Title : Guardian Cheonsa

Author : Karina Citra Ayu (Orenji Lee)

Main Cast ; Han Cheonsa, Lee Donghae, Kris Wu (EXO-M)

Genre : Unseen people, Romance, Lil bit Comed.

GUARDIANCHEONSA

a story about two perfect guardians and one naughty angel..

 

 

 

 

 

 CHAPTER I

Past Guardian..

 

“ Han Cheonsa! Kau harus memilih salah satu dari mereka! Namja yang paling ingin kau selamatkan!” kata makhluk bertudung hitam compang-camping yang mirip dementor dalam film Harry Potter itu menggeram, suaranya terlampau parau. membuat Cheonsa bergidik ngeri karena makhluk tak berwajah itu mengacungkan ke arahnya sebuah senjata tongkat sabit yang berkilauan, nampak sangat tajam.

shireo! Keduanya begitu penting untukku.. Kris dan Hae-jussi keduanya begitu berharga!kenapa aku harus memilih.. aku menginginkan keduanya!kenapa a-aku harus memilih!” yeoja itu kini sudah beuraian air mata melihat kedua namja dihadapannya yang seolah di bungkam dan diikat oleh kekuatan magis makhluk itu karena mereka tak bisa bergerak dan mengeluarkan suara sedikitpun. Bibir mereka terkatup rapat, kaki mereka seperti dipaku ke tanah di area bibir tebing yang jika selangkah saja mereka mundur, mereka akan langsung terjun ke dalam laut di bawahnya yang dihiasi dengan karang-karang tajam. Walau begitu mereka berdua terlihat sekuat tenaga meronta.

“karena salah satu dari mereka akan menjadi masa depanmu dan kau tak boleh salah pilih.. salah satu atau keduanya tidak sama sekali!”

“jangan paksa aku untuk memilih!aku menyayangi keduanya.. Kris, cinta pertamaku dan Hae-Jussi.. aku tak pernah berpisah dengannya seumur hidupku!”

“argghhhhh! Kau tak akan pernah bisa membuat kesepakatan dengan setan sepertiku! Kau akan menanggung akibatnya karena terlalu lama membuang waktuku!”

Klik

Makhluk itu menjentikkan jarinya, dan seketika tanah tempat Kris dan Donghae berdiri tiba-tiba retak dan longsor, membuat kedua namja itu jatuh ke bawah laut.

andwaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!”

“kau sudah membuat pilihanmu sendiri.. salah satu atau keduanya tidak sama sekali!”

Makhluk itu tertawa senang sebelum akhirnya menghilang. Cheonsa melongok ke arah laut yang sudah menelan tubuh Donghae dan Kris. Laut yang tadinya berwarna biru cerah tiba-tiba berganti memerah sewarna darah.

Yeoja itu jatuh lemas dalam posisi bersimpuh di bibir tebing, menangisi penyesalannya. Ia sudah kehilangan semuanya.

“kajima! Hae-Jussi! Kris!”

 

***

Han Cheonsa’s side

 

“kajima! Hae-Jussi! Kris!”

“hey..hey..! ireona!

Kurasakan ada yang mengguncang-guncangkan tubuhku.  Aku pun segera membuka mataku. Syukurlah ternyata tadi sepertinya hanya mimpi buruk.

“Hae-Jussi… gomawo..”

Seorang namja yang lebih tua 7 tahun dariku itu mendudukkanku dan menghapus keringat yang memenuhi wajahku dengan belaian tangannya yang terasa dingin..

“kau mimpi buruk atau sedang mandi sih?” dia mengeluarkan senyumnya yang selalu dihiasi lesung pipi di samping bibirnya itu.

“Hae-Jussi..  mimpi ini benar-benar buruk.. aku bermimpi kalau aku, kau dan Kris itu se…”

“stop!” kata Hae-Jussi sambil menempelkan telunjuknya ke bibirku “jangan pernah mencoba mengingat hal yang membuatmu tersiksa.. kau hanya akan mengulang dan memperkuat memori burukmu itu.. ”

“kita dimana… lalu mana Kris?” aku memandang ke sekelilingku. Tampak pemandangan kamar yang asing untukku. Ruangan yang semuanya di dominasi oleh warna putih..tirai, bed cover, karpet, bantal, cat tembok.. semuanya putih.. Tapi firasatku mengatakan aku pernah ke tempat ini sebelumnya..

“kau lupa kita sedang liburan di Jepang? Dan siapa pula itu..Kris? kita ke Jepang hanya berdua.. ini rumah kita yang di Jepang..”

Mwo?Kris, ahjussi.. namja pohonku.. namja yang mempunyai pandangan mata yang sangat teduh dan dia sangat tinggi. Dia itu punya alis tebal dan super tampan… aku ingat..”

“Han Cheonsa.. dalam mimpi burukmu kau masih sempat-sempatnya ya memikirkan namja tampan..ckckckck..” kulihat Donghae-jussi hanya tersenyum dengan tatapan meledek. Namun entah kenapa dan bagaimana bisa, aku melihat wajahnya bersinar 5 kali lipat lebih terang dari biasanya. Padahal dia hanya memakai kemeja putih polos yang lengannya ia naikkan hingga ke siku dan celana jeans warna biru pudar.

Kenapa Hae-Jussi tiba-tiba berubah jadi sangat tampan di mataku sekarang?

Astaga apa yang kupikirkan! Dia pamanku sendiri kan!

aigo jinjja utjinda[1]!

 

“kenapa kau menatapku dengan tatapan penuh cinta seperti itu?”

Aku lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya dan membuang arah pandanganku. “kau tak sedang sakit kan?” tiba-tiba saja kurasakan dua tangan dingin yang menarik pipiku dan membawa tatapanku kembali pada mata Hae-Jussi yang sedang membulat penuh menatapku “padahal kau tak demam, tapi kenapa wajahmu memerah ya..”

m-molla..”

Aku segera melepaskan tangan dinginnya dari pipiku dan langsung duduk di tepi tempat tidur, di samping Hae-Jussi. Aku yakin dia bisa membaca gerak tubuhku yang kini sedang kelihatan sangat gugup. Pasti ketahuan!

“a-aku yakin.. aku mengenal Kris.. dangguniji[2]!” kualihkan arah pembicaraannya yang selalu berusaha memojokkanku itu. Tak berapa lama dia lalu memencet keras ujung hidungku sambil tersenyum indah lagi

“ya! Hae-Jussi!” aku lalu mengurungkan niatku untuk mencubit dan menusuk lesung pipinya dengan telunjukku seperti kebiasaanku sebelumnya, mengingat wajahnya yang 5 kali terlihat lebih tampan tadi saja sudah mengganggu sistem kontrol wajahku hingga memerah. “pokoknya sudah kuputuskan! aku akan mencari tahu tentang Kris sekarang.. aku akan berjalan-jalan sambil mengingat-ingat kembali..”

“ya! Han Cheonsa! ” Hae-Jussi tiba-tiba saja menarik tanganku padahal aku sudah hendak berdiri meninggalkannya “aku akan menemanimu.. aku kan tak pernah meninggalkanmu kecuali saat kau ke toilet, tidur, ganti baju dan saat belajar di sekolah..”

“terserah kau sajalah uncle bodyguard…”

“haaahhh..” kudengar desahan dalam dan panjang dari nafas Hae-Jussi yang ada di belakangku. Beberapa detik kemudian sepertinya dia bangkit dari tempat tidurku tadi dan langsung membawa lari tanganku duluan.

“ya! Hae-Jussi pelan-pelan!”

Han Cheonsa’s side end

 

***

Author’s side

“Cheonsa.. Cheonsaaaa.. kau sudah bangun, nak? Kau mau kemana?heyyy….”

Seorang wanita paruh baya terlihat berlari dengan tergopoh-gopoh dan setengah teriak memanggil Cheonsa dari dapur saat melihat Cheonsa keluar dari kamarnya. Ia pun mengejar sampai ke depan teras rumah namun ia sudah tak melihat Cheonsa di sekitar  jalan yang ada di depan rumah.

“baiklah.. mungkin sudah saatnya ia mencari udara segar..”

***

“lalalala..” Cheonsa berjingkat-jingkat kecil dan bersenandung  dengan riang  di antara trotoar jalanan Jepang. Cheonsa yang berjalan di depan ahjussinya kini berhenti sejenak untuk mengelus sebuah patung anjing yang cukup besar yang baru saja dilihatnya. “kawaii[3]…”

Mereka berdua kini sedang berjalan melewati pintu keluar Hachiko[4] yang terletak di depan Shibuya Eki[5]. Shibuya Eki sendiri tercatat sebagai salah satu penyeberangan umum tersibuk di dunia. Shibuya merupakan sebuah distrik khusus yang berada dalam kawasan Prefektur Tokyo dan dianggap sebagai pusat budaya remaja Jepang.

Cheonsa lalu melanjutkan langkahnya. Tak lama ia terlihat mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil tersenyum “Jepang sungguh hangat sore ini.. benar kan Hae-juss… hei, apa itu awan? yang ada di atas kepalamu itu..” tunjuk Cheonsa kaget sesaat setelah pandangannya berbalik ke arah Donghae yang berjalan di belakangnya. Mata Cheonsa langsung terbelalak saat menyadari dirinya melihat segumpal awan kecil berwarna putih cemerlang yang ada tepat di atas kepala Donghae.

“mana? Kau salah lihat..” Donghae lalu menampik dan membuyarkan sekumpulan awan putih yang ada di atasnya “tak ada apa-apa di atas sini..”

jinjja?” Cheonsa lalu memejamkan kedua matanya lalu mengucek-ngucek kedua matanya dengan keras “mungkin mulai sekarang aku harus pakai kacamata…”

“mungkin..”

Cheonsa lalu membuka kedua matanya perlahan “ya! Sekarang darimana kau dapat payung itu?” Cheonsa lalu memicingkan matanya mendapati Hae-Jussinya sekarang sudah memakai payung putih yang cukup besar.

magic..” jawab Donghae sambil menjentikkan jarinya dan tersenyum hingga menjulurkan lidah seperti kebiasaannya selama ini, “mau bergabung?”

ani… aku suka haru[6] di Jepang.. kurasa sedikit mandi sinar matahari tak akan membunuhmu, Hae-Jussi.. kau sedikit berlebihan..” Cheonsa menggeleng sambil tersenyum lalu beberapa saat kemudian ia menghentikan langkahnya “tapi kenapa tanganmu tadi sangat dingin ya? Apa kau sakit Hae-Jussi?”

“sudah lama aku sakit.. penyakit tampanku tak mau sembuh, Cheonsa-ya..”

“eh?” Cheonsa lalu memalingkan wajahnya ke depan dan mulai berjalan riang lagi “ada yang salah dengan pikiranmu Hae-Jussi..” Cheonsa lalu menelan ludahnya sambil mengigit bibir bawahnya

“apanya yang salah?”

“Tak baik menggoda anak di bawah umur..” Cheonsa tertawa kecil sambil terus berjalan menatap lurus ke depan “lagi pula aku merasa kalau Kris itu benar-benar ada..”

“ Tak ada yang namanya Kris, Han Cheonsa..”

“ Aku yakin dia ada.. coba aku cek ponselku..” Cheonsa lalu merogoh-rogoh saku celana skinny jeansnya yang berwarna biru dongker itu. Namun ia hanya menemukan beberapa lembar uang won di sakunya “mana ponselku ya..”

“haaaahhh…” Donghae mendengus pelan kemudian “kau terlalu lama melamunkan namja khayalanmu.. bahkan uang wonmu saja belum dikurskan jadi yen..”

“ahhh.. itu ada money changer di seberang jalan sana.. aku tukarkan dulu.. kau mau ikut Hae-Jussi?”

“Ku tunggu disini saja..”

Cheonsa lalu langsung berlari ke tepi jalan dan berhenti sejenak sebelum memutuskan untuk menyeberang jalan. Ia menengok beberapa kali ke arah kanan dan kirinya sebelum ia mulai menyeberang. Setelah memastikan jalanan sepi dan cukup aman, Cheonsa lalu melangkahkan kakinya. Namun baru dua langkah ia maju, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju sangat cepat dan hampir menabrak Cheonsa.

“Kyaaaaaaaaaaaa..”

Cheonsa berteriak sangat keras dan hanya mampu menutup matanya. namun Cheonsa merasa tiba-tiba seperti ada sebuah guncangan yang menariknya hingga terlempar ke pinggir jalanan.

Dengan nafas yang masih tersengal dan jantungnya yang berdegup kencang hingga membuat  seluruh rongga dadanya sakit, Cheonsa lalu membuka matanya perlahan “Hae-Jussi.. kau tadi jadi perisaiku? Neo gwaenchana, ahjussi?”

baboya.. kalau saja aku tak datang kau sudah…aishhh..” Donghae lalu bangun dan melepaskan pelukannya dari tubuh Cheonsa. Ia pun langsung melangkah meninggalkan Cheonsa. Ia mengambil payung putih besarnya yang terbalik di trotoar jalan raya dan memakainya lagi sembari melanjutkan langkahnya, pergi semakin jauh meninggalkan Cheonsa sendiri.

“Hae-Jussi..” pekik Cheonsa “ mianhae, hwa purejwo..[7]

Tiba-tiba datang beberapa orang yang mendekati Cheonsa. Salah seorang ibu paruh baya dari kerumunan tiba-tiba memeluk Cheonsa yang masih terduduk.

daijoubu[8]? tanya seorang ahjussi yang memakai topi pet yang membantu Cheonsa berdiri. Cheonsa pun menurut dan langsung berdiri perlahan

nani ga itainda[9]?” ibu paruh baya yang tadi memeluk Cheonsa itu sudah nampak hampir menangis, sepertinya sangat mengkhawatirkan keadaan Cheonsa sekarang

gwaencha.. ah.. atashi.. daijoubu.. sumimasen deshita.. doumo arigatou..[10]” Cheonsa lalu membungkukan badannya beberapa kali dan kemudian berlari, berusaha untuk memperpendek jaraknya dengan Donghae

yokattandane[11]..” seorang namja lain yang turut berkerumun tersenyum penuh kelegaan “mata kondo motto ki wo tsuketekudasai[12]..”

***

“Han Donghae, ahjussiku yang baik hati.. jangan marah lagi..” Cheonsa tersenyum manja pada Donghae yang sedang duduk di sampingnya. Mereka duduk di sebuah bangku taman. Kini mereka berdua sedang berada di Taman Ueno. Hari sudah mulai senja, namun Taman Ueno masih saja dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berhanami[13] .Terdengar cukup keras cicit burung-burung kecil yang beterbangan ke dahan-dahan pepohonan Sakura yang saat ini semuanya sedang memekarkan bunga pink-putih yang super cantik.

“Sakuranya begitu indah.. kau mau jus strawberryku, ahjussi?” tawar Cheonsa sambil menyesap jus strawberry langsung dari kalengnya. Ia mengambil nafas dalam-dalam, memanjakan hidungnya menghirup wangi bunga Sakura yang begitu manis.

Donghae hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil mengerucutkan bibirnya. Pandangannya tajam sambil terus menatap ke depan. Ia tak bergeming walau ujung-ujung rambutnya mulai terangkat dan membuatnya penampilannya sedikit berantakan. Ia yang menyadari Cheonsa terus memerhatikan dengan tatapan aneh ke rambut lurus lembutnya yang berwarna coklat tua itu pun langsung merapikan rambutnya dengan teknik jilat dan sisir jarinya.

“Ya! Kau jorok! Tapi tumben kau menolak minuman favoritmu?di musim semi Jepang yang penuh dengan panen Strawberry yang berlimpah seperti ini seharusnya kau yang paling bahagia di dunia ini, Hae-Jussi.. begini saja..kutraktir apapun yang kau mau ya?tapi jebal.. maafkan aku.. mureupirado kkurheo boilkka[14]?” iba Cheonsa sambil tetap menggenggam kaleng jus strawberry dengan kedua tangannya. Matanya membulat sendu seperti karakter Puz yang ada di animasi Shrek

“Han Cheonsa, dengarkan aku…” kata Donghae sambil memicingkan matanya tajam tepat ke arah sudut pandang mata Cheonsa yang sepertinya jadi langsung kelilipan karenanya “aku kehilangan seluruh selera makan dan minumku karena kejadian tadi!”

“ahh.. ya sudahlah kalau tak mau memaafkanku..” Cheonsa lalu menyeruput sisa jus strawberrynya sampai habis dan langsung melempar kaleng jusnya yang sudah kosong ke dalam tong sampah yang ada kira-kira berjarak 2 meter di depannya

Klontang

 

Kaleng itu berhasil masuk ke dalam tong sampah itu dengan meningggalkan resonansi yang sangat nyaring beberapa detik setelahnya.

“hei..hei..” kata Cheonsa tiba-tiba sangat antusias “aku ingat.. aku dan Kris dulu sering melakukan ini.. dia bilang kalau mau berkencan dengannya, aku harus bisa memasukkan 20 kaleng minuman ke dalam tong sampah yang berjarak 2 meter dari tempatku berdiri..ahh.. kepalaku!”

Tiba-tiba angin datang berhembus cukup kencang hingga membuat rambut Cheonsa berantakan. Tapi Cheonsa heran karena rambut ahjussinya tetap rapi seperti sudah di semen dan tak bergerak sehelai pun.

Apa sisiran jari bercampur air liurnya tadi yang membuat rambutnya seperti itu?

 

Cheonsa merapikan rambut dengan kedua tangannya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya memandangi rambut Donghae, kebingungannya itu membekukan sedikit rasa sakit dikepalanya sementara.

“kau ini mengada-ada saja..” Donghae lalu menoyor kepala Cheonsa cukup keras hingga yeoja itu hampir terjatuh dari kursinya “adegan seperti itu hanya ada di cerita drama murahan..bangunlah segera dari mimpimu, Cheonsa..”

“aku  tak bohong padamu Hae-Jussi..aduh.. kenapa kepalaku tiba-tiba sangat sakit ya…”

“makanya berhentilah mencoba merekayasa hal-hal yang hanya terjadi di mimpi, Cheonsa.. berhentilah mencampur adukkan khayalan dan kenyataan.. itu hanya akan menyakitimu.. kokjongmal, nega itchana[15]..” Donghae lalu membelai kepala Cheonsa pelan dan membawa kepala yeoja itu untuk bersandar di bahu lebarnya

“iya.. jadi lebih baik sekarang.. gomawo, Hae-Jussi.. kau yang terbaik..” Cheonsa tersenyum sambil memeluk pinggang ahjussinya

Mata Cheonsa menerawang ke langit yang mulai memancarkan gradasi merah muda dan jingga, beberapa burung merpati putih terlhat sedang terbang rendah tak jauh dari mereka. Tapi entah mengapa satu dari mereka tiba-tiba turun ke pelataran taman yang ada di depan Donghae dan Cheonsa

“lihat burung itu..” kata Cheonsa sambil menunjuk burung merpati yang tengah diam menatap mereka berdua. Sesekali kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan.

“burung? Yang mana? Yang putih itu? Wae[16]?”

“sayapnya.. aku suka sayapnya.. benda yang paling kuharap bisa kumiliki karena aku jadi bisa terbang kemanapun aku mau.. aku ingin jadi burung itu.. kepalaku berat tidak di bahumu?” Donghae langsung mendorong kepala Cheonsa yang semula akan diangkat si empunya itu dari bahu lebarnya.

“kenapa harus jadi burung?ya! sama sekali tak menarik. Berbulu di sekujur tubuh.. kau mau?aisshhh.. jjinja..” tanya Donghae sambil diiringi gelengan kepala Cheonsa di bahunya, bibirnya sudah maju beberapa sentimeter. “lebih keren jadi malaikat kan? Kaum malaikat pun punya sayap, namun hanya sayapnya yang berbulu.. bukan diseluruh tubuh layaknya burung bau itu..kenapa otakmu bisa sangat dangkal seperti itu?”

“tapi.. bukankah kalau mau jadi malaikat harus mati dulu? Aku belum mau mati.. aku masih ingin menjadi tua sepertimu..”

“ya! Kau tidak sopan!” geram Donghae sambil mencubit hidung Cheonsa pelan tapi sedikit agak keras “umurku memang sudah banyak. Namun aku selalu mencoba bersikap lebih balita..”

mwo? Sudah banyak? Ani..ani.. ani.. bukan banyak tapi tua, ahjussiku yang mengeriput.. dan baumu amis sekali…” sejenak Cheonsa tertawa sambil menutup bibir dan hidungnya dengan sigap karena ia takut di cubit lagi oleh Hae-Jussinya. Namun Donghae yang tak kekurangan akal, langsung menyentil dahi Cheonsa yang lebar.

“aishhhh.. appo..”

“makanya dengarkan aku dan jangan coba membantahku..” Cheonsa hanya mengangguk sambil mengusap dahinya yang sedikit memerah sementara tangan kirinya digunakan untuk mengusap hidungnya yang masih agak berdenyut “darimana kau dengar peraturan konyol itu.. mana ada peraturan yang mensyaratkan harus mati dulu untuk jadi malaikat?ada-ada saja.. malaikat adalah makhluk pilihan Tuhan yang punya misi mulia, Han Cheonsa..”

jjinja yo? Berarti aku termasuk kaum malaikat itu! Cheonsa=malaikat kan? ” kata Cheonsa datar dan penuh dengan kepercayaan diri. Ia lalu mengangkat kepala dari bahu Donghae sambil berkedip-kedip manja dan beraegyo ria. Donghae yang melihatnya hanya bisa mendecis dengan wajah tak senang melihat kelakuan yeoja itu

Nappeun yeoja[17]… aku lelah bicara denganmu, Cheonsa-ya..” Donghae yang hendak bangun langsung di tarik tangannya oleh Cheonsa

jjangkaman.. aku belum selesai bicara.. dengarkan ini baik-baik karena aku tak akan mengulanginya lagi.. “ Cheonsa lalu menarik Donghae untuk duduk lagi dan langsung melingkarkan tangannya di lengan ahjussinya “mungkin kau benar , tak perlu mati dulu untuk jadi malaikat. Kau… ya, kau adalah malaikat ‘paling nyata’ yang ‘sedang hidup’ bagiku.. kau seperti guardian angel untukku.. cihh.. kenapa aku jadi sedikit menyesal sudah mengatakannya.. jangan diperpanjang lagi..” dengus Cheonsa melihat Donghae kini menatap dirinya sambil tersenyum penuh ambigu. Sambil berusaha untuk mengatur nafasnya, Cheonsa lalu meletakan kepalanya lagi di bahu Donghae dengan manja, lebih tepatnya untuk menghindari tatapan mata Donghae yang terlihat sangat lembut. Mendadak Cheonsa jadi sangat berdebar di dekat Hae-Jussinya itu.

Jangan dibahas.. jangan diperpanjang lagi Hae-Jussi..

Sejak kapan debaran hati dan rona merah di wajahku jadi tak bisa kukontrol begini..

 

Cheonsa merutuki hal yang tak jelas itu dalam hatinya. Seolah bisa membaca dan mengerti gumaman hati Cheonsa, Donghae hanya menanggapi dengan sebuah desahan nafas yang cukup panjang.

ja,  sebaiknya kita pulang sekarang.. sudah hampir malam.. kajja!”

Cheonsa lalu mengangkat kepalanya dan langsung berdiri “eh.. Hae-Jussi.. kau masih ingat jalan pulang kan? Karena aku sepertinya lupa..”

mwoya? Kukira kau mengingatnya.. aku.. aku juga lupa..” Donghae menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dengan frustasi dan ekspresinya berubah menjadi begitu mengkhawatirkan

“baru kali ini kau tak bisa kuandalkan, ahjussi..” Cheonsa menggoda Donghae yang lalu memberikan sebuah ponsel clamshell putih dari saku celananya dengan wajah tanpa dosanya

“ponselku?ya!Hae-Jussi kau ternyata yang menyembunyikannya” Cheonsa menjejak-jejakan kakinya dengan kesal ke tanah berulang kali

“sudahlah.. teleponlah eommamu.. tanya dimana alamat rumah kita.. hubungi nomor rumah di Jepang..”

mwo? katamu kita di jepang hanya berdua.. kenapa ada eomma disini?”

“aisshh.. sudah jangan cerewet.. telepon saja sekarang!ppaliya!”

***

“Shibuya Street no 9.. Shibuya Street no 9..” Cheonsa terus mengulangi perkataannya hingga membuat Donghae kesal

“haaahh.. kenapa kau terus mengulangi itu.. bahkan alamat yang begitu mudah pun kau tak mampu mengingatnya?diamlah aku sudah ingat!”

“itu semua karena kau Hae-Jussi..” Cheonsa lalu membalikkan badannya dan berjalan mundur.. memandang sengit ke arah Donghae yang kini ada di hadapannya “karena kau tak punya uang sepeserpun untuk membayar taksi.. dan aku juga menyangsikan ingatanmu yang mungkin sudah berkarat karena otakmu yang  sudah tua ahjussi..”

“aku hanya sedang tak membawa dompetku dan jangan kau ungkit-ungkit terus masalah umur.. itu membuat baby faceku tertekan dan jadi tambah keriput..”

Mereka terus berjalan dengan sambil saling mencela.

Sepanjang jalan tanpa henti.

Namun langkah Cheonsa lalu terhenti dan segera mendekat ke sebuah lapangan basket yang sepi yang ada di seberang jalan yang sedang mereka lewati. Bagai magnet, dia mendekat ke arah pagar pembatas dan berjalan mengelilingi lapangan basket itu sambil terus menyeret jarinya menyentuh pagar jaring-jaring pembatas lapangan basket itu lalu masuk ke dalam lapangan basket itu

“Cheonsa.. kenapa lagi kau!geumanhae.. kita harus cepat pulang..” Donghae berteriak keras memperingati Cheonsa, namun yeoja itu hanya diam saja dan malah mengambil bola basket yang teronggok di salah satu sudut lapangan

Cheonsa lalu mendriblenya berulang-ulang dan melemparkan bola basket ke dalam ringnya.

Ia melakukannya terus menerus, berkali-kali..tanpa menghiraukan panggilan Donghae.

Seluruh dunia serasa bagai ruang hampa  baginya.. semua seolah menjadi kedap suara. Semua di dunia ini terasa bergerak lambat. Yang Cheonsa pikirkan hanya sebuah rasa sakit yang menjalari seluruh ruang di rongga dadanya.. semua rasa sesak itu ingin ia lemparkan ke dalam ring basket yang jauh lebih tinggi darinya.

Ia melemparkan bola yang seperti sudah ia transferi rasa sakit dari hatinya dan berkali-kali ia coba lemparkan ke dalam ring basket. Terkadang masuk, namun seringkali gagal dan itu membuatnya kesal.

Setelah puluhan kali melakukannya, akhirnya fisik Cheonsa pun mulai kelelahan, keringatnya perlahan menetes turun melalui lehernya

“Han Cheonsa, ije geumanhae!”Tiba-tiba saja bola basket berwarna biru tua itu meledak dan pecah menjadi beberapa puing saat Cheonsa melemparkannya ke arah ring basket, seiring dengan teriakan Donghae yang menyuruhnya berhenti. Cheonsa yang kaget hanya mampu terduduk karena sudah lemas. Rambutnya sudah basah oleh keringat. Sekarang ia sudah tersadar dan mulai kembali ke bumi, bukan dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.

“hosh.. kenapa..hosh..bola basket itu bisa.. hosh.. meledak ya..aissshh..”

neo! Kalau kau terus melakukan hal yang tak berguna dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan Kris.. aku tak segan-segan meninggalkanmu sendirian!” kesabaran Donghae sudah mencapai batasnya, tiba-tiba saja matanya memerah. Aura kemarahan kental terasa, terpancar melalui mata Donghae yang biasanya terlihat menentramkan bagi siapapun memandangnya.

m-mianhae.. tapi.. kau..hosh..darimana kau tahu ada hubungan..hosh.. antara Kris dan basket..hosh..  lama-lama kau lebih terlihat seperti seorang yang sedang cemburu daripada.. hosh.. orang yang sedang mengkhawatirkanku agar.. hosh.. cepat sampai di rumah..”

Cheonsa lalu bangun dan keluar sambil membungkuk karena saking lelahnya dari lapangan untuk mendekati  tempat keran air minum yang tak jauh dari lapangan basket tadi “ahhh.. segarnya air ini..”

Setelah minum dan membasuh mukanya dengan air keran itu, Cheonsa lalu melihat ke sekelilingnya.. kemudian ia melihat ke arah lapangan basket yang terasa begitu senyap, padahal tadi Hae-Jussinya masih berkoar-koar tak jelas.

“H-Hae-jussi? Kau dimana???” dengan kaget dan sangat khawatir Cheonsa mencari-cari Donghae yang sudah tak ada di sekitarnya, pandangannya mengitari ke seluruh penjuru lapangan basket. Kini ia berlari ke tepi jalan yang sepi dengan langkah bingung.

“Hae-jussi.. kau dimanaaaaa?”

Perlahan air mata Cheonsa menetes.

Berbagai slide wajah Donghae yang sedang tersenyum dan menangis tergambar di ingatan Cheonsa. Satu persatu muncul dengan sangat cepat. Kemudian berganti tergambar sosok seorang namja beralis tebal dan tampan.. dalam gambarannya, Namja itu hanya dan selalu menunjukkan ekspresi dingin.. kali ini ingatannya muncul semakin cepat dan terasa bertubi-tubi membebani otak Cheonsa.. kenangan masa kecil dengan Hae-Jussinya sampai dengan kenangan bersama namja itu dengan basket, berbagai momen mulai dari saat mereka   berkenalan hingga saat mereka jalan berdua..

Kris..

Ya, Cheonsa akhirnya mampu mengingatnya.. seorang namja dingin yang menghangatkan hatinya. Ingatannya kemudian mulai menuju saat ia tiba dari jepang dengan Donghae dan Kris.. Terakhir ingatannya berhenti saat Cheonsa menyetir mobil di pegunungan, lalu tiba-tiba ada sebuah guncangan keras. Donghae yang duduk di samping kursi yang ia gunakan untuk mengemudi kemudian menarik Cheonsa ke kursinya dan langsung memeluknya. Cheonsa hanya mampu berteriak dan semuanya langsung berubah gelap.

“aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh….”

Kepala Cheonsa merasakan sakit yang begitu hebat, jauh lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.

Hantaman fragmen memori kenangan-kenangan masa lalu itu terasa seperti sedang berlomba mencabik-cabik otaknya.

Cheonsa memegangi hidungnya yang mulai mengalirkan tetesan darah panas berwarna merah segar.

“H– Hae-Jussi..a-aku..” Badan Cheonsa kini mulai limbung dan akhirnya terjatuh dengan kepala yang terantuk batu besar yang ada di bawahnya.. kini ia masih menyeret tubuhnya hingga terseok-seok di atas rerumputan, ia masih belum menyerah walau pandangannya mulai mengabur “eodi-eodiseo[18],H-hae..”

Perlahan cengkeraman tangan di dahinya melemah bersamaan hilangnya kesadaran Cheonsa di tengah lapangan basket.

***

Cheonsa’s side

 

Bip.. bip.. bip..

 

Mendadak aku mendengar rentetan bunyi bip yang sama dan terus berulang-ulang.. terdengar sangat monoton di telingaku…

Dimana Hae-Jussi?

 

Ya, keberadaan Hae-Jussi adalah hal pertama yang aku ingat sekarang dan terakhir kali sebelum aku kehilangan kesadaran.

Aku ingin membuka mataku, tapi kenapa saat ini rasanya seperti sama beratnya dengan aku mengangkat kepalaku?

Kepalaku sangat pusing.. benar-benar sakit..

 

Namun setidaknya aku merasa, alas tempatku berbaring kini lebih lunak, empuk dan nyaman daripada tempat aku sadar terakhir kali. Apa sekarang mungkin aku sudah pindah tempat?

Dan.. apa ini yang ada di genggaman tanganku?

Kenapa aku merasa ada sesuatu yang lembut, dan sepertinya sangat ringan.. apa ini.. kapas?

Tapi aku sendiri tak begitu yakin ini adalah kapas..

“Cheonsa.. Cheonsa? Kau sudah bangun nak?”

Kurasakan ada belaian yang menyapu pipiku yang kuduga pasti dari pemilik suara lembut yang menyapaku tadi. Aku sangat mengenali suara ini..

eomma? Hae-Jussi dimana? Apa dia baik-baik saja?”

“Cheonsa-ya.. sebelum kau menanyakannya, harusnya kau mengkhawatirkan keadaanmu dulu..”

“memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja.. walau.. kepalaku sedikit sakit..”

“kau.. gegar otak dear..”

Ge—gegar otak?”

“ne.. kau mendapat trauma kepala.. kau belum sepenuhnya pulih.. tapi dokter sudah melakukan yang terbaik untukmu.. syukurlah kau..kau..” kurasakan ada pelukan hangat dari eommaku. Akhirnya setelah sekuat tenaga mencobanya, aku berhasil membuka kedua kelopak mataku. Eomma menangis.. tak pernah kulihat beliau menangis sepilu ini, terakhir kali saat appa meninggal saat usiaku menginjak 10 tahun. Ya.. kurang lebih sama..

eomma.. apa ada yang meninggal? Jangan membuatku takut..”

“kenapa kau bertanya seperti itu?”

“ya.. eomma menangis seperti saat melepas kepergian appa 9 tahun silam..” jawabku jujur, aku mengatakannya sambil melawan gidikan ngeri di leherku,, ya, aku merinding..

“D-Donghae..”

 kenapa suara eomma kudengar seperti sedang tercekat?

 

“Hae jussi? Hae jussi kenapa eomma? Sekarang aku sudah benar-benar takut eomma…”

Kulihat eomma menyeka air matanya dan mendudukkanku di depan tumpukan bantal sebagai pengganjal punggungku. Dia menyeret sebuah kursi dan duduk di samping ranjang tempatku duduk sekarang. Sekarang kesadaranku sudah berada pada puncaknya. Sepertinya aku berada di sebuah ruangan di rumah sakit sekarang.. dengan perban yang melingkar di dahiku. Di tanganku pun terpasang sebuah selang infus yang di aliri cairan bening yang tak ingin kuketahui sama sekali apa namanya. Toh label yang tertera di botol infusnya  juga rentetan huruf kanji yang tak kumengerti.. kalaupun bisa membacanya, itu akan sangat membutuhkan waktu yang agak lama mengingat keadaan otakku yang sepertinya sedang ngambek ini.. walau entah sebenarnya aku tak tahu pasti yang sakit itu kepalaku atau otakku. Bunyi-bunyian monoton yang masih berkontinyu terdengar di ruangan ini ternyata tak lain adalah alat pendeteksi detak jantung.

Ya Tuhan, apakah keadaanku benar-benar sebegitu parahnya seperti yang kulihat saat ini hingga semua benda-benda medis itu terhubung ke tubuhku?

 

Kulihat eomma masih terdiam dan menunduk. Tapi tubuhnya sudah mulai stabil sekarang, tak sebegitu gemetarannya seperti tadi. Aku memang ingin membiarkannya tenang dulu.

eomma ingin bercerita kepadamu.. mungkin ini seperti dongeng, namun eomma rasa, eomma harus menceritakannya sekarang.. sebuah rahasia yang mungkin bisa mengubah hidupmu..”

Aku hanya mengernyitkan alisku sebagai tanda tak mengerti.. sebenarnya aku tak tertarik dengan dongeng karena pasti akan jadi sangat panjang ceritanya mengingat sebegitu seriusnya ekspresi eommaku saat ini. Tapi ada embel-embel rahasia di akhir pengakuan eommaku.. dan itu membuatku sedikit banyak berpikir bahwa banyak hal yang sebenarnya terjadi tapi aku memang benar-benar tak bisa memaksakan diri untuk bisa berpikir dengan jernih saat ini, dengan semua keadaanku dan gaya bicara eommaku yang seperti sengaja disusun begitu rapi.

“ini tentang Donghae.. dan eomma yakin ini tak akan membosankan untukmu..”

Ok, sekarang eommaku sepertinya ingin memperburuk keadaanku, kudengar alat pendeteksi jantungnya berbunyi makin cepat.. detak jantungku sekarang memang semakin meningkat.. nafasku pun mulai sesak. Kini kurasakan eomma mulai meremas dan menggenggam tanganku

“baiklah..” aku pun menghela nafasku, sambil berusaha menenangkan diriku “aku siap..”

Siap tak siap, aku memang harus mendengarnya bukan?

Karena ini tentang Hae jussi..

Hae-Jussi, kau dimana?

Aku sangat takut sekarang…

Cheonsa’s side ends

***

Author’s side

Cheonsa masih terdiam, menunggu eommanya memulai ceritanya. Sudah 2 menit lewat, tapi sepertinya Minako, eomma Cheonsa yang memang berdarah Jepang namun setelah menikah berpindah ke Korea Selatan itu belum punya cukup kekuatan untuk membuka pengakuannya.

eomma.. mana Hae-Jussi.. sebaiknya dia yang menjagaku sekarang.. eomma terlihat lelah, lihatlah lingkaran hitam yang sangat besar di bawah matamu itu.. sebenarnya sudah berapa lama aku tidur?”

“2 hari.. kau pingsan selama 2 hari.. ”

jjinja yo?” Cheonsa mengerucutkan bibirnya “dan Hae-Jussi membiarkan eomma menjagaku sendirian? jahatnya…”

“ini bukan keinginannya.. mulai sekarang eomma yang akan menjagamu..”

Air mata eomma Cheonsa mulai mengalir lagi. Kali ini lebih deras dari sebelumnya.

geumanhae.. uljima eomma..” sebuah benda dengan ringan jatuh melayang dari genggaman tangan Cheonsa yang awalnya hendak ia gunakan untuk menyeka air mata eommanya

Sebuah bulu berwarna putih? Gumam Cheonsa dalam hati, bagaimana bisa sebuah bulu ada di tanganku?tak mungkin ada burung yang diperbolehkan di ruangan ini…

Bulu itu dengan perlahan turun dan jatuh di atas selimut rumah sakit yang berwarna hijau tosca muda  yang sedang membalut tubuh Cheonsa.

Cheonsa memungutnya dan langsung meneliti setiap inchi bulu itu dengan matanya. namun lalu menaruhnya kembali di atas selimutnya karena mendengar eommanya mulai membuka suara lagi

“kau ingat? Kau dulu hampir tenggelam saat kita sekeluarga bermain ke pantai saat usiamu 4 tahun?”

Mata Cheonsa jauh menerawang ke atas langit-langit ruangan tempatnya berada sekarang. Dahinya mulai berkerut, tanda ia sedang berpikir keras. Namun akhirnya ia menyerah dan memilih berhenti karena saat berusaha mengingat malah hanya menimbulkan nyeri yang berdenyut-denyut sangat hebat di kepalanya. Refleks ia memegangi kepala dengan satu tangannya

molla.. aku tak bisa ingat eomma..”

ne.. ne,, arasseo.. mian, Cheonsa.. sekarang sebaiknya kau istirahat dulu, biar eomma panggilkan dokter.. Sepertinya waktunya belum tepat.” tawar eomma Cheonsa, namun saat wanita paruh baya itu hendak berdiri, tangannya di tarik Cheonsa seolah memberikan kode bahwa ia harusnya tetap tinggal bersama putrinya itu.

eomma.. gwaenchana … lanjutkan lagi ceritanya.. jebal..”

jeongmal? “ tanya eomma Cheonsa tak yakin tapi pada akhirnya ia tetap duduk kembali ke kursinya

“sekarang lanjutkan… nan gwaenchana..”

Eomma Cheonsa menghela nafas cukup panjang sebelum akhirnya ia mulai bercerita. Mimiknya berubah semakin sendu, terlihat sangat sedih dan terpukul, membuat Cheonsa semakin antusias mendengarnya. Meski dalam hatinya yang paling dalam, Cheonsa merasa sangat takut.. Cheonsa sangat membenci realita.

“saat itu… saat kau berumur 3 tahun adalah hari pertama aku dan appamu mengajakmu mengenal pantai.. kau berlari sangat senang dan mulai bermain di tepi pantai.. namun karena kelalaian kami, kau sempat hampir tenggelam.. kami sempat hampir kehilanganmu, Cheonsa..”

Eomma Cheonsa mulai menangis dan menggenggam tangan Cheonsa sangat erat lalu memeluknya. Cheonsa menghela nafasnya agak panjang “tenanglah eomma.. aku masih ada disini.. masih bisa kau peluk.. lalu apa yang terjadi?”

Eomma Cheonsa pun melepaskan pelukannya setelah cukup terlihat tenang dan kembali duduk. Sambil menyeka airmatanya, beliau kembali berkata-kata “Donghae datang.. entah darimana ia datang.. namun ia sudah menggendongmu di tangannya, umurnya kira-kira 10 tahun..”

“maksud eomma?Hae-Jussi tiba-tiba datang itu apa?”

“ne.. dia bilang namanya Lee Donghae, dan Donghae kecil itu adalah anak yatim piatu.. ia kabur dari panti asuhan karena ia merasa terkurung disana.. saat itu tujuan pertamanya adalah pantai. dan akhirnya kami.. aku dan appamu memutuskan, sepakat untuk mengadopsinya sebagai anak.. sebagai rasa balas budi kami dan mengganti namanya menjadi Han Donghae…”

“……………………………..”

Cheonsa hanya diam mencoba mencerna setiap perkataan eommanya. “ jadi… dia bukan pamanku? aigooo…”

“kau masih sangat kecil waktu itu.. dan kau tentu tak akan memahaminya walaupun kami menceritakannya.”

“benar juga..” Cheonsa mencoba tersenyum, tapi baru sedikit ia menarik bibirnya, kepalanya sudah bereaksi dengan menambah beban rasa sakit dan nyeri. Mata Cheonsa mulai sedikit berkunang-kunang namun ia berusaha untuk menguatkan dirinya karena penasaran dengan cerita eommanya

“Donghae.. maksudku Donghae anak yang baik.. dia selalu berusaha jadi pelindungmu sejak saat itu.. atau mungkin dia memang terlahir untuk melindungimu..berbanding terbalik dengan kau yang bandel.. dia terus mengajarimu agar memanggilnya Haeie oppa tapi kau malah terus memanggilnya dengan Hae-Jussi, bahkan sampai sekarang..”

“entahlah eomma.. aku tak sadar kalau dia oppaku karena aku terus memanggilnya Hae-Jussi.. aku merasa nyaman memanggilnya seperti itu..”

“ne.. dan dia sama sekali tak keberatan ataupun protes kepadamu kan?”

Cheonsa mengangguk perlahan selama satu kali, namun eommanya malah membalasnya dengan sebuah senyum miris “tapi eomma tidak suka.. eomma tidak nyaman karena dia.. menganggapmu sebagai seorang yeoja, bukan adik atau keponakannya sekali pun..”

mwo? waeyo?”

“dia.. entah kenapa suatu hari dia pernah tak pulang seharian penuh.. dan di saat hari mulai petang, dia memberikan eomma ini.. eomma selalu menyimpannya di dompet eomma dan dia menyuruhku untuk memberikannya di saat kau sudah dewasa..” eomma Cheonsa lalu mengeluarkan sebuah cincin dari dompetnya “ini untukmu.. darinya saat berusia 12 tahun.. tepat sehari setelah kau kecelakaan dan dia menyelamatkanmu sekali lagi..”

“kecelakaan? Lalu cincin ini apa maksudnya? Bukankah Hae-Jussi juga memakai cincin ini? cincin yang sama persis, eomma..” Cheonsa lalu mencoba cincin yang diberikan oleh eommanya ke dalam jari manisnya. Ukuran cincin berwarna keperakan itu begitu pas melingkar di jarinya.

“dulu waktu kau berusia 5 tahun saat bermain bola di halaman depan rumah, temanmu tak sengaja melemparnya keluar pagar. Lalu kau mencoba mengambilnya dan melintasi jalan. Saat itu kau bisa saja tertabrak dan terluka parah karena ada sebuah truk besar yang lewat tapi Donghae malah membuat dirinya sebagai tameng dirimu.. dia malah yang terluka karena tangannya tergesek aspal. Menimbulkan luka gores yang cukup panjang. Sekali lagi ia menyelamatkan nyawamu.. Dan cincin itu ia buat sehari setelahnya..”

“dibuat? dia membuatnya sendiri, mma?”

“ne.. dia tak pulang seharian di hari berikutnya. Saat pulang dia bilang kalau ia baru saja pergi ke kelas pembuatan perak pada seorang kakek kenalannya, dan dia membuatkan cincin ini sepasang, yang jika digabungkan akan menjadi sepasang sayap malaikat..untukmu dan untuknya.. dia bilang ini pelindungmu selagi dia belum dewasa. saat kau sudah cukup dewasa, dia yang akan menggantikan cincin itu.. menjagamu selamanya.. dia ingin.. menikahimu.. bahkan di umurnya yang masih 12 tahun dia berani minta ijin kepadaku.. anak ingusan itu..”

Eomma Cheonsa mulai terisak lagi dan sekarang beliau menutup wajahnya. Bibir Cheonsa mulai bergetar, ia lalu menggigit bibir bawahnya dan tanpa sadar mengeluarkan air mata. Cheonsa menangis tanpa suara, namun tangisannya terlihat lebih memilukan dari eommanya

“dimana Hae-Jussi, eomma? Aku harus bicara dengannya sekarang..”

“tak bisa.. kau tak bisa lagi menemuinya, ia memilih pergi..” kini eomma Cheonsa mulai menangis histeris

“ya! Kenapa eomma tak menghalanginya.. aku harus bertemu dengannya.. aku ingin mendengar semuanya langsung darinya, bukan eomma..”

“dia sudah.. tak ada..”

“apa maksud eomma?”

“Donghae sudah meninggal.. Kau, Kris dan Donghae mengalami kecelakaan.. di Gunung Akagi. Hanya kau yang sudah sadar dan malah sempat kubawa ke rumah, Kris masih kritis.. ia belum bangun sampai sekarang..”

“m-m-mening-gal?eomma jangan membohongiku! Ini tidak lucu eomma!Aku mau menemuinya!”

Cheonsa mulai frustasi dan menarik rambutnya, sekarang ia sudah menangis sesenggukan. Wajahnya sudah penuh dengan airmata. Selang oksigen di hidungnya dan berbagai alat penopang hidup lainnya yang sedang terpasang di tubuhnya lah yang akhirnya memaksa Cheonsa tetap bertahan di ranjangnya.

“K-Kris dan Donghae seharusnya yang hanya berangkat ke jepang untuk mengikuti pertandingan basket, namun kau bersikeras mau ikut karena ingin mendukung Kris. Seharusnya Haeie sebagai coach bagi tim basket Kris bisa melarangmu ikut tapi dia selalu tak punya kekuatan untuk menolak semua keinginanmu. Sepertinya setelah kalian bertanding dan pergi ke Prefektur Gunma di Pulau Honshu, kau yang membawa mobil saat kalian menuju melewati Gunung Akagi.  kurasa Haeie sudah memperingatkanmu karena kau masih pemula dalam menyetir.. saat itu ada mobil lain yang ugal-ugalan, seperti sedang melakukan balap liar namun pengemudinya lalai hingga menabrak mobil kalian sampai masuk ke jurang.. begitulah investigasi dari polisi Jepang..”

Eomma jangan mengada-ada.. tolonglah.. jangan halangi aku bertemu dengan Hae-Jussi.. 2 hari lalu aku masih berjalan-jalan dengannya.. aku ingat.. terakhir kali aku ingat, saat di lapangan basket.. Aku dan Hae –jussi..”

Eomma tak pernah menghalangi kalian berdua..” potong eomma Cheonsa “kau sendiri yang mengada-ada.. saat eomma melihat kau keluar rumah 2 hari lalu, kau hanya pergi sendirian, Cheonsa-ya..”

“Tidak mungkin! aku pergi dengan Hae-Jussi eomma!”

Eomma berani bersumpah.. eomma tidak sedang berbohong.. apa tangisan dan air mata eomma terlihat seperti sedang berbohong bagimu?”

Maldo andwaeeeeeeeeeeee[19]… “

“Benar Cheonsa, ini semua kenyataan.. saat kalian di evakuasi di dasar jurang, Donghae sedang dalam keadaan memelukmu.. tubuhnya mengalami patah tulang 80% karena tergencet body mobil.. ia mengalami pendarahan dalam yang hebat untuk melindungimu.. kau tak ingin melihatnya? Sekarang ia berada di kamar.. ah! Aku tak sanggup mengucapkannya..”

Tiba-tiba memori detik-detik kecelakaan kembali terulang di ingatan Cheonsa.

Darah segar menetes lagi dari hidung mungil Cheonsa.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Cheonsa menyeka darah itu.

Rasa sakit yang mulai menjalari kepalanya membuat kesadaran Cheonsa menjadi semakin berkurang secara perlahan dan pandangannya kembali mengabur.

Dan akhirnya semuanya kembali gelap.

Mulai sekarang dan seterusnya di kehidupan Cheonsa.

***

 

 

 

 

 

 

 

CHAPTER II

Present Guardian..

 

Tergambar sebuah suasana apartemen dengan lampu yang masih di gelapkan.

Seorang yeoja yang memakai gaun warna coklat agak keemasan, dengan rambut ikal panjang yang ia biarkan tergerai, terlihat tidur di meja kerjanya dengan pangkuan tangan sebagai alas kepalanya.

Di meja dan sekeliling tembok ruangan yang tampak seperti kamarnya itu banyak terdapat  sketsa-sketsa rancangan gaun, baju, dan produk fashion lain semacam tas, sepatu dan aksesoris. Tertera sebuah nama Tian Shi di ujung bawah sketsa gambar itu beserta tanda tangannya.

Yeoja itu sudah pulas dalam tidurnya bahkan sebelum sempat menghapus make upnya.

Sebuah sayap berwarna senada dengan gaunnya masih terpasang di punggungnya, mahkota kecil pun masih ada di rambutnya yang ikal panjang.

Seorang namja berbaju putih-putih yang sedang berdiri di belakang kursi yeoja itu  tersenyum melihat foto polaroid dirinya dan yeoja itu yang banyak terpampang dalam photo frame di meja kerja yeoja itu, mengingatkan betapa akrabnya ia dengan yeoja itu dulu. Betapa banyak waktu yang sudah ia habiskan berdua dengan yeoja itu. Pandangannya berakhir pada foto dirinya dan yeoja itu serta seorang namja yang ia kenal dan dekat sebelumnya. Kenangan itu seketika menghentikan senyumnya. Ia lalu mengurungkan niatnya untuk membelai lembut rambut hitam yeoja yang sedang tertidur di hadapannya , antara takut membangunkannya atau memang tak sanggup untuk melakukannya

Zai Jian[20], Cheonsa..”

Sesaat ia mengembangkan sebuah sayap putih yang cukup besar dari balik punggungnya. Ia pun berbalik dan mendekat ke arah jendela geser yang ada di depannya. Dengan sebuah gerakan pasti, tirai besar berwarna putih dan jendela itu otomatis bergeser sendiri mengikuti perintah melalui gerakan tangannya, semacam kekuatan telekinetik. Tiba-tiba ada dorongan angin malam yang dingin yang cukup besar masuk ke dalam kamar Yeoja itu, hingga akhirnya membangunkannya dari tidurnya.

“Hae-Jussi.. kajima.. jebal.. hiks..hiks..”

Beberapa kristal bening air mata yeoja itu jatuh dari kedua sudut matanya yang masih terpejam, membasahi lengan kanannya yang ia gunakan sebagai bantalan kepala untuknya tidur. Yeoja itu masih terus mengigau sambil menangis. Namja bersayap itu lalu menolehkan kepalanya.

Jari-jemari tangan kiri yeoja yang bernama Han Cheonsa itu perlahan bergerak, jari yang sudah tersemat sebuah cincin bersayap, tepat di jari manisnya.

Mata indahnya terbuka.. dia lalu bangkit dan membetulkan posisi duduknya jadi lebih tegap dan langsung kaget begitu mengetahui tempat dimana ia sekarang berada

“ah! kenapa aku di kamarku?? Bukankah tadi aku sedang di pub mengikuti pesta halloween? Bukankah tadi aku sedang bertaruh minum wine?apa aku mabuk dan pulang sendiri kah?”

Cheonsa membuka kepalan tangannya. Ia lalu melihat ada beberapa bulu putih di telapak tangannya.

“kenapa selalu ada bulu-bulu putih di tanganku saat aku tiba-tiba terbangun berada di kamarku ya? Apa ada siluman burung yang sedang mendekatiku.. mungkinkah ini berasal dari gumiho Taiwan dalam versi burung?” kata Cheonsa asal sambil melemparkan sayap-sayap yang ada di tangannya ke udara.

Cheonsa lalu membetulkan rambutnya yang mulai teracak-acak oleh sapuan angin dari jendela yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Angin yang juga menusuk kulitnya yang terbuka akibat ia hanya membalut tubuhnya dengan mini dress.

“Hae-Jussi.. kenapa aku memimpikannya lagi.. Setahun sudah berlalu begitu berat… ahhh.. dan angin ini.. kenapa begitu dingin sih!”

Cheonsa lalu melepaskan boots Christian Louboutin dari kain beludru hitam dari kedua kakinya dan meletakannya di kolong meja kerjanya. Satu per satu kakinya menapak pada karpet putih yang tergelar di lantai kayu apartemennya. Dengan sedikit terhuyung, Cheonsa pun mendekati jendela dan ia pun menggeser jendela itu kedalam posisi menutup. Ketika ia hendak menarik tirainya, Cheonsa begitu terkejut hingga memulihkan kesadarannya secara penuh. Ada serentetan bulu-bulu putih yang menyembul di tirainya, tampak menyerupai sayap. Ia melirik ke arah kalung kristal yang ia kenakan, sebuah kalung kristal yang sudah ia masukkan bulu yang ia genggam saat di rumah sakit di Korea dulu. Bulu yang serupa dengan bulu-bulu yang selama ini selalu ada di genggamannya setahun ini.

apa benar ada siluman burung?

Omona… Sayapnya saja besar sekali.. bagaimana dengan badannya?

 

Sejenak Cheonsa bergumam dalam hati dan tubuhnya semakin merinding, pikirannya bermain-main dan mulai mereka-reka apa wujud makhluk di balik tirai itu..

shei ya?[21]” Cheonsa lalu dengan was-was memberanikan diri menyibak tirai itu, beberapa detik kemudian matanya melotot sempurna melihat makhluk tampan yang sedang memejamkan matanya dengan bahu sedikit meringkuk, yang sesaat kemudian membuka matanya perlahan dan terlihat sangat bercahaya dengan senyumannya “k-kau siapa?hantu Hae-Jussi?” Cheonsa sangat kaget begitu melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Sekarang nafasnya benar-benar tercekat.

“ya! Itu terdengar sangat tidak keren!” aku malaikat Hae!” jawab Donghae sombong sambil mengibaskan sepasang sayapnya “lihat. Aku punya dua sayap besar yang putih bersih dan bling-bling bercahaya..”

“Hae o-oppa?” bibir Cheonsa langsung bergerak elastis atau lebih tepatnya mulai bergetar melihat Donghae yang ada di depannya “benarkah itu kau?”

m-mwo? Kau memanggilku oppa? Ini pertama kalinya aku mendengarnya.. jujur agak aneh tapi aku senang..” jawab Donghae terlihat enteng. Matanya jauh terlihat lebih berbinar dan begitu indah. Senyum mengembang hingga memperlihatkan garis ketampanannya yang sangat luar biasa nyata, “kau kemana saja.. a-aku merindukanmu..” mendadak Cheonsa mulai kehilangan kekuatannya hingga ia menangis dan langsung tersujud di lantai. Tangannya menghalangi  suara isakan dari bibirnya.

“aku selalu bersamamu.. bahkan aku yang membawamu terbang tadi..seharusnya kau sadar waktu tadi.. tapi kenapa kau selalu sembarangan menjambak sayapku.. sayapku selalu rontok kalau aku menggendongmu terbang, kau mencengkeramnya terlalu keras.. kau itu yeoja bar-bar, Cheonsa.. setahun ini kau selalu membuatku kesakitan..  tapi kerjamu hanya bisa mabuk-mabukan dan pingsan di sembarang tempat..”

o-oppa..” panggil Cheonsa masih sedikit canggung “jangan bercanda lagi.. aku serius.. bisakah kau kembali?”

“hmm.. aku ingin..” jawab malaikat Hae terlihat berpikir “ Tapi waktuku sudah habis..” perlahan mimik Donghae berubah menjadi datar “ Kau harus hidup dengan baik setelah ini, karena aku… takkan ada aku yang akan melindungimu lagi..”

“tapi kau guardianku, o-oppa.. hanya kau..”

“ada yang sedang menunggumu, sekarang guardian barumu sedang mencari jalan ke tempatmu.. sudah sangat dekat.. tugasku sudah selesai Cheonsa.. dan ngomong-ngomong, kau sangat cantik.. tapi sebaiknya jangan berkeliaran dengan kostum seperti itu karena malaikat lain sepertiku bisa saja terkecoh mengira kau benar-benar bidadari.. Ah! Aku terlalu banyak bicara!” dengus Donghae sambil memegangi tengkuknya, nampak salah tingkah “ Cheonsa.. selamat tinggal..”

Donghae lalu mengangkat tangannya untuk menggeser jendela kamar Cheonsa yang seolah menuruti perintahnya dan mau terbuka. Ia lalu mulai berbalik, berjalan keluar memunggungi Cheonsa sebelum akhirnya melompat dari balkon kamar apartemen Cheonsa untuk terbang dengan sayap indahnya itu.

“Hae-oppa…  dorawaaaaaaaaaaaaa…” Cheonsa berteriak keras sambil terisak, mengiba agar Donghae kembali lagi padanya namun nihil. Ia lalu segera bangkit dan mulai tergesa-gesa berlari keluar dari pintu depan apartemennya.

***

Sambil terus menutup bibirnya yang masih terisak, Cheonsa terus berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar Donghae yang sedang terbang mengabaikannya. Cheonsa tak peduli dan melemparkan mahkota kecilnya dari rambutnya, lalu kemudian replika sayap yang ada di punggungnya dengan serampangan ke trotoar yang penuh dengan orang-orang yang sedang berjalan kaki. Ia berlari tanpa memakai alas kaki hingga mata semua pejalan kaki lain pun tertuju padanya.

Saat melewati etalase toko TV, langkahnya terhenti karena ia mendengar nama Kris yang disebut dengan cukup keras di salah satu TV swasta.

“Meskipun ia bermain membela tim Korea Selatan di tahun kemarin, berita kepulangan Wu Yang Fan atau yang dikenal sebagai Kris ke Taiwan membuat semua publik menyambutnya dengan begitu gembira dan antusias atas kembalinya ia bermain di liga basket setelah kecelakaan parah yang hampir merenggut nyawanya setahun silam. Kecelakaan yang dulu juga mengakibatkan tewasnya pelatih berbakat kebanggaan timnas Korea Selatan, Han Donghae yang membawa timnas Korea membawa kemenangan selama 4 tahun berturut-turut. Semua penggemar Kris di Taiwan tentunya menanti-nanti akan datangnya hari ini.

kini Kris sudah pulih dan mulai besok ia akan dijadwalkan bermain dalam pertandingan persahabatan dengan tim basket Korea melawan tim basket Taiwan..”

Sejenak Cheonsa terdiam mendengar suara penyiar berita tersebut tanpa menoleh ke arah jajaran TV itu. Sesaat kemudian ia kembali berlari namun kini semakin kencang untuk mengejar ketertinggalannya dengan Donghae yang terbang rendah dengan sangat cepat.

Jalanan di Miramar Entertaiment Park padahal sedang sangat ramai dipenuhi dengan pengunjung yang kebanyakan datang berpasangan tapi Cheonsa berlari sangat lihai di antara celah-celah lautan manusia yang sedang memenuhi salah satu pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Taipei, Taiwan. Ia tak mempedulikan walau nafasnya sekarang sudah seperti hampir mau putus. Mata Cheonsa selalu berusaha mengekori arah terbang Donghae walau pandangannya mengabur karena ia berlari sambil matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Ia terus menyeka air matanya, walau sesekali ia menyenggol atau tersenggol oleh pejalan kaki lain.

Tiba-tiba saat berada tak jauh dari ikon kebanggaan Miramar Entertainment Park yaitu Ferris Wheel , sebuah bianglala yang sangat megah dan romantis, Cheonsa melihat malaikat Hae-Jussinya terbang menembus dan menghilang ke dalam tubuh seseorang, hingga tubuh orang itu terlihat cukup tersentak. Cheonsa yang tak bisa mengendalikan larinya lalu menabrak seseorang yang terlihat mempunyai tubuh namja yang baru saja dirasuki Donghae tadi.

Cheonsa tak sengaja menabraknya dari belakang hingga keduanya terjatuh dengan keras dan berguling beberapa saat karenanya tapi kini Cheonsa malah berada di atas namja yang sudah menjadi alasnya itu

dui bu qi she wo[22]..

Tiba-tiba Cheonsa merasakan sebuah guncangan yang berasal dari tubuh namja yang ada di bawahnya..

Namja yang tubuhnya jauh lebih besar dari Cheonsa itu tiba-tiba saja mengeratkan tangannya memeluk Cheonsa

“ahh…” namja itu melenguh pelan “kau sudah kumaafkan,,sejak lama.. meski kau sudah meninggalkanku tanpa satu alasan pun.. bogoshippo yo..[23]

mwo?” Cheonsa bingung mulai mencoba melepaskan pelukan erat namja itu yang sudah mengikat tubuhnya “ya! Kau orang Korea ya? Kau salah orang..”

“Mana bisa aku salah orang.. kau pernah mencintaiku Han Cheonsa.. aku masih ingat itu..”

ige mwoya[24]?nuguseyo[25]!jangan mempermainkanku! Lepaskan aku!”

“ Apa ada yang kau lupakan? Sepertinya kau melupakan aku, Han Cheonsa.. Atau aku memang sudah mati di hatimu, padahal aku terus menjagamu untuk hidup di hatiku selama aku mencarimu.. dan sekarang setelah menemukanmu, ternyata memang benar dugaanku.. kau membuat banyak ruang kosong di hatimu untukmu sendiri.. bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?”

“jangan banyak bicara.. biar aku melihatmu dulu dan kutampar bibirmu yang suka bicara asal-asalan.. apa kau Donghae oppa? Hanya dia yang suka berbicara dengan gaya sepertimu.. keluarlah segera dari tubuhnya Haeie oppa!”

“sudah kuduga..” namja itu melepaskan tangannya, dan tanpa aba-aba Cheonsa langsung membalikkan tubuhnya “ternyata kau tak benar-benar mencintaiku Han Cheonsa, kau gagal dalam tes terakhirku..”

“K-Kris?” pekik Cheonsa tak percaya dengan penglihatannya yang menangkap sosok namja tampan yang sangat dikenalnya “Mwo?! Aku tak mau ikut tes konyol itu lagi!” dengan ketus Cheonsa langsung berdiri dan duduk di bangku panjang yang kosong tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebenarnya ia terlalu terguncang saat ini. Beberapa menit lalu, ia sedang mengejar Donghae yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Dan kini ia benar-benar tak punya persiapan mental dalam bentuk apapun untuk bertemu dengan Kris yang baru saja di tabraknya. Sudah setahun ini, ia melarikan diri dari semua masa lalunya untuk menata puing-puing hidupnya lagi. Ia baru saja menggambar masa depannya, ia baru saja memulai tahun pertama hidupnya yang ia bangun sendirian.

Hati Cheonsa bergemuruh, seperti sedang bermarathon sekarang. Namun ia masih berusaha bersikap senormal mungkin di hadapan Kris yang terlihat semakin tampan walau hanya memakai kaos putih polos yang berbalut jaket kulit warna hitam dan celana pendek cargo bermotif army. Cheonsa lalu menepuk-nepuk debu di sekujur gaunnya yang sekiranya menempel saat terjatuh dan berguling dengan Kris tadi. Ia berusaha untuk sebisa mungkin untuk tak menatap mata dan wajah Kris. “sudah cukup kau mengubahku menjadi pebasket dadakan dengan kaleng-kaleng itu, aku tak mau terlihat bodoh lagi..cihhh..”

“kau menyia-yiakanku? baiklah.. gelar nyonya Wu Yi Fan yang selama ini ingin kuberikan padamu, hal yang sangat kutunggu-tunggu sampai aku belajar lama.. setahun ini aku mempersiapkannya ternyata disambut dengan seperti ini.. aku kecewa.. padahal aku sudah belajar dengan Donghae hyung sampai sebelum saat terakhirnya..” Kris lalu berdiri di hadapan Cheonsa sambil terus menatap yeoja yang masih saja sibuk dengan menepuk-nepuk mini dressnya yang padahal tak kelihatan kotor sama sekali. Cheonsa hanya diam, terlihat sekali ia sedang berpura-pura tak menaruh perhatian pada perkataan Kris.

“aku sedih.. bahkan kau tak mau menungguku sampai aku terbangun dari tidurku.. kenapa kau tak mau menunggu lebih lama lagi dan malah lebih memilih melarikan diri dan bersembunyi ke Taiwan selama ini.. kau membuatku hampir gila setahun ini! Bahkan eommamu juga sedih. Apa kau mencintai Donghae hyung? Tapi kau bahkan tak menghadiri pemakamannya..”

Cheonsa menghentikan kegiatannya. Serangkaian kalimat terakhir yang dikatakan oleh Kris sedikit banyak berhasil menghujam hatinya. Cukup sakit. Ia lalu menengadahkan kepalanya, dengan terpaksa menatap wajah Kris yang tampan dan membalas tatapan matanya yang teduh.

Ia juga melihat sosok Donghae yang sedang berdiri tak jauh di belakang Kris. Cheonsa akhirnya mengerti bahwa semua yang dikatakan Kris tadi memang benar-benar berasal dari dirinya, bukan rekaan dari Donghae seperti dugaan Cheonsa sebelumnya. Donghae tersenyum dan menggelengkan kepalanya sekali. Ia membuat tanda sambil mengucapkan kata tanpa suara ‘uljima’ dengan kepalan tangannya yang ia gerak-gerakan samping matanya. Kepalan tangannya pun ia mekarkan untuk ia lambaikan sebagai tanda selamat tinggal. Ia lalu terbang vertikal dan menghilang seperti titik kecil putih di langit yang sangat bersinar. Ia menjadi bintang yang paling terang. Air mata Cheonsa mengalir deras setelahnya. Airmatanya tak mampu tertahan padahal ia sedang mendongakkan pandangannya ke langit malam Taiwan yang begitu cerah dan penuh bintang. Ia begitu terpukul.

“Cheonsa-ya, gwaenchana? uljima.. geuman ttuk nunmul dakkja[26]barangkali ada paparazzi di sini.. ja.. ja.. tak apa kalau kau tak mencintaiku.. mianhae..” Kris lalu mengambil topi merah dari tas kecil yang ia pakai dan memakaikannya di kepala Cheonsa. Ia lalu melepas jaket kulit hitamnya dan memakaikannya juga ke tubuh ringkih yeoja itu sambil menariknya pergi di tengah keramaian. Beberapa orang yang melihat kejadian dari awal, tampak berbisik-bisik melihat keanehan mereka berdua yang berbicara dalam bahasa Korea dan berakhir dengan derasnya air mata Cheonsa yang mereka kira disebabkan oleh Kris, yang tentu saja dikenal luas oleh masyarakat Taipei sebagai pebasket yang sedang berkarir di Korea.

“kuantar kau pulang..” kata Kris lagi sambil merangkul Cheonsa, mendekap tubuh yeoja itu dan terus berjalan menjauhi keramaian orang-orang, “dimana alamatmu sekarang? hmmm.. kau tak memakai sepatu ya? Apa perlu kugendong?”

Tiba-tiba Cheonsa memeluk Kris sangat erat di bawah temaram cahaya lampu besar yang terletak di tepi trotoar yang sepi pejalan kaki. Ia membenamkan kepalanya di dada namja yang jauh lebih tinggi puluhan sentimeter darinya itu. Sambil terus terisak ia mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang namja itu. Cheonsa menghirup aroma tubuh Kris lekat-lekat. Aroma maskulin khas namja itu tetap tak berubah, masih terasa sama seperti setahun lalu, seperti saat Cheonsa memeluknya terakhir kali sewaktu Kris masih terbaring koma di rumah sakit Jepang. Aroma namja itu menimbulkan semacam candu yang jika semakin dihirup, maka akan merasa semakin bahagia tersesat di tubuhnya “ sudah lama aku tak merasa setenang ini..”

nado.. nado, Cheonsa.. setahun ini aku terus mencarimu.. aku baru tahu tadi pagi kalau kau mengubah namamu menjadi Tian Shi[27] di Taiwan ini.. ya, walaupun tak ada bedanya antara nama Koreamu dengan nama Chinamu tapi aku hampir terkecoh saat melihat profilmu sebagai desainer di sebuah TV.. kau begitu licik sudah bersembunyi dariku setahun ini.. nan neoman boneun babo[28].. hmmm.. neol saranghae..

cheonmaneyo.. aku anggap itu sebagai sebuah pujian..” Cheonsa tergelak di dada Kris, namun Kris justru membelai rambut yeoja itu dengan sangat lembut dan lalu melingkarkan tangannya di bahu Cheonsa yang kini sudah berhenti mengeluarkan airmata. Membiarkan seluruh dunia ada di pelukannya saat ini.

ja, sudah malam.. aku pulang ke apartemenku dengan taksi saja, Tuan Kris.. kau harus bertanding besok kan? jadi istirahatlah yang cukup..” Cheonsa lalu melepaskan pelukannya dari Kris dan menjauhkan tubuhnya dari dekapan damai namja itu.

“kau tak mengijinkanmu tahu apartemenmu? Aku belum rela kita berpisah.. jangan-jangan nanti kau melarikan diri lagi..” Kris lalu menarik Cheonsa kembali ke pelukannya hingga Cheonsa tersentak dengan kaget “kugendong saja ya sampai ke apartemenmu?”

Dengan mudahnya Kris mengangkat tubuh Cheonsa dan menggendong Cheonsa dengan tangannya ala Bridal Style sambil berjalan dan tersenyum bahagia. Cheonsa begitu gugup, hingga tak mampu berkata-kata karena menahan semua ledakan yang sedang terjadi dalam dirinya.

“Tahukah? Sebenarnya aku merasa janggal, Cheonsa.. aku mendapat mimpi semalam, Hae Hyung yang menyuruhku menunggu di dekat Feris Wheel  untuk menjemput seseorang dan di mimpiku itu.. hmmm… dia sangat bersikeras ingin aku datang.. aku sangat lega ternyata aku hanya menjemput seekor liliput..”

Kris tertawa kecil hingga gigi kelincinya bisa terlihat jelas. Ia lalu mengigit bibir bawahnya untuk menahan suara tawanya. Mata sipitnya jadi kelihatan hanya segaris saja.

“s-seekor? l-liliput? Ya! Dwaetgeodeun[29]!  neo.. raksasa turunkan aku!”

shireo.. wo bu yao[30]..” Kris menggelengkan kepalanya beberapa sambil memperlihatkan ekspresi yang sangat menyebalkan bagi Cheonsa

“haaaahhh..   haruskah aku berteriak?”

“berteriaklah… maka aku dengan senang hati akan membungkammu sampai pagi dengan bibirku.. kalau kau berbuat lebih dari berteriak pun, kau akan mendapatkan lebih dari bungkaman itu dariku, Han Cheonsa.. tawaran yang menarik kan? me rong[31]~”

byontae[32]…”

Cheonsa memandang ngeri ke wajah Kris yang sedang tersenyum tersipu sambil pandangannya tetap lurus ke depan. Ia tak punya pilihan lain selain ikut tertawa bersama Kris. Ia mencoba menerima apa yang dikatakan Donghae tadi,  ia akan mencoba menerima kehadiran malaikat baru yang akan melindunginya.. Kris.

Cheonsa melihat satu titik kecil yang paling bersinar di angkasa yang mungkin adalah penjelmaan lain dari Donghaenya..

gomawo Hae-Jussi.. atas semua keajaiban yang kau buat untuk hidupku.. aku menyayangimu, yeongwonhi[33]..” gumam Cheonsa dalam hati.

***

 


[1] Ini sangat menggelikan.

[2] Aku berani bertaruh (sangat yakin)

[3] Lucunya..

[4] Hachiko adalah Patung monumental berbentuk seekor anjing yang terletak di depan pintu keluar Shibuya Eki.

[5] Stasiun kereta api Shibuya

[6] Musim semi

[7] Maafkan aku, jangan marah.

[8] Tak apa-apa?

[9] Apa yang sakit?

[10] Aku.. baik-baik saja. Maafkan aku.. terima kasih banyak.

[11] Syukurlah.

[12] Lain kali lebih berhati-hatilah.

[13]Secara harfiah berarti  melihat bunga. Semacam budaya masyarakat Jepang yang berkumpul untuk melihat bunga Sakura sambil foto-foto, makan, berpiknik, dsb di bawah pohon Sakura.

[14] Haruskah aku berlutut?

[15] Tenang saja, ada aku di sampingmu.

[16] Kenapa?

[17] Gadis nakal.

[18] Dimana?

[19] Tidak mungkin.

[20] Selamat Tinggal.

[21] Siapa? (bahasa mandarin)

[22] Maafkan aku.

[23] Aku merindukanmu.

[24] Apa ini?

[25] Siapa?

[26] Jangan menangis, hapus air matamu sekarang.

[27] Tian shi = Malaikat dalam bahasa Mandarin.

[28] Aku seorang idiot yang hanya melihat dirimu.. Aku mencintaimu.

[29] Tolong jangan bicara lagi (digunakan untuk menunjukan ketika lelah mendengarkan penjelasan seseorang)

[30] Aku tak mau.

[31] Menjulurkan lidah.

[32] Orang sesat/genit.

[33] Selamanya.

***

IJaggys speaking: Hell-o! everyone who visiting this blog or already left or already nausea off haha hari ini aku mau ngumumin pemenang ketiga FF Contest beckhamlovesbadda. Reason aku kenapa milih ini sebagai pemenang ke tiga adalah karena, endingnya Cheonsa berakhir sama Kris! LOL i’m not saying that i’m measure of because HCS will have a big chance for flirting arround with new boy, but i has to do with the words that Karina Citra used in this story. Aku suka gimana Citra ngerangkai semuanya jadi sebuah cerita yang ringan, santai, tapi tetep punya esensi menarik buat di baca. To tell you the truth, i love Han TianShi name more than Han Cheonsa😀 kalo misalnya kalian nanya gimana aku nilai ff-ff yang masuk? aku bakal jawab bahwa aku milih karakteristik cerita yang aku suka, aku gapeduliin gimana tata bahasa kalian, atau tanda baca atau apapun, selama aku suka sama jalan cerita itu aku bakal milih ff itu sebagai pemenangnya. i’m sure everyone who already knows, knows that i’m so obsessed for “i’ll do whatever i want” and “im not trying to pleased everyone.” words. Hahahaha jadi pemenang selanjutnya akan di umumin beberapa hari lagi, dan juga buat Citra i’ll contact you soon talking about the gift^^ any Question sweets? don’t forget to leave some comment, wolfs!

LOVE IT. MEAN IT.

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

5 responses »

  1. kayyin1004 says:

    hueeeeee >.<
    anyway, thanks for choosing me (stranger…friend of ur friends) as 3rd winner, HCS!^^
    i knew my story wasn't ur style, membuatmu sedikit 'tidak normal':D
    Sorry for all typos dan segala tetek bengeknya yang merusak pandangan😄
    btw, hope u happy dengan namja baru pilihan gue… Kris EXO-M ~
    And Kris said to me : Sheng ri kuai le… happy bday… and just forget, Lee Donghae sooner! LOL
    i'll wait for that contact🙂

  2. Ini komen prtm ku d blog ini:) (gaadayangnanyaya) hehehe..
    Ga nyangka bgt ending ny kyk gni….tp keren bgt cheonsa bs pny kenangan sm 2 namja keren ini ^^…
    Hampir nangis wktu adegan donghae mw ninggalin cheonsa tp lgsg bengong pas tw ada kris…..

  3. Han Maeri says:

    Hae-jussi…bawa aku teebang bersamamuuu
    Kereeennn!!!
    Makasih, author-nim ^^

  4. desy4ss says:

    menarik.. bagus.. suka..

  5. fsshy says:

    Halo kak, salam kenal. Ini pertama kali ngomen disini. Ijin baca ff yg lain ya. Maaf ya baru bisa komen. Sedih bacany, kenapa Donghae mati sih, jadi malaikat pula, ga rela cwo setampan itu ninggal. Tapi gpp deh, yg pnting HCS udh ad Kris stlah ditinggal Donghae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s