Title : Storm

Author : Avery Song

Main Cast : Lee Donghae, Han Cheonsa

Genre : Angst, Romance

Length : Songfic

Rated : PG-13

Disclaimer : Semua hasil dari pemikiran aku. Dan aku ucapin Happy Birthday –walau telat abis- buat Sonia –walau aku belum kenal dia 100%- haha yang aku tahu kita lahir di tahun yang sama-_- Semoga tambah baik, biar dia adain lomba lagi ke depannya yang hadiahnya nggak cuma album doang, doain biar dia ngasih hadiah tiket tour keliling KorSel, syukur-syukur ditambah tiket konser SJ hehe. Sebelumnya minta maaf ini FF dibuatin dalam rangka pesta bertambahnya tua Sonia eh malah aku buat yang berbau angst gini, jadi harap maklum ya. Sekalian mampir ke bog pribadi aku *promosi* di songaeworld.wordpress.com

Selamat membacaaa…. Semoga tidak mengecewakan…..🙂

***

[Songfic] Storm.

Stop talking

I hate myself for knowing everything

Donghae berjalan ke sudut ruangan yang sepi. Menyapukan pandangan pada lautan manusia sekedar mengisi waktu yang berjalan begitu lambat. Di depan sana, seorang pemuda tengah melantunkan lagu lama menghanyutkan suasana. Donghae menekan dadanya kuat-kuat, berharap hal itu dapat meredakan perasaan sakit yang menggerogoti salah satu ruang dalam hatinya. Saat mendapati dirinya rapuh, hanya karena sesuatu hal yang terjadi di luar kendalinya.

Semua orang yang hadir tampak sibuk membicarakan sepasang manusia yang hari ini menjadi bintang utama. Berpikir semua tamu undangan sedang berbahagia merayakan suatu pesta yang mengikat dua orang yang saling mengasihi secara sakral. Bahkan sedikit pun tidak terlintas di benak mereka jika ada seseorang yang setengah mati menekan pergolakan batin dalam dirinya.

Don’t try too hard to get far away

My body has already broken into pieces just like you wanted

Satu bulan.

Selama tiga puluh hari Cheonsa sama sekali tidak muncul. Menghilang dari jarak pandang Donghae tanpa meninggalkan jejak. Menyebabkan hidup laki-laki itu tidak tenang, seakan-akan salah satu organ dalam tubuhnya itu menghilang.

Pada suatu malam Cheonsa muncul. Donghae mendapatkan oksigennya kembali saat matanya menangkap diri Cheonsa berdiri begitu anggun di depan pintu apartment. Bahkan gadis itu sempat membalas pelukan Donghae yang dirasa begitu erat. Donghae hanya bertindak tanpa bisa memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi setelah sekian lama tak bertemu pandang dengan gadisnya.

“Pernikahan?” Donghae tersenyum getir saat menerima sepucuk surat undangan yang disodorkan Cheonsa. Menatap kosong kertas berlabelkan ‘Pernikahan’ di cover depan.

Tawa sumbang mengalun dari mulut Donghae. “Mataku mungkin sedang bermasalah. Han Cheonsa, jelaskan padaku jika yang kulihat kini hanyalah sebuah kesalahan,” Tapi Cheonsa hanya terdiam. Kepalanya menunduk dalam, seperti sebuah beban berat sedang berpijak di atas kepalanya.

“Cheonsa??”

Suara lirih Donghae menyayat hatinya. Semakin besar beban yang Cheonsa tanggung saat melihat kedua mata laki-laki itu menatapnya sedih. “Aku rasa hubungan kita harus berhenti sampai disini.”

Hati Donghae mencelos saat untaian kata itu terlontar begitu saja dari Cheonsa. Otaknya mati. Jiwanya melayang entah kemana. Masih belum terima dengan keputusan sepihak yang sama sekali tidak memberikannya pilihan.

Perjodohan. Begitu yang Cheonsa katakan tanpa Donghae menuntut untuk dijelaskan. Setidaknya Donghae masih bisa menangkap inti dari keseluruhan kalimat yang terucap dari bibir Cheonsa, mengingat kesadarannya yang mustahil digunakan untuk berpikir. Hal-hal yang dilakukan para orang tua kalangan atas, seperti halnya orang tua Cheonsa, semata-mata karena bisnis.

“Apa kau mencintaiku, Han Cheonsa?”

Donghae menatap dalam kedua bola mata milik Cheonsa. Terlalu banyak perasaan yang tergambar disana. Sedih, kecewa, penyesalan. Tapi Cheonsa tetap bergeming, tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Dan melihat hal itu malah semakin menyulut emosi Donghae.

“KALAU KAU MEMANG MENCINTAIKU MENGAPA MENERIMA PERJODOHAN INI BEGITU MUDAHNYA?!!” Donghae berteriak frustasi. Kedua tangannya terkepal sempurna. Urat-urat tergambar begitu jelas di lehernya. Nafasnya naik turun tak beraturan, akibat menahan emosi yang telah membuncah hingga ke ubun-ubun kepalanya.

“Terkadang hidup ini tidak berjalan sesuai keinginan kita,” Suara getir Cheonsa kembali terdengar. Perkataan lirih, tapi terdengar begitu menghantam gendang telinga Donghae. “Dan tidak jarang juga keinginan kita terkabul setiap saat. Karena itu Tuhan memang adil. Kalau saat ini kita memang tidak dipersatukan, aku rasa itu bukanlah suatu hal yang harus kutentang. Kau tahu? Hidup ini tidak pernah lepas dari kata cobaan. Dan satu lagi..”

Hening sesaat. Sekuat tenaga Cheonsa mengumpulkan oksigen dalam paru-parunya, sesaat sebelum ia melanjutkan kembali kata-katanya. “Cinta itu tidak harus memiliki,” Dan Donghae benar-benar terjatuh saat melihat kedua bola jernih itu memberi penekanan jika mereka memang harus berpisah.

Tidak ada air mata kesedihan saat badan Cheonsa menghilang di balik pintu. Tetapi gadis itu meninggalkan lubang menganga yang besar. Donghae menerawang ke arah gemerlapan lampu di bawah tanpa ada pikiran. Menjejakkan kebisuan di tengah kegelapan.

I finally set my heart to leave

And it came to me like a harsh storm

Suatu objek mengalihkan pandangannya pada satu titik di sudut lain ruangan. Memporak-porandakan semua hal saat kedua bola mata tajam itu menangkap diri Cheonsa berada dalam pelukan pria lain.

Donghae pernah berpikir pesta bagaimana yang akan dia helat saat hari pernikahannya dengan Cheonsa. Bahkan saat Donghae menyampaikan pemikirannya, Cheonsa sempat menanggapi dengan gurauan tawa seraya mengiyakan semua ucapan laki-laki itu. Tapi tak pernah terbayang olehnya jika dia harus melihat dengan kepalanya sendiri prosesi pernikahan gadisnya. Dengan pria lain. Dan itu bukan dengan dirinya.

Mata Cheonsa mencari-cari di kerumunan. Dan terhenti saat menangkap kedua mata Donghae yang menatapnya nanar. Tanpa sadar kakinya tergerak menuju tempat dimana Donghae berdiri. Tidak ada seorang pun yang menyadari pemandangan itu. Keduanya tetap saling bertatapan memandang satu sama lain tanpa berniat melepasnya. Posisi Donghae yang semula bersandar pada dinding ruangan, berubah menjadi tegap saat Cheonsa telah berdiri tepat di hadapannya.

Hening. Andai saja semua hal ini dapat ditafsirkan hanya dengan saling bertatapan, mungkin keduanya bisa melihat bagaimana luka yang membekas dalam diri masing-masing. Tapi hanya hembusan angin lalu yang menemani mereka. Tidak memberikan arti apa-apa.

“Aku..,” Suara Cheonsa memutus tatapan intensif yang sebelumnya terjalin di antara mereka. Donghae hanya terdiam menunggu kata-kata yang akan terucap dari bibir gadisnya. “Maafkan aku,” Cheonsa menunduk. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung kedua bola mata Donghae yang tajam. Hanya diam respon yang diberikan Donghae. Dia tahu betul jika gadisnya sama tersakiti seperti dirinya.

Donghae merasa sudah melangkah terlalu jauh. Dia benar-benar telah memberikan seluruh hatinya pada gadis yang kini tengah ada di hadapannya. Dan saat Cheonsa harus pergi meninggalkannya, dia kehilangan segalanya. Kehilangan dirinya, hatinya, dan alasan mengapa ia masih harus membuka matanya di tiap pagi. Tidak bisa mengantisipasi yang pada akhirnya membunuh dirinya secara perlahan.

“Kau tahu Donghae,” Kepala Cheonsa terangkat perlahan, melanjutkan adanya kontak mata yang sebelumnya sempat terputus. Donghae menahan nafas saat melihat air mata menggenang di pelupuk mata Cheonsa. “Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh sebegini dalamnya.”

Secara pasti, kedua tangan Donghae terangkat membelai pipi milik Cheonsa yang terlihat merah akibat sapuan blush on, lalu dengan kedua ibu jari dihapusnya aliran air mata yang sukses keluar akibat tekanan batin yang Cheonsa rasakan. Ditangkupnya wajah kecil milik gadisnya. “Jangan menangis. Susah payah berdandan akan terasa sia-sia jika pada akhirnya harus hancur karena air matamu,” Mendengar perkataan Donghae barusan mebuat isakan Cheonsa semakin tidak bisa dihentikan.

“Aku kira semua ini akan menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Seharusnya aku bahagia. Tapi kenapa begitu sesak, oppa? Bahkan untuk bernafas saja rasanya begitu sulit. Apa aku salah? Salah karena mengikuti keinginan kedua orang tuaku?”

Donghae memperkecil jarak yang terpaut antara dirinya dan Cheonsa, lalu detik selanjutnya tangan itu telah melingkar sempurna di pinggang ramping Cheonsa. Tangan kanannya yang bebas menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu, mencoba memberi ketenangan tersendiri. Pelukan terakhir. Dan mereka berdua sadar akan hal itu.

“Tidak ada gunanya menyesali kejadian yang telah lalu,” Sekarang tangannya beralih mengelus-elus rambut Cheonsa. “Merelakanmu merupakan satu hal yang paling kuhindari selama dua puluh tahun lebih hidup di dunia ini. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk membiarkanmu pergi ke pelukan orang lain. Tapi bagaimanapun akan kudoakan yang terbaik bagimu.”

Badan Cheonsa bergetar dalam rengkuhannya. “Untuk saat ini maafkan aku karena masih belum bisa merelakanmu. Tapi suatu saat kuharap aku bisa melepaskanmu,” Donghae terdiam sejenak. Diatur detak jantungnya dan helaan nafasnya. “Aku mencintaimu, Han Cheonsa. Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu.”

It might be a fate that will wash away like the rain

At the end of this walk, I let you know but you wouldn’t know

Hari sudah beranjak gelap saat Donghae memacu mobilnya meninggalkan jalanan utama. Pergi meninggalkan ingar-bingarnya suasana Seoul, melaju ke arah jalan pegunungan yang sepi. Kedua tangannya mencengkram setir kuat-kuat, terlihat dari buku-buku jarinya yang memutih.

Jarum speedometer mobil mengarah ke angka 100. Selama hidupnya Donghae tidak pernah suka dengan kebut-kebutan, tapi pada hari ini pengecualian. Bahkan secara tidak sadar kakinya menginjak gas lebih dalam. Pikirannya kacau. Dia sendiri tidak tahu ke arah mana dirinya mengantar mobil yang ia setir ini.

Kilasan mengenai Han Cheonsa muncul dalam angannya. Dimulai dari pertemuan pertama dengan gadisnya itu. Hari-harinya yang selalu dipenuhi dengan canda tawa akibat keberadaan Cheonsa. Semuanya yang muncul hanyalah beberapa potongan kejadian dalam hidupnya dengan Cheonsa sebagai tokoh utama. Suara lembut gadis itu pun mulai mengusik dirinya.

Di pinggir jalan sama sekali tidak ada penerangan. Pandangan Donghae mulai tidak fokus. Sebelah tangannya menjambak rambut coklat gelap miliknya frustasi. Pikirannya mulai penuh dengan segala kemungkinan yang akan ia jalani ke depan tanpa ada seseorang yang menopang dirinya agar tidak terjatuh.

Ingatannya tiba-tiba teralih pada kejadian tadi, disaat suami Cheonsa datang menghampiri mereka. Donghae memang masih bisa tertawa, tapi hanya orang bodoh yang tidak menyadari jika itu adalah tawa yang dipaksakan. Genggamannya pada tangan Cheonsa begitu erat, masih belum rela melepaskan kontak fisik itu. Karena ia sadar, jika genggaman mereka terlepas maka bersamaan dengan itu gadisnya pun juga akan ikut terlepas dari dalam hidupnya.

Jarum speedometer terus bergerak searah jarum jam menunjukkan bertambahnya kecepatan mobil yang Donghae kendarai. Hingga di ambang batas kesadarannya, Donghae dapat melihat sinar menyilaukan mata dari arah berlawanan. Ketenangan yang sedari tadi ia ciptakan goyah. Fokusnya benar-benar hilang saat kenangan-kenangan akan gadis itu berputar di kepalanya.

“Cheonsa. Namaku Han Cheonsa. Kalau kau?”

Melihat gadis itu pertama kali di suatu sore saat musim gugur.

“Kau benar. Aku memang mempunyai waktu-waktu terbaik tiap saat bersamamu.”

Menyeretnya perlahan memasuki roda kehidupan.

“Apakah aku mempunyai alasan untuk menolakmu? Kalau iya, coba sebutkan.”

Menjadikannya alasan untuk mempertahankan hidup.

“Donghae oppa! Nan jeongmal saranghaeyo!!!”

Kehampaan yang menemani beberapa hari terakhirnya,

“Apa? Kalau kita menikah? Hahaha apapun keputusan yang kau buat, aku akan ikuti. Karena aku adalah calon istri yang baik.”

Menuntun pada sebuah keterpurukan alam nyata.

“Aku rasa hubungan kita harus berhenti sampai disini.”

Sampai saat tiba waktu yang tepat untuk melepas semua kelelahan yang ia rasakan,

“Dan satu lagi… Cinta itu tidak harus memiliki.”

Secara tidak sadar tangannya telah membanting setir keras ke arah kanan.

“Maafkan aku..”

Terdengar suara decitan yang begitu memekakkan telinga.

“Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh sebegini dalamnya.”

Mobil yang ia tumpangi menabrak pagar pembatas jalan dan terpental beberapa meter jauhnya.

 “Aku mencintaimu Lee Donghae..”

Dan semuanya berakhir.

Sudut bibirnya tertarik sedikit. Bayangan Cheonsa yang bagaikan potongan film itu terhenti. Rasa lelah yang menggerogotinya pun mulai hilang secara perlahan. Dan yang membuat kesadaran Donghae secara pasti memudar sedikit demi sedikit, saat semua itu terhenti pada momen ketika Cheonsa hilang di balik pintu apartmentnya. Hari dimana gadis itu memutuskan untuk meninggalkan dirinya.

Hingga semuanya berubah menjadi gelap. Tidak meninggalkan rasa apapun pada dirinya. Dan saat itu jiwanya telah melayang bersama hembusan angin.

I can’t go a step closer to you..

-C’MON! WAKE UP LEE DONGHAE! CRIES HARD ;A;-

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

4 responses »

  1. Gyaaaahh…another sad ending.
    still cannot bear with sad ending story..
    and why always dongek always looks best on sad story??
    ;s

  2. han gi says:

    kyaaa…sedih bgt ini . huhu

  3. inkyu says:

    kyaaaaaa…
    andwaeeee…
    apa itu??
    nae oppa kecelakaan dan meninggal gitu maksudnya?!
    huuuaaaa…
    hiks… hiks… hiks…
    hae oppa…
    cheonsa kau akan menyesal menyia-nyiakan nae oppa…
    #plaaak
    keep writing thor…🙂

  4. ella says:

    Daebak, thor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s