Shoulder pads may come and go, but a BFF is forever. Because even when you’re not sure where you’re headed, it helps to know you’re not going there alone. No one has all the answers. And sometimes the best we can do is just apologize. And let the past be the past. Other times, we need to look to the future. And know that even when we think we’ve seen it all, life can still surprise us. And we can still surprise ourselves.

Gossip Girl

 

 

 

 

”Jaejoong…” panggilnya bercampur dengan rintihan dan isakkan.

Jaejoong langsung menggendong Cheonsa yang merintih kesakitan. ”Bertahanlah” guman Jaejoong saat memasuki lift yang mengangkut mereka menuju lobby.

Setelah sampai di parkiran Jaejoong membaringkan Cheonsa dijok disamping kemudi, ia memasangkan sitbelt lalu berputar menuju kursi kemudi.

Jaejoong mengemudikan mobil Bugatti-nya dengan kecepatan 180 km/jam. Cheonsa masih mengerang kesakitan yang membuat Jaejoong kesulitann fokus kejalan.

Rumor is Han Cheonsa has a hidden baby. Careful, C. Secrets don’t keep long in this heat. XOXO –Gossip Girl


St. Luke’s Roosevelt Hospital

Upper West Side Manhattan

Jaejoong menghentikan mobilnya di depan rumah sakit, ia berteriak kepada perawat yang langsung membawa Cheonsa ke ruang UGD. Jaejoong menunggu dengan cemas. Setengah jam kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu.

”Anda suaminya?” tanya dokter itu, dengan ragu Jaejoong pun menganguk.

”Kandungannya sangat lemah” ujar dokter itu dan membuat tubuh Jaejoong menegang. Ia menatap dokter itu tak percaya.

”Dia mengalami pendarahan. Kandungannya kekurangan asupan gizi. Dan sepertinya istri anda mengalami stress.” lanjut dokter itu. Jaejoong hanya bisa diam dan menunduk dalam.

“Apa anda tidak tau tentang kehamilannya?” tanya dokter itu bertanya yang langsung disambut anggukan Jaejoong. Dokter itu tersenyum seolah mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.

”Jagalah dia dengan baik. Kalau tidak, anda mungkin akan kehilangan calon bayi anda dan tidak menutup kemungkinan akan kehilangan istri anda juga. Kami akan membawanya ke ruang rawat. Setelah itu anda boleh melihatnya.” kata dokter dan  langsung pergi meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong terdiam. Perlahan ia berjalan menuju kursi di lorong Rumah Sakit itu.

”Kenapa dia tidak bilang kalau dia hamil.” guman Jaejoong serak. Ia mengepalkan tangannya kuat.

Sometimes the only thing left to do is wrap your arms around each other one last time and then just… let go. XOXO -Gossip Girl

A few hours later

Jaejoong sudah sampai di ruang rawat Cheonsa. Ia membuka pintu dengan perlahan dan terlihat Cheonsa yang sedang duduk tertunduk diatas kasurnya.

Jaejoong menutup pintu dan melangkah masuk, ia berdiri beberapa meter dari kasur rawat Cheonsa. Jaejoong masih terdiam, ia seperti lupa caranya berbicara.

”Kau hamil” akhirnya Jaejoong buka suara. Cheonsa tidak menjawab. ”Why didn’t you tell me you’re pregnant” tanya Jaejoong lagi. Cheonsa hanya mengigit bibir bawahnya seolah mencoba menyangkal.

Lee Donghae” Cheonsa membuka suaranya.

Jaejoong merasakan hantaman kuat di dadanya. Ia itu menggepalkan tangannya mencoba menahan emosi.

”Don’t tell anyone I was pregnant. Thats not your business” Kata Cheonsa dingin, ia langsung memalingkan wajahnya ke jendela besar disamping kirinya agar Jaejoong tidak melihat kalau ia sedang menangis.

Keduanya kembali terdiam. Jaejoong menghelah nafas panjang lalu membalik tubuhnya menuju pintu keluar. Cheonsa melirik dari sudut matanya. Sekuat tenaga dia menahan tangisnya. Namun perlahan tangisnya pecah saat Jaejoong benar-benar menghilang dari ruangan itu.

Isakkan kecil berubah tangis sendu keluar dari bibir Cheonsa. Wanita itu meremas baju bagian perutnya.

”Kau lihat, tak ada yang menginginkanmu. Jika dad tau, dia pasti akan menyuruhku membunuhmu.” Kata Cheonsa lirih, ia menangis sekuat-sekuat diruangan yang sepi itu, menumpahkan rasa sakit dihatinya.

“Tapi aku tidak akan melakukannya. I will try to raise you, take care of you, love you.” ujar Cheonsa lalu menatap perutnya sambil tersenyum.

“ I’m sorry. I had to leave your dad. Nanti, jika semuanya berakhir, aku akan menemukan cara apapun untuk kembali padanya. Apapun. Tidak masalah jika nantinya aku akan terlihat seperti wanita yang tidak tahu malu. Lebih baik seperti itu, daripada kau hidup mengerikan tanpa seorang ayah.” Cheonsa mulai menitihkan air matanya. Ia melipat kedua kakinya didepan dadanya lalu memeluknya dengan erat dan mulai terisak.

Sorry to break it to you, C. But this party just went over to the dark side. XOXO –Gossip Girl

A Week Later

Walking Tracks, Central Park

8th Avenue Center of Manhattan, NYC

Gabriella POV

Cheonsa selalu menjadi unpredictable surprise. Cantik dan cerdas. Dia akan selalu memiliki efek di atasku. It hurts me think she’s no longer in my life. I need her so much it scares me to think I’ve already lost her. I wish things would go back to the way they were… when I had my best friend. I hate having such strong feelings for someone who she should really be hating.

Other Side

“Gabriella?” sebuah suara memanggil. Gabriella mendongak melihat tunangan Siwon itu berdiri di depannya.

“Hai Jenny”

“Are you Okay?”  Jenny bertanya lembut.

“Ya. Aku… Aku hanya memiliki banyak pikiran.”

“Kau bisa mengatakannya padaku.” Jenny bertanya membungkuk di depan Gabriella.

No, Thanks. I’m okay.” Kata Gabriella sambil membubuhkan senyuman di bibirnya.

Jenny duduk di kursi kayu di samping Gabriella. “Apa kau benar-benar akan pergi? Selamanya?”

“Ya.” suara Gabriella lemah seolah berubah menjadi bisikan.

“Kau terlihat tertekan.” Jenny menatap Gabriella dengan tatapn sendu.

“Ini rumit.”

“Oke, aku tau kau tak ingin membahasnya.” Jenny berdiri dan mulai berjalan pergi.

“Jenny.” Jenny berhenti dan berbalik.  “Thanks.” Kata Gabriella dingin.

Jenny sedikit terkejut. Ia hanya tyersenyum simpul kemudian berbalik lagi dan berjalan keluar dari taman.

Gabriella kembali ke alam bawah sadarnya. Menenggelamkan diri dengan kilasan-kilasan masa lalunya bersama The Non-Judging Breakfast Club kebanggaannya. Bagaimana mereka akan menghabiskan setiap akhir pekan dengan menghadiri Royal-Party yang memang di adakan untuk para kaum socialist. Everything feels right. Beautiful things in the right place. Sebelum akhirnya mimpi buruk itu datang.

“Hai.” Kate dan Isabel langsung duduk di sebelah Gabriella. Gabriella hanya mendongak sambil menggeser posisi duduknya tanpa mau repot menjawab sapaan mereka.

“Aku mendengar bahwa Cheonsa pergi menemui Jaejoong sebelumnya, dan mereka mungkin bersama.” bisik Isabel kepada Kate.

“Yah kita semua tahu, Cheonsa tak lebih dari perempuan…”

“Shut up Isa, Cheonsa is not a slut. She’s… my friend”

“Friend don’t bringing back other friend’s nightmare.” Jawab Isabel dengan menekankan setiap katanya.

Isabel dan Kate terus saja membicarakan tentang kembalinya J, tanpa memikirkan perasaan Gabriella.

Gabriella bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tempat parkir. Ia menatap wallpaper-nya. Ini adalah fotonya bersama Cheonsa ketika mereka menghabiskan liburan di Italy. Mereka begitu bahagia. Dia merasa bersalah karena terus menghindari Cheonsa, tapi setiap kali ia memikirkan Cheonsa, ia juga mengingat Jaejoong dan apa yang mereka lakukan. Dia meraih ponselnya dari saku dan menghubungi seseorang.

“Donghae… It’s me, Gabriel.” Gabriella berbicara pelan, suaranya paraw seolah-olah dia akan menangis.

Gabriel?

“Well everythings are different now. J is back and I won’t to see him and I honestly don’t want C around people like Jaejoong. You should protect her. Andrew managed me to escape Manhattan, and next week  I’ll make my own way to Argentina.”

“Everything has ended.”

“It’s mean C with J?”

“I don’t know what happened. I lost her.”

KLIK. Gabriella memutuskan sambungan teleponnya dengan kasar. Gabriella berjalan menuju mobil Porsche-nya dengan langkah yang disentak-sentakkan ke tanah. Gabriella masih belum bisa benar-benar mengerti mengapa Cheonsa membawa Jaejoong kembali dan meninggalkan Donghae.  Yang bisa ia lakukan sekarang adalah berdoa bahwa dia tidak pernah melihat Jaejoong yang berarti ia tak akan menemui Cheonsa lagi. Itulah pilihan terbaik sekaligus buruk untuk saat ini.

Tapi seperti biasa, nasib membawa apa yang tak pernah terduga.

“Gabriella.”

Gabriella segera berbalik menghindari seseorang yang berdiri tak jauh dari hadapannya.

“I’ve something going to say.”

Kata orang itu sambil mengejar Gabriella. Ia mencoba menyamanakn langkahnya. Ia sedikit meringis ketika langkah besarnya membuat perutnya terasa ngilu.

Gabriella terus berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. Ia membuka pintu mobilnya dengan cepat. Saat akan menutup pintu mobilnya, Cheonsa menahan pintu itu hingga tetap terbuka.

“Maaf aku telah mengacaukan segalanya. Antara kau dan Jaejoong. Aku tidak bermaksud menyakitimu.” kata Cheonsa dengan tegas.

“Cheonsa stop, nothing you say is ever going to fix this”

Cheonsa menggelengkan kepalanya, mencoba bertahan untuk menjelaskan apan yang terjadi. “Aku kira kita masih berteman.”

Gabriella menahan emosinya. “Sayangnya tidak.”

Cheonsa meringis kecewa melihat betapa kerasnya Gabriella. Ia terus mencari cara untuk mengatasi permasalahan ini, tanpa ingin menimbulkan masalah lagi.

Cheonsa melepas pintu mobil Gabriella dan mulai berjalan pergi. “I know you don’t hate me as much as you say you do…”.

Gabriella menatap punggung Cheonsa dari balik kaca mobilnya. Bibir bawah Gabriella yang sedikit bergetar saat ia meletakkan kedua tangannya ke wajahnya dan mulai menangis. Ia benci bagaimana cara Cheonsa menyakitinya.

In life as in art, some endings are bittersweet. Especially when it comes to love. Sometimes fate throws two lovers together, only to rip them apart. XOXO –Gossip Girl

MetLife Building

200 Park Avenue Midtown Manhattan, NYC

Jaejoong menelusuri file yang di berikan oleh Katy dengan teliti. Matanya menelusuri deretan angka itu dengan cepat. Ia tidak membutuhkan alat atau seorang akuntan untuk menghitung. Ia hanya butuh mata dan otaknya  untuk mendapat hasilnya langsung dari dalam otaknya.

“Yang aku dengar, Cheonsa beberapa hari lalu masuk rumah sakit” ucapan Katy membuat konsentrasi Jaejoong buyar, “Dia hanya mengalami stres.”

“Bawa laporan ini ke bagian keuangan” Jaejoong mengalihkan pembicaraan, ia benar-benar sedang ingin membicarakan pekerjaannya yang ia tinggalkan dua tahun lamanya.

Katy menghembuskan nafas panjang kemudian menatap Jaejoong, “Terlihat sangat mudah, tapi kenyataannya tidak seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Joshep Smith melakukan kecurangan. Menyabotasean investor. Ketidakstabilan jumlah produksi akan memicu merosotnya harga saham. Kita tidak hanya akan semakin kehilangan investor, tapi juga bisa mengalami pailit.” Katy mengambil nafas, “Jika itu terjadi, tidak hanya perusahaan tapi juga kita yang hancur.”

“Kau takut?”

Katy menggeleng, “Aku tidak takut. Jika kita kehilangan perusahaan ini. Aku bisa mencari pekerjaan lain, jika aku tidak mendapatkannya aku masih bisa mencari laki-laki kaya.”

“Gadis bodoh.” Kata Jaejoong sambil menyunggingkan senyumnya.

“Tapi kau, jika perusahaan ini bangkrut, apa kau pikir Harold Han akan diam saja? Kau mengenalnya dengan sangat baik.”

Jaejoong tersenyum, “Jika Harold Han dalam posisi terjepit, aku akan membawa Cheonsa ke Dakota dan hidup disana selamanya.”

Katy melongo, “kau gila.”

Jaejoong terkekeh, ia tidak bisa membayangkan bila mimpinya itu benar-benar terwujud. Mungkin Katy benar, ia sudah gila.

“Lalu bagaimana dengan Donghae?”

“Aku juga tidak keberatan jika aku harus menyingkirkannya.”

Katy meneguk ludahnya sendiri, “Kau yakin? Kau kira itu mudah?”

Jaejoong menggeleng, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa dan melonggarkan dasinya, “Aku tidak pernah seyakin ini. Semuanya begitu biasa.”

Katy melepaskan tatapannya dari Jaejoong, “Aku heran kenapa kau bisa begitu tergila-gila dibuatnya. Padahal dia bukan gadis baik-baik.”

“Apa maksudmu?”

Katy memijat keningnya pelan lalu ikut menyandarkan tubuhnya di sofa, “Party, wild-over, tattoo, shopaholic, and many things about her scandals is always be in headline.

Jaejoong memandang Katy, “I sacrificed a lot for her.”

“Bukan untuknya. Tapi ayahnya. Apa menghancurkan keluarga Smith akan sebanding dengan apa yang akan kau dapatkan nantinya? Aku akan jauh merasa lebih baik jika dulu kau langsung membunuh Bianca, dari pada mencekokinya dengan cocain setiap hari. Membuatnya terlihat seperti gadis gila. Dan kau melakukannya dengan teramat baik  hanya untuk mendapatkan seorang Han Cheonsa?”

Jaejoong terdiam.

“Setiap orang mempunyai pilihan, dan jika kau tak bisa memilih biarkan orang lain memilihkannya untukmu sehingga kau bisa membuat satu pilihan lain. Kau bisa mengubahnya.”

Jaejoong menggangguk, ia mengerti maksud Katy.

If there’s one thing I’ve learned, it’s that there would be no gossip without secrets. You might be brave enough to reveal your secret only to have it used against you. Or someone else’s secret might effect you in unexpected ways. There are some secrets you’re only too happy to keep. Others surface only to be buried away deeper than they were before. But the most powerful secrets are the truths you thought you could never reveal. That once spoken change everything. But don’t worry, J. The brightest stars burn out the fastest. Or at least that’s what I heard. Waiting for a star to fall. XOXO —Gossip Girl

Donghae Office

Midtown Building, Manhattan, NYC

“Oh Anda datang lagi nona Han.” Kata Charlie ramah dari balik mejanya.

“Dia di dalam?”

“Sedang meeting nona. Tapi sepertinya telah berakhir. Anda mau menunggu?”

“Aku akan menunggu di dalam.” Katanya sambil tersenyum dan melangkah masuk ke ruangan itu.

Ruang kerja yang minimalis nan megah. Terlihat dari pemilihan furniture dan meja kerja yang mencerminkan professionalitas. Ia berjalan ke arah meja kerja Donghae. Kertas-kertas betebaran dimana-mana, cup Starbucks yang isinya tinggal setengah itu pasti berisi arabican coffee kesukaannya, komputer yang dibiarkan menyala, sebuah kaca mata kerja yang tergeletak berantakan di aras kertas.

Cheonsa mengalihkan pandangannya dari semua hal itu dan melihat beberapa pigura foto yang ada di meja bagian kanan. Seingatnya dulu ada tiga buah pigura. Foto keluarga Donghae. Foto meraka bersama Gabriella dan Kyuhyun. Dan foto mereka berdua. Tapi sekarang hanya ada dua buah pigura.

He already erase me completey. Cheonsa tersenyum miris. Seseorang masuk ke ruangan itu sambil berbicara di telpon.

“Oh ayolah. Besok pagi aku pergi.” Kata Donghae tanpa menyadari kehadiran Cheonsa. Cheonsa tersenyum lalu berjalan ke arah Donghae. Donghae yang terkejut langsung menoleh ke arah Cheonsa.

“I’m hung up now. I’ll call you later.” katanya berjalan melewati Cheonsa dan duduk di balik meja kerjanya. “What are you doing here?”

“Mengajakmu makan siang.” katanya sambil tersenyum dan duduk di depan meja kerja Donghae.

“Aku sedang sibuk sekarang. Bisa kau tinggalkan aku?” katanya dengan tegas.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau menemaniku.”

“Aku tidak peduli. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sore ini juga.” Katanya tanpa memandang Cheonsa dan memilih menenggelamkan wajahnya di balik layar laptop.

“Kau tak memperdulikan aku lagi?” tanyanya.

“Bukankah semuanya telah berakhir nona Han? Jadi bisa aku katakan bahwa kau bukan siapa-siapaku lagi.” Kata Donghae sambil menekankan pada kata-kata ‘bukan siapa-siapaku lagi’.

“Aku tidak suka kau seperti ini.”

“Itu urusanmu.”

“Hae, please.”

“Kita ini bukan siapa-siapa lagi dan kau tidak berkewajiban memberikan perhatian kepadaku. If you do it again, I will get hurt. Why did you come up again after you destroy everything?”

“……”

“You don’t know how much I hurt? You and all of you made me sick and desperate. Please, I beg you to stop all this.”

“If I say I love you and sorry for what had happened. Do you believe?” tanya Choensa tiba-tiba dan sukses membuat Donghae terkejut.

“……….”

Cheonsa tersenyum menanggapi keterkejutan Donghae. “Aku pergi.”

Looks like Lee Donghae made his choice. But careful, Lee. Now that you’re a big fish there are a lot more sharks in this pond. XOXO –Gossip Girl

 

 

 

***

Cheonsa membasuh wajahnya berkali-kali dengan air yang mengalir dari wastafel. Dia menatap wajah pucatnya pada cermin didepannya.

“Kau tidak menginginkanku.” gumannya dengan nada bergetar. “Kau meninggalkanku.” air matanya mengalir lagi. Cheonsa menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak. ”Kau mencampakkanku. Kau melepaskanku.”

Cheonsa mengelap air matanya lalu melangkah dengan lemas menuju tempat parkir. Wajahnya pucat pasih, kepalanya terasa berputar-putar. Tapi dia berusaha untuk tidak ambruk. Cheonsa memasuki mobilnya dan langsung memacu dengan kecepatan tinggi.

Looks like this story might just have a second act. Let’s hope it’s not a tragedy. XOXO —Gossip Girl

Han Mansion

Upper West Side Manhattan, NYC

Cheonsa memarkirkan mobilnya di depan pintu. Tapi setelah beberapa lama, dia tidak keluar dari mobil. Entah apa yang sebenarnya yang dia lakukan.

“Nona” panggil Dorota dari teras rumah.

Cheonsa membuka pintu mobil, dan terlihat wajahnya sedikit pucat. Matanya juga memerah. Ia menatap Dorota sekilas.

“Anda baik-baik saja?” tanya Dorota ragu. Cheonsa hanya mengangguk. Wajahnya terlihat sedikit bingung. “Kenapa wajah Anda bingung seperti itu?”

Cheonsa’s Room

Cheonsa jatuh terduduk di atas lantai, ia menangis. Cheonsa memukul dadanya, rasanya ada yang sakit di dalam sana. Memukulnya berniat mengurangi rasa sakitnya, tapi tidak berguna. Cheonsa meraung, Dorota diam membeku tanpa berniat menenangkannya.

Cheonsa tersedu, sampai sesak nafas karena tangisan hebatnya.

***

Sudah malam dan Cheonsa masih belum beranjak dari kamarnya, tubuhnya meringkuk di atas lantai yang dingin ini.

Menangis lalu diam. Diam kemudian menangis. Mungkin dia akan gila, cepat atau lambat.

Tubuhnya tak begerak, seperti mayat hidup. Mungkin sebutan mayat itu terlalu baik. Seharusnya para ilmuan itu mencarti kata lain yang lebih bisa mendeskipsikan keadaan Cheonsa saat ini.

Aku harus berbicara dengan Gabriella. Aku membutuhkannya.

Cheonsa menyeret tubuhnya menuju meja di samping ranjang. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, berkali-kali meleset sehingga dia terpaksa membungkuk begitu sering untuk memungut semua barang yang dijatuhkannya. Kemudian melangkahkan kakinya ke tempat dimana mobilnya terparkir.

Poor C. Couldn’t spin this one in her favor. Looks like now she’s spinning out. XOXO –Gossip Girl

Gabriella’s Penthouse

The St. Regis, Manhattan, NYC

Gabriell menghirup martini-nya dalam-dalam. Dia terus berpikir tentang berapa banyak hidupnya telah berubah sejak mengenal Jaejoong. Dalam pikirannya, masih tersimpan jutaan pertanyaan mengapa Jaejoong memperlakukan dirinya seperti itu. Apa yang akan dikatakan Cheonsa jika ia menuntut untuk mendengar alasan Cheonsa membawa J kembali. Tapi tentu, itu adalah salah satu rahasia Cheonsa yang tidak akan pernah ia tahu.

Gabriella memiringkan kepalanya dan meminum sisa minumannya dengan satu gerakan cepat. Hati-hati ia menuang cairan bening itu pada porsi sloki keempatnya.

“Gabriella.”

Cheonsa. Gabriella cepat melangkah keluar dari kamarnya, untuk melihat apakah dia salah dengar. Yang mengejutkan adalah ia menemukan Cheonsa dengan rambut yang sedikit berantakan, pakaian yang kusut, dan matanya yang memerah.

Gabriella ingin menemukan cara untuk membuat segalanya baik-baik saja. Ia merasa ingin melarikan diri dan tidak pernah datang kembali. Hatinya memang benar-benar terluka. Ia merasa tidak akan pernah bisa memaafkannya.

“Gabriella.”

Air mata mulai menggenang di mata Gabriella saat ia melihat Cheonsa.  Gabriella mendengus pelan dan melangkah pergi.

Cheonsa secara naluriah tahu ada sesuatu yang mengganggu Gabriella dan berlari mengejarnya, “Gabriella.” Cheonsa berkata dengan lembut, ia menemukan Gabriella duduk bersandar di dinding.

“Go away Cheonsa I don’t want to talk to you!” Gabriella berteriak histeris.

Cheonsa membungkuk di depan Gabriella. Ia mencoba bersikap lembut padanya, tapi itu tidak berguna. Gabriella melotot ke arah gadis mungil putri keluarga Han itu.

“Mengapa kau membawanya kembali?” kata Gabriella penuh penekanan, diam-diam air mata mengalir di pipinya.

“What you did really hurt me… I know about you and J.”

“Who told you?” Cheonsa bertanya dengan gugup.

“It doesn’t matter. How could you do that to me?”

“Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya membutuhkannya saat itu.” Cheonsa merasa ada batu besar yang tersangkut di tenggorokannya, ia tidak yakin apa yang harus dikatakan berikutnya.

“That’s a lie Cheonsa, and you know it.”

“Gabriella, what’s your problem?” Cheonsa menghapus air mata di pipi Gabriella.

“My problem is you.  Bagaimana bisa kau meninggalkan Donghae dan bahkan tanpa alasan yang jelas. Bagaimana cara kau menyiksaku. Aku pikir kita sahabat, ternyata tidak. Because the best friend I use to know would never hurt me the way you did. Ketika aku melihatmu, sekarang semuanya terlihat asing.”

“I didn’t know… you felt that way. Even I had known I would have-…” sela Cheonsa ditengah kaliamat Gabriella.

Gabriella lebih bingung sekarang. Lebih dari sebelumnya satu bagian dari dirinya benar-benar ingin membenci Cheonsa. Tapi kemudian bagian lain dari dirinya benar-benar ingin memeluk Cheonsa.

“Gabriella.” Cheonsa berbisik sambil membelai rambut lembut Gabriella.

“I hate you.” Gabriella berteriak dan menndorong tangan Cheonsa dari wajahnya.

“What?” Cheonsa berhenti membelai rambutnya. “How can you say something so mean.”

“I hate you too.” teriak Cheonsa menusuk bagaikan pisau. Gabriella merasa jika tenggorokannya sedang tertutup sampai dia tidak bisa bernapas.

Cheonsa tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Gabriella. Tapi melihat cara Gabriella berteriak padanya, dia menjadi begitu marah lebih dari rasa bersalahnya.

“You can rot in hell for all I care because we are no longer friends.” Gabriella marah dan  berjalan pergi. Air mata mulai menyengat mata Cheonsa, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya dan seolah-olah hal ini jauh lebih menyakitkan dari pada patah hati.

True love and betrayal. Revenge and more revenge. A heroine with an impossible goal. If only Mozart had lived on the Upper East Side. But you can keep your magic flute, Amadeus. All this Queen wants is a golden ticket to Yale.

Golden Triangle Building

Washington DC, USA

“Ada urusan apa kau menemuiku?” Kim Jaejoong yang sudah terbiasa mendapat sikap sinis dari Harold Han, hanya bisa tersenyum datar.

“Wow, santai saja tuan Han, Anda tidak merindukanku?” goda Jaejoong diingi kekehan ringan, “I have something to tell.”

Harold terdiam, menatap Jaejoong dalam. Air mukanya berubah tegang seolah apa yang akan ia dengan adalah sebuah malapetaka besar.

“Apa itu?”

“Well, C is pregnant.”

Selalu saja. Setiap kali Jaejoong datang, bencana akan selalu mennyertainya. Entah itu untuk Gabriella, Donghae atau dirinya sendiri. Jaejoong bagaikan malaikat kematian yang akan mencabut nyawa seseorang tanpa belas kasih. Namun ia akan berubah wujud menjadi malaikat penolong yang baik hati bagi Cheonsa.

“Aku tahu kau tidak akan menyukai kenyataan bahwa setengah dari DNA Lee itu ada pada tubuh keturunanmu…..”

“Gugurkan. ” Harold berbicara dengan ringan seolah apa yang baru saja ia katakan adalah hal yang lumrah. “Buat dia menggugurkan kandungannya.”

“Aku tidak ingin anda mempermainkan hidupku lagi. Kali ini aku tidak akan menutupi apapun dari Cheonsa. Aku akan menceritakan tentang keluarga Smith padanya langsung.”

Harold menarik simpul bibir kirinya, ia tersenyum sinis, “Kau tidak perlu repot menceritakannya. Cheonsa sudah tau bahwa ibu Gabriella-lah yang mendonorkan jantungnya untuk Eleanor.”

Jaejoong menatap tajam pria tua dihadapannya itu, “Tapi anda tak pernah menceritakan kenapa ia mau mendonorkan jantungnya.”

Harold terdiam. Ia memang merahasian hal itu dari Cheonsa.

“Wanita itu tidak pernah bunuh diri. Anda membunuhnya dan…” Jaejoong menggantungkan kalimatnya. Ia memandangan seakan Harold itu adalah makhluk yang paling menyeramkan di dunia melebihi monster.

“Kau ceritakan hal itu atau tidak. Itu tidak akan membuat semuanya kembali. Tidak akan mengubah apapun.”

“Anda benar.” Jaejoong mengulum senyumnya, “Tapi akan mengubah hidup anda.”

“Aku tidak peduli lagi. Bahkan nanti jika aku mati membusuk di penjarapun, selama putriku tetap hidup dengan layak, itu bukan hal yang sulit.”

Harold Han, kau mengambil semuanya dariku. Kau mengambil kebebasanku. Kau membuatku terlibat dalam skenario busukmu. Membuatku harus mengasingkan diri dari kehidupanku. Bahkan kau membuat seolah disini akulah yang bersalah. Ungkap Jaejoong dalam benaknya.

Jaejoong menyunggingkan senyumnya, “I have a choice.”

Harold memandang Jaejoong dengan tatapan tidak mengerti.

“Jadi kau sudah memikirkannya sejauh ini?” Harold berdiri dari kursinya kemudian mendekati Jaejoong yang duduk dihadapannya, “Kau termasuk orang yang sangat mengerti diriku. Apa yang akan aku dapatkan jika aku menyetujui tawaranmu?”

Harold menatap Jaejoong yang kini berjarak satu langkah dari tempatnya berdiri, “Kau tau persis apa yang aku inginkan.”

Jaejoong menyunggingkan senyumannya, “Tentu saja, tidak sulit membaca pikiran anda tuan.”

“Aku tidak menyukai pemikiran yang rumit.” Ucap Harold dengan nada tenang.

“Aku juga tidak menyukai hal yang rumit. Maaf mengganggu waktu anda Tuan Han.”

Jaejoong melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Harold. Matanya berbinar memancarkan kepuasan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tulus. Ya, semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan.

The problem with inheritance is that it’s not always as simple as it sounds. Sometimes you get more than you bargained for. Or you discover that in gaining one thing you’ve lost something else. But every once in awhile, the fate’s smile upon you. And you get the one thing you really need. XOXO —Gossip Girl

 

 

 

***

Jaejoong menelusuri kawasan Downtown Washington dengan kecepatan normal di telinga terpasang earphone bluetooth yang menghubungkannya dengan Katy.

Jadi kau berhasil menemuinya?

“hhmmm.”

Oh ayolah, katakan apa yang manula itu inginkan?

“Tidak ada.”

Baiklah. Jangan pernah temui aku jika kelak dia menkhianatimu.”

Jaejoong menghela nafas panjang, ia tidak suka jika berbicara dengan Katy tentang Harold Han, “Menyingkirkan …….”

“Kau gila!”

“Aku hanya perlu memastikan bahwa mereka pergi dari Manhattan.”

“Kau pikir aku bodoh? Harold Han tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan begitu mudah. Katakan apa yang sebenarnya ia inginkan? Mencekokinya dengan cocain? Atau menyuntikkan cairan Clostridium Botulinum pada tubuhnya?”

“Katy kau…..”

“Wait, kau tadi bilang apa? Mereka?

“Ya, Bianca dan Donghae.”

“………”

“I should to kill them.”

Most people lose a parent, they inherit sorrow, loss and a closest full of outdated clothes. But on the Upper East Side death’s sad chapter comes with a silver lining. Or a gold one if your relatives invested wisely in precious metals. XOXO –Gossip Girl

TBC

written by:   Gabriella Bianca / @gengie_gege

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

15 responses »

  1. yosephinelfs says:

    wah donghaenya mau di apain tuh?
    Lanjut thor🙂

  2. Park Heeyoung says:

    Speechless ya baca ini
    Knp semakin bikin pusing ceritanya??
    Jaejong jahat bgt
    Trs dadnya cheonsa itu ada rhsia apalagi
    Untung ga jdi keguguran tp dadnya malah pengen gugurin kandungannya
    Cheonsa jdi kaya ga punya tmen gt
    Hae n gab malah ngejauhin dia
    Jae ngerencanain apa lg sih knp hae n gab mw dibunuh
    Gregetan baca ni ff
    Next part jgn lama2

  3. Gege says:

    Gabriella Bianca Smith
    Bianca is Gab’s lovely name from J

  4. Carol says:

    Wait…wait…wait….
    Maksudnya? Donghae mau dibunuh?
    Ah kenapa makin bikin pusing ya.
    Penuh misteri.
    Ok deh. Saya selalu menanti kelanjutannya.

  5. Gege says:

    Kayaknya semua orang bingung dehh ama cerita ini😛
    Aku berusaha untuk membayar kebingunang readers d chap sebelumnya ..

  6. Paramitha says:

    Gosh~ i couldn’t say a few words again. It really shows that J is not truly bad. He did all of the things not from heart, but his condition forced him to do that. O-M-G!

  7. haevenz says:

    Emmm setuju ma comment reader yang laen.. Koq baca ny malah jd confused gni yah ? °•(>̯-̮<)•°‎ peace yah eonn..
    Itu si HC ga takud kecelakaan kah ? Naek mobil ngebut, aku semped ngira si HC bakal masuk RS trnyata ga toh yang abz nemuin LD .. :p
    LD b'sikap dingin n Gab ngejauh dr HC ..
    HC need somebody to talk but …😦
    Well, aku tggu cap selanjut ny yah eonn🙂

  8. Gege says:

    But he did it very well.
    Just because he love HC, doesn’t mean he can burn me and LDH ;P
    The world war III just begun.

    xoxo -Gossip Girl

  9. Gege says:

    you guys really confused about this story ?
    I don’t know what happen, but please read clearly. Hope you enjoy.

    xoxo -Gossip Girl

  10. Cho Miara says:

    waw naluri seorang ibu ya…
    Si cheonsa jd dewasa dah pas hamil…

    Aduh bener2 jae malah blg ke bokapnya…
    Pkknya jgn ampe dah keguguran, demen bgt dah gw klo cheonsa hamil wkwk

  11. Gege says:

    Harold Han is evil😛

    xoxo -Gossip Girl

  12. pinkers92 says:

    Wow ceritanya semakin menarik,
    jadi kasian dengan Cheonsa, disaat kayak gitu Hae sama Gabriella malah menjauhinya.
    ini gara2 si Jaejong! Ih sebel sama dia. I’ll killed you J!!
    Next part ASAP…

  13. superddulz7 says:

    wow~~~~~
    kisahnya Donghae ma Cheonsa rumit ya?? melbatkan org” terdkt. hehehe

  14. Nathalie park says:

    Sbnr’y apa yg d’sembunyiin ayah cheonsa trz apa hub’y sm jaejoong???smpai dy ky’y dendam bgt sm kel’y gabriella?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s