Camus said that life is the sum of our choices. Choose wisely and fortune smiles upon you. But choose poorly? You never know what price you’ll have to pay.

Gossip Girl

Ruangan klasik bergaya Eropa dengan dominasi warna abu-abu muda itu tidak hentinya sepi. Harold Han duduk memejamkan matanya sambil terus mendengarkan Derek membacakan laporan. Ia duduk di kursi eksekutif di ruang CEO, Golden Triangle building, Washington DC, USA.

“Itu laporan dari Manhattan, tuan.” Derek menyudahi laporannya.

Harold menghirup udara sebanyak-banyaknya, membiarkan udara musim gugur masuk kedalam paru-parunya. Ia mencerna semua informasi dan berfikir dengan tenang.

“Bagaimana dengan Cheonsa, apa ia masih berhubungan dengan anak keluarga Lee itu?”.

“Beberapa hari ini Nona muda tidak pernah menemui Tuan Lee Donghae. Ia hanya terlihat bepergian dengan Nona Gabriella untuk mempersiapkan Grand Opening perusahaan game dari London, iTech. Pemiliknya bernama Cho Kyuhyun, usia 24 tahun, pewaris Cho Corp. Dan memiliki kakak perempuan bernama Cho Ahra. Dia cerdas dalam penciptaan software, dia salah satu orang yang berpengaruh dalam menciptakan game di Eropa bahkan dunia. Nona muda mengenalnya dari Nona Gabriella ketika di London. Satu hal lagi tuan, Nona muda datang ke Royal White-wine Party di Jerman bersama Tuan muda Kim.”

Harold membuka matanya, “Jaejoong?”

“Benar, tuan. Ia telah kembali, bahkan dalam beberapa hari ke depan ia akan kembali mengambil alih perusahaan. Tapi… ”

“Cukup…” ucap Harold dingin, “pergilah…”

Harold memutar kursinya menghadap jendela. Ia menyipitkan mata ketika sinar matahri menerobos indra penglihatannya. Ia tidak tau sudah berapa malam ia habis kan di kantor, bercengkrama dengan berkas yang berharga jutaan dollar.

Harold memandang langit yang berwarna jingga. Ia menghela nafas panjang. Dan memejamkan matanya lagi.

New world, but same old story. The darkest secrets are always the ones that hit closest to home. XOXO –Gossip Girl

Gabriella’s Penthouse

The St. Regis, Manhattan, NYC

 

 

Gabriella terduduk lemas memeluk lutut sambil bersandar pada sandaran tempat tidur. Tatapannya kosong menerawang jauh. Sesekali ia memejamkan mata seolah ingin melupakan apa yang baru saja terlintas di pikirannya.

“Gabriel?” panggil seseorang dari luar.

Gabriella hanya diam. Tak ada tanda-tanda dia akan bereaksi.

“Gabriella!” panggil suara itu lebih keras dari sebelumnya.

Gabriella menoleh ke arah pintu kamarnya,  dan mendapati Donghae menatapnya dengan khawatir. Sedetik kemudian dia menundukkan kepala dan punggungnya mulai bergetar.

“Kau baik-baik saja?” ucap Donghae bingung. Donghae duduk di sampingnya dengan ragu-ragu. Dihapusnya air mata yang mulai membasahi pipi Gabriella.

“Kau tau aku tidak baik-baik saja” jawab Gabriella dingin. Ia mulai terisak. Donghae hanya bisa memeluknya sambil mengelus-elus punggungnya.

Gabriella mencengkeram kemeja yang dikenakan Donghae dengan erat dan membenamkan wajahnya di dada sahabatnya itu.

“Hae…” ujarnya dengan suara serak. “Aku mohon, katakan padaku bahwa ia tak pernah kembali. Aku mohon. Lakukan apa saja agar mereka tak membawaku lagi.”

“Tenanglah Gabriel, kau sudah sembuh. Mereka tidak akan datang.” Donghae terus berusaha menenangkan Gabriella. Ia tahu persis apa yang terjadi pada Gabriella. Hal yang selama 2 tahun ini berusaha tidak ia ingat.

Every actress eventually finds the hook into her character. Even if sometimes life has to give her a little push. But don’t worry, G. When God closes a door he opens a play. –Gossip Girl

Other Side

Rivadavia Avenue, Buenos Aires, Argentina

 

 

Seorang pria paruh baya menghirup kopinya dalam-dalam. Udara yang ia hirup membuat rongga di paru-parunya melebar dan membuatnya tenang. Kafein dalam kopi juga membuat tubuhnya nyaman.

“Presdir” Angelic menyerahkan laporannya pada pria tua itu, “Cabang DC melemah setelah Tuan muda Choi meninggalkan perusahaan.”

Joshep Smith memejamkan matanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaannya dalam keadaan kacau. Niat awal dia menjodohkan putrinya, sebagai jaminan perusahaan juga menitipkan nasib putrinya pada orang yang tepat. Ia berharap Cho Kiho bisa memberikan keluarga yang baik untuk putrinya.

“Aku menggantungkan perusahaanku pada putriku.” Lirih Joshep, “aku membangun semua ini atas nama putriku, Gabriella Bianca Smith.”

Angelic terdiam. Ia tahu betul maksud Presdirnya itu. Perusahaan ini akan dipertahankan bahkan dalam keadaan bangkrut sekalipun.

“Aku membangun Virtual Mind agar Gabriella tidak bernasib sama seperti ibunya. Ia tak harus menjual organ tubuhnya hanya untuk menyambung hidup.”

Beep Beep Beep

“Presdir, …..”

“Sesuatu terjadi?” Tanya Joshep kepada orang di seberang sana.

“………………”

Ia mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orang itu. Mata Joshep terbuka lebar seolah mendapat berita yang sangat buruk, tanganya bergetar menahan amarah.

“Dimana dia?”

“……. di Manhattan, bersama Lee Donghae.”

“Lakukan sesuatu. Dan segera bawa ia kembali.”

Joshep membanting telpon yang ia genggam. Kilatan matanya menandakan betapa murkanya ia saat ini. Angelic beridiri mematung seolah menunggu titah untuknya.

“Beritahu Andrew bahwa kita akan membatalkan perjodohan dengan keluarga Cho. Dan segera hubungi Nyonya Lee.”

‘Tapi~… bagaimana kerja sama kita dengan Cho Corp.? Selain itu, hubungan Nona muda dengan Tuan muda Cho sudah sangat baik.”

“Lakukan sesuatu agar pembatalan kerja sama tak banyak bepengaruh terhadap keuangan perusahaan. Ulur waktu sebanyak-banyaknya. Cari investor lain sebagai pengganti. Dan jangan pernah biarkan Han Corp. mengetahui kondisi perusahaan kita.”

Angelic mengagguk mengerti kemudian membungkuk sebelum pergi.

Joshep memandang foto Gabriella yang ada di meja kerjanya. Foto Gabriella saat liburan musim panasnya dulu. Ia kemudian mengambil sesuatu di brangkasnya. Sebuah foto yang menjadi satu-satunya semangat yang ia punya. Foto istri bersama seorang bayi mungil, foto itu diambil ketika Gabriella baru saja dilahirkan. Foto terakhir yang ia punya tentang istrinya. Joshep membalik foto itu dan membaca tulisan istrinya.

Tolong jaga anak kita

If the Lord is our Shepherd, looks like one of his lambs has lost his way. Or maybe, make that a black sheep. We bring nothing into this world and we leave nothing behind. But that doesn’t mean we don’t leave a big ol’ mess when we go. –Gossip Girl

 

Midtown West

5th Ave & Avenue Of The Americas, Manhattan, NYC

Cheonsa POV

 

 

 

Aku duduk di café favoritku. Café dimana biasanya akan selalu ada Lee Donghae disisku. Yang berbeda kali ini adalah aku datang kesini sendiri tidak bersamanya.

Aku benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri dari semua situasi yang melelahkan ini. Dia, laki-laki itu, mungkin hanya bisa digambarkan dengan senyuman karena aku sendiri bingung harus menggambarkannya seperti apa. Dia membuatku merasa menjadi diri sendiri, tidak perlu menjadi seorang Queen Bee atau menjaga image seperti yang sering kulakukan. Bersamanya aku bisa menjadi seorang anak kecil dan bermanja-manja yang tak pernah aku lakukan dengan Mom and Dad.

Tidak seperti Andrew yang maha sempurna – come on, who doesn’t think Andrew is God’s perfect creation? Pria yang telah mencuri hatiku. Sounds cheesy right?

Donghae is very popular among women. Dia bertingkah seperti anak kecil sehingga kau dengan sangat mudah memaafkan segala kesalahannya. Dia juga king of flirt, bermodal wajah yang tampan, puppy eyes, dan pembawaannya yang manis kau bisa tergoda bahkan dalam waktu kurang dari lima menit. Mungkin awalnya terdengar nonsense, but after that your face going red with embarrassment of praise from him. Setelah itu setiap wanita akan berusaha untuk selalu dekat dengannya dimulai dengan mendapatkan nomor telponnya ataupun membuat pertemuan seperti ‘tidak sengaja’.

They say love is blind. But jealousy it seems provides a clear view all the way to hell. –Gossip Girl

No One Side

“Pesanan anda nona.” Kata seorang pria jangkung berjas merah sambil tersenyum manis dan menaruh sebuah chocolate cake di hadapan Cheonsa. “Mana Jaejoong?”

“Thanks Milky Skin” Jawab Cheonsa sambil tersenyum hambar dan berharap bahwa pria itu hanya menanyakan Jaejoong hanya sebagai basa-basi. “Apa yang kau lakukan disni?”

“Well, as you see, I interrupt your lunch” Jawab Kim Heechul santai sambil membenarkan duduknya di hadapan Cheonsa.

Cheonsa melanjutkan aktifitasnya membaca majalah fashion favoritnya. Mengacuhkan Heechul yang asyik dengan iPad-nya.

“Hey Nona.” Kata Heechul tiba-tiba. “Isn’t he’s your LDH?” Tunjuk Heechul pada seorang laki-laki yang duduk dengan seorang wanita.

Cheonsa mengarahkan pandangannya searah dengan jari telunjuk Heechul yang sedang menunjuk ke sebuah meja yang berada di sudut café.

Terlihat seorang laki-laki yang duduk menunduk karena sedang sibuk dengan laptopnya dan perempuan yang duduk disebelahnya menyodorkan potongan kecil kue padanya.

Perempuan itu dengan cekatan menyuapi lelaki itu. Namun laki-laki itu dengan cueknya menyambut setiap potongan kue yang disodorkan dan memakannya dengan lahap. As a little boy was busy with his new toy and spoon-fed by his mother. Cheonsa harus memincingkan matanya untuk mencari tahu kebenaran itu. Dia kesulitan melihat wajah sang laki-laki karena sinar matahari yang nenerobos dari jendela di samping laki-laki itu. Baru setelah laki-laki itu duduk tegak, Cheonsa bisa melihat wajah sang laki-laki dengan jelas. Ya, Heechul benar. Itu adalah Lee Donghae, bersama mantan pacaranya.

“Vanessa Latova.” Cheonsa menghela nafasnya kasar. Dia mengambil gelas minumannya dengan kasar dan menghabiskan isinya cepat.

Heechul yang melihat gerak-gerik sahabatnya itu hanya bisa tertawa kecil sambil bertanya, “Jealous, huh?”

How a pity”. Kata Heechul sambil menaruh iPad-nya. “Aku punya ide.”

“Apa?”

“Datangi mereka, dan berpura-pura kita bertemu dengan tidak sengaja.” Kata Heechul.

“I don’t have  a time.”

“Daripada kita hanya diam seperti ini. Aku selalu menyukai permainan baru.” Kata Heechul sambil tersenyum licik. Dia menarik tangan Cheonsa dan berjalan menuju meja Donghae.

“Sudah kuduga. Aku benar kan Cheonsa. Itu memang Donghae.” Kata Heechul sedikit berteriak sehingga membuat Donghae dan beberapa orang menolehkan kepalanya.

Cheonsa hanya bisa tersenyum kecut menanggapi kelakuan Heechul.

Trust me and play the game.” Bisik Heechul sambil menarik tangan Cheonsa dan duduk di kursi yang ada di depan Donghae. “Hi, Mr. Lee.”

“Oh Kim Heechul, apa kabar?” Tanya Donghae.

“Good. Tadi aku sedang bersama Cheonsa dan aku melihatmu bersama dengan …. Kata Heechul mengambangkan kata-katanya.

“Vanessa Latova, partner bisnisku” Donghae menjelaskan.

Cheonsa tersenyum kecut dan memberikan tatapan tajam pada Heechul apa-yang-sedang-kau-lakukan-cepat-kembali-ke-meja-kita.

“What are you doing here?”

“We just…. We’re meeting. Of course” Jawab Donghae diplomatis.

“Meeting? Tapi hanya berdua? Wow…”

“Kamipun akan segera pulang. Benarkan, Vanessa?” Tanya Donghae pada Vanessa yang dijawab dengan anggukan.

“Oh, sayang sekali. Padahal kami berdua baru saja sampai. Why we don’t order for lunch?

“Chullie, bagaimana kalau kita kembali ke meja kita. Mereka sedang meeting dan kita mengganggu.” Kata Cheonsa menekankan kata ‘meeting’ dan ‘mengganggu’.

“Oh iya. Kau benar, B. Mereka sedang meeting dan kita mengganggu. Kalau begitu kami akan kembali ke meja kami.” Kata Heechul sambil menarik tangan Cheonsa dan berjalan meninggalkan meja.

“Tunggu…” kata Donghae tiba-tiba. “Aku akan bergabung.”

Heechul menghentikan langkahnya dan tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan berkata, “Lalu bagaimana dengan Nona Latova?”

“Dia akan segera pulang. Benarkan Vanessa?” Tanya Donghae pada Vanessa yang di jawab dengan wajah bingung.

“Yah? Ah, ya aku mau pulang.” Kata Vanessa setelah menguasai dirinya sendiri dari kebingungan. Dia mengambil tas dan beberapa dokumen lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Suasana di meja itu terasa aneh. Jealousy, revenge, disgust, and felt more discomfort. Heechul dengan senyum kemenangannya karena bisa memisahkan Donghae-Vanessa dan membuat Cheonsa cemburu. Cheonsa dengan wajah marah pada Heechul karena membiarkan Donghae bergabung di mejanya. Donghae menatap Heechul whatare-you-do-withmy girl dan tatapan Cheonsa terhadap Dongahe whatare-you-do-withyour ex.

Hey Upper East Siders. We hear that World War III just broke out. And it’s wearing kneesocks. Choose your side or run and hide. We have a feeling this one’s to the death. XOXO –Gossip Girl

 

 

 

 

 

LDH’s Car

Midtown West Underground Park Area

 

 

 

 

You’re always hanging around me. If you’re going to leave me like this, take everything with you and go.

Cheonsa menoleh ke kursi kemudi, menatap tajam orang yang sudah beberapa hari ini sekuat tenaga ia hindari.

“In this dream that I’ve gotten used to, I’ll prepare for separation, when I open my eyes, It’s already empty”

Donghae tertawa.

“Kau mau aku melepaskanmu? Kau tahu aku tidak akan mau” ujarnya dengan nada begitu putus asa.

Cheonsa tidak menjawab, tangannya terulur untuk membuka pintu mobil ketika tangan Donghae memalingkan wajah Cheonsa lalu menciumnya lembut. Direngkuhnya kepala Cheonsa dengan kedua tangannya. Ia mengecup bibir Cheonsa lembut. Cheonsa yang shock hanya bisa diam. Karena tidak mendapatkan perlawanan, Donghae mencium bibir Cheonsa semakin dalam. Ia tahu kalau hal ini egois dan memaksa, tapi hasratnya berkata lain. Ia ingin menyentuh Cheonsa. Cheonsa adalah miliknya.

Namun ketika Cheonsa ingin membalas ciuman itu, Donghae mengakhirinya sepihak. Ia memeluk tubuh mungil gadis itu. Dan jika ia sudah memeluknya, he will be hard to let her go.

“You know  that I love you” kata Donghae. Dilumatnya bibir mungil Cheonsa. Kali ini ia tidak selembut tadi. Lagi-lagi Cheonsa tidak melawan. Ia tetap membeku seperti tadi. Tapi, lama-kelamaan ia mulai menikmati ciuman Donghae. Dengan ragu, dibalasnya ciuman Donghae. Ia juga tidak mengerti kenapa bisa menikmatinya. Ciuman dan rengkuhan tangan Donghae yang membingkai wajahnya membuatnya merasa nyaman dan hangat. Donghae menarik dirinya. You know we can’t be separated.”

Cheonsa hanya mengangguk. Donghae mengecup kening, mata, hidung Cheonsa lembut. Cheonsa hanya memejamkan mata. Lagi-lagi Donghae mendaratkan kecupannya di bibir. Kali ini Cheonsa tidak ragu-ragu lagi. Ia melumat bibir Donghae. Dilingkarkan tangannya ke leher Donghae membuat tubuh Donghae lebih dekat. Tangan Donghae turun ke pinggang Cheonsa. Ditariknya Cheonsa ke dalam pelukannya. Ia benar-benar tidak bisa melepaskan Cheonsa kali ini. Tubuh mereka berdua saling melekat. Ciuman Donghae turun ke dagu Cheonsa.

Beep Beep Beep

Nada panggilan dari iPhone Cheonsa mengintrupsi kegiatan mereka. Ia melepaskan pelukan Donghae dan meraih iPhone dari tas CHANEL-nya.

“Where are you?”

“Midtown West.” Jawab Cheonsa sambil menatap Donghae.

“Aku sudah dekat, tunggu aku dan kita akan bersenang-senang.”

Cheonsa menyimpan kembali iPhone-nya ke dalam tas. Melirik Donghae yang tengah menatapnya penuh tanya.

“Aku harus pergi.” Kata Cheonsa pelan, kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil Donghae. Sedetik setelah Cheonsa menutup kembali pintu mobil itu, Donghae memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Cheonsa yang menatap mobil itu sendu.

Sometimes the most important thing to know is when to get out. And when to give in. –Gossip Girl

 

 

 

Webster Hall Nightclub, NYC

Cheonsa duduk di salah satu kursi di sudut ruangan nightclub tersebut dengan muram sambil memandangi orang-orang yang berdansa di dance floor. Dia merasa out of place karena dia tidak tahu apa yang harus dirayakannya. Jujur saja, kembalinya Kim Jaejoong bukanlah keinginannya. Namu ia membutuhkan laki-laki itu di sisinya untuk saat ini.

“Apa yang kurang dari malam ini Cheonsa?” Jaejoong menghampiri Cheonsa sambil menuangkan wine di sloki Cheonsa yang sudah kosong.

“Bersulang.” Jaejoong mengangkat slokinya yang di sambut senyuman manis dari Cheonsa.

“Kau tau bagaimana membuat mood-ku menjadi baik.” Cheonsa menyandarkan tubuhnya ke dada Jaejoong, yang disambut rangkulan mesra.

“Jadi sekarang kau mencintaiku?” Tanya Jaejoong dengan senyum mengembang di bibirnya. “Cukup katakan kau menginginkanku dan aku akan selalu di sisimu.”

“Bodoh.” Cheonsa memukul dada Jejoong pelan. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Jaejoong, menghirup aroma maskulin dari parfume pria itu.

“Kau membutuhkanku Nona Han.” Jaejoong semakin menarik Cheonsa dalam pelukannya. Menghapus jarak diantara tubuh keduanya.

“Gabriella mungkin akan membunuhku karena aku membawamu kembali.” Kata Cheonsa sambil memejamkan matanya.

“Kau tahu aku tidak pernah mencintainya.”

Cehonsa sudah akan melepaskan pelukannya tapi satu tangannya menahan tengkuknya. Membuat dahinya menempel di kening Jaejoong.

“Tapi dia temanku. Aku tak uumph…” kata-kata Cheonsa langsung terhenti ketika Jaejoong menempelkan bibirnya ke bibir Cheonsa. Cheonsa hanya diam selama beberapa detik, membiarkan Jaejoong melumat bibirnya.

Cheonsa masih tetap diam saat Jaejoong melepaskan ciumannya.

”That’s our firts kiss?” tanya Jaejoong menegakkan tubuhnya.

”I think so.” ujar Cheonsa sambil melingkarkan lengannya dileher Jaejoong dan mereka kembali berciuman.

And sometimes the biggest surprises are the ones you spring on yourself. Scampering about in a slip is one way to shed old skin. But will embracing free love be as easy as flinging off a pair of Fendi flats? Looks like someone’s going barefoot in the park. XOXO —Gossip Girl

 

 

Other Side

Donghae melebarkan matanya, buku-buku jarinya memutih karena kepalan tangannya yang terlalu kuat. Donghae baru akan membuka mulut ketika Sungmin, salah satu rekan kerjanya menyela.

”Sudah saatnya kau melepas gadis itu.”

Tubuh Donghae menegang menahan emosinya. Rasa sesak melanda bagian dadanya. Sekuat tenaga dia mempertahan dirinya. Why can’t you just let me be happy for ten minutes Han Cheonsa?

Donghae melangkah dengan gontai menuju pintu keluar. Baru saja ia menata kembali masa depan yang akan ia jalani dengan Cheonsa, namun nampaknya gadis itu tak lagi berminat menjadi pendamping hidupnya.

Awalnya ia ingin berbicara serius dengan Cheonsa. Mungkin gadis itu akan berubah pikiran jika dia benar-benar mengetahui keseriusan Donghae.

Donghae menghela nafas panjang lalu menatap kedepan. Matanya terasa panas, perlahan  buliran air keluar dari pelupuk matanya. Donghae menunduk dan mencoba meneruskan langkahnya.

”Harapan bodoh” gumannya serak.

And one false step could spell disaster. But no matter what, you still have to stay the course and forge your own path. Because there’s no going back now. And it looks like this one’s going to be the ride of our lives. XOXO —Gossip Girl.

 

 

Cheonsa’s Apartments

Upper East Side, Manhattan, NYC

Cheonsa POV

Malam ini Jaejoong menginap di apartments-ku. Tapi aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku bergegas ke kamar sebelah yang di tempati Jaejoong. Aku melihatnya yang tidur pulas di ranjang king-size itu. Wajahnya imut seperti bayi.

Aku beranjak ke taman di rooftop apartment dan duduk di ayunan kayu. Kunaikkan kakiku lalu kudekap. Angin yang berhembus sejuk itu malah membuatku menggigil. Tiba-tiba saja air mataku keluar. Kuhapus dengan cepat. Tapi tidak bisa berhenti, entah mengapa air mata ini tidak bisa berhenti.

Apa yang harus aku lakukan? I hurt him so badly. Apa yang harus aku katakan pada dad? Bahkan aku membawa Jaejoong kambali dan menyakiti Gabriella. Aku terisak pelan. Haruskah aku benar-benar pergi?

How does another morning come? I don’t know. I can’’t do anything. I know that I can’t love you. My confession will make you go, throught more pain. I can’t leave you.

I still doesn’t know that it’s over. I don’t understand why it’s like this. The thought of you still hurt. I must forget to be able to live. I only have to eraser you. If I don’t. I die.

Mengapa memikirkan perpisahan rasanya sangat menyakitkan.

“Disini sangat dingin.”

Aku tersentak saat mendengar suara itu. Cepat-cepat kuhapus air mataku. Lee Dongghae, laki-laki itu sedang berdiri di hadapanku. Lalu, ia duduk di sampingku.

“Terus terang, ingin rasanya aku tidak memperdulikanmu. Aku cukup terkejut melihat kau membawa Jaejoong kembali. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan, kau baru saja menukar Gabriella dengan Jaejoong. Aku tau Jaejoong mencintaimu, dan mungkin saja kau juga mencintainya.”

Dia terdiam sejenak sementara aku sudah tidak bisa bergerak. Donghae benar-benar salah paham.

“Aku tidak memintamu untuk tetap di sisiku.”

Aku menoleh kaget ke arahnya. Apa maksudnya?

“Kau tau kenapa aku bersikeras mempertahankanmu? Itu karena aku ingin membuktikan pada dad-mu bahwa aku sanggup menjaga purti kesayangannya.”

Aku terkejut mendengarnya. Jadi Donghae tau bahwa dad tidak menyukainya?

“Tapi rasanya sulit. Mengingat kau tak mau bekerja sama denganku. Well, kedengarannya menjijikan tapi rasanya itu benar. Aku kalah sebelum perang. Kau tidak menginginkanku di sisimu. Lalu apa aku jauh lebih baik dari pada pecundang? Selama ini kau sudah mau bertahan di sisiku, rasanya sudah sepantasnya aku mengucapkan terima kasih.”

Tidak, jangan berterima kasih. Itu membuatku terlihat seperti orang yang dimintai tolong untuk mendampinginya. Aku kekasihmu dan sudah seharusnya aku di sisimu. Kau tak perlu berterima kasih. Ingin rasanya kuteriakkan kata itu kepadanya.

“It doesn’r matter if I’m lonely. I swallowed the hurt and grief. Even the yearning for the happy memories, that will slowly start to annoy me. Even the love that remains in my heart.” Donghae mengakhiri katanya sambil menghela napas panjang.

In literature, there are thousands of endings. Some happy, some sad. Some end with a twist.-Gossip Girl

 

Still Cheonsa’s Apartments

Cheonsa’s Room

 

 

Cheonsa memegangi kepalanya yang terasa sedikit berdenyut-denyut. Ia terus mengingat setiap kata yang baru saja ia dengar dari mulut Donghae.

Tubuh Cheonsa merosot kelantai. Tangannya bergetar saking takutnya. Air matanya sudah mengalir deras dipipinya. Wajahnya sedikit mendongak ke atas, membiarkan matanya menutup selama beberapa saat.

“Cheonsa” panggil Jaejoong pelan sambil memegang bahunya.

“Untuk apa kau kesini?” tanya Cheonsa dengan nada sinis. “tidak usah memperdulikanku” ucap Cheonsa sambil menepis tangan Jaejoong dan dengan nada bicara yang masih sama.

“What’s going on?”

Cheonsa bangkit dari duduknya, dan terlihat ada api kemarahan dari raut wajah cantiknya.

“Apa kau bodoh? Tidak usah memperdulikanku!!” teriak Cheonsa sambil meraih sebuah lampu duduk di samping kasurnya lalu membantingnya keras.

“Sadarlah Cheonsa” teriak Jaejoong dengan nada suara yang mulai meninggi.

“Pergi! Pergi!” usir Cheonsa sambil mendorong tubuh Jaejoong menuju pintu keluar.

Jaejoong mencengkeram tangan Cheonsa yang terus saja meronta-ronta dengan liar. “Lepaskan!” perintah Cheonsa.

“Tidak. Aku tidak akan melepaskan tanganmu sampai kau berhenti bersikap seperti ini. Aku memang peduli padamu!” ucap Jaejoong penuh ketegasan.

Cheonsa menyunggingkan senyumnya, namun air matanya terus mengalir. Sangat terlihat, ada kebencian dari tatapannya.

“Semua ini gara-gara kau!” geram Cheonsa sambil menyentakkan tangannya.

“Kau!” ucap Cehonsa sambil menunjuk-nunjukkan telunjuknya kedada Jaejoong. Air matanya terus saja mengalir. “Gara-gara kau!” teriak Cheonsa didepan muka Jaejoong.

“Cheonsa sadarlah!” teriak Jaejoong dengan nada yang tinggi sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Lebih baik aku mati, jika aku harus hidup seperti ini!” ucapnya sambil memberikan penekanan pada setiap katanya. Cheonsa melepaskan tangan Jaejoong yang sedari tadi mencengkeram lengannya. Cheonsa berjalan meninggalkan Jaejoong, tapi Jaejoong menarik tangan Cheonsa dan mendekapnya dengan erat dalam pelukannya.

“Lepaskan!!” berontak Cheonsa. Tapi Jaejoong sama sekali tidak berkeinginan untuk melepaskannya. “Lepaskan aku brengsek!!” teriak Cheonsa sambil memukul-mukul dada Jaejoong, berusaha untuk melepaskan pelukannya. “Lepaskan!!!” teriaknya histeris.

Jaejoong semakin menguatkan pelukannya sampai akhirnya Cehonsa menyerah dan diam. Ia bisa merasakan setiap tarikan nafas Cheonsa yang masih tidak beraturan. Ia tahu bagaimana keadaan Cheonsa saat ini.

“Kau tahu, seharusnya aku bersama Donghae.” ucap Cehonsa pelan.

“Han Cehonsa. Masih banyak orang yang menyayangimu.” Ucap Jaejoong berusaha memberikan kekuatan pada Cehonsa sambil melepaskan pelukannya.

Cheonsa mengikuti Jaejoong berjalan keluar dari kamar. Penampilannya sungguh berantakan. Bukan Han Cheonsa yang biasanya.

“Cheonsa, apa kakimu berdarah?” tanya Jaejoong saat melihat ada cairan merah dilantai yang terlihat seperti jejak kaki.

“Duduklah”

Cheonsa menuruti perintah Jaejoong dan duduk di kursi mini-bar. Jaejoong memeriksa kaki Cheonsa. Tidak ada luka sedikitpun dikakinya. Mata Jaejoong terus menelusuri kaki Cheonsa mencoba mencari luka yang membuat darah itu keluar. Jaejoong tersentak saat  menyadari bahwa aliran darah itu berasal dari balik hot-pant yang Cheonsa kenakan.

“Apa kau tidak merasakan sakit?” tanya Jaejoong ragu-ragu.

Tiba-tiba tubuh Cheonsa melemah. Jaejoong dengan cepat menopang tubuh Cheonsa yang semalin lemas.

”Cheonsa.” panggil Jaejoong cemas. Cheonsa terdengar merintih dengan mata tertutup. Ujung matanya mengeluarkan air mata. Cehonsa membuka matanya sedikit.

”Jaejoong…” panggilnya bercampur dengan rintihan dan isakkan.

Face your fears and the rewards can be profound. You can discover the true depth of a relationship. Or what you’re capable of withstanding. The problem is, the more you gain, the more you stand to lose. –Gossip Girl

TBC

written by:   Gabriella Bianca / @gengie_gege

 
 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

22 responses »

  1. Gege says:

    Yes, you’re^^

  2. park heeyoung says:

    complicated !!!!
    ini ff rumit bgt dan agak membingungkan
    itu siapa lg vanessa
    knp ada aja masalah yg dtg di hubungan hcs-ldh??
    so, jaejong cintanya sama cheonsa??
    kasian gabriella jdi kaya depresi lg
    lg marahan sempet2nya aja cheonsa ma hae ciuman ya
    hae uda sungguh2 gt tp malah dicuekin cheonsa udah deh mndg ma aku aja hahaha
    itu cheonsa keguguran kh??
    jgn dong, kasian dong hae uda usaha(?) tp calon anaknya malah keguguran

  3. Gege says:

    Vanessa cuma lewat doank. Ngga akan nongol lagi ntar -kkekekek
    Masalah sebenernya bukan ada di HC/LDH/GB. Di cerita ini aku udah ngasih clue-nya lohh

    XOXO -Gossip Girl

  4. Gege says:

    Clue-nya?
    Lain kali aku kasih tau yaaaaa😛

  5. Na says:

    GASWAT! Pendarahan tuh.. Help help help! Ambulanbe! Help! *cerita.a panik*
    wkwkwkwkwk xD

    Hah, kenapa ego itu lebih mendominasi dari pada kata hati? *miris

    HC, cepatlah sadar! Dan balik lg ke Donge.. Kasian anakmu girls u,u

  6. Gege says:

    Because they need to be separated

  7. Hjaemin says:

    Kya~ ceonsanya kenapa?
    Cepetan lanjuuuutt…🙂

  8. Gege says:

    Baca dari awal dehh
    Masa masih ngga ngerti? -_________________________- *garuk kepala

  9. Aprilia0416 says:

    Wah HC sempet2.y ya kissing ma LDH mskipun lg mrahan . .
    N knp jg dya nglayanin ntu kissing.y KJJ . .
    N HC pendarahan . . ???
    Waduh gaswat, ntar kalau ampe keguguran gak jadi punya BABY LDH dong ?? Mga gak apa2 ya . .

    #good job buat author yg buat . .

  10. Gege says:

    Thanks for your support ^^

  11. pinkers92 says:

    Kyaaaa rumit amat itu hubungan mereka..
    ayo next part!!

  12. Cho Miara says:

    ya ampun makin rumit aja dah…
    Sbenernya gw bingung yg dicintai cheonsa itu siapa sih?
    Aduh…

    Dan jgn blg cheonsa keguguran y? Jgn donk…

  13. Gege says:

    It’s already on 7 chapters

    xoxo -Gossip Girl

  14. superddulz7 says:

    eh Cheonsa keguguran!1
    yang benr nich??
    ah~~~~

  15. Nathalie park says:

    cheonsa k’guguran???trz abang ikan nemo nyerah bwt pertahanin cheonsa??sbnr’y msh g ngrti klo dy pngn jauh dr hae knp hrz bw jaejoong dan scara g lngsg nyakitin perasaan shbt’y sendiri?????

  16. vievie says:

    apaan ini part ini super galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s