Credit: Biography of De Vine Cellars – Denise & Martin Cody

                                                                                                                            Inspired by “One of contemporary romance’s superstars.” – J. James

 

Cheonsa meninggalkan Rumah Sakit sedikit lewat tengah malam. Ia keluar untuk mengambil mobilnya dari petugas valet, dan mendapati tak ada lagi petugas yang berjaga. Ada sebuah tanda terbaca bahwa petugas parkir tersedia hingga pukul 11 malam  ̶informasi yang berguna jika ia ketahui sejam yang lalu.

Cheonsa masuk kembali ke dalam Rumah Sakit, memberikan kartu VIP-parking ke petugas layanan, dan mengambil kunci mobilnya. Sang petugas menunjuk ke gedung parkir di seberang jalan.

“Petugas valet memarkirkan mobil yang tak diambil di gedung lantai dua.”

Sambil menerobos angin dingin musim semi dari danau Michigan, Cheonsa menyebrangi jalan menuju gedung parkir. Di dalam lift, ia menyandarkan kepalanya ke dinging dengan letih.

Hari yang panjang. Hari yang gila dan melelahkan. Pertama kunjungan yang tak terduga dari So Eun Seo, lalu kemarahannya kepada Donghae, lalu kakak angkatnya Kim Heechul ditikam, begitulah para wartawan memberitakannya dan dibebaskan dari penjara.

Ia sangat siap untuk pergi ke Napa.

Saat liftnya sampai, ia melangkah keluar dan melihat mobilnya terparkir. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Donghae bersandar di kap mobilnya, menunggunya.

“Aku tak mengira akan melihatmu disini.” Ujar Cheonsa sambil mendekat.

“Aku tak bisa diam saja dengan situasi yang terjadi di antara kita. Kuharap kau tak menganggapku brengsek.”

“Aku tak menganggap seseorang brengsek.” Cheonsa melangkah lebih dekat. “Kau pasti membeku berdiri disini.” Katanya lembut.

Donghae menunjuk mobilnya. “Aku di sini baru lima menit. Boleh kita bicara?”

Cheonsa menekan tombol untuk membuka pintu mobilnya, dan lampu Maserati Quattoporte-nya berkedip. “Duduklah.” Cheonsa berjalan memutari mobilnya dan masuk ke kursi pengemudi. Segera setelah masuk ke dalam mobilnya, Cheonsa menekan tombol untuk menghangatkan jok mobilnya yang berwarna coklat muda. Seperti halnya wine bermutu tinggi dan sepatu mahal, jok hangat di malam bulan Maret adalah salah satu kemewahan Cheonsa.

Udara hangat menghembus ke sekeliling mereka membuat hangat bagian dalam mobil.

Cheonsa mencondongkan tubuhnya dan tanpa ragu, mencium Donghae. Ciuman yang dalam, dan lama.

“Itu untuk apa yang telah kau lakukan untuk kakakku.” Ucap Cheonsa saat menarik kembali tubuhnya.

Mata Donghae berbinar. “Aku sudah bilang akan mengeluarkannya dari penjara. Hanya butuh kreativitas saja.”

“Tapi kau tak perlu mengirimnya pakaian. Itu sangat tidak cocok untuk Heechul, kau tahu?”

Donghae membelai pipi Cheonsa, suaranya serak. “Kita sama-sama tahu aku melakukannya bukan untuk Kim Heechul.”

Cheonsa memang tahu itu. Ia menyelipkan tangannya ke dalam mantel Donghae dan beringsut mendekat ke tubuhnya. “Jadi coba katakan, Agen Lee Donghae. Dari sini, keman tujuan kita?”

“Aku tak tahu.” Donghae mengamit dagu Cheonsa, menatap matanya saat mengatakan, “Kau tahu pekerjaanku membuat segalanya sulit. Kau sudah melihatnya sendiri. Aku berubah dari satu identitas ke identitas lainnya   ̶pergi untuk penugasan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.”

Cheonsa diam sejenak. “Lalu?”

Donghae memiringkan kepalanya, tak memahami Cheonsa. “Itu.. yang membuatnya segalanya sulit.”

“Aku tahu soal itu. Aku menunggu sampai kata-katamu selesai. Menurut Eun Seo, kau akan berpicara panjang lebar, jika sudah menyangkut dengan para gadis yang ada dalam agenda penyamaranmu. Aku merasa dianak-tirikan.”

Dongahe mencubit hidung macung Cheonsa. “Untukmu berbeda dengan yang lain.”

“Oh.” Cheonsa tersenyum girang. “Bagus. Tapi itu belum menyimpulkan kemana tujuan kita sekarang.”

Cheonsa bersandar dan menatap Donghae, menimbang-nimbang sesuatu. “Aku akan pergi ke Napa besok, selama akhir pekan. Kau bisa ikut denganku.” Cheonsa mengangkat sebelah alisnya. “Ini cocok dengan karaktermu di penyidikan ini. Park Donghae yang kaya raya itu tak akan membiarkan kekasihnya pergi ke tempat yang romantis sendirian.”

Sekarang giliran Donghae yang terdiam. Bukan karena ia tergoda dengan tawaran itu. Tapi ada sesuatu yang lain. “Aku tak mengerti sebenarnya apa kau minta…… dariku?” Ujarnya santai.

Cheonsa sudah mengira hal ini akan terjadi. “Untuk saat ini, aku hanya minta kau menghabiskan akhir pekan bersamaku di Napa.”

Seluruh akhir pekan bersama Han Cheonsa. “Hanya orang suci yang tak akan tergoda dengan tawaran itu, Han.”

Cheonsa merasakan keraguan dalam diri Dongahe. Ia menaruh sikunya di sisi jok kulit Italia miliknya. “Aku sudah dewasa. Dan aku benar-benar faham tentang hubungan, jadi kau bisa menganggapku siap.” Cheonsa menyeringai. “Sejujurnya, kau bisa membuatku kesal setengah mati sampai aku senang jika kau pergi meninggalkanku. Atau berbicara tentang komitmen, kita betengkar hebat, lalu berpisah.”

Donghae tertawa mendengarnya, ia menarik mantel Cheonsa. Ia menariknya lebih dekat. “Dan jika aku tak bisa melakukan itu?”

Suara Cheonsa terdengar serak dan bernada rendah, bersiap menerima ciuman Donghae. “Kalau begitu kita lihat nanti.”

Sesuatu di dada Donghae terasa menyesak. Cho Kyuhyun benar, Han Cheonsa memang bukan kelasnya. Bahkan semua orang tak sebanding dengannya.

Orang suci mungkin akan menjauh saja, tahu bahwa lelaki dengan pekerjaan sebagai Agent-Khusus FBI tak boleh membiarkan perasaanya larut pada seorang gadis seperti Cheonsa. Putri dari Philip Han. Pria yang menduduki peringkat empat dalam daftar sepuluh warga terkaya Amerika versi majalah Forbes yangmemperkirakan memiliki kekayaan mencapai satu koma dua milyar dolar. Sebab orang suci sekalipun tahu, bahwa apapun yang bisa ia berikan untuk Cheonsa, tak akan pernah sepadan.

Jadi sebut saja ia iblis. Karena menjauh dari Cheonsa saat ini adalah sesuatu yang tak bisa ia lakukan. Donghae mencondongkan bibirnya ke Cheonsa, menciumnya lamban. Tak usah buru-buru, mulai besok Cheonsa adalah miliknya.

“Aku harus memberi tahumu sesuatu.”

“Hhhmm?” Gumam Donghae. Ciumannya berpindah dari bibir Cheonsa menelusuri lehernya.

“Ini perjalanan bisnis untukku,” kata Cheonsa dengan serak, “Aku akan pergi ke beberapa acara pencicipan anggur.”

Donghae mengumpat, dengan bibir yang masih membelai leher Cheonsa, “Aku tahu . itu akan ada imbalannya.”

Cheonsa tertawa, “Kau akan menyukainya.” Cheonsa tiba-tiba menarik diri dan memiringkan kepalanya. “Boleh aku bertanya sesuatu? Ini menggangguku semalaman.”

“Silahkan.”

“Kim Jong Woon itu agen federal?”

“Kami menaruhnya di LP dua bulan lalu.”

“Bagaimana bisa kalian meyakinkannya untuk bersedia menikam Heechul? Kasihan Jong Woon. Pasti sekarang ia sudah dipisahkan ke sel disipliner yang terpisah karena hal ini.”

Donghae mendengus. “Untuk menjebloskannya ke penjara, kami harus berkoordinasi dengan pihak LP. Para penjaga sudah tahu siapa dia. Dia, mungkin sekarang ia sedang di ruangan sipir penjara sambil menonton TV, dan mengaku kepada tahanan lain bahwa ia sedang didisiplinkan di sel terpisah.”

“Aku terkesan kau berhasil melakukan semuanya.” Cheonsa tersenyum licik. “Kau tahu, urusan Agent-Khusus ini kadang-kadang seksi juga.”

Donghae tersenyum pada dirinya sendiri. Terpaksa, ia mengakui bahwa Agent Cho Kyuhyun ada benarnya  ̶melibatkan gadis terkaya ke-empat ini akan membawa keuntungan. Keuntungan yang signifikan bagi Operasi Money-Laundry yang melibatkan Kim Jaejoong, sang kolektor wine. Penyusupan yang dilakukannya tiga minggu lalu ke dalam pesta amal yang diadakan Kim Jaejoong, kini mulai membuahkan hasil. Penyamaran sebagai Park Donghae, seorang investor properti. Pemilik beberapa apartment di sebelah Utara LA dan berpura-pura sebagai teman kencan ‘gadungan’ dari Han Cheonsa. Cheonsa bersedia bekerja sama dengan FBI demi membebaskan kakak angkatnya Kim Heechul yang dijatuhi hukuman penjara selama empat belas bulan atas kekacauan publik yang dilakukannya dengan melumpuhkan jaringan Twitter selama dua hari menggunakan sistem peretas tercanggih.  Penyamaran ini adalah kemajuan yang sangat baik dari perkembangan penyidikan kasus yang sudah dimulai sejak dua tahun lalu.

* * *

“Mungkin aku saja yang menyetir. Jadi kau bisa beristirahat.”

Cheonsa mengalihkan pandangannya dari jalan ke arah Donghae. “Tinggal berjarak enam kilometer. Aku bisa menanganinya.”

“Tapi jalanan ini berbukit-bukit. Aku lebih nyaman kalu aku yang menyetir.”

“Aku baik-baik saja.”

Sebenarnya, Donghae menikmati disupiri Cheonsa sejak mereka keluar dari bandara. Memberi banyak waktu untuk Donghae menikmati pemandangan indah. Rambut panjang coklat yang di kucir kuda, gaun musim panas berwarna putih, scarf sutera yang melingkar longgar dilehernya, dan kaki yang jenjang.

“Aku akan lebih nyaman jika aku yang menyetir.” Ujar Donghae. Tampaknya Cheonsa tak menangkap arti sesungguhnya dari kalimat itu.

Cheonsa menghentikan mobilnya di persimpangan jalan, menuju pinggiran  jalan yang mengarah ke sebuah peternakan. Cheonsa menoleh ke arah Donghae. “Oke. Ada apa ini? Kenapa kau mendadak merasa lebih nyaman menyetir?”

“Kita tidak boleh terlihat mencolok. Kita masih dalam tugas penyamaran. Dan aku rasa, tempat mewah ini terbiasa melihat pria yang menyetir mobil. Semua orang akan mengira aku adalah asistenmu atau semacamnya.”

Cheonsa menjentikkan jarinya. “Sepertinya itu akan menjadi penyamaran yang seru. Mari kita lakukan. Aku akan jadi bosmu, dan kau harus memanggilku Nona Han Cheonsa sepanjang akhir pekan.”

“Tidak.”

“Aku akan memberimu buku agenda kecil, dan kau bisa mengikutiku sambil mencatat. Lalu aku akan menyuruhmu menyetir sejauh empat belas kilometer ke Starbucks terdekat untuk membelikanku Latte, lalu aku akan menyuruhmu bolak-balik sampai tiga kali sampai semuanya sempurna. Sebab itulah yang biasa dilakukan oleh kami, para high-society.”

“You kidding me?”

“Yes. Tentu saja aku bercanda. Kalau tidak, aku akan menganggap serius komentarmu tentang pria harus meyetir mobil, dan suasana hatiku terlalu bagus untuk memberimu kuliah tambahan bahwa politik kesetaraan gender telah berubah sejak tahun 1990-an.” Ucap Cheosna dengan nada sinisnya.

“Ngomong-ngomong soal 90-an, pernahkah ada orang yang bilang padamu bahwa kau mirip dengan Lin Chi Ling? Hanya saja kau versi Amerika.”

Cheonsa berusaha bersikap santai, ia memintir ramburnya. “Sebenarnya, Heechul sering berkata begitu. Kau sedang mengalihkan topik pembicaraan bukan?”

“Tentu saja. Kau tahu, komentar tentang asisten itu mungkin tidak terlalu bagus. Aku harus memperingatkanmu   ̶kadang-kadang watak manusia purbaku muncul dari waktu ke waktu.”

Yah, manusia purba yang berpikir bahwa wanita tidak boleh banyak mengambil keputusan.

Cheonsa membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, lalu kemudian membatalkannya. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. “Bagaimana bisa kau melakukan itu? Kau mengendap-endap sampai batas kesabaranku, lalu kemudian kau melepaskan diri dari amarahku dengan cara bermulut manis.”

Donghae menyeringai. “Gadis cerdas. Sudah kubilang saat kita pertama kali bertemu bahwa kau akan tahu kapan aku akan bermulut manis padamu.”

Cheonsa menatap keluat jendela, sambil menggelengkan kepalanya cepat.

“Sepertinya di masa lalu, aku pernah menyembelih hewan peliharaan sesorang atau semacamnya. Dan ini hukumannya.”

Donghae tertawa. “Aku saja. Kau menyukainya.”

“Itulah hukumannya. Pelan-pelan aku bisa mati berdiri.”

Melihat seulas senyum di bibir Cheonsa, Donghae mencondongkan diri untuk menciumnya. “Kau memang bermulut manis.” Balas Cheonsa cepat.

Mereka melanjutkan perjalanan, dan saat pohon-pohon terlihat semakin banyak, Donghae mulai memikirkan tentang resort yang mereka tuju. Mereka belok ke sebuah tikungan, lalu memasuki jalan satu arah, sampai kemudian sampai di jembatan yang sempit. Hanya cukup untuk satu mobil.

“Apa nama resort-nya?” Donghae merasa bodoh mempertanyakan hal itu sekarang, ketika mereka hambir tiba. Sejak mendarat di San Francisco, Cheonsa yang lebih sering mengambil keputusan. Sisi agen FBI dan sisi lelaki purba di dalam dirinya merasa tidak senang dengan hal itu. Donghae terbiasa  memimpin dalan suatu situasi   ̶segala situasi.

Sambil melirik Cheonsa sekali lagi, Donghae memutuskan untuk membiarkan semuanya mengalir. Untuk saat ini saja. Setidaknya, ia masih berkesempatan  untuk memandangi pemandangan di sampingnya.

Calistoga Ranch.” Jawab Cheonsa singkat.

“Sepertinya tidak banyak diketahui orang.”

“Memang sengaja agar suasana pedesaannya menonjol dan tetap menyatu dengan alam. Tidak terlalu banyak pengunjung.”

Mobil terus berjalan sampai tikungan, dan tiba di sebuat pelataran dan menemui gedung yang sepertinya adalah gedung utama. Beberapa mobil parkir berjejer di depan mereka. Donghae menghitung dengan cepat; dua Mercedes, satu Porsche 918, satu BMW 6 series dan sebuah Aston Martin.

Donghae mengangkat sebelas alisnya saat Cheonsa memarkir mobilnya di belakang Aston Matrin. “Pedesaan?”

“Yah… sebut saja ‘high-class village’.” Aku Cheonsa. Ia membuka pintu mobilnya, kakinya yang jenjang dengan sepatu berhak tinggi dan rambutnya yang coklat bersinar di bawah mentari California yang hangat. Saat itu, ia terlihat sangat pantas berada di tempat itu.

“Welcome back, Miss Han.” Sapa si petugas valet sambil menerima kunci mobil dari Cheonsa. “Bagaimana penerbangannya?”

“I’ve enjoyed the trip. Thanks.”

”Saya akan angkat semua tas ke kereta, silahkan melakukan check-in.” Sambil mengangguk, petugas valet itu menghilang dari hadapan Cheonsa.

Donghae datang dari sisi lain dan meraih tangan Cheosna. “Kereta?”

“Mobil tidak diizinkan masuk ke wilayah resort, jadi mereka akan mengantar kita ke kamar menggunakan kereta golf.”

“Pedesaan-untuk-orang-kaya tidak memperbolehkan berjalan kaki?” tanya Donghae dengan mimik muka meremehkan.

“Kamar kita berjarak 1,6 kilometer. Dan di atas bukit.” Cheonsa menarik Donghae lebih dekat. “I know this is hard for you, dear. But you’ll love it.”

Donghae melihat sekelilingnya. Hal pertama yang ia pikirkan adalah ia sudah lama tak berlibur, sebab akan butuh banyak uang ekstra untuk membayar separuh biaya perjalanan ini. Ayolah, gaji seorang agen FBI tidak sebanding dengan penghasilan di toko Wine langka milik Cheonsa. Jika Cheosan mengira ia akan membiarkan Cheonsa membayar semuanya, Cheonsa harus berpikir kembali. Di tempat asalnya, pria tidak akan mengemis pasa kekasihnya. Meskipun kekasihnya adalah ahli waris kaya raya.

Kekasih

Mata Donghae memicing.

Cheonsa memandanginya. “You okay?”

“Hanya kelilipan.” Ia menggosk matanya agar lebih meyakinkan.

Mereka memasuki gedung utama luas bernuansa western, dan disambut oleh receptionist. Yang tentunya langsung mengenali Cheonsa, mengkonfirmasi kamarnya, lalu memberikan serangkaian kunci. Ternyata Pedesaan-untuk-orang-kaya juga tak memakai katru kunci.

Dalam beberap menit, mereka sudah berada di sebuah kereta golf, menyusuri jalan kecil dengan sisi jurang dan hutan lebat, dan di sisi lain terdapat sebuah danau. Di sepanjang jalan, mereka melewati beberapa bungalow yang terletak agak jauh dari jalan. Untuk privasi.

Dari balik kaca mata hitamnya, Donghae mempelajari petugas valet yang duduk di balik kemudi. Umurnya masih awal dua-puluhan, berkulit gelap dengan rambut pirang. Terlihat lebih cocok duduk di bangku di pinggir pantai di tepi laut. Tapi, ia malah bercakap-akrab dengan Cheonsa tentang sebuah kilang anggur.

Setelah berkendara selama sepuluh menit, petugas valet itu memarkirkan kerta golfnya di pinggir jalan setapak menuju sebuh bukit. “You know the rules. Berjalan kaki dari sini, aku akan ambilkan tasnya.”

“Aku yang mengambil tasnya.” Ucap Donghae sambil menatap dengan tatapan jangan-ada-bantuan-obrolan-komentar. Cheonsa melirik sambil menggelengkan kepalanya, tak berkata apapun sambil berjalan ke jalan setapak dengan sebuah tangga menuju bungalow. Cheonsa membuka kunci pagarnya, kemudian masuk ke teras dengan perapian, area keluarga, dan pemandangan indah di bawah mereka.

Cheonsa menggunakan kunci lainnya untuk membuka pintu kaca menuju ruang tengah dengan berlantaikan marmer dan di lengkapi dengan perangkat hiburan.

“Jadi seperti ini Pedesaan-untuk-orang-kaya.” Donghae menaruh tas dan melihat ke sekeliling. Ia bisa melihat bahwa kamar utama terpisah dari teras. Sangat privasi. Ia berjalan kembali keluar dan membuka pintu kamar. Tempat tidur ukuran besar dengan bantal-bantal yang terlihat empuk serta lemari pakaian dan nightstand berwarna coklat tua. Di sebelah kamar tidur terdapat kamar mandi yang luas berhiaskan batu granit , dengan kombinasi mandi uap dan pancuran. Pintu bergaya Itali di sepanjang salah satu dinding kamar mandi mengarah ke kamar mandi terbuka.

“Enough?” Cheonsa bertanya dari belakang.

Donghae berbalik, sedikit kikuk tertangkap basah sedang terkagum-kagum pada sekelilingnya. Ia mengangkat bahu, nada biacaranya terdengar acuh. “Aku belum pernah kenal dengan seseorang yang mampu membayar resort seperti ini di akhir pekan.”

Donghae membuka kancing kemejanya dan melepaskan sabuk pistol yang menempel di badannya.

“Aku tak pernah mengenal seseorang yang membawa benda itu di kencan akhir pekannya.” Kata Cheonsa sambil menunjuk pistol yang kini tergeletak di meja samping tempat tidur.

Tubuh Donghae menegang, ia baru menyedari suatu hal. Inilah dia, seorang Agent-Khusus FBI yang menghabiskan akhir pekan bersama seorang gadis yang sebelumnya menjadi partner penyamarannya dalam suatu penyidikan besar.

Donghae berbalik dan berjalan mendekat ke arah Cheonsa. “What are we doing now?”

Cheonsa tersenyum licik. “I don’t know.”

Donghae memandangnya, berdiri sangat dekat. Bahkan terlalu dekat. Cheonsa membeku, menatap Donghae dengan mata hampir tertutup.

Tanpa aba-aba, Donghae membelai rambut Cheonsa. Menarik ikat rambut yang mengikat di rambutnya hingga tergerai.

Donghae semakin mendekat. Nafasnya terasa hangat di pipi Cheonsa. “Jadi apa yang biasa dilakukan orang kaya di Napa Valley?”

Cheonsa terjebak dalam tatapan Donghae. “Mungkin sama dengan apa yang dipikirkan oleh agen-agen FBI Los Angeles.”

Jelas sudah.

Cheonsa tahu, dari tatapan Donghae dan ketika Donghae merengkuhnya ke dalam pelukan, menjatuhkan tubuh mereka ke atas tempat tidur, Cheonsa tahu bahwa waktu bercanda sudah habis.

Donghae menahan Cheonsa di atas tempat tidur, menunduk menciumnya, ciuman yang dalam dan panas. Cheonsa membelitkan lidahnya ke lidah Donghae, tanpa sepatah katapun, tanpa candaan apapun.

Donghae mencengkram bagian leher dress Cheonsa, merobeknya hingga tubuh mulus Cheonsa terekspos.

Cheonsa menarik napasnya berat di depan mulut Donghae. “Gaun ini berharga sepuluh-ribu dolar, bodoh.”

Suara Donghae terdengar parau. “Kau tidak akan membutuhkan pakain selama akhir pekan ini.” Donghae mengusap bibir Cheonsa dengan jempolnya. “Pernahkah ada pria yang mengatakan bahwa bibirmu jauh lebih memabukkan dari pada wine yang kau gilai itu?”

Tanpa menghiraukan ucapan Donghae, Cheonsa mengunci tatapan Donghae dan menjilat jempolnya. Tatapan Donghae makin membara, ia menarik gaun yang tersisa di tubuh Cheonsa hingga ke bawah, kemudian menarik lepas scraf di sekeliling lehernya. Donghae memundurkan tubuhnya, menatap tubuh Cheonsa di hadapannya.

Menurutmu cukup?

Sekaranglah saatnya.

Donghae..

Aku harus bergerak pelan.

Jangan harap!

Sekarang aku harus benar-benar bergerak pelan.

Aku suka ekspresimu saat aku melakukan ini. Mungkin seharusnya aku melihatmu sampai klimaks.

Berbaring.

Cheonsa….

Terus, Cheonsa….

Mereka berdua berbaring dalam waktu yang cukup lama. Beradu pandang dengan degup jantung yang tak beraturan.

“Ini adalah waktu terlama yang kita habiskan berdua tanpa bicara.” Ucap Cheonsa memecah kesunyian.

Donghae tak menjawab pertanyaan Cheonsa. Ia memejamkan matanya. Menormalkan tarikan napasnya yang terasa sangat berat.

“Are you okay?” tanya Cheonsa khawatir.

“Aku hanya….mungkin aku tak bisa berhenti, jika denganmu.” Dongahe terdiam dengan canggung. Jarinya menyibakkan rambut Cheonsa yang menutupi mata ke bagian belakang telinganya.

Cheonsa mencondongkan wajahnya ke arah Donghae dan mengecupnya lembut. “Aku juga.” Cheonsa berbisik lembut.

* * *

Cheonsa mengintip dari balik kaca jendela mobilnya ke arah pagar besi yang terbentang di depan mereka. Pintu gerbang yang berhiaskan lambang monogram huruf B dari tembaga yang di ukir, logo untuk Barrasford-Estate-Wine.

Donghae duduk di samping Cheonsa di kursi penumpang dalam limosin yang mereka tumpangi ini. “Tak ada yang menjawab. Sayang sekali Nona Han. Artinya kita akan kembali ke bungalow.” Ia menjentikkan jarinya. Senyuman kemenangan terukir di wajah Donghae yang kini memakai setelah jas hitam lengkap.

“Sepertinya…. Oh, gerbangnya terbuka. Kau lihat, mereka menunggu kita.” Ujar Cheonsa sambil menyeringai.

“Yah, aku senang. Berapa lama kita harus berada di acara ini?”

Cheonsa membelakkan matanya, siap untuk membunuh agen kesayang pimpinan FBI ini. “Ini pencicipan wine, Lee Donghae. Bukan agenda penyiksaaan untukmu.”

“Segala hal yang menghalangiku untuk hanya berdua saja denganmu, itu siksaan untukku, Han.”

Cheonsa menggelang. “Mungkin kau harus memikirkan kata-kata yang jauh lebih baik untuk merayuku.”

“Dengar, dibalik gerbang itu tersimpan wine cabernet yang digosipkan akan menyaingi semua wine terbaik di Napa dan Sonoma. Dan aku suka wine cabernet. Aku berada di Napa hampir…” Cheonsa memeriksa jam tangannya. “Lima jam dua-puluh delapan menit dan samasekali belum meminum setetes wine.”

Donghae memicingkan matanya, berniat untuk memprotes sesuatu.

“Jangan salah paham, aku menyukai saat aku hanya berdua denganmu, tapi sekarang aku mau mencicipi wine itu.”

“Jika aku bilang tidak?”

“Kau boleh mengucapkan, selamat tinggal.”

Secepat kilat, Donghae keluar dari limosin dan membetulkan letak jasnya. Ia berjalan mengitari mobil dan membuka pintu, meraih tangan Cheonsa layaknya pria sejati.

Cheonsa menyelipkan tangannya di siku Donghae, sangat merindukan sentuhan Donghae.

Sambil bergandengan tangan, mereka berjalan melewati halaman depan yang indah dengan gaya Mediterania. Semakin cantik dengan beberapa patung pancuran yang bernilai seni tinggi.

“Ceritakan sesuatu tentang tempat ini.” Kata Donghae, matanya terus saja berbinar memandang sekelilingnya.

“Tempat ini masih baru. Wine vintage-nya akan diluncurkan bulan depan. Perkebunannya tidak begitu luas, hanya sekitar dua-puluh hektar, Sauvignon. Mereka sangat siap untuk bersaing dengan kilang wine di pasaran. Mereka hanya mematok harga lima-ratus dolar per botol.”

“Hanya lima-ratus dolar?” Tanya Donghae tanpa bisa menutupi ekspresi terkejutnya.

“Untuk pecinta cabernet, harga itu sangat bagus. Jika mereka bisa mengurangi harga jual dalam jumlah banyak, aku akan menjadikannya salah satu wine favorit untuk bulan Juni. Jika aku cocok dengan rasanya.”

Setelah melewati halaman depan, mereka tiba di hadapan pintu besar yang terbuat dari kayu ek   ̶setinggi empat meter yang terhubung dengan pabrik pembuatan wine. Ketika pintu terbuka, seorang wanita berusia awal lima-puluh-an menyambut mereka ramah.

“Selamat datang di Barraford-Estate, Nona Han.”

Cheonsa tersenyum dan menyambut tangan wanita itu yang sudah terulur. “Panggil saja Cheonsa. Dan ini Park Donghae.”

“Nama saya Eleanor.” Balasnya. “Mari ikuti saya.”

Mereka mengoborol banyak sambil mengantar melihat-lihat pabril penyulingan wine. Berbeda dengan kesan Mediterania yang sangat terasa di luar, semua peralatan yang ada di pabrik ini sangat modern. Semua alat berat terbuat dari besi anti-karat. Kecuali dua belas tangki fermentasi yang terbuat dari kayu Perancis berukuran empat meter tinggi dan enam meter lebar.

Tur itu ternyata jauh lebih singkat dari yang biasa dihadiri oleh Cheonsa. Ia bertanya dan Eleanor dengan senang hati menjelaskannya.

“Kami melakukannya berbeda. Kami ingin seluruh proses pembuatan wine di pabrik kami dapat di lihat oleh semua orang, maka kami membuat film dokumenter tentang segala sesuatunya, dimulai dari memanen hingga pengemasan.”

Eleanor mengajak mereka memasuki sebuah ruangan. Seperti ruang rapat. Ruangan yang luas dengan salah satu dinding berupa kaca yang memperlihatkan pemandangan lembah dan pegunungan Mayacamas. Eleanor mempersilahkan mereka duduk, lalau membuka sebotol wine.

Sambil menungkan wine, Eleanor menjelaskan. “Ini adalah wine estate cabernet kami yang akan di luncurkan bulan Mei. Anggur untuk wine ini di panen tiga tahun yang lalu, kemudian diperam selama delapan belas bulan dalam barel-barel yang terbuat dari batang katu pohon ek yang sudah tua.” Eleanor memberikan sloki yang sudah terisi wine kepada Cheonsa dan Donghae. “Silahkan menikmati sambil menonton film kami. Saya akan kembali dalam dua puluh menit dan menjawab pertanyaan anda.”

Setelah Eleanor pergi, Cheonsa memutar slokinya, mencium aroma red- wine yang sangat khas.

“Lebih formal dari yang kubayangkan.” Ujar Donghae sambil menatap wine yang sepertinya tidak akan ia minum.

“Tidak juga. Ada yang mengajak berkeliling atau melihat perkebunan anggur. Ada juga yang hanya duduk santai di taman sambil menikmati wine  yang mereka sajikan.”

Cheonsa meminum wine-nya. Terasa hangat dan glamour,  seperti yang ia harapkan. “Rasanya penuh sekali di mulutku.” Kata Cheonsa sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Donghae ketika lampu ruangan meredup dan sebuah layar turun dari langit-langit ruangan.

Setelah film selesai, Eleanor datang kembali dan bertanya pendapat mereka tentang wine hasil produksi mereka. Cheonsa menjelaskan posisi dirinya, sehingga mengerti tentang situasi bisnis yang dimaksudkan Cheonsa. Cheonsa menyukai wine-nya dan menginginkan jenis ini untuk diperkenalkan di tokonya kepada anggota club-nya.

Tiga puluh menit kemudian, Cheonsa dan Donghae duduk di sebuh teras terbuka di sekitar halaman belakang. Beberapa pasangan lain, menempati meja-meja yang tersedia di dekat mereka. Atmosfer terasa jauh lebih santai dan terbuka.

Donghae melepas kaca mata hitamnya, jas yang disampirkan di sisi kursinya serta dasi yang terpasng longgar di lehernya, terlihat sedikit lebih urakan dari pada pria-pria lain yang pernah berkencan dengan Cheonsa. Tapi Cheonsa tidak keberatan.

“Menurutmu direktur penjualan akan menghubungimu sebelum hari senin?” Tanya Donghae menanggapi penawaran kerja sama Cheonsa kepada atasan Eleanor tadi.

“Direktur penjualan akan menghubungiku sebelum kita pulang ke LA. Hari ini juga.”

Donghae menatapnya dengan tatapan meremehkan. “Percaya diri sekali. Coba kita lihat sepandai apa kau.”

Eleanor memebawa baki berisi enam sloki wine. “Saya bawakan masing-masing dari jenis wine cabernet kami. Sebagai bahan perbandingan. Ini adalah barrel dari wine vintage kami tahun lalu.” Eleanor meletakkan semua slokinya dengan apik. “Ada pertanyaan?”

“Tidak untuk saat ini. Terima kasih.” Ucap Cheonsa yang di bubuhi senyuman manis dirinya.

Saat Elenaor pergi meninggalkan mereka berdua, Donghae mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telingan Cheonsa. “Apakah semua itu ada pengaruhnya?”

“Kau tak bisa menyamakannya dengan minuman ringan biasa, Donghae. Setiap gelas wine adalah pengalaman tersendiri.” Kata Cheonsa mulai tidak sabar dengan tingkah Donghae yang seolah-oleh mengganggap wine sebagai minuman biasa. “Metode pendekatan wine sama dengan metode yang akan kau pakai dalam membangun hubungan yang baru.”

“Hubungan?”

Cheonsa meraih sloki wine cabernet-nya. “Kau mulai dengan memandang wine-nya. Itu adalah kesan pertama. Lalu kau lebih mendekatkan diri pada wine. Kau mencoba aromanya, jika kau suka, tubuhmu akan bereaksi secara otomatis. Kau membiarkan aromanya menggodamu, menarikmu. Kalau sudah begitu dekat, tapi belum sepenuhnya sampai. Mungkin menahan diri sebentar, menunda kepuasan akhir dari semua itu, membiarkannya lebih lama lagi. Dan akhirnya, ketika kau sampai pada saat kau tak bisa menunggu lagi, kau akan mencicipinya. Kau menyerah dengan kenikmatannya, aromanya dan kau akan mencicipinya lagi. Dan lagi. Sampai kau mulai merasa puas, merasakan menggelitik di tenggorokan bahkan ketika tetes terakhir habis. Lalu perlahan kau mulai melayang dan mendarat di awan yang nyaman.”

Cheonsa mencondongkan slokinya ke arah Donghae. “Begitulah seharusnya menikmati wine.”

Donghae mengambil slokinya, mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Cheonsa. “Baiklah Han. Demi kau, aku akan mencobanya.” Donghae memutar slokinya, membaui aromanya seperti seorang ahli wine,  dan kemudian meneguknya.

Donghae memejamkan matanya sejenak, mempertimbangkan sesuatu, lalu membuka matanya dan memicingkan matanya ke arah Cheonsa. “Ceri hitam…… dan licorice.”

“Aku tahu kau berbakat.”

Seorang wanita menghampiri meja mereka. “Cheonsa? Nama saya Lincoln, direktur penjualan. Eleanor bilang kau tertarik untuk memamerkan wine kami di club-mu. Biar saya ambil bolpoin dan kita akan membicarakan tentang rinciannya.”

Donghae menggelengkan kelapanya sambil tersenyum. “Hebat.”

Cheonsa tersenyum. “Ini pekerjaanku.”

* * *

Donghae menarik Cheonsa dalam pelukannya saat mereka memasuki bungalow. Ia menekuk kepalanya untuk mengecup Cheonsa. Cheonsa sudah melihat bagaimana cara Donghae menatapnya dalam perjalanan pulang. Sudah ia kira, Donghae banyak memikirkan hal lain daripada memikirkan pencicipan wine tadi.

Biasanya Cheonsa akan minum teh sambil menikmati matahari terbenam di teras. Dan ia tidak berniat melanggar kebiasaanya itu.

Donghae menyelipkan tangannya ke pinggang Cheonsa sambil mengecup lehernya. “Agenda apa berikutnya?”

Cheonsa memejamkan matanya dan berpikir ia akan dengan senang hati mengajak Donghae ke acara-acara pencicipan wine jika ini yang akan terjadi selanjutnya. “Sepertinya kita akan melakukannya sesederhana mungkin. Memesan layanan ke kamar, dan duduk di teras sambil menikmati teh kemudian makan malam.” Cheonsa tak ingin melewatkan kesempatan untuk makan malam di bawah bintang-bintang. Akhirnya, ada seseorang yang ia ajak ke Napa dan ia akan mewujudkan apa yang ia inginkan sebelumnya habis-habisan.

“Lakukanlah.” Donghae menggumam sambil menciumi leher Cheonsa. Tangannya menggapai ke bagian punggung dan dengan hati-hati menarik turun risliting gaun Cheonsa, terlihat jauh lebih sabar dari sebelumnya. “Layanan kamar membutuhkan waktu setidaknya satu jam. Kita masih punya banyak waktu sebelum makam malam.”

“Kurasa aku akan mandi dan bersantai.”

Tangan Donghae berhenti ketika risliting Cheonsa baru terbuka setengahnya. “Oh. Ide bagus.”

“Kau bisa ikut denganku.”

Donghae memiringkan kepalanya. “Aku bukan tipe pria yang akan melakukannya di kamar mandi.”

Cheonsa mengangkat bahunya tak peduli. Lee Donghae terlalu banyak aturan. “Terserah. Jika kau berubah pikiran, kau tahu harus mencariku kemana.” Cheonsa melepaskan diri dari pelukan Donghae dan berjalan menuju mini-bar.

Donghae mengikutinya dan bersandar di dinding, mengamati gadisnya sedang menuang isi botol yang baru saja ia bawa dari Barrasford ke dalam sloki. Cheonsa berjalan menuju kamar utama, bersenandung sambil mulai mengisi bed-tub. Ia menyimpan sloki-nya di atas marmer dan mengatur suhu serta menambahkan busa.

Setiap ruangan di bungalow terdapat jendela kaca besar. Ia bisa melihat Donghae sedang duduk di sofa sambil menonton pertandingan basket.

Cheonsa memutar bola matanya.

Donghae menoleh ke arah kamar utama dan mendapati Cheonsa sedang menatapnya. Cheonsa berbalik dan kembali sibuk dengan kegiatannya. Di depan jendela ia membuka pakaiannya. Kemudian berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benangpun pada tubuhnya kecuali sandal kain bermotif. Di dalam kamar mandi, ia mengeluarkan penjepit rambut dan menggulung rambutnya tinggi. Lalu ia masuk ke dalam bed-tub yang berisi air berbusa. Ia meraih sloki wine-nya dan menyandarkan kepalanya ke sisi marmer. Dalam hati, ia menghitung sampai sepuluh.

Dan berhenti di hitungan ke enam.

“Kau tidak bilang kalau akan ada busa.” Darpi pintu, Donghae cemberut melihat gumpalan busa yang menutupi seluruh permukaan bed-tub.

Cheonsa mencoba untuk tak terlihat senang. “Agen Lee Donghae, berubah pikiran tentang mandi?”

“Aku sedang mempertimbangkannya.” Dengan tatapan yang terkunci pada Cheonsa, ia melangkah masuk. Membawa botol wine yang terbuka dan sebuah sloki di tangan lainnya.

Tanpa sepatah katapun Donghae mengeluarkan pistol dan menaruhnya di meja rias di sudut kamar mandi.

“Sepertinya ada yang mencoba mengambil alih situasi dengan memikat lewat permainan mandi busa.” Ujar Donghae sambil melucuti pakaiannya.

Cheonsa meminum wine-nya lagi, mulutnya terasa kering saat Donghae ikut masuk ke dalam bed-tub. Donghae menarik Cheonsa hingga kini Cheonsa berada di pangkuannya, berhadapan di atas tubuhnya.

“Jadi begini caramu mengambil alih kendali?” Cheonsa menggoda.

Donghae membungkam mulut Cheonsa dengan ciuman yang membuat kaca kamar mandi beruap. Saat bibir mereka bergerak dengan irama yang lamban.

* * *

Donghae berbaring di sebelah Cheonsa, mendengarkan alunan napas Cheonsa yang lembut. Setelah menghabiskan sebagian besar sore di kilang wine Kuleto, pencicipan yang dihadiri Cheonsa bersamanya hari ini, mereka kembali ke bungalow dan mencoba pancuran terbuka. Untuk makan malam, mereka pergi ke restaurant dengan gaya northwestern pacific di tepi danau menghadap pepohonan pinus yang tinggi di pegunungan. Mereka duduk di dek dan mengobrol sambil menyaksikan matahari terbenam. Mereka berbicara banyak hal, keluarganya, keluarga Cheonsa dan lainnya.

Ada satu topik yang belum mereka bahas. Topik tentang mereka berdua.

Akhir pekan akan berakhir, mereka akan meninggalkan pedesaan Napa besok pagi dengan penerbangan dari San Francisco di sore hari. Kembali ke Los Angeles, lalu kemudian mereka tak tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Bagi seorang pria yang biasa berhubungan dengan gadis hanya karena sebuah tugas penyamaran, situasi seperti ini membuat posisinya sulit. Biasanya ia tak harus pusing memikirkan langkah selanjutnya dalam hubungannya, semua sudah di atur. Tapi kemudian Han Cheonsa masuk ke ranah pribadinya dan ia sekarang berada di sini, menatapnya, melihatnya tidur.

Donghae adalah orang yang rasional dan logis, dan kenyataan itu yang membuatnya merasa bingung. Pertama, ia mengenal Cheonsa baru tiga minggu dalam sebuah situasi mendesak. Dan mereka resmi bersama hanya dalam empat puluh delapan jam terakhir. Kedua, membuat langkah selanjutnya dengan Cheonsa di dalamnya berarti hanya ada dua pilihan; mereka akan berpisah dan berpisah lagi selama Donghae ada dalam penugasan atau ia harus merubah haluan karirnya.

Fakta bahwa ia bahkan memikirkan hal sejauh itu membuatnya gila. Tak akan ada orang yang akan memilih dari dua pilihan itu hanya karena telah berkencan dengan seorang gadis dalam empat puluh delapan jam.

Alternatif lainnya adalah berpisah dari Cheonsa sesegera mungkin setelah kasus Kim Jejoong berakhir. Dan itu rasanya…… salah. Ia menikmati bagaimana Cheonsa terbaring di sampingnya, dan ia terbiasa melihatnya seperti itu. Dan ingin lebih sering melihatnya seperti itu.

Dengan kata lain, ia menginginkan segalanya   ̶dan itu tidak mungkin. Ia harus memustuskan.

Ada satu hal yang membutnya semakin sulit dalam mengambil keputusan; ia sama sekali tak tahu apa yang ada di pikiran Cheonsa. Ia tahu Cheonsa menyukainya, tapi Cheonsa tak pernah menyinggung hal yang akan terjadi sepulangnya mereka ke LA nanti. Atau mungkin Cheonsa sama bingungnya dengan Donghae.

Donghae selalu blak-blakan dengan wanita. Tapi pembicaraan ini, dengan gadis yang satu ini, membuatnya gelisah. Ada sebagian dirinya, yang ingin menanyakan kepada Cheonsa pertanyaan yang selalu ia hindari, ia ingin mendengar Cheonsa mengatakan hal-hal yang wanita-wanita sebelumnya belum pernah katakan  ̶karena itu aturannya. Hal-hal seperti, akhir pekan ini jauh lebih berarti dari sekedar akhir pekan biasa.

Cheonsa begerak dan merenggangkan diri dalam tidurnya. berguling mendekat, mencoba mendorong Donghae dari tempat tidur. Donghae tersenyum sambil tetap mempertahankan wilayahnya. Bahkan dalam tidurpun ia mencoba mengambil alih kendali.

Cheonsa gadis yang berbeda, ia cerdas, cantik dan sukses. Gadis terhebat yang pernah Donghae temui. Dengan segala yang Cheosna miliki, sulit mengira bahwa ia kekurangan atau membutuhkan apapun. Donghae tak ingin mengubah kemandirian Cheonsa, meskipun sisi manusia purba dan kelaki-lakiannya muncul untuk mengetahui bahwa Cheonsa membutuhkan dirinya.

Donghae bersedia pergi bersamanya ke Napa Valley, bersedia meskipun setengah rela menghadiri pencicipan wine.

Jadi, menurut pendapat Donghae, langkah selanjutnya ada di pihak Cheonsa. Memang, Cheonsa telah membawanya ke Napa bahkan behubungan intim dengan dirinya, tapi mungkin memang seperti itulah cara para gadis milyuner bertingkah. Jadi, sebelum Donghae menunjukkan perasaanya lebih jauh dan memikirkan keputusan karir, ia menginginkan sesuatu yang lebih dari Cheonsa.

Ia sendiri heran dengan dirinya sendiri, baru kali ini ia benar-benar ingin membahas tentang perasaan, tapi ia tak mau menjadi orang yang memulai pembicaraan itu. Dan ia merasa, pria harus memiliki harga diri.

Tapi bukan berarti ia tak mau menunjukkan perasaanya kepada Cheonsa.

Donghae menatap tubuh Cheonsa, mengamati tank-top dan hot-pants yang ia kenakan untuk tidur. Donghae bergeser dan menyelipkan kakinya di antara kaki Cheonsa. Ia mengecup leher dan tulang selangka Cheonsa untuk membangunkannya. Cheonsa mendesah dan membuka matanya kemudian tersenyum saat melihat Donghae.

Donghae mengusap pipi Cheonsa dengan ibu jarinya, senyuman Cheonsa selalu membuatnya terpikat.

“Hey.”

“Aku bermimpi tentangmu.” Cheonsa memeluk Donghae erat, menariknya lebih dekat. “Tapi memelukmu saat ini lebih nyaman dari pada di mimpi itu.”

Harga diri atau bukan, jika ia adalah pria yang sensitif, ia tahu bahsa saat itu juga ia akan luluh dan jatuh terjerembab dalam pesona Han Cheonsa.

* * *

Saat Chensa dan Donghae tengah mengepak barang-barang mereka, telepon genggam Donghae berdering. Nada dering khusus untuk bosnya. Donghae sudah mengira cepat atau lambat ini akan terjadi. Bahkan dirinya sudah menunggu panggilan ini.

“Apa kabarmu, boss?” Donghae menjawab sambil melangkah keluar, melangkah menuju teras.

“Apa yang kau lakukan di Napa Valley?” Park Jung Soo to the point.

“Park Donghae berpikir untuk berlibur. Saham properti sedang baik minggu ini.”

“Tak usah membuai tentang Park Donghae itu.” Jung Soo memperingatkan. “Perlukah aku ingatkan kau sedang dalam penugasan?”

“Penugasan menjadi kekasih Han Cheonsa. Jadi apa yang salah jika aku berada di Napa Valley sekarang. Aku dan Kyuhyun tetap memantau perkembangan Kim Jaejoong. Tidak ada pergerakan sama sekali. Ia akan bertemu orang suruhan Deep selasa pagi, saat itulah kita akan meringkusnya. Aku akan kembali ke LA jauh sebelum hari itu tiba.”

Jung Soo menggerutu. “Kau selalu punya alasan.”

“Aku anggap itu sebagai pujian, boss.”

“Aku ingin kau mengingat bahwa kau adalah Agent-Khusus FBI.”

“Aku tidak pernah melupakannya.” Tukas Donghae tajam.

Jung Soo terdiam, terkejut dengan nada bicara Donghae. Ia berbicara kembali dengan hati-hati. “Kurasa semuanya masih terkendali. Kau boleh menikmati waktu santaimu.”

“Terima kasih. Kau tak akan menceramahiku bukan?”

Jung Soo tertawa. “Tidak ada. Hanya satu pertanyaan, geng motor atau insider trading?”

“Umumnya aku tak suka keduanya.”

“Bagus. Sebab salah satunya akan menjadi agenda penugasan selanjutnya. Mungkin kau mau menjadi insider trading, dengan gaya hidup nyaman dan mewah. Kau akan menjadi penguasa saham, mungkin kantor pusat akan memberimu hal yang lebih baik dari pada Lexus. Tapi Agen Jung Yunho bersedia mengajarkanmu mengendarai motor besar jika kau memilih geng motor.”

Donghae tahu ada nada candaan atasannya itu, tapi ia memilih untuk bungkam. Penugasan baru. Sangat cepat.

“Kau di sana Donghae?”

“Tapi percakapan ini terlalu dini. Aku belum menyelesaikan kasus Kim Jaejoong.”

“Menurut Kyuhyun, kalian hampir selesai. Berakhir selasa pagi ketika Kim Jaejoong bertemu dengan suruhan Deep. Kau ragu?”

Donghae menghela napasnya berat. “Bukan.”

“Bagus. Kita sudah memiliki banyak bukti hasil penyadapan tiga minggu belakangan. Makin cepat kita semua menyelesaikan semua ini, itu makin baik.” Kata Jung Soo. “Aku tahu kau ingin berlibur ke Korea, setelah kau mengunjungi ibumu, kita akan lakukan penugasan berikutnya.”

Donghae tersadar, inilah pekerjaannya. Begitulah caranya melaksanakan pekerjaan yang ia mulai beberapa tahun lalu. Menyamar dari satu tugas ke tugas berikutnya. Dan ia tak pernah keberatan akan hal itu. Hanya saja sekarang….

Ia memandang Cheonsa dari jendela kaca besar di sisi dinding teras. Berdiri di samping tempat tidur, melipat gaun putih dan menyimpannya ke koper.

Mau atau tidak mau, inilah saatnya ia mengambil keputusan.

* * *

Cheonsa merasa gugup. Perutnya mulai terasa mual. Donghae bertingkah aneh setelah menerima telefon. Cheonsa tahu ada seuatu yang terjadi. Raut muka Donghae memang manampakkan bahwa semuanya baik-baik saja sepanjang perjalanan dari Napa ke bandara, bahkan selama di pesawat Donghae bersikap sangat santai. Tapi Cheonsa tahu, ada sesuatu di balik mata indah Donghae tiap kali mereka bertatapan.

Sesampainya di rumah pribadi Cheonsa, Donghae meninggalkan kopernya di depan pintu dan membawa koper Cheonsa ke kamarnya di lantai dua. Cheonsa menunggu di depan min-bar dekat dapur, memandangi koper Donghae yang berada di depan pintu dan raut wajahnya berubah khawatir saat memikirkan arti dari tindakan Donghae. Donghae tak memberikan penjelasan apapun, jadi Cheonsa terus mengembangkan asumsinya tentang situasi ini. Berpikir bahwa tampaknya Donghae tak berniat untuk tinggal lebih lama dengannya. Setidaknya untuk malam ini.

Suasana hatinya semakin memburuk, firasatnya mengatakan bahwa ini  benar-benar buruk. Ia meminta Donghae menemaninya selama akhir pekan, dan kini akhir pekan telah usai.

Cheonsa mendengar Donghae menuruni tangga. Ia mempersiapkan diri, ia yakin Donghae menyukainya dan mereka baru saja melewatkan akhir pekan yang indah. Tidak ada alasan untuk khawatir.

Cheonsa tersenyum saat Donghae menghampirinya. “Terima kasih.” Kata Cheonsa ketika Donghae berhenti di hadapannya.

“Ada berapa botol wine  yang kau taruh di kopermu?” tanya Donghae dengan nada ceria.

“Sebenanrnya isinya hanya gaun dan sepatu.” Kata Cheonsa santai. “Adakah hal yang ingin kau bicarakan tentang topik yang seharian ini kau hindari?”

Sambil menyandarkan tubuhnya pada mini-bar, Donghae mengangguk. “Maaf. Aku sedang memikirkan banyak hal.” Donghae menghela napas panjang, ia terdiam seakan bingung harus bagaimana menyampaikannya. “Telefon tadi dari boss-ku. Kami membicarakan penugasan baruku.”

Cheonsa terkejut. Jantungnya berpacu dengan cepat. “Penugasan berikutnya? Tapi kasus ini bahkan belum selesai.”

“Kim Jaejoong berencana menemui orang suruhan Deep pada selasa pagi.” Donghae menghela napas sebelum melanjutnya perkataanya. “Kurasa kita bisa menyelesaikan semuanya setelah itu.”

Hati Cheonsa terhenyak. Terkejut. Cheonsa pun tahu bahwa akhir penugasan ini semakin dekat, tapi ia tak menyangka akan secepat ini. “Kapan kau akan memulai penugasan barumu? Mungkin sebaikanya kau berlibur dulu.”

Donghae menggeleng. “Aku tidak punya banyak waktu. Aku akan pergi ke Korea dan mengunjungi ibuku selama beberapa hari, lalu setelah aku kembali boss-ku ingin aku bersiap untuk penugasan berikutnya.”

Bagaimana tentang kita?

Cheonsa mendengar penjelasan Donghae tepat sebelum Cheonsa mengucapkan kata-kata itu. Ekspresi Donghae tak terbaca. Mungkin ia tak berlebihan tentang spekulasinya terhadapa koper Donghae di depan pintu. Mungkin, walaupun sudah terucap kata-kata manis, percintaan yang fantastis, Cheonsa telah salah menilai tentang akhir pekan bersama Donghae sebagai akhir pekan yang sempurna.

Dengan kata lain, ia baru saja berubah menjadi Cinderella. Berpesta bersama seorang pangeran yang tampan, tapi kemudian lonceng berbunyi menandakan waktunya berakhir dan semuanya akan kembali seperti semula. Perbedaanya adalah jika Cinderella akan dipertemukan kembali dengan sang pangeran dan hidup bahagia selamanya, maka harapan itu bagi Cheonsa adalah terlarang. Setelah kasus ini berakhir, Donghae tidak akan pernah kembali padanya. Kerena begitulah cara FBI bekerja.

Kisahnya dengan Donghae hanya akan menjadi lembaran arsip laporan penyidikan dan akan bertumpuk bersama arsip-arsip lain di lemari kantor pusat FBI. Tragis.

Donghae tidak pernah mengucapkan janji manis apapun selama bersamanya. Bahkan, Donghae tidak pernah membahas apapun tentang kelanjutan setelah kembalinya mereka ke LA. Menurut Cheonsa, dirinyalah yang berinisiatif untuk mengajak Donghae ke Napa Valley, berarti langkah selanjutnya ada di Donghae.

Dan tampaknya sekarang adalah langkah yang sedang dibuat Donghae. Melangkah mundur. Keluar dari kehidupan Cheonsa.

Tapi, Cheonsa tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan bersikap tetap tenang dan santai. Bersiap mendengar apapun yang akan diucapkan Donghae. Jika Donghae mau bicara.

“Penugasan macam apa?” tanyanya dengan nada santai. Cheonsaberhasil menguasai diri sendiri.

Donghae bergerak gelisah, ia mengusap tengkuknya. Bukan pertanda baik.

“Aku boleh memilih geng motor atau bisnis perdagangan.”

Atau kau bisa untuk tidak memilih. Kata Cheonsa dalam hati.

“Jadi bagaimana dengan kita?” persetan dengan harga dirinya. Cheonsa mencoba untuk menjangkau pikiran Donghae.

Betapa inginnya Cheonsa menguasai ilmu introgasi yang dimiliki Donghae. Donghae bersikap sangat hati-hati.

Cheonsa mendesak. Ia sudah membuat semuanya lebih mudah untuk Donghae, ia sudah memulainya. “Akhir minggu ini sangat menyenangkan.” Ia diam sejenak, menunggu respon dari Donghae.

Tolong katakan sesuatu. ‘buatku juga dan aku ingin semuanya berlanjut.’ Kata-kata semacam itu. Atau apapun.

Cheonsa menatapnya sambil menunggu, mengunci Donghae dengan binar matanya. Detik itu, waktu berputar sangat lama untuk mereka berdua. Tanpa bicara.

Lalu ekspresi yang aneh terlukis di wajah Donghae. Pasrah. Dan akhirnya ia mengucapkan sesuatu. Kata yang sama sekali tidak ingin Cheonsa dengar.

Donghae berbicara dengan nada yang datar. Tatapan matanya dingin. Mungkin, ia tengah membangun sebuah benteng yang tak akan bisa di hancurkan Cheonsa. Tau mau dirinya luluh. “Tapi kita tahu itu hanya akhir pekan biasa.”

Sakit. Sesuatu tengah menyayatnya. Menjatuhkannya hingga ke dasar terendah sebuah kesakitan. Tapi bagitu tidak.

Cheonsa memasang ekspresi tegar. Ia sudah mahir berbohong akhir-akhir ini. “Kau pernah bilang bahwa perkerjaanmu membuat semuanya menjadi sulit. Kurasa inilah bagian tersulit.”

Cheonsa punya harga diri. Donghae pernah berkata bahwa ia adalah wanita dewasa. Jadi Cheonsa tidak akan berteriak, menangis atau marah-marah. Ia pun tak akan meminta Donghae untuk tetap bersamanya. Donghae akan pergi.

Mata Cheonsa memanas memikirkan hal itu, ia merasa sesuatu yang besar ada di tenggorokannya.

Cheonsa ingin Donghae pergi sekarang.

“Kita sudah dewasa, Donghae. Tak perlu pembicaraan yang bertele-tele. Kita menghabiskan akhir pekan bersama, dan sekarang kita harus pergi ke duania nyata. Kau punya pekerjaanmu dan segala tentang aturannya.”

Donghae mendekat. “Jadi begitu saja?”

Cheonsa berharap Donghae ingin untuk tetap tinggal bersamanya. Setidaknya untuk malam ini. Tapi setiap detik yang akan mereka habiskan hanya akan mempersulit semuanya.

“Kurasa sebaiknya kita berpisah baik-baik. Mengingat akan ada beberapa hal yang tak bisa terhindarkan.”

“Hal yang tak bisa terhindarkan.” Donghae berdiri tegak, ia melipat tangnnya di depan dada.”Aku tak mengira pembicaraan kita akan mengarah pada hal ini.”

Cheonsa memiringkan kepalanya. “Lalu, apa ada pilihan lain?” Cheonsa menjaga dirinya untuk tidak kesal. Katakan kau tak ingin pergi.

Donghae menatapnya lama. Berusaha mencari sesuatu dalam manik mata Cheonsa. “Kurasa tak ada.”

Tak ada tanggapan. Yang ada hanya kesunyian.

“Mungkin lebih baik kau pergi sekarang.” Cheonsa telah menikam hatinya sendiri dengan berkata demikian. Ia mencoba menatap Donghae dengan tatapan tegar kemudian mengalihkan pandangannya, takut Donghae bisa membaca ekspresinya.

Dongahe mengangguk. “Baik.” Donghae berjalan menuju pintu depan, berhenti sejenak lalu berbalik. “Haruskah aku menelfonmu pada hari selasa untuk memberitahu tentang penangkapan Kim Jaejoong?”

“Jika kau tak berkeberatan.” Cheonsa berjalan mendekatinya, memperhatikan Donghae meraih kopernya. Rekaman adegan Donghae meninggalkan rumahnya akan terpatri dalam ingatannya dalam jangka waktu yang lama.

Tapi sekarang, ia akan berusaha tegar. Setidaknya sampai Donghae keluar dari pintu.

Donghae menahan tangannya di pegangan pintu, menoleh untuk terakhir kalinya. Cheonsa tersentak dengan tindakan Donghae yang tiba-tiba itu.

“Terima kasih untuk akhir pekannya, Han.” Katanya dengan rahang mengatup. Ia memegang pegangan pintu, menariknya hingga terbuka kemudian keluar dalam diam.

Cheonsa berdiri membeku di tengah rumahnya, menatap pintu dengan bingung. Entah apa yang baru saja terjadi.

“Aku baik-baik saja.” Ucap Cheonsa meyakinkan diri sendiri.

Cheonsa menggelengkan kepala. Sesuatu mencakar hatinya. Rasa sakit yang tak terelakkan. Penderitaan merobek hatinya. Sakit.

Cheonsa bergegas menaiki tangga. Masuk ke kamarnya, menutup dan mengunci pintu kemudian berlari ke arah tempat tidur.

Semuanya tampak berputar dalam memorinya. Ia memjamkan matanya seolah berharap bahwa semuanya akan kembali seperti semula. Ia membuka matanya perlahan. Kosong. Hatinya kosong.

Cheonsa membuka laci di lemari pakaiannya, mencari sesuatu dengan tergesa-gesa. Obat tidur. Ia membuka penutup botol itu dan menumpahkan isinya di telapak tangan, memasukkan entah berapa banyak pil ke dalam mulutnya. Ia mengambil gelas air putih di sisi tempat tidur, mengangkatnya dengan tangan gemetar.

Ini akan menjadi seolah-olah dia tidak pernah ada, aku bersumpah.

Selang beberapa menit, obat tidur itu bereaksi. Kepalanya mulai terasa berat. Cheonsa merasakan lantai marmer yang halus di lututnya, lalu telapak tangannya, dan kemudian marmer itu menempel di kulit pipinya.

Cheonsa Side

Aku berharap bahwa aku pingsan, kehilangan kesadaranku. Menghilangkan kekecewaan dan segala perasaanku terhadap Lee Donghae. Gelombang rasa sakit yang

tersusun pada setiap bayangan dirinya terasa membakar kepalaku.

Aku harap kau tidak pernah muncul kembali.

 

 

 

-WE NEED SEQUEL FOR PLEASE-

 

Zum geburtstag viel Glück .. Zum geburtstag viel Glück .. Zum geburtstag liebe Sonia .. Zum geburtstag viel Glück !!!

Selamat ulang tahun Sonia atau Han Cheonsa atau siapapun yang ulang tahun !!!

Semoga panjang umur, panjang akal, panjang rezeki dan panjang lainnya beserta anak dan cucunya.

Jika anda waras, abaikan komentar di atas.

Sekian, terima kasih.

Liebe Grüße,

Garit

 

***

 

 

 

IJaggys Speaking: nah we’re gathering arround for reading the first winner! Congratulation for gengie who takes my heart all over the skinship scene LOL LOL LOL the reason is always be the strongest reason why i decided to choose this never-last-ending story :p first karna Garit adalah author favorite aku, she was the one who wrote Gossip Girl story and treated me until 12 chapters and still going on hahaha alasan kedua, I LOVE EVERYTHING about western. Ga bosen-bosenya aku baca cerita ini dari pertama kali ff ini masuk email aku.

 

Ya, ya, ya here we go again, mungkin karena adegan skinship disini paling menonjol di mana di ekspos jelas kalau LDH dan HCS itu gila sama yang namanya buat-dede-bayi-bersama-fucking-early . Tapi kalo di pikir-pikir lagi how come i’ve been so dirty-minded lately, bukan karena skinship juga aku pilih ini sebagai the winner. Tapi aku emang suka gaya nulis garit yang sedikit confuse buat aku harus bener-bener keep an eye for eye di setiap cerita yang dia buat, ampe akhirnya aku bilang “I should probably writing some stories like she did.” Hahahaha well if you ever read Davinci’s code book di sanalah kalian bisa melihat jelas bahwa cerita itu gabisa Cuma di baca selewat tapi bener-bener di baca ampe otak kita nyambung, dan begitu juga dengan cerita ini dan cerita Gossip Girl. Cant stop saying how much i loved this story xD

 

It will never be the last for me if we are talking about this story and skinship and how much i wanted this story having more sequel for read (i’m not kidding gengie :P) Dan setelah ini, mungkin tomorrow atau besoknya lagi aku bakal bawa pengunguman juara ff terfavorit pilihan aku xD and for gengie worth limited cd are coming to your dorm😀

 

And last!

It really will!

Comment!

God blessed you with ice cream maker wolfs!😀

 

 

 

LOVE IT. MEAN IT.

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

26 responses »

  1. Lil bit confusing at first. Agent world??? haaakh..
    But no matter the story line is, still addicted with Han Cheonsa life.🙂
    Terrible and cruel.🙂

    • IJaggys says:

      like what i said before it was exciting for reading after all aw yeah i’m kind of addicted with HCS story life too.

      and somehow it makes us alive for seing the crowd and mess of Cheonsa’s life

      thankyou for comment😀

  2. gaemhee says:

    Hyaa congrats!! Bener bener pantes kalo jadi 1st winner. Suka sama jalan ceritanya,yang gantung gantung ini nih yang bikin penasaran sama sibuk ngayalin endingnya sensiri kkk. Woaa blajr banyak deh dari ff ini, sekueeelll *peace

    • IJaggys says:

      NAH GINGIE SHOULD READ THIS AFTER ALL WE NEED THE SEQUEL OH MY BABY BABY! LOL sorry capslocking you on😛

      agree! endingnya kita harus belajar banyak buat ngehayal sendiri xDDD

  3. inggarkichulsung says:

    Hiks Hiks Donghae oppa and Cheonsa nya di cerita ini tdk bs bersatu, karena kondisi dan tuntutan pekerjaan Donghae oppa sbg agen FBI.. Padahal tadi sempat romantis dan mereka berdua saling mencinta sebetulnya.. Waw koc Cheonsa nya minum obat tidur banyak banget, nanti bs kenapa2.. Donghae oppa balik donk lihat keadaan Cheonsa di kamar, kalau Cheonsa nya pingsan terlalu lama krn obat tidur tambah gawat nanti, please selamatkan Cheonsa.. Walaupun Cheonsa nya jadi sedih di akhir cerita but good story, penggambaran yg berbeda dr karakter dan keromantisan Donghae oppa n Cheonsa couple…

  4. hyuna says:

    hahahaha soooooo speahless!!! i cant say or coment haha😄
    about skinshipny haha emg lbih wow dr yg 2nd winner tpi klo dr tta bahasa *ketauan lola* lol n jlan ceritany lbih dpt yg 2nd winner hahaha

    knp mesti gantung!!!! lgi seru2ny tiba2 abs gtu aj brsa lgi mimpi tpi tiba2 kbangun n jatoh dr tmpat tidur *gubrraaakkkk* haha
    bener deeh asli g tau mau komen apa hahaha😄

  5. Na says:

    bener kata lu son, otak gue belum nyambung nih. bahasanya berat. jd blm ngeh ._. *efekbacatengahmalem*

    itu ending.a gantung banget..hcs jadi mati apa nggk.. wkwk
    galau yee ditinggal ikan amis. gamau sakit hati, jd deh minum pil pil cinua!😄

    kyuhyun disini masih taraf aman pemirsah..gadi “apa-apain” sm hcs. Cukup donge aja yg kotor! *plak xD

    kisah cinta akhir pekan yg sangat tragis. Ikut mirip ya gue son buta lu u,u /digiles/
    nyahahahahaha xDDDD

    ps: gossip girl ditunggu!!!!

  6. BaboHae says:

    selamat yg jdi juara 1
    ceritanya emg bagus tp sempet bingung di awal2 gt =,=

    astaga disini skinshipnya banyak bgt
    kurang frontal ah wkwk
    harusnya sonia bener2 mesti buka kontes ff nc buat hcs-ldh
    mrka trlalu cocok buat dinistakan :p

    suka bgt sama penjelasan ttg wine2 itu deh
    gara2 penjelasannya ldh smpe mau minum kan
    ah……endingnya gantung
    ldh ga gentle bgt sih
    masa pergi gt aja pdhl hcs udah mancing2 tu
    hcs galau sampe minum obat sebanyak itu
    itu hcs mati apa gak?
    NEED SEQUEL!!!!!

  7. Arinee says:

    First thing when i see a comment box…”should i write a comment?”
    i just realized that im super stupid,super kolot,super gaptek about western things. Omaigat the skinship is damn absurd.
    However,love the story as well🙂

  8. Jadi banyak yang ngga ngerti yaa ceritanya?

  9. micochanlof says:

    WE NEED SEQUEL…
    PLEAAASSEEEEEE
    Ahh, masa segitu doank. Gantung amat -_- masa gak jelas status mereka.
    Tega amat si Donghae lgsg maen pergi, si Han juga maen minum obat segitunya.

    Haduuu, si Heechul cuman numpang lewat nama doank. Itupun kena tikam di penjara hufttt… (_ _’)

    Setuju ma lu Son, paling suka yg adegan2 skinship😄 apalagi qlo yg maen Donghae akakakaa… *mule ngebayang yg iya iya*
    Dan tumben2an si Cheonsa rada jinak yah disini. Tapi tetap dengan status sosialita diatas rata2, kayakx tuh harga pas y buat karakter Han di ff =D

    Selamat yah buat yang menang, kan hadiah lumayan tuh? Tak apalah ff ini dibuat sequelnya ya ya yaaaa… *kelilipan*

    • iullicious says:

      RETWEEEEET

      NEED ANOTHER STORIES…

      well-writ
      im so in love wif this kind of style
      translated novel-style

      ~~~~~(^www^)~~~~~~
      what should i say, what should i say… >www-<

  10. Kaoru Akari says:

    Keren abis!
    Baca fanfiction serasa baca novel.
    Kyaa, saya tagih juga sequelnya.
    Ga puas masa akhirnya cuma kayak gtu.

    Walaupun belum baca yang lainnya, tapi ini cocok bgt jd juara pertama.
    Pengen baca ff2 lain yg dibuat authornya.

  11. Suka banget ama storynya… kek liat film holywood yang lg maen di otak gw. Donghae.. lu pendek tp bisa jd agen FBI?! Dan.. kenapa wanita sekelas Cheonsa bisa terperangkap cinta lo??? Bener-bener yak, Donghae it, si pendek yang mempesonah:D

    • siwon's wife says:

      diantara semua comment, nih comment yg paling bikin saya ngakak permisah😄
      donghae itu “ikan pendek yang sangat menawan dengan wajah yang rupawan” kekeke😄

  12. siwon's wife says:

    cuma satu kata dengan intonasi 5 oktaf(?) untuk mewakili comment dariku yaitu “kereeeeeeeeeeen”
    but I REALLY NEED SEQUEL!!
    sequelnya di tunggu yaaa😉

  13. kimchi.dee says:

    it’s freaking genius. Sepertinya cuma itu yang terpikir di kepalaku selama aku baca fiksi ini dari atas sampe bawah..
    Aku selalu tertarik dengan dunia wine, I’ve been wiki-ing, googling and reading some fictions about wine to stuff my head about this one classy ‘beverage’, dan ketika aku ngeliat judulnya di library, I was like, “oke, let’s try this one” yang ternyata bikin aku nggak berhenti ber ‘whoa’ dan ‘fuckin’ shit’ selama baca. Ide cerita, bahasa, kompleksitas plot sampe ke premis yang Garit bangun cukup sempurna, but as for me, I don’t need any sequel, seperti yang Jaggys pernah bilang juga .. some things are better to be left unsaid.
    Gimana kelanjutan kisahnya Donghae-Cheonsa, dan apapun yang kemudian terjadi sama Cheonsa setelah akhir cerita ini, biar kepalaku sendiri aja yang menyelesaikannya, hehehehe.. Congraturation for winning the contest!😀

  14. hyunsoo28 says:

    and this is the end.??
    oh my god, damn I love it so much…
    tell me how can?? describe very detail until the little things who usually I never care about it..
    honestly I love the skinship too hahaha, its not vulgar, u describe it very nice, thanks for an amazing story

  15. babydino says:

    wow !!!!

  16. karim says:

    Ijaggys,, ni cerita kece badaiii
    dan cukup ini saja, ga butuh sequel… biarkan imaginasi kita aja yg melanglang buana nerusin kisah HCS sama DH mau dibawa kmana
    worry sequelnya bakal ngrubah rasa nyeseg & dag dig dug pas baca ni cerita pertama kali

    How great,, she can make simple story about a sweet brief encounter into painful separation
    I like details that she describe, and many new things I learned from it
    Thanks^^

    skinsip nya oyeeyyyy😀

  17. umi_ali says:

    Great job….
    Congrat, you deserve for it
    Justru dgn ending yg ‘beda’, semakin nunjukin bahwa cerita ini ngak sama ma yg ada….
    Lanjutin bakatmu! Love your work…

  18. Elfatu says:

    Cheonsa kasihan…

  19. Han Maeri says:

    Hiiiiiii!!! ^^
    Ini cerita berkelas yang pernah aku baca di dunia per-FF-an. AWESOME!

    Thank you, Garit…thank you, Sonia..I’m a new comer in your cool blog😀

  20. avitagayatri says:

    Kerennnn.. I like it

  21. fsshy says:

    Aaaa, knp ngegantung? Gada lanjutanny kah? Keren pdhal. Smga ada lanjutannya. Gatau mau ngoment apa, cuman rada bingung baca diawal. Tapi ini bner bner keren, bagus critanya

  22. fsshy says:

    Aaaa, knp ngegantung? Gada lanjutanny kah? Keren pdhal. Smga ada lanjutannya. Gatau mau ngoment apa, cuman rada bingung baca diawal. Tapi ini bner bner keren, bagus critanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s