang berdiri di sebelahnya, sedikit takjub. Tapi lebih banyak dia tidak menyangka, jadi bukan seorang laki-laki melainkan bunga tulip merah?

“Aku ingin melihat tulip merah sebelum kita menikah,” Cheonsa melanjutkan. “Setelah kita menikah mereka sudah layu, jadi aku harus datang sebelum pernikahan. Maaf tidak memberitahumu soal hal ini tapi aku senang kau bukannya mengurungku agar tetap di Seoul tapi malah ikut kemari. Melihatnya bersama. Ini menjadi berlipat kali lebih indah!”

“Ada apa dengan tulip merah?” Donghae menghadapkan wajahnya pada Cheonsa.

Cheonsa tersenyum, masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya. “ Dulu Mom dan Dad mengajakku kemari saat aku masih kecil, dan Dad mengatakan sesuatu tentang tulip merah. Kau tahu apa itu?” Cheonsa melirik Donghae sebentar, pemuda itu menggeleng.

“Tulip merah melambangkan cinta yang sempurna,” kali ini Cheonsa menarik napas sebentar. “dan saat itu aku berpikir, aku ingin menunjukkan tulip merah pada seorang pria yang kelak akan memberikan cinta sempurna itu padaku.”

Donghae ikut tersenyum mendengarnya, “Jadi orang itu aku?”

Cheonsa mengangguk. “Memang hanya kau yang pantas, sebenarnya ini juga bagian dari ujianku yang terakhir sebelum aku menikah denganmu. Dan selamat tuan Lee kau LULUS!” Cheonsa kini berada di depan Donghae, memeluk Donghae dengan erat.

Saranghaeyo!” bisik Cheonsa di telinga Donghae.

Donghae yang tadi masih terkejut, sekarang membalas pelukan Cheonsa. Mengecup puncak kepalanya. Tidak seperti yang dia pikirkan, hari ini bukanlah akhir dari kisah cintanya dengan Cheonsa melainkan sebuah awal. Awal untuk kehidupan mereka yang baru.

Nado,” Donghae menenggelamkan wajahnya pada rambut panjang Cheonsa. Menghirup dalam-dalam wanginya.“Besok kita harus pulang, ada pernikahan yang menunggu kita.”

***

-DUH I’M GETTING MY SELF BLEEDING FOR THIS SWEET HAHAHA!-

***

Happy Birthday Sonia^^

Maaf FF ngebut bikinnya, semoga suka ya^^

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

One response »

  1. han gi says:

    donghae , negative thinking mulu . haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s