Au Revoir

Title                 : Au Revoir

Author             : EL.

Length             : 4784 words.

Cast                 : a. Han Cheonsa.

b. Lee Donghae.

c. Other cast.

 

***

Aku masih menatap jalanan kota yang agak sepi dari biasanya. Tanpa melihat ke depan dan pikiran ini sudah tak focus lagi hingga BANG! Aku menabrak seorang gadis yang tengah asyik mengayuh sepedanya.

“AIIISSSHH!” aku memukul bantalan setir dan mengacak rambutku asal, “Lee Donghae betapa bodohnya dirimu.” Aku menggerutu tak jelas dan memilih keluar untuk melihat keadaan gadis itu.

******

Sedari tadi gadis ini hanya membisu dan pelit untuk mengeluarkan sepatah kata apapun. Bahkan segudang protes yang kupikir akan keluar dari mulutnya tak kunjung muncul. Ia macam mayat hidup saja.

“Dok, ini bukan efek karna tabrakan tadi kan?” raut wajahku cemas,”maksudku ia tidak akan bisu karna aku tak sengaja menabraknya?”

“Tenang saja, Tuan. Ia hanya terkena shock karna efek benturan mendadak, dan saya pikir ia tidak memiliki luka dalam yang begitu serius. Hanya butuh istirahat beberapa hari dan terapi rutin untuk menyembuhkan patah kakinya.”

Aku hanya mengangguk pelan dan melihat kembali kearah gadis yang masih saja membisu dengan tatapan kosong kearah depan. Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, aku membawa gadis ini pulang. Ketika tiba di dekat parkiran, ia berjalan sendiri tanpa arah dengan kaki kanan berbalut gips.

“Nona, aku rasa akan lebih baik jika aku bisa mengantarmu pulang.” Ucapku tak enak.

Ia berhenti lalu melihat aneh ke arahku dan berjalan kembali,

“Nona!” kali ini aku sedikit mempercepat langkahku untuk menyamai langkahku dengan langkahnya. “Nona, aku sudah bersalah karna menabrakmu, aku harus bertanggung jawab.”

Ia berhenti lagi, “mau mu apa?” ucapnya sarkastik.

“oh God, perempuan ini benar-benar!” gerutuku dalam hati. Aku mengeluarkan senyum malaikatku dan berkata “Nona, aku harap kau mau kuantar pulang karna cukup mencemaskan jika membiarkan anda sendiri berjalan dengan keadaan kaki seperti ini.”

Ia masih diam dan memasang tampang datar,”Tidak perlu repot!” jawabnya singkat.

“Nona, ini sebagai bentuk tanggung jawabku karna telah membuat kaki anda patah. Aku rasa ini bukan hal yang sangat merepotkan ku.” Aku terus memaksa.

30 minutes later…

Kami tiba di sebuah rumah yang terbilang sederhana di pinggiran kota Seoul. Rumah sederhana yang memiliki halaman kecil dan dikelilingi oleh banyak bunga. Gadis ini yang sedari tadi aku tidak tahu namanya, berjalan cuek masuk ke dalam halaman rumah tanpa menggubris keberadaanku.

“Dasar perempuan tidak tahu terima kasih.” Kataku dalam hati. Pintu rumah itu terbuka dan tampak seorang wanita lanjut usia yang membukanya.

“Cheonsa apa yang terjadi denganmu?” ucapnya panik karna melihat gadis ini datang dengan kaki yang dibalut gips dan berjalan cukup sulit dengan tumpuan dua tongkat di kedua tangannya.

“Hanya luka tak penting. Aku lelah, Mom.” Dan ia pun berlalu.

“Maaf sebelumnya, Ahjumma. Aku adalah orang yang menabrak putrimu hingga kakinya harus seperti itu. Aku sungguh meminta maaf.” Aku membungkuk hormat. Ia tersenyum lebar,

“Terima kasih karna kau sudah mau bertanggung jawab, Nak. Maafkan Cheonsa jika ia bersikap agak dingin denganmu.” Nampaknya wanita ini paham dengan sikap anaknya yang memiliki sifat masa bodoh sangat tinggi, berbanding jauh dengan ibunya.

“Maafkan saya sekali lagi, ahjumma. Saya tidak bermaksud untuk mencelakakan anak anda.”

“Musibah kita tidak tahu akan terjadi, Nak. Lagipula Cheonsa nampaknya baik-baik saja.”

“Sepertinya iya. Kalau begitu, saya segera pulang Ahjumma. Karna ini sudah malam. Sampaikan salam dan permohonan maaf saya untuk Cheonsa.”

*****

“Donghae, apa kau sudah gila?!!!” Leeteuk Hyung berteriak kencang ke arahku.

“Apa ku bilang. Sangat disesalkan karna memberi ijin mengemudi untuk Donghae. Dia memang tak berbakat dalam hal itu.” Kyuhyun menimpali.

“Sembarang saja!” Jawabku kesal. “Hyung, perempuan itu akan baik-baik saja. Percaya padaku.”

“Bagaimana bisa percaya padamu, Hae. Kau bilang tadi perempuan itu kakinya patah. Otomatis ia cacat.”

“Hyung, aku rasa kau sedikit berlebihan.” Siwon membela. “Selama ada terapi, aku rasa akan baik-baik saja. Bukan begitu Hae?”

“Iya. Lagipula dokter tadi berkata jika ia rajin mengikuti terapi, kakinya akan segera sembuh.”

“Tapi—“

Aku memotong pembicaraan Jungsoo Hyung, “Dan aku akan bertanggung jawab padanya sampai ia benar-benar sembuh. Kalian tidak perlu khawatir karna masalah ini takkan sampai ke telinga masyarakat luas.”

“Dan akan sangat baik jika kau bisa dengan jelas menceritakan kronologis kenapa kau bisa menabrak—“

“Cheonsa.” Aku menyambung omongan Hyukjae.

“Ya, Cheonsa!” Hyukjae menjentikkan telunjuknya.

“Haruskah aku bercerita hal yang tidak penting pada kalian?! Aissssh..”

“Donghae, bagaimana tidak penting! Ini menyangkut nyawa orang, dan kau public figure!” Jungsoo hyung naik darah lagi.

“Hyung, everything gonna be alright! Oke?!” Jawabku sembari berlalu.

4 days later, Han Cheonsa’s House

09.00 a.m.

“Ini bunga untukmu!” Aku menyodorkan sebuket bunga pada gadis tanpa ekspresi ini.

Achillea millefolium?!!”

“Ya apalah itu namanya! Aku membelikan ini khusus untukmu Nona!” Ucapku seraya mengeluarkan senyuman mautku secara membabi buta.

“Tapi aku sedang tidak ingin menerima bunga macam ini.” Ucapnya ketus.

Cih! Gadis ini benar-benar sombong. Tiba-tiba senyuman sejuta mautku hilang begitu saja karna ucapan yang terbilang tidak nyaman untuk di dengar. “Apa ada yang salah?” Aku mencoba menahan emosiku.

“Kau memberikan bunga ini tanpa tahu artinya?!!”

Aku mengangguk malu.

“Bunga ini diberikan kepada orang yang sedang patah hati. Dan aku tidak sedang membutuhkan bunga macam ini, tuan.”

“Oh benarkah? Aku pikir tak ada makna penting di balik bunga ini.” Aku menggaruk belakang kepalaku. Ia hanya tertawa hambar. “Bagaimana keadaanmu?” Aku mengambil tempat di sebelahnya.

“Kau lihat saja, apa aku bisa berjalan?” Ucapnya ketus (lagi).

“Maksudku tidak seperti itu, nona. Kau ini adalah gadis yang memiliki tingkat sensitifitas sangat tinggi.”

“Sebenarnya tanpa kujawab kau sudah tahu.”

“Kata dokter, gips ini dipasang untuk menghindari perubahan bentuk pada tulang kakimu yang patah, serta menghilangkan rasa nyeri. Dan setelah gips ini dipasang dianjurkan secara rutin dan berkala untuk memeriksakannya ke dokter.” Ucapku panjang lebar.

Ia menatapku sebentar, lalu membuang muka lagi.

“Aku tahu, kau pasti sangat membenciku. Tapi aku tidak bermaksud untuk membuatmu cacat seperti ini. Hari itu aku benar-benar kalap dan tak fokus dalam mengendarai mobil.” Aku mengambil nafas sejenak, “aku benar-benar minta maaf, Cheonsa.”

“Aku tidak pernah menyalahkanmu.”

“Tapi kau terkesan seperti membenciku.”

“Jangan sok tahu.”

“Lantas?”

“Aku bukan tipe wanita seperti yang kau pikirkan. Aku tidak mempermasalahkan kakiku yang patah ini.”

“Jadi kau tidak membenciku?”

“Dasar pria otak dangkal.”

“HAHAHA, kau serius tidak benci denganku?”

“Sayangnya tidak.” Ia menjawab datar, “tapi kau harus tetap bertanggung jawab.” Tuntutnya.

“Aku akan mengantarkanmu untuk memeriksa kakimu ini secara rutin. Apa itu belum cukup?”

“Dasar pria bodoh. Apa kau tidak memikirkan efek yang aku terima karna kakiku cacat seperti ini?” Aku menggeleng pelan lagi, “semua pekerjaanku jadi terabaikan karna aku sukar bergerak.”

“Lalu aku harus melakukan apa, nona bermulut sadis?”

Ia menyeringai dan berkata, “Gantikan tugasku.”

“MWO???!!!!”

“Kenapa? Tidak suka?”

“Aniyo~ tapi aku sibuk sekali!” Aku mengatur nafasku, “maksudku, diluar sana aku memiliki banyak pekerjaan dan aku tidak bisa berjanji memiliki waktu banyak untuk membantumu.”

“Oh jadi begitu,” ia tersenyum licik.

“Maksudku, aku akan dengan senang hati membantumu jika aku memiliki waktu luang.” Aku tersenyum lebar, “tapi kau benar-benar tidak mengenalku?”

Kedua alisnya bertaut, ”Tidak. Memang kenapa? Sebegitu terkenalnya kah dirimu sampai aku harus mengenalmu.”

Aku tertawa dalam hati, “Kau suka menonton televisi?”

“Jarang.”

“Pantas saja.” Gumamku dalam hati. “Memang pekerjaanmu begitu beratkah hingga kau jarang menonton televisi, Cheonsa?”

“Aku menghabiskan tiga perempat dari 24 jam untuk berada di klinik.”

“Klinik?”

“Ya klinik! Semacam green house. Tugasku merawat berbagai macam tumbuhan dari berbagai negara di dunia ini. Kau bisa membayangkan bagaimana repotnya pekerjaanku.”

“Sudah bisa tergambar jelas dari raut wajahmu, Cheonsa.”

“Kau!” BUK! Ia memukul lengan ku keras.

“Aaaaw!!” Aku meringis kesakitan.

“Itu pukulan untuk perkataanmu yang sembarangan.” Ia tertawa tipis. Lalu aku menatap sebentar ke arah arloji yang terpasang di lengan kiriku.

“Cheonsa, aku harus pergi sekarang.”

“Oh baiklah. Terimakasih sudah menemaniku Tuan—“

“Aiden Lee. Namaku Aiden Lee.”

“Oh Oke Aiden Lee. Jangan lupa dengan tanggung jawabmu.”

“Lusa aku akan menjemput kau nona sadis untuk pemeriksaan gips kakimu.” Ia mengangguk paham.

#SM Entertainment’s Building

10.00 p.m

 

Aku meneguk tanpa jeda air mineral hingga tenggorokan ini tak terasa kering.

“Kemana saja kau hari ini?”

“Melihat keadaan Cheonsa.”

“Oh. Lalu?”

“Ya, dia baik-baik saja. Lusa aku mengantarkannya check up.” Aku masih berlomba memasukkan oksigen ke dalam paru-paruku. Ntah kenapa hari ini begitu terasa lelah.

“Kau sedang ada masalah, Hae?”

“Tidak ada.” Aku menjawab datar.

Hyukjae menatapku intens seperti, “Ya Hyukjae!!!! Kau seperti manusia homo saja!”

“Kau tidak sedang menyembunyikan apapun kan?”

“Menyembunyikan apa?”

“Sesuatu.”

“Tidak ada.”

“Pandai beralibi. Kau kentara jika sedang ada masalah, Hae. Latihan hari ini saja kau tidak fokus. Banyak melakukan kesalahan sendiri, seperti salah melakukan gerak, terpeleset, layak bosah yang baru bisa menari.”

Aku hanya diam. “Jika hanya masalah Cheonsa, nampaknya tidak akan seburuk ini.”

“Aku tidak sedang ada masalah.”

“Oh baiklah! Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita sekarang. Jika kau ada masalah, berbagi dengan sahabat akan jauh terasa lebih baik, darling.” CUP! Hyukjae mengecup pipi kiri ku, dan segera berlari sebelum,

“YA! Kau sudah merenggut kesucian ku, monyet sialan!” Aku berteriak.

*****

#SM Entertainment’s Building

10.00 a.m

Aku buru-buru membersihkan seluruh peralatanku seusai latihan, hingga para member lainnya bingung melihat tingkah laku ku.

“Seperti orang yang sedang dikejar setan.” Timpal Kyuhyun.

“Hyung, aku pulang lebih dulu. Aku harus mengantar Cheonsa untuk ke dokter hari ini.” Aku pamitan pada mereka semua.

“Hati-hati dan sampaikan salam kami padanya.”

“Seandainya ia mengenal kita sudah pasti akan kutitipkan salam.”

“Maksudmu?”

“Abaikan. Aku akan segera kembali.” Ucapku sembari berjalan keluar dari ruangan ini.

#45 minutes later, Seoul Hospital…

 

“Gips ini berfungsi untuk fiksasi luar, agar tulang yang telah di reposisi tidak bergeser dari posisinya.” Dokter Park menjelaskan secara detail hasil rontgen kaki kanan Cheonsa. “Untuk kaki nona, kami telah memasangkan gips yang terbuat dari bahan fiber. Kelebihan gips ini adalah lebih tahan air, sehingga sangat dianjurkan digunakan sesuai dengan profesi Nona Han.”

“Kira-kira berapa lama kakinya bisa pulih?”

“Itu semua tergantung pada tingkat kekuatan dan kesembuhan tulang. Tapi, rata-rata gips dipasang selama delapan minggu.” Aku dan Cheonsa tersenyum mendengar penjelasan Dokter Park.

“Dibutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra untuk ini. Tapi cepat atau lambat, kaki Nona akan pulih seperti semula.” Ucap Dokter Park mengakhiri pemeriksaan hari ini.

“Setelah ini kau mau aku antar kemana, Han?”

“Ke klinik. Semua tumbuhan disana pasti terbengkalai karna aku lama tidak memeriksanya.”

“Baiklah. Akan kuantarkan kau ke sana.”

Untuk menuju klinik tumbuhan Han, diperlukan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit dari Seoul Hospital. Ketika tiba di kliniknya, Cheonsa tak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada tempat ini. Terlihat sangat jelas dari raut wajahnya. “Kau mau masuk?” tanyanya padaku.

“Jika diijinkan, maka dengan senang hati.”

Ia tersenyum lebar dan membuka pintu kaca green house miliknya. Jauh dari ekspetasiku sebelumnya, tempat ini jauh lebih indah. Rumah kaca yang berukuran 25 x 20 meter ini benar-benar seperti surga. Pantas saja ia betah berlama-lama disini.

“Kau pasti akan sangat menyukai tempat ini.”

“Pasti.” Jawabku singkat sembari asyik mengamati berbagai macam tanaman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.    Untuk pertama kalinya, aku melihat bunga tulip yang bisa tumbuh di tempat ini.

“Perlu perawatan khusus untuk bunga yang itu. Agak cerewet dalam temperatur, intensitas cahaya dan kadar air nya. Karna itu perlu perhatian banyak dalam menjaganya, apalagi ia tumbuh bukan di habitat aslinya.” Cheonsa sadar aku begitu sangat memperhatikan tulipe yang hanya tumbuh di negara kincir angin itu.

“Kau menyenangi pekerjaanmu Han?”

“Sangat.”

“Pantas saja. Wajahmu yang suram tiba-tiba berubah drastis ketika sudah berada disini.”

“Wajahmu juga sangat suram! Maka oleh sebab itu, aku akan mengubahnya menjadi lebih baik.” Dan tanpa hitungan, Cheonsa menyiramkan air menggunakan selang secara membabi buta kearahku.

“YA!!!! Aiiiisssh dasar gadis sialan!” Maki ku padanya.

*****

Sudah lewat dari empat puluh hari. Dan kaki Cheonsa juga semakin membaik. Akhir-akhir ini aku jarang menemaninya karna kesibukan untuk recording untuk album baru, ditambah jadwal latihan gila-gilaan untuk persiapan comeback bulan ini. Belum lagi, syutting drama terbaru yang sangat menyita energi dan otak.

“Kenapa begitu muram?” Tanya Hyukjae seusai latihan malam ini.

“Ntahlah. Tapi aku merindukan gadis itu.”

“Gadis yang mana?”

“Jangan bertanya seperti itu, seolah-olah aku sudah mengencani banyak wanita.”

“HAHAHA, karna si bocah mokpo yang aku ketahui memiliki banyak scandal di luar sana.”

“Sesuka hatimu saja.”

“Cheonsa?” Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Sudah bisa ditebak.” Dan kami berdua sama-sama tertawa.

*****

From The Stupid ‘Aiden’

Received 15 minutes ago

Turunlah ke bawah. Aku sudah hampir mati membeku.

Cheonsa menatap screen iphone nya, dan tersenyum lebar.

Dasar bocah bodoh. Tunggu aku 5 menit lagi.

Tanpa pikir panjang aku mengambil Shawl-collar Cardigan Sweater yang tergantung di belakang pintu. Dan bergegas turun untuk menghampiri pria bodoh ini.

“Sudah menunggu lama?” Aku melihat ia menggosokkan kedua tangannya. Lalu menyembunyikan dibalik saku celananya.

“Baru tiga puluh menit yang lalu.”

“Oh.”

“Aku ingin mengajakmu keluar.” Ia menarikku masuk ke dalam mobilnya tanpa persetujuan terlebih dahulu.

“Kita mau kemana?” Tanyaku ketika ia memasang seat belt nya.

Go anywhere as long with you, Han Cheonsa!”

“Gombalanmu terdengar sungguh kampungan.” Aku berkata sambil menahan tawa. Dan ia pun mulai menjalankan mobilnya. Hampir satu jam berkeliling, kami akhirnya tiba di western restaurant yang sedikit sepi.

“Kenapa tiba-tiba datang?” Tanyaku padanya usai memesan makanan.

“Tidak. Hanya saja hari ini begitu sangat membosankan.”

“Benarkah?”

“Memang seperti itu.”

“Oh. Aku pikir kau begitu merindukanku.” Aku menggodanya.

“Sedikit.” Ia tersenyum malu. “Bagaimana keadaan kakimu?”

So much better. Dokter Park mengatakan kakiku sembuh lebih cepat dari yang diperkirakan. Besok akan lepas gips.”

“Baguslah. Esok pagi aku akan menjemputmu.” Tanpa perintah, ia segera melahap chessy chicken and vegetable rice yang baru saja diantar pramusaji ke meja kami.

“Seperti tidak makan bertahun-tahun.”

“Aku menghabiskan banyak energi hari ini.”

“Sudah lelah masih saja mencuri waktu untuk bertemu denganku. Kau benar-benar rindu padaku ternyata.”

“Ya. Aku rindu padamu Han Cheonsa. Rindu sekali!” Ucapnya sembari menautkan jari tangan kiri dan jari tangan kanannya, lalu mengedip-ngedipkan mata nya genit. “Lusa kau ikut aku ke suatu tempat. Oke?”

“Mau kemana?”

“Jangan banyak tanya, cukup katakan Oke.”

“Baiklah.”

#One day later, Donghae’s private room

“Wah ruangan ini luas sekali.” Cheonsa mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruangan yang didesain khusus untuk ruang bersantai bagiku. “Kau tinggal sendiri di tempat ini?” tanyanya.

“Tidak. Aku tidak tinggal di tempat ini.”

Dahinya berkerut menandakan bingung, “lalu kau tinggal dimana?”

“Aku tinggal bersama teman-temanku.” Dan ia menjawab dengan anggukan paham. Lalu matanya menatap, piano klasik di pojok ruangan ini.

Can you play it special for me?” ia mengedipkan matanya sambil telunjuknya menunjuk piano itu.

“Baiklah, Nona!” dan aku mengambil tempat di depan piano ini dan menekan tuts-tuts piano ini. Lalu memainkan lagu yang ntah kenapa tiba-tiba saja muncul di otakku.

 

Always said I would know where to find love, 
Always thought I’d be ready and strong enough,
But some times I just felt I could give up.
But you came and changed my whole world now,
I’m somewhere I’ve never been before.
Now I see, what love means.

It’s so unbelievable,
And I don’t want to let it go,
Something so beautiful,
Flowing down like a waterfall.
I feel like you’ve always been,
Forever a part of me.
And it’s so unbelievable to finally be in love,
Somewhere I’d never thought I’d be.

 

Now I see, what love means. 

 

“Suaramu terdengar cukup bagus.” Ia tertawa lebar. “Dan aku suka melihat ekspresimu ketika sudah bermain piano. Seperti bukan Aiden Lee yang kukenal begitu menyebalkan.”

Ntah kenapa tiba-tiba jantung ini berdetak diluar batas wajar, ketika melihat gadis menyebalkan ini tersenyum seperti tadi.

“Han.” Aku memanggilnya, ia pun menengok kearahku.

“Ya?”

“Bisakah kau melihatku?”

“Tentu, aiden. Jika aku tidak melihatmu sekarang, maka aku buta.” Candanya.

“Bukan itu. Maksudku bisakah kau melihatku sebagai Aiden Lee. Bukan sebagai pria bodoh, berotak dangkal dan sangat menyebalkan seperti sebelumnya, tetapi Aiden Lee sebagai pria normal dan bisa merasakan ketertarikan pada wanita.” Ia hanya diam membeku. “For once in my life, I don’t have to try to be happy because when I’m with you, it just happens.

Ia tetap membeku dan semburat merah di pipinya tidak bisa tertutupi. Perasaan ku cukup lega ketika bisa mengatakan semuanya. Dan tiba-tiba seluruh badanku gemetar.

“kau kenapa?” tanyanya panik.

“Tidak. Mungkin ini efek gugup setelah aku mengatakan kalimat tadi.” Ucapku menenangkannya. “Han, bisakah aku meminta tolong denganmu?”

“Kau mau apa?” ia masih terlihat panik, karena tiba-tiba melihat badanku masih gemetar ditambah kucuran keringat dingin yang keluar membasahi tubuhku.

“Ambilkan kotak vitamin disana, aku mungkin agak sedikit lelah.” Ucapku. Tanpa pikir panjang, Cheonsa mengambil kotak multivitamin dan menyerahkannya padaku.

*****

From The Stupid Aiden

Received 15 minutes ago

Temanku akan menjemputmu 30 menit lagi. Bersiaplah.

Dasar pria bodoh, suka sekali membuat rencana diluar dugaan.

To The Stupid Aiden

Sent 5 minutes ago

Kau ini selalu saja begini! Aku sibuk!

Tiba-tiba pintu kamar diketuk berulang kali dan Mom berteriak dari luar,

“Han, temanmu sudah cukup lama menunggu di luar. Kau tidak melupakan janjimu kan?” ucap Mom.

“Yes, Mom! Aku sedang bersiap-siap!” jawabku.

*****

            “Hallo!” wanita muda ini membungkuk hormat padaku. “Nice to meet you, Han Cheonsa!” ucapnya sembari tersenyum cantik.

Nice to meet you, too.”

“Aku disini karna pria menyebalkan itu meminta khusus untuk menjemputmu. Kau sudah siap?” ia terlihat sangat cantik dengan Silk Henley nya. Aku hanya mengangguk. Sebenarnya di otakku masih berputar-putar memikirkan rencana apa lagi yang dibuat lelaki aneh itu.

“Namaku Hyona. Aku senang bisa bertemu denganmu, semoga setelah ini kita bisa lebih dekat lagi.”

“Iya. Tapi bisakah kau memberi tahu kemana kita akan pergi?”

“Aku baru bisa memberitahumu ketika kita sudah tiba di tempat yang akan kita datangi. Maafkan aku, Cheonsa! Tapi ini ide gila pria bodoh itu.” Dan tiba-tiba telponnya berdering.

“Ya pria cerewet?!!” jawabnya.

“…”

“Tenang saja, dalam waktu dua puluh menit aku akan membawa wanita pujaanmu tiba dengan selamat sampai disana.” Ia tertawa sambil melihat kearahku.

“…”

“Ne~~ pastikan aku dan Cheonsa akan aman-aman saja tiba disana.”

“…”

“Oke.” Ucap Hyena menutup telponnya dan mulai memacu kemudinya.

# Oylmpic Gymnasium, May 26th 2012

Aku dan Hyona tiba di Olympic Gymnasium, arena ini disesakkan dengan banyak anak muda yang terlihat seperti hendak menonton konser. “Hyo, pria bodoh itu dimana?” Aku semakin bingung.

“Han, kau cukup berpegang erat denganku. Kita jangan sampai terpisah.” Lalu Hyona mengalungkan id card khusus untuk tamu vvip. “Sebentar lagi kau akan bertemu dia di dalam sana.”

“Apakah ia sudah menunggu kita di dalam?” Aku memborbadir Hyona dengan banyak pertanyaan.

“Sebentar lagi kau akan menemukan jawabannya, pretty!” Dan Hyona semakin mengeratkan pegangannya dengan tanganku. Ia sempat membisikkan sesuatu pada security guard yang sudah menunggu di pintu masuk. Tanpa perlu antre panjang kami sudah duduk manis di deretan kursi vvip untuk pertunjukkan konser.

“Kita akan menonton konser siapa, Hyo?” Aku bertanya lagi layaknya orang bodoh.

“Kau mengenal super junior, Han?” Aku menggeleng pelan. Nama itu terdengar sangat asing di telinga ku. “Dasar ikan amis! Pandai sekali menyembunyikan identitas.” Gumam Hyona.

“Ada yang salah, Hyo?”

“Tidak.” Ia melirik arloji nya sebentar, “kurang lebih 10 menit lagi kau akan tahu semua, cantik! Jadi sedikit bersabarlah.” Ia menenangkanku.

Aku melihat seluruh penjuru Olympic Gymnasium seperti blue ocean. Ini bukan sembarang konser, pikirku. Tidak berapa lama arena ini semakin riuh, karna opening song dibunyikan. Hyona menepuk bahuku, “Han, gunakan ini ya.” Ia memasangkan bando glow in the dark yang bertuliskan ‘I’M HERE’ dan memberikan aku lightstick yang memiliki desain khusus.

“Ini semua untuk apa?”

“Supaya ia dengan mudah menemukanmu, Han.” Hyona tersenyum misterius.

“Aiden ?”

Hyona mengangguk, dan ia semakin membuatku bingung. Lalu mengedarkan pandanganku pada stage, dan mata ini serasa seperti keluar dari tempatnya. Aku tercengang, dan mencoba memastikan bahwa pria bodoh yang aku kenal itu benar-benar ada di stage itu.

“Itu—“ aku menunjuk pria berkacamata yang begitu mahir dalam menari dan menyanyi.

“Han, nampaknya Donghae sukses menutupi identitasnya di depanmu.”

“Kau harus menjelaskan semuanya padaku, Hyo.” Hyona tersenyum lebar.

“Aiden Lee yang kau kenal adalah Lee Donghae, pria amis dari Mokpo yang sekarang sedang mencapai high popularity nya sebagai member boyband yang punya nama di dunia.”

“Jadi, Aiden itu selebrity?” Aku masih menatap heran pada Hyona.

“Yup, darling. Aku kaget karna kau sama sekali tidak mengenal dia.”

*****

Aku tersenyum ketika melihat penonton yang duduk di deretan kursi vvip.

“Han Cheonsa ternyata lebih cantik dari yang aku bayangkan.” Siwon masih sempat menggodaku.

“Aku berhutang cukup besar padamu dan Hyona.”

“Itu gunanya sahabat.” Siwon menepuk bahuku berulang. Aku masih mencuri kesempatan untuk melihat Han yang masih menatap heran dan kagum berulang kearah kami.

Where is Cheonsa?” Hyukjae menatap semua kearah penonton vvip. Aku tersenyum licik dan Hyukjae seolah paham apa yang ingin aku kerjakan. Kami berdua berlari kearah penonton vvip, sembari mengajak ELF bernyanyi aku mencuri senyum Han. Dari wajahnya, ia cukup menikmati pertunjukan hari ini. Aku melempar ciuman udara ku untuk Han, dan ia tertawa lebar.

*****

Hyona menyentuh bahuku, “Han, sebentar lagi konser akan berakhir. Alangkah lebih baik jika kita keluar sekarang, aku tidak mau berjejal dengan banyak orang untuk keluar dari arena ini.” Aku mengangguk paham, dan kami berdua bergegas beranjak dari tempat ini. Aku berjalan di belakang Hyona, mengikutinya.

Ia membawaku berjalan melewati akses untuk kearah backstage. “Lebih baik kita menunggu mereka di waiting room.” Ucap Hyona. Sepertinya ini bukan pertama kalinya, Hyona menghadiri konser ini. Setelah hampir lima belas menit kami berjalan, kami akhirnya tiba di waiting room. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Hyona membuka pintu ruangan ini. Ia juga menarikku masuk.

“Hello Guys!” Teriaknya. “Say HI for Cheonsa, Please!” Ucapnya. Semua mata member yang terlihat asing di mataku, tersenyum lebar ke arah kami berdua.

Seorang pria yang berperawakan agak kurus datang menghampiriku, “Hello Han! Lee Hyukjae!” Ia menyodorkan tangan kanannya, dan aku menyambutnya dengan senang hati.

“Nice to meet you!” Ucapku.

“Well, akan sangat baik jika kau tidak berlama-lama memegang tangannya, wahai playboy amatiran!” Ucap pria yang dari tadi aku tunggu kemunculannya. Aku menoleh ke belakang, kepada suara yang tidak asing lagi.

“Kau sudah berbohong banyak padaku, Hae.” Aku mencubit pinggangnya.

Ia meringis menahan sakit, “setiap bertemu denganmu, aku selalu saja mendapat siksaan.”

Setelah berkenalan dengan semua members, aku bergabung dengan mereka dalam dinner after party.

Selesai itu, Donghae mengantarkan aku pulang. Yang aku ingat, ketika mentari mulai bangun dari peraduannya, mataku mulai mengatup.

*****

Setelah hari itu, mungkin sekitar tiga minggu berlalu, ia sudah mulai jarang menghubungiku. Mungkin terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Aku juga begitu serius berkutat dengan pekerjaan di klinik, karna minggu depan akan ada event go green for seoul. Dan aku terlibat di dalam kegiatan itu.

“Hello, Han!” Aku menoleh ketika melihat Hyona dan Siwon berdiri di ambang pintu klinik.

“Hey!” Aku berjalan dan memeluk Hyona. “Lama tidak bertemu. Ada perlu apa kalian kemari?”

Mereka berdua tersenyum tipis dan saling bertukar pandang, “Han, kau tidak sedang sibuk? Bisakah kau ikut bersama kami sebentar?”

*****

“Setelah mengantarmu pulang, Donghae tiba di dorm dengan wajah pucat menahan sakit. Ntah apa yang membuatnya seperti itu, kami semua bingung dan sebelum kami sempat memanggil dokter untuk mengecek kesehatannya, Jungsoo hyung menemukan Donghae pingsan di dalam kamar.” Kata-kata Siwon tadi masih berotasi jelas di dalam otakku. “Setelah tim dokter menganalisa kesehatan Donghae, kami sangat kaget dan down ketika ia divonis mengidap ataxia. Ataxia adalah penyakit yang menyerang system koordinasi syaraf tubuh manusia. Penyakit ini akan memberi efek pada organ tubuh seperti kaki, tangan, vocal berbicara dan pergerakan matanya. Selama ini, Donghae sudah tahu bahwa ia mengidap penyakit tersebut. Tapi ia sangat cerdas untuk menutupi semuanya di depan kita. Hanya karna takut kita terlalu cemas akan keadaaanya.”

Aku berjalan gontai menuju kamar inap yang Donghae tempati. Otak ini serasa berhenti berpikir. Mulut ini tiba-tiba enggan mengeluarkan kata. Seluruh darah seperti membeku, dan mau mati saja. Dari balik kaca pintu kamar, aku melihat Donghae terbaring kaku tak bersemangat. Melihatnya seperti ini saja, aku sudah gila. Menahan miris teramat sakit.

“Dokter tidak bisa memberikan kepastian apakah Donghae bisa sembuh atau tidak. Sejauh ini tidak ada obat yang bisa membantu penyembuhan penyakit ini. Penderita hanya diberi peralatan-peralatan medis yang dapat membantu ia dalam melakukan kegiatannya seperti berjalan, berkomunikasi dan sebagainya. Aku harap kau bisa membantu kami dalam memberi semangat untuk Donghae, agar ia bisa berjuang dalam melawan penyakitnya tersebut.” Tutur Siwon.

Aku membuka pintu itu secara perlahan, dan melangkahkan kaki ini pelan. Aku berusaha sekuat tenaga menahan cucuran air mata agar tidak semudah itu keluar dari tempatnya.

“Hae.” Aku mengusap telapak tangannya dan meletakkan buket Cosmos bipinnatus disampingnya. Ia mencoba tersenyum walaupun sulit. “Jangan terlalu memaksakan dirimu.” Aku mengusap kedua pipinya.

“Aku mau kau segera pulih dan bermain bersamaku lagi.” Bulir-bulir air mata jauh dari kedua matanya. “Kau harus kuat!”

*****

Salah satu dokter yang merawat Donghae, pagi buta menghubungiku. Ntah apa alasannya, tapi aku bergegas menuju ke rumah sakit. Ini sudah hampir empat minggu berlalu, dan tiada tanda-tanda perubahan yang terlalu signifikan pada kesehatan Donghae.

“aku ingin—“ Ia mengucapkan kalimat itu secara terbata-bata, “ke klinik.”

“Tapi Hae, kesehatanmu bagaimana?” ucaku sedikit panic. Ia memasang tampang kecewa dan ingin sekali nampaknya pergi. Dengan bantuan kursi roda aku membawanya pergi ke klinik hari ini.

Setibanya sampai di klinik, raut wajahnya sedikit berubah, ia mencoba tersenyum walau sulit. Ia mengamati seluruh bunga yang ada di ruangan ini, lalu tersenyum.

“Lanjutkan pekerjaanmu,Han! Aku tidak mau mengganggumu.” Ucapnya. Dari kursi roda, ia mengamatiku yang sedang menyiram berbagai bunga, memberi pupuk, serta mengatur berbagai bunga yang tidak bisa kontak dengan matahari langsung dan dipindahkan. Setelah hampir berjam-jam, akhirnya pekerjaanku selesai juga.

“Hae, sekarang kau kuantar pulang ke rumah sakit ya?” tanyaku. Ia menggeleng pelan.

“Aniyo~~”

“Lalu kau ingin apa?”

“Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu hari ini.”

“Oh baiklah! Sekarang kita akan melakukan apa, Tuan?” candaku.

“Berdongenglah untukku.”

“Tapi, Hae. Aku ini tidak pandai berdongeng. Aku bisa melakukan hal lain terkecuali itu.”

“Justru itu! aku tau kau tidak pandai berdongeng, maka hari ini berdongenglah untukku.”

“Kau ini, memang selalu saja berbuat sesuka hatimu.”

“Tapi aku tidak mau duduk seperti orang cacat di kursi roda sialan ini. Aku mau mendengarmu berdongeng sambil tidur di pangkuanmu, Han.”

“Aiiiisssh, kau benar-benar cerewet sekali.” Akhirnya aku mengikuti kemauan pria bodoh ini, meski agak sulit tapi akhirnya aku berhasil membantunya untuk lepas dari kursi roda dan sekarang kepalanya bertumpu pada kedua pahaku.

“Mulai sekarang!” titahnya.

Aku menggaruk kepalaku bingung, aku sama sekali tidak tertarik dengan dongeng. Dan akan sangat mati akal jika sekarang disuruh berdongeng.

“Dahulu kala hiduplah tuan putri yang manis nan jelita layaknya anyelir putih. Ia baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. Tapi itu semua sirnah ketika tiba-tiba datang seorang pria buruk rupa, bodoh dan ceroboh. Ia menabrak tuan putri itu hingga kakinya patah dan tidak dapat berjalan dalam waktu yang lama.”

“Han, aku tidak memintamu berdongeng mengenai kita.” Ia melayangkan aksi protesnya. “Dan aku sangat keberatan jika dikatakan sangat buruk rupa dan ceroboh.” Omelnya.

“Kau ini. Kan sudah aku katakan dari awal aku ini tak pandai berdongeng, jadi terserah aku jika aku ingin berdongeng tentang apa.” lalu aku melanjutkan ceritaku, “tuan putri sungguh membenci pria buruk rupa itu hingga tidak ingin bertemunya lagi. Tapi dengan penuh ketulusan hati, si pria buruk rupa itu meminta maaf. Ntah alasan yang tidak jelas, tuan putri tidak bisa membenci pria itu. Ia bahkan semakin dekat dan akrab dengannya. Mungkin karna pria buruk rupa itu datang dengan hati yang bersih, maka tuan putri secara perlahan memaafkannya. Dan mereka pun hidup bahagia.”

“Dongengmu teramat sangat membosankan.”

“Aisssh, kau hanya bisa menggerutu dan menggerutu saja.”

Ia tersenyum lebar, lalu tiba-tiba berkata “Han, jika seumur hidupku cacat seperti ini, apa kau masih mau dekat denganku?”

Aku terdiam, dan menghela nafas sejenak sebelum aku menjawab pertanyaannya. “Dasar pria berotak dangkal! Aku takkan membiarkanmu berlama-lama cacat seperti ini. Dengan kekuatan bulan, aku akan membantumu agar lekas sembuh.” Candaku.

“Benarkah? Aku akan selalu ingat janjimu itu.”

“Kau bisa pegang omonganku, Lee Donghae.”

“Han, do you remember first time we met?

“YA! Pertama kali bertemu denganmu adalah bencana untukku. Sebuah pertemuan yang buruk.” Aku mengenang masa-masa itu.

Ia lalu menggenggam tanganku erat, “do you remember, one sweet memory about us?”

“aku hanya memiliki ingatan bahwa lee donghae yang aku kenal adalah pria bodoh dan selalu berbuat sesuka hatinya. Tidak bisa ditebak apa maunya. Tapi aku menikmati itu semua.”

do you remember, a song that remind you of me?

Unbelievable.” Lalu kami pun sama-sama tersenyum.

“Han, jika kau memiliki satu kesempatan, apa yang bisa kau berikan sebagai balas jasamu untukku?”

Aku berpikir sejenak, “Kau memiliki popularitas, kekayaan, dan banyak cinta dari orang disekelilingmu. Kau memiliki semuanya, dan ntahlah aku bingung akan memberikanmu apa.”

“Cukup berikan cintamu hanya untukku. Dan aku akan sangat bahagia.”

Aku tersenyum dan tiba-tiba terbesit ide ini, “aku akan memberikanmu bunga Salvia officinalis.

“Apakah bunga tersebut ada di sini?”

“Tentu. Aku akan membawakannya untukmu.” aku meninggalkan sebentar dan mencari bunga tersebut. Tidak lama, aku segera kembali.

“Apa kau sudah menemukannya?”

“Ya.” Aku meletakkan bunga tersebut di dadanya,

“Bunga ini memiliki arti khusus. Artinya adalah kesehatan dan umur panjang.” Ia tersenyum seolah paham.  Aku membelai lembut rambut halusnya, dan kami melewati tiap detik, menit, jam dalam hening.

*****

 

Twitter Trending Topics – Worldwide

#RestInPeaceLeeDonghae

#PrayforSJDonghae

#GoodByeSuperJuniorDonghae

 

“….Sulit dipercaya, @donghae861015 pergi begitu cepat😦 #RIPLeeDonghae..”

“WE GONNA MISS YOU @donghae861015 T.T #RIPLeeDonghae”

“Oppa, I can’t believe this @donghae861015”

 

“Meskipun kita berjalan dalam arah dan waktu yang berbeda, aku tahu pasti. kau dan aku akan bertemu pada tujuan yang sama. Terimakasih karna sempat mengisi alur plot kehidupanku, Aiden Lee” Han Cheonsa.

-I’M GOING TO BURY MYSELF FOR THIS STORY! LEE DONGHAE T.T-

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

7 responses »

  1. dj_funkxkull says:

    Bagus sih critanya, tp q gak suka sad ending.

  2. minyin says:

    Aaaah sweet story (?) with sad ending

  3. yazelf says:

    bikin jantungan tuh yg terakhir >.<

  4. lee hyoorin says:

    nyeseeeeeeeeeeeek deh ini ceritanya ya , kirain donghae sakitnya boongan gitu terus tiba” dia sembuh dan menyatakan cinta terus jadian and happily ever after tapi ternyata alur ceritanya gak kek gitu x_x . hehe

  5. vita edogawa says:

    Aduuhhh…jangan sampek kejadian itu ke jadian ama donghae and others member’s…pokoknya jgn sampeekk….!!
    Aku nangis bombai nya wkt tulisan “twitter trending topics-wordlwide…” Pas di bagian itu aku udah nangis bombay bangettt…!! Apalagi pas wkt bawah bawahnya lagiii….!! (╥﹏╥)
    Pokoknya daebak ff nya…!!

  6. Fitri minoz says:

    Aigooooo…..ngenes endingnya! Kenapa si ikan mati ckck

  7. ulupah says:

    keren……………… bagus..tp kenapa sad ending T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s