Wish List

Nama Lengkap: Sitti Nabilah Putri/@snaput

***

“Han, apa kau pernah dicium seseorang?”

Huh?!”

Kulihat ia menyeringai nakal “Jangan dulu berpikiran buruk, aku hanya bertanya.”

“Kalau di bibir belum pernah, benar-benar pacaran saja baru denganmu. Eh, sebenarnya pernah dengan eomma dan appa.”

“Ooh, baiklah.”

“Apa maksudmu dengan “baiklah”, hah?!”

***

è One new message from Hell Girl

‘kau ada waktu tidak? Aku ingin bertemu, aku ke rumahmu sekarang?’

è One new message from Ikan Cebol

‘hari ini aku kosong, bagaimana kalau aku saja yang ke rumahmu? Setengah jam lagi aku sampai.’

è One new message from Hell Girl

‘baiklah.’

Kurang dari tiga puluh menit ia sampai. “ayo cepat masuk.” Sengaja aku menunggunya di depan rumah karena pertemuan ini berbeda.

Kuajak ia menuju kamarku yang sebelumnya sempat menyapa eomma di dapur. Kututup pintu kamarku dan duduk di tempat tidur, sedangkan ia duduk di sofa.

“Jadi, ada apa sebenarnya? Jangan bilang kau ingin bertemu hanya karena kau rindu wajah tampanku ini.” Ia menaikan sebelah alisnya dan menyeringai.

yucks, kau diam dulu. Aku ada kabar baru.”

“Eung? Kabar baik atau buruk?”

“Aku tidak tahu juga.”

“Apa maksudmu?”

“Hmm.. Aku mendapatkan tawaran dari TU Delft untuk melanjutkan studi sarjanaku disana.” Ucapku sedatar mungkin, meski aku setengah takut ia akan merengek dan membuat eomma menganggapku menyakiti makhluk cebol yang sudah dianggap anaknya sendiri ini lalu membakar semua koleksi novelku.

“WOW, HAN CHEONSA. Kau memang pintar ya! Tunggu apa lagi? Lanjutkanlah studimu sana di Belanda, kesempatan seperti ini biasanya cuma sekali loh.” Ujarnya dengan mata yang berbinar.

“Kau mengizinkanku? Kukira kau akan membuat kamarku banjir, tahu begitu tidak perlu kuajak kau kesini. Oh ya, kita off dulu. Long distance relationship is a total bullshit.

MWOYA?! Sudah penuh derita aku mempertahankan kau, lalu kulepas begitu saja? Tentu saja tidak. Kita akan tetap berkomunikasi. Kalau kita saling percaya seharusnya tidak akan terjadi masalah, bukan?”

“Kau Lee Donghae kan?” Sungguh, kukira ia akan mengamuk. Tak pernah kuduga ia mendukung hal ini. Ikan ini ada bagusnya juga.

Wae? Tentu saja ini aku. Sudahlah, kau tidak perlu terharu seperti itu. Aku tahu kau sedikit tidak rela untuk berpisah denganku kan? Oh, jangan lupa terus kabari aku disana dan kirim selalu foto terbarumu. Yang terakhir jangan pernah menggoda bule belanda kau!”

“Kau jauh lebih berisik dari eomma ternyata.” Aku beranjak dari tempat tidur berniat ke dapur untuk mencomot makanan disana.

“Cheonsa.” Panggilannya menahanku untuk keluar.

“Hmm?”

“Apa ada yang ingin kau lakukan bersamaku sebelum kau pergi? Mungkin kau bisa membuat wish list-mu untukku?”

“Kau mau mewujudkan semua keinginanku?”

“Eh hey! aku hanya bertanya, kalau ada ya bilang padaku. Asalkan jangan perbuatan yang melanggar hukum, oke?” Ia berkata dengan panik.

Okay! Mungkin lusa akan kukirimkan list-nya. Sekarang aku ingin mengambil makanan, kau mau pulang tidak?”

“Tidak menawariku makan siang dirumahmu?”

“Kau ingin mati cepat? Baiklah aku akan memasak.”

see you later.” Dengan cepat ia pergi dari kamarku dan pulang.

***

è One new message from Hell Girl

list : aku ingin pergi ke water park, ke sea world di jeju-do, mengunjungi dorm Mblaq, jalan-jalan di Hongdae dan Itaewon (hanya kita berdua), menonton konser Big Bang (freepass ke backstage).

#ps : kemungkinan masih bisa bertambah, akan kukirim saat ada ide.’

è One new message from Ikan Cebol

‘kau benar-benar ingin memerasku ya?!’

è One new message from Hell Girl

just fulfill my wishes Lee Dong Hae.’

***

so, what’s first? Visiting Mblaq dorm?” Ia tiba-tiba memintaku bertemu di kafe dekat rumahku, yang langsung kumanfaatkan untuk menagih janjinya.

“kita mulai dari Big Bang, oke? Lusa kita ke Jepang, aku sudah dapat tiket VVIP + free-pass backstage dan kau bisa sepuasnya menggoda mereka. Selesai konser, jam satu pagi kita langsung kembali ke korea untuk jalan-jalan di Hongdae dan menginap di hotel terdekat. Siangnya kita pergi ke Jeju-do (menginap satu malam) untuk ke water park dan Hanwha Aqua Planet. Besok paginya, kita ke dorm Mblaq tapi hanya bisa dua jam karena schedule padat mereka, setelah itu kamu mau pulang atau kemana terserah yang penting jam tiga pagi kita pergi ke Itaewon karena saat itulah tempatnya kosong, masalah kafe dan toko-toko aku sudah bereskan jadi mereka akan tetap buka walau hanya ada kita berdua di Itaewon.”

“Wow. Thanks.”

“Jadi bagaimana? Kau siap?”

undoubtedly ready!

***

“Cepatlah sedikit, kau mau batal menonton konser Big Bang, hah?” teriak makhluk cebol itu dari lantai bawah saat aku masih sibuk membereskan baju ke dalam ransel.

“Diamlah, beri aku waktu 3 menit.”

Tak kudengar lagi suara berisiknya, yang sempat membuatku bingung.

“15 detik lagi, Han Cheonsa. Cepat ke bawah kalau tidak kutinggal kau.”

Sialan. Pintar juga dia, membuatku ingin membunuhnya disaat aku tidak bisa karena semua tiket, uang, visa dipegang makhluk itu. Cepat-cepat aku ke bawah sebelum tenggat waktu habis, hingga membentur ujung meja dengan lututku.

“Kau menang sekarang, ikan. Lihat saja apa 3 hari kedepan kau masih hidup.”

“Simpan amarahmu, harusnya kau bahagia karena pacarmu mengizinkan untuk menggoda 5 anggota boyband terkenal di saat tour mereka di Jepang dan bahkan mengantarnya!”

Okay okay, i owe you something later. Shall we go now?

***

Badanku terasa remuk, konser 4 jam yang dilanjutkan dengan mengunjungi anggota Big Bang di backstage selama 2 jam memang menyenangkan. Tapi lagi-lagi ikan itu membatalkan aksi flirting-ku untuk memberikan TOP dan Seungri nomorku dan langsung menyeretku ke airport.

“Maaf ya, kita hanya bisa istirahat di ruang tunggu.”

Aku tidak berniat membalas perkataannya, tenagaku seperti habis dan tubuhku butuh tidur.

“Kau tidak apa-apa?” ujarnya dan dapat kurasakan tangannya di keningku.

Kutepis pelan tangan itu. “Aku hanya lelah, bangunkan aku saat boarding time.”

Akupun memejamkan mata dan memeluk diri sendiri, kudengar ia menghela nafas didekatku dan kurasakan tangannya menarik tubuhku mendekat. Saat itulah aku jatuh tertidur.

Dengungan keras membuatku terbangun, ternyata aku sudah berada dipesawat. Cepat aku menoleh ke sebelah kanan dan menemukan ikan cebol itu tertidur dalam posisi menyedihkan.

“Bangun kau.” Kugoncang kuat tubuhnya agar ia terbangun.

“Ada apa sih? Kita baru saja take-off, bodoh.”

“Kau yang bodoh. Bagaimana aku bisa sampai di pesawat dalam keadaan tertidur?”

“Kau tidur seperti kerbau, mau tidak mau kugendong kau kesini. Sudah terjawab kan? Aku mau tidur lagi, kau juga tidur sana. Setelah sampai di Korea kita langsung ke Hongdae”

Baru saja tanganku ingin menjambak rambutnya, ia langsung memejamkan mata dan tidur. Mau tidak mau kulanjutkan saja tidurku. Yang sayangnya berlangsung tidak lama.

“Cepatlah bangun atau mau kugendong lagi?” kurasakan ia menepuk pipiku pelan.

“Kita sudah sampai?” aku mengerang pelan dan meregangkan tubuhku.

“Tentu saja, pakai jaketmu. Kita langsung ke Hongdae. Lapar, kan?”

“Sangat. Kalau kau tidak memberiku makanan 1 jam kedepan, kumasak kau.”

“Ayo cepat.” Terlihat raut panik di wajahnya.

Kami sampai di Hongdae jam 3 pagi dan benar saja hanya ada aku, dia, dan berbagai tempat makan. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa membuat tempat ini tetap buka. Pertanyaan itu kuurungkan mengingat kondisi perutku.

“Bagaimana? Sudah kenyang, kan? Tentu saja kau kenyang, kau makan seperti babi.” Ia mulai bersuara lagi setelah hampir sejam kami sibuk berkeliling membeli berbagai macam makanan.

“Kau mulai berani mengatai-ngataiku ya. Belajar darimana, hah?” Kujambak rambutnya kuat-kuat.

“Aku terbiasa disamping iblis, jadi tutur kataku seperti iblis pula.”

“Oh begitu?” Kujambak lagi rambutnya lebih kuat.

“Aaw, sakit! Sudahlah, kau tidak usah menyiksaku seperti ini. Masih mau makan tidak? Siang ini kita langsung ke Jeju-do, loh.”

“Aku ingin membeli kebab dan kimbap dulu.”

“Bergeraklah cepat, sudah jam 4 lebih ini.”

***

Kamipun check in di hotel dekat Hongdae pada jam 5 kurang 10 menit. Aku hanya sempat beristirahat 5 jam karena orang itu menerobos masuk ke kamarku dengan master card saat jam 10 pagi dan langsung mengelitikiku habis-habisan.

“Aku masih lelah, bodoh. Pesawatnya jam 1 bukan?”

“Jam setengah 1 dan ke bandara butuh waktu satu jam. Cepat mandi.” Ia menarik selimut yang menutupi tubuhku dan menyibak tirai jendela kamar.

“Aaargh, tunggu pembalasanku Lee Donghae.” Kutendang mukanya lalu masuk ke kamar mandi.

***

Jam 1 lebih 15 menit kami tiba di Jeju-do dan langsung menuju Jeju Waterworld. Makhluk itu sangat bahagia saat bertemu air dan berenangnya juga gesit, benar-benar seekor ikan. Aku tidak tahu berapa jam kami menghabiskan waktu di water park ini hingga ia menarikku keluar dari air dan menyuruhku mandi.

“Cepat mandi sebelum aku mandikan, Han Cheonsa.” Perkataannya membuatku urung melawan dan langsung masuk ke ruang mandi wanita.

Aku mulai mengantuk saat mobil membawa kami ke Hanwha Aqua Planet. Sayangnya saat aku hendak tidur, kami sudah sampai saja di Aquarium besar ini.

“Jangan bilang tempat ini tutup.” Tempat wisata ini sepi sekali bahkan bisa dikatakan kosong.

“Aku menyewa tempat ini. Ayo masuk.” Ia langsung berjalan ke dalam meninggalkanku yang terpana. Hebat juga makhluk itu.

Tempat ini  benar-benar indah. Hanya kaca yang membatasi kami dengan kehidupan laut di Jeju-do yang sudah indah dengan sendirinya.

“Terimakasih, Lee.” Ujarku tanpa menatapnya karena sibuk melihat dua ekor Walrus berenang bersama.

“Sama-sama, sudah puas melihat tempat tinggalku, eh?”

“Haha, bolehkah kita disini sebentar lagi? Tempat ini benar-benar indah.”

“Baiklah, beritahu aku kalau sudah lelah, ya.” Kurasakan tangannya dipuncak kepalaku dan mengelus rambutku pelan.

Sebelum gelap kami memutuskan ke hotel untuk mendapatkan istirahat yang layak. Akupun berusaha tidur selama yang aku bisa. Hingga ikan itu menganggu istirahatku lagi.

“Ayo bangun Han Cheonsa, kau ingin bertemu Seungho dan G.O bukan?”

Mendengar nama Seungho dan G.O mataku langsung terbuka dan aku cepat-cepat menuju kamar mandi.

“Huh, membangunkanmu memang butuh nama orang tampan dulu ya.” Kudengar teriakannya dari luar kamar mandi.

***

Kamipun langsung berangkat ke bandara setelah check out dari hotel. Kami juga tidak banyak berbicara selama di pesawat karena masih lelah.

“Maaf ya waktu istirahatmu selama 2 hari ini terganggu.”

“Tidak apa-apa, aku sudah cukup berterimakasih kau melakukan hal ini.”

“Wow, karena akan bertemu Seungho kau jadi baik begini ya?” ujarnya sinis

hahaha, you sound so jealous, Lee.

Tak lama kami sampai di depan dorm Mblaq dan langsung disambut 5 orang tampan itu.

“Jadi ini pacar Donghae hyung? Cantik sekali! Hai, aku Lee Joon.” Salah satu pria tinggi itu mengulurkan tangannya kepadaku

“Cheonsa.” Balas menyambut tangannya.

“Ah, sudah-sudah tidak perlu menjabat tangan segala.” Tiba-tiba ikan itu menyela dan memutuskan pertautan tangan kami.

aish, hyung tidak perlu marah seperti itu lah. Hai Cheonsa, saya Seungho ayo masuk.” Lelaki yang dinantikanku akhirnya muncul. Seungho.

“oh ya, hai.” Ujarku lalu melempar senyum singkat kepada lelaki tampan itu.

Kami –aku dan Mblaq– saling berbagi cerita dan makan bersama, ternyata mereka menyenangkan juga. Tak kulihat ikan itu, namun aku tidak berminat untuk mencarinya.

“Maaf ya Cheonsa, kami ada schedule sebentar lagi. Jadi..” ujar Seungho ragu-ragu.

“Ayo kita pergi, Han. Terimakasih ya dongsaeng-ku telah menginzinkan Cheonsa dan aku mengunjungi dorm kalian.” Entah darimana ikan itu muncul lagi dan langsung menarik tanganku.

“Tentu saja hyung, dorm kami selalu terbuka untuk kalian. Kapan-kapan kesini lagi ya. It’s really a pleasure to meet you, Cheonsa.” Seungho berbicara dengan senyum manisnya.

“Aku juga. Terimakasih waktunya ya, guys.” Akupun tersenyum kepada 5 lelaki tampan didepanku.

“Cepatlah sedikit, Han.” Ikan itu sudah saja membuka pintu dorm dan menarikku keluar.

Ia terus menyeretku hingga masuk kedalam mobil.

“Jadi, kau mau pulang dulu? Atau langsung ke Itaewon?”

“Bukannya kita ke Itaewon pagi ya? Ini baru jam 8 malam.”

“Jadi mau pulang dulu?”

“Aku ingin ke sungai Han.”

“Baiklah. Ayo kita kesana.”

“Kau ingin mengantarku?”

“Minggu ini adalah minggumu. Apa ya kata di film-film, your wish is my command, bukan?”

“Wow, kau bisa juga bahasa inggris Lee” ujarku sebelum suasana berubah menjadi canggung.

“Kau ini, tidak bisa ya menerima suasana romantis?” suaranya terdengar sedikit kesal.

“Aku sepertinya memang tidak terlahir untuk itu.”

Dia menghela nafas panjang. Dan hening lagi. “Ayo, kita sudah sampai.”

Kami berjalan menyusuri sungai Han dalam diam. Hingga kakiku terasa pegal dan memutuskan untuk berhenti melangkah. “Lelah? Ada kursi didekat sana, ayo.” Dia menarik tanganku ke arah kursi taman terdekat.

“Jadi kau akan tinggal dimana nanti?”

“Beasiswa itu sudah termasuk apartemen, tapi biaya hidup ditanggung sendiri.”

“Sukurlah. Hati-hati ya disana, Han.”

“Tentu saja, kau sudah bilang kalimat itu berkali-kali. Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Aku tidak tahu jam berapa sekarang, hingga cahaya ledakan kembang api terpantul di air sungai. Terasa tangannya menggenggam tanganku. “Ini untukmu, anggap saja pengganti diriku yang akan menjagamu selama di Belanda.” Dia menyerahkan kotak biru dengan gambar angsa dan tulisan ‘swarovski’.

Kubuka perlahan kotak itu dan terlihat kalung keperakan dengan mata kalung berupa 2 lumba-lumba membentuk hati dimana tengahnya diisi berlian ungu. “Kau melamarku?”

“Astaga, tentu saja tidak. Kalung ini berupa pengingat akan diriku saja, sekaligus kado untukmu.”

“Oh, sukurlah. Thank you.”

“Sama-sama. Sekarang kita ke Itaewon, ya? Sudah tengah malam ini.”

Selama perjalanan ke Itaewon, tidak satupun dari kami berusaha untuk memulai percakapan. Akupun tidak berniat untuk mengejek cara menyetirnya yang tidak pernah berkembang.

Sesampai di Itaewon, tak kulihat satupun orang berkeliaran walaupun lampu-lampu pada rumah makan dan toko-toko tetap menyala terang. “Bagaimana caramu membuat para pemilik toko-toko disini tetap membuka usaha mereka disaat hanya ada dua orang pengunjung yang datang, huh?”

“Kau lupa bahwa pacarmu ini memiliki banyak pesona, ya?”

“Cih, semau caramu sajalah. Ayo kita makan.” Aku menarik lengan jaketnya menuju salah satu rumah makan disana.

***

“Apa tidak apa-apa kita tidak mengunjungi semua toko ini? Mereka bahkan sudah rela untuk tetap membuka tokonya.” Aku mulai kasihan kepada pemilik toko-toko di Itaewon yang tidak kukunjungi.

“Tidak perlu khawatir. Mereka telah mendapat kompensasi yang setimpal, Han.”

“Apa memangnya?”

“Apa kau perlu tahu?”

“Tentu saja.”

“Sepenting apakah itu untukmu?”

“Ikan amis, aku tidak ingin bermain tebak-tebakan denganmu sekarang. Jawab saja pertanyaanku, oke?”

“Kau tidak sabaran. Apa keuntungannya jika aku memberitahukannya kepadamu?”

“Ah, sudahlah aku tidak penasaran lagi. Ayo pulang.” Kutarik ia menuju mobil dan masuk.

***

Aku sudah benar-benar mengantuk ditambah kondisi hangat di dalam mobil yang langsung membuatku jatuh tertidur.

“Han, bangunlah.” Ia mengelus rambutku dan menarik pelan tanganku.

“Ada apa? Sudah sampai rumah, ya?” Ujarku dengan suara serak.

“Temani aku sebentar di taman ini.”

For god’s sake, Lee Donghae! Ini jam 5 pagi dan kau mengajakku ke taman? Mau jogging, hah? Antarkan saja aku pulang.”

“Ayolah, sebentar saja. Setelah itu kau langsung kuantar pulang.” Ia berkata dengan nada yang berbeda dari yang sering kudengar. Aneh sekali.

okay okay, you only have 15 minutes.

Kami menyusuri jalan setapak di taman yang asing sekali di mataku. Setelah menemukan kursi yang layak, kami memutuskan duduk disana.

“Jadi, sebenarnya ada apa?” Aku memutar posisi dudukku untuk dapat berhadapan dengannya.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berjalan di taman kota bersamamu sebelum kau berangkat.”

“Aku kan disana hanya 2 tahun, kau memperlakukanku seakan aku akan mati saja.”

“Tapi siapa yang tahu apa yang dapat terjadi disana, bukan?”

“Kau mendoakan aku mati, hah?!”

“Bukan itu yang aku maksud, Cheonsa.”

“Ayolah, 4 hari lagi aku berangkat. Kau tidak berniat mengemukakan semua pemikiranmu?”

“Tidak, mungkin akan kusimpan saja saat kau sudah kembali nanti.” Ia pun tersenyum kepadaku.

“Ya terserahmu sajalah. Sudah selesai? Sekarang kau berkewajiban untuk mengembalikanku ke rumah karena waktu 15 menitmu hampir habis, Lee Donghae.”

“Izinkan aku melakukan ini, oke?”

Tiba-tiba ia menangkupkan kepalaku dengan kedua tangannya. Refleks, kupejamkan mataku ketika wajahnya bergerak mendekat. Aku hanya dapat mendengar detak jantungku yang bertalu-talu dan helaan nafas hangatnya. Lalu, kurasakan kehangatan bibirnya di keningku.

Ku buka mataku perlahan dan melihatnya tengah tersenyum kepadaku. Sial, aku sempat kecewa karena kukira dia akan menciumku di bibir.

Jelas kurasakan panas di pipiku dan tanpa kusadari wajah ini menyiratkan rasa kecewa. Dia melihatku dengan tatapan lembut bercampur geli.

“Aku awalnya ingin menciummu disini, seperti yang kau inginkan” ujarnya sambil mengelus lembut bibirku dengan ibu jari dan terkekeh pelan. “tetapi aku kan menyimpan ciuman itu ketika kita berdua sudah berdiri di altar dan kau resmi menjadi milikku sepenuhnya.”

Dia pun tersenyum dan mendekatkan wajahnya kearahku “Dan akan ku buat hal itu terwujud dengan cepat”

“Kau bilang kau tidak ingin melamarku.”

“Siapa bilang aku melamarmu, Han? Aku hanya mengutarakan keinginanku. 3 hari terakhir ini aku sudah mewujudkan keinginanmu, bukan? Dan kau jelas berhutang sesuatu kepadaku. Jadi–“

“Kau ingin aku melamarmu, hah?!” potongku cepat. Tuhan, aku benar-benar ingin pulang.

“Jangan memotong pembicaraanku dulu, oke? Aku hanya ingin kau di Belanda belajar dengan benar dan lulus cepat, agar aku dapat melamarmu dengan layak saat kau kembali kesini. Jadi persiapkan dirimu, Han Cheonsa.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Maksudmu?”

“Ya maksudku, bagaimana jika aku tidak ingin menikahimu?”

Tidak kudengar lagi ia meracau. Haha, ia pasti tidak tahu harus membalas apa. Rasakan itu.

“Tapi kau berhu–“

Your 15 minutes are over. Now, take me home.” Kutarik rambutnya lalu menyeretnya ke mobil.

“YA! HAN CHEONSA! SAKIT IBLIS!”

-FEELS BLESSED BY APPEARANCE OF YANG SEUNGHO-

 

***

 

Now, SNP’s talking :

Akhirnya selesai, tuhaaan! Aku iseng buka blog Ijaggys buat baca ff baru dia dan taunya ada lomba bikin ff yang hadiahnya bikin ngiler. Jadi aku langsung buat ff yang ternyata susah juga sampe ngerelain tugas sekolah (dengan sengaja) terbengkalai. Di ff ini aku ga bisa sepenuhnya bikin Cheonsa jadi devilish-voldy ataupun bitchy-bitch banget karena aku ga bakat dan maaf aja aku bikin Cheonsa lebih tua dan innocent dari biasanya. Aku bawa-bawa TU Deflt soalnya asa gaul aja ngebayangin Cheonsa masuk sekolah teknik. Terus donghae juga ga aku bikin semerana di ff Sonia soalnya kasian juga nasib si ikan. Moga suka ya, maaf kalo ngebosenin atau kurang gereget. I’m still learning, pals.

Kalo ada yang bilang ini mirip sama salah satu chapter di Lukisan Hujan-nya Sitta Karina, emang aku terinspirasi dari situ.

Dan SELAMAT ULANG TAHUN SONIA PERMATA/HAN CHEONSA, have wonderful years ahead. Terus menulis ya!

May demons bless you in their deepest hell.

 

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s