THE CHILDREN

Nama Lengkap: Sirtina Hanum

Nama pena : ladyelfishy

Twitter: @sirtiNAM

——————————————————————————————————————————-

“IKAN BODOOOOH!! Stupid stupid stupiiid!!”

“Ya Tuhan. Han Cheonsa. Berhentilah berteriak. Donghae di dorm atas mengapa kau mengamuk disini?”, Eunhyuk menggaruk kepalanya frustasi melihat tingkah kekasih pasangan ikannya ini. Pagi-pagi ia dikejutkan dengan kedatangannya tiba-tiba dengan aura kental pembunuh.

“Eeerrggghh, kau tahu, pasanganmu itu benar-benar ingin kubunuh! Dia menyuruhku ke apartemennya, dan ketika aku sampai ia mengirimiku SMS ‘Cheonsa-ya, tidak ada siapa-siapa di apartement, aku ada jadwal mendadak, dan jika kita berdua di apartement aku takut terjadi sesuatu’ Oh Ya Tuhaaan. Dia kira aku akan melakukan apa? Memperkosanya? Mana mungkin aku melakukan itu! Menjambakinya, menendangnya, memukulnya itu baru mungkin!”

Eunhyuk bergidik ngeri melihat gadis di hadapannya. Entah dosa apa yang dilakukan Donghae di masa lalu yang membuatnya mendapatkan gadis berwajah malaikat berhati iblis ini. Ternyata julukan Voldemort memang paling bagus untuk gadis ini.

“Tentu saja Donghae tidak ingin kalian hanya berdua saja, mungkin Donghae akan terbunuh dengan kelakuanmu. Kau kan pembunuh berwajah malaikat.”,ujar Eunhyuk sambil mengusap-ngusap belakang lehernya.

“Apa kau bilang? Kau dan pasangan bodohmu itu sama saja! Dasar kau monyet yadong!”, teriak Cheonsa sambil menghampiri Eunhyuk untuk memukulnya. Eunhyuk mengusap lengannya yg memerah dipukul gadis Voldemort ini.

“Hey, hey, hey! Berhenti memanggilku monyet! Walaupun kau memanggilnya ikan bodoh, tetap saja kau tidak bisa tanpanya. Cih, kau ini benar-benar-”, Eunhyuk mengejeknya.

Cheonsa mengepalkan tangannya. Aura Voldemort itu menguar dari tubuhnya. Dan selanjutnya..

“YAAAAAAAA HAN CHEONSA! BERHENTIII!! JANGAN SAKITI CHOCOO!!”

***

 

Cheonsa menatap layar ponselnya. Ini sudah malam dan Ikan bodoh bernama Donghae itu belum menelponnya bahkan mengirimkan SMSnya. Biasanya Donghae akan mengiriminya SMS labih dari 15 kali dalam sehari hanya untuk memberitahukan apa saja yg dilakukan, mulai dari bangun pagi hingga ia tidur lagi.

“Sial!”, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ia paling benci jika harus merasa resah seperti ini. Terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia merindukan ikannya itu. Mereka sudah seminggu lebih tidak bertemu karena jadwal comeback Donghae belum lagi drama yg dibintanginya. Dan sepertinya malam ini adalah puncak kerinduannya.

Cheonsa mengambil boneka nemo yg diberikan Donghae padanya setahun lalu ketika ulang tahunnya. Ia menonjok-nonjok boneka itu dengan brutal.

“Bodoh! Kau tau betapa aku merindukanmu hah? Tidak mengabariku hari ini, tidak menemuiku seminggu lebih, apa sesusah itu untuk menghubungiku saja?”, lirihnya sembari memeluk boneka tersebut dan berbaring.

“Aku membencimu ikan bodoh…”,dan sedetik kemudian matanya terpejam.

***

 

“Drrrtt Drrtt..”

Cheonsa terbangun karena getaran ponselnya. Ia mengucek matanya dan mulai beradaptasi dengan cahaya matahari. Mengambil ponselnya dan bersandar di kepala tempat tidur king sizenya.

‘Morning jagi… apa kau sudah bangun? Ayo bertemu! Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu.^^’

Cheonsa mendengus melihat siapa yang mengiriminya pesan pertamanya pagi ini. Lee Donghae.

‘Kalau aku belum bangun aku tak kan membalas pesanmu bodoh. Bertemu? Memberiku kejutan? Cih, aku tak mau!’, balas gadis itu.

Semenit kemudian ponselnya berdering. Tertulis ‘Namja Babo’ di caller IDnya.

“Mwo?”, jawab Cheonsa malas.

“Kau benar-benar tak mau kuberi kejutan?”, tanya Donghae langsung.

“Buat apa? Pasti kau mengerjaiku lagi kan?”

“Hey, kau ini selalu berpikiran negative jika aku memberimu kejutan.”

“Cih…memang selalu begitukan?”, Cheonsa melengos. Walaupun disetiap kejutan yang diberikan Donghae selalu berbuah manis, tapi selalu diawali dengan kesialan yang akan dialaminya. Sepertinya Donghae selalu menanyakan cara membuat kejutan kepada Kyuhyun yang terkenal dengan keusilannya.

“Baiklah… aku akan mengatakan kepada Mr. Han bahwa putri kecilnya ini sudah mulai liar dan bermain dengan banyak lelaki dibelakangku. Kemudian kita akan dinikahkan.”, ucap Donghae riang.

Cheonsa tersentak. Walaupun ia mecintai Donghae, jika diajak menikah sekarang ia akan menolak. Ia masih ingin bebas tanpa ada sesuatu yang mengekangnya. Dan ancaman ini selalu Donghae berikan kepadanya, dan sialnya ayahnya juga sangat menyayangi Donghae hingga walaupun ia memberontak sama saja. Tapi, hey, bermain dengan lelaki dibelakangnya?

“Apa maksudmu dengan aku bermain dibelakangmu? Berselingkuh begitu?”, murka Cheonsa.

“Cih… kau ini benar-benar. Tidak betermu bukan berarti aku tak mengawasimu. 2 hari yang lalu kau jalan-jalan dengan SeungHo MBLAQ, kau juga pergi ke taman hiburan dengan Nickhun, ke pantai dengan Gikwang, kau juga makan siang dengan…”

“Siapa suruh kau terlalu sibuk dan jarang menemuiku!?”, teriak Cheonsa. Air matanya sudah mengalir. Ia begitu merindukan pria itu.

Terdengar Donghae menghela nafas di ujung sana. “Makanya aku mengajak bertemu denganmu hari ini. Aku milikmu hari ini..”

Cheonsa mengusap air matanya. “Dimana kita akan bertemu?”

***

 

Seorang gadis  turun dari taxi sesudah membayar argonya. Ia mengecek lagi alamat yang dikirimkan kekasihnya tadi pagi. Alamatnya sudah benar, tapi ia masih bingung. Kenapa harus ketempat ini?

“Tempat penitipan anak?”, gumamnya bingung.

Seorang wanita berumur sekitar awal 40-an keluar dari sana dan menghampirinya. Ia tersenyum ramah.

“Ah… apakah kau Han Cheonsa?”, tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. Cheonsa mengangguk bingung.

“Masuklah, aku dan yang lainnya sudah menunggumu dari tadi.”. Wanita itu memegangi lengannya dan mengajaknya masuk. Terdengar suara riuh dari dalam. Cheonsa membulatkan mata indahnya begitu melihat anak-anak berumur 3 sampai 4 tahun yang berjumlah lebih dari 10 ada di hadapannya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Tolong jaga anak-anak ini ya! Karena pengasuh yang lainnya sedang berhalangan dan aku harus pergi, jadi tolong dalam sehari ini jaga mereka, oke!”, kata wanita tersebut disertai tatapan memohonnya. Cheonsa masih diam, tak tahu harus berkata apa. Mengurus anak-anak balita ini? Mengurus diri sendiri saja ia masih belum bisa.

“Kau tenang saja. Temanmu akan datang sebentar lagi, jadi kalian bisa mengurus mereka berdua.”, ujar wanita itu lagi sembari melangkah keluar ruangan. “Ah, di atas meja itu ada jadwal mereka.”

Cheonsa kembali memutar kepalanya menatap anak-anak balita di depannya. Dalam hati ia sudah menyiapkan sumpah serapah yang akan ia berikan kepada kekasih tercintanya itu. Ah, itu tidak cukup, seharusnya ia juga memutilasi Donghae karena menjebaknya dengan belasan anak balita di sini.

Belum selesai dengan pemikirannya untuk membunuh Lee Donghae, Cheonsa dikejutkan dengan suara 2 balita perempuan yang sedang rebutan sebuah boneka Barbie yang entah sudah bagaimana bentuknya.

“Minchan-ah!! Berikan bonekanya kepadaku!”, teriak seorang anak berkepang dua.

“Tidak mau! Aku duluan yang melihatnya, berikan padakuu!”, balas seorang anak berambut pendek.

Cheonsa memijat keningnya. Ia mengambil sebuah boneka Barbie lagi dan berjongkok ddi hadapan 2 gadis kecil itu.

“Minchan-ah, berikan bonekanya kepada…”,Cheonsa melihat name tag gadis kecil satunya “ah,Yunji. Ini masih ada lagi yang lebih cantik.” Minchan mengambil boneka yang disodorkan Cheonsa dan meninggalkannya bersama Yujin yang sudah kembali kedunianya. Satu masalah selesai, datang lagi masalah yang baru. Seorang anak laki-laki menangis kencang sambil memegangi lengannya yang memerah.

“Aiigooo..kau kenapa? Sakit kah?”, Cheonsa mengusap-ngusap lengan bocah itu. Bocah kecil itu menunjuk seorang gadins kecil berpotongan rambut seperti laki-laki sedang bermain mobil-mobilan. “Dia mengambil mainanku Ahjumma.”, ucapanya disertai isakan. Ahjumma? Cheonsa tak mengira bahwa ia ternyata setua itu sehinnga bocah kecil saja memanggilnya begitu.

“Panggil aku noona, oke! Cha, masih ada mainan yang lain, jangan menangis eo?”, bujuk Cheonsa.

“Tapi aku mau yang itu Noonaaa!! Hwaaaaa”, bocah itu kembali menangis keras. Cheonsa membujuknya kembali. Tapi kemudian terdengar jeritan seorang anak perempuan yang mainan masak-masakannya dihancurkan oleh seorang bocah laki-laki. Belum lagi yang di ujung sana seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan berebutan pensil warna.

Cheonsa mengurut pelipisnya. Udara panas membuatnya semakin gerah dan ingin keluar dari sini, tapi ia punya tanggung jawab yang tidak main-main untuk mengurus belasan anak balita disini. Dan kemana partner yang dikatakan ahjumma tadi? Kenapabelum juga muncul? Cheonsa bersumpaha akan memberinya sumpah serapah jika ia datang.

Tiba – tiba pintu bergeser dan menunjukkan sosok seorang laki-laki yang paling ingin ditemui Cheonsa,

“Hai semuaaaa! Aku datang!”, Donghae memperlihatkan senyuman lebarnya. Tak ada yang memperdulikannya kecuali Cheonsa yang menatapnya dengan aura Voldemortnya. Donghae menghampirinya sambil membuka lebar-lebar kedua tangannya untuk merengkuh Cheonsa. Alih-alih direngkuh, Cheonsa malah menonjok perutnya,menendang kakinya dan menjambak rambutnya.

“KENAPA BARU DATANG SEKARANG HAH! KAU TAHU AKU HAMPIR MATI DENGAN INI SEMUA! MENYURUHKU KEMARI DAN MENGURUS BALITA-BALITA INI! KAU KIRA AKU BABY SITTER APA!”, Cheonsa ngos-ngosan setelah puas – sedikit – untuk menyiksa Donghae. Donghae mengusap-ngusap bagian tubuhnya yang dijamah ganas oleh Cheonsa. Ia benar – benar tak menyangka bahwa Cheonsa akan semarah ini.

“Hey… aku hanya..”,

“HWAAAAAAAAAAAAAAA~”, semua anak menangis memotong perkataan Donghae. Mereka takut melihat Cheonsa yang begitu kejam.

“Hya hya hya Aigooo~ kau lihat kan jagii! Mereka menangis karena melihatmu begitu ganas!”, ucap Donghae sembari menghampiri anak-anak itu agar berhenti menangis. Cheonsa membulatkan kedua matanya. Ia tak habis pikir ternyata suaranya bisa berdampak sedahsyat itu terhadap anak-anak ini.

“jangan menangis lagi… onnie itu hanya luarnya saja seperti monster tapi hatinya seperti malaikat. Berhenti menangis.” Bujuk Donghae pada sekumpulan gadis kecil. Dongahe mengerling kepadan Cheonsa untuk mendiamkan anak yang lainnya. Cheonsa mendengus sesaat kemudian menghampiri anak yang lain.

“Maafkan Noona ya, noona emosi sekali melihat Hyung bodoh itu, sudah, jangan menangis lagi ya.”, bujuk Cheonsa sambil menepuk-nepuk punggung seorang bocah kecil.

“Oppa, onnie itu memang seperti monster, menyeramkan.”

“Ah… mukanya memang seperti monster, mungkin dia penghuni neraka yang kabur dari sana..”, kata Donghae sambil mengusap-ngusap kepala gadis kecil yang ada dipangkuannya itu. Cheonsa mendelik. “Kau mau mati ikan amis?”

***

 

Cheonsa tak habis pikir. Inikah kencan yang dikatakan Donghae tadi pagi? Mungkin Donghae akan mengajaknya ke taman hiburan atau hanya sekedar duduk di taman kota atau menghabiskan waktu di Namsan Tower. Hanya berdua tanpa ada yang menggangu. Tapi semua sirna. Hari yang ditunggunya malah dirusak dengan menjaga belasan anak yang sekarang mendengarkan dongeng dari Donghae. Ia hanya duduk sendiri di samping jendela mengistirahatkan dirinya setelah menemani mereka semua belajar dan bermain di cuaca yang seterik ini, walaupun musim panas akan berakhir, tapi panas matahari di lur tak bisa di abaikan.

Gadis itu melirik jam dinding yang tergantung, sudah pukul setengah 1, waktunya anak-anak ini tidur.

“Anak-anak manis, waktunya tidur siang. Saat kalian bangun nanti, kalian akan dijemput orang tua kalian. Nah,tidurlah.” Ia mengeluarkan bantal-bantal dan selimut-selimut untuk digunakan. Donghae membantunya.

“Bagaimana? Kau senang kan?”, tanyanya disertai senyuman lembutnya.

Gadis disampingnya meliriknya dengan raut wajah datar. “Cih, ini kejutanmu? Tidak sama sekali.” Kemudian meninggalkan Donghae yang tersenyum penuh arti.

Semua anak sudah mengambil posisi masing-masing untuk tidur siang. Seorang gadis kecil yang seingat Cheonsa bernama Hyemi mengahmpiri Donghae dan membisikinya sesuatu. Dongahe melirik Cheonsa.

“Cheonsa-ya, Hyemi ingin buang air kecil. Tolong bawa dia ke sana.” Suruh Donghae.

“Kenapa bukan kau saja? Aku sedang mengurus yang lain.”, jawab Cheonsa tanpa menoleh.

“Hei, mana mungkin, aku kan laki-laki.”

“Baiklah, kalau kau yang membawanya aku takut kau membuatnya berbadan 2.”

“YA! HAN CHEONSA!”

 

***

 

“Onnie, kau kekasih Donghae oppa ya?”, tanya Hyemi. Cheonsa yang sedang menemaninya mendongak melihatnya yang duduk di kloset dan tersenyum.

“Ah, pasti bukan. Donghae Oppa mana mungkin menyukai seorang perempuan berwajah monster seperti Onnie.”. Senyuman Cheonsa menghilang. Walaupun aku berwajah monster tapi Donghae menjadikanku kekasihnya, batinnya jengkel.

“Walaupun Onnie adalah kekasihnya, aku akan merebutnya dari Onnie. Onnie tak pantas dengan Donghae oppa. Hanya aku yang pantas, dan aku akan menjadikannya suamiku kelak.” Ujar Hyemi sambil mencuci tangannya di wastafel setelah membersikan kotorannya dan memakai kembali celana dalamnya. Ingin rasanya Cheonsa mendorong anak kecil ini ke kloset untuk membersihkan isi otak atau mungkin isi hatinya dari pemikiran sok dewasanya itu.

Cheonsa keluar dengan wajah tertekuk kesal dan menghampiri Donghae. Ia kira dengan tertidurnya Hyemi, ia dan Donghae akan mengobrol, melepas rindu. Tapi sepertinya  tidak bisa, Hyemi – yang dianggap Cheonsa setan kecil – mengacaukan acaranya.

“Oppa, suaramukan merdu, tolong nyanyikan sebuah lagu!”,pinta Hyemi sambil duduk bersandar di pangkuan Donghae. Donghae terkekeh. “Baiklah, tapi kau tidur oke?”, gadis kecil itu mengangguk.

Cheonsa sudah tidak tau lagu apa yang dinyanyikan Donghae. Kepalanya sudah penat, apalagi cuaca di luar semakin panas. Ia memejamkan matanya dan larut dalam mimpinya.

 

***

 

“han, bangunlah!”, Donghae mengoyang-goyangkan tubuh kekasihnya itu untuk kesekian kalinya. Cheonsa memang tipe gadis yang susah dibangunkan kecuali kehendaknya sendiri. Bahkan ketika alarm kebakaran yang biasanya akan membuat orang panic, Cheonsa tak akan bergerak sedikitpun.

Donghae memutar otaknya. Terlintas ide yang menurutnya sedikit beresiko, tapi tak apalah, yang penting Cheonsa bangun dari tidurnya. Ia memutar kepalanya memastikan hanya mereka berdua di ruangan ini.

Donghae berbaring menghadap Cheonsa. Gadis itu menggunakan tangannya untuk menyanggah kepalanya. Donghae tersenyum melihat wajah polos bagai malaikat dihadapannya ini. Ia menelus wajah Cheonsa sesaat dan mengalihkan tangannya kepinggang gadis itu. Mengusap-usapnya seraya berbisik ke telinga Cheonsa.

“kau mau aku menanamkan benih LDH junior ke perutmu sekarang?”, dan kemudian menghembuskan nafasnya disana. Tangannya beralih ke perut Cheonsa yang datar.

Cheonsa tersentak. Ia merasakan geli di telinganya dan perutnya. Ia langsung menatap Donghae yang menampilkan smirk andalannya. Dan kemudian..

BUUUUGHHH..

“AAAAARRGHHHH! KAU GILA HAN CHEONSA!!” Donghae meringis sambil memgang perutnya yang kena hantaman lutut gadis di hadapannya. Cheonsa duduk sambil menampilkan senyum sinisnya.

“Jagia, kau kejam sekali. Aku hanya ingin membangunkanmu!”

“Hei, aku bahkan akan lebih kejam lagi.”

“Tsk, entah dosa apa aku mendapatkan gadis gila ini..” kata Donghae sambil melirik sinis gadisnya.

“Yah, dan entah dosa apa juga aku berpacaran dengan ikan amis mesum sepertimu.”, balas Cheonsa.

“Ah, sudahlah, ayo keluar! Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu.” Donghae berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Cheonsa.

Cheonsa meraih uluran di hadapannya dan berdiri. Ia memegangi kepalanya yang pusing karena bangun dengan tersentak. Donghae segera meraih pinggang malaikatnya yang hampir terhuyung kebelakang. “Gwencana?”

Cheonsa menatap Donghae dan seketika dadanya bergemuruh kencang. Selama ini mereka memang sering berpelukan, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ya, dia rindu akan pelukan hangat Donghae padanya. Ia menatap kedua mata prianya dalam menyalurkan kerinduan yang amat sangat.

Donghae semakin mengeratkan tangannya dipinggang gadis itu. Mendekatkan tubuh keduanya. Menatap wajah gadis yang dirindukannya. Menciumnya dikening, berlanjut ke mata, kedua pipinya, dagu.

“Oppa, Onnie, ayo,kami sudah lapar.” Tiga orang anak laki-laki menarik baju mereka menginterupsi keduanya. Sontak kedua sejoli itu memisahkan diri dengan canggung dan menatap 3 anak itu.

“Ah, mianhae..”, katanya pada 3 anak itu kemudian menatap Cheonsa, “kajja jagi!”, Cheonsa mengangguk canggung dan meraih uluran jemari Donghae.

***

 

“SAENGIL CUKHAE HAN CHEONSA!” teriak semua anak kepadanya. Donghae hanya tersenyum di belakang barisan anak-anak itu. Cheonsa terdiam. Ia lupa bahwa hari ini hari kelahirannya ke bumi.

“Han, kau melamun? Kau terlalu kaget atau kau tidak senang?” tanya Donghae cemas akan kejutannya untuk Cheonsa. Bukan, Cheonsa bukannya tidak senang ulang tahunnya di rayakan seperti ini. Tapi yang membuatnya frustasi hanya umurnya yang semakin bertambah dan ia yang akan semakin tua. Yah, Cheonsa memang tak bisa menghilangkan sifat anak-anaknya.

“Tidak… aku senang. Hehehehehe aku senang. Ah, terima kasih banyak semuanya..” Ucapnya tulus kepada semua anak yang dibalas senyuman merekah oleh mereka.

“Noona, mukamu bertambah keriput!”, ujar seorang bocah laki-laki sambil cekikikan. Cheonsa meraba wajahnya dan bercermin di jendela ruangan. Anak itu masih tertawa bersama teman-temannya dan segera berlari melihat Cheonsa mengejarnya. Mereka berlarian mengelilingi taman belakang yang luas.

“YA BOCAH KECIL!! AISH JEONGMAL!”

***

 

Mereka semua duduk bersama di taman belakang tempat pentipan ini. Mata mereka disegari oleh berbagai jenis bunga yang indah, sambil menyantap cake yang dibawakan oleh Donghae sebagai kejutan yang kesekiannya untuk Han Cheonsa.

“Han, kau tak mengucapkan apa-apa padaku?”, tanya Donghae setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. Cheonsa menatapnya polos. Donghae tersenyum melihat krim kue disekitar mulutnya dan menghapusnya menggunakan ibu jarinya.

“Tidak! Setelah apa yang telah kau lakukan kemarin dan membuangku ke tempat ini.” Jawab Cheonsa sambil menatap anak-anak itu memakan cake bagian mereka dengan mulut belepotan krim.

“Tsk kau ini. Aku tak mengharapkan pelukan, ciuman, atau bahkan izinmu untukku tanamkan benih LDH junior di perutmu. Tapi setidaknya ucapkan terima kasih padaku.”

Cheonsa hanya diam melirik Donghae yang sedang bermain dengan daun-daun yang berguguran. Ia bukannya tak mau berterima kasih. Bahkan ia akan memeluknya dan menciumnya. Tapi bukan Han Cheonsa namanya kalau tidak memiliki gengsi. Ia masih dendam dengan kelakuan Donghae kemarin dan hari ini.

“Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini?”

“Anii..”, jawab Cheonsa seraya menggeleng tak tahu.

“Aku ingin kau merasakan bagaimana mengurus anak-anak kita nanti. Aku tahu kau tak begitu menyukai anak-anak, tapi apa artinya sebuah pernikahan tanpa anak di dalamnya? Kau tahu kan aku menyukai anak-anak. Dan aku mengharapkan kau lah yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.”

Cheonsa menjatuhkan sendok cakenya. Ternyata Donghae memikirkan masa depan mereka kelak yang mungkin akan berakhir di altar dan mempunyai LDH dan HCS junior. Dadanya bergemuruh senang bahwa tidak hanya dia saja yang begitu menginginkan Donghae seumur hidupnya, tapi Donghae juga.

“Dan aku begitu merindukanmu. Maafkan aku terlalu sibuk untuk beberapa hari ini. Kau tahu kan bahwa menikah dan berumaha tangga itu membutuhkan modal? Dan aku sedang mengumpulkannya untuk kita kelak.” Donghae mengakhiri ucapannya dengan senyum mengembang. Cheonsa sadar bahwa Donghae tidak hanya merindukannya, tapi juga lelah melakukan pekerjaan yang hasilnya untuk mereka berdua kelak. Berbeda dengan Cheonsa, dia memang merindukannya tapi tidak memikirkan bagaimana mengumpulkan uang untuk mereka kelak.

Gerimis mulai membasahi bumi dan semakin lama semakin deras. Donghae berlari menyuruh anak-anak itu masuk kembali ke penginapan dan berteduh di sana.  Berbeda dengan Cheonsa. Gadis itu tetap ditempatnya berdiri sambil menengadahkan kepalanya menyambut tetesan hujan. Ia begitu senang. Tuhan benar-benar baik mengirimkannya seorang Donghae di kehidupannya sekarang dan ia berharap hingga ia matipun Donghae tetap bersamanya. Ia masih tersenyum menatap menengadah ke langit dengan mata tertutup dan mengucapkan terima kasih bahwa Tuhan juga menjatuhkan tetesan hujan di hari ulang tahunnya ini.

“Han! Masuklah! Kau akan sakit!” teriak Donghae di teras belakang. Cheonsa tak menggubrisnya. Meliahat gadisnya masih berdiam diri, Donghae menghampirinya.

“Han, ayo mas-” perkataan Donghae terpotong tatkala Cheonsa mengalungkan tangannya di lehernya menariknya dan memeluknya.

“Terima kasih, terima kasih banyak!” ucap Cheonsa tulus dengan senyum dan pelukan hangatnya. Donghae tersenyum lega. Ia mengambil kotak kecil di sakunya dan memasangkannya di jari manis tangan kanan Cheonsa. Ia tersenyum dan merengkuh wajah Cheonsa.

“Aku tahu kau tak ingin menikah dulu denganku. Tenang, ini bukan cincin lamaran. Ini hanya cincin yang menyatakan bahwa kau sudah terikat denganku. Dan aku peringatkan bahwa siapapun yang telah terikat denganku aku akan menjaganya dan tak akan membiarkannya memikirkan lelaki lain selain aku.” Tutup Donghae dengan senyumnya.

Cheonsa tersenyum menatap Donghae. Ia menarik kerah kemeja lelaki itu.Dan mengucapkan kalimat yang menurutnya sakral diucapkannya untuk Donghae.

saranghae…” bisiknya dan kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Donghae. Merasakan sensasi hangat yang telah lama tidak ia rasakan. Dapat ia rasakan Donghae tersenyum di sela tautan mereka.

na do, saranghae …”dan kembali melumat bibir Cheonsa di bawah tetesan hujan.

-OMG HOW SWEET FOR THE ENDING-

 

Notes: sebelumnya saya mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN IJaggys” *teriak pake toak mesjid sambil lempar kembang. Ini pertama kalinya saya buat ff dan dikirim. Jadi maaf kalau ceritanya hancur kayak krupuk dan garing kayak emping.itu juga judul saya gak tau cocok apa enggak. Dan sorry bgt kalau HCS disini mungkin imagenya gak sesadis biasanya *ditebasHCS. Berhubung saya ultah di bulan ini juga jadi saya buat image HCS seperti saya, sekali lagi saya minta maaf *bow. Dan karena kita sama-sama kekasihnya *uhuuk ikan amis yang paling tampan ini, saya relakan untuk kali ini LDH untuk HCS. Akhir wassalam selamat menikmati~ *tebar confetti

 

***

 

IJaggys go on speech: hi! Guys! Gays! Geys! What do i do about? Hahahaha anyway aku Cuma mau bilang kalo ffcontest akan di publish 5 hari sekali dan untuk yang nanyain semua ff aku well i’m sooooo busy ngurusin bluelf3 dengan berbagai which is thingy mereka haha anyway aku mau ngucapin terimakasih untuk semua ayang-ayang yang udah mau ngirimin ffnya ke kontes riding a bike ini #lolkidding but i swear i’ll try to find my light-times for writing some, between my geeks school of senior year and everything i’ve been made for my real life #imsorehinicurcol or at least i’ll be back once i’m done fangirling over 48hours best fanfic from exo LOOOOOOL i’ll see you later!

 

Hopes you chops!

 

LOVE IT. MEAN IT.

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

13 responses »

  1. gaemhee says:

    Huaa baca ff ini jadi ngebayangin LDH-HCS junior kkk. Ceritanya ringan tapi ngena>< nice ff!!^^

  2. fahmalovesieunteuk says:

    aaiigoooooi bneer2 sweet abiiiss inii endiingnyaa
    berharaap si HCS slalu berskap kyak gni ke LDH :p
    yg pntiing sfat HOBI selngkuhin LDH ilanglaaahh *plaaak *dbacoksonia kekeke
    entah knp slalu suka typ LDH blg mau nanem junior ke HCS.. uuuoooooo berhraap itu cepat2 terjaadii😀

  3. yewongirl says:

    cerita romantis.. walopun agk ksihan lhat donghae ma eunhyuk oppa disiksa cheonsa..🙂

    keep writing author, ceritax keren…

  4. BaboHae says:

    simple tapi mantep(?)
    ya ampun……..itu hcs tumben bgt bisa tahan sama anak kecil dia kan iblis tu #eh
    harusnya hcs-ldh cptan bikin baby dong

  5. superddulz7 says:

    ye~~~~
    and happy ending,
    kekeke
    menrtku HCS cukp sads kok di FF ini,hehe
    aku kira cma kncan biasa eh ternyata merayakan ultahnya HCS ya??? hehe

  6. micochanlof says:

    Eaa, HCS disuruh jagain anak orang.
    kapan neh HCS-LDH ngurus anak sendiri kekekee…

    ceritanya simple n ringan.
    suka suka…

  7. kyuhaeismine says:

    Kya, tumben HCS jadi bringas (?) gitu..
    biasanya selalu menggalau? kekeke

  8. inggarkichulsung says:

    So sweet cheonsa and donghae oppa, meskipun awalnya marah2 terus, akhirnya cheonsa sadar bahwa donghae oppa sangat2 mencintai dan bukanbtdk mempedulikannya dari kemarin

  9. Illipus_view21 says:

    Disini HCS terlalu manusia kkkk ,jika dia kek gini mungkin gak lama lagi HCS mau tuhh di ajak kawin dan make LDH`s junior karna kelembutan dan kelemahan apabila dengan LDH ,ahhh keren alur ceritanya aku seneng bacanya tadinya cma nyoba baca baca yg lain mengisi kerinduan sama HCS dan LDH karna author Ijaggys blom post lagi dan akhirnya aku terpikat untuk next read yang On contest berarti bner kata author yg ff contest semuanya bgus* ahh panjang lebar *peace love

  10. tartar says:

    daebakkkkkkkkkk…

  11. tartar says:

    super daebakkkkkkkkkk…

  12. sparEvil says:

    perfect endingggg :*
    great ff uwaaaaa

    aku sempet khawatir wktu cri blog eonni trs gk ktmu :’
    keep wrting please eon
    byak ff yg blum selesai xp

  13. fsshy says:

    Sweet, Donghae mikirin masa dpan bareng Cheonsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s