Some stories open the door for something more. And then there are fairytale endings where the girl gets her prince. And endings that turn you introspective about your own life and your place in the world. And then there’s the ending that you saw coming a mile away, and yet somehow still takes you by surprise. But don’t worry, my Upper East Side friends. This story isn’t ening. We’re just at the start of a brand new chapter

XOXO —Gossip Girl.

 

 

Salisbury’s Mansion

Stuttgart, Germany Heilbronner Straße 88

“Kau yakin ingin pergi sekarang?” tanya Alec setelah mengutarakan keinginannya.

Gabriella mengangguk. Ia tahu bahwa rasa kecewa di hatinya masih terbuka lebar, tapi cepat atau lambat ia harus menghadapi kenyataan pahit yang masih akan menemani hari-harinya di depan.

“As I said, I do not mind you stay here much longer.”

“No thanks. I’m okay.” Jawab Gab tanpa menatap Alec. Gab tahu Alec menatapnya lekat, jadi ia pura-pura memperhatikan Swatch di pergelangan tangannya sendiri untuk menghindari beradu pandang dengan Alec.

Alec akhirnya berkata, “Calvin sudah menyiapakan pesawat pribadi.”

Pintu ruangan itu terbuka dan Cheonsa muncul. Cheonsa mendekati Gab dengan cepat lalu langsung memeluknya erat. “I’ll miss you.”

Air mata Gab langsung keluar. Semua kilasan masa lalu, semua pengkhianatan dan konfrontasi ayahnya lagi-lagi berkelebatan dalam benaknya, membuka kembali luka batin yang masih bersimbah duka. Gab membiarkan air matanya tumpah dalam dekapan Cheonsa.

Cheonsa menatap Gab sambil berkata lembut, “Don’t be sad sweety. Everyone love you, everything will okay and we’ll back together.”

Gab mencoba mengucapkan terima kasih, tapi tidak ada suara yang keluar dari celah di antara kedua bibirnya. Air mata juga mulai terasa kembali berkumpul di pelupuk matanya.

Jari Cheonsa mengusap pipi Gab lembut, menghapus air mata yang mulai berjatuhan. Cheonsa lalu mengecup kening Gab, “Be strong, Gaby..”

“Sebaiknya kau segera bersiap sekarang. Kau bisa pergi setengah jam lagi.” Ucap Alec. Ia lalu menyodorkan satu kartu nama kepada Gab, “Jika kau dan Kyuhyun mengalami kesulitan, hubungi nomor ini kapanpun kau mau.”

Gab menerima kartu nama yang disodorkan Alec dan menggenggamnya erat.

“Selamat jalan, young lady.”, ucap Alec kemudian memeluk Gab.

They say every road comes to an end, but sometimes the end feels just like the beginning. Even when you think you’ve come a long way. XOXO —Gossip Girl

 

Salisbury’s Mansion

Donghae-Cheonsa Room

Cheonsa terbangun sendirian di atas tempat tidur. Terduduk di atas tempat tidur, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian di dalam kamar. Donghae duduk di sofa kecil dekat jendela. Menatap ke jendela yang gelap. Tentunya tetap berbaring di tempat tidur dan memandangi Cheonsa lebih menyenangkan.

Gaun tidur Cheonsa ada di lantai dekat tempat duduk, ia mengambil selimut di ujung tempat tidur dan memakainya. Sehening mungkin ia menyeret langkahnya ke tempat duduk. Donghae mengenakan celananya tapi tidak memakai atasan sama sekali. Sikunya tertanam di pahanya dan dagunya bersandar di kepalan tangannya. Tatapannya benar-benar teraraha ke jendela dingin dan kosong.

“Apa seburuk itu?”

Menatap Cheonsa sekilas, lalu Donghae tertawa dalam, “Tidak. Hanya saja itu mengubah semuanya.  Gabriella dan Kyuhyun pergi ke tempat dimana Andrew atau siapapun tidak bisa menemukan mereka. Kau tidak akan sanggup untuk berbuat sejauh itu.”

Cheonsa berlutut di hadapan Donghae. “Jadi kau pikir aku tidak sanggup? Kau tidak mempercayaiku?”

Donghae menggelengkan kepalanya, “Aku sangat ingin mempercayaimu, Choensa..”

“Tapi kau tidak.” Lalu Choensa bertanya, “Jadi kau seperti ini hanya karena aku tidak mau menikah?”

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Donghae menggenggam gaun tidur Choensa. “Mengapa kau tidak pernah meninggalkan barang-barang Anna Sui-mu?”

“I always need it.”

“Why?”

“Karena aku takut terliaht jelek.”

Jemari Donghae menyapu turun ke pipi Cheonsa.

“Tidak ada yang bisa membuatmu jelek.”

“Why you keep saying a sweet word now, player?”

Dengan kekehan kecil Donghae berkata, “You’re the only one that allowed to hear other than my mom.”

“Maybe we can invite your mom when the baby’s born.”

Donghae menyipitkan matanya, “Apakah kau tidak akan menyesal setelah apa yang terjadi?”

“Tidak sedikitpun.”

“Apakah kau menginginkan sebuah pernikahan, Cheonsa?”

Cheonsa memutar bola matanya, “Close your mouth. I’ve said, I’ll have this baby. And this is enough.”

Donghae terdiam sejenak lalu berkata, “Okay. After that, let me take you back to mine.”

Lalu Donghae mangangkat Cheonsa dengan lengannya dan menggendongnya ke tempat tidur.

Maybe it’s not blood bonds that make us a family. Perhaps it’s the people that know us and love us anyway. So we can finally be ourselves. XOXO —Gossip Girl.

Salisbury’s Mansion

Library

Duduk di perpustakaan, membaca buku, memunggu Choensa selesai bersolek untuk pergi ke pesta, Donghae berfikir keras. Ia tidak pernah membayangkan dampak dari mencintai seorang putri keluarga Han begitu besar. Semakin larut dalam lamunannya. Ia dapat melihat tekanan yang langsung terpancar di wajah Cheonsa ketika Gabriella menginggung soal hubungannya dengan Harold Han. Donghae tersadar akan tanggung jawabnya atas hal ini. Gabriella benar, mungkin seharusnya Cheonsa tidak terlibat dalam skenarion pelarian mereka.

Sadar bahwa Cheonsa akan segera datang, Donghae sengaja tidak menutup pintu perpustakaan, agar suara derap langkah Cheonsa terdengar sebelum masuk ke ruangan.

Cheonsa sangat mempesona dengan gaun sutra berwarna lavender yang berpotongan leher rendah yang memperlihatkan keindahan bahunya. Sirkam berhiaskan mutiara dan hiasan kecil menambahkan keindahan tatanan rambutnya.

Stop looking at me like that Lee Donghae.”

“I just….” ucap Donghae, “You’re such a beautiful thing.”

“Oh Tuhan.” Cheonsa memutar kedua matanya.

Donghae merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotar berwarna silver. Ia menyerahkannya begitu saja kepada Cheonsa.

“Kau menyogokku agar aku mau berkencan denganmu Tuan Lee?”

Cheonsa membuka kotak itu dengan cepat. Di dalamnya terdapat gelang yang berhiaskan batu safir. “Beautiful.” Ucap Cheonsa terpukau.

Cheonsa mengeluarkan gelang itu dari kotaknya.

“May I….” ucap Donghae, mengambil gelang itu dari tangan Cheonsa dan memakainya di pergelangan tangan Cheonsa.

“Aku akan membunuhmu jika kau menghilangkannya. Jaga baik-baik jika kau masih ingin hidup.”

Cheonsa mundur selangkah dan membelakkan matanya.

“Mungkin aku akan membunuhmu lebih dulu.” Ucap Cheonsa dengan tidak sabaran.

Donghae terkekeh dan menarik Cheonsa dalam rangkulannya.

Rise and shine, Upper East Siders. It’s time for your annual checkup. Lucky for you, doctors take their confidentiality seriously around here. XOXO —Gossip Girl.

Restaurant

Schlossplatz Tunnel 1, Stuttgart

Cheonsa tahu bahwa tidak pantas jika ia terpana, namun ketika ia melihat ruangan yang telah Donghae siapkan untuk pertama kalinya, ia tak dapat menahannya. Ruangan ini lebih menkjubkan dari yang ia bayangkan. Kandelir kristal dihiasi dengan ribuan lilin. Bunga-bunga mengharumkan seluruh ruangan, dan semua bunga yang ada di ruangan ini tumbuh subur di Jerman. Selain banyak hal yang membuat Cheonsa terpukau, cermin yang disepuh emas, orkestra yang ada di balkon. Ruangan ini dipenuhi perasaan senang dan gembira. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Hanya kesenangan.

Donghae membawa Cheonsa ke meja yang sudah disiapkan di dekat pohon palem yang telah dihias.

Cheonsa Side

“Guten Abend, Herr Lee und Frau Han.” sapa seorang maid berambut merah dengan aksen Jerman yang begitu kental. Entah hanya perasaanku atau memang benar bahwa pria ini memandang maid itu dengan tatapan ketertarikan.

“Bitte bringen wir was ich bestelle.” [tolong bawakan kami apa yang sudah aku pesan]

“Einen moment, bitte.” [tunggu sebentar]

Aku hanya mendengus malas, “So, jadi seleramu hanya sebatas itu?”

Aku bisa merasakan Donghae yang duduk di hadapanku memandang heran ke arahku. Keningnya berkerut tanda tak mengerti apa yang aku maksud.

“Jadi aku benar?” Tanyaku sedatar mungkin.

“Kau memang masih anak kecil,” dengus Donghae sambil tersenyum tipis.

Aku tahu, aku memang masih dua puluh tahun, dan pria ini berumur hampir dua puluh enam tahun. Walau tak bisa dipungkiri, pesonanya mampu mengikat ribuan wanita dengan rentang usia yang cukup ekstrim.

We’ll prove it later, who was a child when in bed.” Balasku menyeringai. Donghae tersenyum meremehkan ke arahku.

“Who said I will compete in the bed with you?”

Aku menyeringai lebar, mulai merasa muak dengan sikapnya. Entahlah, melihat ia bertingkah dihadapan maid tadi membuatku mood-ku hancur, atau mungkin bayi dalam perutku benar-benar tidak menginginkan dad-nya lagi.

“Jadi apa yang kau inginkan Lee Donghae?” Ku tekankan intonasiku saat menucap namanya, “ironis jika hanya untuk melihatmu berkencan dengan para maid disini.”

Ia tak membalas ucapanku, malah mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari balik jasnya.

“Menikahlah, denganku.” Pintanya sambil membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah cincin bermata emerald ke arahku.

Kedua bola mataku membulat secara sempurna. Lelucon macam apa yang dipertunjukan pria ini?

“Kau belum menjawabku, Han Cheonsa.”

Aku memandang lekat kedua matanya. Mencoba mencari celah kebohongan yang tersirat atas ucapannya. Nihil, kedua matanya malah semakin menegaskan bahwa yang baru saja ia ucapkan adalah kejujuran.

“Apa yang menyebabkan aku harus menerima tawaranmu?”

“Tawaran?” ia menaikkan alis kanannya, “Ini lamaran, Han. Bukan tawaran.” katanya sambil terkekeh kecil.

“Whatever.  Kau tahu aku tidak berencana untuk menikah. Setidaknya dalam waktu dekat. Kau membuatku gila.”

“Akan lebih gila lagi jika aku tak menikahimu setelah kau mengandung bayiku. Aku berani bersumpah, jika orang lain tahu, kita akan menjadi headline di halaman depan setiap surat kabar.”

Aku mendengus, “Lakukan sesuatu agar mereka menutup mulut mereka, bodoh.”

“Aku akan dengan senang hati melakukan konfrensi pers tentang hal ini.”

Aku kembali tercengang atas penuturan pria ini. Sial! Kenapa aku tak sadar dengan predikat brengsek yang disandangnya. Lee Donghae. Pengusaha muda yang sukses, dengan kekayaan yang tak kan habis dan penuh dengan deretan skandal.

“I knew you would accept me. Setelah itu kau akan ikut bersamaku dan tinggal di London. Kita tidak harus lagi bersembunyi dari dad-mu.”

“Kau bisa mencari wanita lain.”

“Nona Han Cheonsa, aku tidak akan memilih secara sembarangan wanita yang akan ku nikahi.” Katanya dengan datar. “Aku tahu segala hal yang akan membuatmu menerima lamaranku.”

“Kau benar-benar setan, Lee Donghae.”

“Dan setan hanya akan memilih setan yang lain untuk bekerja sama dengannya.”

Aku tersenyum tipis. Pria ini memang setan. Dan aku tahu, kadang aku menyukai setan seperti dia. Mulutnya, wajahnya, tatapannya, adalah racun. Aku berpikir sejenak. Jika aku menikah dengannya, aku tak perlu lagi menghindari dad. Dad akan menerima bayi ini.

“I need aprenuptial agreement.”

“Aku tidak akan membuatmu terlantar.”

“Jaminannya?”

“Okay. You win. Seluruh surat perjanjian telah aku siapkan di kamar. Kau bisa membacanya sebelum menandatangani perjanjian itu. Tapi jangan pernah berpikir bahwa ini pernikahan kontrak. Kau…”

Donghae berdiri dan berjalan mengitari meja menuju tempatku duduk. Ia merendahkan suaranya sambil mencondongan wajahnya tepat ke telingaku, “adalah istri seumur hidupku. Aku melarang kau untuk jatuh cinta pada pria lain.” Ia kembali pada posisi semulanya dan tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja.

“Kau begitu menggoda, Lee Donghae. Dan… Apa jaminannya aku tak akan mendapatkan perlakuan yang lebih buas darimu?”

Ia tertawa, “Kau pikir apa yang membuatku melewatkan wanita semolek dirimu, Han Cheonsa?”

Aku hanya mengernyitkan alisku mendengar penuturannya.

“Harus aku akui, saat ini kau bukan prioritas utamaku, Han. Aku lebih suka sesuatu yang ada dalam perutmu.” Ia menyeringai. Dan aku? Aku kembali tercengang dibuatnya.

BAYI INI MEREBUT POSISIKU

Malam ini benar-benar penuh kejutan bagiku.

“Kalau begitu, kedua setan akan menandatangi kerjasama malam ini.” Kataku sambil tertawa.

Aku tidak ingin menikah, dia selalu ingin cepat menikah. Dan aku, menyukai pernikahan yang ia tawarkan.

And you often find, what you least expect is right in front of you. Waiting to change everything forever. Whether you want to or not. XOXO —Gossip Girl.

MetLife Building

200 Park Avenue Midtown Manhattan, NYC

Jaejoong meremas lembaran penge-check-an E-Mail Cheonsa yang baru saja dibacanya, rahangnya mengatup erat. E-Mail itu ditujukan kepada Dorota pelayan setianya, namun ia telah menyadap seluruh system pada setiap account yang dimiliki Cheonsa. Apakah ia harus memasukka akal sehat ke dalam kepala Cheonsa yang kosong itu dengan kekerasan? Apa Cheonsa berpikir bisa terus-menerus melawan Harold Han tanpa konsekuensi sama sekali?

Jaejoong memegang tengkuknya, menggosokkan tangannya kuat-kuat untuk menghapus perasaan tak nyaman yang dirasakannya. Cheonsa sudah kehilangan akal sehatnya. Ketika ia melihat bagaimana Harold Han mengonfrontasinya, wajah Cheonsa memucat, namun dengan cepat ia mendapatkan kembali keberaniannya. I need him more than I need to sleep.

Jaejoong sudah lelah dengan semua ini. Cheonsa tidak pernah menginginkan pernikahan, dan ia tak mengerti apa yang harus dihadapinya setelah terikat dalam suatu pernikahan. Jaejoong menggosok lehernya lebih keras. Ia telah mengatakan kepada Cheonsa, dengan tenang dan sederhana, apabila ia tetap berhubungan dengan Lee Donghae, Harold Han akan membunuh Donghae saat itu juga. Dan Harold Han selalu serius dengan kata-katanya.

Jaejoong kembali membaca E-Mail yang ditujukan kepada Dorota itu lagi. Berjanji, ditengah-tengah kesulitan yang ia dapatkan dari dad-nya, ia akan mencari cara untuk membawa pergi Dorota bersamanya. Jaejoong tidak mengerti mengapa Cheonsa tak bisa melihat sudut pandangnya dalam hal ini.

Betapa ia membenci Harold Han. Sungguh mengerikan bagi Jaejoong ketika mengingat bagaimana ia telah terikat pada Harold Han akibat perjanjian yang ia sepakati dua tahun lalu. Terkutuklah, ia bertingkah seperti seekor anjing yang akan selalu patuh pada majikannya. Jaejoong yakin, ia akan berlutut dan memohon agar Harold Han mau membebaskannya dari jeratan hukum. Tapi, persetujuan itulah yang membuatnya jatuh terjerembab dalam permain Harold Han. Mungkin menghabiskan masa muda di penjara akan menjadi pilihan yang jauh lebih baik.

Jaejoong menjatuhkan kepala dan tangannya yang tergeletak di atas meja kerjanya dan menutup mata. Andaikan saja dia bisa tidur satu atau dua jam tanpa memikirkan pria tua itu. Atau kegilaannya terhadap Cheonsa. Atau juga perasaan bersalah kepada Gabriella  yang mulai lmenghantam hati kecilnya.

Sentuhan tangan dingin dan lembab mengejutkannya. Jaejoong terlonjak, mengerjap-ngerjap matanya dengan cepat akibat cahaya yang menyilaukan, berusaha memfokuskan pandangannya yang berair pada sosok Katy, yang menunggunya dengan sabar sambil menatapnya dengan ekspresi bosan. “Apa kau tidak bisa mengtuk pintu?” kata Jaejoong kesal.

“Aku sudah melakukannya, tapi tidak ada jawaban selain suara dengkuran.”

Jaejoong menatap tajam gadis berambut coklat itu, “Apa yang kau inginkan?”

“Tuan Harold Han ingin menemuimu.”

Hebat sekali. “Biarkan dia masuk.” Gumam Jaejoong, mendorong badannya ke sandaran kursi dan bersusah payah merapikan pakainannya.

“Kau ingin aku menyiapkan wine?”

Jaejoong terkekeh mendengarnya. Inilah Katy, kesopanan berada diatas segalanya, bahkan ketika seorang pria siap membunuh tamunya.

“Tentu saja. Kalau perlu kau sajikan makan malam untuk kami. Bagaimana?”

Katy tidak menjawab maupun tersenyum ketika keluar dari ruangan ini.

Jaejoong sedang berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Manhattan di malam hari ketika Harold han masuk ke ruang kerjanya. ini adalah pertama kalianya pria tua itu mengunjunginya di luar jam kantor, dan sudah dipastikan jika hal yang akan ia dengar adalah sesuatu yang buruk. Tentu saja, dan akan selalu seperti itu.

Perawakan agung dan lumayan tinggi. Rambutnya yang kelabu ditata dengan gaya Yunani yang ringan, sesuai dengan gaya pria yang gemar bersolek. Wajahnya yang tampan menunjukkan tegegangan, terlihat jelas di sekitar mata dan di antara alisnya. Matanya berwarna biru keabu-abuan menyapu Jajoong dari ujung rambut hingga kakinya.

Bibir Harold Han membentuk senyum curiga. “Well,  Tuan Kim, kau tidak terlihat baik. Ah, mungkin kau sedang merindukan teman-temanmu? Seharusnya kau bersama mereka, setidaknya jika kau tidak berkhianat. Mari kita berandai-andai, bagaimana jika mereka memaafkanmu? Apakah kau akan kembali bersama mereka? Aku rasa tidak. Aku memiliki hak penuh untuk memintamu melakukan apapun setelah apa yang aku lakukan untukmu.”

Baiklah, Harold Han tidak memerlukan sopan santun. “Kalau begitu, katakan.” Jaejoong menjawab dengan datar. “Aku akan melakukannya.”

Dengan tawa menghina, Harold Han berjalan mantap memasuki ruangan itu. “Kau terlalu yakin pada dirimu sendiri. Kau telah mempermalukkan aku. Percayalah padaku, kalau aku akan menembakkan peluru menembus jantungmu yang busuk itu, dan tak ada seorangpun di Manhattan yang akan menyalahkanku.”

“Aku tidak mempermalukan Anda, tuan Han.” Kata Jaejoong tenang. “Putri Anda yang melakukannya.”

Seluruh warna menghilanng dari wajah Harold Han, “Jangan memaksaku, Kim Jaejoong.”

“Dan jangan mengancamku,” jawab Jaejoong dengan suara rendah. “Kalau Anda menginginkan sesuatu, katakanlah.”

Harold han mengatupkan bibirnya, menekannya sangat kuat sehingga hanya terlihat segaris tipis. “Aku memintamu untuk menjadi seorang pria terhormat. Kau telah mengenal putriku sejak kecil, kau bahkan pernah menjadi pelindung baginya,” rasa jijik terpancar dari mata Harold Han ketika ia berbicara, “dan aku berharap kau cukup berkenan untuk melakukan hal yang tepat. Aku memintamu.. memohon padamu.. jangan biarkan ia mengandung dan menikahi putra dari keluarga Lee.”

Padangan Jaejoong terkunci pada Harold Han ketika pelan-pelan ia memasukkan tangan ke sakunya dan bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki.

“Aku sudah menawarkan pilihan itu, tapi putri Anda menolakku. Sepertinya ia membenciku.”

Hal itu jelas-jelas baru bagi Harold Han. “Dia memiliki cara yang unik untuk menunjukannya,” gumamnya. Harold han berjalan mendekati jendela.

“Dia sudah hancur, Jaejoong. Dan Lee yang menghancurkannya. Pagi ini seluruh media memberitakannya. Rumor yang beredar sangat buruk.. aku yakin kau akan mengerti apa artinya kalau kukatakan berita ini sudah mencapai seluruh penjuru negeri. Kau tahu betul siapa aku dan kedudukan keluargaku.” Ia melirik Jaejoong dari sudut matanya.

Jaejoong mengangkat tangannya, menggosok sambungan antara leher dan bahunya.

“Aku memohon kepadamu untuk bersikap selayaknya seorang teman dan pria yang terhormat.”

“Aku mengerti posisi Anda, tapi Anda juga harus memikirkan posisiku. Cheonsa telah menolak tawaranku.” Dengan lelah ia mendorong badannya hingga terduduk di kursi kerjanya.

“Kau akan melakukannya.” Harold Han cepat-cepat menyerangnya.

“Kalau aku setuju, tapi tidak demikian dengan Cheonsa.”

Harold Han mengendus meremehkan. “Pilihan apa yang dimilikinya? Perbuatan bodohnya akan menjadikannya tawanan di kediaman Lee. Ibu pria itu akan dengan senang hati menerima Cheonsa sebagai budaknya. Tidak akan dibiarkan pergi keluar, tidak boleh menemui siapun dan tidak akan diundangan ke manapun. Cheonsa tidak punya pilihan.”

Jaejoong mencoba membayangkan Cheonsa di rumah Lee Donghae, terjebak dalam pembalasan dendam Mrs Lee atas pengkhianatan suaminya dengan Eleanor Han.

“Kau tahu, walaupun kalian menikah, bukan berarti kalian harus tinggal satu atap.”

Kepala Jaejoong terangkat mendengarnya, ia menatap curiga ke arah Harold Han. “Apa maksud Anda?”

Harold Han mengangkat bahunya pelan. “Pernikahan kalian tidak akan menjadi pernikahan sungguhan. Kalian akan menjalani hidup terpisah dalam segala hal.”

Jaejoong mengerjapkan matanya. Tak pernah sedikitpun muncul dalam benaknya untuk menikah dengan cara seperti ini. Dan karena itu, tak pernah juga terbayangkan olehnya pernikahan nantinya hanya berupa status saja. Tetapi, situasinya saat ini sangat buruk. Ia harus mempertanggung jawabkan bayi Lee Donghae, dan ia tak dapat mengulang waktu untuk mencegahnya, dan ia tahu bahwa Cheonsa akan sangat membencinya.

Jaejoong memutar kepalanya, memandang Harold han. “Jika aku setuju, apakah aku bisa mendapatkan sesuatu yang khusus?”

Kelegaan tergambar jelas di wajah Harold Han. “Tentu saja,” kata Harold Han cepat. “Jadi kau akan melakukannya?”

Jaejoong mengangguk, sambil menelan gelombang ketidakpastian yang terasa menyumbat tenggorokannya.

Harold Han berbalik dan berjalan menuju pintu. “Kau melakukan hal yang benar, Kim Jaejoong. Tak ada seorangpun yang bisa menyalahkanmu karena melakukannya.”

They say misery loves company, but sometimes it’s the company that makes you miserable. But nothing’s worse than company that overstays their welcome. Good luck, KJ. Have fun being the hostess with the mostest. XOXO —Gossip Girl.

 

Salisbury’s Mansion

Diner Time, Dining Room

Sepertinya Cheonsa meragukan kesetiaan Donghae atau bahkan keseriusannya sendiri.

Melalui bulu matanya, Cheonsa memandang calon suaminya yang sedang berbicara santai dengan Alec  ̶seolah-olah mereka baru saja bertemu.

Beberapa jam setelah Cheonsa mengirim E-Mail kepada Dorota, entah bagaimana caranya dad-nyalah yang membalas E-Mailnya. Memaksanya untuk kembali ke Manhattan sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Oh, dad-nya sangan hebat dalam melakukan itu  ̶ awalnya, ia membujuk dengan manis, lalu mengancamnya, kemudian bersumpah atas nama ibunya dan akan membuat hidup Cheonsa bagaikan di neraka. Dad-nya mungkin akan menggunakan apapun yang bisa dipikirkannya, tapi dengan berani Cheonsa menolaknya, merasa yakin dirinya mampu mengendalikan keadaan. Dad-nya mungkin tidak tahu dari sekian banyak ancaram yang dilontarkannya, ancaman mana sebenarnya yang berhasil menimbulkan keraguan dalam diri Cheonsa. Bukan ancaman atas masa depan dirinya yang akan dikucilkan dari keluarga Han, melainkan ancaman akan melucuti semua tunjangan dan fasilitas yang dimiliknya  ̶ melucuti kemampuannya sebagai Queen Bee.

Dalam keadaan kalut sambil bercucuran air mata, Cheonsa nyaris menyetujui permintaan dad-nya. Dan ketika kata-kata itu nyaris meluncur dari mulutnya, dengan segera ia duduk dan menulis E-Mail kepada Kim Jaejoong. Di bawah tekanan dad-nya dan air mata yang membutakannya, Cheonsa menuliskan pesan singkat bahwa ia membutuhkan Perlindungan dari Jaejoong.

Keesokan harinya, Jaejoong membalas E-Mail dam menanyakan keberadaanya, namun Cheonsa bersikeras merahasiakannya. Dalam beberapa E-Mail yang di tulis Jaejoong, satu diantaranya berhasil meyakinkan Cheonsa untuk tidak menikah dengan Donghae. Ya, Jaejoong terlalu menganal Cheonsa, mengetahui denga pasti bahawa Cheonsa tidak menyukai suatu ikatan di atas sebuah pernikahan.

Setelah menikmati makan malam, anggota keluarga Salisbury berkumpul di ruang tamu yang didominasi warna emas, sementara Donghae tetap tinggal bersama Calvin di ruang makan. Eugenie, putri angkat Alec dengan hati-hati mendiskusikan mengenai detail resepsi sederhana untuk hari pernikahannya. Dan ketika Donghae akhirnya bergabung dengan mereka, Cheonsa dengan pandai berhasil menghindari percakapan langsung dengan Donghae  ̶Donghae yang selalu peka terhadap hal-hal yang ada dalam diri Cheonsa.

Cheonsa bisa merasakan mata Donghae diam-diam mengawasi setiap gerak-geriknya. Bagaimana bisa aku berfikir untuk menikah? Berjalan menuju altar bersamanya? Berbaring setiap hari di tempat tidurnya? dan…

Rasa ngeri menerjang Cheosna, membekukan tulang-tulangnya. Untuk kesekian kalinya, Cheonsa mengingat pernikahan Anne. Bagaimana sepupunya itu berjalan di sepanjang lorong gereja bersama sang ayah, dan Louis yang terlihat bahagia menunggunya di altar.

Hentikan!  Cheonsa menutup matanya sejenak untuk mendapatkan kembali kesadarannya. Ia  bukan gadis tujuh belas tahun, Cheonsa sudah belajar mengenai laki-laki, misalnya apa itu pria dan apa yang sebenarnya pria inginkan dari wanita, dan mengetahui bagaimana pria dengan gampangnya menyenyahkan wanita dari hidup mereka jika mereka menghendakinya. Yang Cheonsa tahu adalah wanita sebagai budak pernikahan. Dan ketika memandang Donghae dari sebrang ruangan, Cheonsa yakin bahwa calon suaminya itu adalah perwujudan terburuk dari semuanya. Karena Donghae adalah jenis laki-laki yang mampu membuat wanita menuruti semua keinginannya tanpa melibatkna hatinya.

Lebih buruknya lagi, Cheonsa sadar kalau dirinya menrupakan salah satu dari wanita itu, yang dengan mudahnya terjatuh dalam pesona Donghae.

Donghae berjalan melintasi ruangan, Cheonsa berdiri sewaktu Donghae mendekatinya. Donghae mengatupkan tangannya di balik punggung Cheonsa. “We need to talk.” Kata Donghae pelan.

Dengan tenang Cheonsa berjalan keluar dari ruangan itu. Cheonsa berbelok ke arah timur, manum Donghae segera menyentuh bagian bawah punggung Cheonsa dan berputar menghadapnya.

Donghae tak bisa menahan senyumannya. “Calm down sweet heart.”

Cheonsa tidak bisa tenang. Donghae memandang pelayan yang berdiri di dekat pintu dan menyusirnya dengan anggukan.

“Aku… aku tidak b isa melakukan ini.” Ujar Cheonsa ketika pintu sudah tetutup.

Suara Cheonsa yang cemas mengiris hati Donghae, seketika itu juga ia serius. “Hey, you don’t know what are you talking about.”

“Apakah tidak ada jalan lain? Aku akan tetap melahirkan bayi ini dan berada disisimu.” Sembur Cheonsa dengan panik.

“Sayangnya aku menginginkan hal itu.”

Pipi Cheonsa sedikit memerah, lalu melipat tangan dengan erat di perutnya. “But I’m not. I change my mind.”

“Tidak.” Ujar Donghae tegas. Dongahe berjalan tanpa arah rumah kaca. Tak ada lagi yang bisa dikatakannya. Donghae merasa terpukul karena Cheonsa tidak menginginkan pernikahn ini.

Donghae mendengar sebuah suara dan langsung tersentak, Cheonsa menekankan tangan ke mulutnya dalam usahanya menahan tangisan. Ia memutar badannya menjauhi Donghae, dengan cepat Donghae menghampirinya, berusaha memeluknya walau Cheonsa mendorongnya. “Oh please Cheonsa,” Ucap Donghae tak berdaya. “semuanya baik-baik saja.”

“I’m afraid.”

“I know.”

“Aku tak punya hak untuk mengatakan apapun, tapi demi bayi ini aku bersumpah aku menginginkan bayi ini. Tapi aku mohon jangan paksa aku untuk melakukan hal itu, bagaimana jika apa yang terjadi dengan dad-mom terjadi pada pernikahan kita nanti?”

Donghae mengernyit, atas menyesal atas semua yang dirasakan Cheonsa. Merasa mengerti dengan rasa ketakutan Cheonsa terhadap pernikahan. Cheonsa tiba-tiba mengangkat kepalanya dan dengan marah menghapus air matanya.

“Baiklah, aku tidak akan menangis. Aku hanya memiliki beberapa pertanyaan.”

“Tentang apa?”

“Akan seperti apa hubungan kita setelah menikah?”

“Maksudmu?”

“Kau tahu…. kita. Maksudku, ini.” Cheona buru-buru mengoreksi, menunjuk liar ke seluruh penjuru ruanga. “Apakah kau akan menerapkan beberapa larangan terhadapku?”

“Larangan?” balas Donghae, mengulang kata-kata itu seperti orang tolol, tak yakin dengan apa yang dipikirkan gadis itu.

Cheosna memandang ke atas sambil mendesah, lalu menghapus air mata yang tersisa dari bawah matanya. “Kau tak membuat semuanya lebih mudah, Lee Donghae.”

“I’m so sorry, but I don’t understand what you mind.”

“Apa kau akan menghalangi kebebasanku?

Tanya Cheonsa sambil bergera kesal. “Menentukan kemana aku boleh pergi atau kemana aku tidak boleh pergi, siapa yang boleh dan tidak boleh aku temui.”

Tidakkan ini semakin hebat? Cheonsa menuduh Donghae sebagai seseorang yang akan memenjarakan istrinya kelak. “Itu menggelikan Cheonsa. Kenapa kau mau aku membatasi kebebasanmu? Kau boleh melakukan apapun semaumu.”

“Okay. And may I back to Manhattan?” tanya Cheonsa skeptis.

“Aku lebih suka mengasumsikan kalau kau akan tinggal bersamaku, di manapun itu nantinya. Apakah aku meminta terlalu banyak?”

Cheonsa mengedipkan matanya, “Jadi kita tidak akan tinggal di London?”

“Han Cheonsa,” kata Dongha edengan tidak sabar, “aku ingin kita hidup bersama selayaknya suami-istri, di tempat dan waktu yang sesuai bagi kita berdua, entah itu di London atau Manhattan. Dan kupastikan kau aku tidak akan menelantarkanmu atau mengusirmu.”

“Kalau begitu, there’s one more thing” Tambah Cheonsa pelan.

“What?”

“Apakah kau… akan memberiku tunjangan?”

Donghae mendengus. “Tidak. Aku bermaksud menjadikanmu miskin.” Jawaban sarkastik yang diberikan pria itu membuat Cheonsa kembali bingung, dan dengan tidak sabar, Donghae bergerak menuju pintu. “Tentu saja aku akan memberimu tunjangan, Han Choensa. Aku akan menyediakan apapun yang kau inginkan. How much do you want…?

“Seratus ribu dollar?” Choensa buru-buru memotong ucpan Donghae.

“Per bulan?” tanya Donghae tajam.

“Per minggu?” tanya Cheonsa dengan lembut.

Luar biasa, tapi apa pedulinya? Donghae sanggup memenuhi permintaan itu, tentu saja. Kalau  itu membuat Cheonsa puas, dan tetap berada di sisinya.

“Baik. Dan mari membuat kesepakatan untuk hidup bersama dengan damai, keberatan?” ucap Donghae.

“Kau serius, bukan?” tanya Cheonsa, suara Donghae terdengar ragu. “Coba kukatakan…” Cheonsa memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk berkonsentrasi, “adalah selama bertahun-tahun ini, aku sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya.”

Donghae menyipitkan matanya, menunjukan perasaan tak senang. “Kau sudah mengenal siapa aku yang sebenanrnya selama bertahun-tahun.” Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan.

“Ah…..iya.” jawab Cheonsa, terdengar kurang yakin.

“So, who am I?”

Sekarang bukan waktunya untuk menyembunyikan sesuatu, pikir Cheonsa, dan bergumam. “Pria  brengsek.”

Ekspresi matanya menggelap. Perasaan panik yang tak masuk akal mulai menyergap Cheonsa.

“We need to talk, Han Cheonsa.”  Kata Donghae dengan marah, lalau menangkap pergelangan tangan Cheonsa, menariknaya cepat menuju rumah kaca yang terletak di sudut taman.

Di pertengahan jalan, Donghae menyeret tubuh Cheonsa lebih cepat, lalau menariknya ke sisi tubuhnya, mencengkram erat pinggang gadis itu dengan lengannya yang kuat.

“Aku menyimpulkan kau bukan hanya malaikat pencabut nyawa, tapi juga sangat bodoh dalam hal-hal tertentu. Dan biar kutambahkan, penemuanku ini sungguh mengherankan, mengingat bagaimana kau menumbangkan setiap pria ke manapun kau berjalan, seperti biji catur.”

“What?” seru Cheonsa terengah-engah ketika Donghae meraih pintu rumah kaca itu dan mendorongnya hingga terbuka. “No, I’m not!”

“Oh come on.” Kata Donghae, mendorong Cheonsa melewati bagian depan rumah kaca, lalu mengikuti tepat di belakangnya. “Aku bisa menuliskan daftar pria itu jika kau mau.” Lanjutnya tajam, lalu menutup pintu dengan kakinya. “Kim Jaejoong, Yang Seongho, Spencer Lee…”

“Oh!” Cheonsa berteriak, merasa terhina karena di anatara pria itu, Donghae menyebutkan nama Kim Jaejoong. “Kim Jaejoong tidak pernah melakukan apapun pada diriku. Dia melakukan sesuatu untuk melindungiku!”

“Maafkan aku Lady Cheonsa,” kata Donghae, membungkukkan tubuhnya dengan gerakan mengejek, “Aku juga bermaksud menambahkan Andrew Choi. Atau bahkan…..”

“Okay, fine!” potong Cheonsa, menekan keningnya dengan telapak tangan. “Sejujurnya aku tidak mengerti apa inti dari semua ini.”

“Intinya adalah,” suara Donghae terdengar lebih lembut, “aku telah mengakui kalau aku tak bisa mengeluarkanmu dari kepalaku, dan kau menjawabnya dengan prasangkamu yang berasal dari kesalahanku di masa lalu. Karena kejadian itu, kau mengecap aku sebagai pria brengsek, dan kupikir kau tidak tahu sedikitpun seperti apa pria brengsek itu.”

“Aku tahu seperti apa pria brengsek itu.” Jawab Cheonsa lambat. “Aku tahu apa yang telah kau lakukan, kau dan Jenny Humphrey…” tenggorokan Cheonsa terasa sesak, ia tak ingin memikirkan tentang hal itu sedikitpun saat ini.

Donghae tterdiam cukup lama, tak mengatakan apapun. “Aku mohon pada Tuhan agar apa yang baru saja kau katakan tidak seluruhnya benar.” Bisik Donghae.

“Tapi itu tak mengubah apapun,” bunyi kerikil terdengar dari bawah sepatu Donghae ketika ia bergerak mendekati gadis itu. Cheonsa mendongakkan kepala kepalanya ketika Donghae terlalu dekat dengannya, meraih tangannya dan menggenggamnya. “Dan tentunya juga tak mengubah kenyataan bahwa aku tak bisa berhenti memikirkanmu.” Lanjut Donghae sambil mengelus rambut Cheonsa dengan buku jarinya. “When the sun rises, I think of you. When the sun goes down, I still think about you. And every second of them.”

Walaupun kata-kata yang didengarnya keluar dari mulut Donghae yang sentimental, dan karenanya sangat tidak masuk akal, namun jantung Cheonsa berdebar-debar, sangat kuat sehingga ia takut debaran itu akan membunuhnya.

Jari-jari Donghae memainkan helaian rambutnya yang menjuntai. Bergerak menuruni leher dan pundaknya, mengelus lembut kulitnya.

“I don’t want to believe you.”

Donghae tak mengatakan apapun, membakar Cheonsa dengan tatapan mata. Tangan Donghae menyentuh tengkuk Cheonsa, menarik gadis itu mendekat. Donghae menciumnya dan membuatnya gila. Seluruh jiwa raga Cheonsa menginginkan Donghae seperti dirinya membutuhkan udara segar untuk bernapas.

You’re afraid to trust me.” Dengan lebut Donghae meletakkan tangannya di punggung Cheonsa dan menrik gadis itu ke dalam pelukannya. Donghae menelusuri bibir Cheonsa dengan jarinya. “You’re afraid to marry with me.”

Donghae benar. Cheonsa takut pada kilatan gelap di mata dan mulut Donghae yang menggoda. Pada bisikan pria itu yang merenangkapnya, membuatnya terombang-ambing di anatara  gairah dan kenyataan. Cheonsa bisa merasakan desiran aneh di sekitar perutnya, membuatnya bernapas dengan cepat. Donghae menyapukan jari di bibir Cheonsa, dan ia menyaksikan ketika Donghae merendahkan kepala, mendekatinya, dan tubuhnya tersentak ketika bibir pria itu menyentuh lembut bibirnya. Cheonsa memejamkan matanya. Ini bukan kali pertama mereka melakukannya, namun tetap saja ada reaksi berlebihan yang terjadi pada jiwanya.

Donghae menangkup wajah Cheonsa, menyentuh kulit Cheonsa dengan lembut dan mengirimkan ribuan percikan listrik di sekujur tubuh gadis itu. Donghae menjelajahi bibir Cheonsa dengan giginya, mencicipi bibir itu sesuka hatinya.

Ketika Donghae memperdalam ciumannya, tanpa ragu Cheonsa membalas dan mendorong lidahnya memasuki dan menjelajahi rongga mulut pria itu. Rasa Wine di napas Donghae membuatnya nyaman.

Tiba-tiba Donghae memeluk dan menarik Cheonsa ke dadanya, memeluk lebih erat sementara lidahnya menyerbu memasuki mulut Cheonsa. Donghae mengangkat Cheonsa ke atas meja, dan Cheonsa menjambaki rambut Donghae dengan kedua tangannya. Dengan tidak sabar tangannya bergerak turun ke pundak Donghae untuk merasakan otot-otot pria itu dan berhenti di punggungnya.

Apologies have been made and the security breach fixed. But two weeks later, still not one tip. Apparently no on can hold a grudge like an Upper East Sider. And no one can lie like one either

XOXO —Gossip Girl

 

 

-TBC-

 

 

 

 

 

Lebih dari satu bulan semenjak Chapter 11 di posting.

Yeah, Juli-Agustus-September adalah bulan terberat dalam masa Sprachkurs, ujian ZD Goethe Institut untuk Studienkolleg di Jerman jauh lebih menakutkan dari pada Ujian Nasional, jadi maaf atas ketidak nyamanan ini #lohh  (╥_╥)

Okay, inilah Chapter 12 dengan gaya bahasa yang baru. Masih amatir dan sedikit kacau. Jadi, kalau ceritanya sedikit ngawur yaa terima aja  (っ˘з˘)っ

Terinspirasi oleh novel The Ruthless Charmer.

 

 

Your nobody until you’re talked about— XOXO Gossip Girl

written by:   Gabriella Bianca / @gengie_gege

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

13 responses »

  1. Na says:

    mwoya?? kenapa Spancer Lee masuk list korban.a Cheonsa? O.O jinjjaaa~

    hae bad boy! LOL
    si queen bee kita kek.a trauma y sm sebuah komitmen –> nikah! Oh, poor her. Sabar yah u,u

    sebener.a gue ms blm ngerti sm Gabb. dia itu punya masalah apa sm keluarga Han? ._.

  2. Masalah apa antara Gab atau lebih tepatnya keluarga Smith dengan keluarga Han itu masih rahasia …..

    Your nobody until you’re talked about— XOXO Gossip Girl

  3. chochokpop says:

    OMG han cheonsa dan lee donghae sangat sangat cocok deh..sama” bad! Heheehe
    Peace HCS V^^

  4. Hello ~ xD
    Aku reader baru disini ~~ Hampir semua fanfiction disini sudah ku baca dan maaf baru kasih coment sekarang ._.
    Oke, untuk yang gossipgirl bagian ini aku gabisa ngomong apa-apa, speechless xOx

  5. park heeyoung says:

    makin bingung –”
    cheonsa maunya apa sih?
    knp takut nikah sama donghae?
    trs gab-kyu nasibnya gmn?
    jaejong itu jahatnya terpaksa ya?

  6. cesa says:

    cant wait for the next chap🙂
    buat yg siwon lg dong hehehe

  7. sindii asih says:

    LEE DONGHAE YOUR SO DAMN HOT!
    menumbangkan pria dimana saja?uwoooo 0.o
    voldy trauma,fishy galau kekeke~
    HCS,keeping your bad attitude*slapped ^^v

  8. yosephinelfs says:

    Cheonsa ayolah please terima tawaran donge, masak cwo kaya dia ditolak,
    ayo segeralah kalian menikah.
    Itu jaejongnya mau ngerebut cheonsa lagi yah? -_- dady nya jahat bener.
    Di tunggu next parnya🙂

  9. superddulz7 says:

    mereka Jaejoong ma Mr. Han, masih belum menyarah juga ya…
    aku harap C ga membatalkan pernikaannya. hehehhhe

  10. inggarkichulsung says:

    Waw seru, Aduh ayahnya Cheonsa benar2 benci sama Donghae oppa sampai2 memakai jaejoong yg dipercaya Cheonsa akan menjadi pelindungnya untuk memisahkan Cheonsa dr Donghae oppa.. Please Cheonsa trust Donghae oppa and dont afraid.. Hopefully always good for Cheonsa and Donghae oppa.. Dont patient to watch the next chapter.. Daebak

  11. hyukie says:

    Baru bisa komen setelah ngebut baca dari part 1 hehehe … maaf iya ga komen satu2

    Cerita yg menarik
    Banyak bgt rahasia yg blm terungkap ini, bikin penasaran aja …

    Ayo di lanjut part selanjutnya …
    Aku tunggu hehehehe

  12. ingga says:

    Knp sih mreka mw brsatu kykny susah bgt? Trs knp jg cheonsa kykny tkut bgt unt nikah & brkomitmen?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s