Sosok bersayap putih itu masih meringkuk kesakitan di tengah-tengah tatapan mata para petinggi yang sedang mengintimidasinya. Erangan kesakitan berkali-kali keluar dari bibir mungilnya. Ia tampak ringkih dengan bercak darah yang menodai warna putih sayap indahnya. Air mata mengalir dari kedua matanya. Para Alastair –sebutan bagi para petinggi disana- tak kunjung menghentikan aksinya yang menebas helaian sayap milik peri cantik itu. Peri itu tau pada akhirnya ia tak bisa menolak. Inilah hukuman untuknya karena berani mencintai seorang Aether yang jelas-jelas oponen dari dari klannya sendiri , Elfrosch.

“Bagaimana? Bukankah itu mengasyikkan? Hanya ada dua pilihan untukmu Cheonsa. Dan kau tahu pasti keduanya sama-sama tak menyenangkan. Kuserahkan padamu sekarang. Ingin bersenang-senang dengan pedang ini disayapmu sampai mahkotamu habis. Atau—“ Alastair itu menatap tajam Cheonsa sebelum melanjutkan ucapannya. Seringai tak bersahabat menghiasi wajah tampannya.

“Menjalankan tugasmu sebagai Elfrosch untuk manusia-manusia terkutuk itu. Kau hanya perlu membuat mereka jatuh cinta kepadamu. Membuat manusia itu membutuhkanmu disisinya. Saat dia menciummu, kau bisa kembali ke Aerial. Jika kau tak berhasil bersiaplah untuk kehilangan sayap indah ini Cheonsa.” Ucap Alastair itu sambil menyentuh sayap putih milik Cheonsa dan mencabutnya tiba-tiba.

Lagi-lagi Cheonsa mengerang.

“Dan kuperingatkan, jangan sekali-kali kau mencintai dia jika tak ingin nasibmu seperti para Deathan itu.”

“Mengerti Han Cheonsa?”

—–

Elfrosch, peri di dunia Aerial. Ia terlahir cantik dengan masing-masing sayap yang berbeda sesuai dengan kepribadian mereka. Cheonsa mendapatkan warna putih untuk ketegasannya dan sikapnya yang begitu dingin. Tapi dia, satu-satunya Elfrosch yang berani menentang Alastair karena jatuh cinta kepada klan musuh mereka, Aether. Cheonsa adalah Elfrosch yang disegani para kaumnya. Ya, sebelum Alastair menghukum dia tentu saja. Para Alastair tidak mentolerir bagi siapapun di Aerial yang jatuh cinta kepada klan lain, terlebih itu adalah musuhnya. Deathan, para Elfrosch yang gagal menjalankan tugas. Mereka disekap didalam ruang dibawah tanah Aerial. Bulu-bulu mereka dicabuti sampai benar-benar habis dan Alastair akan menumbuhkan sayap mereka kembali untuk kembali disiksa dibawah sana. Sudah kubilangkan? lebih baik mati daripada merasakan hal itu.

Para Alastair sengaja mengirim Cheonsa bertemu dengan salah satu manusia, menyuruhnya menaklukan manusia itu. Mudah sepertinya. Karena manusia manapun akan jatuh cinta saat melihat wajah cantik Cheonsa yang tiada cacat. Rambut ikalnya yang panjang berwarna keemasan membingkai wajah V-Line sempurna miliknya. Mata almondnya yang berwana cokelat keemasan senada dengan rambut indahnya mampu menaklukan siapapun dengan sekali tatap. Mengintimidasi, adalah kemampuannya.Tidak, dia tidak jahat jika kau berpikiran sifatnya sama seperti para Alastair. Dia adalah Elfrosch yang disenangi kaumnya karena meskipun ia terlihat dingin, dia pernah mengorbankan sayapnya berkali-kali untuk para manusia yang dilindunginya. Kau tahu, sayap Elfrosch bisa ditukar dengan apapun yang pemiliknya minta. Apapun. Maka dari itu tak sembarang orang dikirimi Elfrosch. Hanya kepada mereka yang benar2 membutuhkan dan yah, siapapun yang mendapatkan Cheonsa sebagai Elfrosch pelindung, mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dan sebagai ganti atas permintaan itu, mereka harus merasakan sakit yang –uhm mungkin lebih baik mati daripada merasakannya- karena sayap mereka dicabut dari tempatnya.

Berbicara tentang Alastair, mereka adalah para petinggi Aerial yang terkenal kejam dan tak memiliki hati. Tak ada yang berani menentang Alastair, kecuali Han Cheonsa. Dan sekarang ia terpaksa menerima konsekuensinya. Alastair mengirimnya ke dunia manusia agar ia mendapatkan kembali sebagian kenangannya bersama Marchus. Alastair mengambilnya, dan sebagai syarat agar ia mendapatkannya kembali ia harus menaklukan manusia yang menjadi Sheldonnya.

____

Cheonsa POV

Aku memandangi para Alastair yang menatapku penuh minat. Bukan, bukan mereka jatuh cinta kepada wajah cantikku. Cih, tentu saja karena mereka ingin bermain-main dengan sayapku. Ini buka yang pertama kalinya untukku. Tapi tetap saja, rasanya terlalu menyakitkan. Mereka pikir semua kaum Aether adalah peri jahat? Tidak! Marchus tidak seperi itu. Dia baik padaku. Dia yang menolongku saat tersesat di Palaced –tempat misterius dibawah Aerial- kalau memang dia jahat, aku yakin dia akan langsung membunuhku saat mengetahui aku adalah kaum Elfrosch. Tapi dia malah menolongku, membawaku keluar dari tempat sinting itu dan mengembalikanku ke Aerial dalam keadaan selamat. Para tetua itu terlalu kolot. Cih, aku benci mereka. Dan yah, lagi-lagi tugas ini. Membuat manusia jatuh cinta kepadaku? Mereka sinting atau apa sih? Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya kumiliki.

Aku tahu dengan semua yang kumiliki sebagai Elfrosch, bukan hal sulit membuat makhluk-makhluk rapuh seperti mereka jatuh cinta kepadaku. Tapi entahlah, aku bukan Elf yang tega menyakiti perasaan makhluk rapuh itu. Dan sepertinya Alastair benar-benar ingin menghukumku. Aku yakin mereka tak hanya menyuruhku menaklukkan manusia itu, pasti ada hal lain yang akan dilakukan Alastair setelah itu, entahlah. Tugasku kali ini tak akan mudah, karena kesalahanku yang tak bisa ditolerir. Aku tak tahu apa yang telah direncanakan para Alastair kolot itu. Mungkin mereka sudah menyiapkan ‘permainan’ kecil untuk menemaniku disana. Mereka akan menjadikan kesalahan kecil sebagai sesuatu yang besar. Tunggu saja sampai hidupku benar-benar menderita di bawah nanti. Tentang Marchus, Alastair menghapus ingatannya tentangku! Itu yang membuatku mau tak mau harus turun ke dunia manusia.

—-

Gangnam, South Korean

Donghae POV

Aku sedang melajukan lancer putih milikku saat seorang gadis dengan seenaknya menyeberang jalan tanpa melihat traffic light. Bodoh sekali hingga membuatku menginjak rem mendadak tepat sebelum moncong lancerku mengenai tubuh kurusnya. Gadis itu masih terkejut menyadari apa yang baru saja terjadi. Ckck, membuang waktuku saja.

“Nona, lain kali gunakan matamu saat menyeberang. Kau membahayakan dirimu sendiri!” Aku berteriak kepada gadis itu, dia membungkukan badannya meminta maaf dan berjalan menunju trotoar. Aku masih memandanginya sebelum akhirnya klakson mobil lain memekakkan telingaku. Mereka gila ya? bisa-bisa telingaku tuli mendadak!

Kulajukan kembali mobilku menuju rumah. Sebenarnya aku tak perlu merepotkan diri menyetir mobil, karena aku memiliki supir pribadi. Tapi entahlah, belakangan ini aku sedang ingin menyetir sendiri. Untuk apa memiliki mobil mewah jika kau hanya duduk diam di belakang kemudi?

Donghae POV end

Pria bernama Donghae itu mulai memasuki gerbang rumahnya yang sama luasnya seperti lapangan golf yang biasa muncul di drama-drama Korea. Ia pewaris tunggal Lee Corp yang jika dihitung-hitung kekayaannya tak akan habis itu membiayai seratus panti asuhan tujuh tahun berturut-turut. Pria itu terlahir nyaris sempurna, dengan wajah tampan yang memikat. Otak diatas rata-rata. Dan segala kemampuan lain yang dikuasainya. Hanya satu kekurangannya: Cassanova yang kesepian.

Ia tak memiliki teman apalagi sahabat. Dia tak pernah dekat dengan wanita manapun. Donghae sering bersenang-senang dengan para wanita muda kalangan jetset yang suka menghamburkan uang orang tua mereka. Tapi hanya sebatas kesenangan semata. Setelah itu ia pasti meninggalkan mereka. Tak ada perasaan lain. Ia tidak pernah jatuh cinta lagi, sejak terakhir kali dicampakkan oleh seorang wanita yang membuatnya tergila-gila. Ia tak ingin disakiti lagi. Egois? Tentu saja. Dia terlahir dengan sifat itu. Dengan semua yang dimilikinya bukan hal mustahil untuk membuat orang lain menuruti permintaannya. Dan itu membuat sifat egoisnya tak pernah berkurang sedikit pun. Dia memiliki segalanya. Oh ralat, ada yang tidak dimilikinya: ketulusan dari orang di sekitarnya. Satu hal yang tidak bisa ia dapatkan dengan segala kekayaannya. Orang-orang di sekelilingnya terlalu silau dengan kekayaan pria itu. Mereka mendekati pria itu untuk keuntungan mereka sendiri.

Donghae memasuki rumahnya dan disambut oleh para pelayan berseragam yang langsung mengambil alih tasnya dan juga mantel bulu miliknya. Ia bergegas menuju kamarnya di lantai dua. Interior khas Yunani mendominasi rumah mewah milik keluarga Lee itu. Patung Pegassus bertengger anggun di kedua sisi tangga yang melingkar. Warna broken white menjadi pilihan utama dinding-dinding rumah itu. Sebuah pintu berwarna putih dengan ukiran ambrosia berdiri tegak membatasi kamar miliknya dengan ruang kerja. Bisa dibilang, lantai dua adalah miliknya pribadi. Ayah dan ibunya –sewaktu mereka hidup- hampir tak pernah menginjakkan kakinya di lantai dua itu.

Pria itu mengendurkan dasinya, bergegas ke kamar mandi dan beberapa menit kemudian ia sudah kembali dengan kimononya. Ia memilih untuk mengistirahatkan dirinya sebentar. Tidur. Satu-satunya hal yang dilakukan saat ia mulai merasa jenuh. Berharap saat ia terbangun nanti, akan ada hal baru yang menyambutnya. Dan mungkin, malam ini doanya akan terkabul.

___

Tubuh Cheonsa menubruk dinding kamar yang tak dikenalinya. Tentu saja! Ini bukan Aerial. Tapi nalurinya mengatakan di dalam sana ia akan bertemu dengan manusia itu. Alastair yang tak berperasaan itu dengan teganya menjatuhkan Cheonsa langsung dari Aerial ke bumi. Cih, menyakitkan. Apa mereka pikir Cheonsa sampah?

Cheonsa berkali-kali mengusap lembut sayap putihnya yang terasa sakit akibat siksaan dari para Alastair sialan itu. Ia menangis. Untuk pertama kalinya saat ia menginjakan kakinya di bumi.

Entah apa yang terjadi, kedua sayapnya mengejang. Membuatnya menahan sakit yang teramat sangat. Hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya. Cheonsa terbelalak saat melihat sesosok pria dengan kimononya tengah memandang kedua sayap Cheonsa dengan mata yang nyaris keluar dari tempatnya.

“Kau –“

Cheonsa mencoba menyembunyikan kedua sayapnya. Tapi yang terjadi berikutnya ia justru tak sadarkan diri.

Donghae POV

Aku sedang tertidur pulas tadinya sebelum sebuah suara mengacaukan tidurku. Shit! Benda macam apa yang jatuh menubruk dinding kamarku. Kupaksakan tubuhku untuk bangun lalu melihat ke balkon. Dan yang terjadi selanjutnya adalah mataku yang nyaris keluar dari tempatnya karena pemandangan gila di hadapanku. Sepasang sayap. Aku pikir ini mimpi. Tapi ini benar-benar nyata. Aku melihat pemilik sayap itu sedang menahan sakit. Wajahnya tersiksa sekali. Tapi tunggu, apakah dia malaikat? Wajahnya sama sekali tidak manusiawi. Terlalu cantik.

“Kau –“ belum sempat aku selesai berbicara malaikat cantik itu kehilangan kesadarannya. Oke sekali lagi ini konyol. Melihat malaikat di balkon rumahku sendiri dan sekarang malaikat itu pingsan. Katakan kalau ini hanyalah lelucon. Tapi sayangnya tak ada kamera tersembunyi disini. Ah damn it!

Aku mendekati gadis malaikat itu. Mencoba menyentuh sayapnya, dan yah itu mengeluarkan darah. Kalau begini aku yakin ini bukan lelucon. Aku mencoba menggedong tubuh mungil itu. Dengan hati-hati kubawa masuk ke dalam kamarku. Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanku. Aku yakin hidupku sebentar lagi akan berubah. Ada malaikat cantik di kamar seorang pewaris Lee Corp. Aku yakin wartawan akan mendapat serangan jantung jika mengetahui hal ini. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau bodoh Lee Donghae. Ya tentu saja aku bodoh! Membawa wanita ke rumah saja tidak pernah dan sekarang aku membawa seorang gadis –lupakan kalau dia bukan manusia- ke dalam kamar sendiri dan yang pasti dia terluka. Cih, haruskah aku memanggil pelayanku untuk mengobati sayapnya? Atau harus membawanya ke dokter hewan yang biasa mengobati sayap burung yang terluka?ckckck.

Aku mengambil kotak P3K dan memutuskan untuk mengobatinya sendiri. Yah, aku harap sayap indah itu tidak bertemu dengan ajalnya karena ulah tanganku.

“Selesai!” wajah gadis malaikat itu sangat cantik. Entahlah, terlalu menarik. Eh hei Lee Donghae! Sejak kapan kau jadi manusia yang sangat perhatian seperti ini? Kau bahkan menyelimuti tubuh gadis itu, mengobati lukanya dan bahkan membiarkannya tidur di atas double king sizemu. Malam ini otakku benar-benar tidak waras.

Keesokan paginya saat Donghae terbangun, ia tak menemukan gadis malaikat itu sehingga membuatnya berpikir semalam itu adalah mimpi. Donghae baru saja memasuki Lancer hitam miliknya saat menemukan seorang gadis dengan anggunnya duduk di samping kemudi. Gadis malaikat itu.

“Hai!” sapanya kepada Donghae.

“KAU! Keluar dari mobilku sekarang!” Donghae yang terkejut malah mengusir Cheonsa.

“Kalau aku tidak mau bagaimana?”

“Jangan berani-berani kau menantangku. Keluar sekarang atau kau kuseret paksa!”

“Cih, lakukan saja kalau kau berani.”

“Aish! Kau makhluk jadi-jadian.” Donghae yang kesal membantin pintu mobilnya.

Kupikir semalam hanya mimpi. Ternyata makhluk aneh itu beneran nyata.

Aku bukan makhluk aneh Donghae-ssi. Jaga ucapanmu.”

“KAU! Beraninya membaca pikiranku!”

“Aku tak membaca, aku mendengarkan Tuan. Mulai sekarang aku akan selalu mengikuti kemana pun kau pergi.”

“Terserah kau! Untuk apa mengikutiku? Kau malaikat tak ada kerjaan.”

“Aku peri Donghae-ssi. Malaikat dan peri itu berbeda. Ah ya, tentu saja mengikutimu adalah pekerjaanku. Mau kuberi tahu sesuatu?”

“ Tidak perlu.” Donghae berbohong.

“Aku tahu kau berbohong. Aku mendapat tugas untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku. Semakin cepat kau mencintaiku. Semakin cepat pula aku enyah dari hadapanmu.”

“Jadi mohon kerjasamanya Donghae-ssi” Ucap Cheonsa sambil menyungginggkan senyum termanisnya.

Perasaan hangat menyelubungi tubuh pria itu. Shit! Jangan tersenyum di depanku. Peri sialan! Jatuh cinta kepadanya? Dia gila?!

Ah! Apakah senyumku terlalu memikatmu?” Cheonsa menggoda Donghae.

“Kau, malaikat aneh –“

“Aku peri. Dan namaku Cheonsa.”

“Terserah! Kau peri dan namamu berarti malaikat, itu sama saja. Kau, jangan bertingkah seolah mengenalku sejak lama. Jangan sok dekat denganku karena aku tak suka. Kau terlalu lancang. Aku tak pernah mengijinkanmu memasuki kehidupanku.”

Dan tiba-tiba saja tubuh Cheonsa mengejang. Ia menahan sakit lagi. Ia ingin membalas ucapan Donghae. Tapi ia tak cukup kuat untuk itu. Dadanya terasa sesak, tulang-tulang yang membangun sayapnya terasa diremukkan.

Donghae mengernyitkan dahinya saat melihat Cheonsa yang tiba-tiba memegangi dadanya.

Penolakan dari manusiamu adalah kesakitanmu Cheonsa. Berbohong atau tidak, penolakannya akan menyakitimu.

Cheonsa mendengarkan Alastair berbisik kepadanya. Sial! Para tetua itu benar-benar menyakitinya.

“Donghae-ssi –“ Cheonsa baru saja ingin memohon kepada Donghae untuk menghindari kata-kata yang akan menyakitinya sebelum Alastair kembali membisikannya.

You are fairy, you are Elfrosch. Do not show your pain towards creature you should protect to, Han Cheonsa. Fight me with your own strength, like you did when defending Marchus in front of us, The Alastairs.

Sudah satu jam yang lalu Donghae duduk di ruangannya, pandangan matanya kosong. Ia masih memikirkan kejadian tadi pagi. Cheonsa –gadis peri itu- menghilang tiba-tiba tanpa menyelesaikan ucapannya. Donghae terkejut hingga kini pikirannya tak berhenti memutar wajah Cheonsa yang kesakitan dan kemudian menghilang.

“Donghae-ya!” Seorang gadis memanggil namanya sambil menggerak-gerakan telapak tangannya tepat di depan wajah pria itu. Gadis itu meniup telinga Donghae karena pria itu tak kunjung sadar dari lamunannya.

“YA! Kenapa kau bisa ada disini tiba-tiba?”

Donghae terkejut dengan keberadaan Cheonsa. Fairy itu hanya tertawa sambil memamerkan deretan giginya yang putih rata. Berhenti tertawa Cheonsa!

“Ah hahahaa, baik baik. Aku tak akan membuatmu marah. Kan sudah kubilang aku ini peri, aku punya sesuatu yang kau tidak punya.”

“Kemana sayapmu? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi. Oh satu lagi, mengapa kau menghilang tiba-tiba?”

“Mulai tertarik denganku Lee Donghae?” Cheonsa tersenyum menggoda Donghae.

“Cih, kau terlalu percaya diri makhluk aneh. Ada banyak wanita yang lebih menarik di luar sana.”

“Ah, lagi-lagi berbohong.”

“Terserah. Cepat jawab pertanyaanku.”

Donghae menatap kedua bola mata emas milik Cheonsa. Tanpa ia sadari dirinya seperti terhisap kedalam fluida yang memabukkan.

“Sayapku hanya akan muncul saat aku yang menginginkannya dan saat Sheldon –manusia yang dititipkan padaku- membutuhkanku.”

“Apa kau kesini datang khusus untuk melindungiku?”

“Aku bukan dikirim secara special untuk melindungimu. Sudah kukatakan sebelumnya, aku harus membuatmu mencintaiku. Aku sedang dihukum Donghae-ya. Aku ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Cheonsa menengadahkan kepalanya menatap langit yang tergambar jelas dibalik jendela-jendela besar di ruangan kerja itu.

“Cih, hukuman macam apa itu. Kau pikir aku akan jatuh cinta padamu?”

“Aku tak tahu. Untuk itu aku dikirim kesini.”

“Lalu bagaimana makhluk-makhluk aneh yang mengirimu kesini tahu bahwa aku mencintaimu?”

“Aku terhubung langsung dengan sayap ini. Alastair mengawasiku. Mereka bilang, saat kau menciummu, aku bisa kembali kesana.”

“KAU GILA?! Menciummu? Ini benar-benar konyol.”

“Kau ingin aku jatuh cinta padamu, lalu menciummu dan kau meninggalkanku? Hebat sekali.”

“Kau takut kehilanganku? Katakan padaku jika kau benar-benar takut kehilanganku Donghae-ya. Tidak, aku tidak memaksamu mengatakan sekarang. Haha”

“Peri Gila!”

“Aku tidak gila! Lagipula kau memang sedang tak memiliki wanita yang kau cintai kan? Apa salahnya mencintai seorang peri?”

Donghae terdiam. Otaknya terlalu kusut untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Cheonsa.

 When you said that you wont fall to her, you have lied to yourself Hae-ya. Because since the first met, you have let her in to your life. You don’t mind her changed your life.

___

Tiga bulan. Cheonsa selalu mengikuti kemana pun Donghae pergi –kecuali toilet tentunya. Satu hal yang baru disadarinya adalah, tak ada yang bisa melihat sayap putih milik Cheonsa selain dirinya sendiri. Hal itu membuatnya merasa special. Mungkinkah ia mulai mencintai Cheonsa? Ia sendiri tak yakin. Belakangan ini gadis masa lalunya kembali di hadapannya. Hell ya, Donghae masih menyimpan sedikit rasa untuk gadis itu.

Lalu bagaimana Cheonsa? Apakah gadis itu sudah menyerah? Tentu saja belum. Ia masih berharap Marchus mengingatnya dan itu berarti ia masih mengharapkan Donghae jatuh cinta padanya. Tapi belakangan ini Donghae menjauh darinya. Ia terlihat lebih dingin. Oke, sejak awal Donghae memang tak menyukai keberadaan Cheonsa tapi ia tak pernah benar-benar mendiamkan Cheonsa atau bersikap dingin kepadanya. Saat berjalan bersama, biasanya Donghae akan beriringan di samping peri itu. tapi belakangan ini, Donghae lebih senang meninggalkan Cheonsa di belakang. Takut ada yang memergokinya sedang bersama Cheonsa mungkin, ya pasti karena gadis itu. Gadis yang membuat Donghae bersikap dingin terhadapnya.

Donghae POV

Gadis itu. Kenapa harus menampakkan dirinya di hadapanku lagi? Kupikir dia melupakanku. Aku semakin bingung sekarang. Han Cheonsa, dia terlalu baik untukku. Dia benar-benar melindungiku. Berkali-kali ia menyelamatkanku dari kecelakan konyol yang kubuat sendiri. Terakhir kali adalah saat aku mabuk saat berkendara dan hampir saja menubruk pembatas jalan. Tapi gadis itu, Jessica Jung, kembali lagi menemuiku dan membuatku sedikit goyah. Aku memang belum benar-benar jatuh kepada Cheonsa, tapi ada sedikit keinginan untuk memberikan tempat untuknya di hatiku. Bagaimana pun, ia banyak berkorban untukku, yah meskipun ia berbuat seperti itu bukan untuk keselamatanku semata.

Belakangan ini aku bersikap dingin kepada Cheonsa. Entahlah, mungkin efek kedatangan Jessica Jung yang membuatku seperti itu. Tapi fairy itu masih saja setia mengikuti kemana saja aku pergi. Siang nanti aku sudah berjanji dengan Jessica untuk makan siang bersama. Semoga saja Cheonsa tidak nekat untuk membuntutiku.

“Donghae-ya, kau mau pergi kemana?” Aku tersadar dari lamunanku. Cheonsa sedang berdiri di hadapanku. Ia mengenakan mini dress putih dan mengikatkan rambutnya menjadi ekor kuda sehingga memamerkan lehernya yang jenjang. Dia terlalu cantik. Oh ya, belakangan ini Cheonsa sudah tak bisa mendengarkan pikiranku lagi. Aku tak tahu kenapa.

“Siang ini aku ada janji dengan Jessica. Kuharap kau tidak perlu mengikutiku.”

“Kencan dengan mantanmu?”

Donghae POV end

Cheonsa menahan sakit yang mulai menjalari tulang-tulang yang membentuk sayapnya. Dan seperti biasa dadanya akan terasa sesak seperti terbakar. Penolakan dari Donghae.

“Selamat bersenang-senang.” Dan sekejap fairy itu menghilang dari hadapan Donghae.

Donghae tekejut. Tidak biasanya peri itu menuruti ucapannya. Biasanya Cheonsa akan melakukan protes kepada Donghae. Tapi kali ini ia bahkan tak menunggu jawaban Donghae dan langsung pergi meninggalkannya. Perasaannya semakin tak enak saat ia tak mendapati Cheonsa di belakangnya. Peri itu benar-benar menuruti permintaannya.

Dan sampai menjelang malam, Donghae sama sekali tak melihat kemunculan Cheonsa. Bahkan saat Jessica telah kembali ke rumahnya, Cheonsa tak kunjung menampakkan wajah cantiknya. Jujur, Donghae mengkhawatirkannya.

Cheonsa POV

Setelah Dongahe memintaku untuk tidak mengikutinya, seperti biasa Alastair mulai menghukumku. Seandainya aku makhluk mortal mungkin aku akan mengambil pisau dan menusukkannya ketubuhku sendiri atau terjun dari Seoul tower daripada harus merasakan sakit seperti itu berkali-kali. Tapi itu bukan sifatku, aku tak mau menyerah dengan mudah di tangan Alastair sialan itu. Aku masih mengharapkan Marchus, ya setidaknya beberapa saat sebelum tubuhku berada di Aerial secara tiba-tiba sore ini.

Alastair menarikku ke atas dan dengan bangganya ia memperlihatkan sosok Marchus yang tengah mencium salah satu peri Aether. Bukankah ini menyakitkan hatiku? Tubuhku tersiksa di bawah sana tapi Marchus dengan santainya bercumbu dengan gadis Aether itu. Anehnya, aku bahkan tak merasakan sakit seperti sebelumnya saat Alastair mengatakan Marchus adalah peri berengsek!

Belakangan ini aku bahkan sedikit melupakan tujuan awalku melindungi Donghae adalah untuk mengembalikan ingatan Marchus. Tapi setelah melihat kejadian ini sepertinya tak ada gunanya lagi. Kupikir Marchus benar-benar kehilangan seluruh ingatannya tentangku, dan jika aku mengembalikannya bukankah aku akan menyakiti gadis Aether itu? Aku bukan peri jahat. Jadi lebih baik melepas Marchus mungkin daripada terus mengharapkannya. Aku bukan menyerah, tapi aku mengalah. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Mungkin setelah ini aku akan menghabiskan sedikit waktu yang tersisa bersama Donghae. Setidaknya aku tak perlu menyakitinya saat harus meninggalkannya nanti. Dia bahkan tak berminat mencintaiku meskipun berkali-kali sayapku tercabut untuk melindunginya. Apalagi Jessica Jung sekarang sudah kembali ke hadapannya. Lengkap sudah penderitaanku. Either Marchus nor Donghae, I don’t get both of ‘em.

Alastair mengembalikanku tepat tiga hari waktu di bumi, yah padahal aku hanya menghabiskan waktu tak sampai satu jam di Aerial. Mungkinkah Donghae mengkhawatirkanku? Atau dia malah sedang bersulang bersama gadis bernama Jessica itu di counter sambil merayakan kepergianku. Haha.

Sudahlah, hidupku sudah terlalu menyedihkan. Mungkin semakin cepat kembali ke Aerial akan membuatku lebih baik. Setidaknya Alastair itu tidak akan menyiksaku lagi setelah tahu Marchus meninggalkanku.

Cheonsa POV

___

Donghae POV

Peri gila itu kemana, aku mengkhawatirkannya. Sudah tiga hari ia tak menampakkan batang hidungnya. Cih, dia marah padaku? Apa aku menyakitinya? Oh ayolah, kenapa aku jadi begitu perhatian padanya.

“Donghae-ya.” Aku langsung menoleh ke belakang.  Jessica.

“Aku merindukanmu Hae-ya.” dia langsung menghambur kearahku memelukku berlebihan. Shit! Kupikir dia Cheonsa.

“Sica-ah, aku juga merindukanmu, tapi tak perlu seperti ini.” Ucapku padanya sambil menyentuh puncak kepalanya. Jessica tersenyum dan bergelayut manja.

Cheonsa. Aku jadi merasa bersalah dengannya. Dan, ah! Apa aku tidak salah lihat? Itu Cheonsa! Dia sedang menatap ke arahku dan Jessica. Aku langsung melepaskan pelukanku dan berlari mendekati gadis itu. Tapi Cheonsa malah menghilang sebelum aku berhasil mendekatinya. Dia sempat melambaikan sayapnya padaku dan tersenyum errr senyumnya sedikit berbeda. Apakah dia cemburu? Tsk.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ah mungkin dia pulang ke rumah.

Donghae POV end

Donghae bergegas masuk ke mobilnya dan meninggalkan Jessica yang kebingungan. Ia bahkan tak berpamitan kepada gadis itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah bertemu dengan Cheonsa.

Donghae memakirkan mobilnya sembarang. Ia baru saja ingin bertanya kepada pelayannya saat mengingat Cheonsa tidak pernah menampakkan dirinya di depan mereka. Pria itu langsung bergegas menuju kamarnya dan mencoba menemukan Cheonsa, tapi nihil –ia tak ada disitu.

“Cheonsa-ya, kalau kau ada di ruangan ini tunjukkan wujudmu. Jangan bersembunyi! Aku ingin bicara padamu.”

Tak ada sahutan. Donghae terlihat berpikir. Mungkin Cheonsa di perpustakaan keluarga mereka? Seperti biasa. Dan pria itu segera turun ke lantai satu. Begitu pintu perpustakan itu terbuka, tepat sekali, ia menemukan Cheonsa disana. Tapi, bukan Cheonsa dengan keadaan seperti ini yang diharapkannya.

Peri itu sedang meringkuk kesakitan. Seperti pertama kali ia menemukannya. Lagi-lagi sayap itu mengeluarkan darah. Cheonsa menjerit kesakitan, kelopak matanya tertutup menahan sakit.

Donghae hanya tertegun. Ia tak tahu harus melakukan apa.

“Cheonsa-ya…”

___

Tiga hari tidak bertemu dengan Donghae, Cheonsa memutuskan untuk bertemu dengan pria itu di kantornya. Belum sempat ia menyapa Donghae, ia malah disuguhkan pemandangan tidak mengenakan. Pria itu sedang memeluk Jessica. Cheonsa hanya tersenyum miris. Sudah seharusnya ia cepat kembali ke Aerial. Dia tak akan mengganggu Donghae lagi.

Gadis itu masih menatap ke arah Donghae sampai pandangan mereka bertemu. Cheonsa hanya memberikan senyumnya kepada pria itu dan menghilang dalam sekejap. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Donghae. Dan sialnya ia harus kembali menahan sakit yang berlebihan. Apakah yang tadi termasuk penolakkan dari Donghae? Kalau begitu selamat, kau menemukan nerakamu lagi Han Cheonsa. Sakit yang menjalari tubuhnya semakin menjadi-jadi bersyukurlah ia memilih perpustakan ini untuk bersembunyi. Tapi peri itu yakin Donghae akan menemukannya, seperti biasa.

Cheonsa memeluk tubuhnya erat-erat. Tulang-tulang punggungnya terasa remuk, belum lagi panas yang menjalar di aliran darahnya. Ia menangis. Perkataan Alastair sesaat sebelum ia meninggalkan Aerial terdengar ditelinganya.

Aku tak pernah memberi batas waktu untukmu. Kau bisa kembali kapan pun ke Aerial. Jika kau memilih untuk menetap lebih lama dengan pria itu, kuberitahu kau satu hal, sihir itu tidak akan hilang sampai kau benar-benar kembali ke Aerial. Kau akan tetap merasakan kesakitan itu Cheonsa ya, kapanpun Sheldon menolakmu.

Cheonsa tak lagi dapat berpikir. Ia hanya perlu bersabar sampai sakit itu benar-benar hilang. Mungkin ia akan memutuskan kembali ke Aerial jika Donghae benar-benar memintanya. Sekarang, ia hanya perlu ‘menikmati’ hadiah dari para Alastair itu di tubuhnya.

Donghae mencoba mendekat ke arah Cheonsa. Ia benar-benar tak tega. Ia menyentuh gadis itu. mencoba meraihnya, tapi selanjutnya ia malah dikejutkan oleh suara yang muncul tiba-tiba.

Aku tak pernah memberi batas waktu untukmu. Kau bisa kembali kapan pun ke Aerial. Jika kau memilih untuk menetap lebih lama dengan pria itu, kuberitahu kau satu hal, sihir itu tidak akan hilang sampai kau benar-benar kembali ke Aerial. Kau akan tetap merasakan kesakitan itu Cheonsa ya, kapanpun Sheldon menolakmu.

Donghae bergidik. Suara itu terlalu menyeramkan. Ia tak mengerti apapun disini. Aerial? Kembali? Sihir? Sheldon?

Apakah yang dibicarakan suara itu adalah dirinya? Donghae terlalu kalut memikirkan suara aneh itu, belum lagi melihat wajah peri itu yang begitu tersiksa. Tangannya masih memeluk tubuh Cheonsa, darah dari sayap peri itu membasahi kemejanya. Ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.

Gadis itu kini sudah tenang di atas ranjan Donghae. Beberapa jam yang lalu Cheonsa berhenti mengerang. Dia pingsan –mungkin jika bisa dikatakan pingsan. Donghae memandangi tubuhnya yang ringkih. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada satu hal yang mengerti dari ucapan para Alastair lagi.

Donghae POV

Aku merasa bersalah kepada gadis itu. Aku tak pernah menyadari bahwa akulah yang membuatnya selalu mengerang kesakitan. Dia bisa menyuruhku untuk tidak menolaknya atau mendekati Jessica untuk menghindari sihir sinting yang menyakitinya itu! bahkan sekarang aku tak peduli dengan Sica. Cih! Sejak kapan aku menjadikan Cheonsa prioritasku?

Aku memperhatikan tubuhnya yang tertidur pulas. Sayapnya masih terbentang dibalik punggungnya. Yah tidak salah kan jika aku mengatakan wajahnya begitu damai seperti malaikat? Namanya bahkan memliki arti malaikat dan kenyataannya dia adalah seorang peri. Aku tersenyum. Perasaan hangat menjalari tubuhku.

Kau mulai gila Lee Donghae! Hanya memandangi peri itu saja bisa membuatmu terlihat seperti orang gila. Cheonsa menggerakan kedua sayap putihnya, sedetik kemudian ia membuka matanya. Dia sadar!

Aku langsung memeluk tubuhnya.

“Mianhae Cheonsa-ya, seharusnya kau bilang jika aku menyakitimu.” Bisikku ditelinga cheonsa. Lalu melepaskan pelukanku.

“Elforsch dilarang memberi tahu kesakitan mereka kepada Sheldonnya.”

“Tapi kau baru saja membuatku mengetahuinya!”

“Itu diluar kendaliku.”

“Kau sudah berbaikan dengan Jessica?”

Pertanyaan Cheonsa mengejutkanku. Wajahnya terlihat sendu. Aku tak menjawabnya.

“Aku anggap ya kalau begitu. Dongahe-ya, aku akan kembali ke Aerial. Tak ada lagi yang harus kuperjuangkan disini. Dia tak lagi membutuhkanku. Secepatnya, aku tak akan mengganggumu lagi.” Cheonsa tersenyum, sangat tulus.

“Maksudmu kau akan meninggalkanku? Dia siapa yang kau maksud?” aku terlalu terkejut dengan perkataannya barusan. Aku, tidak pernah mengharapkannya meninggalkanku. Tidak, disaat aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

“Marchus, yang menjadi alasanku untuk menyanggupi hukuman Alastair. Jika aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku, Alastair akan mengembalikan ingatan Marchus tentangku. Tapi sekarang tak ada gunanya, Marchus menemukan gadis lain di Aether. Aku tak ingin menyakiti gadis itu jika Marchus kembali mengingatku. Aku tidak setega itu.”

Dia terlalu baik. Cheonsa, aku tak habis pikir dia mau menyiksa dirinya sendiri hanya untuk orang yang dicintainya. Aku merasa cemburu dengan pria itu. Dia terlalu beruntung dicintai Cheonsa.

“Kau masih mencintainya?”

“Entahlah. Yang jelas aku akan segera kembali ke Aerial. Berada disini semakin lama sama saja menjemput nerakaku sendiri , Donghae-ya.”

“Kau takut aku menyakitimu lagi?”

“Tentu saja ya. Mungkin kau tidak keberatan saat aku mengikutimu kemanapun. Tapi ada saatnya kau akan menolakku entah disengaja atau tidak karena aku belum berhasil membuatmu jatuh cinta padaku. Lagipula, lebih baik aku kembali secepatnya, kau bisa mengejar Jessica-mu.”

Hatiku terasa sakit saat mendengar ucapan Cheonsa. Dia benar-benar tersiksa karenaku?

Donghae POV end

Cheonsa POV

“Jangan menyebutnya seperti itu! dia bukan milikku.”

“Cheonsa-ya, kau benar-benar akan meninggalkanku?” aku menatap kedua bola mata Donghae.

“Memangnya ada alasan lain untukku tetap disini, Hae-ya? Bukankah kau menginginkan aku pergi secepatnya?” Aku tersenyum. Mengapa rasanya sakit saat mengucapkan kata-kata itu.

“Ya itu dulu, sebelum aku benar-benar terbiasa dengan kehadiranmu Cheonsa-ya. Dulu kau pernah menyuruhku mengatakan padamu jika aku takut kehilanganmu? Aku mengatakannya sekarang. Aku tak ingin kehilanganmu.”

Dongahe memelukku tiba-tiba. Aku terlalu terkejut sampai-sampai air mataku keluar tanpa permisi!

“Tapi kau tidak mencintaiku. Itu hanya akan menyakitiku. Kau tidak tahukan bagaimana sakitnya sihir dari Alastair? Aku hanya tidak ingin Sheldonku melihat perinya membakar diri sendiri karena tak bisa menahan sakit dari para Alastair. Sayapku terus berkurang saat Alastair mengirimkan sihir itu kepadaku. Aku tak akan lagi kuat menahan sakit itu. Dan aku tak akan bisa melindungi Sheldonku lagi.”

Aku menyadari suaraku mulai bergetar dan sebentar lagi terisak.

“Kau tak perlu khawatir, kau akan mendapatkan Elfrosch lain untuk melindungimu. Itu sudah takdirmu untuk dilindungi Elforsch. –“

“Aku hanya ingin kau yang menjadi Elfroschku. Nan..saranghanda Cheonsa-ya.”

“Ah! Sayang sekali aku tak bisa mendengarkan pikiranmu lagi. Kau sedang berbohong lagi? Tak perlu berbohong, tak ada gunanya lagi kau mencintaiku atau tidak. Aku tidak akan membuat Marchus meninggalkan gadis itu hanya karena diriku.” Aku sedikit tertawa untuk diriku sendiri. Apakah Donghae sedang merayuku? Dia ingin menghiburku?

“Demi yang kudus! Aku tidak berbohong.  Dengarkan, aku mencintaimu bukan untuk membuatmu kembali kepada Marchus. Aku sedang memaksamu untuk tetap disampingku. Kau, peri bodoh yang membuatku jatuh cinta padamu.”

Aku menatap kedua mata donghae mencoba mencari kebohongan disana. Sial! Aku tak menemukannya.

“Lalu Jessica? Kau mencintainya juga kan?”

“Ya, itu dulu. Sebelum kau benar-benar membuatku merasa nyaman hanya dengan kau disampingku.”

“Tapi aku tidak mencintaimu.” Aku sendiri tidak yakin saat mengatakan itu.

“Sekarang siapa yang berbohong? Tidak mencintaiku tapi kau cemburu dengan Jessica.”

“Aniyo. Aku tidak cemburu!”

“Berbohong lagi! Kalau kau tidak mencintaiku, kenapa kau harus repot-repot kembali kesini hanya untuk mengucapkan selamat tinggal? Untuk apa kau mengorbankan dirimu sendiri hanya untuk menyelamatkanku sementara tujuan awalmu hanya membuatku jatuh cinta padamu?”

“Itu tugasku, melindungimu.”

“Bagaimana dengan Marchus? Kau bahkan merelakannya semudah itu. Aku pikir aku telah mengubah prioritasmu ‘untuk mengembalikan ingatan Marchus’ menjadi ‘untuk melindungi Lee Donghae’?”

“Kau terlalu percaya diri Lee Donghae!”

“Kenapa? Aku benar kan? Kau bahkan tak bisa mengelak Cheonsa-ya.”

Aku terdiam. Donghae benar.

“Jadi tetaplah disini, aku berjanji tak akan menyakitimu.”

“Tapi Donghae-ya, aku tetap tidak bisa. Elfrosch dilarang jatuh cinta kepada Sheldonnya. Maafkan aku.”

“Aku akan kembali besok. Terimakasih untuk semuanya Hae-ya.” Aku mengecup pipinya. Yah, dan air mata tak mau berhenti mengalir sejak tadi.

___

Donghae POV

Sudah seminggu, Cheonsa benar- benar meninggalkanku. Dan sekarang keadaanku berantakan. Aku merindukannya. Kenapa terlalu banyak peraturan aneh disana. Tak bisakah para Alastair sialan itu membiarkan Cheonsa hidup tenang bersamaku?

Donghae POV end

___

“Kau yakin Han Cheonsa, setelah ini kau tidak akan bisa meminta kami mengembalikan semuanya.”

“Lakukan itu.”

“Ah ternyata cinta benar-benar membutakanmu Han Cheonsa. Marchus dan sekarang Sheldonmu.”

“Jangan banyak bicara! Lakukan saja!”

“Baiklah jika kau memaksa.”

Dan sekejap kemudian sayap indah dibalik punggung Cheonsa dirobek paksa. Bulunya bertebaran menutupi hampir sebagian ruangan di Aerial itu. Tangisnya menggema, membuat para Elfrosch lain merasa iba kepadanya sekaligus kagum kepada fairy itu.

Detik berikutnya raungan itu menghilang bersama tubuh gadis itu yang lenyap dari Aerial.

Sayap fairy bisa ditukarkan dengan apapun yang diinginkan pemiliknya. Dan Cheonsa harus menukar tak hanya sayapnya karena dia meminta sesuatu yang bertentangan dengan Alastair.

___

Gangnam, South Korean.

Donghae baru saja kembali dari rutinitas hariannya. Ia sedang sibuk berkutat dengan lamunannya saat suara berdebum keras di dinding balkon rumahnya. Déjà vu.

Senyum tiba-tiba menghiasi wajahnya. Bolehkah ia sedikit berharap?

Ia bergegas keluar menuju balkon. Apa yang dilihatnya membuatnya tertegun dan hanya mampu mengeluarkan satu kata yang terus mengganggu pikirannya.

“Han Cheonsa..”

_______

THE END

 

i just can give you this~ kekekeke~

all the best for you dear ^^

i love you dongsaeng😉

 

from:

tomomikazuko13

 

About IJaggys

Sorry, am I supposed to know who you are?

6 responses »

  1. tyfanny says:

    Suka ceritnya keren ^_^b

  2. nympha42 says:

    Cheonsa adalah Elfrosch yang lagi kena detensi ni ceritanya… Aaah, like cerita fantasi tingkat tinggi kayak begini…

  3. mychococho says:

    wuuuuaaaaaa… Ceritanya kerennn ^^b puanjangg tp ga ngebosenin sama sekali… Keren keren keren…

  4. ingga says:

    Cnta emg btuh pngorbanan.. smoga aj kptusan cheonsa bs mmbuatny bhgia.

  5. Risa says:

    Hi..author abdi reader anyar..ijin baca2 ff nya.^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s