Of The Succubus’s Pain

Nama pena: tomomikazuko13/@LokitaCitra

***

 

Her flawlessness might overtaking your consciousness. Given to her –and her people- a beautiful dark eyes, a marble-white skin, and a heaven’s melody on her voice. Her wavy brown hair falls perfectly on her pale skin, adorns her perfect v-line shaped face.”

***

 

Alunan musik latar yang menemani pesta malam ini mendadak tidak dihiraukan. Semua langkah terhenti, permainan musik perlahan menghilang, suasana di dalam sana menjadi begitu sunyi. Semua mata tertuju pada satu fokus.

Her presence.

Wanita itu berjalan angkuh melewati setiap pasang mata yang tersihir kecantikannya. Gaun hitam yang menyapu karpet merah ballroom jatuh sempurna di kulit pucatnya, dengan rambut cokelat tuanya Ia gelung keatas dan sebuah rangkaian baby’s breath  menghiasi kesempurnaannya malam ini.

They’re all startled by her flawlessness.

Para tamu yang datang menemukan kembali cara mereka bernapas setelah tanpa mereka sadari napas mereka sempat tertahan beberapa saat. Pesta kembali berlanjut.

Wanita itu menyimpulkan sebuah senyum terbaik yang pernah ada, matanya menyorot seluruh ruangan mencoba mencari kehadiran seseorang yang telah Ia nanti bertahun-tahun lalu. Waktunya tidak banyak, dia harus segera menemukan orang itu. Dan…pandangan mereka akhirnya bertemu. Tanpa menghilangkan ketenangan di wajahnya, wanita itu menghampiri sosok yang dicarinya.

Glad to see you, Lee Donghae.” Dengan gesture khas bangsawan, wanita itu membuka pembicaraan diantara keduanya. Suaranya yang selembut beledu membuat pria bernama Lee Donghae itu sedikit terpana.

Oh damn her goodness! Batinnya dalam hati.

Pria itu tersenyum miring menyerupai seringai kepada wanita itu. Berusaha keras mengontrol dirinya untuk tidak menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan menelanjanginya di tengah pesta seperti ini.

Donghae memberikan gesture kepada wanita itu untuk menggamit lengannya. Wanita itu tersenyum puas melihat pria di hadapannya yang mati-matian menyembunyikan rasa tertariknya itu. Tangan wanita itu menggamit lengannya dan tanpa ragu memperkecil jarak diantara mereka.

She pressed her lips on him, it tasted warm and sweet. He feels like ecstacy. They both already in to their own world. Who cares with people in the room?

***

She’ll make you fall for her and end you up in the bed to get her strength. She needs you to keep her life, but once you sleep with her, you owe her your rest life to be her slave. She’ll take your strength, and make you as weak as a dove. But, who will ignore this kind of oppoturnity, making love with her kind of Goddess?”

Donghae menarik wanita itu kedalam pelukannya, napasnya mulai memberat dibalik ciuman intens itu. Mereka berdua meninggalkan ruang pesta dan menuju kamar utama milik wanita di hadapannya. Ia tahu, persis saat Ia mencium wanita itu,  maka malam ini akan menjadi sangat panjang. Sebuah penantian yang menghabiskan energi dan sekarang mereka bertemu untuk saling mengisi.

Donghae mencumbui setiap inci tubuh wanita itu, tangannya menelusup masuk di dalam gaun pasangannya. He cares his soft hand on her skin, rubbing his hand on her tummy, slowly down to her thights. She couldn’t help but moan. She just found her pleasure. Donghae carries her to the king size bed, positioned his self on the top of her. He does really know whats going on next. He just could give his best smirk to her.

“Just moan my name, and I’ll save you tonight, will you?”

The woman blankly nods her head. What she knows is she needs him inside her. Her times will be end soon if he leaves her. Donghae smile softly and start to roam her smooth skin then undid all the thingy that stick on her body. Make a way for his pleasure tonight as her slave yet her savior.

The room’s filled with a heavy breath sounds. The tension is getting high. No one can disturb them to find their heaven.

***

Pagi berikutnya Donghae terbangun dengan sakit di sekujur tubuhnya. Tubuhnya nyaris tak bisa Ia gerakan dan hanya bisa terkapar di ranjang putih milik wanita yang semalam diselamatkannya itu. Ia tak menyangka bahwa Ia harus membayar kenikmatan yang Ia dapatkan semalam pada pagi harinya. Ah ya, ditengah rasa sakitnya Ia kembali membayangkan kejadian semalam. Ia tersenyum sembari meringis saat tiba-tiba Han Cheonsa mendekatinya dari balik rak-rak lemari sambil membawakan sarapan untuknya.

Tiga tahun yang lalu, kakeknya memberi tahu sebuah rahasia besar yang mungkin membuatnya tidak percaya saat pertama kali mendengarnya. Tetapi semuanya terasa menjadi nyata saat akhirnya Ia bertemu langsung dengan rahasia besar yang membayang-bayangi dirinya beberapa tahun belakangan ini. Donghae, ia lahir dari keluarga bangsawan yang sangat disegani. Perawakannya yang tampan dengan kulit nyaris seputih marmer membuatnya banyak digilai para wanita. Pembawaannya yang cenderung dingin dengan sorot mata yang menindas membuatnya amat disegani. Tetapi itu semua tak berlaku lagi saat Donghae pada akhirnya bertatap muka dengan wanita itu. Ia harusnya tak mempercayai takhayul, makhluk gaib dan sebangsanya. Namun kenyataan membuatnya harus menganggukan kepala bahwa semua itu nyata. Bahwa ia baru saja bertemu dengan titisan Succubus. Dan takdir telah menuliskan garis  untuk dirinya menyerahkan hidup kepada wanita itu. Han Cheonsa.

Wanita itu mewarisi darah succubus di dalam tubuhnya. Ia seorang manusia, tetapi hidupnya tetap bergantung pada kekuatan dan kebiasaan succubus yang memperoleh energi dari pria yang ia tiduri. Dan tak ada satupun pria mampu membuatnya bertekuk lutut dan memohon untuk tidur di ranjang bersamanya karena biasanya pria-pria itulah yang memohon-mohon kepadanya. Tidak ada, sampai Ia bertatapan mata dengan Lee Donghae. Ada daya tarik yang membuatnya jatuh untuk pria itu. Membuat keinginan untuk menidurinya sama besarnya dengan keinginan untuk tidak kehilangan dia. Han Cheonsa tahu, kekuatan yang Ia ambil dari pria-pria itu membuat kebanyakan dari mereka hanya mampu bertahan beberapa bulan. Mungkin dia harus pintar-pintar menahan diri agar tidak terus menyerap energi dari tubuh Donghae dan kehilangan pria itu secepat mungkin. Sisi manusianya membuatnya berpikir dua kali untuk mempertaruhkan eksistensinya atau eksistensi pria itu. Dan Ia butuh kerjasama Donghae dalam hal ini, dalam hal pengendalian diri. Karena keduanya tahu, mereka sama-sama merasakan ketertarikan yang begitu kuat, yang mungkin bisa berakhir seperti kejadian semalam. Jika kejadian semalam terjadi lagi dalam waktu dekat, itu artinya Han Cheonsa menyerap energi Donghae dan membuat pria terkapar dan terus melemah, jauh lebih buruk dibandingkan hari ini.

***

Siang itu Han Cheonsa berencana untuk menemui Donghae. Kekuatannya semakin menipis. Tubuhnya semakin terlihat pucat dan bola matanya mulai menggelap. Ia bertahan beberapa hari sebelumnya untuk tidak menemui Donghae tetapi batas toleransinya terpaksa Ia langgar karena wanita itu benar-benar sekarat. Sekarat karena kehilangan kekuatan, sekarat karena Ia begitu merindukan sentuhan Donghae ditubuhnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja pria itu. Langkahnya tetap anggun dan penuh keangkuhan dengan sisa tenaga yang mampu ia pertahankan. Ia melangkah masuk ke ruangan pria itu, Ia tergelak melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak pernah mengetahui rahasia pria itu. Ia tak pernah menyangka akan seperti ini akhirnya. Tubuhnya merosot tak berdaya, pria yang Ia cintai, pria yang seharusnya hanya bertekuk lutut kepadanya sedang berada dalam pelukan wanita lain. Sorot mata pria itu berbeda, bahkan Ia tak menyadari kehadiran Han Cheonsa sampai pada akhirnya wanita itu mengerang kesakitan di sisa tenaga yang dimilikinya. Donghae terkejut, kedua bola matanya yang tadi gelap kini kembali seperti semula. Ia tak lagi peduli dengan tubuhnya yang polos dan berlari menghampiri wanita itu. Han Cheonsa nyaris menutup matanya, tetapi hanya bertahan dengan membisikkan beberapa kalimat. Ia terlambat. Pria itu terlambat.

***

Gadis itu telah pergi, hidupnya berakhir tepat saat Ia begitu merindukan pria itu. Donghae, Ia tak pernah menyangka bahwa pria tempat hidupnya bergantung itu tak lain seorang manusia yang masih memiliki darah Incubus , versi  pria untuk kaum sejenisnya. Ia bahkan tidak tahu bahwa sesungguhnya Ia sendiri tak perlu menahan diri untuk tidak menyentuh pria itu hanya karena ingin melindunginya. Ia tidak tahu bahwa pada akhirnya ialah yang tidak bisa bertahan untuk pengabdinya. Ia lenyap dalam pelukan Donghae setelah kalimat terakhir itu terucap. Kalimat terakhir yang menimbulkan penyesalan dalam diri pria itu, Donghae.

***

Pria itu menatap nanar pada tubuh gadis dihadapannya. Han Cheonsa tak lagi eksis dalam jarak panadangnya. Sebuah kesalahan karena dirinya tidak cepat menyadari bahwa di dalam tubuhnya bersemayam darah Incubus yang mengambil alih kesadarannya dan membiarkan Han Cheonsa kehilangan kekuatan tepat disaat wanita itu memandang dirinya –jiwa Incubusnya tengah bercumbu dengan wanita lain. Dan Ia hanya mampu terisak memandangi tubuh sempurna yang mulai mendingin itu di dalam pelukannya. Ia menyesal. Tepat setelah suara beledu Han Cheonsa mengucapkan janji setia untuknya, sebuah pengakuan yang selalu ia tunggu. Ia tak akan pernah lagi mengecewakan wanita itu. Ia tak pernah meninggalkan Han Cheonsa. Ia merasakan bobot ringan saat mengangkat wanita itu ke dalam peti kaca yang telah disiapkannya. Tubuhnya akan selalu seperti itu, seperti Han Cheonsa saat Ia masih bias bernapas. Donghae mengecup kening Han Cheonsa. Dengan begini, Kau tak akan pernah hilang dari jarak pandangku.

Air mata Donghae menetes, Ia mulai merapatkan peti kaca itu. Membiarkan postur sempurna wanita itu menjadi pengingat bahwa Ia pernah menjadi pengabdi untuk Han Cheonsa, wanita yang dicintainya. Wanita yang menghilang dari jarak pandangnya karena kesalahannya sendiri.

***

Flash back

“I…never thought that I may fall for you, now I know what the reason is. You are a part of my clan. Succubus will only attracted to her Incubus. Glad to see you, Donghae. You safe me once, now I’ll let you have your own way to live your life. Im leaving. I love you, I owe you a life and here I give you the death of me.”

Lee Donghae hanya bisa mendengar bisikan itu. Ia terlalu kalut untuk mencoba membangunkan Han Cheonsa, he pressed his lips towards her but nothing’s happened. She couldn’t even move a small finger after said all of those words. She’s gone already.

Flashback end

-OMG YOU MIGHT WIN THE CONTEST IF YOU PUT THE NC TAPE! LOL NOT KIDDING-

 

 

Author’s note: This is note the real story of succubus and incubus. I just borrowed their name and a really bit of their myth and adopted them to this ff.

HAPPY BIRHDAT HCS! This is another ffgift for you. Note this: you have to make ffgift for me too since I made two for you kkkkk~

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

4 responses »

  1. han gi says:

    cheonsa nya kasian . huhu

  2. superddulz7 says:

    ya ampun…..
    endingnya ngenes bgt T.T

  3. Damn it…… really love this story….
    Huwaaaaaaa,,,,, Donghae you kill her in front of your eyes….
    Oh My god speechless,,,poor Cheonsa (T_____T)

  4. iamdindy says:

    OMG ada NC nyahhhh.bisa dikatakan donghae bunuh cheonsa di depan matanya sendiri.endingnya nyesek eww

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s