Judul cerita : CHEONSA

Author: @Reginaaaaaaaaa_

Cast : – Lee DonghaeY

_ Han Cheonsa

_ Appa dan Eomma

Genre : Angst kayaknya -_-

Rating : teenager

Note : ff ini buat kalian yang baca dan buat IJaggys dan Cheonsa khususnya ^^

Cheonsa

Jika kematian adalah jembatan menuju surga, maka ..

Biarkanlah aku melewatinya dengan mudah.. “

***

Aku benci tempat ini!

Aku benci segala macam benda yang ada di ruang ini; bahkan aku juga membenci setiap oksigen yang aku hela di ruangan terkutuk ini . Ruangan dengan cahaya lampu temaram dan kau tahu? Aku benci cahaya fluorescent, sama halnya dengan kebencianku terhadap detik-detik yang berlalu sebelum Cheonsa terkapar menghembuskan napas terakhir yang ia hembuskan ke ruangan ini.

***


Gadis kecilku. Aku selalu memanggilnya begitu. Panggilan sayang seorang kakak kepada adiknya. Bahkan, aku menyukai namaku dan nama gadis kecilku, Cheonsa. Lee Donghae dan Han Cheonsa. Kadang, aku tersenyum kecil ketika menyebutkan kedua nama itu. Ketika kecil, kami seringkali bermain di serambi pondok kecil kami; menikmati hangatnya terik matahari yang menggosongkan kulit kami, berlarian, berkejaran dan bermain kelereng, hingga suatu hari aku sengaja mengelabui Cheonsa bahwasannya kelereng-kelereng itu adalah sekumpulan permen yang sangat manis, dan Cheonsa menelannya. Setelah kejadian itu, Appa memukuliku dengan sebilah kayu dan memutuskan untuk menggunduli kepalaku dengan cara memangkas habis rambutku. Diumur dua belas tahun itulah pertama kalinya (setelah dilahirkan) aku menjadi seorang bocah laki-laki gundul, dan aku menangis.

Kami tinggal di salah satu distrik paling kumuh di selatan mokpo dengan menempati sebuah pondok usang, kecil, sempit dan memiliki ruangan terbatas selama lima belas tahun terakhir untukku, sembilan tahun terakhir untuk Cheonsa, tiga puluh tahun tahun terakhir untuk Appa dan Eomma . Eomma, ia adalah seorang penjahit rumahan yang kadang-kadang menjahitkan celana robek milik tetangga, membetulkan resleting yang konslet, dan ia terbatuk-batuk ketika melakukannya. Sedangkan Appa, ia adalah manusia dengan dua tanduk iblis di kepalanya. Hampir setiap hari, ia selalu pulang dalam keadaan mabuk dan merampas uang dari hasil jerih payah Eomma menjahit. Ketika Appa memukul Eomma, aku dan Cheonsa hanya bersembunyi di ranjang kami, menutup tubuh dengan selimut kumal, dan berpura-pura tidur dengan mata terpejam, tetapi telinga kami mendengar…

Jeritan. Tangisan. Rintih belas kasihan. Tangis yang pecah. Suara tendangan. Suara tamparan. Umpatan. Caci-makian. Sumpah-serapah.

Itulah hasil dari daftar pekerjaan harian iblis bertanduk dua itu.

***

Di usia Sembilan tahun, Cheonsa masih mengompol. Kami sebisa mungkin menyembunyikan hal itu dari Appa. Terkadang, aku membantu Eomma mencuci seprei bekas ompolan Cheonsa tadi malam.

***

Suatu hari di musim dingin, aku bercerita tentang salah satu film yang pernah ku tonton dalam pelajaran Sejarah di sekolah, Voices de Inocentes. Cheonsa menangis mendengarkan ceritaku entah karena takut atau tersentuh, aku tak tahu. Aku membujuknya agar berhenti menangis, dan supaya Appa tidak bangun dan masuk ke kamar kami. Namun, tangis Cheonsa semakin pecah dan sesaat kemudian terdengar erangan diikuti dengan langkah kaki menuju kamar kami. Aku melihat sosok tinggi, dengan mata merah dan rambut acak-acakan; dan tentu saja, aku selalu melihat dua tanduk iblis itu hinggap di kepala Appa. Ia berkacak pinggang dan seketika itu juga langsung membentak kami.

“Dasar anak setan!” Umpat Appa. Tanpa disadari, Appa telah menyebut dirinya setan. Yah, memang benar adanya..

Saat itu, Appa menyeret Cheonsa dari tempat tidur, dan menjewer telinganya. Cheonsa tetap menangis. Ternyata, Appa mengendus bau pesing yang berasal dari ranjang Cheonsa__ ranjang kami. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke bawah rok Cheonsa yang tampak basah. Dan mulai detik itu, aku semakin membenci Appa. Amat sangat membencinya.

***

Appa menyeret Cheonsa ke kamar mandi tanpa melepaskan jewerannya ke telinga Cheonsa yang telah memerah. Aku sebisa mungkin memohon, bahkan mengemis kepada Appa agar ia tak memukuli Cheonsa, adikku. Begitu pula dengan Eomma. Eomma tak dapat berbuat apa-apa selain mengutuk perbuatan Appa. Aku mendengar suara kunci yang berputar dari dalam kamar mandi. Kemudian, aku mendengar air beriak, sesuatu yang terbentur ke dinding, teriakan, jeritan, hentakkan, dan segala macam umpatan. “Terkutuk kau, anak setan!”. Aku mendengar satu lolongan panjang, hingga pada akhirnya__sepi.

***

Tepat pada saat itu juga, gadis kecilku mati. Aku tak rela ia harus mati dalam keadaan menghirup dan menghembuskan napas terakhirnya di ruangan ini; kamar mandi dengan cahaya fluorescent yang aku benci.

***

Tak ada lagi Cheonsa, gadis kecilku yang ceria__yang sewaktu-waktu dapat aku kelabui dengan keisenganku. Segalanya sepi__sunyi. Termasuk Eomma, yang sampai pada akhirnya, anak-anak di lingkungan  ini memanggilnya Bruja, penyihir.

-HOW DOES IT END? CRIES-

Sorry for typo and this failed story , Happy birthday Han Cheonsa . Y

Yumi-chan

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

5 responses »

  1. RoyalPumkin says:

    whoaaaaaa..
    it’s really great..

    gaya bahasanya ringan n dapat di pahami..

    nyesek sendiri gue bacanya..

    over all it’s good..
    love this story ^^

  2. inggarkichulsung says:

    Sedih banget.. disini beda Cheonsa nya jadi adiknya Donghae oppa tapi kesamaan dgn cerita2 sebelumnya sedih sekali Cheonsa nya meninggal.. Appa nya kejam banget.. Padahal Donghae oppa dan oemma sudah meminta agar Cheonsa tdk disiksa..

  3. han gi says:

    miris banget cheonsa nya . hiks

  4. Illipus_view21 says:

    singkat banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s