While most people think it’s our brain that controls our actions, it’s often our heart that gets the biggest workout. It can make us do the craziest of things. But it can also let us take a chance on new adventures. Because when we open our heart we can explore a world of love. And be pleasantly surprised by the people already in our life. But unfortunately our hearts are very sensitive. And when they’re broken everything around us is shattered. Total eclipse of the heart. XOXO —Gossip Girl.

 

 

 

Avalon at Cortez Hill, San Diego – CA

Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Kesibukan kota California sudah dimulai sejak dini hari. Namun suasana kamar itu masih terlihat redup karena tirai masih tertutup. Kamar itu cukup berantakan dengan berbagai macam make-up branded untuk wanita yang berada diatas meja rias. Sebuah kemeja pria dan sepatu-sepatu berserakan di lantai.

Sementara itu diatas sebuah ranjang king size dengan sprei berwarna soft-brown, seorang pria dan wanita tertidur lelap.

Beep beep

Wanita itu mengeratkan selimutnya ke sekeliling tubuh. Ia menutup telinganya saat mendengar getaran iPhone-nya di atas meja. Ia bergerak menjangkau benda itu sambil masih berbaring.

“Hallo”

Jenny, Aku Kim Heechul.

Jenny membelakkan matanya, ia melirik ke arah samping, Siwon masih tertidur dengan pulasnya, Jenny bangkit dan ia membetulkan selimut yang menutupi tubuh pria itu. Mencoba menjauh agar Siwon tak mendengar pembicaraanya.

Siwon terbangun saat Jenny meninggalkan ranjangnya, ia memperhatikan figur Jenny yang terlihat sangat memberikan perhatian penuh untuk lawan bicaranya itu. Tapi sesaat kemudia Siwon memejamkan matanya lagi.

Jenny kembali berbaring disisi Siwon, menempelkan wajahnya pada dada bidang Siwon. Tapi iPhone-nya kembali berdering. Siwon membuka matanya dan nyaris membanting benda putih itu jika ia tak sengaja membaca caller ID yang tertera di layarnya.

“Untuk apa Donghae menghubungimu?” tanya Siwon heran yang hanya di jawab dengan gelengan kepala dari Jenny.

“Hallo”

Andrew? I’m Lee Donghae. Sorry I called your fiance, I had trouble contacting your cell.

“hhmmm what’s wrong?”

…………………………………………………………………..

Siwon mengakhiri percakapannya dengan Donghae dan menghela nafasnya berat.

Something happened to Gab, tomorrow morning we will return to Manhattan.

And while new journeys can start with a single step, they can end just as quickly with a single misstep. XOXO –Gossip Girl

 

 

 

Dongahe’s Mansion, Manhattan, NYC

Dengan teratur, tangan Donghae bergerak mengganti kompres yang ada di dahi Gabriel. Warna kulit sahabatnya kali ini hampir bisa disamakan dengan pucatnya kulit mahluk yang sudah tak bernyawa. Yang membedakan hanya suhu tubuh Gabriel yang sangat panas.

“Dia menyakitimu terlalu jauh Gab.”

Lama. Hening. Donghae tampak khawatir perihal keadaan Gabriella. Setidaknya, sampai akhirnya yang menjadi pusat perhatian mulai membuka matanya. Begitu lemah.

“Aku….”

Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, tapi dengan sukses membuat Donghae bernafas lega.

Suaranya begitu lirih dan lemah.

“Kau baik-baik saja, Gab?”

Perlahan, Gab menoleh ke asal suara itu. Ia mendesahan ringan, jawaban yang begitu ambigu. Tanpa dijawabpun, sudah terlihat dengan mata telanjang bahwa keadaannya sangat buruk. Dengan wajah pucat dan suhu tubuhnya yang melampaui angka 39, bukan sesuatu yang bisa dikatagorikan sebagai keadaan yang baik.

“Kau menginginkan sesuatu?”

Gab menatap Donghae sendu, menggelengkan kepalanya pelan. Saat semuanya kembali menjadi gelap. Ia memejamkan matanya.

Dia ingat. Sesuatu yang menyebabkan seluruh tubuhnya sakit dan hal yang membuat dadanya seakan teriris-iris.

“Can you just leave me alone?”

Salah satu tangannya bergerak, menutupi wajahnya yang entah kenapa menjadi semakin pucat.

“Gab….”

Gab memalingkan wajahnya ke arah jemdela, menghindari tatapan Donghae. Ia hanya tak ingin membuat Donghae terlalu khawatir.

“Baiklah. Aku akan ada di luar jika kau membutuhkanku.”

Ada rasa ketakutan besar yang kini melingkupi hatinya. Memori itu, hal yang membuat fisiknya seakan terhantam besi. Tetasan bening mulai keluar dari matanya, mengalir perlahan melewati pipinya.

When it comes to family we’re all still children at heart. No matter how old we get, we always need a place to call home. Because without the people you love most you can’t help but feel all alone in the world. XOXO –Gossip Girl

 

Early Morning

“Bagaimana keadaannya?” tanya Nyonya Lee, ibu Donghae sesampainya di kamar tamu sambil membawa sarapan dan pakaian untuk Gabriel.

“Demamnya masih belum turun. Dan pesawat Andrew baru saja take-off.” jawab Donghae.

Ketika Donghae dan ibunya sampai di tepi tempat tidur yang ditempati Gab, Gab membuka matanya.

“Mrs Lee” ucap Gab lemah.

Mrs Lee hanya mengangguk dan duduk di tepi ranjang. Ia merapikan anak rambut di pipi Gab.

“your dad was very worried when I gave the news that you fall unconscious after the meeting.”

Gab memicingkan matanya, ia tak mengerti apa yang baru saja Mrs Lee katakan.

Aku pingsan setelah meeting? Bukankah aku….

Gab mengakhhiri perdebatan batinnya ketika menangkap bahwa Donghae baru saja mengisyaratkan sesuatu. Kemudian ia menatap Mrs Lee dan mengangguk.

“Seharusnya Anda tak perlu mengatakannya. Aku hanya terlalu lelah.” Ucap Gab sambil tersenyum simpul.

“Makanlah. Kau harus meminum obat. Aku akan menelfon dad-mu dan mengatakan bahwa aku akan menjagamu dengan baik.”

Mrs Lee baru saja menutup pintu ketika ia membukanya kembali smabil setangah berteriak “Hae, pastikan ia meminum obatnya.”

Setelah Gab makan dan meminum obatnya, Donghae kembali mengompres keningnya dan mengusap keringat di wajah dan leher Gab dengan handuk.

Other Side

Di depan pintu kayu berpelitur hitam mengilap Donghae berdiri sambil mengatur napasnya. Perlahan dia mengetuk pintu, lalu menunggu jawaban. Setelah suara sang ibu mempersilakannya masuk, Donghae membawa dirinya ke dalam ruang duduk di rumahnya itu.

Ruangan besar dengan langit-langit yang tinggi dan sangat hangat serta nyaman. Di tengah ruangan terdapat sofa-sofa besar berwarna coklat dan lemari menutupi seluruh dinding , penuh buku tebal setebal bantal.

Di salah satu sudut ruangan ada satu meja kerja, dengan kursi besar model direktur di belakangnya. Ibunya bangkit dari kursi dan menunjuk ke arah sofa.

Donghae duduk di sofa yang panjang dan memulai perdebatan dalam batinnya. Tidak biasanya sang ibu mengajaknya bicara seformal ini. Itu artinya pembicaraan ini sangat penting.

Sang ibu duduk di sofa yang sama. Di atas meja ada sebuah teko, dua set cangkir dengan sendok kecil, dan satu gelas berisi cairan keemasan. Mrs Lee menuangkan teh dari teko ke kedua cangkir dan aroma camomile merebak di ruangan itu.

“Honey?”

Donghae merasa semakin aneh dan hanya mengangguk.

Satu cangkir diberikan padanya, kemudia ia mengambil untuk dirinya.

I just had a long conversation with Gabriella’s dad.” Ujar sang ibu, kemudian meneruskan, “We talked about many things. about the future even the past. You’re my only son. And I would only expect of you. You’re very understanding about our relationship with Han families. And it’s not a good idea if you guys stay together.”

Donghae ternganga. Bagaimana mungkin sang ibu membicarakan hal ini dengan nada setenang itu? Sementara ia berusaha mencerna apa yang ditangkap telinganya, Mrs Lee melanjutkan penjelasannya.

“Aku dengar dia mencampakkanmu dan aku lega untuk itu. Tapi kemudian kalian kembali bersama. Aku rasa itu bukan ide yang baik. Kau akan melupakan gadis itu dan menikah dengan Gabriella. Tidak terlalu sulit, karena kalian bahkan sudah saling mengenal sejak masih di baby’s-box. Sejauh ini hubungan kalian sangat baik bukan?”  Mrs Lee mendekatkan cangkirnya ke bibir dan menghirup teh.

Donghae tak mampu berkata-kata dan hanya menatap ibunya dengan ekspresi yang tampak tidak karuan, campuran antara shock, bingung dan marah. Otaknya terasa kosong, rasanya seperti masuk ke ruang hampa dan ia mengambang di udara.

Akhirnya, setelah kesekian kalinya berusaha mencerna apa yang didengarnya, Donghae berkata, “I can’t leave her.”

“But you must.”

Donghae menatap ibunya tajam. “Aku akan melakukan apapun yang aku mau.”

Mrs Lee tersenyum dan menatapnya penuh kasih sayang, Do you love her doesn’t mean you have to live with her. Ia mendekatkan cangkir di tangnnya ke bibir dan kembali menghirup tehnya tanpa melepaskan pandangnnya dari Donghae.

“Tapi calon bayiku hidup di tubuhnya.”

Mrs Lee kaget dengan pernyataan itu, hingga cangkirnya terasa bergetar di tangannya.

“Kalau begitu mayatku akan menjadi kado pernikahan kalian.”

Kata-kata sang ibu begitu menusuk, melepaskan berpuluh jarum  yang melesat menembus hati dan menghujam seluruh badannya lewat pori-pori tipis kulitnya, hingga Donghae merasa sekujur tubuhnya ngilu.

Donghae pun segera beranjak. Hampir ia membanting pintu ketika keluar dari ruangan itu, secepat mungkin ia menjauhkan diri dari ibunya sebelum emosinya tak terkendali.

And all in an instant, everything changes. We leave the past behind and speed toward the unknown. Our future. We set out for far away places and try to find our self. Or try to lose ourselves. Exploring pleasures closer to home. The problems start when we refuse to let change happen, and cling to old habits. But if we hold on to the past too tight, the future may never come. ‘Til death do us part. XOXO —Gossip Girl

Cheonsa’s Apartments

Upper East Side, Manhattan, NYC

Donghae memarkirkan mobilnya asal. Terlalu banyak hal ia pikirkan. Donghae serasa divonis mati. Bukan masalah ia harus meninggalkannya atau tidak, hanya saja bagaimana bisa ia menjalani hidup dengan normal jika gadis itu tidak di sisinya. Sebagian besar dari hatinya memang menginginkan gadis itu lebih dari apapun. Lebih dari kewajibannya menuruti semua permintaan sang ibu.

Donghae melangkahkan kakinya masuk ke dalam box besi yang akan membawanya pada gadis itu. Ia tersenyum miris meratapi kisah cintanya.

Ketika melangkahkan kakinya ke dalam apartment, beberapa gelas plastik bertuliskan starbucks tergeletak berantakan di atas meja bersama beberapa box makanan lainnya. Sejak kapan Cheonsa memakan makanan instan?

Donghae memasuki kamar Cheonsa, dan melihatnya yang masih terlelap dengan tubuh yang terlilit selimut. Ia melangkah semakin dekat dan duduk di tepi ranjang. Donghae memperhatikan wajah voldemort kesayangannya itu. Lama. Wajahnya terlihat polos seperti barbie. Disingkirkannya rambut yang menutupi wajah Cheonsa, menyampirkannya kebelakang telinganya. Mencium keningnya dalam dan lama.

Donghae mengecup bibirnya, melumatnya pelan. Sama sekali tak berniat membangunkannya. Tapi ciuman itu memanas dan ia menelusupkan lidahnya mengeksplorasi mulut gadisnya lebih dalam. Membuat Cheonsa membuka mata indahnya dengan sempurna. Dan seperti biasa, Cheonsa membalas ciuman itu dengan agresif. Melingkarkan tangannya dileher Donghae.

“You here?” ujarnya serak disela ciuman mereka. Menelusupkan jemari lentiknya pada helai rambut Donghae dan membuatnya berantakan. Donghae hanya menjawab dengan anggukan dan kembali terlena dengan kegiatan mereka tadi.

* * *

Cheonsa membuka matanya, merasakan sentuhan dalam di pipinya. Cheonsa menempelkan kepalanya dibawah dagu Donghae. Tubuh Donghae sedikit menegang namun kembali beradaptasi dengan baik. Ia mengusap-ngusap puncak kepala Cheonsa.

“You have some prob?” tanya Cheonsa serak. Donghae menurunkan wajahnya sehingga mata mereka bertemu. Donghae tersenyum, dingin.

“many things I had to finish” Donghae merapihkan rambut Cheonsa  yang menempel di pipi. Kemudian dengan lembut menyampirkannya dibelakang telinga. Matanya kembali menatap gadis itu dengan serius.

“Whatever will happen, just believe me. Ok?” ujarnya serak. Menarik kepala Cheonsa dan menempelkannya di dadanya yang telanjang. Memeluk tubuh itu erat seakan mereka akan berpisah. “promise?”

Cheonsa menganggukkan kepalanya, melingkarkan tangannya dipunggung Donghae. Ia bisa merasakan debaran jantung Donghae yang berdebar tak karuan seakan sesuatu sedang mengejarnya.

“I love you,” dan seketika Cheonsa merasakan sesak yang sangat menusuk. Kata-kata itu kenapa terdengar seperti ucapan perpisahan? Nadanya terdengar menyakitkan dan terasa menyayat seluruh tubuhnya. Cheonsa semakin memepererat pelukannya. “because you really have to love me,” lirih Cheonsa, semakin menundukkan kepalanya di dada Donghae. “Just stay with me, don’t go too far away from me” ujar Cheonsa serak, merasa semakin nyaman berada dalam dekapnya. “Don’t ever you dare.”

To revive a struggling relationship, there comes a point when we must stop protecting what we have. XOXO —Gossip Girl

Cho’s Mansion

Notting Hill, London, England

Sebuah mobil Bugatti merah berhenti di depan teras yang hampir seperti kubus yang menjorok ke depan, pintu dibuka dari luar oleh seorang penjaga yang membungkuk hormat.

Pria itu memasuki area foyer yang merupakan sebuah ruangan berbentuk bujur sangkar yang sangat luas.

You’re jerk Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menoleh dan melihat kakak perempuannya berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh. Sampai di depan Kyuhyun, Ahra menjitak kepala Kyuhyun dengan keras. Did you forget that you still have a family?”

“Did you miss me?” Ahra tersenyum jengah dan menggamit lengan Kyunyun. “Tentu saja bodoh.”

Kyuhyun menggandeng tangan kakak perempuan kesayangannya itu berjalan menuelusuri selasar sambil sesekali berbagi lelucon.

Di depan mereka kini terlihat sebuah pintu berukir yang tinggi dengan dua daun pintu terbuka lebar. Mereka melangkahkan kakinya masuk ke ruang duduk nan megah itu. Kesan megah di ruang itu diperoleh dari nuansa merah keemasan yang mendominasi ruangan dan beberapa lukisan tua di dinding yang hampir manggapai langit-langit yang juga tinggi.

Mrs Cho menoleh dan langsung berdiri sambil membuka tangannya lebar, meminta sebuah pelukan dari putra yang ia rindukan.

“Banyak hal yang akan ayahmu katakan, ia menunggumu di ruang kerjanya.” Ucap Mrs Cho sambil melepaskan pelukannya.

“Baiklah.”

* * *

PRANG!

Pecahan kaca berhamburan ke atas wastafel bersama darah. Ahra menutup mulutnya dengan kaget.

“Kyu!” jerit Ahra setelah pulih dari paniknya. Segera dia meraih tangan kanan Kyuhyun yang berlumuran darah. Tampak beberapa serpihan kaca menancap di tangan itu. Tiba-tiba Arha merasa merinding. Bukan karena darah dari tangan adik lelakinya, tetapi wajah lelaki itu yang terlihat tanpa ekspresi. Dia terbiasa melihat wajah Kyuhyun yang tanpa ekspresi itu, tetapi bukankah saat kondisi seperti ini, seharusnya ada ekspresi yang terlukis di wajah pucatnya?

“Kyu, tanganmu”

“Stay away from me” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Kyuhyun. Ahra menggigit bibirnya sebelum keluar dengan langkah lesu dari kamar mandi itu.

Kyuhyun tetap berdiri seperti itu, entah berapa lama. Ahra sudah beberapa saat yang lalu meninggalkan kamarnya tetapi dia tak juga beranjak dari depan cermin. Mata hitamnya memandang bayangannya dengan tatapan kosong.

Flashback

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kerja ayahnya tempat ia berada sekarang. Ia menghela nafas dan menghempaskan tubuh ke sofa, kemudia bersedekap dan membiarkan pikirannya melayang tak menentu.

“Son.” Sapa sang ayah sambil berjalan mendekat. Mr Cho masih mengenakan busana kerja jas hitam yang sangat formal lengkap dengan dasinya.

Mr Cho memeluk Kyuhyun. “How are you?”

“So far so good”

Mr Cho tersenyum. “I have somthing to tell.”

“About what?” tanya Kyuhyun ragu-ragu.

Mr Cho meletakkan tangan kanannya di pundak Kyuhyun, lalu menjawab, “Mr Smith membatalkan perjodohanmu dengan putrinya. I can’t stop it. You know, my relationship with Mr Smith very well, and I don’t want to ruin it just because of this cancellation. I don’t know what happened. Please understand.”

Luka yang menyakitkan. Menorehkan kepedihan dalam dada. Kyuhyun merasa bagai disengat listrik berjuta-juta volt. Ia merasakan hatinya bergejolak. Entah karena luapan kemarahan atau kesedihan. Bahkan mungkin keduanya.

Aliran darah dari tangannya mengatakan bahwa dia manusia, tetapi entah mengapa dia merasa dia bukan lagi manusia. Ia tidak bisa merasakan perih dari luka di tangannya. Tiba-tiba sebuah ketakutan timbul di hatinya. Ketakutan bahwa dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

It was the best of times. It was the worst of times. Seems Dickens knew something about life on the Upper East Side. Where the only thing you can count on is that time changes everything. Word has it K. gave up on politics to focus on issues closer to his heart.

462 HCC BellevueHospital Center

1st Avennue, New York

Siwon menatap seorang gadis yang tengah terbaring sakit tersebut.

Gabriella. Baru saja dia dimasukkan ke rumah sakit ketika Siwon tiba di kediaman keluarga Lee. Pria bertubuh proporsional itu segera merujuknya ke rumah sakit dengan hati miris.

Ia telah menghubungi ayahnya, untuk segera membawa Gab kembali ke Buenos Aires—dan segera melaksanakan rencana ayahnya. Siwon berpendapat, seandainya Gab dibawa jauh dari Manhattan, mungkin ia tak akan bertemu Jaejoong—dan itu bisa meringankan beban Gab sendiri.

“Are you okay?” tanya Siwon sambil mengambil kursi dan duduk disisi ranjang Gab. Ia menatap step-sister kesayangnnya itu lembut.

“Not really bad” jawab Gab dengan suara serak dan memaksakan dirinya tersenyum.

Siwon ikut tersenyum—meski dalam hati merasa sedih. Ia menyentuh kening Gab. “Actually I can not see you go on like this. Come along with Jenny, go far left Manhattan and returned to Argentina for several years or even never mind forever. As long as you’re okay.”  saran Siwon sambil membelai rambut Gab yang halus.

Gab hanya diam dengan bibir kering. Ia menatap lilitan selang infus yang menusuk kulitnya. Entah mengapa, ia seolah ingin menolaknya—tapi ia juga berpikir itu ide yang tidak buruk.

“Tomorrow you and Donghae will fly to Buenos Aires. Understand?” ucap Siwon dengan nada memerintah. Seperti boneka, Gab hanya mengangguk.

Pintu terbuka, terdengar langkah sepatu memantul di permukaan lantai marmer rumah sakit. Sosok berperawakan tinggi yang baru saja menghampiri ranjangnya. Seorang wanita setengah baya dengan setelan jas soft-blue, menatapnya dengan begitu hati-hati.

“Your dad on his way now.”

“Mom, I’m okay. Nothing happen.” Gab berusaha menjelaskan keadaannya kepada Lily Smith. Her step-mom.

“Your dad was so panic when Mrs Lee call him about you. And he almost cancel his business travel to Bangkok if Mrs Lee didn’t said that she will treat you.” Lily Smith berbicara sambil meletakkan tas Chanel kesayangannya ke atas meja. “And she really treat you well right? She really love you. So, it will be fine when she become your mother-in-law.” Tambahnya lagi sambil merapihkan letak scraftnya.

“What you mean? Who will be my mother-in-law?” Gabriella bertanya dengan ragu.

Siwon membelakkan matanya memberi signal pada sang ibu untuk menutup mulutnya. “Nothing. I just….”

Sebuah suara mengintrupsi acara reuni antara anak dan ibu itu.

“Gabriella?” Dalam hitungan detik seseorang muncul dari balik pintu. Han Cheonsa. “Hai Mrs Smith, long time no see.” Sapa Cheonsa sambil melangkah mendekat dan memeluk Lily Smith penuh rindu.

“Hai Andrew.” Sapa Cheonsa kepada Siwon setelah melepas pelukan Lily dan memeluk Siwon singkat.

You come alone?”

“No. I along with Donghae. He’s outside with his mom.” Jelas Cheonsa.

You guys still together?” tanya Lily tanpa bisa menyembunyikakan keterkejutannya.

“Yes-No.” Jawab Cheonsa jahil. Yang langsung membuat Lily memicingkan matanya.

“I mean. We just make it work again. Sometimes we have to be apart, but like usual, we make it work again. And always like that. Likes on-off relationship.” Kata Cheonsa diiringi tawa renyahnya.

Lily hanya bisa tertawa hambar mendengar pernyataan tuan putri keluarga Han ini. Ia melirik Siwon meminta penjelasan yang hanya ditanggapi dengan dengusan sebal dari anak lelakinya itu.

“Miss Han. I’m sorry. Can you leave this room now? I have something privasi to tell them. After that, you can come here again. Okay?” pinta Mrs Lee yang baru saja masuk bersama Donghae kepada Cheonsa.

Cheonsa mengangguk kemudian bangkit berdiri berjalan menuju pintu. Donghae mengantarnya hingga luar ruangan.

“Tunggu aku di taman rumah sakit. Aku segera menemuimu.” Ucap Donghae seraya mengecup kening Cheonsa dalam dan mengusap bagian perutnya.

Setelah Cheonsa berjalan menajuh, Donghae masuk kembali ke ruangan itu.

“Mrs Smith, we’ve to tell them now. So this problem will be solved as soon as possible.”

Gabriella hanya terdiam dan tak mengerti kemana arah pembicaraan kedua wanita penggila white-wine ini.

The law of affinity refers to unlikely compositions forming a bond through a purely chemical reaction. … But even the strongest bonds have their limits. And when broken… That if left unchecked, explode like a nuclear bomb. XOXO –Gossip Girl

HCC Bellevue Hospital’s Garden

1st Avennue, New York

Cheonsa baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk membeli segelas kopi. Ia hampir melompat kaget ketika menemukan sosok Donghae sudah duduk di bangku yang tadi ia tempati. Wajar saja, karena taman belakang rumah sakit ini memang jarang di kunjungi. Wajahnya menampakkan ekspresi dingin. Cheonsa berjalan tenang menuju arahnya.

Tiba-tiba saja Donghae berdiri, menarik pinggang Cheonsa hingga tubuhnya nyaris tak menapak ditanah. Kakinya berjinjit saat dengan ganas bibir Donghae melahapnya. Mengekspresikan bahwa sepertinya terjadi sesuatu dengan mood-nya. Ciumannya sarat emosi dan menuntut. Membuat bulu kuduk Cheonsa mereman. Dia menghisap bibir atas
dan bawah Cheonsa dengan desahan tertahannya, menelusupkan lidahnya kedalam
mulut Cheonsa dan memeluk erat pinggang ramping gadis itu. Cheonsa mengalungkan tangannya dileher Donghae.

“Lee Donghae….” desah Cheonsa kehabisan oksigen. Donghae berdecak, menarik bibirnya dari bibir Cheonsa.

Kedua tangan Donghae terulur kearah wajah Cheonsa, menyimpannya dikedua sisi wajah gadisnya. Mengusap dan membelai wajahnya lembut seakan gadisnya itu adalah barang antik yang berharga jutaan dolar. Donghae menatap Cheonsa intens, menghela nafas panjang dan menempelkan dahinya pada dahi Cheonsa, membuat hidung mereka bersentuhan dan ia mencium kening Cheonsa.

Waiting for the fallout. XOXO —Gossip Girl.

In front of Cheonsa’s Apartments

Upper East Side, Manhattan, NYC

“So you don’t want to accompany me?”

Donghae menggelengkan kepalanya pelan. Mulai menundukkan wajahnya ke arah Cheonsa. Dengan dua tangan dia meraih wajah mungil gadis itu, dan tiba-tiba saja Donghae mendaratkan bibirnya di atas bibir Cheonsa lembut. Belum sempat Cheonsa membalas ciuman itu, Donghae menarik wajahnya dan mengecup kening Cheonsa.

“Masuklah.”

Cheonsa terus memandang punggung Donghae hingga tubuh itu menghilang di ujung selasar.

You broke our agreement.”

Cheonsa menoleh ke arah sumber suara dan terkejut seketika dengan apa yang dilihatnya. Jenny Humphrey.

“Nyalimu cukup besar.” Sahut Jenny sambil melipat tangannya di depan dadan dan berjalan mendekat sambil menatap dengan tatapan membunuh.

“You know it well.” Cheonsa mengeluarkan seringaian khas miliknya.

“Han Cheonsa” kata Jenny dengan nada mengintimidasi. “The queen bee of the social Manhattan and Constance Billard High School. An only child, the daughter of a fashion designer mother and a business-man father. Haughty, shallow, intelligent, and scheming.”

Cheonsa tak bergeming, ia tetap tenang seperti telaga yang dalam. “so you’re kind of my stalker?”

“I’m a killer.”

Cheonsa mengernyit, Jenny telah tepat mengenai sasarannya. “What you mean?” Dalih Cheonsa yang tak mau menatap mata Jenny langsung.

Gadis berambut blonde itu melipat kedua tangannya di depan dada, “You understand better than anyone, Cheonsa.”

I’ll never let you to ruin my life.”

“You should know what will happen if you still with LDH. And i’ll feel pleased if you let me to tell your dad about your baby.” Jenny memasang wajah kakunya di hadapan Cheonsa.

Cheonsa mendesis, “If you don’t mind, I’ll tell my dad by myself. Thanks for your suggestions.”

Jenny menatap Cheonsa tak percaya. Mencoba menahan luapan emosinya. Jenny kembali mamasang topeng baja yang dingin di wajahnya. “and don’t forget to invite me to your dad funeral”

GREB. Kedua tangan Cheonsa mencengram leher Jenny dan menengadahkan wajah gadis berambut blonde itu supaya bisa ditatapnya.

“You will never get anything what you want. You will never happily ever after” Jenny masih bisa sempat berkata-kata meski kesusahan mengambil nafas, “Your LDH will marry with your best friend as soon as possible. And I made sure the baby will lose her father even before the baby was born into the world.”

Cheonsa semakin mencengkram wajah Jenny dan menatapnya dalam kemarahan. “I’ll make him stay with me and my baby. No matter how hard everyone want to hurt me. Everything will goes according to my wishes. Their marriage will not happen. I’m sure of that. Even if I should kill her, I’ll did it.” Cheonsa melepas Jenny dengan kasar. Ia berjalan menjauhi Jenny menuju lift yang sudah terbuka lebar.

Cheonsa merasakan sesuatu mencengkram bahunya. Cheonsa berteriak sambil mencoba mengibas bahkan mendorong tangan itu dari bahunya.

Andrew Choi. Entah sejak kapan ia berada di sekitar selasar itu dan cukup membuat dirinya mendengar setiap kata dari pembicaraan Jenny dan Cheonsa.

Di sela-sela perjuangan menahan rasa sakit yang meremukka bahunya, ia melihat Jenny mendekat.

Siwon menghempaskan tubuh Cheonsa ke lantai.

Cheonsa mengerang saat badannya menyentuh lantai seperti ditarik ke tepi satu pusaran yang berputar kencang, yang membuatnya hanya bisa melihat warna abu-abu pekat yang siap menyambarnya ke dalam arus yang berputar. Tergeletak seperti seonggok daging tak bernyawa.

Cheonsa mencoba membuka mata, tapi sangat sulit untuk berkonsentrasi menggerakkan kelopak matanya ketika rasa ngilu menyerang perutnya. Sayup-sayup ia mendengar sebuah suara semakin mendekat, seperti mengambang dalam air. Suara Jaejoong.

“Cheonsa”

Terasa sebuah tangan membalikkan tubuhnya, kemudian menggendongnya dengan hati-hati.

Like all god things the witching hour must come to an end. True natures are revealed. Tricks are turned into treats. And taking off costumes is as much fun as putting them on. Except for little girls who forget that Halloween is only one night. They wear their costumes for so long pretty soon they can’t even remember who they were before they put them on. XOXO —Gossip Girl

* * *

TBC

Wow, it has been a long time since the 8th chap aired. Sorry for everything. I’m a student who should do national exam next week. Please pray for me.

I wrote this chap in the middle of school exam, and all my course schedule. I think this chap is really boring. Don’t ask why this chap make the reader confused. Because I’m also confused when wrote this chap.😛

Thanks for everything!

Your nobody until you’re talked about— XOXO Gossip Girl

written by:   Gabriella Bianca / @gengie_gege

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

11 responses »

  1. park heeyoung says:

    ah lama banget lanjutannyaaaaaa
    kasian gab, kayanya tekanan batin gt
    ih knp gab-hae dijodohin???
    gmn nasib si putri hcs dan ckh???
    pasti gab nolak kan?
    dia kan sama kyu
    ngenes bgt ya hcs, kmren ninggalin hae trs giliran mau balik malah dpt rintangan kaya gini
    eh itu siwon kok jdi jahat??
    errr jae dtg, tp baguslah jdi ada nolongin hcs
    lanjutannya jgn lama2 ya

  2. sha_fishy says:

    so dramatic…….udah makin ruwet gini, penasaran deh gimana bakal berakhirnya kisah segi-banyak(?) ini……..update soon..

  3. Bebera pendeskripsian ruangan di chapter ini terinsprirasi dari penulis novel CLIO FREYA

    — XOXO Gossip Girl

  4. Na says:

    Cheonsaaaaa… Poor you T.T
    Donge.a juga… Kenapa mau aja di jodohin. Uda jelas2 cinta cheonsa juga..
    Huft, i think its hard😛

    OK, fighting to d’exam. Smangat Smangat!😉

  5. yosephinelfs says:

    Kya~ suamiku terlanda galau😀
    lanjuutt..

  6. Amabelle says:

    jadi kenapa ini harus berbelit-belit?
    kenapa donghae sangat2 ngegalau dan terkesan gak bisa menentukan sikap gitu oen?
    dia perhatian sama gabrielle, dan juga terang2an nyentuh cheonsa, >.<
    sumpah! kondisi di ff ini bikin aq panas dingin….!!!!
    aku ame badmood seharian karena ff ini…
    so please, as soon as possible I hope yo could publish the next chap..

  7. IJaggys says:

    i can’t wait the next part its like…………ohmygivenchy my Cheonsa dear /cries hard/ ;A;

  8. pinkers92 says:

    Wowowo apa2an itu LDH mau dinikahin sama Gab?! Andwae! gak terima! /brb demo/
    AAAA Siwon kok jahat sih! Apa yang akan terjadi pada Cheonsa? Jangan sampe dia keguguran ya!
    next part ASAP thor~~

  9. Next part-nya belum ditulis sama sekali,, masih di angan-angan xD Ngga tau kapan mulai nulis #digampar
    Waktu libur tinggal seminggu, minggu depan udah masuk goethe .. LIbur UN cuma 2 minggu #kaburrrr

  10. inggarkichulsung says:

    Jangan pisahkan Donghae oppa dan Cheonsa… Walaupun sering on-off tapi pasangan ini cocok banget.. jangan nikahkan Donghae oppa dgn Gabriela, hiks hiks tidak rela.. Sabar ya Cheonsa..

  11. Nathalie park says:

    Jd gabriella sm d’jodohin sm hae????trz gmn sm kyu????apa dy gkn perjuangin gabriella???trz knp siwon sm jenny ng’celakain cheonsa??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s