Seoul, Agustus 2012

 

Wajahnya tampak pucat, terasa kontras dengan gaun musin panasnya yang berwarna merah terang. Ini adalah busana kesepuluh yang ia kenakan untuk pemotretan hari ini. Desaigner memperbolehkan wanita itu membawa pulang gaunnya, menginngat saat akan mengganti baju, wanita itu nyaris saja pinngsan kelelahan.

Sebagai seorang model professional, ia melaksanakan pekerjaanya dengan begitu bertanggung jawab, tidak peduli jika tubuhnya mulai menolak untuk tetap bertahan. Baginya, hanya dengan memiliki kesibukanlah, rasa kesepiannya akan sedikit terobati. Walau ia sadar, kesepiannya akan terus berlanjut sejak kematian suaminya, Yang Seungho. Lelaki yang mengisi hatinya hampir sepanjang hidupnya. Lelaki dimana ia melabuhkan segala cinta, mimpi, dan harapan. Tiga tahun sudah semenjak kematian Seungho, ia masih menutup diri. Tak membiarkan seorang lelakipun memasuki relung hatinya yang seolah sudah terkunci hanya untuk  satu orang.

Han Cheonsa, tak pernah membagi kesepiannya pada siapapun. Ia menjalani hidupnya dengan sepi dan sendiri. Kesendirian yang mulai terusik oleh satu nama, Lee Donghae. Wanita itu sadar betul dengan apa yang sedang dialaminya saat ini. Dimana jantungnya berdetak lebih cepat ketika berada di dekat Donghae. Ada perasaan berdesir lembut yang pernah dirasakannya bersama Seungho, timbul saat bersama Donghae. Cheonsa tak pernah menampik ataupun menghindar dari jerat pesona Lee Donghae. Lelaki yang sejak tiga bulan lalu menggantikan, atau lebih tepatnya mendampingi posisi Seungho di hatinya. Jangan pernah tanyakan apa yang membuat Cheonsa menyisihkan sedikit ruang di hatinya untuk Donghae, karena Cheonsa menyadari dirinya semakin lama semakin terperosok dalam jerat pesona pria itu.

Lee Donghae pun tidak memungkiri bahwa dirinya kini telah menemukan belahan hatinya yang berada dalam sosok Cheonsa, seorang model di agensi miliknya. Rasa sayang itu perlahan tapi pasti bertransformasi menjadi cinta, cinta seorang laki-laki pada seorang wanita. Seperti malam ini, saat Donghae memutuskan untuk melamar janda cantik itu untuk enatah yang keberapa kalinya.

“Cheonsa?” Tanya Donghae sambil memeluk Cheonsa dari belakang. Kedua tangannya yang kokoh ia lingkarkan pada pinggang ramping Cheonsa.

“Lee Donghae, kau!” Cheonsa memutar tubuhnya hingga akhirnya mereka berdua saling menghadap.

“Would you marry me?” tanya Donghae sambil menggenggam kedua tangan Cheonsa, perlahan mengangkat tangan itu dan mengecupnya lembut.

Cheonsa terperangah. Bukan karena Donghae bersikap romantis, hanya saja Cheonsa tidak menyangka Donghae masih  terus melamarnya, setelah lamarannya selalu ia tampik.

Donghae menatap lembut wajah Cheonsa, berharap kali ini lamarannya diterima oleh Cheonsa.

Cheonsa masih terdiam, lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan kegalauan hatinya. Di satu sisi ia ingin terus hidup seperti ini, berhubungan intim dengan Donghae dimana mereka saling memberikan sentuhan, pagutan, dan menyatu dalam peluh indah yang menetes di saat percintaan mereka, walau tanpa ikatan. Ya, ikatan yang kini dipertanyakan oleh Donghae. Ikatan yang selama ini ditolak oleh Cheonsa. Bukan. Bukan karena Cheonsa mempermainkan cinta Donghae semaunya. Bercinta dengan Donghae hanya dilandasi nafsu, kebutuhan, dan kesepiannya. Tapi Cheonsa bukan wanita rendahan seperti itu. Ia hanya tidak ingin melepas status istri dari yang Seungho yang sangat dicintainya.

Hanya status inilah yang setidaknya coba ia pertahankan untuk Seungho-nya. Cheonsa sadar, cintanya tidak bisa lagi ia pertahankan, walau di dalam hatinya masih ada tempat untuk Seungho. Kini tempat di hatinya terbagi, terbagi pada satu nama, Lee Donghae.

Cheonsa pernah bersumpah di hadapan nisan Seungho, ia tidak akan pernah melepas status Nyonya Yang Seungho seumur hidupnya. Ia bersumpah tidak akan menikah lagi. Sumpah yang kini terusik dengan kehadiran sesosok pria yang perlahan bersemayam di hatinya.

“Maaf,” Hanya satu kata itu yang meluncur dari bibir Cheonsa. Ia tahu, tidak seharusnya ia membiarkan dirinya terlalu jatuh dalam pesona Donghae, namun hatinya tidak pernah bisa memungkiri bahwa kini ia mulai mencintai laki-laki yang berada tepat di hadapannya.

“Tak apa, asal terus bersamamu dan selamanya di sisimu, itu cukup bagiku.” Ucap Donghae sambil tersenyum. Bibirnya bisa mengukir sebuah senyum, tapi hatinya tak bisa berbohong. Ada kekecewaan di sana, kekecewan karena Cheonsa masih belum bisa melupakan Seungho. Hanya Seungho, Seungho, dan Seungho yang ada dalam hati Cheonsa. Tak bisakah ia menyusup ke dalam hati wanita itu?

Perlahan Donghae mengecup bibir mungil Cheonsa, yang tak ditampik sedikit pun oleh Cheonsa. Cheonsa membalas kecupan itu. Kecupan yang semakin lama semakin panas, ciuman yang menyiratkan kebutuhan mereka akan satu sama lain. Cheonsa membuka mulutnya, membiarkan lidah Donghae bergerilya menyusuri semua yang ada di dalamnya, sampai akhirnya lidah mereka bertemu, saling menyentuh, berpagutan, menghisap. Kebutuhan akan oksigenlah yang memaksa keduanya berhenti berpagutan.

Seolah tak puas hanya sampai itu, Donghae mulai menurunkan lidahnya dari bibir Cheonsa ke leher jenjang wanita itu. Perlahan ia mengecupnya, menjilatinya, menggigit kecil yang menimbulkan tanda merah di sana, membuat Cheonsa mendesah karenanya. Entah bagaimana caranya, mereka kini sudah berada di atas tempat tidur, menikmati percintaan mereka yang semakin hari semakin nikmat. Saling berbagi sentuhan, desahan, ciuman, dan peluh. Tak pernah Donghae bayangkan bahwa bercinta dengan Cheonsa tak pernah membuatnya puas, ia selalu ingin dan ingin bercinta dengannya, seolah pesona Cheonsa tak pernah habis. Hanya pada Cheonsa-lah, Donghae memberikan segalanya, cintanya, yang kini dirasakannya. Kini kedua insan manusia itu terlelap dalam nikmatnya cinta, Cheonsa terlelap dalam pelukan Donghae. Seperti kata Donghae, asal terus bersamamu dan selamanya di sisimu, itu cukup bagiku.

***

Seoul, September 2012

Burung-burung berkicau dengan merdu. Seolah membisikkan ucapan selamat pagi pada setiap insan yang mendengarnya. Pucuk-pucuk ranting mulai kering dari tetesan sang embun. Mentari pun tampak bersiap memulai tugasnya untuk menyinari bumi. Cheonsa baru saja terbangun dari tidurnya ketika suara ketukan pintu tertangkap indera pendengarannya. Cheonsa sedikit mengernyitkan alisnya, bertanya-tanya siapa yang sepagi ini sudah datang mengunjunginya. Memandang tubuhnya yang kini hanya terbalut gaun tidur tipis membuat Cheonsa mengambil dan memakai sweater yang tergantung di lemari bajunya. Perlahan ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang depan, bersiap membuka pintu untuk menyambut tamu paginya. Dibukanya kedua daun pintu yang membatasi dirinya dan sang tamu. Mata jadenya sedikit memancarkan keheranan saat melihat siapa sang tamu di depannya. Lelaki tampan yang menyembunyikan ketampanannya dengan topi dan kaca mata hitam. Ya, Donghae-lah sang tamu pagi hari itu.

“Tidak ingin mempersilahkanku masuk?” tanya Donghae sambil tersenyum ketika dilihatnya Cheonsa masih mengernyit heran. Tersenyum mendapati bidadarinya yang kini tengah berdiri tepat di hadapannya.

“Lalu apa alasanku untuk mempersilahkanmu masuk?” Cheonsa balik menanyai Donghae dengan seringai jahil di sudut bibirnya. Ingin rasanya membalas godaan Donghae. Donghae pun tak begitu saja menyerah. Dengan lihainya, ia balik menggoda Cheonsa.

“Kau ingin tau alasannya?” perlahan Donghae membuka kaca mata dan topi hitam yang sedari tadi menghalangi wajahnya.

Cheonsa sedikit tersipu memandang ketampanan kekasihnya itu, seringai tampan memabukkan tersungging di bibir Donghae. Donghae semakin maju dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh sang bidadarinya, Han Cheonsa. Ah, Yang Cheonsa. Sedikit rasa bergejolak tak mengenakkan singgah di hatinya mengingat status Cheonsa yang masih belum menjadi miliknya secara resmi. Harapan terbesar Donghae adalah suatu saat Cheonsa menyandang nama Lee di marga namanya. Walau ia tahu, Cheonsa tak akan pernah melepas marga Yang demi Seungho. Tapi asal selalu bersama Cheonsa, di dekatnya, menjaganya, itu cukup bagi Donghae. Tak apalah statusnya Uchiha, asal hati mereka tetap terikat dalam satu cinta.

“Hei, apa yang kau lakukan sepagi ini?” Cheonsa berusaha mati-matian menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah akibat godaan Donghae.

“Kau benar-benar ingin tahu?” Donghae semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Cheonsa. Perlahan tangannya menyentuh dagu Cheonsa, diangkatnya wajah Cheonsa dengan lembut. Wajah Cheonsa yang tampak memerah membuat Donghae semakin terpesona menatap bidadarinya itu. Dikecupnya bibir mungil Cheonsa. Hanya kecupan singkat selamat pagi.

“Itu, yang ingin ku lakukan,” Donghae kembali tersenyum mengoda kekasihnya. Untunglah hari masih pagi, setidaknya tidak ada seseorang yang mengintip kejadian morning-kiss’ barusan.

Cheonsa menggembungkan kedua pipinya, seolah tak puas hanya dengan kecupan selamat pagi Donghae.

“Hei ayolah, jangan memasang tampang seperti itu! Kau ingin yang lebih?” tanya Donghae menyeringai, menggoda pemilik hatinya yang masih menggembungkan kedua pipinya.

“Bodoh!” Cheonsa menarik pucuk hidung Donghae.

Sadar akan posisi mereka yang masih di depan pintu, mereka lalu masuk ke dalam rumah. Cheonsa sedang menyiapkan cokelat panas untuk Donghae, ketika Donghae sedang duduk menunggunya di ruang tengah. Ruang yang kadang digunakan sebagai saksi percintaan mereka.

“Ada apa?” Cheonsa berkata sambil meletakkan cangkir cokelat panas di meja. Ia mengambil tempat di sebelah Donghae.

“Hhmm?” Donghae tampak bingung dengan pertanyaan Cheonsa.

“Tak usah menutupi, aku tahu kedatanganmu pagi-pagi seperti ini pasti ingin memberitahu sesuatu yang penting kan?” Cheonsa kembali bertanya pada Donghae. Donghae tersenyum jahil sebelum berkata.

“Beralih profesi?”

“Maksudmu?” Cheonsa sekarang malah tidak mengerti arah pembicaraan Donghae.

“Dari model menjadi pembaca pikiran?” ucapan Donghae sukses membuatnya dihadiahi deathglare Cheonsa.

“Aku hanya bercanda. Ya benar, aku ingin memberitahu sesuatu padamu,” Donghae terdiam ingin menyaksikan reaksi Cheonsa, Cheonsa serius menatapnya membuatnya kembali melanjutkan perkataannya, “Aku akan pergi ke Jepang siang ini, mungkin untuk satu bulan.”

Cheonsa terdiam mendengar kabar yang dibawa Donghae. Entah kenapa hatinya begitu berat untuk melepas Donghae dalam perjalanan bisnis kali ini. Selintas bayangan Seungho hadir di benaknya. Bagaimana? Bagaimana kalau Donghae tidak pernah kembali lagi? Bagaimana kalau Donghae…. Pikiran itu sempat terlintas di benak Cheonsa sebelum akhirnya suara Donghae kembali mengempaskan pikirannya pada realita saat ini.

“Cheonsa?”

“Maaf, aku…”

“Kau tak perlu khawatir, aku berjanji akan kembali jika semuanya telah selesai.” Donghae tahu apa yang kini tengah di pikirkan oleh Cheonsa. Ya, Seungho. Donghae tahu setiap perjalanan bisnis mengingatkan Cheonsa akan Seungho. Seungho yang tewas akibat kecelakaan pesawat dalam perjalanan bisnis, kadang Donghae merasa bersalah jika mengenang hal itu. Kalau bukan karena ia memintanya untuk menggantikan dirinya dalam rapat itu, mungkin Donghaelah yang kini terkubur dalam liat lahat.

Tiba-tiba pikiran aneh dan liar menggelitik benak Cheonsa, bagaimana kalau Donghae tak kembali karena menemukan belahan hatinya. Belahan hatinya yang akhirnya menjadi pendamping hidup Donghae kelak. Apa dia akan rela? Apa dia akan sanggup membagi Donghae-nya? Donghae-nya? Pengakuan ini sedikit membuatnya tersentak. Bagaimana tidak? Ia mengakui Donghae sebagai miliknya, sedang ia sendiri terus menolak menerima lamaran Donghae. Haruskah ia egois ingin memiliki Donghae sepenuhnya?

“Apa lagi yang kau pikirkan, Cheonsa?” Donghae kini semakin mendekatkan dirinya pada Cheonsa. Menatap kedua emerald itu dengan tatapan lembut. Cheonsa tersenyum kecil sebelum menyampaikan pikirannya.

“Entahlah, entah kenapa misimu kali ini membuatku takut,” Cheonsa balas menatap lembut mata Donghae.

“Hhhmm?” Donghae sedikit bingung dengan perkataan Cheonsa. “Apa yang kau takutkan?”

“Ketakutanku akan kau yang tak akan kembali.” Cheonsa buru-buru meneruskan ucapannya sebelum Donghae menyelanya, “Bukan.. Bukan ketakutanku seperti Seungho…..” Cheonsa sedikit tercekat saat mengucapkan nama itu, kenangan kelam dalam hidupnya seolah berputar mengingat kematian Seungho. Ia mengambil nafas panjang sebelum meneruskan, “Entahlah, aku takut, ya aku merasa kau tidak akan kembali karena akan menemukan gadismu.”

Cheonsa sadar betapa bodohnya ia saat ini. Menceritakan pikiran gilanya, tapi ia takut, teramat sangat takut. Entah kenapa, dirinya amat tidak ingin melepas Donghae pergi kali ini. Hatinya seolah berkata, jika ia membiarkan Donghae pergi, maka akan selamanya Donghae pergi. Bukan pergi dari dirinya, melainkan pergi dari kehidupannya, kehidupan yang sudah menjadi candu baginya. Kehadiran Donghae, kehangatan Donghae, semua pada diri Donghae adalah candu baginya. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya ia jika harus kehilangan sekali lagi orang yang ia cintai.

“Bodoh.” Donghae menyentuh ujung hidung Cheonsa dengan jarinya. Cheonsa hendak memprotes, tetapi mengurungkan niatnya setelah menangkap gelagat Donghae yang hendak melanjutkan perkataannya. “Kau.” ucap Donghae sambil meletakkan jarinya di dada Cheonsa. “Tahu dengan pasti, siapa wanita yang ingin aku jadikan pendamping hidupku, siapa gadis yang ku harapkan menjadi pelabuhan hatiku, siapa gadis yang kujatuhi cinta setengah mati, siapa gadis yang ku harapkan jadi pelipurku di kala lara, siapa gadis yang ku harapkan menjadi ibu dari anak-anakku, siapa gadis yang kuharapkan mau menjadi istriku seumur hidupku. Kau tahu, bahwa gadis itu adalah… kau.” Donghae menatap lembut Cheonsa. Berharap wanita di hadapannya mengerti betapa ia amat mencintainya.

“Tapi sayangnya, aku bukan gadis lagi.” Cheonsa setengah menyeringai, menyadari takdir yang kejam, atau dirinya yang terlalu lancang bermain-main dengan takdir. Bermain-main dengan cinta Donghae yang jelas terlarang baginya yang bersumpah untuk tetap menyandang status Yang Cheonsa seumur hidupnya.

“Tapi bagiku, kau tetaplah.. gadisku.” Donghae mengakhiri perkataanya dengan mengecup lembut bibir Cheonsa. Dan kembali melepaskannya, seolah tak ingin ciuman itu menjadi panas. Tapi seolah tak puas, ia kembali mengecup bibir Cheonsa, semakin lama semakin panas dan penuh dengan hasrat. Cheonsa terkejut, dan berusaha melepaskan ciuman itu.

“Hei, kau bahkan belum meminum cokelatmu!” Cheonsa berusaha memprotes.

“Kau tahu, yang ingin ku minum bukan cokelat. Tapi… dirimu.” Donghae memamerkan seringainya sebelum kembali melumat bibir Cheonsa. Kali ini Cheonsa tidak menolak.

Entahlah, takdir memang kejam. Tapi ia senang bermain-main dengan takdir dan cinta terlarangnya, sebuah cinta yang berasal dari satu nama, Lee Donghae. Dan ruangan tengah itu pun kembali menjadi saksi erangan dan desahan cinta di antara keduanya.

 

***

 

 

Tokyo, Oktober 2012

 

“Ayah!” jeritan Choi Eunri memecah kebisuan yang sedari tadi membelenggu ruang perawatan kelas VIP di Rumah Sakit terbesar di Jepang ini. Donghae, menahan segala rasa dalam hatinya. Tak ingin menambah keperihan Eunri yang menangis di atas tubuh ayahnya yang mulai dingin dan terbujur kaku.

Donghae menyenderkan dirinya pada dinding di sampingnya. Rapat kali ini sangat berpengaruh buruk pada batin Donghae. Dimana malam ini, ia harus melepas Cheonsa demi janjinya pada almarhum ayah Choi Eunri. Perkataan terakhir Ayah Eunri beberapa jam yang lalu membuat tubuh Donghae bergetar. Tanpa ia sadari, bibirnya berucap pelan, “Apa yang harus kulakukan?”

Rapat ini ternyata adalah rencana yang di rancang sang ayah untuk menjodohkan Donghae dengan putri keluarga Kim. Dan penolakkan Donghae terhadapa putrinya, membuat emosi Tuan Kim tak terkontrol dan mengalami serangan jantung, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit.

Flashback

“Berjanjilah Donghae, berjanjilah untuk menikahi anakku.” Ayah Eunri meminta Donghae berjanji demi dirinya.

“Tidak! Aku tidak mau. Dia tak menginginkanku ayah!” Eunri balik menolak permintaan sang ayah pada Donghae.

“Eunri, lakukanlah. Ini demi ayah. Ayah hanya akan tenang jika kau berada di tanagn yang benar.” Tuan Choi berusaha bersuara meski saat ini suaranya tak lebih dari gumaman.

“Tidak! Kau tidak akan apa-apa. Tidak perlu Donghae!” Eunri setengah menjerit melihat sang ayah yang semakin melemah.

“Tidak, Eunri. Ayah sudah tidak kuat lagi. Ayah.. Ayah.. Donghae, berjanjilah.” suara Tuan Choi semakin tak terdengar, menegaskan kondisi dirinya yang sedang diambang maut.

“Aku..” Donghae tak bisa melanjutkan perkataannya. Bagaimana? Bagaimana dengan Cheonsa? Bagaimana dengan bidadarinya bila ia harus menikah dengan Eunri?

“Donghae..” suara tegas ayahnya menyadarkan Donghae. Donghae sadar, karena dirinyalah ayah Eunri seperti ini. Kalau saja tadi ia tidak begitu ceroboh, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.

“Aku.. Baiklah.” Donghae bergumam lirih dalam hatinya, ‘Maafkan aku, Cheonsa.’

 

***

 

Seoul, November 2012

 

 

Berita pernikahan antara Donghae dan Eunri begitu cepat beredar di Korea. Mereka semua tahu itu adalah permintaan terakhir Presiden Direktur Choi Corp. Hanya saja, bukankah pernikahan tetaplah sesuatu yang sakral yang patut di rayakan. Semua mulut para gadis sibuk bergossip, menyatakan hati mereka yang patah akibat pernikahan Donghae, pria tampan nan mapan di Korea. Satu mulut yang terlewat, tak ingin terlibat dalam pembicaraan tentang pernikahan itu. Satu mulut milik wanita bermata emerald, wanita yang hatinya hancur bagai terkena palu godam saat mendengar berita itu.

Cheonsa menjatuhkan dirinya di atas kasur tempat tidunya. Disesapnya aroma seprei putihnya, seprei yang pernah menjadi saksi percintaannya dengan Donghae, mencoba mencari sisa-sisa aroma dari tubuh pria itu yang semakin lama semakin menghilang. Cheonsa benar-benar merasakan kepedihan hati teramat dalam. Apakah ini yang disebut karma? Karma karena mencoba bermain-main dengan takdir, bermain-main dengan cinta terlarangnya. Salah? Apa ia salah mencintai Donghae?

Cheonsa menggelengkan kepalanya. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Lee Donghae, nama itu selalu berputar-putar di dalam kepalanya. Membuatnya pening, membuatnya ingin berteriak, dan meraung. Menangis sejadi-jadinya.

“Inikah balasanmu untukku Donghae? Balasan dari lamaranmu yang ku tolak selama ini? Seungho, inikah balasan darimu karena aku kini mencintai Donghae? Jawab aku! Kalian berdua datang dan pergi seenaknya dalam kehidupanku! Kenapa? Kenapa pada akhirnya kalian selalu meninggalkanku!”

Cheonsa mencengkram erat rambutnya dengan kedua tangannya. Cheonsa menangis, menangis, mengadu pada sang senja, mengadu akan segala derita yang dialaminya, derita akibat pernikahan Donghae. “Ternyata kau memang benar-benar tidak kembali lagi, Donghae?”

– o0o –

Cheonsa merapatkan mantel tebalnya. Hatinya sudah tertanam tekad yang kuat. Ya, ia harus merelakan Donghae. Lagipula ia sendiri yang menolak segala ikatan yang dijanjikan Donghae. Ia tidak boleh egois dengan terus mengurung Donghae dalam cintanya. Donghae pantas mendapatkan wanita yang akan menjadi miliknya seutuhnya. Tapi setidaknya, ia ingin melewatkan malam terakhirnya dengan Donghae. Badai di luar tidak menghalangi niatnya untuk menuju satu tempat, apartment Donghae.

Sementara itu, Donghae tidak hentinya membalik-balikan posisi tidurnya. Badai yang bergemuruh di luar membuatnya tidak tenang. Satu nama berputar-putar di dalam benaknya, Cheonsa. ‘Cheonsa, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku jelaskan padamu?’. Donghae belum mengunjungi Cheonsa sepulangnya dari Jepang. Padahal biasanya, sehabis bepergian ke luar kota, Donghae akan selalu mengunjungi Cheonsa, beralasan untuk beristirahat sejenak bila dirinya terkena amuk sanga ayah, yang tidak suka jika Donghae tidak langsung melaporkan hasil rapat padanya. Tapi kali ini, belum sekali pun ia mengunjungi Cheonsa. Lamunannya terganggu oleh ketukan pintu apartmentnya. Donghae melirik jam dinding di kamarnya, 11.00 malam. Donghae menerka-nerka siapa yang mengunjunginya selarut ini?

Donghae tidak tahu harus berkata apa saat melihat siapa tamu malam harinya. Rambut coklat muncul di balik tudung mantel yang dikenakan wanita itu. Tubuh wanita itu menggigil kedinginan, giginya tampak bergemeletuk akibat badai yang sepertinya baru saja diterjangnya. Walau sebenarnya badai dalam hati wanita ini lebih dahsyat dari badai di luar. Segera saja Donghae menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Menutup pintu. Menyesap aroma mawar yang menguar dari tubuh sang wanita, wanita yang dicintainya, Cheonsa.

“Cheonsa, apa yang kau lakukan? Kau bisa sakit!” Donghae semakin merapatkan pelukannya. Berharap dapat menghangatkan tubuh wanita ini.

“Dong…hae.” Cheonsa dengan terbata mengucapkan nama Donghae. Donghae melepaskan pelukannya dan menatap wajah Cheonsa.

“Cheonsa, aku..” Donghae tidak melanjutkan perkataannya karena Cheonsa meletakkan jari telunjuknya di bibir Donghae, memintanya untuk tidak melanjutkan perkataannya.

“Tolong, temani aku untuk malam ini. Karena setelah malam ini, aku harap kita akan kembali pada takdir kita masing-masing. Takdir yang sudah disuratkan untuk kita.” Cheonsa tersenyum tipis sebelum melanjutkan. “Kau.. dan aku.” tanpa isyarat lagi, Cheonsa mengecup lembut bibir Donghae. Berharap mendapatkan salam perpisahan yang manis.

Donghae tahu ada yang salah dengan Cheonsa. Ini bukan seperti Cheonsa yang biasa, sedikit perasaan takut membayangi Donghae.

“Cheonsa, kau tidak apa-apa?” Tanya Donghae ketika Cheonsa melepaskan ciumannya.

“Aku, baik-baik saja.” Tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipi Cheonsa. Donghae menjilat air mata itu, mengecup pipi dan bibir Cheonsa sebelum akhirnya berbisik lembut di telinga Cheonsa.

“Maafkan, aku Cheonsa. Aku tahu, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Hanya aku tidak bisa membohongi diriku. Aku selalu dan akan selalu mencintaimu, hanya kau.” Donghae mengakhiri ucapannya dengan mengecup bibir Cheonsa.

‘Aku tahu, Donghae. Maka dari itu, izinkan aku memilikimu untuk yang terkahir kalinya’ balas Cheonsa dalam hati.

Tangan Cheonsa bergerak perlahan di dada Donghae, keduanya kini tengan bercinta di atas tempat tidur Donghae. Pakaian keduanya sudah tergeletak entah di mana. Jari-jari Cheonsa menyusuri dada bidang Donghae. Donghae yang berada di atas Cheonsa masih mencumbui leher Cheonsa.

Donghae ambruk di sebelah Cheonsa, ketika dirasakannya tubuhnya telah mencapai klimaksnya. Perlahan Cheonsa menyusup ke dalam lengan Donghae. Seperti malam-malam sebelumnya, Donghae mendekap erat sang bidadarinya sebelum mereka berdua terpejam.

Cheonsa berusaha keluar dari dekapan Donghae secara perlahan, tak ingin membangunkannya. Ia memakai sehelai selimut yang ia bebatkan pada tubuhnya yang kini tanpa sehelai pakaian pun. Ia dekatkan dirinya pada meja rias Donghae. Tangannya mengambil sebuah pena dan kertas dari ujung meja kerja Donghae yang berada di sudut kamar itu. Dengan linangan air mata, ia tuliskan surat perpisahan bagi kekasih hatinya. Saat menyadari suratnya sudah mencapai akhir, ia lipat kertas itu menjadi dua bagian. Ia letakkan pena di atasnya. Perlahan ia kembali menyusup ke dalam dekapan Donghae, air mata masih berlinang di pipinya saat mengucapkan salam perpisahannya.

“Selamat tinggal, Donghae.” dan ia pun memejamkan matanya, berharap ia tak kan lagi bisa membuka keduanya.

– o0o –

 

Tanah merah itu masih basah dengan bunga bertaburan di atasnya. Isak tangis masih mengelilingi pusara itu. Seluruh teman dan kerabat hadir memberikan penghormatan terakhirnya pada sosok yang terkubur tenang di balik gundukan tanah merah itu. Dengan jelas terukir namanya di atas nisan pualam putih.

 

“Han Cheonsa”

 

Sesosok pria berambut hitam masih berdiri di hadapan nisan itu, tak pedulikan air mata yang mengalir dari kedua matanya, menyiratkan kesedihannya. Kesedihannya sepeninggal sang bidadari, wanitanya tercinta. Pusara itu kini mulai sepi karena satu per satu pelayat pergi setelah memberikan penghormatan terakhirnya pada Cheonsa. Donghae tak bergeming, tak menggubris setiap orang yang sudah mengajaknya untuk pulang, membiarkan Cheonsa tenang di peristirahatan terakhirnya.

Donghae meremas secarik kertas yang sedari tadi digenggamnya. Matanya kembali menjatuhkan air mata saat mengingat isi kertas itu. Peninggalan terakhir dari bidadarinya. Bidadarinya, Han Cheonsa.

Lee Donghae, taukah kau? Betapa bahagia saat aku pertama kali merasakan jantung ini berdetak di dekatmu.

Betapa bahagia hatiku saat ternyata mengetahui perasaanku berbalas indah darimu.

Kadang aku merasa bersalah pada Seungho, karena aku sadar aku mencintaimu.

Hatiku behagia saat mendengar ucapan lamaran itu terucap dari bibirmu. Menandakan kau serius menjalin hubungan denganku.

 Aku mencintaimu.

Aku behagia saat kau menenangkanku. Kau katakan bahwa aku adalah wanita yang kau harapkan menjadi pendampingmu.

Donghae, aku tahu aku egois. Aku hanya ingin kau tahu. Aku, Cheonsa.. Ah ya, bolehkan aku menyandang status ini sebelum waktuku berakhir?

Aku, Lee Cheonsa mencintaimu, Lee Donghae.

 

-Cheonsa-

Donghae memejamkan kedua matanya, berharap bayangan bidadarinya tak menghilang. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya. “Aku juga mencintaimu, Lee Cheonsa.”

 

 

-THE END OMFG OMFG!-

 

 

Saengil chukkae hamnida,saengil chukkae hamnidaa~

Sarang haneun uri Eonniee.. saengil chukkae hamnidaaa~~ !!

Wsih you all the best cheonsaaa eonnie ^^ .

 

 

 

IJaggys speaking: OH MY GIVENCHY! di tengah tengah semua kesibukan aku ntah itu bluelf3, ngurus ke penerbit, ngurusin blog sujuff, akhirnya punya waktu buat nentuin juara favorite pilihan aku xDDDDD gausah panjang panjang ya karena semua orang kaya udah mulai muak dengan curcolan aku di setiap sesi note ini tapi aku tetep tau kok deep down kalian mau aku gantiin sonya di jkt48 LOL LOL LOL CANDA SUMFEH hahaha alesanya karena di sini ada skinship nya juga BWAHAHAHAHA udah tau otak aku jalang jadinya hiburan skinship adalah hiburan yang paling aku tunggu, buat juara favorite ini i’ll contact you soon buat ngomongin kamu mau poster offcial yang mana, dan dengan ini berakhir sudah kontes geje ini. ff-ff yang gamenang, bukan berarti gabagus😦 jujur aku aja pengen menangin semuanya tapi berhubung di kontes itu ada menang ada kalah aku harap kalian semua semakin sayang sama blog ini #ganyambung LOL ff-ff yang ga menang bakal aku publish sehari sekali mulai besok^^ MAKASIH BUAT SEMUANYA YANG UDAH MAU PARTISIPASI PIS LOP EN GA0L!

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

28 responses »

  1. What is this??? Tragically ending??? Damn….!!!
    I hate every sad ending story…touchable and make me sigh over and over again.
    How could person wrote this kind a storyline??? TT
    Sorry…but it Damn Good-Sad storyline… TT

  2. E.I.A.Bells says:

    olalalala~
    Kayaknya lo lagi demen cerita agak NC dan tragis yaa son.. kyknya pemenang2 yang lu pilih ceritanya tragis semua..
    Dan absolutely Han Cheonsa yang mati..
    Part yang paling gue suka krn betapa keselnya gue dia mainan cowo seperti bermain barbie2-an haaaffftt………

    Jauh bgt dari sifat HC yang doyan selingkuh tapi tetep kece dgn dunia modelnya.. Hahaha.
    But this story is good.. Gak ketebak akhirnya gimana yang gue kira ujung2nya mereka berdatu ternyaataa…. menyedihkan..
    Buat donge berbahagialah…

  3. yazelf says:

    tragis, nyesek….

    tp tetep masih nungguin Lovely Complex season 2 part 6 nih…haha

  4. cloudsoora says:

    pendek tapi nyesek
    kasian banget seungho cuma d sebut namanya tapi orangnya ga muncul..cupcup sinisini aku peyuk*kesempatan*

    firasat cheonsa kuat tuh.,bener aja klo hae bakal ninggalin dia
    huaaa kenapa endnya harus gitu..ngenes banget sihh*protes*

    yeahhh skinship johayo*sama2yadong*
    ni gara2 kebanyakan gaul ama hyukjae*gebukinrame2*

  5. inggarkichulsung says:

    Sedih banget Cheonsa nya meninggal.. Donghae oppa sangat terpukul sekali apalagi membaca surat terakhir yg Cheonsa tulis untuknya di malam terakhir mrk bertemu.. Mungkin ini yg terbaik krn meskipun jantung Cheonsa berdetak dan bergetar lagi sejak ada Donghae oppa sepeninggal Seungho oppa meninggal, tapi hati Cheonsa yg seutuhnya msh memilih Seungho oppa sbg penjaga hatinya dan akhirnya Cheonsa menyusul Seungho oppa

  6. Na says:

    innalillahi…itu hcs kenapa bisa meninggal?? perasaan dia gk sakit deh ._.v
    so, RIP for her u,u

    btw, congrats! ff nya bagus. membuah hcs galau segalau galaunya + menderita lahir batin! XDDDD
    *dirajam hcs*

  7. han gi says:

    cheonsa nya ah , kasian😦

  8. micochanlof says:

    Ahhh, damn.
    I hate the ending liao, it’s so tragic ToT
    Poor Donghae,,.. Rip Hcheonsa…

    But over all I like this story, same like u son..XD I like when LDH-HCS make a skin ship moment in every n anywhere.
    Full nc please #slapp

    Aisshh, kali ini si cheonsa bener2 dah menggalau.
    Janda nih yee :p
    tapi kenapa jg hrs nyusul si seungho -_-‘
    Harusnya si Han g perluh nulis2 surat wasiat segala.
    Ngajak aja si donge sekalian ke kampung halaman cheonsa (red Hell) *digebukin Cheonsa*
    kan bertiga tar disana bareng abang seungho lalalalaa…
    Oopps
    *hilang*

  9. Arinee says:

    Bru tau kalo cheonsa bisa galau dan rela mati demi ikan amis.ga cocok sumfeeehh hahahaha bukan cheonsa banget

  10. yewongirl says:

    Nyesek bcanya…
    krain cheonsa ma donghae always together, taunya cheonsa bunuh diri…😦

    baru kli ini bca ff donghae-cheonsa yang serius.. biasanya mereka bdua kocak..😄

  11. superddulz7 says:

    huwa~~~~
    Cheonsa meneninggal ni???
    ngak bisa dipercaya, hehehe

    aku kira Cheonsa pergi jauh, eh ternyata pergi ke alam lain, heheheheheh

  12. superddulz7 says:

    huwa~~~~
    Cheonsa meneninggal ni???
    ngak bisa dipercaya, hehehe

    aku kira Cheonsa pergi jauh, eh ternyata pergi ke alam lain, heheheheheh

  13. Auliyya says:

    Yah , why ? Why ? Koq cheonsa-nya mati sich , kan kacian abg ikan tu ,,
    btw , k’ sonia skolah dmana sich ?

  14. iullicious says:

    my suffle music player coincidentally play my immortal_evanesence and the pieces don’t fit anymore_james morison.

    should i tell you how the damn blue atmosphere ;A;

  15. kyuhaeismine says:

    Huuuwwaa..
    Kenapa harus sad end??
    Dan kenapa si HCS itu perannya selalu bikin galau?! -_-
    Poor untuk LDH.. *dunia emank kadang kejam bang!* :”’)

  16. Miss LEE says:

    hwwaaaa!!
    ga terima!! ga terima!!
    ga bisa apa cheonsa nya hidup lagi gitu?? TT

  17. Andrea Malik says:

    sad ending,bur alurnya bguss gak kcepetan mnurut aku🙂

  18. Han Maeri says:

    Iniiihhh sumpah nyesek banget!!! TT TT

  19. Kim Na Young says:

    Baca lagu ini sambil denger lagu 2NE1 It Hurts, sakitnya tuh disini *nunjuk dada*

  20. memelftsr says:

    oh….
    kenapa cheonsa pake meninggal.hihuhihu….
    kasian bgt si ikan amis ini..

  21. sparEvil says:

    nice ff tpi endingny kek gini u.u
    gk seharusny cheonsa nggal

    keep writing

  22. itttuuu mak cheonsa kenapehhh , knpe kgak dijlasin mtinye ??? Ke tusukkah (?) atau mak bunuuuh diriii aaaaa NYESEEEEEEEEEKKKK !! #nangisguling2

  23. fsshy says:

    Sedih bacany, gimn Cheonsa bisa mati? Apa yg ngebuat dia mati? Kenapa Donghae masih tinggal di apartemenny? Knp ga tinggal sama istriny?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s