You wanted to meet Gossip Girl? Well, look around. I’m nothing without you. And while most high school friendships fade, it’s my hope that what happened today will bond you forever. Now that all my secrets are out, you have a clean slate. Until college. Congratulations, I’m coming with you.

Gossip Girl

 

 

 

Han’s Mansion, Manhattan, NYC

Early Morning

 

 

“I watched Nickelodeon all morning in my room so I wouldn‘t have to eat breakfast with them.”

Han Cheonsa mengatakan kepada teman sekelasnya di sekolah Constance Billard, Kati Farkas dan Isabel Coates. “Dorota sangat bersemangat ketika tahu J akan sarapan disini.” Cheonsa menyelipkan dark brown hair-nya di belakang telinga dan menenggak Vintage-Scotch dari gelas kristal di tangannya.

“Kau mengacuhkannya?” Isabel bertanya sambil merapikan cashmere cardigan yang dikenakan Cheonsa.

“Who cares?” ‖ Cheonsa berkata sambil memakai flat balet hitam barunya. Sangat cantik dengan aksen kupu-kupu yang rapi. Ingin rasanya ia memakai sepatu boot setinggi lutut yang baru saja ia dapatkan dari Italy jika ia tak mengingat nasihat dokter untuk tidak menggunakan heels selagi ia hamil muda.

“The point is, I was trapped in my room all morning. I don’t want to talk with him. I even didn’t want to meet him.”

Cheonsa mengambil dan meneguk minumannya lagi. Satu-satunya cara untuk mentolerir pemikiran bahwa Jaejoong adalah salah satu penyebab LDH menghindahinya.

Untungnya Cheonsa dan teman-temannya berasal dari jenis keluarga yang percaya pada quasi-European bahwa anak-anak harus lebih banyak mengakses alkohol, semakin sedikit kemungkinan mereka untuk menyalahgunakannya. Jadi Cheonsa dan teman-temannya bisa minum apa pun yang mereka inginkan, kapan pun mereka inginkan, selama mereka memelihara nilai kesopanan dan penampilan mereka dan tidak mempermalukan diri sendiri atau keluarga dengan muntah di depan umum, atau berteriak-teriak di jalanan.

Cheonsa begitu marah dengan apa yang terjadi minggu lalu. Ketika J mencoba membujuknya untuk mengugurkan kandungannya dengan alasan dirinya tidak akan siap menjadi seorang ibu muda.

Tapi hari ini Cheonsa harus mentolerir Kim Jaejoong, karena jamuan makan siang yang biasa diadakan mendiang Eleanor semasa hidupnya dan ia harus menghormatinya. Keluarga Houston dan anak-anak mereka Christ dan Donald; Mr Farkas dan putrinya, Kati; Aktor Arthur Coates, dan anak perempuan mereka, Isabel, Regina, dan Camilla;
Kapten dan Mrs Kim dan putra mereka Kim Heechul. Yang hilang adalah Keluarga Smith bersama putrinya Gabriella dan tentu saja Keluarga Lee.

And eventually a queen realizes that a dark knight only has one thing on his mind. And it ain’t slaying dragons. So she takes her pumpkin carriage and goes back to the castle. XOXO –Gossip Girl

Lunch Time

Rumah besar Han telah didekorasi ulang dengan warna merah kecoklat-cokelatan, dan penuh dengan barang antik yang kaya seni. Di tengah meja makan terdapat mangkuk perak besar penuh white orchids, pussy willows, dan chestnut tree branches—a modern ensemble dari Takashimaya, the Fifth Avenue luxury goods-store. Gold-leafed place cards di setiap piring porselen. Di dapur, Dorota menyanyikan lagu-lagu Bob Marley sambil menyiapkan soufflé.

“You and Cheonsa have been going out a long time, am I right?” Heechul bertanya sambil meninju Jaejoong di lengan. Ia mencoba mengulik cerita tentang rahasia besar yang tengah disembunyikan dirinya bersama putri keluarga Han itu.

“You sleep with her yet?” tanya Heechul.

Wajah Jaejoong berubah lebih merah daripada kursi singgasana kerajaan Perancis pada abad kedelapan belas. “Well, we‘ve known each other practically since we were born,..” Ia tergagap “Tapi kami baru akan memulai hubungan ini. Kami tidak ingin merusaknya dengan, kau tahu, bergegas, sebelum siap?”

Jaejoong hanya menelan ludahnya mengingat kembali bahwa Cheonsa selalu bungkam ketika dia bertanya apakah dia mencintainya atau tidak. Tapi dia sedang berbicara dengan teman dari mantan kekasih gadis yang setengah mati ia cintai itu. Apa yang  seharusnya ia katakan?

Heechul menggenggam bahu Jaejoong dengan erat. Di sekitar pergelangan tangannya
terdapat salah satu gold Cartier cuff bracelets  yang tidak pernah ia lepas dan sangat populer pada tahun 1980.

“Let me give you some advice.” Heechul memberitahu Jaejoong, seakan J memiliki pilihan “Don‘t listen to a word that girl says. Girls like surprises. They want you to keep things interesting. You know what I mean?”

Jaejoong mengangguk, mengerutkan kening. Dia mencoba mengingat terakhir kali ia memberi Cheonsa kejutan. Jaejoong adalah salah satu pria populer di Manhattan dan ketika seorang gadis melirik kearahnya, gadis itu tidak bisa melepaskan pandangan darinya, because he’s so hot. Meskipun ia tidak bertindak sama sekali sombong tentang hal itu. Dia memang terlahir seperti itu.

Siang itu Jaejoong mengenakan moss-green cashmere V-neck sweater yang diberikan Cheonsa ketika mereka di Dakota. Sedangkan untuk Donghae, ketika dua tahun lalu mereka berlibur di Sun Valley selama seminggu. Diam-diam, Cheonsa menempelkan liontin emas berbentuk hati kecil ke dalam salah satu lengan sweater, sehingga Donghae akan selalu mengingat hatinya di lengan baju itu. Cheonsa suka menganggap dirinya romantis ala aktris film lama seperti Audrey Hepburn dan Marilyn Monroe. Dia selalu datang dengan perangkat plot untuk film yang ia bintangi pada saat ini, film hidupnya.

Ruangan itu ramai dengan potongan-potongan gosip tentang Kim Jaejoong. Dari apa yang bisa ia dengar, teman-teman mendiang ibunya itu menanggapi dengan cara yang sama dengan apa yang dilakukan Gab dan LDH, meskipun mereka tidak persis menggunakan reaksi keras dengan langsung pergi meninggalkan acara ini.

“Saya tidak yakin,” Mrs Kim berbisik.

“Tapi saya pikir dia mungkin­—” Tambah Mrs Bass, ia menyambar codand-caper spring roll off Esther‘s platter, memasukkannya ke dalam mulutnya, dan mengunyahnya dengan penuh semangat, menolak untuk mengatakan apa-apa lagi.

Disebrang ruangan, Jaejoong tersenyum kepadanya sambil mengangkat sloki minumannya. Disampingnya Kim Heechul memicingkan mata seolah tengah meneliti setiap inci tubuhnya. Cheonsa menyusut jauh dari pandangan yang memuakkan Kim Jaejoong yang bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Saat menuju mini-bar, ia mencium bau daging asap yang membuat ia berselera.

Tiba-tiba Cheonsa kelaparan, dan dia tahu apa yang dia inginkannya, A Hot dog. Dia ingin memakannya sekarang. Sebuah Sabrette hot dog  mengepul panas dengan mustard dan saus tomat dengan tambahan bawang dan sauerkraut. Ia ingin memakannya dalam tiga gigitan kemudian bersendawa di wajah Jaejoong.

Dia berbalik dan mulai berjalan melintasi ruangan. Ia memakai mantel, dan langsung pergi ke luar.

“Where are you going?” Kate memanggilnya. Namun Cheonsa tidak berhenti, dia langsung menuju ke pintu.

Growing up means one thing: independence. We all want it. Sometimes we use other people to try and get it for ourselves. Sometimes we find it in each other. Sometimes our independence comes at the cost of something else. And our cost can be high. Because more often than not, in order to gain our independence we have to fight. Never give up. Never surrender. XOXO —Gossip Girl

Other Side

Cho Kyuhyun Office

iTech Cho Corporation, London

Cho Kyuhyun duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Keningnya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat iPad yang tergeletak di meja kerjanya. Ia tidak habis pikir kenapa iPad dengan berbagai macam fitur itu bisa terlambat memberinya informasi tentang keadaan di Manhattan. Mungkin sesuatu terjadi dengan sistemnya.

Ia memutar kursi menghadap jendela besar dan memandang ke bawah, memerhatikan mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya kota London dengan tatapan menerawang. Ia melirik jam tangan dan mendesah. Jam tujuh malam waktu London, itu berarti jam dua siang untuk Manhattan. Dengan sekali sentakan ia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja.

“Boleh saya masuk tuan?”

Kyuhyun mengangkat wajah dan menoleh. Charlie yang baru masuk ke ruangan tersenyum sopan kepadanya. Pria setengah baya dengan perawakannya yang subur itu berusia 43 tahun, mengabdi kepada keluarga Lee lebih dari 20 tahun. Tak heran jika Donghae sudah menganggapnya sepeti pamannya sendiri.

“Lalu tender seperti apalagi yang diinginkan Tuan muda Lee itu?” tanya Kyuhyun diiringi kekehan.

“Beliau menginginkan setengah dari saham British Airways.” Canda Charlie.

“Karena Nona muda itu mencampakkanya, ia mencoba memenangkan hatinya lagi dengan cara menjadi pebisnis muda dengan jangkauan perusahaan dari Manhattan hingga London? Kau bergurau.” Kata Kyuhyun santai sambil mengetuk-ngetukkan penanya ke meja kerja.

“Saya tidak tahu persis. Kami hanya berkomunikasi hal-hal yang berhubungan dengan urusan kantor.”

“Charlie.” Panggil Kyuhyun ketika pria paruh baya itu mulai menenggelamkan diri dalam file-file yang dibawanya.

“Ya. Anda membutuhkan sesuatu?” Charlie mendongak menatap Kyuhyun.

“Apa yang kau tahu tentang Kim Jaejoong?” Tanya kyuhyun sambil menatap Charlie langsung dimanik matanya. “Apa yang terjadi antara dia dan Gab?”

Tubuh Charlie menengang. Ia merasa tak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan sahabat atasannya itu saat ini. Charlie membetulkan letak kaca matanya.

“Yang saya tahu, Tuan Kim adalah The Non-Judging Breakfast Club. Jadi sudah sewajarnya dia mengenal nona Smith. Selebihnya saya tidak tahu” Jawab Charlie singkat.

Kyuhyun memiringkan wajahnya dan menangkap kegugupan dari Charlie. Mungkin ia menutupi sesuatu. Dan Kyuhyun akan mencari tahunya sendiri. Apapun caranya. Entah apa yang terjadi di Manhattan, ia terlalu sibuk dengan dua perusahaan yang kini harus dijalaninya. Cho Corp dan Lee Corp. Lee Donghae memilih tetap mengurus perusahaan pusat di Manhattan dan menyerahkan kekuasaan cabang persahaan di London kepadanya.

“Ini hampir jam delapan malam tuan, sebaiknya kita bergegas pulang.” Charlie mengintrupsi lamunan Kyuhyun.

“Kau boleh menginggalkan kantor sekarang. Aku masih memiliki beberapa hal yang harus aku selesaikan.”

Looks like little Cho finally stepped out from Big Bad Bart’s shadow. Too bad his girlfriend’s still playing on the dark side. XOXO –Gossip Girl

 

15 minutes later

Lima belas menit kemudian, Charlie sudah berada dalam lift kaca yang membawanya turun ke lantai dasar. Charlie berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemandangan malam kota London yang terbentang di depan mata. Ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang di Manhattan.

“Tuan muda…”

“……….”

“Tuan muda Cho menanyakan soal Kim Jaejoong. Saya rasa, mungkin secepatnya ia akan mencari tahu.”

“………”

“tapi tuan..”

“…. lakukan sesuatu agar dia tak kembali kesini dalam waktu dekat.”

“Saya mengerti tuan.”

Charlie memutuskan sambungan telfon yang terhubungan dengan atasannya. Lee Donghae.

The opportunity to conquer new territory. Or to try and be a little less lonely. But just because the opportunity presents itself doesn’t mean everybody is ready to take it. XOXO –Gossip Girl

 

Lee Donghae’s Car

Vanderbilt Avenue entrance to Grand Central, Manhattan

Donghae duduk dibalik kemudi mobilnya sambil memperhatikan seseorang yang duduk di taman sambil memakan hot dog sejak setengah jam yang lalu. Ia memuaskan diri menatap wajah yang sudah beberapa hari ini tidak ia lihat.

Matanya melebar melihat orang itu mengeluarkan beer dan rokok dari dalam tasnya. Secepat kilat ia membuka pintu mobilnya dan setengah berlari menuju tempat orang itu.

“Kau tahu, beer dan rokok akan mengganggu kesehatanmu dan kehamilanmu.” Kata Donghae ketika tiba dihadapan orang itu.

Han Cheonsa menggeleng. Dia mendorong dark brown hair-nya ke belakang telinga dan tersenyum. Ketika Cheonsa tersenyum, matanya berbinar —those dark, almost navy blue eyes. Itu adalah jenis senyuman yang selalu ditiru oleh hampir semua gadis, berpose didepan cermin seperti orang idiot. The magnetic, delicious-Senyuman supermodel yang menghabiskan bertahun-tahun untuk menyempurnakannya. Cheonsa tersenyum seperti itu bahkan tanpa berusaha.

Ia menatap Donghae tepat dimanik matanya, dan Donghae melakukan hal yang sama. Cheonsa melepaskan Vintage-Burberry coat-nya lalu berjalan meninggalkan Donghae. Ia duduk di marmer Venus de Milo patung air mancur, percikan air mengenai dirinya sampai bajunya sedikit basah. Tidak sulit untuk melihat siapa dewi sebenarnya. Venus tampak seperti tumpukan kental dari marmer dibandingkan dengan Cheonsa. Donghae terhuyung ke air mancur dan masuk kedalamnya.

Donghae menikmati setiap detik kebersamaanya dengan Cheonsa. Berusaha merekam sebanyak mungkin kebahagiaan ini. Mencoba mencari cara agar ketika gadis dipelukannya ini tiba-tiba berubah pikiran dan meninggalkannya lagi, ia memiliki banyak kenangan. Setidaknya itu akan sedikit membantunya untuk bernafas dengan baik tanpa kehadirannya.

Mereka berdua melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya, rasanya canggung dan menyakitkan. Menarik dan menyenangkan. Manis dan mereka lupa untuk malu. Mereka tidak menyesal. Setelah itu, mereka menyalakan televisi, menonton HistoryChannel yang menayangkan sebuah film dokumenter tentang Laut Merah.

Cheonsa dan Donghae berbaring di tempat tidur, berpelukan satu sama lain dan menatap awan melalui skylight-overhead, sementara mereka mendengarkan narator berbicara tentang Musa membelah Laut Merah. Cheonsa pikir itu lucu.

“You parted my Red Sea!” Cheonsa berteriak. Memukul Donghae dengan bantal. Donghae tertawa dan berguling ke atas dengan lembaran sprei seperti mumi.

“And now I will leave you here as asacrifice.” katanya dengan suara dalam film horor.

Dan Donghae benar-benar meninggalkan Cheonsa untuk beberapa saat. Dia memesan Chinese food dan bad-white-wine. Mereka kembali berbaring di tempat tidur sebelum langit mulai gelap dan bintang-bintang berkelap-kelip di jendela loteng.

Sebelum ayah Donghae wafat, mereka telah menghabiskan setiap liburan  di Austria Pegunungan Alpen saat Natal, Republik Dominika saat Paskah, menghabiskan summer dengan perjalanan di Eropa. Ini pertama kalinya dia kembali, pertama kali dia dan Donghae menatap satu sama lainpenuh kemesraan sejak perpisahan dari Jerman itu.

Donghae memeluk Cheonsa dari belakang, mengelus bagian perut Cheonsa dengan lembut. Terkadang menggelitik membuat tubuh Cheonsa berontak dalam pelukannya. Mereka duduk di bangku kayu di pinggiran taman.

“Gab  doesn‘t know, does she?”  Cheonsa bertanya dengan tenang.

Gabriella? Tentang apa? Batin Donghae. Donghae menggelengkan kepala. “No,” jawabnya, “If you haven‘t told her, she doesn‘t know.”

Cheonsa mendesah, mengusap tangan Donghae yang ada di perutnya. Donghae menenggelamkan wajahnya di bahu Cheonsa, menghirup wangi yang selama ini menjadi heroin untuknya. Wangi parfumnya tidak seperti seperti Chanel’s Cristalle yang biasanya. Wanginya seperti madu dan kayu cendana dengan bunga lili. Essential-oil mixture. It was very Cheonsa. Benar-benar memabukkan.

Shit. I missed you like crazy.” Lirih Cheonsa. “I wish you could‘ve seen the stuff I pulled. I was so bad.”

“Apa maksudmu? Apa yang telah kau lakukan dengan begitu buruk?” Donghae bertanya, mengubah posisi duduknya dan menarik Cheonsa untuk menatap matanya.

Dengan campuran rasa takut dan frustasi Cheonsa membayangkan ketika ia tidur bersama Siwon dan berciuman dengan Jaejoong.

“I‘ve been such a horrible friend.” Kata Cheonsa sambil menundukkan kepalanya “Aku bahkan nyaris tidak berbicara dengan Gabriella. Dan begitu banyak yang telah terjadi.” Lanjutnya.

“Dia tidak marah.” Donghae menenangkan, “Mungkin dia hanya merasa shock.”

Cheonsa mengangkat bahu. “Well, anyway, I‘m so psyched to be back here with you. We‘ll do all the things we used to do. And—“

Mata Cheonsa membelalak sempurna mendapati sesuatu yang hangat melumat bibirnya kasar, tanpa permisi menelusupkan lidahnya mengeksplorasi mulutnya. Donghae menarik mundur tubuhnya, membiarkan Cheonsa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Donghae menciumi telinga Cheonsa. Membuat fungsi otak dan tubuh Cheonsa benar-benar lumpuh. Cheonsa melemah. Mendengar suara Donghae yang terdengar seperti bisikan lirih ditelinganya.

“You know you love me.” Dan Donghae kembali mengecup bibir Cheonsa.

Kecupan itu berubah menjadi lumatan lembut, semakin melembut saat serta-merta tangannya menarik pinggang Cheonsa, benar-benar menghapus jarak antara mereka. Cheonsa membalas lumatannya dan menjambak rambut Donghae, dan melingkarkan tangannya dileher Donghae. Donghae membiarkan Cheonsa menguasai ciuman mereka, ia hanya berniat untuk menikmati setiap inci bibir gadisnya itu.

Baru ketika Cheonsa akan menelusupkan lidahnya, ponsel Donghae berdering. Dengan enggan Donghae melepaskan ciumannya. Ia mengumpat akan membunuh orang yang mengganggu waktunya ini.

Cheonsa menahan kepala Donghae, kembali mendekatkannya dengan kepalanya agar ia mudah untuk mencium Donghae. Kembali mencari posisi yang nyaman untuk melumat bibir Donghae. Donghae menjauhkan tubuhnya dan mengecupnya sekilas. “Sebentar…” bisik Donghae yang disambut erangan kekecewaan Cheonsa.

Donghae tertawa kecil lalu berdiri agak jauh untuk mengangkat teleponnya.

Cheonsa tidak tahu siapa yang menelepon dan apa yang dibicarakan karena Donghae hanya menjawab singkat atau hanya mengangguk seolah lawan bicaranya itu melihatnya.

“Siapa?” tanya Cheonsa.

Donghae kembali menghampiri Cheonsa, menyambut ciuman gadis itu sebelum menjawab pertanyaannya.

“I’ve a privat meeting. Mungkin akan lama mengingat aku harus bertemu dengan dewan direksi. Aku tidak bisa mengantarmu pulang.” tanya Donghae sembari mencium semua lekuk wajah Cheonsa. Dahi, mata, hidung, pipi dan dagu, sengaja dilewatkannya bibir Cheonsa.

“Berapa lama?” tanya Cheonsa sambil menahan wajah Donghae dan kembali melumat bibirnya. Donghae menyambutnya, cukup lama mereka berpagutan sebelum Donghae kembali menyudahi ciuman mereka.

“Aku segera kembali, tunggulah apartmentku. Mengerti?”

Cheonsa mengangguk penuh semangat yang dihadiahi kecupan singkat dari Donghae. “Jaga dirimu. Untukku.”

There are songs that make us want to dance. Songs that make us want to sing along. But the best songs are the ones that bring you back to the moment you first heard them. And once again, break your heart. XOXO —Gossip Girl

 

 

iTech Cho Corporation,  NYC

13th floor-Lower Manhattan, Upper New York Bay

Dari sudut Lobby terlihat beberapa mobil mewah shiny-black yang mengkilap berhenti hingga menampakkan orang yang terlihat penting keluar dari mobil itu. Mereka semua menggunakan mantel jas yang sama. Black Suit.

Selangkah demi langkah mereka memasuki lobby dengan tubuh tegap. Kaca mata hitam melekat diwajah mereka. Dan terlihat dibelakang mereka Gabriella Bianca Smith berjalan dengan kepala tegak. Gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Sebuah blus putih dan blazer ungu dengan sapu tangan kecil terselip disaku blazernya yang terlihat manis melekat ditubuhnya serta celana panjang hitam dan sepatu high-heels berwarna putih. Tak lupa dengan rambut pirang panjangnya yang tata dengan rapi. Gabriella benar-benar terlihat seperti wanita karir yang sukses. Dan disampingnya seorang pria tampan dengan rambut hitam yang ditata berantakan.

“Kau gugup?” Tanya Donghae tanpa melihat lawan bicaranya.

“Tentu. Pria itu dengan seenaknya menjadikanku pemegang saham. Apa kau berani jamin bahwa setelah ini aku bisa melarikan diri?” gurau Gabriella yang disambut kekehan Donghae.

“Sudah seharusnya mmmm Mrs Cho.” ujar Donghae seraya tersenyum tipis.

Forget the Four Horsemen. The real evidence the world is coming to an end? Gabriella Bianca needing Lee Donghae to rescue her from social extinction. XOXO –Gossip Girl

 

4 hours later at Madison Square

 “Wine, miss?” seorang waiters berdiri disebelah kiri Gab sambil memegang botol.

“Yes, thank you,”  Gab memperhatikan Côte du Rhone mengalir deras memenuhi gelasnya. Pikirannya melayang tak karuan. Donghae duduk di meja sudut kanan  di lantai bawah bersama beberapa staf dari kantor.

Setelah rapat yang melelahkan, Donghae mengajak hampir seluruh staf yang hadir saat rapat tadi untuk makan malam bersama di salah satu caffe favoritnya di Madison Square. Sayang, Gabriella yang seharusnya menikamati makan malamnya harus bertemu dan berbasa-basi dengan teman yang-terkadang-menjadi-lawan dalam suasana kaku.

“So, you and Kyuhyun are still totally together?” Heechul bertanya seolah-olah hal itu merupakan hal yang sangat tidak wajar.

Gab meneguk anggurnya, little ruby ring yang ia kenakan berderak di sloki. Dia meraih mentega, mengolesi roll-nya.

“Hello. Gab?” Heechul mengibaskan tangannya di depan wajah Gab “Are you okay?”

“Ya.” Jawab Gab sembarang. Ia merasa tak terlalu penting menanggapi seorang Kim Heechul yang sangat berpotensi menjadi narasumber untuk gossip-gossip murahan besok pagi.

Seorang waiters membawa bebek panggang dan acorn squash soufflé yang nampak lezat. Gabriella berusaha memfokuskan diri pada makanannya dan mengabaikan Heechul yang mulai sibuk dengan ponselnya.

Heechul Side

To: HC

Jadi kau benar-benar mengendarai kereta kencana dari abad 18 untuk segera tiba disini Nona?

From: HC

Aku bersumpah akan membunuhmu fussy!

To: HC

Bergegaslah.

From: HC

Hei. Bahkan dalam 5 menit aku akan berada disana.

Other Side

“How about J?” Heechul kembali memasang wajah ingin tahunya.

Wajah Gabriella semakin panas hanya dengan mendengar nama itu, dan dia melihat sekeliling ruang dengan tatapan frustasi. Dia merasa seperti pecundang duduk di sana bersama seorang investigator. Gabriella menyalakan pematik api dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Look at her,” seru seorang waiters, “Isn’t she’s Mrs Han?”

Gabriella menoleh. Dan tentu saja, itu adalah Han Cheonsa.

Dia mengenakan  blue suede knee-high boots dan dress Gucci lengan panjang dengan leher yang tinggi dan sabuk kristal maik biru, oranye, hijau. Fantastis. Rambutnya diikat tinggi ekor kuda. Dengan eye-shadow biru pucat dan lipstik merah muda.

Gabriella merasakan sesuatu bergejolak dalam perutnya. Dia muak dengan Cheonsa bahkan tak ingin melihat wajahnya.

Cheonsa menyadari kehadiran Gabriella di caffe ini. Matanya menatap tajam seseorang yang  berada di sebrang sana yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia menghela nafas panjang sebelum memantapkan langkahnya menuju meja Gabriella.

“Hai” sapanya sopan ketika tiba di hadapan Gabriella. Gabriella menatapnya tidak percaya. Ia menarik kursi di samping Gabriella kemudian duduk disana.

Gabriella menumpuk piringnya tinggi dengan makanan dan memakannya seolah-olah dia tidak makan dalam beberapa pekan. Dia tidak peduli jika dia membuat dirinya sakit, selama dia tidak harus berbicara dengan Cheonsa.

Terjadi keheningan beberapa saat. Gabriella tetap mengunyah makanan sedangkan Cheonsa dan Heechul saling menatap dengan tatapan saling membunuh. Heechul memiringkan kepalanya mencoba mencari sesuatu yang sedikit terhalang oleh kepala Gabriella. Seketika senyumnya mengembang seolah mendapat kejutan yang manis pada malam natal.

Cheonsa yang merasa risih dengan senyuman Heechul mencoba mengarahkan pandangannya ke arah yang sama. Seketika tubuhnya mengejang. Kim Jaejoong.

“Well, I’ve to go now. See you soon girls.” Pamit Heechul sambil mengedipkan sebelah matanya pada Cheonsa penuh arti. Eat your shit, Miss!

Cheonsa mulai dilanda perasaan panik. Jika J melihatnya disini, ia pasti akan menghampirinya dan dengan begitu Gabriella akan bertemu dengan J. Cheonsa menggigit bibir bawahnya gugup.

“Gab, I’ve to go to toilet.” Cheonsa beranjak dari meja.

Cheonsa mengendap-endap berjalan mencari pintu lain menuju lantai bawah tanpa harus berpapasan dengan J. Untungnya terdapat tangga darutat disisi sebelah pintu menuju toilet.

Cheonsa mencari Donghae dengan tergesa-gesa. Suasana caffe yang cukup ramai mempersulit dirinya untuk meneukan pria itu secepatnya.

“Han, apa yang sedang kau lakukan disini?” sebuah suara mengintrupsi.

Cheonsa menoleh dan mendapati Donghae berjalan mendekat dengan gaya casualnya. Ia menaraik Cheonsa dalam pelukannya.

“Kau membuntutiku hhmmm?” tanya Donghae tepat di telinga Cheonsa.

Cheonsa menggeleng cepat. Tangannya menarik Donghae tanpa bicara sepatah katapun. Ia bergegas menuju tangga darurat yang ia gunakan tadi dan melupakan bahwa lift di ruangan itu masih berfungsi dengan baik.

“Hei, apa yang terjadi?” tanya Donghae dan menghentikan langkahnya ketika mereka baru naik di anak tangga ke-3. “Seseorang mengganggumu?”

Cheonsa memutar bola matanya. Mengapa Donghae menjadi bertele-tele seperti ini?

“Gab sedang makan diatas dan —“

“Dia datang bersamaku tadi.” Kata Donghae di sela penjelasan Cheonsa.

Ingin rasanya Cheonsa mencekik Donghae sekarang juga.

“Berita buruknya adalah J juga berada di atas, beberapa meja di belakang Gab.” Cheonsa berkata dengan penuh penekanan.

Raut wajah Donghae berubah seketika dan menarik Cheonsa menapaki anak tangga dengan cepat. Ketika mencapai anak tangga terakhir, tanpa aba-aba Donghae menghentikan langkahnya yang membuat Cheonsa membentur punggungnya.

Donghae menatap Gabriella diujung ruangan dengan tatapan nanar. Gab memejamkan matanya dengan kuat sementara J mencoba mengelus pipi kanan Gab. Ia dapat melihat bagaimana tangan Gab gemetar sambil mencengkram ujung meja.

Cheonsa bergidik ngeri melihat pemandangan mengerikan dihadapannya itu. Ia meremas lengan Donghae dengan takut-takut.

Dengan langkah tenang, Donghae menarik Cheonsa menghampiri meja Gab. Menekan emosinya hingga titik terendah.

“Apakah anda memiliki janji makan malam bersama kami tuan Kim?” kata Donghae dengan nada yang terkesan ketus.

“Lee Donghae. Lama tak berbicara denganmu. Aku merindukanmu.” jawab Jaejoong santai.

“Aku rasa lebih baik kau segera meninggalkan meja ini, karena jujur saja kehadiranmu mengganggu makan malam kami.”

“Begitukah? Kau sungguh tidak sopan. Kau mengusir mantan kekasih sahabatmu sendiri? Tidakkah itu terlalu berlebihan?” tambah Jaejoong.

Donghae mencengkram kerah kemeja Jaejoong dan memaksanya untuk berdiri. Hentakkan tangan Donghae yang kuat membuat tubuh Jaejoong tersungkur dan menyenggol meja yang menghasilkan suara berdecit. Semua orang dalam ruangan itu terpaku mentap adegan kekerasan itu dalam diam.

Gabriella tiba-tiba melonjak dan berjalan tergesa-gesa menuju lorong toilet. Cheonsa mengikutinya dari belakang.

Other times, old opponents resurface to raise the stakes. But it’s the things we walk away from that feel like they cost the most. And yet, it’s when we’ve been outbid—forced to watch our prize go home with others—that the rules of protocol no longer apply. I wouldn’t put you paddles away just yet. Who knows what bidders will do when they’re desperate. XOXO –Gossip Girl

 

20 minutes later

Gabriella berlutut di atas closet, matanya membelak dan kemudian merasakan perutnya kejang-kejang. Pintu toiletnya hanya setengah tertutup, dan Cheonsa bisa mendengar Gabriella muntah-muntah di dalam.

“Gab, It’s me,” Cheonsa berbicara pelan, “Are you okay?”

“………..”

Gab tidak menjawab pertanyaan Cheonsa. Suasananya menjadi hening, selang beberapa detik yang terdengar adalah suara isak tangis yang tertahankan. Cheonsa membuka pintu dengan perlahan.

Gabriella menggigil, dan semakin menekuk lututnya meringkuk kaku di sudut ruangan. Kilatan-kilatan bayangan masa lalu yang menyayat hatinya. Satu rasa sakit yang selalu menjadi satu-satunya hal yang akan membunuhnya perlahan.

“Pergi!” teriaknya histeris.

“Tenanglah Gab.” Kata Cheonsa lembut. Rasa sakit yang menganggu hatinya melihat sahabat baiknya itu meringkuk disana.

Gabriella mendongak, menatap penuh kebencian pada iris mata yang menyipit didepannya. “Pergi Kau!” Matanya berkilat penuh amarah. “Kenapa kau melakukannya padaku?” Gadis itu berteriak keras, seolah berusaha mengalahkan deru mesin pesawat.

Donghae tiba di ruangan itu dengan wajah penuh memar dan pakaian yang berantakan. Dadanya terasa sesak melihat tubuh ringkuh itu menggelung lemah di sudut ruangan. Donghae melepas jas hitamnya, dan memakaikannya pada tubuh Gab. Menyelimutinya.

“Hae, kenapa dia melakukannya padaku?” Kata Gabriella yang terdengah seperti bisikan.

“Don’t you try to live without the past?” tanya Donghae lembut, “Jangan tanyakan sesuatu yang akan menyakitimu Gab.”

Donghae  mengulurkan tangannya didepan gadis itu dan menawarkan senyum tulus yang mengembang tanpa rencana dibibirnya. Menariknya dalam pelukan protektifnya.

Tubuh Gabriella gemetar dalam ketakutan, gadis itu memang benar-benar takut. Bayangan masa lalaunya tentang Jaejoong yang mencekokinya dengan cocain yang membuat semua orang menganggapnya tidak waras. Jenny mengatakan bahwa Cheonsa-lah yang mengirmnya ke Panti Rehabilitasi, rasanya benar-benar mengerikan membayangkan semua orang hilang dari sisinya, membiarkannya kembali merasa sendirian, kembali merasakan kesepian dalam hatinya.

Gabriella menutup telinganya, berusaha menghalau suara-suara yang membuat dadanya terasa sakit, dia menggeleng kuat-kuat, berusaha menyingkirkan rasa takut yang menyelimuti dirinya.

Donghae semakin mempererat pelukannya. Memberi ketenangan pada Gab. Pandangannya beralih ke arah Cheonsa yang membeku di depan pintu. Gadis itu menangis dalam diam.

Rasa bersalah memenuhi hati Cheonsa. Ia menatap sendu Gabriella yang masih dalam dekapan Donghae. Tatapannya beralih pada manik mata Donghae yang menatapnya penuh arti. Cheonsa mengangguk seolah mengerti arti tatapan itu kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

Sinatra sings “New York, New York, it’s a hell of a town.” But on the Upper East Side sometimes it just feels like hell. Even where we’re sure we’ve earned that happy ending, it doesn’t always come. Second thoughts creep in. Secret missions sneak out. And only Sleeping Beauty finds her prince. In this city nothing’s for certain. The night can push you forward into a dark future. Or plunge you into a mysterious past. XOXO –Gossip Girl

TBC

written by:   Gabriella Bianca / @gengie_gege

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

10 responses »

  1. pinkers92 says:

    Aigoo.. Aigoo.. Hae and Cheonsa balikan lagi.. Woaaah!! Great.
    ih iya aku juga gak suka sama Jaejoong, kenapa coba dia harus ada di sini?
    Gab, udahanlah marahnya,kasian juga lihat Cheonsa….

  2. IJaggys says:

    Who says its not good? I found it really journey this part about heechul who has the good-off part and of course when Cheonsa and Donghae traveled back about their.

    I’m curious about their on-off relationship could they make it work again? Or could J killing G and Donghae together?
    waiting for the next part n.n

  3. Sorry untuk update yang super duper lama ini.
    15 hari yang melelahkan dengan rangkaian ujian praktik dan akhirnya dinyatakan LULUS oleh Pusat Teknologi Komunikasi Indonesia – JKT, and ready to take study abroad !! Yipppyyyyy

    dan 13 hari kedepan dengan rangkaian ujian teori yang lain😛
    So, It will take all my time and hard to continue this story soon LOL

    be waiting for me, my loyal readers !!
    You know you love me XOXO -Gossip Girl

  4. Hjaemin says:

    akhirnya part ini di publish juga😀
    ceonsaaa… sama bang donghae lagi🙂
    di tunggu next partnya ^,~

  5. park heeyoung says:

    so HCS and LDH balikan lagi
    akhirnya balikan jg mrka
    kan kasian anaknya kl mrka marahan mulu
    jdi kesel sama karakternya J nih
    ganggu kebahagiannya org aja
    ayolah cheonsa n gab baikan
    cpt dijelasin biar ga salah paham trs

  6. sha_fishy says:

    padahal Jaejoong adalah salah satu favoritku,tp abis baca ini rasanya harus dipertimbangkan lagi deh…..okee,i luv the way LDH and HCS makes their relationship up..so hot,hehehe…

  7. none of the comments that say they are confused with this story

    -GG

  8. isabel says:

    ah,.,.,.merka balikan lgi….

    like this ff….

  9. superddulz7 says:

    waduch Heechul,
    eh JeJe ma Hae berantem ya??
    wah gmana ya ntar!!

  10. Nathalie park says:

    ksian bgt sm gabriella….ky’y dy trauma bgt sm masa lalu dy sm jaejoong…sbnr’y mksd jaejoong ng’hancurin gabriella th apa???apa gra” tjdi ssuatu d’msa lalu jaejoong smpai dy b’buat ky gt???and bwt cheonsa mdh”an dy gkn ngambil kptsan yg slh lg..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s