“Berniat melarikan diri?”

Seketika Donghae, Cheonsa terutama Gab tersentak dengan suara itu. Menatap dengan tatapan tidak percaya.

Cheonsa hanya bisa menelan ludahnya. Menatap pria itu dan Gab secara bergantian. Menggelengkan kepalanya berat ketika Kyuhyun menatapnya meminta penjelasan.

 

If you are what you wear, you better dress the part you want. A few lucky ladies can do no wrong. Their looks: perfection. And they’ve got accessories to match. But most girls get tired of the same old look. And they’ll do anything to get the hot new piece on their arm. And then there are those with no vision of their own. Thieves of fashion who will steal the shirt off your back. And always remember, appearances can be deceiving. But whatever you wear, always dress to kill.

XOXO —Gossip Girl

 

 

Gabriella’s Ward VVIP Room 880

Pria itu berdiri dan bersandar ke meja di sebarang ruangan. Tubuhnya cukup tinggi, berwajah oriental dan berpenampilan modern. Di balik jaketnya, ia memakai kemeja putih lengan panjang dan celana jeans.

“Kau.” Sentak Gab dengan jantung berderu. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.

“You need my help.”

Jantung Gab bagai melorot ke lantai dan ia bertanya terbata-bata “Bagaimana kau tau?”

“Tidak penting untuk bertanya hal itu sekarang, walaupun mudah saja untuk menjawabnya.” Jawab pria itu enteng.

“Gab,” Cheonsa akhirnya bersuara. “Apa..” Cheonsa tidak melanjutkan perkatannya ketika pria itu berbicara.

“Oh hallo Nona Han. Berencana kabur bersama nona muda kami? Aku rasa kalian akan membuat sebuah couple run away.

Kyuhyun hendak melangkahkian kakinya mendekati pria itu, tapi Donghae menahnnya dan berusaha untuk memberikan penjelasan dengan tatapan matanya yang seakan berkata semuanya akan baik-baik saja.

Bulu kuduk Gab meremang, benaknya mau tak mau bertanya, bagaimana cara pria itu tau tentang semua rencanya?

Pria itu mengeluarkan satu amplop dari saku jaketnya, lalu melemparkannya ke tempat tidur. “Semua hal yang kau minta, berangkat besok.”

Gab merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Napasnya mendadak seperti terhambat dan seluruh benak dan perasaanya mendadak seperti dicengkram ketakutan yang amat sangat.

“Tunggu!” seru Gab. “I’m just asking. I never ask him to do that. I just…..”

“Just asking?” potong pria itu.

Gab terdiam.

Pria itu menyunggingkan senyuman liciknya. “Berusaha mengelak huh? Kau menghubungi Erk hanya untuk bertanya? Aku sangat yakin kau benar-benar berniat untuk membuat identitas palsu dan meminjam jet untuk melarikan diri.”

“Tapi…. aku benar-benar hanya bertanya!” Seru gab panik.

“Bodoh.” Ucap pria itu dingin. “Benar-benar tidak membutuhkan bantuanku?”

Gab membalikkan badan menatap Cheonsa, Donghae dan Kyuhyun bergantian. Mereka seakan ikut terintimidasi dengan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. Dengan setengah menerawang mengulurkan tangan untuk meraih amplop yang tergeletak di tempat tidur. Ia terpake menatap passport di tangnnya. Choi HyunAh. Nama Korea yang di berikan ibu Andrew setelah beliau resmi menjadi ibu tirinya.

“Listen Gab. I’ll not tell anyone especially Andrew about that. I just want to help you, I know what are you feel now. If you want to run away, do it now. because in two weeks, you will marry LDH.”

Gab terdiam, menatap Cheonsa, Donghae dan Kyuhyun bergantian. Cheonsa hanya menganggukan kepalanya, sedangkan Kyuhyun menarik tangan Gab dalam ganggamannya. Akhirnya ia mengangguk.

Pria itu menekan tombol d telefon genggamnnya.

“Alec? Gabriella is here.”

Pria itu menyodorkan telefon genggam dan Gab menerimanyadengan setengah hati.

“Gab, glad to hear you. How are you, young lady?”

“Fine..”

“You talk with Calvin Chen? How is it?”

“hhmmmm”

“See you soon in Germany.”

Sambungan terputus.

Gab menyodorkan kembali telefon kepada pria itu. Calvin Chen. The boy who was adopted by Alec Salisbury, the younger brother of her mom Margaretta Salisbury. Setelah kematian sang ibu sepuluh tahun lalu, hubungan Joshep Smith dan Alec  memburuk. Setelah saat itu, mereka tidak pernah bertemu.

Calvin menegakkan tubuhnya dan berkata, “A little advice from me, live for every second of it. When in this second life is not on your side, believe in the next moment of life will be better off just with a positive mental conditions like that you can get away from whatever is waiting for you in the future”. [Clio Freya;323].

Gab terpana sejenak menatap Calvin dan akhirnya hanya menggumamkan ucapan terima kasih.

When the battle ends and weapons are put away, new strategies take shape. Soldiers decide to fend for themselves. New alliances are made. But there are casualties. XOXO —Gossip Girl

 

* * *

Begitu Calvin berlalu dan menutup pintu, Gab langsung memeluk Kyuhyun sambil terisak. Apakah keputusannya tepat? Meninggalkan keluarganya untuk menjalani pilihannya sendiri?

Cheonsa menarik gab dalam pelukannya. “Is okay sweetie. I’m here, if that impossible, I’ll go with you to Germany.” Ucap Cheonsa menenagkan.

Tidak ada jalan untuk kembali, Gabriella Bianca, hidupalah untuk setiap detiknya.

Up and at ’em, Upper East Siders. It’s time to awake from your slumber and learn the hard truth. That some nightmares don’t end once we open our eyes. XOXO —Gossip Girl

 

 

 

 

Charles De Gaulle Airport, Paris

A week later

Cheonsa sudah berada di samping ban berjalan, menunggu kopernya keluar.

Dengan gugup Cheonsa melihat arloji Gucci yang elegan yang kini melingkar di pergelangan tangannya.

Kegelisahannya sudah dimulai saat masih berada di Manhattan, saat ia berdiri di ruang kerja Harold Han untuk menunggu izin dad-nya saat ia memutuskan untuk menghabiskan libur musim panasnya di Paris tanpa ada sedikitpun hal berbau pengawasan dari dad-nya. Setidaknya itu akan mempermudah ia untuk melarikan diri ketimbang harus kabur langsung dari Manhattan.

Sepasang anting bulat sederhana bermata berlian dan kalung emas putih dengan liontin mahkota yang juga bertahtakan berlian sudah dipakainya. Riasan tipis  sudah ia ulas ke mukanya seperti apa yang selalu ia lakukan sebagai seorang Han Cheonsa. Semua kosmetik yang dipakainya itu ada di dalam tas sachel Longchamp sportif berbahan kain yang disandangkan di bahunya, bersama passport dan visa imigrasi.

Calvin menelfonnya dan berkata, Ingat Cheonsa. Lakukan semuanya dengan normal. Jalan kebebasanmu adalah dengan bersikap sebagai Han Cheonsa seperti biasanya.”

Cheonsa meraih satu koper berukuran besar dan memindahkannya ke kereta dorong. Ia segera berjalan keluar menuju area kedatangan taxinya menunggu.

Ketika melihat pintu keluar,Cheonsa melambatkan langkahnya dan berhenti sejenak. Menghirup napas panjang sambil menutup mata.

Matanya terbuka.

Good bye dad.

Looks like Cheonsa’s caught in a lie. Guess it’s the truth that’s getting massaged. XOXO —Gossip Girl

 

 

De Crillon Hotel, Paris

10.00 p.m

Cheonsa tiba di depan hotel. Turun dari limosin, Cheonsa berdiri di pelataran dan memandang sekekliling dengan tak acuh.

“Excuse me, I Want to reservation for tomorrow tour.” Ucap Cheonsa sambil menunjuk brochure di tangannya.

“Bonsoir, Fontainebleau Tour? For how many people?”

“Only me.” Jawab Cheonsa sambil tersenyum.

Four hundred sixty Euro.” Ucap sang receptionist.

Cheonsa mengeluarkan uang sejumlah itu kepada receptionist sambil tersenyum jaim.

“May I borrow your passport, Miss?”

Cheonsa mengambil kembali passport yang disodorkan receptionist.

“Enjoy your day. Merci beaucoup.”

* * *

At night

Cheonsa berjalan menuju meja receptionist dan melihat sosok yang ia cari sedang Check-in dan berbicara dengan receptionist.

Dengan jantung yang mulai berdebar, ia berjalan sambil tersenyum hingga ia berdiri tepat di sebelah pria itu. Ia memperhatikan pria itu sejenak. Wajah yang tidak terlalu istimewa, dengan hidung mancung dan mata yang kecil dan tajam, seperti mata elang.

Pria itu berbicara, “Am I already is in a list of tomorrow tour?”

Receptionist memainkan jarinya di keyboard, “Yes and please prepared and assembled in the concierge at 9:00.”

Cheonsa menyela, “9:00? You sure? I just knew that I had to assemble at 10:00. Fontainebleau Tour, right?”

Receptionist  itu mengerutkan kening dan mulai mengecek komputernya lagi.

Pria itu menoleh ke arah Cheonsa, “Ikut dalam tur ini juga?”

“hhmm hanya rekomendasi teman.”

“Calvin Chen. Just call me Calvin.” Sambil mengulurkan tangan.

“Cheonsa. Han Cheonsa.” Jawab Cheonsa sambil memmbalas uluran tangan Calvin.

Receptionist menyelas dan kembali menegaskan bahwa para peserta tur harus berkumpul pukul sembilan pagi.

Calvin tersenyum dan berkata, “Aku pernah ke Fontainebleau, istana yang indah. Kota Fontainebleau yang ada di sekitar istana juga menarik. Selain sangat apik, di sana juga banyak hal unik. A sophisticated Miss like you will find the visit very interesting.”

Cheonsa mengeluarkan tampang ragu-ragu sejenak sebelum mengangkat bahu dengan tak acuh.

Calvin mengucapkan terima kasih kemudia meninggalkan lobby sambil berkata, “See you tomorrow.”

Cheonsa menghembuskan napas ketika ia berbalik dan berjalan menjauhi Calvin. A successful plan.

Goodbye Jaejoong. Hello Eiffel. With Carter out of the picture, it looks like Cheonsa’s making room for Daddy. XOXO —Gossip Girl

 

 

De Crillon Hotel, Paris

Concierge, 08.40 a.m

Seorang pria yang mengenakan topi berlogo perusahaan tur menyambut mereka ramah dan menyapa dengan bahasa inggris yang sempurna, pemandu Tur. Pria itu memberikan buku panduan tur yang tebal.

Calvin datang tak lama kemudian, ikut bergabung dengan mereka berdua.

Pemandu tur itu akhirnya berkata mereka semua sudah siap untuk berangkat dan ia beranjak untuk mengambil mobil.

Pria itu datang tak lama kemudian membawa mobil van berkapasitas sembilan orang. Sepasang kakek-nenek masuk dan duduk di baris pertama, ia dan Calvin duduk di baris ke dua.

Begitu mobil bergerak, pemandu tur langsung berceloteh tentang tujuan pertama mereka yang akan di tembuh dalam waktu 80 km di sebelah selatan kota Paris. Ada atraksi utama yang akan mereka nikmati dalam kunjungan ini. Yang pertama adalah chateau atau istana Fontainebleau yang tersohor sebagai tempat tinggal para raja termasuk Napoleon. Yang kedua adalah jalan-jalan di kota kecil Fontainebleau yang sangat apik dan menjadi kediaman bagai kalangan atas Paris. Yang terakhir adalah kota kecil Barbizon, yang terkenal sebagai kota yang telah melahirkan banyak pelukis beraliran impresionis.

Kurang lebih satu jam kemudian, mereka tiba ti tempat tujuan.

“Welcome to Fontainebleau. Pagi ini kita akan menuju chateau kurang-lebih selama satu jam, lalu Anda dipersilahkan untuk berkeliling sesuai kehendak Anda dengan mengikuti panduang yang sudah diberiakan selama satu jam. Setelah itu kita akan menuju Barbizon.” Ucap pemandu tur.

Begitu keluar dari mobil, yang pertama terasa adalah udara yang segar dan dingin, menyapa kulit dan pernapasannya. Tidak heran, karena posisi kota ini tepat di perbatasanhutan Fontainebleau yang menjadi andalan untuk menyangga kota-kota sekitarnya. Mereka berada di Place Napoleon Bonaparte, sebuah area terbuka yang di pinggirnya berderet stan penjual suvenir.

Mereka semua kemudia berjalan perlahan, melintasi Jardin de Diane, taman yang tepat berada di depan chateau, yang menyambut pengunjung dengan nggun.

Setelah satu jam menelusuri seluk beluk istana, mereka tiba di area Cour des Fontaines. Pemandu mengatakan mereka bisa self-walking-tour selama setengah jam kemudian dilanjutkan dengan acara jalan-jalan di kota.

Calvin langsung keluar menuju Etang de Carpes, sebuah telaga yang posisinya persis di belakang chateau. Di tengah telaga ini terdapat sebuah paviliun yang berdiri tegak tanpa jalan akses, sehingga tampak seperti muncul dari dalam air. Beberapa perahu kecil berseliweran di sana, berisi turis-turis yang ingin melihat paviliun lebih dekat.

Calvin mengeluarkan telefon genggam kemudianberbalik dan berjalan dengan langkah lebar masuk kembali ke bangunan chateau.

Cheonsa mengikuti Calvin yang meninggalkan chateau dengan cepat melintasi Jardin de Diane mengarah kembali ke Place Napoleon Bonaparte dan berjalan terus ke Rue Grande yang merupak jalan utama yang membelah kota Fontainebleau.

Cheonsa terus mengikuti Calvin dan mengutuk dirinya ketika sadar bahwa ia mengikuti tur dengan menggunakan heels.

Di depannya kini terlihat taman kecil, Place Franklin Roosevelt, dan tidak jauh dari sana terdapat Hotel de Ville.

Cheonsa memperhatikan jalan sepi yang kini ia lalui. Jalan berbatu ini khusus pejalan kaki, dengan deretan bangunan berlantai tiga hingga lima yang saling menyambung, membentuk jajaran gedung yang rapi. Tak jauh dari depan terlihat persimpangan yang tidak simetris mengarah ke beberapa jalan yang masing-masing mempunyai bentuk tersendiri, baik di tandai dengan ornamen ataupun yang lainnya.

Sebuah mobil van berwarna hitam berhenti di sisi jalan, tepat di sebelah Cheonsa. Begitu pintu belakang terbuka, pria berhidung melengkung mengacungkan senjata.

“Masuk.” Titahnya.

Cheonsa terpekik ketika pria itu mendadak menarik lengannya kuat. Pria itu mendorong Cheonsa ke dalam van  dan begitu pintu ditutup, van  langsung melaju dengan kecepatan tinggi.

—on the Upper East Side, sometimes the wrong prescription is just what the doctor ordered. XOXO —Gossip Girl.

 

 

 

Somewhere

Van  yang membawa Cheonsa berhenti tiga puluh menit kemudian di sebuah jalan sempit. Pria itu menyuruh Cheonsa keluar dan masuk ke gedung melalui salah satu pintu.

Cheonsa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia menghela napas dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Kemudian bersedekap sambil membiarkan pikirannya melayang tak menentu.

“Hai,” sapa Calvin sambil berjalan mendekat. Calvin mengenakan jas kerja formal lengkap dengan dasi, berbeda dengan pakaian yang sebelumnya ia kenakan.

Cheonsa berdiri.

Clavin tersenyum, “Penculikan yang sempurna bukan?”

“Bahkan aku merasa bahwa ini bukan sandiwara.” Ucapa Cheonsa ringan.

Calvin meletakkan tangan kirinya di bahu Cheonsa dan mulai mencengkramnya. Cheonsa berteriak sambil mencoba melepaskan cengkraman Calvin di bahunya. Rasa sakit itu nyaris membuat Cheonsa berpikir bahwa mungkin dalam beberapa detik bahunya akan remuk.

Terasa satu pukulan menghantam bagian belakang kepalanya.

Cheonsa mengerang saat tubuhnya terhempas ke lantai yang dingin. Sayup-sayup ia mendengan Calvin bergumam, “Aku membutuhkan teriakan histeris dan beberapa foto sebagai hadiah untuk dad-mu. Bukankah kau bilang, lakukan semuanya seperti sebuah penculikan sesungguhnya?”

It’s said that we’re all strapped to Fortune’s wheel. Nowhere is this truer than the ever-changing landscape of love. As one couple enjoys an upswing, another is plunged downwards. But top or bottom, don’t get too comfortable. Because the one thing you can rely on is that the wheel will keep on turning. XOXO —Gossip Girl.

 

 

Salisbury’s Mansion

Stuttgart, Germany Heilbronner Straße 88

Gab memajukan tubuh ke arah meja rias dan dengan hati-hati memulas lagi lipgloss warna pink di atas lipstik moka yang sudah menghiasi bibirnya.

Gab melirik arloji di tangannya, sudah saatnya. Ia menarik napas panajng untuk menghalau rasa gugup menghadapi acara yang akan segera dimulai.

Malam ini akan menjadi malam pertemuan penting dengan Alec setelah sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Selama satu minggu ia banyak berpikir tentang keputusannya. Meminta perlindungan kepada seorang paman yang bahkan sudah menjadi musuh besar ayahnya selama sepuluh tahun. Entah apa yang membuatnya berani mangambil keputusan ini, hanya saja ia berpikir tentang perasaan sang ayah. Bukankah akan sangat menyakitkan ketika orang kita cintai berbalik dan berada di pihak musuh. Sama seperti yang ia rasakan ketika Han Cheonsa, her bestfriend-ever membawa kembali seseorang dari masa lalunya yang kelam.

Gab kembali mematut diri di deoan cermin. Gaun merah muda dengan kombinasi warna krem berbahan sifon.

Terdengan suara ketukan dari pintu.

“Masuk.” Ucap Gab.

Pintu terbuka dan napas Gab tertahan melihat Alec muncul. “Hai young lady.”

Gab menatap Alec sebentar lalu mulai bicara, “I still don’t understand, why do you hate my dad?”

Alec tersenyum tipis.

“Saya menawarkan untuk hidup normal. Bukan dalam sebuah dendam besar yang setiap harinya akan mengikis hati nurani.”

Gab menatapnya ragu. Tidak mengerti dengan apa yang Alec katakan.

“Kami memiliki hubungan baik Gab, ayahmu adalah kakak ipar yang baik. Ia begitu mencintai Margaretta, mungkin karena ia sangat mencintainyalah yang membuat dia mengambil jalan seperti itu.”

Gab merasa bulu kuduknya meremang dan ia berkata, “Tapi saya masih tidak mengerti.”

Alec tersenyum. “Gab, kau tidak harus mengerti apapun. Karena lebih baik kau tidak tau apapun. Jangan jadikan rasa penasaranmu hal yang penting, karena pada akhirnya itu akan menjadi bumerang untuk hidupmu.”

Alec meletakka kedua tangannya di bahu Gab dan berkata, “You’re the Salisbury.”

Gab memaksakan diri untuk tersenyum. Gab bertanay pelan, “Apa Cho Kyuhyun dan Lee Donghae ada di bawah?”

“Mereka menunggumu.”

Alec mengulurkan lengannya dan dengan gugup Gab melingkarkan tangannya ke lengan Alec, membiarkan pria setengah baya itu membawanya ke ruang makan.

Gab mengikuti Alec menelusuri selasar yang panjang. Tiba di depan sebuah pintu, Alec berhenti dan berkata, “Mereka ada di ruang duduk, masuklah. Makan malam akan di mulai tiga puluh menit lagi.”

Tiba di ruang duduk, ruangan yang luas dengan mezanin di sebelah kiri dan lerliaht meja biliar dan satu set sofa.

Dengan gugup, Gab menapaki tangga ke bagian atas mezanin sambil sibuk memegang gaunnya agar tidak terinjak.

Di atas, Kyuhyun dan Donghae duduk di sofa dan Gab langsung merasa gugup melihat pemuda berambut coklat itu menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan mereka beradu. Sorot mata mereka terkunci.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Menunjukkan kerinduannya melalui tindakan. Dengan sekali gerakan ia berdiri dan menarik tubuh gadisnya mendekat. Melumat bibir Gab. Menekan tubuh gadis itu kedinding  dan semakin merapatkan pelukannya pada gadisnya. Gab membalasnya, mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun, memastikan ciuman mereka semakin dalam. Meluapkan rasa frustasi mereka, tak terkendali. Tak memperdulikan dimana mereka kini, semua nafsu itu diatas namakan cinta. Walau sebenarnya perasaan yang mereka agungkan itu tidak lebih dari sekedar sikap egois untuk memiliki satu sama lain.

“Oh aku muak melihat kalian berduan.” Bentak Donghae sambil berjalan meninggalkan pasangan itu.

Better watch out, LDH. They say love makes a family. But on the Upper East Side, everyone knows it’s real estate. XOXO —Gossip Girl.

 

 

Heilbronner Straße 88

Pukul 18.30, sopir memperlambat laju limosin hitamnya dan menghentikannya di gerbang yang dilengkapi kamera di kesia sisi pintunya.

Cheonsa menegakkan tubuh sambil membetulkan gaunnya dengan tenang.

Ketika gerbang pertama terbuka, terlihat gerbang kedua. Begitu gerbang kedua akhirnya terbuka dan mobil di izinkan masuk, Cheonsa menatap ke jemdela. Jalan aspal yang dilalui mobil bagaikan dibangun membelah hutan, dengan pohon-pohon besar di kiri dan kanan jalan.

Tidak hanya itu, hutan itu berakhir di depan sebuah air mancur besar, di depan sebuah bangunan batu yang tampak seperti kastik berabad-abad lalu.

“Welcome.”

Cheonsa menoleh dan melihat Calvin berjalan ke arahnya dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana. Ini adalah pertemuan pertamanya setelah insiden menyakitkan di Paris tempo hari. Setelah hari itu, ia di rawat di sebuah Apartment mewah milik keluarga Salisbury.

“Thanks.”

“Mereka di lantai dua, ruang duduk.” Ucap Calvin singkat dan melanjutkan lagi langkahnya menuju sebrang ruangan.

Cheonsa berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, alih-alih ingin bertemu Gab, sesuatu menarik perhatiannya. Di bagian ujung tangga sebelh kiri terdapat sebuah balkon yang langsung menghadapkan hutan yang sebelumnya ia lewati ketika menuju rumah ini.

Malam ini begitu sepi, suasananya benar-benar sunyi. Saat ini, kesendirian begitu menyelimuti relung hatinya. Lee Donghae, apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Tidak, sebenarnya bukan itu masalahnya. Hanya saja terlalu mahal apa yang harus ia korbankan untuk bersanding dengan pria itu. Dad-nya.

Cheonsa menengadah menatap langit malam yang gelap. Ia menghela napas berat. Angin bertiup semilir, membelai rambut halusnya dengan lembut. Cheonsa tengah menguatkan diri untuk melangkah kembali dan memulai semuanya dari awal.

Lee Donghae dan Han Cheonsa terlibat dalam suatu hubungan rumit yang tak pernah mereka sangka sebelumnya.

Cheonsa begitu sibuk dengan pikirannya, hingga tak menyadari kehadiran sesosok pria yang mendekatinya diam-diam. Sepasang tangan yang kekar memeluk tubuh gadis itu dari belakang.

Cheonsa tersentak. Pelukannya begitu erat hingga ia sulit untuk melihat orang itu.

“Aku tidak pernah mengijinkan kau menyentuhku kapanpun kau mau.”

Sebelah tangan yang melingkar di pinggangnya yang ramping terlepas dan beralih ke matanya.

Cheonsa mengenali suara itu. Ia diam sejenak, mulai mengganti oksigennya dengan aroma pria itu, dan suasana yang ia rasakan hanya jika berada bersamanya. Perlahan Cheonsa menyentuh tangan yang memeluknya.

Namun beberapa saat kemudian, Cheonsa tiba-tiba menjadi marah. “You got me caught in a difficult period”

Donghae tersenyum tipis, memeluk tubuh Cheonsa kembali.

“I’m here sweet heart.” bisiknya dekat sekali di telinga Cheonsa memberikan sensasi aneh pada gadis itu.

Cheonsa menoleh, menatap wajah tampan Donghae yang berada begitu dekat dengannya.

“Long time no see.” ucap Cheonsa.

Donghae meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. “Really?” tanyanya lembut.

“Forget me?” kata Cheonsa merajuk. Ia semakin cemberut sekarang. Cheonsa pun mengecup pipinya sekilas.

“I will never forget you. Stop thinking like that,”

Cheonsa memejamkan matanya, membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu.

“I feel lost.”

Donghae terkejut mendengar kalimat itu terucap dari mulut Cheonsa, karena biasanya Cheonsa selalu berusaha menutupi perasaannya demi image. Cheonsa tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu kepada orang lain. Gadis itu tidak akan pernah rela terlihat menyedihkan di depan orang lain.

“Dad……”

Kata-kata Cheonsa terhenti saat air matanya tak bisa ditahan lagi. Matanya kini sudah dalam aura penuh kesedihan. Donghae merasakan Cheonsa mengendurkan pelukannya lalu mencengkeram jas hitam yang ia kenakan dengan tangan yang mulai gemetar.

Donghae sadar, Cheonsa tengah memerlukannya saat ini. Ia menyelipkan kedua tangannya ke belakang lutut Cheonsa lalu menggendongnya ala bridal style. Gadis itu memeluk lehernya dengan erat, sementara Donghae menunduk dan tak melepaskan bibirnya dari puncak kepala Cheonsa.

“I will never leave, even if they leave you alone.” bisiknya lembut. Donghae mulai melangkah memasuki kamar tamu yang ia tempati sejak tadi pagi dan menutup pintu dengan sebelah kakinya.

Donghae menurunkan Cheonsa di tempat tidur, “Istirahatlah. Aku akan menemui Gab dan meminta maaf karena kau tidak akan ikut makan malam.”

Cheonsa menarik lengan Donghae dan memeluknya, membuat Donghae terkejut dan mempererat pelukannya.

“Jangan pergi.” ucap Cheonsa lirih. Ia menengadah, tatapannya bertemu dengan mata hitam Donghae. Donghae selalu mengagumi mata coklat Cheonsa, namun saat ini mata itu tengah menatapnya dengan berkaca-kaca.

Donghae mengecup bibir ranum Cheonsa. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” ucapnya.

Baru saja Donghae melepaskan ciumannya, Cheonsa menarik wajahnya kembali dan balas menciumnya.

“Jangan tinggalkan aku…malam ini,” Cheonsa berbisik sambil menatapnya lekat-lekat. Sebelumnya ia tak pernah mau terlihat lemah di hadapan orang lain, tak terkecuali Donghae. Tapi saat ini, rasanya ia tak tahan lagi menahan dan menyembunyikannya dan Donghae-lah yang ada di sampingnya.

“Never.” jawab Donghae yakin sambil memberikan senyumnya yang mempesona. Lalu perlahan ia membaringkan tubuh Cheonsa ke atas tempat tidur berukuran king size yang ada di kamar itu. Cheonsa masih memeluknya hingga Donghae harus membungkuk di sampingnya.

“I need you.” kata Cheonsa lagi sambil membelai wajah Donghae.

Donghae menunduk, mencium bibir gadis itu dengan lembut, menikmatinya perlahan-lahan. “Don’t you love me?”

Donghae melepaskan tangan Cheonsa dari lehernya, lalu menarik selimut untuk menyelimuti Cheonsa. “Sebaiknya kau iatirahat sekarang, malam sudah mulai larut.”

Donghae baru saja akan bangkit saat lagi-lagi Cheonsa menarik lengan jasnya. Ada sedikit rasa bersalah terlihat di matanya.

“Aku tidak mau tidur…bisakah kau menemaniku?” ia meminta penuh harap.

Donghae mengecup kening Cheonsa, melepaskan jasnya lalu berbaring di samping gadis itu.

“Tidurlah,” kata Donghae sambil ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk kekasihnya itu. “Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan tidur sebelum kau tidur.”

Cheonsa merapatkan tubuhnya ke tubuh Donghae. Mereka terdiam selama beberapa saat, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Tuan Lee, I need you more than i love you.”

Donghae membelai pipi Cheonsa dengan lembut untuk menenangkannya. Ia mengecup rambut Cheonsa dan menghirup aroma wanginya.

Cheonsa terkejut. “Semudah itu?” ia bertanya, menengadahkan kepalanya menatap Donghae, “Kau percaya padaku?”

Donghae tersenyum. “Tidak, bukan seperti itu. Just said that you need me more than you love me, seems like you will not able to live without me.” jawabnya, yang diakhiri dengan sebuah kecupan di sudut bibir Cheonsa.

Cheonsa merasa geli mendengar kalimat Donghae, tangannya mencengkeram bagian depan baju pria itu.

“You’re too confident. I said that I need you it’s not mean I just need you.

Donghae kembali mencium Cheonsa. Ia melakukannya berkali-kali, membuat gadis itu tertawa kecil dan tersipu.

“Let’s pretend that you didn’t say anything.”  goda Donghae di antara ciumannya.

“Baiklah, cukup.” kata Cheonsa sambil menahan wajah Donghae yang akan meneruskan ciumannya. Ia tersenyum. “Menurutmu, apakah semuanya akan baik-baik saja?”

Donghae melingkarkan tangannya di pinggang Cheonsa, memeluknya dengan mesra.

“Tentu saja, banyak orang mencintaimu,” Donghae meyakinkan sambil menggenggam salah satu tangan gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.

Cheonsa balas menatap Donghae. Ia melihat ada banyak cinta untuknya di sana. Sesungguhnya itulah salah satu alasan kenapa dia mau mengambil resiko menjalin hubungan cinta dengan seorang Lee Donghae.

Perlahan, Donghae dan Cheonsa mendekatkan jarak yang ada di antara mereka dan berciuman, saling memagut bibir masing-masing dalam suasana yang hangat dan romantis. Cheonsa pun balas menggenggam erat tangan kekar pria itu.

“Donghae, aku…….”  Cheonsa menggantung kalimatnya.

“Ya?” jawab Donghae mendengar suara Cheonsa yang bimbang.

“Aku rasa aku sedang tidak ingin melakukannya.”

Donghae tampak terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia memicingkan matanya dan bersikap seolah ia mampu membaca pikiran Cheonsa. “Kau!”

“Salahkan bayimu. Demi Tuhan bahkan saat ini ia ingin kau menjauhkan tanganmu dari tubuhku.” Ucap Cheonsa tegas.

Donghae menelusupkan tangannya ke bawah gaun pendek yang di kenakan Cheonsa, mengelus perutnya lebut. “Baby, kau mulai menguasai ibunmu bahkan sebelum kau lahir?”

“Tidak akan ada seorang dad yang akan berkata seperti itu bodoh!”

“Oh c’mon bayi di perutmu itu bahkan baru tiga bulan.” Ucap Donghae kesal.

Cheonsa tampak acuh dengan keluhan Donghae, ia malah menarik selimut dan mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Donghae.

Cheonsa merasakan Donghae meninggalkan tempat tidurnya, tak lama kemudian terdengar suara pintu yang di banting.

Cheonsa tersenyum dan memejamkan matanya.

We hear Han Cheonsa’s headed for a comeback. But if she wants to keep her friends happy, she better keep serving up the hits. XOXO —Gossip Girl.

 

Salisbury’s Mansion

Living Room

“GAB!”

Gab menoleh dan langsung tersenyum melihat Donghae mendekat, “How are you?” tanya Donghae sambil memeluk Gab erat.

“Dimana Cheonsa?”

“I’m here.” Cheonsa tertawa ringan sambil berjalan menghampirinya. “Oh look at me, something wrong with my hair.”

Donghae tertawa dengan suara khasnya yang membuat Gab tersenyum.

“Jadi apa yang telah kalian lakukan sebelum datang kesini?” Goda Gab yang langsung di sambut gelak tawa dari Donghae.

“Nothing.” Jawab Cheonsa dingin.

“Tidak terdengar meyakinkan.” Jawab Gab ringan.

Gab baru saja akan berbicara kepada Cheonsa ketika terdengar bunyi gong, tanda jamuan makan malam segera di mulai.

Calvin berkata, “Waktunya masuk. Kalian bisa bercakap-cakap setelah makan malam.”

Semua masuk ke ruang mana dan duduk di posisi masing-masing, Alec berbicara.

Good evening everyone. Malam ini adalah malam istimewa. Karena malam ini saya ingin mengumumkan bahwa keponakanku, telah kembali.”

Empat orang pelayan bergerak, mengisi gelas di meja dengan wine.

Setelah semua gelas terisi, Alec berdiri sambil mengangkat gelasnya untuk bersulang dan berkata, “For the glory of us. The Salisbury, Miss Han, Mister Lee and of course for my son-in-law Mister Cho.”

Gabriella menempelkan gelas di bibirnya dan melirik setiap orang, memperhatikan setiap ekspresi.

Han Cheonsa mengangkat gelas anggurnya dan berkata, “Thanks for Alec, and for my precious things in my tummy.”

Semua orang mengangkat gelasnya, menempelkannya ke bibir. Sampai mereka tahu masksud Tuhan tentang kehidupan sebenanrnya, mereka mencoba menikmati waktu di tengah-tengah pelarian yang entah sampai kapan.

Sorry for the silent treatment, Gossips. But everyone needs the occasional R & R, even yours truly. Lucky for you I observed a sacred Upper East Side tradition and had a little work done while I was gone. [I hope you like my new look]. Now, enough with the pleasantries. Time for the dirt. I spy with my many eyes Lee Donghae returning from London yesterday with a pretty new fall accessory. But if he’s the kind of boy you take home to meet your father, why is HCS visiting Paris solo? XOXO —Gossip Girl.

-TBC-

anyway this is Calvin Chen

Your nobody until you’re talked about— XOXO Gossip Girl

written by:   Gabriella Bianca / @gengie_gege

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

13 responses »

  1. park heeyoung says:

    akhirnya lanjutannya ada juga
    ya ampun kirain yg dtg itu org jahat trnyata baik ya
    smga masalah rumit antara hcs-ldh-gab-kyu cpt selesai
    ya ampun gab-kyu ga liat2 sekitar nih ya lgsg main cipok aja
    hahaha kasian donghae ditolak sama baby :p
    kirain tdi si celvin beneran niat ngejahatin hcs trnyata gak
    ah lanjutan jgn lama2 ya
    dan buat sodari sonia cptlah comeback didunia per-ff-an
    kasian bgt nasibnya voldyfishy tuh

  2. yosephinelfs says:

    akhirnyaaaaa part 11 publish juga setelah penantian panjang😀

    mereka kabur ke prancis?
    Gimana tuh kalo dad nya cheonsa tau anaknya kabur,
    yes, part cheonsa sama donghae nya tambah banyak😀
    ditunggu next partnya🙂

  3. IJaggys says:

    AAAAAAAAAAAAAAAA BUTUH PART 12 ASAP! /jerit-jerit bareng baby nya HCS&LDH/ xD

  4. Oh GOD! Calvin chen is here?!!!!!! *go crazy*
    Damn! Anyway… Calvin looks hot at that pic…
    Ahahahahahah
    And… Can’t wait for another part

  5. kkke~ part 12 di usahakan #Abaikan tapi minggu depan ujian A2 -,- anatar BISA dan TIDAK loL

    XOXO —Gossip Girl

  6. neys says:

    Koko chen!!! Bakal ada aaron jg ga disini? Kalo ada, mau dong jd pair-nya (lo? Sapa jg yg nawarin?)
    Btw, aku reader baru buat ff ini, baru baca keseluruhan part-nya pas baca part 10 kmren. Penasaran soalnya. Hehehe.

  7. Carol says:

    Huee akhirnya di lanjut lagi. Asseekkk
    hua itu baby nya sumpah keren banget. Bapaknya di usir. Hahahaha belum lahir padahal.

  8. pinkers92 says:

    Ah… aku pikir cheonsa bener2 diculik!
    oh no, ternyata kyuhyun dan donghae sama2 memiliki nafsu yang WOW ya. /abaikan/
    semoga masalah 4 manusia itu cepet selesai ya..

    okay part 12 ditunggu..

  9. Mellyarmenia says:

    daebak thor ! i love it !

  10. inggarkichulsung says:

    Waw tambah seru, rupanya Calvin yg membantu mereka ber4.. Donghae oppa please always take care Cheonsa, immortal happiness for Cheonsa-Donghae oppa, Gabriela-Kyu oppa.. So sweet story.. Hopefully the baby always good

  11. Nathalie park says:

    Mdh”an happy ending bwt smua’y…

  12. sheepptii pumpkin says:

    calvin chen nx sekilas kya tommy kurniawan ya.. eh???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s