Unlike the rest of us, sex, lies and scandal never take a vacation. Instead, they take the LI Expressway and head east to the Hamptons. Some would say summer is their busiest season.

Gossip Girl

 

 

No One Side

 

 

 

“Kau ….”

Cheonsa mencoba menekan emosinya hingga ke titik terendah. Menghindari ledakan kemarahannya demi menjaga image-nya sebagai wanita high-class.

“Aku harap kau dan Andrew akan baik-baik saja setelah ini” Gabriella berkata ragu pada gadis itu. Bukan memperdulikan hubungan pertunangan mereka, namun jika sampai pertunangan itu batal ia akan kehilangan sebuah Porsche.

Cheonsa beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju pintu. Semakin dekat dengan tubuh gadis itu. Tangannya mengepal kuat. Saat Cheonsa berdiri dihadapannya, ia menatap seakan mengejek.

“Kau menghalangi jalanku Nona. Aku sudah selesai dengan tunanganmu. Pergilah, dan temui dia.”

Gadis itu terperangah mendengar pernyataan Cheonsa. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Gadis itu tersenyum simpul sambil mengulurkan tangannya ke arah Cheonsa.

“Jenny. Jenny Humphrey. Andrew’s fiancee. We will get married soon, I‘m pregnant. Pleased to meet you, Miss Han. I know about you and LDH. So, please give my greetings to LDH.” Ia memperkenalkan diri seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka.

Sejauh ini, memang tidak ada seorangpun yang tau tentang skandal yang terjadi antara Lee Donghae-Han Cheonsa-Jenny.

Hey Upper East Siders. We hear that World War III just broke out. And it’s wearing kneesocks. Choose your side or run and hide. We have a feeling this one’s to the death.-Gossip Girl

 

 

 

 

Clayton Coffee – Saint Louis, Manhattan

11.00 a.m

 

 

 

 

Cheonsa, Gabriella datang mengunjungi Kyuhyun yang tengah sibuk melakukan Opening-ceremony cafe mewah dikawasan West-Manhattan miliknya

 Desain inteior cafe itu cukup menarik dengan kaca etalase berwarna bening memperlihatkan dengan jelas orang-orang yang berlalu-lalang di jalan ini. Cafe ini didominasi dengan warna coklat, mulai dari coklat tua sampai coklat muda. Dindingnya dilapisi dua warna cat, coklat tua dan coklat pastel. Aroma kopi menyebar di seluruh penjuru ruangan, dan lampu oranye memberikan kesan yang sedikit berbeda di tengah terangnya cahaya matahari yang menembus masuk melalui kaca etalase besar yang menutupi hampir setengah dari bagian ruangan di cafe ini. Meja-meja bulat berwarna coklat dengan kursi berwarna senada yang berdiri dengan anggun di sisinya berjejer rapi di cafe ini.

Setelah puas memerhatikan sekeliling ruangan cafe. Cheonsa dan Gabriella berjalan ke counter yang terletak di sisi ruangan. Mereka menghampiri Kyuhyun.

“Hey ladies” sapa Kyuhyun ramah.

“Nice service” Cheonsa tersenyum mengejek. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa di sudut ruangan, diikuti Gabriella dan Kyuhyun.

“oh yang benar saja” ucap Gabriella gusar. Matanya terus menatap layar iPhone dengan serius. Mengeja setiap kata yang tertulis disana.

“Apa yang terjadi?” Kyuhyun melirik ke arah iPhone Gabriella.

“Aku rasa dia gila. Andrew will get a heart attack. Bagaimana bisa perempuan itu ingin menikah diusia 19 tahun?

“What’s wrong with young marriage?”  Tanya Cheonsa penasaran. Ia meluruskan punggungnya.

Oh come on Han Cheonsa. Pria mana yang mau menikah diusia muda? Kau pikir Andrew siap menjadi seorang ayah?” kata Gabriella skeptis.

“Ayah?” Kyuhyun angkat bicara. “Maksudmu Andrew akan menikah karena perempuan itu hamil?”

Exactly.”

“Aku rasa Andrew memang harus menikahinya jika perempuan itu memang hamil” Cheonsa berbicara tanpa menatap pada sahabat-sahabatnya. Seketika tawa gabriella dan Kyuhun meledak.

The old-fashioned”

“Jika aku menjadi Andrew, aku tidak akan menikahinya, Cheonsa. Well, mungkin saja itu bukan anaku. Bagaimana jika wanita itu melakukannya juga dengan pria lain? Kalaupun itu adalah anaku, aku akan menyuruhnya menggugurkan kandungannya. I don’t want become a father at the age of 23 years.” Kyuhyun berbicara dengan santainya tanpa menyadari tatapan tajam Cheonsa.

“Dan aku tidak mau menjadi gendut ketika seharusnya The-branded-goods bertengger cantik di tubuhku.” Tambah Gabriella meyakinkan.

Cheonsa merasa sesuatu menghantam dirinya. Menghempaskannya dalam sebuah realita kelam. Ia terhanyut dengan bayangan jika Donghae akan bersikap seperti yang Kyuhyun katakan. Membayangkan apa yang akan terjadi jika semua orang tau bahwa Han Cheonsa hamil.

More towers than Trump, more bucks than Bloomberg. Han Cheonsa definitely made her mark on Manhattan. The passing of a public figure can shake a whole town. But the real story is always the one happening in private. Away from the headlines. At home. –Gossip Girl

 

 

 

 

Langone Medical Center, 1st Avenue, NYC

 

 

 

“Usia kandunganmu menginjak minggu ke-3, namun sayangnya kondisi tubuhmu memburuk. Jangan biarkan sesuatu yang berat mengganggu pikiranmu. Aku akan menyuruh Dorota untuk menyajikan jenis makanan yang baik untuk janin mudamu.” Ucap doktor pribadi keluarga Han itu sambil menuliskan sesuatu pada buku resepnya.

“Jangan katakan ini pada siapapun. Aku mohon. Aku akan membayar berapapun yang kau mau.” Ucap Cheonsa tergesa-gesa. Dokter tua itu menatap Cheonsa heran.

“Sesuatu terjadi padamu Nona Han?” Cheonsa mulai terisak. Ia menggelangkan kepalanya gusar.

“Maaf saya lancang. Sebenarnya Tuan Han mengalami kebocoran pada jantung bagian kananya, namun ia menolak untuk melakukan operasi dalam waktu dekat ini karena ia tak mau melihatmu cemas.” Dokter itu menghembuskan napasnya dengan berat. “Aku menyesal mengatakan ini, tapi yang harus kau tau, guncangan sekecil apapun pada emosinya akan berakibat fatal. Aku rasa kau mengerti apa maksudku.”

FLASHBACK END

# # #

 

 

Kata-kata dokter itu terus terngiang ditelinga Cheonsa, ia berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan langkahnya yang terseok-seok bahkan berkali-kali nyaris terjatuh. Cheonsa terjatuh di tangga yang menuju tempat parkir di bagian bawah gedung. Dia terduduk beberapa saat di salah satu anak tangga, ia menangis.

Cheonsa melanjutkan langkahnya lagi setelah beberapa saat, berhenti didepan pintu mobilnya. Ia hendak masuk ke mobil ketika sebuah tangan menahan pintunya. Cheonsa menatapnya tajam.

“Ikut aku.”

Gossip Girl’s hardly a war buff, but I did cram for a quiz or two on the American Revolution. The last time New Haven was invaded was in 1779. Heads up, C. There’s a cannonball coming your way. –Gossip Girl

 

 

 

 

Sapporo East Restaurant, 1st Avenue, NYC

Rooftop

 

 

 

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Cheonsa sambil berjalan lurus menuju pembatas gedung.

“Jadi sebagai informasi, aku mau memberitahu bahwa ayahmu menyuruhku menyingkirkan Lee Donghae secepatnya dari sisimu.” Gadis itu berjalan mendekati Cheonsa. “Well, awalnya aku akan menggretakmu dengan cara lain, seperti mengatakan bahwa janin yang aku kandung adalah anak Donghae misalnya, atau aku sendiri yang akan membunuhnya. Tapi Tuhan memberiku pilihan lain.” Gadis itu kini berdiri disamping Cheonsa, tatapanya lurus menatap gedung-gedung pencakar langit kota manhattan. “Kau tetap disini dan aku akan menghancurkan hidupmu atau kau tinggalkan Manhattan, menjalani kehidupanmu sendiri tanpa Lee Donghae. Kau harus tahu bahwa pilihan ini sangat adil.” Gadis itu berbicara panjang lebar dengan wajah datar.

Cheonsa kaget menengarnya, kemudian melirik gadis itu dengan angkuhnya.

“Aku tidak peduli. Aku akan berada dimanapun yang aku inginkan. Apa kau sudah selesai dengan permainan kecilmu ini Jenny Humphrey?”

“Aku sarankan kau mengikuti semua perintahku. Tinggalkan Manhattan dan aku berjanji bahwa aku tidak akan mengganggu hidupmu.”

“Kau kira kau bisa mengancamku seperti ini?” Cheonsa meremehkan Jenny. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu masuk.

“Kau hamil”

Cheonsa tersentak dan menghentikan langkahnya, ia merasakan tangannya bergetar hebat. Bagaimana mungkin gadis itu tahu mengenai kehamilannya?

Poor Cheonsa. Even Cinderella was given the courtesy of a stealth getaway. Then again, what’s a trio of lovely stepsisters compared to Jenny Humphrey. Looks like it might turn out to be an “Unhappily Ever After” for everyone. XOXO –Gossip Girl

 

 

 

 

2 days later, Donghae Office

Midtown Building, Manhattan, NYC

 

 

 

Cheonsa menuju ruang kerja pria itu yang terletak di ujung lorong ini. Dia mendorong pintu ruangan itu dengan kasar sampai menjeblak terbuka dan menghambur masuk.

Donghae mengalihkan wajah dari berkas kantornya dan mendongak menatap gadis itu.

“Donghae aku rasa cukup sampai disni.” Kata Cheonsa kasar.

“Katakan apa yang kau inginkan baby.” Donghae menganggap Cheonsa hanya bergurau, ia kembali menatap berkas di depanya.

“Jangan berlagak bodoh Lee Donghae, kau mendengar apa yang aku katakan. Aku ingin kau pergi dari hidupku dengan cara yang sama saat kau masuk dan jangan pernah berpikir untuk kembali.” Cheonsa berteriak.

“Sayang, memangnya apa yang telah aku lakukan? Katakanlah.” Donghae memohon dan memutuskan untuk membuang seluru berkasnya terkulai lemas di atas meja itu.

“Dengar Lee Donghae, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan padamu secara mendetail apa yang telalh kau lakukan. Aku baru saja sadar bahwa aku memaafkanmu dengan terlalu mudah. Mengingat bahwa kau menyakitiku terlalu dalam. Kau datang bagai malaikat ketika aku terpuruk. Kau hanya sedang bermain denganku untuk menyakitiku lagi.”

“Apa yang kau katakan Cheonsa? Aku pikir kau memaafkanku. Kita akan memulainya dari awal. Seperti yang aku katakan, aku ingin berada di tempat diaman kau ada di dalamnya. Sekalipun itu di neraka. Dengar, aku tidak akan menyakitimu lagi.” Donghae berkata dengan frustasi.

“Donghae, I just realized that I don’t want you anymore and that I don’t think that you are healthy for me or this baby and you don’t deserve to be around us.”

“Cheonsa, please.” Donghae memohon. “I love you so much and I will do whatever it is that you want me to do. Just tell me what to do so that I can fix this.” Erang Donghae semakin depresi.

“Aku tidak akan mendapatkan apa yang aku mau darimu Donghae? Dan aku tidak mau. Aku tidak menginginkanmu berada disiku saat bayi ini lahir. Aku pikir kau tidak akan bisa menjadi ayah yang baik. Aku tidak menginginkanmu dalam kehidupanku.  Aku tidak mencintaimu lagi.” Ketika kata-kata keluar dari mulut Cheonsa. Ia telah menghancurkan semuanya. Air mata Cheonsa perlahan-lahan menetes. Tidak mempercayai bahawa dirinya mampu mengatakan hal semenyakitkan ini pada Donghae.

“Aku pergi.” Cheonsa berbalik bermaksud meninggalkan Donghae, tapi Donghae lebih cepat dan dalam beberapa detik dia telah terperangkap di antara tubuh Donghae dan meja kerjanya. Donghae mendudukkannya dengan paksa ke pangkuannya dan tangannya menahan tangan Cheonsa dengan kuat, membuat gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana.

“Tidakah kau tau ucapanmu telah menyakiti kita berdua?” gumam Donghae sambil menangkupkan tangannya yang bebas ke pipi gadis itu, merapikan anak rambut yang keluar dari bandananya ke belakang telinga. Dia sedikit menarik wajah gadis itu ke depan, membuat wajah mereka nyaris tidak berjarak.

Cheonsa menunggu dengan tegang sambil masih terisak, tahu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.

Donghae dengan sengaja berlama-lama menahan gerakannya, membiarkan bibir mereka hanya berjarak beberapa senti tanpa ada tanda-tanda akan menyentuhnya, membuat Cheonsa berusaha keras untuk tidak menjulurkan wajahnya dan mencium Donghae duluan.

Jari Donghae menyusup menarik ikatan rambut Cheonsa, menbiarkan rambut indahnya terurai. Sentuhan Donghae di kepalanya memberikan sensasi geli yang aneh.

Donghae menekankan bibirnya dengan perlahan ke permukaan bibir Cheonsa, sebelum akhirnya memberikan ciuman yang kasar dan mendesak, menekan rasa frustasinya. Dia menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Cheonsa yang sedikit terbuka, mengeksplorasi rongga mulut gadis itu, menjelajahinya penuh nafsu.

Dia melepaskan cekalannya dan memindahkan tangannya ke pinggang Cheonsa, menarik tubuh gadis itu lebih dekat, sedangkan tangannya yang satu lagi menahan kepala gadis itu agar tidak bergerak menjauh. Dia sedikit terkejut saat gadis itu membalas ciumannya, tangannya naik dan melingkarkanya di leher Donghae.

Donghae menurunkan tangannya dari kepala gadis itu, menarik tengkuknya.

Tangan Cheonsa menuju ke kancing teratas kemeja Donghae, seiring dengan ciuman mereka yang semakin panas dan penuh gairah. Dengan mudah dia meloloskan kancing pertama dari lubangnya, berlanjut dengan kancing berikutnya.

Tangan Donghae di pinggang Cheonsa bergerak turun, masuk melalui celah dress membuatnya bisa menyentuh kulit paha gadis itu dengan leluasa. Nafas mereka menderu, mulai kehabisan oksigen untuk dihirup.

Beep. Beep.

Donghae mengumpat kesal ketika dering telepon di meja kerjanya berdering. Ia menekan tombol pada sudut benda tersebut. “Tuan, dalam 20 menit rapat dewan direksi akan dimulai.”

Aku akan bersiap.” Donghae mengakhiri sambungan teleponya.

Cheonsa masih berada dalam pangkuan Donghae karena sedari tadi pria itu menahan tubuhnya.

Donghae menatap Cheonsa sambil tersenyum. “I Love You.” Kemudian ia bergegas berdiri sambil merangkul tubuh Cheonsa. Donghae merapikan pakaianya yang berantakan akibat ulah Cheonsa.

“Pulanglah, jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera pulang.” Donghae menjullurkan tubuhnya dan mencium pipi Cheonsa sebelum keluar dari ruangnya.

Cheonsa memandang pantulan dirinya dari cermin besar di sudut ruangan. Menyadari satu hal. Ia tak akan bisa lepas dari jeratan Lee Donghae. Ia tau bahwa Donghae tidak akan dengan mudah melepaskan dirinya.

Cheonsa meraih iPhone-nya kemudian mencari sebuah nomor di kontaknya. Ia menatap nama yang tertera disana dengan ragu. Menarik napas panjang kemudian menempelkan benda itu ke telinganya. Matanya tertutup mengutuk keputusan bodohnya untuk menghubungi orang itu. Seseorang dari masa lalu.

“I need your help….”

It was the best of times. It was the worst of times. Seems Dickens knew something about life on the Upper East Side. Where the only thing you can count on is that time changes everything. Word has it Bee. gave up on politics to focus on issues closer to her heart. –Gossip Girl

 

 

 

 

Cheonsa’s Apartments

Upper East Side, Manhattan, NYC

In The Midnight

 

 

 

 

Cheonsa membuka matanya perlahan, merasakan rangkulan ringan di pinggangnya, tubuhnya yang terbaring menempel dengan tubuh Donghae, wajahnya yang menghadap ke dada pria itu.

Dia melepaskan lengan Donghae dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan pria itu, kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Ini masih tengah malam.

Cheonsa meletakan tanganya di daerah perutnya, mengelusnya pelan. Dia masih belum percaya bahwa ia akan menjadi seorang ibu.

Cheonsa bangkit berdiri lagi dan menarik koper yang telah ia siapkan keluar kamar, tanpa berpaling ke belakang lagi sedikitpun. Karena dia tahu bahwa dia tak akan sanggup. Karena sekali dia membalikkan badan, dia tak akan mampu untuk pergi.

Other Side

Donghae mendengar pintu kamar tertutup dan dengan perlahan membuka matanya. Tangannya terulur ke ranjang kosong di sampingnya.

Dia berusaha menarik nafas, tapi paru-parunya terasa begitu berat dan tidak ada oksigen sedikitpun yang masuk ke hidungnya, membuatnya untuk sesaat terengah, ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas dengan baik.

Tangannya mencengkeram seprai, membuat kain berwarna putih itu kusut di dalam genggamannya yang kuat. Semuanya telah berakhir.

But at the end of the day, our fate is decided for us. All we can do is hope we have the strength to cope with the hand ‘He’ deals us.-Gossip Girl

 

 

 

 

Dakota Magic Cassino & Hotel

Dakota, Minnesota, USA

 

 

 

“Welcome back Sweety.”

 

Jangan tanya dan jangan katakan pada siapapun bahwa aku disini.” ujar Cheonsa singkat sambil menarik kopernya langsung ke kamar pria itu. Pria itu hanya bisa menatap punggung Cheonsa, berpikir bahwa sesuatu yang buruk pasti baru saja terjadi sampai-sampai gadis itu kembali menghubunginya.

Another Thanksgiving has come and gone. And what am I most thankful for? The truth. Sometimes it’s the truth you’ve been trying not to face. Or the truth that will change your life. Sometimes it’s the truth that’s a long time coming. Or the truth you prayed would never see the light of day. Some truths may not be heard the way we hoped they would. But they linger long after they’ve been said. But the kind of truth I’m most thankful for? The one you never see coming. That falls right into your lap. XOXO —Gossip Girl.

TBC

Written By: Gabriella Bianca / @gengie_gege

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

20 responses »

  1. Park Heeyoung says:

    ceritanya makin seru aja nih
    ini sih kaya cinta segiempat (?)
    knp jenny hrs tunangannya siwon??

    nasibnya cheonsa kok ngenes bgt yah kayanya
    emaknya meninggal, bapaknya sakit, hamil muda tp malah hrs prgi ninggalin belahan jiwanya(?)
    omo omo omo~ itu ciuman yg dikantor hot bgt #plak
    hae kok diem aja sih??
    knp gak dikejar sih??
    itu itu itu siapa yg dtlp??
    penasaran bgt ini

    komennya kepanjangan -______-

    • IJaggys says:

      ADUUUH AKU JUGA UDAH KEPO NIH DARITADI GAKUAT NUNGGUIN LANJUTAN BESOK Щ(ºДºщ)

      Oh jadi iniya rasanya penasaran sama ff biasanya aku yang ngebuat penasaran eh
      sekarang aku yang penasaran tingkat kronis
      (╥﹏╥)

      • Park Heeyoung says:

        sama2 penasaran yah
        hahaha sabar son
        skli2 ngerasain gmna penasarannya nungguin lnjutan ff
        tlg itu ff ttg scandal cheonsa dipercepat biar gak penasaran lg hahaha

      • IJaggys says:

        gabisa focus buat 3 scandal itu soalnya aku masih penasaran banget sama lanjutan cerita ini xDDDDDDDDDD AAAAAAAAA GAKUAT NIH PENASARAN BANGET /cium cium author/ xDDD

      • Park Heeyoung says:

        alesan bgt nih yah -____-
        sini aku cium jg biar ff 3 scandal itu cepat dilanjut wkwkwk

      • IJaggys says:

        aku maunya dicium bang dongek atau kyuhyun yah minimal seungho deh HUAHAHAHAHAHA u,u

  2. Cho Miara says:

    wow!! Jd cheonsa mw tetep melahirkan y? Ah…
    Tp gw demen dah cheonsa hamil… Kyknya keren ibu hamil tp fashionable wkwk

    Dan gw penasaran sm cwo ntu… Kyknya gk mungkin kyu… Apa seungho y? Dunno lah…
    Oke ditunggu next chapt…

  3. Audrianaaaa says:

    Siapa lagi itu cowonya? Seungho? Hahahaha -_-” cheonsa berarti bakal punya donghae junior yihaaa dan jenny errrr err errr hem. *hening*
    STAND BY ME 5 DITUNGGUUUUUUUU!

  4. Whom him? aku tak berharap itu seung ho lagi-___-
    cukup di voldyfishy saja😄
    kenapa scandalnya si Cheonsa nggak selesai-selesai sih? ternyata Cheonsa masih mau ya diajak syuting ff(?):D

  5. Gege says:

    Thank for all comment ^^

    xoxo -Gossip Girl

  6. superddulz7 says:

    yang dihubungi CHeonsa siapa tuch??
    akukira Donghae ngak tau kalo Cheonsa pergi tapi ternyata dia meraskananya.
    hehehehhe

  7. inggarkichulsung says:

    Penasaran siapa yg dihubungi Cheonsa, someone in the past… Cheonsa please jgn pisah dr Donghae oppa kalian berdua harus saling menguatkan.. Ommo scandal ternyata tunangan Siwon oppa itu Jenny yg diketahui pernah berhub dgn Donghae oppa.. It’s so complicated

  8. Nathalie park says:

    Siapa yg d’hubungi sm cheonsa????apa donghae bkl nyerah dan mutusin bwt ng’relain cheonsa prg?????

  9. vievie says:

    pisah???

    plihan yg sulit

  10. mimi says:

    Aku gk akan kuat ninggalin LDH.,hiks hiks hiks Aku yakin LDH gak akan ngebiarin aku pergi(ngarep).

  11. FisHaeGyu says:

    Kenapa jadi begini T.T aku pikir ini nggak akan ada semut semut jalang disini T.T
    Kenapa susah banget buat LDH HCS bahagia selalu ada aja yang ngegangguin T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s